1,720,959 research outputs found
Analisis Karakter Visual pada Komunitas Indie (Studi Kasus Karakter Babi pada Visual Produk OINK!)
Penelitian ini mengkaji bentuk bentuk visual yang digunakan oleh kelompok “indie†yang memiliki prinsip untuk melakukan segala sesuatu secara mandiri dan antimainstream. DiBandung geliat komunitas ini diwakili dengan bermunculannya toko pakaian yang disebut distribution Clothing atau disingkat menjadi distro. Adapun hal yang akan dikaji adalah karakter yang digunakan oleh komunitas ini. Sesuai dengan prinsip yang mereka pegang tidak mau disamakan dengan hal yang mainstream, maka visual pada produk fashionnya pun cenderung melawan kebiasaan yang ada. Mereka tidak jarang menggunakan bahasa atau pun karakter yang kadang dianggap negatif oleh masyarakat umum. Pada penelitian ini yang menjadi kajian adalah hewan babi pada salah satu brand komunitas indie yaitu Oink!. Penelitian ini membuktikan bahwa pemilihan karakter yang digunakan pada desain pakaian memiliki hubungan dengan prinsip komunitas indie sendiri. Karakter ini bisa diterima karena fakta bahwa mereka memiliki kesamaan yaitu dianggap „berbeda‟ di lingkungan masyarakat pada umumnya di Indonesia. Karakter hewan yang dianggap negatif di masyarakat oleh komunitas indie digunakan sebagai simbol perjuangan mereka melawan kemapanan.Kata Kunci : komunitas Indie, hewan babi, karakter visualABSTRACTThis study examines the visual form used by the "indie" group that has principles to do everything independently and antimainstream. In Bandung this community is represented by the emergence of a clothing store called the distribution of Clothing or abbreviated as distro. The thing to be studied is the character used by this community. In accordance with the principles they hold do not want to be equated with the mainstream, then the visuals on fashion products also tend to fight the existing habits. Sometimes they using a language or characters that are sometimes considered negative by the general public. In this research the object study is a pig animal in one indie community brand that is Oink !. This study proves that the selection of characters which used in the clothing design has a relationship with the principle of indie community itself. These characters are acceptable because they have a similarity that is 'different' in society in general in Indonesia. Animal characters considered by society to be negative by indie are used as a symbol of their struggle againts establishment.Keywords: Indie community, pig animals, visual character
Analisis Prinsip Gestalt Pada Pola Monogram Brand Goyard Dalam Membentuk Persepsi Visual
Pola monogram termasuk salah satu elemen kunci dari luxury brand. Monogram didesain secara khusus sebagai identitas mereka. Penggunaannya memberikan elemen visual yang unik dan bisa dikenali dengan mudah oleh konsumen. Dengan memadukan huruf atau simbol merek dalam desain unik dapat memberikan identitas yang khas dan mudah dikenali. Brand mewah seringkali mengkaitkan diri dengan sejarah, warisan dan tradisi sebagai dasar dari pola monogram pada identitasnya. Goyard, sebagai salah satu merek mewah terkenal, menggunakan monogram khasnya sebagai elemen identitas visual yang mendalam. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan prinsip-prinsip Gestalt pada pola monogram Goyard dan dampaknya terhadap persepsi visual. Dengan merinci elemen-elemen seperti kesatuan, keterpisahan, simetri, dan kesinambungan dalam pola monogram, penelitian ini mengeksplorasi cara brand Goyard memanfaatkan prinsip-prinsip Gestalt untuk menciptakan kesan visual yang unik dan memikat. Analisis ini dapat memberikan wawasan yang mendalam tentang bagaimana desain monogram berkontribusi pada pembentukan persepsi konsumen terhadap suatu brandKata kunci: Brand Goyard, prinsip Gestalt, persepsi visualABSTRACTThe monogram pattern is one of the key elements of luxury brands. Monograms are specifically designed as their identity. Its use provides a unique visual element that can be easily recognized by consumers. By combining brand letters or symbols in a unique design, it can provide a distinctive and recognizable identity. Luxury brands often associate themselves with history, heritage and tradition as the basis of the monogram pattern in their identity. Goyard, as one of the well-known luxury brands, uses its signature monogram as a profound visual identity element. This research aims to analyze the application of Gestalt principles to Goyard's monogram pattern and its impact on visual perception. By detailing elements such as unity, separateness, symmetry, and continuity in the monogram pattern, this research explores how the Goyard brand utilizes Gestalt principles to create a unique and compelling visual impression. This analysis can provide deep insights into how monogram design contributes to the formation of consumer perceptions of a brand.Keywords: Goyard brand, gestalt principles, visual perceptio
Mengenai Cerita Asal-Usul Bahan Makanan Melalui Kartu Augmented Reality
AbstrakUsia 3-5 tahun manusia atau dapat disebut usia kanak-kanak awal merupakan periode hidup terpeting pada hidup manusia karena semua potensi penting termasuk perkembangan motorik, kognitif, Bahasa dan emosional pada hidup manusia berkembang dan bertumbuh sangat pesat di periode ini. Makanan sehat dan degan jumlah yang cukup merupakan salah satu pendukung utama dalam pertumbuhan dan perkembangan anak. Dalam masa pertumbuhan, anak akan melewati masa sulit makan, dimana jika hal ini terus terjadi maka akan berdampak buruk pada anak. Penelitian ini bertujuan untuk mendukung data perancangan media belajar untuk anak yang bertujuan untuk orang tua mengedukasi anak agar anak mengenal makanannya dan berdampak pada keberhasilan anak untuk makan. Metode pengumpulan data menggunakan survei, wawancara dan observasi pada beberapa orang tua dan anak berusia 3-5 tahun berdomisili di Bandung dan Jakarta, dan juga studi literatur. Hasil penelitian ini diharapkan dapat membentuk suatu media yang membantu keberhasilan