9,153 research outputs found

    Gagasan kontekstualis Muhammad Rasyid Ridha terhadap syura dan khilafah

    Full text link
    Muhammad Rasyid Ridha merupakan intelektual Muslim yang bernama lengkap Muhammad Rasyid bin Ali Ridha bin Syamsuddin bin Baha’uddin Al-Qalmuni Al-Husaini. Dimata dunia Islam lebih mengenalnya dengan nama Muhammad Rasyid Ridha. Ia lahir di daerah Qalamun (sebuah desa yang tidak jauh dari Kota Tripoli, Lebanon) pada 27 Jumadil Awal 1282 H bertepatan dengan tahun 1865 M. Muhammad Rasyid Ridha dilahirkan dan dibesarkan dan dididik dalam lingkungan keluarga taat beragama dan terhormat. Dalam sebuah sumber dikatakan bahwa Rasyid Ridha masih memiliki pertalian darah dengan Husin bin Ali bin Abi Thalib, cucu Nabi Muhammad saw. Semasa kecilnya, Rasyid Ridha dimasukkan oleh orang tuanya ke madrasah tradisional di desanya, Qalamun, untuk belajar membaca Alquran, belajar menulis, dan berhitung. Berbeda dengan anakanak seusianya, Rasyid kecil lebih sering menghabiskan waktunya untuk belajar dan membaca buku daripada bermain, dan sejak kecil memang ia telah memiliki kecerdasan yang tinggi dan kecintaan terhadap ilmu pengetahuan, negara dengan sistem khilafah. Mengenai hal di atas, penulis berusaha untuk menyusun buku ini dengan menguraikan penjelasan terkait Gagasan Kontekstualis Muhammad Rasyîd Ridha terhadap Syûrâ dan Khilafah. Terinspirasi oleh adanya sintesis antara ide yang dilontarkan Rasyîd Ridhâ tentang bentuk negara dengan sistem khilafah dalam karyanya tentang khilafah yang ditulis pada tahun (1922-1923) memiliki relevansi dengan ide pembentukan negara khilafah pada era kontemporer ini seperti yang digagas oleh kelompok Hizbut Tahrir

    Pembaharuan Pendidikan Islam (Studi Pemikiran Muhammad Abduh Dan Rasyid Ridha)

    No full text
    This article tries to discuss the renewal education of Islam in the midst of western modernization by taking the thoughts of Muhammad Abduh and Sayyid Muhammad Rasyid Ridha. Muhammad Abduh and Rasyid Ridha\u27s Islamic renewal education thought was influenced by the thoughts of their teachers. Muhammad Abduh and Rasyid Ridha believe that Islam  encompasses political aspect, social aspect and spiritual aspect. In order to arouse these attitudes, Muslims must return to the teachings of Islam taught by the Prophet Muhmmad SAW and his companions. The presence of Muhammad Abduh and Rasyid Ridha as Islamic reformers aims to revive the spirit of the Muslim struggle against colonialism, so that Muslims are free from colonialism in the western world.  The spirit of the Islamic community competed with advances in science, technology and the development of times in other fields is expected to increase through their thoughts. The result of this article show that Muhammad Abduh and  Rasyid Ridha contribute in the form of thoughts on the renewal of Islamic education in the field of curriculum and institution

    Tafsir modern : menekan metode tafsir syekh muhammad abduh dan sayyid muhammad rasyid ridha

    No full text
    Buku ini membahas tentang tafsir modern menekar metode tafsir syekh muhammad abduh dan sayyid muhammad rasyid ridha dan didalamnya membahas karakteristik tafsir modern, analisis komperatif metode tafsir syekh muhammad abduh dan sayyid muhammad rasyid ridha.xii, 189 hlm ; 21 c

