1,721,100 research outputs found
Kontaminasi Logam Berat pada Ekosistem Terumbu Karang di Perairan Pulau Tunda, Teluk Banten
Perkembangan industri yang cukup pesat di wilayah Kabupaten Serang,
pada satu sisi menimbulkan dampak positif, di lain pihak juga menimbulkan
dampak negatif. Dampak postitifnya akan meningkatkan pendapatan asli daerah,
membuka lapangan kerja, meningkatkan land rent. Namun limbah yang
dihasilkan dari kegiatan industri yang jumlahnya cukup berlimpah apabila tidak
dikelola dengan baik, akan mencemari lingkungan, bahkan limbah berupa bahan
berbahaya dan beracun (B3) seperti logam berat yang dihasilkan dari kegiatan
industry dapat terakumulasi dalam tubuh mahkluk hidup, dan selanjutnya akan
menimbulkan berbagai jenis dampak negatif.
Penelitian ini bertujuan untuk; (1) Menganalisis kondisi ekosistem terumbu
karang di Pulau Tunda Teluk Banten dilihat dari tutupan, sebaran dan
keanekaragamannya. (2) Menganalisis faktor-faktor kualitas perairan apa saja
yang berpengaruh terhadap tutupan terumbu karang selain logam berat. (3)
Menganalisis sejauh mana dampak yang ditimbulkan oleh faktor-faktor kualitas
perairan yang berpengaruh terhadap persentase tutupan terumbu karang. (4)
Menganalisis kualitas air laut, akumulasi kontaminasi logam berat pada perairan,
akumulasi kontaminasi logam berat pada sedimen dan akumulasi kontaminasi
logam berat pada karang di perairan PulauTunda.
Pengumpulan data primer dilakukan melalui pengambilan data langsung di
lapangan, Dilakukan analisa terhadap parameter fisika-kimia air, kandungan
logam berat pada air, sedimen dan terumbu karang. Data sekunder diperoleh
dengan pencarian pustaka ke instansi terkait dan literature terutama hasil-hasil
penelitian dengan kasus yang serupa.
Analisa penentuan kisaran presentase tutupan karang keras menggunakan
perbandingan kisaran tutupan karang yang mengacu pada KEPMEN LH No.4
TAHUN 2001. Penentuan nilai rata-rata konsentrasi logam Hg, Pb, dan Cd pada
kolom air di lokasi penelitian, menggunakan metode statistik deskriptif.
Sedangkan, untuk mengetahui perbedaan konsentrasi antar logam di setiap stasiun
menggunakan multivarit mannova serta perbandingan logam di setiap bagian
karang dan stasiun, hal ini dikarenakan variabel yang digunakan sebagai
parameter lebih dari satu. Untuk mengetahui ada atau tidaknya hubungan
pengaruh parameter lingkungan terhadap persentase tutupan karang hidup yang
ada, menggunakan analisis PCA (Principal component analisys) untuk
mendapatkan scree plot dari enam komponen utama dan PCR (Principal
Component Regression). Berdasarkan hasil penelitian Pulau Tunda memiliki
tingkat tutupan karang yang sedang hinggaburuk. Serta didapatkan persamaanY =
- 1,59– 3,45 X1 – 1,52 X2 – 0,28 X3 – 0,09 X4 + 2,75 X5 – 1,05 X6 dengan X1 yaitu
suhu, X2 yaitu DO, selanjutnya X3 yaitu kecerahan, X4 berarti kedalaman dan X5
yang berarti pH serta X6 yaitu salinitas.
Berdasarkan persamaan di atas dapat dijelaskan bahwa setiap kenaikan suhu
1oC menurunkan 3,35% tutupan terumbu karang dengan asumsi parameter lain
stabil, selanjutnya setiap kenaikan 1 mg/l DO menurunkan 1,52% tutupan
terumbu karang dengan asumsi parameter lain stabil, kemudian setiap 1 meter
kenaikan kecerahan maka terjadi 0,28% penurunan tutupan terumbu karang
dengan asumsi parameter yang lain stabil, kemudian setiap kenaikan setiap 1
meter kedalaman maka 0,09% penurunan tutupan terumbu karang dengan asumsi
bahwa parameter lain stabil, kemudian setiap kenaikan 1 pH maka terjadi
pertumbuhan 2,75% tutupan terumbu karang dengan asumsi parameter lain stabil,
kemudian setiap kenaikan 1 ppm salinitas, maka terjadi penurunan tutupan
terumbu karang 1,05% dengan asumsi bahwa parameter yang lain stabil.
