1,721,077 research outputs found
Evaluasi Kualitas Fisik Dedak Padi Lokal di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat
Dedak padi adalah produk samping dari padi yang dapat digunakan sebagai bahan pakan unggas dan ruminansia. Dedak padi memiliki kualitas yang berbeda sesuai dengan daerah produksinya. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi kualitas dedak padi secara fisik dan pendugaan komposisi kimia di Kabupaten Cirebon. Uji fisik terdiri atas kerapatan tumpukan, kerapatan pemadatan tumpukan, dan berat jenis, sedangkan pendugaan kimia terdiri dari protein kasar dan serat kasar. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 10 perlakuan dan 4 ulangan. Uji fisik dianalisis dengan ANOVA, kemudian dilanjutkan dengan uji duncan jika terdapat hasil yang berbeda nyata (P<0.01). Kualitas kimia digunakan pendugaan kolerasi antara KT atau KPT dengan protein kasar dan serat kasar. Hasil penelitian menunjukkan nilai berat jenis, kerapatan tumpukan, dan kerapatan pemadatan tumpukan sangat berbeda nyata (P <0.01). Dedak padi desa Kudukeras memiliki kualitas tertinggi sedangkan dedak padi desa Suranenggala memiliki kuaitas terendah. Dedak padi penelitian ini termasuk dalam kategori mutu II dan III SNI
Sifat Fisik dan Kimia Tepung Ikan Impor dan Lokal setelah Fraksinasi dengan Media Air.
Tepung ikan merupakan salah satu bahan pakan yang kualitasnya bervariasi di pasaran. Salah satu upaya untuk mengetahui kualitas tepung ikan dengan melakukan uji fisik, uji kimia serta metode berupa fraksinasi. Penelitian ini bertujuan menganalisa pengaruh fraksinasi dengan media air terhadap sifat fisik (kerapatan tumpukan, kerapatan pemadatan tumpukan, sudut tumpukan, berat jenis), sifat kimia (protein kasar, serat kasar) dan mineral (Ca, P). Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) Faktorial yang terdiri dari 2 faktor (asal bahan, tingkatan fraksi) dan 3 ulangan. Sifat kimia dianalisis secara deskriptif dan sifat fisik dianalisis dengan analisis sidik ragam (ANOVA) dan diuji lanjut Duncan. Hasil menunjukan bahwa terdapat interaksi yang nyata (p<0.05) antara bahan dan fraksi terhadap sifat fisik tepung ikan. Sifat fisik dan kimia tepung ikan impor dan lokal tertinggi berada pada fraksi bawah untuk nilai kerapatan tumpukan, kerapatan pemadatan tumpukan, sudut tumpukan, protein kasar, Ca dan P. Sifat fisik dan kimia yang tertinggi yang berada pada fraksi atas untuk nilai sudut tumpukan dan serat kasar pada tepung ikan impor, sedangkan pada tepung ikan lokal nilai serat kasar tertinggi berada pada fraksi tengah. Fraksinasi dengan media air menghasilkan sifat fisik dan kimia yang berbeda pada tepung ikan
Suplementasi Selenium Dan Vitamin E Terhadap Kandungan Mda, Gsh-Px Plasma Darah Dan Bobot Organ Limfoid Ayam Broiler Yang Diberi Cekaman Panas
High environmental temperatures may cause heat stress in poultry. High temperatures contributes to oxidative stress, a condition where oxidant activity (free radical) exceeds antioxidant activity. In this research, selenium and vitamin E were utilized as anti heat-stress agents for heat stress broilers. The research used 465 unsex broilers and they were divided into 2 conditions, comfort zone (25.22±0.05 oC) and high temperatures (29.80±0.76 oC). Variables measured were malondialdehyde (MDA), glutathione peroxidase (GSH-Px) in blood plasma and weight of lymphoid organ (bursa fabricius and tymus). The data collected were analyzed with a factorial completely randomized design of 3x3 (3 levels of vitamin E, 3 levels of selenium and 3 replication) and continued with Duncan test. The result showed that selenium and vitamin E supplementation was significantly decreased on MDA (p<0.05) and GSHPx (p<0.01) in blood plasma of heat stressed broilers, but it did not effect the weight of bursa fabricius and thymus of broilers. It could be concluded that the combination vitamin E (200 or 100 ppm) and selenium (0.3 ppm) is the most effective as anti heat-stress agent in broilers
Evaluasi In Vitro Penggunaan Tepung Black Soldier Fly (Hermetia Illucens) Sebagai Alternatif Bungkil Kedelai Dalam Ransum Ruminansia
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi pengaruh penggunaan
tepung black soldier fly (BSF) (Hermetia illucens) sebagai alternatif bungkil
kedelai dalam ransum ruminansia terhadap komposisi nutrien dan kecernaan secara
in vitro. Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok dengan 6 perlakuan
yaitu P1 (100% rumput gajah), P2 (60% rumput gajah + 40% bungkil kedelai), P3