    PEMIKIRAN MUHAMMAD RASYID RIDHA TENTANG PEMBAHARUAN PENDIDIKAN ISLAM

    Full text link
    Latar belakang penelitian ini adalah salah satu persoalan yang masih dihadapi dalam dunia pendidikan adalah adanya dikotomi keilmuan antara pengetahuan agama dengan pengetahuan umum yang berdampak kepada dualisme lembaga pendidikan disatu sisi ada pendidikan agama yang hanya mengajarkan nilai-nilai keagamaan tetapi kurang memahami masalah kondisi riil urusan duniawi, sebaliknya pendidikan umum yang hanya mengajarkan pengetahuan dan keterampilan dunia, tetapi kering akan nilai-nilai agama. Menurut Muhammad Rasyid Ridha, pada dasarnya ilmu pengetahuan merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan antara pengetahuan agama dengan pengetahuan umum. Atas pertimbangan ini penulis ingin mengkaji pemikiran tokoh di abad ke- 20 yang memiliki pengaruh cukup besar terhadap pembaharuan Islam. Muhammad Rasyid Ridha telah melakukan pembaharuan dalam pendidikan Islam seperti tujuan pendidikan Islam, kurikulum pendidikan, sistem pendidikan, pendidik dan peserta didik, serta mengintegrasikan antara ilmu umum dan ilmu agama. Penulis merumuskan permasalahan penelitian ini sebagai berikut: Bagaimana Pemikiran Muhammad Rasyid Ridha tentang Pembaharuan Pendidikan Islam, Bagaimana Relevansi Pembaharuan Pendidikan Islam Muhammad Rasyid Ridha dengan Pendidikan Islam di Indonesia. Jenis Penelitian ini Studi Pustaka (library research) bersifat deskriptif kualitatif. Sumber data yang penulis peroleh melalui sumber utama (primary sources) berupa buku, jurnal, artikel, dan makalah, sumber kedua (secondary sources) berupa buku, jurnal, artikel, makalah, dan sebagainya. Hasil penelitian ini bahwa pentingnya pembaharuan dalam pendidikan Islam merupakan respon terhadap perkembangan zaman yang begitu pesat di era- globalisasi, terlebih dengan kecanggihan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) yang harus pula diimbangi dengan Iman dan Taqwa (IMTAQ). Pembaharuan pendidikan Islam yang Muhammad Rasyid Ridha tawarkan terhadap pendidikan Islam diarahkan kepada tujuan pendidikan yang menghasilkan manusia yang saleh, merdeka, dan maju dalam berbagai bidang kehidupan, kurikulum yang harus memiliki keterpaduan yang seimbang antara pengetahuan agama dan pengetahuan umum, sistem pendidikan yang tidak mendiskriminasikan antara sekolah umum dengan sekolah agama, pendidik yang profesional dan mendalam dalam pengetahuannya, serta peserta didik yang memiliki sifat kritis, kreatif, dan inovatif. Kata Kunci: Islam, Muhammad Rasyid Ridha, Pembaharuan, Pemikiran, Pendidikan

    Pemikiran Sayyid Muhammad Rasyid Ridha dalam Pengembangan Islam (Suatu Tinjauan Historis)

    Full text link
    Skripsi ini merupakan hasil penelitian tentang sejarah sebuah Tokoh yang sangat berperan penting dalam mengembangkan Islam dan Pendidikan Islam, yakni Tentang Pemikiran Sayyid Muhammad Rasyid Ridha dalam Pengembangan Islam, yang meneliti dua permasalahan, yaitu: Bagaimana Biografi Sayyid Muhammad Rasyid Ridha dan Bagaimana Pemikiran Sayyid Muhammad Rasyid Ridha dalam Pengembangan Islam

    'Uyun al-akhbar al-ridha (Volume. 1) : hadis-hadis cemerlang riwayat imam Ali Ridha, cicit Rasulullah SAW

    No full text
    Buku ini merupakan jilid pertama dan terfokus pada Imam Ali Ridha yang masa hidupnya tidak terlalu jauh dari Imam Bukhari. Buku ini juga banyak memuat peristiwa-peristiwa yang terjadi pada Imam Musa Kazhim, ayahanda Imam Ridha karena hal itu memengaruhinya.x, 821 hlm.; 25 c

    'Uyun al-akhbar al-ridha (Volume. 1) : hadis-hadis cemerlang riwayat imam Ali Ridha, cicit Rasulullah SAW