Parameter lingkungan seperti suhu, salinitas, kecerahan, DO, dan pH di
perairan Pulau Tunda dapat dikategorikan baik, hanya saja sudah tercemar berat
oleh Logam Berat. Berdasarkan tiga logam berat yang ada Pb. Cd, dan Hg yang
diteliti di 30 titik pengambilan sampel serta empat stasiun yang berbeda. Dapat
disimpulkan bahwa di semua titik di setiap stasiun tercemar berat. Hanya saja di
setiap stasiun logam berat yang mendominasi berbeda - beda
Analisis Daya Tampung Beban Pencemar Sungai Musi di Wilayah Kabupaten Banyuasin
Kegiatan manusia seperti industri dan pertanian memberikan kontribusi
yang sangat penting terhadap kerusakan dan pencemaran lingkungan, sehingga
memiliki dampak buruk terhadap badan air (sungai dan laut) yang merupakan
kebutuhan bagi kehidupan. Pencemaran lingkungan merupakan ancaman serius
yang dihadapi oleh umat manusia, hal ini dibuktikan banyaknya permasalahan
lingkungan beberapa dekade terakhir ini. Pertumbuhan penduduk yang cepat,
urbanisasi, industrialisasi dan pembangunan di sepanjang aliran sungai yang dapat
meningkatkan tekanan terhadap pencemaran sungai.
Tujuan penelitian ini adalah (1) Menganalisis kualitas air Sungai Musi dan
mengidentifikasi beban pencemaran yang masuk ke Sungai Musi di Wilayah
Kabupaten Banyuasin. (2) Menghitung dan Menganalisis daya tampung beban
pencemaran yang masuk ke Sungai Musi dengan menggunakan aplikasi model
Qual2KW. (3) Memperkirakan jumlah beban pencemaran untuk lima tahun
kedepan (2020). Model numerik digunakan untuk menghitung DTBPA dengan
perangkat lunak QUAL2Kw. Pendekatan spasial dengan sistem informasi geografi
(SIG) digunakan untuk menelusuri sumber pencemar dan memperkirakan besaran
beban pencemarannya.
Hasil perhitungan Metode STORET di bulan April, Juli, Oktober dan
Desember 2015 dari kelima titik pantau. Kelas I, II dan III, pada umumnya
termasuk tercemar sedang. Kelas I, dari kelima titik pantau nilai skor antara (-22)
s/d (-33) pada umumnya mengalami cemar berat. Kelas II nilai skor antara (-16)
s/d (-20) mengalami cemar sedang dan Kelas III nilai skor (-18) s/d (-20)
mengalami cemar sedang.
Potensi beban pencemaran bersumber dari limbah rumah tangga, pertanian,
peternakan, industri dan sampah. Hasil perhitungan potensi beban pencemar
memperlihatkan bahwa Total Potensi Beban Pencemar (PBP) untuk parameter
BOD adalah 1.586,39 kg/hari yang terdiri dari sumber pencemar pertanian
75,88%, peternakan 16,19%, rumah tangga 7,37%, industri 0,29% dan sampah
0,27 %. COD mempunyai nilai PBP sebesar 713,09 kg/hari dengan sumber
pencemar dari peternakan 75,11 %, rumah tangga sebesar 22,54%, industri 1,52%
dan sampah 0,84 %. TSS mempunyai nilai PBP sebesar 128,20 kg/hari dengan
sumber pencemar dari rumah tangga 86,62%, industri 7,74%, sampah 3,21% dan
pertanian 2,43%. Berdasarkan hasil perhitungan potensi beban pencemar untuk
parameter BOD, COD dan TSS dapat disimpulkan bahwa kontributor beban
pencemar tertinggi adalah pertanian diikuti oleh peternakan dan rumah tangga,
sedangkan untuk sampah dan industri memberikan kontribusi yang lebih kecil.