(60% rumput gajah + 40% BSF U1), P4 (60% rumput gajah + 40% BSF U2), P5
(60% rumput gajah + 20% bungkil kedelai + 20% BSF U1), P6 (100% rumput gajah
+ 20% bungkil kedelai + 20% BSF U2) dan 3 ulangan. Peubah yang diamati adalah
komposisi nutrien, kinetika dan akumulasi produksi gas, total produksi CH4, pH,
kecernaan bahan kering, kecernaan bahan organik, konsentrasi ammonia, dan konsentrasi
VFA. Data diuji menggunakan analysis of variance (ANOVA), apabila
terdapat perbedaan yang nyata dilanjutkan dengan tes Duncan. Penggunaan 20%
BSF U1 pada perlakuan ke-5 memilki pengaruh yang lebih baik terhadap komposisi
nutrien dan kecernaan in vitro ransum jika dibandingkan dengan perlakuan lain
yang juga menggunakan BSF. Penggunaan tepung BSF U1 dan U2 dalam ransum
ruminansia dengan rasio 20% dan 40% mampu meningkatkan kadar protein, berpengaruh
signifikan (P < 0.05) terhadap kecernaan bahan kering, dan sangat berpengaruh
(P < 0.01) terhadap akumulasi produksi gas, total produksi CH4, konsentrasi
VFA, konsentrasi ammonia, dan kecernaan bahan organik
Kecernaan Protein dan Organ Imunitas Broiler diberi Pakan Mengandung Kacang Koro Pedang (Canavalia ensiformis) dengan Taraf Protein Berbeda dan Penambahan Enzim Protease.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan enzim
protease di dalam pakan mengandung kacang koro pedang (Canavalia ensiformis)
terhadap kecernaan protein kasar dan organ imunitas ayam broiler (bursa fabrisius,
timus, dan limpa). Ayam yang digunakan adalah broiler jantan umur 23 hari strain
New Lohman. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap pola faktorial.
Faktor pertama adalah taraf protein kasar (22% dan 19.5%) dan faktor kedua adalah
penambahan enzim protease (0 dan 12500 HUT unit kg-1 ransum). Peubah yang
diamati adalah kecernaan bahan kering, kecernaan protein kasar, retensi nitrogen,
dan persentase organ imunitasnya. Hasil analisis deskriptif menunjukkan bahwa
ransum dengan taraf protein kasar 22% dan penambahan enzim protease memiliki
kecernaan protein kasar tertinggi. Penambahan enzim protease dapat meningkatkan
kecernaan protein kasar tanpa menggangu kesehatan ayam broiler
Evaluasi Kualitas Dedak Padi Secara Fisik dan Kimia di Kabupaten Kediri Jawa Timur
Dedak padi adalah produk samping dari proses penggilingan padi yang sering digunakan dalam ransum unggas atau ruminansia. Dedak padi termasuk bahan pakan yang melimpah namun disetiap daerah memiliki kualitas yang berbeda. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi kualitas dedak padi secara fisik dan kimia di Kabupaten Kediri Jawa Timur. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap dengan 9 sampel dedak padi yang berasal dari 9 tempat penggilingan di 9 kecamatan, terdiri dari 5 ulangan. Selanjutnya dianalisis menggunakan ANOVA dan dilakukan uji lanjut Duncan jika terdapat hasil signifikan. Uji fisik terdiri dari ukuran partikel, berat jenis, kerapatan tumpukan, kerapatan pemadatan tumpukan, dan sudut tumpukan. Uji fisik menunjukkan hasil signifikan berbeda nyata (P<0.01). Hal tersebut menunjukkan bahwa kualitas dedak padi 9 kecamatan di Kabupaten Kediri berbeda dan sangat beragam. Berdasarkan SNI mutu dedak padi menunjukkan bahwa dedak padi P7 (dedak padi dari Kecamatan Badas) termasuk dalam mutu II dan dedak padi lainnya tidak masuk dalam mutu SNI
Pemberian Daun Ubi Kayu (Manihot esculenta) Olahan terhadap Performa, Kecernaan Zat Makanan dan Metabolit Darah Kambing PE Jantan
Ubi kayu (Manihot esculenta) merupakan produk pertanian utama di Lampung. Daun ubi kayu digunakan sebagai pakan kambing di peternakan rakyat. Pada musim panen ketersediaan daun ubi kayu sangat melimpah, sedangkan daun ubi kayu memiliki sifat yang mudah busuk apabila hanya ditumpuk dalam keadaan segar, sehingga perlu dilakukan pengolahan fisik pakan. Pengolahan dapat dilakukan dengan cara pengeringan atau biofermentasi (ensilase). Metode pengeringan sangat bergantung pada cuaca. Kelemahan pada pengeringan daun ubi kayu, daun akan menjadi remah dan mudah hancur sehingga akan banyak biomasa daun yang hilang terutama pada saat penjemuran, pengangkutan, dan penyimpanan. Sedangkan silase, pembuatannya dapat dilakukan setiap saat tanpa dipengaruhi oleh musim, sehingga pembuatan silase merupakan alternatif metode pengawetan daun ubi kayu. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi pemberian daun ubi kayu segar, kering atau silase terhadap performa, kecernaan, dan blood urea nitrogen (BUN) kambing PE jantan.