    No full text
    Buku ini merupakan jilid pertama dan terfokus pada Imam Ali Ridha yang masa hidupnya tidak terlalu jauh dari Imam Bukhari. Buku ini juga banyak memuat peristiwa-peristiwa yang terjadi pada Imam Musa Kazhim, ayahanda Imam Ridha karena hal itu memengaruhinya.x, 821 hlm.; 25 c

    POLA PENAFSIRAN MUHAMMAD BASIUNI IMRAN DALAM TAFSIR TUJUH SURAH DAN AYAT AS-SIYAM TERHADAP TAFSIR MUHAMMAD RASYID RIDHA (Kajian Intertekstualitas)

    Full text link
    Pada abad ke-20 M, penulisan tafsir al-Qur’an yang lahir di Nusantara umumnya menampilkan ciri kemodernannya, baik dari segi bahasa dan aksara. Namun, berbeda dengan Tafsīr Tūjuh Sūrah yang ditulis pada tahun 1935 M dan Tafsīr Āyāt aṣ-Ṣiyām yang ditulis pada tahun 1936 M oleh Muhammad Basiuni Imran, seorang ulama dari Kesultanan Sambas, Kalimantan Barat, yang masih menggunakan bahasa dan aksara tafsir klasik Nusantara, yakni menggunakan bahasa Melayu dan aksara Jawi. Di sisi lain, dari penelusuran awal, pola penafsiran Muhammad Basiuni Imran dalam kedua tafsirnya cenderung berkutat pada wilayah teks dan kurang menghubungkan dengan wilayah konteks, sehingga penafsirannya lebih cenderung mirip dengan karya tafsir Muhammad Rasyid Ridha. Oleh karena itu, cara yang komprehensif untuk memahami kedua tafsir Muhammad Basiuni Imran adalah melalui kajian intertekstualitas. Penelitian ini termasuk penelitian kepustakaan (library research) dengan data primernya, yaitu Tafsīr Tūjuh Sūrah dan Āyāt aṣ-Ṣiyām karya Muhammad Basiuni Imran. Sementara itu, data sekundernya, yaitu karya tafsir Muhammad Rasyid Ridha, buku, ensiklopedia, jurnal, artikel dan termasuk juga literatur lain yang ada relevansinya dengan penelitian ini. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif-analitis. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kodikologi. Teori yang digunakan adalah teori intertekstualitas Julia Kristeva. Hasil penelitian ini adalah pertama, lahirnya kedua tafsir Muhammad Basiuni Imran pada abad ke-20 M dalam bentuk bahasa Melayu-Jawi, karena lahir pada periode keemasan (1920-1960 M) dalam periodisasi tafsir al-Qur’an bahasa Melayu-Jawi. Kedua, aspek kodikologi kedua tafsirnya, meliputi identifikasi naskah, aspek buku, aspek tulisan dan penjilidan. Ketiga, posisi fenoteks, genoteks, dan proses pembentukan makna kedua tafsir Muhammad Basiuni Imran terhadap tafsir Muhammad Rasyid Ridha, adalah: 1) teks fenoteks adalah Tafsīr Tūjuh Sūrah dan Āyāt aṣ-Ṣiyām karya Muhammad Basiuni Imran, sedangkan teks genoteks adalah Tafsīr al-Fātiḥah wa Sittu Suwar min Khawātīm al-Qur’ān dan al-Manār karya Muhammad Rasyid Ridha; 2) pembentukan makna kedua tafsir Muhammad Basiuni Imran melalui proses signifikasi, yakni cenderung menginduk kepada penafsiran Muhammad Rasyid Ridha karena memang ia sangat terinspirasi, termotivasi dan mengagumi sosok gurunya. Keempat, unsur intrinsik, pola penafsiran kedua tafsir Muhammad Basiuni Imran dengan tafsir Muhammad Rasyid Ridha, meliputi pola munāsabah, hadis dan pendapat ulama. Dari pola penafsirannya itu, bentuk-bentuk intertekstualitas yang digunakan adalah paralel, transformasi dan haplologi. Sementara itu, bentuk intertekstualitas yang paling sering digunakan adalah paralel dan transformasi, sehingga menjadikan Tafsīr Tūjuh Sūrah sebagai terjemahan dari Tafsīr al-Fātiḥah wa Sittu Suwar min Khawātīm al-Qur’ān, dan Tafsīr Āyāt aṣ-Ṣiyām sebagai terjemahan dari Tafsīr al-Manār. Unsur ekstrinsik, konteks kemunculan kedua tafsir Muhammad Basiuni Imran dalam bahasa Melayu-Jawi karena dipengaruhi oleh sosio-geografis, sejarah kitab-kitab yang berkembang dan kondisi keagamaan