Proses simulasi skenario lima dilakukan dengan memperkirakan
pertumbuhan penduduk sebesar 1,44% per tahun selama 5 tahun, dari Tahun
2015 sampai dengan Tahun 2020, Demikian juga untuk point source, diasumsikan
bahwa pada Tahun 2020 akan dibangun pabrik kelapa sawit (CPO) sebanyak lima
unit, dengan kapasitas produksi masing-masing 60 ton produk/jam di lokasi
penelitian.
Hasil analisis pemodelan, diperoleh beban total pencemar BOD sebesar 58.350,4
kg/hari, 133.433,9 kg/hari untuk COD dan 61.052,6 kg/hari untuk TSS.
Sedangkan total daya tampung beban pencemar BOD sebesar 28.734,7 kg/hari,
COD sebesar 74.215,9 dan TSS sebesar 55.294,1 kg/hari. Total penurunan beban
yang harus dilakukan agar kualitas air Sungai Musi Wilayah Kabupaten
Banyuasin memenuhi baku mutu kelas II pada Tahun 2020 adalah sebesar
29.615,6 kg/hari untuk BOD, 59.217,6 kg/hari untuk COD dan 5.758,5 kg/hari
untuk TSS.
Hasil perhitungan DTBPA untuk ketiga parameter memperlihatkan bahwa
seluruh segmen penelitian masih dapat menampung beban pencemar. Beban
pencemar eksisting untuk parameter BOD mulai dari hulu ke hilir sebesar
15.651,4 Kg/hari, sedangkan kemampuan sungai untuk menerima beban 30.758,4
Kg/hari, sehingga masih dapat menampung beban 15.107,0 Kg/hari. Beban
pencemar eksistingCOD sebesar 37.417,5 Kg/Hr, sedangkan kemampuan sungai
untuk menerima beban sebesar 111.369,6 Kg/hari sehingga masih bisa
menampung beban pencemar 73.952,1 Kg/hari. Beban Pencemar eksisting TSS
sebesar 24.560,9 Kg/Hr, sedangkan kemampuan sungai untuk menerima beban
pencemar sebesar 60.134,4 Kg/hari, sehingga masih bisa menampung beban
pencemar sebesar 35.573,5 Kg/hari.
Nilai Konsentrasi BOD, COD dan TSS hasil model memiliki tingkat
kesalahan kurang dari 10%, hal ini ditunjukan oleh nilai RMSE sebesar 0,017
untuk BOD, 0.0314 untuk COD dan 0,085 untuk TSS. Hasil uji menunjukkan
bahwa model kualitas air hasil model cukup teliti untuk memprediksi kualitas air
parameter BOD, COD dan TSS di Sungai Musi
Model Integrasi Kelembagaan Adat Panglima Laot Dalam Pengelolaan Kawasan Konservasi Taman Wisata Alam Laut Pulau Weh, Provinsi Aceh
Taman Wisata Alam Laut Pulau Weh memiliki keunikan dalam
pengelolaan, karena selain dikelola oleh pemerintah (Badan Konservasi Sumber
Daya Alam) juga dikelola secara adat oleh Panglima Laot Lhok Iboih. Meskipun
kedua lembaga mengelola wilayah masing-masing namun sebagian besar wilayah
yang dikelola merupakan wilayah yang sama. Tujuan dari penelitian ini adalah
mengidentifikasi dan mengevaluasi sistem pengelolaan kawasan konservasi oleh
lembaga adat Panglima Laot Lhok Iboih dan Badan Konservasi Sumber Daya
Alam, menghitung dan mengestimasi tingkat keberlanjutan pengelolaan Wilayah
Hukom Adat Laot oleh Panglima Laot Lhok Iboih dan TWA Laut Pulau Weh oleh
Banda Konservasi Sumber Daya Alam, serta mendesain model integrasi sistem
pengelolaan Lembaga Adat Panglima Laot Lhok Iboih kedalam pengelolaan TWA
Laut Pulau Weh.