Penelitian dilakukan di peternakan rakyat yang berlokasi di Desa Harapan Rejo, Lampung, Indonesia. Dua belas ekor kambing PE jantan (rataan bobot badan 21 ± 1.4 kg) yang dikelompokkan pada kandang individu dengan 90 hari percobaan (14 hari untuk adaptasi ransum perlakuan dan 7 hari koleksi feses). Penelitian dilakukan secara eksperimen dengan menggunakan metode rancangan acak kelompok dengan 3 perlakuan dan 4 ulangan: konsentrat + daun ubi kayu segar (P0); konsentrat + daun ubi kayu kering (P1); dan konsentrat + silase daun ubi kayu (P2). Konsentrat diberikan sebanyak 50% (3.5% BB) dan hijauan diberikan secara ad libitum masing – masing untuk setiap perlakuan. Peubah yang diamati meliputi uji karakteristik fisik daun ubi kayu kering dan silase, kandungan HCN, konsumsi nutrien, kecernaan nutrien, pertambahan bobot badan harian ternak (PBBH), blood urea nitrogen (BUN), pertambahan bobot badan, dan efisiensi ransum. Data dianalisis menggunakan sidik ragam. Apabila perlakuan menunjukkan pengaruh yang nyata maka dilakukan uji jarak berganda Duncan.
Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa pengolahan daun ubi kayu meningkatkan konsumsi bahan kering, protein kasar, total digestible nutrient (TDN), kecernaan, blood urea nitrogen (BUN), pertambahan bobot badan, dan efisiensi ransum. Kesimpulannya, Pengolahan daun ubi kayu dengan menggunakan metode pengeringan dan ensilase dapat menghasilkan kecernaan dan blood urea nitrogen yang lebih baik tanpa mempengaruhi performa pada kambing PE jantan
Evaluasi Mutu Dedak Padi Menggunakan Uji Sifat Fisik Di Kabupaten Karawang, Jawa Barat
Dedak padi merupakan hasil ikutan dari proses penggilingan padi menjadi beras yang berfungsi sebagai pakan ternak. Kualitas nutrien dedak padi sangat beragam dipengarui oleh varietas, penggilingan padi, faktor agronomis dan sifat fisik dedak padi. Penelitian ini bertujuan mengkaji kandungan nutrien dedak padi dari nilai sifat fisik di Kabupaten Karawang. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 5 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan tersebut antara lain: P1 = Kecamatan Tirtajaya, P2 = Kecamatan Talagasari, P3 = Kecamatan Tempuran, P4 = Kecamatan Karawang Barat dan P5 = Kecamatan Pangkalan. Analisis data dilakukan dengan sidik ragam (ANOVA) dan dilanjutkan dengan uji Duncan apabila terdapat hasil yang signifikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas fisik dedak padi berpengaruh nyata (P<0.01) terhadap kadar protein kasar dan serat kasar. Kadar protein kasar dan serat kasar dedak padi dapat diduga melalui nilai sifat fisik dedak padi diantaranya berat jenis, kerapatan tumpukan dan kerapatan pemadatan tumpukan. Nilai sifat fisik berkorelasi positif terhadap protein kasar dan berkorelasi negatif terhadap serat kasar
Sifat Fisik, Kimia dan Biologis Ransum Mengandung Indigofera zollingeriana yang Diberi Enzim NSP
Tujuan dari penelitian ini adalah mengevaluasi pegaruh pemberian ransum
yang mengandung Indigofera zollingeriana dengan penambahan enzim NSP pada
pakan ayam broiler terhadap nilai Energi Metabolis (EM) serta mengetahui sifat
fisik dan kimia pakan yang diberikan. Ternak yang digunakan adalah ayam broiler
yang berumur 5 minggu sebanyak 20 ekor. Penelitian ini menggunakan