    PERBANDINGAN PEMIKIRAN MUHAMMAD ABDUH DAN RASYID RIDHA TENTANG PENDIDIKAN

    No full text
    Study About Education compare Thinking Abduh's Muhammad and Rasyid Ridha it mengasikan, unique, pull and has urgenitas alone, evenless dikritisi, dianalisis and than among Abduh's Muhammad thinking and Rasyid Ridha. Two laid pembaru Figure Islamic teaching basic principles is next they describe for dikinikan, actualized and diimplikasikan divides to universalize education. It, intent to discard black cloud that robe Islam people. Are not excessive, Abduh's muhammad and Rasyid Ridha's student was successful issue Islam people of stocks still thinking making for dynamic. IDE and their idea that bernas and diamond for upturned world education, now got takes in changing and new clarification for Islam states, including Republic Of Indonesia. its glorious contribution it, got take in resuscitation as spirit of Islamic people as it were ideally

    PENAFSIRAN MUHAMMAD RASYID RIDHA TERHADAP AYAT-AYAT TENTANG PARENTING DALAM TAFSIR AL-MANAR

    No full text
    Agama Islam merupakan agama yang mengajarkan umatnya untuk bisa menjalani kehidupan dunia dan akhirat dengan baik. Maka dari itu, Islam memberikan jalan terbaik agar umatnya bisa mencapainya. Islam juga mengajarkannya dengan sangat universal. Seperti yang dijelaskan dalam al-Qur'an dengan sangat gamblang dan jelas. Al-Qur'an juga telah mengatur segala sesuatu termasuk masalah tentang mendidik anak. Penelitian ini bermaksud untuk meneliti bagaimana pendapat Muhammad Rasyid Ridha terhadap ayat-ayat tentang parenting, serta bagaimana penafsiran ayat-ayat tentang parenting di dalam Tafsir Al-Manar. Tujuan-tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pendapat serta penafsiran Muhammad Rasyid Ridha terhadap ayat-ayat tentng parenting dalam tafsi ya yang berjudul Tafsir Al-Manar. Pendekatan yang digunakan oleh peneliti dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif yang bersifat deskriptif analitis. Langkah awal mengumpulkan ayat-ayat al-Qur'an yang berhubungan dengan parenting, kemudian ayat-ayat tersebut ditafsirkan dengan menggunakan kitab tafsir yang di karang oleh Muhammad Rasyid Ridha yang berjudul Tafsir Al-Manar, kemudian menganalisis penafsiran Muhammad Rasyid Ridha dalam kitab tafsi ya itu selanjutnya penulis menyimpulkan ke dalam beberapa kalimat. Dari hasil penelitian ini menunjukkan bahwa metodologi tafsir yang digunakan Muhammad Rasyid Ridha adalah metode tahlili, dimana dalam menafsirkan ayat-ayat al-Qur'an, Rasyid Ridha menggunakan penafsiran al-Qur'an dengan al-Qur'an, dengan hadis Nabi, pendapat para sahabat dan thabi'in. Muhammad Rasyid Ridha berpendapat bahwa kedua orang tua harus sepakat dalam mendidik anaknya dengan memberikan kebebasan dan kemandirian akal dan pemahaman dalam ilmu serta kebebasan kehendak dalam beramal, dengan begitu orang tua akan mendapatkan sang anak dapat mengatur sendiri urusan mereka dan memilih apa yang mereka pandang baik untuk dirinya dan masyarakatny
    corecore