Penelitian dilakukan di Kawasan Konservasi Taman Wisata Alam Laut
Pulau Weh, Kota Sabang Provinsi Aceh. Data yang digunakan dalam penelitian
ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer dikumpulkan dengan
metode wawancara mendalam terhadap responden yang dipilih secara purposive
sampling. Selain masyarakat, wawancara dilakukan terhadap instansi-instansi
yang relevan dengan penelitian ini. Data sekunder meliputi dokumen rencana
pengelolaan TWA Pulau Weh, dokumen penataan blok TWA Pulau Weh, laporan
penanggung jawaban kerja Panglima Laot Lhok Iboih, data ekosistem terumbu
karang dan data lainnya. Tahapan analisis data pada penelitian ini adalah
menganalisis kondisi sosial ekonomi masyarakat, menganalisis kebijakan,
menganalisis tingkat keberlanjutan pengelolaan kawasan dengan metode analisis
statistik multi dimensional scalling (MDS) yang di dasarkan pada perangkat lunak
RAPFISH, mementukan stakeholder, serta mendesain model integrasi sistem
Lembaga Adat Panglima Laot Lhok Iboih kedalam pengelolaan TWA Laut Pulau Weh
menggukan model konseptual.
Hasil penelitian menunjukan bahwa sistem pengelolaan yang dilakukan oleh
Badan Konservasi Sumber Daya Alam di TWA Pulau Weh di wilayah perairan
menunjukan hasil kurang berkelanjutan. Tiga dimensi yang digunakan yaitu
dimensi ekologi, dimensi ekonomi sosial dan budaya dan dimensi pengelolaan
menunjukan indeks di bawah 50. Sistem pengelolaan oleh Lembaga Adat
Panglima Laot Lhok Iboih di Wilayah Hukom Adat Panglima Laot menunjukan
tingkat keberlanjutan yang cukup berkelanjutan, dari tiga dimensi, hanya dimensi
ekologi yang berada pada kategori kurang berkelanjutan. Kurang berkelanjutan
kondisi ekologi pada dua wilayah di duga di sebabkan oleh kegiatan antropegenik
dan juga oleh peristiwa pemutihan karang pada tahun 2010 di Pulau Weh dan
sekitarnya yang menyebabkan terjadi penurunan karang keras lebih dari 50 % di
TWA Laut Pulau Weh dibandingkan pada tahun 2009.
Pengelolaan TWA Laut Pulau Weh oleh BKSDA dan Wilayah Hukom Adat
Panglima Laot Lhok Iboih saat ini memiliki beberapa perbedaan. Akan tetapi pada
prakteknya terdapat kesamaan dalam pelaksanaannya. Hal tersebut memberikan
peluang untuk melakukan integrasi dua sistem pengelolaan menjadi satu sistem
pengelolaan dengan tujuan meningkatkan efektivitas pengelolaan. Integrasi
kegiatan kedua sistem pengelolaan dapat dilakukan dengan mengintegrasikan
wilayah kelola TWA Laut Pulau Weh dan Wilayah Hukom Adat Panglima Laot
Lhok Iboih, pengawasan dan pengamanan kawasan, peraturan, penegakan aturan,
dan biaya pengelolaan
Potensi Pencemaran Minyak Sawit Kasar (Cpo) Di Perairan Dumai Dan Toksisitas Akut Terhadap Organisme
Perairan Dumai termasuk kategori rentan terhadap tumpahan minyak. Hal ini disebabkan oleh banyaknya aktifitas industri di wilayah tersebut, terutama industri crude palm oil (CPO). Kegiatan yang terus menerus menyebabkan terjadinya tekanan terhadap ekologis perairan di Selat Rupat yang telah menurukan kualitas perairan sebagai akibat dari adanya peningkatan masukan limbah. Penelitian ini bertujuan untuk untuk menentukan tingkat pencemaran minyak di kawasan Pesisir Dumai Provinsi Riau dan menganalisis besarnya toleransi biota terhadap CPO. Penelitian ini telah dilakukan pada bulan September 2014 sampai Maret 2015 di Selat Rupat, Dumai Propinsi Riau. Analisis parameter kualitas air seperti arus, suhu, salinitas dan oksigen terlarut (DO) dilakukan secara in situ. Analisis minyak pada air dan sedimen menggunakan metode ekstraksi dan untuk melihat efek akut terhadap organisme menggunakan uji toksisitas. Konsentrasi minyak pada air di Perairan Dumai berkisar antara 0.13-0.51 mg/l dan pada sedimen berkisar antara 0.32-1.51 mg/kg. Berdasarkan hasil analisis probit diperoleh nilai