Rancangan Acak Lengkap (RAL). Dua puluh ekor ternak dibagi ke dalam 3
perlakuan dan 5 ulangan. Setiap ulangan terdiri dari 1 ekor ayam. Perlakuan yang
diberikan pada penelitian ini adalah R0 = Ransum mengandung 20% bungkil
kedelai, R1 = Ransum mengandung 8% bungkil kedelai dan tepung pucuk
Indigofera zollingeriana 19.10%; R2 = Ransum R1+Enzim NSP. Data yang
diperoleh dianalisis menggunakan Analysis of Variance (ANOVA) dan uji lanjut
Duncan menggunakan program SPSS. Hasil pengukuran kerapatan tumpukan,
kerapatan pemadatan tumpukan, konsumsi, energi metabolis dan retensi nitrogen
pada ransum R1 dan R2 menunjukan bahwa ransum R0 nyata (p<0.05) lebih
tinggi dibandingkan ransum R1 dan R2. Penambahan Indigofera zollingeriana
pada ransum dapat menurunkan nilai sifat fisik (kerapatan tumpukan serta
kerapatan pemadatan tumpukan), kimia (protein kasar) dan biologis (energi
metabolis serta retensi nitrogen). Penambahan enzim NSP pada ransum dapat
meningkatkan nilai biologis (energi metabolis serta retensi nitrogen)
Penambahan Enzim Mananase dan Fitase pada Ransum Puyuh Petelur (Coturnix- coturnix japonica) Berserat Kasar Tinggi
Bahan pakan unggas (puyuh) masih menggunakan bahan pakan impor, salah
satunya jagung. Tingginya harga bahan pakan sangat berpengaruh pada peternak
unggas, maka perlu pemanfataan bahan pakan lokal salah satunya bungkil inti
sawit dan dedak padi. Indonesia menghasilkan 2881 juta ton BIS,tetapi hampir
semua (2564 juta ton) di ekspor ke luar negri. Selain itu ketersedian BIS (Bungkil
Inti Sawit) di Indonesia cukup banyak, pada tahun 2013 seluas 10.465.020 Ha
dengan total produksi 27.782.004 ton pertahun, pada tahun 2014 meningkat
menjadi 10.956.231 Ha dengan total produksi 29.344.479 ton pertahun. Penelitian
ini bertujuan untuk menentukan kombinasi dosis enzim pemecah serat mananase
dan fitase di dalam ransum yang mengandung bungkil inti sawit dan dedak padi
terhadap energi metabolisme pakan, performa dan kualitas telurpuyuhpetelur.
Penelitian ini menggunakan 3 faktor perlakuan yaitu faktor pertama serat kasar
3% dan 6%, faktor kedua yaitu penambahan enzim mananase 100 IU dan 200 IU,
dan faktor ketiga yaitu penambahan enzim fitase 250 ppU dan 500 ppU. Setiap
kombinasi perlakuan terdiri dari 3 ulangan. Peubah yang diamati energi
metabolisme semu, energi metabolisme murni, energi metabolisme semu
terkoreksi nitrogen, energi metabolisme murni terkoreksi nitrogen, konsumsi
ransum, produksi telur harian, bobot telur, produksi massa telur, konversi ransum,
mortalitas, persentase putih telur, bobot putih telur, persentase kuning telur, bobot
kuning telur, persentase kerabang telur, tebal kerabang telur, skor kuning telur,
dan nilai Haug unit.
Hasil penelitian menunjukan penambahan enzim mananase dan fitase kedalam
pakan dengan serat kasar 3% dan 6% tidak berpengaruh nyata pada peubah yang
diamati walaupun secara angka pemberian serat kasar 6% lebih bagus dari serat
kasar 3 %. Puyuh dapat mengkonsumsi pakan yang mengandung serat kasar
sampai 6% yang ditambahkan enzim mananase 100 IU dan 200 IU dan fitase 250
ppU dan 500 ppU dengan energi metabolis, performa dan kualitas fisik telur yang
sama dengan puyuh mengkonsumsi pakan yang mengandung serat kasar 3%
- …