LC-50 CPO terhadap benur udang windu pada waktu pemaparan 48 adalah 7.50x103 mg/l. Hasil uji toksisitas CPO menunjukkan bahwa pada konsentrasi tinggi telah memberikan pengaruh yang sensitive terhadap kehidupan larva. Konsentrasi terendah yang memberikan dampak kematian adalah 7.50x103 mg/l untuk massa pemaparan 48 jam. Dengan memperhatikan konsentrasi hasil pengamatan lapang yang telah disebutkan terdahulu, kandungan minyak dan lemak yang terukur adalah setinggi 0.51 mg/l. Konsentrasi ini masih jauh lebih kecil dari konsentrasi yang mematikan untuk massa 48 jam. Konsentrasi minyak di Perairan Dumai masih dalam kategori normal yaitu sekitar 0.51 mg/l, jika konsentrasi ini terus seperti itu maka membutukan waktu seluruh siklus hidup udang windu untuk menyebabkan efek kronis terhadap larva udang windu. Mengingat larva udang windu makin tumbuh besar maka sifat toksit minyak terhadap udang juga semakin rendah. Oleh sebab itu, konsentrasi minyak yang ada di Perairan Dumai masih kategori belum tercemar dan belum berbahaya untuk biota
Potensi Beban Pencemaran P, Pb, dan Cd pada Pakan Komersial di Waduk Cirata, Jawa Barat
Berkembangnya budidaya ikan sistem keramba jaring apung yang menempati sebagian besar Waduk Cirata akan meningkatkan bahan pencemar yang masuk ke waduk. Diduga, pada pakan komersial keramba jaring apung di Waduk Cirata terkandung fosfor yang tinggi, logam berat timbal (Pb) dan kadmium (Cd). Tujuan penelitian ini adalah menghitung potensi beban pencemaran nutrien P dan logam berat Pb dan Cd yang berasal dari pakan komersial di Waduk Cirata. Pengumpulan data berupa pengambilan sampel satu jenis pakan di supplier pakan ikan, wawancara pembudidaya keramba jaring apung, dan pengambilan sampel air di tiga stasiun di Waduk Cirata. Pakan melepaskan fosfor ke perairan sebesar 10.891 ton/tahun atau setara dengan 0,038 mg P/L/hari (44%). Beban logam berat Pb dan Cd yang terkandung dalam pakan komersial sebesar 36,92 kg Pb/tahun dan 7,60 kg Cd/tahun atau setara dengan 0,0000001 mg Pb/L/hari (0,0004%) dan 0,00000003 mg Cd/L/hari (0,0001%). Keramba jaring apung (KJA) di Waduk Cirata berkontribusi pada beban pencemar yang masuk ke perairan. KJA melalui pakan komersial mencemari perairan dengan melepaskan fosfor dan logam berat
Emisi Metana Dari Rumen Ternak Ruminansia Secara In Vitro Menggunakan Metode Stoikiometri Kimia
Pemanasan global (global warming) adalah suatu proses meningkatnya suhu rata-rata atmosfer, laut, dan daratan bumi. Pemanasan global ini disebabkan oleh efek gas rumah kaca (green house effect). Efek rumah kaca adalah terjadinya peningkatan akumulasi gas rumah kaca diantaranya berupa karbon dioksida (CO2) dan beberapa jenis gas lainnya seperti metana. Peningkatan ini diakibatkan oleh aktivitas industri, sisa pembakaran bahan bakar minyak bumi, dan juga sektor pertanian yang termasuk didalamnya bidang peternakan terkhusus ternak ruminansia. Penelitian mengenai produksi gas metana pada beberapa dekade terakhir ini banyak diangkat oleh para ahli, namun demikian di Indonesia sendiri masih belum banyak dilakukan penelitian mengenai metode yang lebih efektif dan efisien, pada penentuan kandungan gas metana. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis emisi metana dari beberapa jenis pakan yang umum digunakan di Indonesia, efektifitas metode uji emisi metana dengan metode stoikiometri kimia dan strategi pengelolaan lingkungan terhadap pemanasan global. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Oktober – Desember 2014 di Laboratorium Ilmu dan Teknologi Pakan Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu: metode stoikiometri kimia dengan cara pengukuran kandungan VFA (volatile fatty acid). Analisis kandungan VFA dilakukan menurut metode Hoeltershinken et al. (1997). Peubah yang diamati yaitu analisis komposisi nutrisi pakan, kandungan gross energy (GE), total gas, amonia, kecernaan bahan organik (KCBO), kandungan VFA (volatile fatty acid). Data yang diperoleh akan dianalisis statistik dengan analisis sidik ragam ANOVA. Hasil analisa emisi metana dari berbagai pakan menunjukkan bahwa emisi metana dari beberapa perlakuan yang dianalisis pada penelitian ini menunjukkan bahwa konsentrat yang ditambahkan rumput gajah 60% dapat menurunkan emisi metana yang terbaik, yaitu sebesar 3,03 mmol/l, efektifitas metode stoikiometri kimia masih efektif dalam menghitung gas metana, jika dibandingkan dengan metode manual, pemakaian bahan kimia lebih sedikit, pengoperasian lebih mudah, dan efisiensi waktu lebih cepat. Strategi menurunkan emisi gas metana pada pakan ternak ruminansia dapat dilakukan dengan menambahkan jerami padi dan rumput gajah pada konsentrat
Analisis Kapasitas Fitoremediasi Tanaman Vetiver (Chrysopogon Zizanioides) Dalam Mereduksi Limbah Cair Organik Studi Kasus Kerambak Jaring Apung Di Waduk Cirata
Pencemaran perairan merupakan masalah global utama yang hingga saat ini banyak memberikan dampak negatif terhadap bidang akuakultur namun budidaya perikanan juga turut memberikan dampak negatif terhadap kualitas air di lingkungan perairan. Budidaya perikanan yang dilakukan dengan menggunakan air yang tercemar limbah akan menurunkan produksi organisme budidaya dan berdampak langsung pada aspek sosial dan ekonomi. Secara garis besar, budidaya perikanan juga menghasilkan limbah yang berasal dari kegiatan budidaya berupa feses, hasil metabolisme tubuh, sisa pakan yang tidak tercerna oleh organisme budidaya, maupun organisme yang mati di dasar perairan yang dapat menurunkan kualitas air budidaya ikan khususnya di waduk cirata. Tingginya unsur hara, terutama nitrogen (N) dan fosfor (P) yang menyebabkan kandungan kedua zat tersebut menjadi sangat melimpah di dalam perairan. Di lain pihak, tingginya kedua unsur hara tersebut akan mengakibatkan perairan menjadi sangat subur (eutrofikasi) yang seringkali ditandai oleh terjadinya blooming algae di dalam perairan, terjadi kondisi anoksia, sehingga perairan dapat membahayakan makhluk hidup yang ada di dalamnya
Fitoremediasi merupakan salah satu cara untuk dekontaminasi limbah dengan menggunakan tanaman dan bagian-bagiannya, secara in situ atau ex situ. Salah satu jenis tanaman yang dapat dimanfaatkan untuk itu adalah vetiver (Chrysopogon zizanioides). Vetiver mampu bertahan hidup di daerah tergenang dan daerah bersalinitas moderat. Truong et al. (2008) menyatakan bahwa rumput vetiver ini mampu tumbuh di wetland area dan efektif mengurangi air limbah.
Penelitian bertujuan untuk mempelajari kemampuan vetiver dalam mereduksi limbah organik terlarut dalam air dan menganalisis laju pertumbuhannya. Pada penelitian terdapat tiga perlakuan, yakni vetiver dengan bobot 15 g dan 30 g serta control, dengan ulangan sebanyak tiga kali, selanjutnya dilakukan pengamatan terhadap air waduk yang banyak dicemari oleh limbah anorganik dan limbah organik khususnya dari kegiatan karamba jaring apung. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa vetiver bobot 15g dan 30 g tidak berbeda nyata pada waktu yang sama untuk memperbaiki kualitas air, tetapi dalam setelah satu bulan memperlihatkan perbedaan yang signifikan, yakni vetiver 30 g lebih baik dari 15 g. Vetiver tidak mempengaruhi secara nyata kualitas air, namun cenderung memperbaiki kualitas air. Vetiver mampu tumbuh dengan baik pada media limbah cair organik. Vetiver yang untuk fitoremediasi, idealnya adalah vetiver yang masih mud
Analisis Jejak Karbon Di Kawasan Wisata Pesisir Dan Laut (Studi Kasus Kawasan Wisata Pangandaran, Jawa Barat).
Satu dekade terakhir, analisis jejak karbon menjadi salah satu pendekatan yang paling banyak digunakan dan diterapkan pada beragam skala sebagai salah satu upaya mitigasi menyikapi perubahan iklim. Pada penelitian ini, analisis jejak karbon diaplikasikan pada kawasan wisata pesisir dan laut yang mewakili aktifitas industri (wisata) yang berpotensi besar mengemisikan karbon. Dimana pada saat yang sama, sumberdaya khas pesisir ternyata memiliki potensi yang sangat tinggi sebagai penyerap karbon.
Potensi emisi dianalisis dengan pendekatan Environmental Input Output Analysis (EIOA). Sementara itu, potensi serapan karbon dianalisa dari dinamika luasan ekosistem mangrove melalui pendekatan metode gain and loss sesuai panduan IPCC 2006. Keduanya kemudian diproyeksikan secara temporal melalui simulasi model dinamik untuk mengaplikasikan skenario kebijakan pengelolaan wisata rendah karbon yang paling baik.
Secara umum berdasarkan tren laju pengurangan dan penambahan luasan mangrove saat ini, potensi emisi karbon di kawasan wisata Pangandaran masih jauh lebih besar dibandingkan potensi serapan karbon oleh mangrove. Rata-rata laju emisi berdasarkan hasil proyeksi adalah 3 × 10-2/tahun sedangkan rata-rata laju sekuestrasi adalah sebesar 1.95 × 10-4/tahun dengan rata-rata agregat karbon termisi adalah sebesar 198 803 tonCO2e/tahun. Berdasarkan hasil simulasi, meningkatkan pengelolaan ekosistem mangrove sebesar 203% dari laju pengelolaan saat ini dinilai sebagai upaya paling baik untuk mewujudkan wisata rendah karbon
Kandungan Logam Berat Pb, Cu, Cd, dan Hg pada Kerang Darah Anadara granosa (Linnaeus, 1758) di Perairan Pesisir Kabupaten Tangerang
Blood cockle (Anadara granosa) is one of the biological resources that have been used by Indonesian people. They can accumulate more metals than the other aquatic animals because they settle and filter their feed. The purpose of this study is to reveal the metal content of Pb, Cu, Cd, and Hg were found in the blood cockle. AAS (Atomic Absorbtion spectrophotometry) were used to analyze the heavy metal concentration. The result showed that the highest metal content of Pb is 0,675 mg/kg on June and 1,860 mg/kg on August in Kronjo and Cu is 3,440 mg/kg in Cituis. The Bioconcentration Factor (BCF) showed that blood cockle in Kronjo and Cituis has a moderately accumulation in Pb and Cd, but lower in Cu
Bioakumulasi dan Sebaran Logam Berat Pb pada Ikan Kurisi (Nemipterus sp.) di Teluk Banten
Teluk Banten merupakan kawasan utama dari kegiatan nelayan Kabupaten
Serang Provinsi Banten. Kawasan sekitar perairan Teluk Banten mulai
berkembang dengan adanya kegiatan industri maupun pelabuhan perikanan.
Kegiatan-kegiatan tersebut memberikan pengaruh positif terhadap perekonomian
masyarakat namun dilain pihak membawa dampak negatif terhadap lingkungan
terutama pada air teluk. Dampak negatif yang diberikan dari kegiatan tersebut
diantarnya buangan limbah,industry tekstil dan aktivitas pengecatan di galangan
kapal. Adanya timbal (Pb) yang masuk ke dalam ekosistem mempengaruhi biota
perairan seperti mematikan ikan terutama pada fase juvenil karena tingkat
toksisitasnya yang tinggi. Salah satu jenis ikan hasil tangkapan yang ditemukan di
Teluk Banten adalah ikan kurisi (Nemipteru sp.). Ikan kurisi digolongkan dalam
ikan demersal yang memiliki aktivitas gerak relatif rendah dengan kebiasaan
ruaya yang tidak terlalu jauh. Keadaan demikian memposisikan ikan kurisi cocok
digunakan sebagai objek dalam penelitian bioakumulasi logam. Penelitian ini
bertujuan untuk : (1) Mengetahui kelayakan lingkungan perairan Teluk Banten
bagi kehidupan biota terkait keberadaan cemaran logam Pb, (2) Menganalisis
akumulasi logam berat Pb pada ikan kurisi (kulit,otot, insang) dan sebarannya
secara histomorfologis pada insang, hati, ginjal, otot.
Pengambilan sample dilakukan pada lima stasiun yang ditetapkan yaitu
stasiun 1 (kawasan pelabuhan perikanan), stasiun 2 (kawasan industri Bojanegara),
stasiun 3 (daerah transisi sebelum memasuki wilayah Pulau Panjang), stasiun 4
(bagian depan Pulau Panjang yang beratasan dengan teluk Banten), stasiun 5
(bagian belakang Pulau Panjang yang berbatasan dengan laut lepas). Penentuan
konsentrasi logam Pb baik di lingkungan (air dan sedimen) maupun di jaringan
ikan (otot, kulit dan insang) dilakukan dengan metode AAS (Atomic Absorption
Spectrofotometric). Pengamatan sebaran logam Pb pada insang, otot, hati, dan
ginjal dilakukan dengan metode histoteknik menggunakan pewarnaan logam
haematoxylin, Pb akan tervisualisasi dengan warna biru dan pewarnaan
rhodizonate yang akan memvisualisasikan Pb dengan warna merah kecoklatan.
Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif dengan membandingkan pada
baku mutu, serta analisis uji F menggunakan ANOVA satu arah.
Berdasarkan hasil analisis AAS, diketahui bahwa konsentrasi logam berat
Pb baik di air maupun sedimen telah melibihi baku mutu yang diperbolehkan.
Konsentrasi logam Pb di air secara berturut-turut di masing masing stasiun yakni
0,018 mg/L, 0,02 mg/L, 0,023 mg/L, 0,024 mg/L dan 0,024 mg/L, sedangkan
untuk baku mutu yang diperbolehkan dari KMNLH no.51 tahun 2004 adalah
sebesar 0,008 mg/L. Demikian pula konsentrasi logam Pb pada sedimen yang
sangat tinggi secara berturut-turut pada masing-masing stasiun yakni 83,41
mg/Kg, 107,61 mg/Kg, 60,76 mg/Kg, 92,93 mg/Kg, dan 98,17 mg/Kg, sedangkan
baku mutu yang diperbolehkan dari CCME (Canadian Council of Ministers for
the Environment) (2002) adalah 30,2 mg/Kg untuk ISQG (Interim Sediment
Quality Guidelines) dan 112 mgKg untuk PEL (Probable Effect Levels). Pada
ikan, hasil menunjukan konsentrasi Pb baik pada kulit, otot, maupun insang telah
melewati baku mutu yang ditetapkan. Insang ikan kurisi (Nemipterus sp)
merupakan organ akumulator logam terbanyak pada penelitian ini dengan rata-rata
sebesar 43,544 mg/Kg±21,58451 diikuti kulit dengan konsentrasi 33,256
mg/Kg±16,25153 dan otot sebesar 19,098 mg/Kg±7,949058. Analisis histologi
juga menunjukan sebaran logam Pb pada, otot, ginjal, hati dan insang tersebar
secara merata. Pada gambaran histomorfologi, otot merupakan organ yang
mengakumulasi logam paling sedikit dibandingkan dengan ginjal, hati dan insang.
Akumulasi logam pada otot yang dianalisis menggunakan AAS, tidak berasal dari
serabut otot melainkan dari jaringan ikat dan pembuluh darah.
Berdasarkan hasil di atas dapat disimpulkan bahwa konsentrasi logam Pb di
air pada semua stasiun pengambilan sampel menunjukan nilai yang tinggi
melebihi ambang baku mutu yang ditetapkan. Tinggi konsentrasi logam Pb di air
memberikan pengaruh terhadap konsentrasi logam Pb pada biota yang hidup di
lokasi setempat. Konsentrasi logam Pb di insang, kulit, dan otot ikan kurisi
menunjukan nilai yang tinggi melebihi baku mutu. Pola sebaran akumulasi logam
Pb pada insang, hati dan ginjal dapat berupa bintik yang tersebar merata maupun
bergerombol
- …