anak untuk makan.Kata kunci: Anak, Makanan, EdukasiAbstractHuman on 3-5 years old or can be called early childhood is the most important life period in human life because all important potentials including motoric, cognitive, language and emotional development in human life develop and grow very rapidly in this period. Healthy food and in sufficient quantities is one of the main supports in the growth and development of children. During the growth period, the child will go through a difficult time to eat, where if this continues it will have a negative impact on the child. This study aims to support data on the design of learning media for children with the aim of parents educating children so that children know their food and have an impact on children's success in eating. Data collection methods used surveys, interviews and observations to several parents and children aged 3-5 years living in Bandung and Jakarta, as well as literature studies. The results of this study are expected to form a medium that helps children's success to eat. Keywords: children, food, educatio
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Visual Storytelling dalam mengenalkan Gangguan Sleep Paralysis melalui picture book untuk anak (Studi Kasus Buku “Berpetualang ke Dunia Tidur bersama Molly dan Peri Lunora)
Sleep paralysis adalah kondisi dimana kita mengalami kelumpuhan pada saat tidur. Tubuh menjadi tidak mampu bergerak Ketika sedang tidur ataupun Ketika hendak bangun tidur. Sleep Paralysis biasanya sering diikuti dengan halusinasi seram atau mimpi buruk, kondisi seperti ini terkadang disebut juga dengan tidur belum sempurna karena siklus tidurnya terganggu. Pada umumnya halusinasi seram itu sendiri menyebabkan persepsi di masyarakat bahwa ini terjadi karena gangguan makhluk halus bukan karena kondisi kesehatan. Informasi seperti tentu saja akan ada dimana-mana tanpa terkecuali pada anak. Oleh karena itu bagian dari upaya untuk mengedukasi anak mengenai sleep paralysis ini adalah melalui buku cerita bergambar. Dimana konten yang disajikan harus sesuai dengan karakter pembaca anak. Oleh karena itu pertimbangan visual storytelling pada buku tersebut menjadi bagian yang penting untuk bisa menyampaikan dengan cara yang tepat pada anak.Kata kunci: Buku cerita bergambar, visual storytelling, sleep paralysis, anak-----Sleep paralysis is a condition where we experience paralysis during sleep. The body becomes unable to move when it is sleeping or when it is about to wake up. Sleep paralysis is usually often followed by scary hallucinations or nightmares, this condition is sometimes called imperfect sleep because the sleep cycle is disrupted. In general, the spooky hallucinations themselves lead to the perception in society that these are caused by disturbances from spirits, not health conditions. Such information, of course, will be everywhere, without exception for children. Therefore part of the effort to educate children about sleep paralysis is through picture story books. Where the content presented must be in accordance with the character of the child reader. Therefore, consideration of visual storytelling in the book is an important part of being able to convey it in the right way to children. Keywords: Picture story books, visual storytelling, sleep paralysis, childrenÂ
EDUCATION ON CONSENT FOR CHILDREN THROUGH THE DESIGN OF AN ILLUSTRATED BOOK INSPIRED BY THE THEME "C IS FOR CONSENT" BY ELEANOR MORRISON
Perancangan buku ilustrasi ini dilatarbelakangi oleh kebutuhan untuk meningkatkan pemahaman tentang consent pada anak-anak usia dini. Buku ini bertujuan untuk menormalisasikan kegiatan meminta izin atau dimintai izin untuk melakukan sesuatu yang melibatkan orang lain, dengan berfokus pada penghormatan terhadap otonomi tubuh, serta mengulas berbagai cara seseorang dapat mengatakan atau menunjukkan kata “Iya” dan “Tidak”. Metode pengumpulan data menggunakan wawancara dengan orang tua yang memiliki anak usia dini, serta observasi terhadap cara mereka mengajarkan nilai-nilai tersebut, menunjukkan bahwa meskipun orang tua menyadari pentingnya edukasi tentang consent, masih banyak yang belum memiliki metode yang konkret untuk menyampaikannya. Melalui ilustrasi yang menarik serta narasi yang mudah dipahami, diharapkan menjadi sarana yang efektif dalam memberikan edukasi yang menyenangkan dan mudah diterima oleh anak-anak. Kata Kunci: Consent, buku ilustrasi anak, edukasi, literasi anak, perlindungan anakThe design of this illustrated book is motivated by the need to enhance understanding of consent among young children. This book emphasizes on the importance of normalizing the act of seeking and granting permission, particularly in interactions involving others, focusing on respect for bodily autonomy and exploring various ways an individual can express “Yes” and “No”. Data collection involved interviews with parents of young children and observations of their methods in teaching these values. Findings revealed that while parents recognize the importance of educating children about consent, they often lack strategies to convey it effectively. Engaging through illustrations and simple narratives in storytelling, this book aims to provide as an effective, enjoyable, and easily accessible educational tool for children. Keywords: childrens’ book illustration, education, child literature, child protectio
Desain Karakter Mitologi Dalam game Sebagai Pengenalan Budaya: Studi Kasus Games Hades
Penelitian ini membahas mengenai peran video game sebagai media pengenalan terhadap budaya, dengan genre mitologi Yunani. Dengan referensi mitos dan tokoh dewa dewi Yunani yang diaplikasikan dalam game sebagai bentuk visual, menjadi daya tarik game sebagai media pengenalan budaya. Dengan pendekatan kualitatif dan Systematic Literature Review (SLR), jurnal ini membahas mengenai pentingnya aset visual berupa konsep desain karakter pada game. Desain karakter akan menjadi nilai utama yang diperlihatkan kepada audiens sebagai keserasian dengan tokoh budaya, penggambaran dengan detail menarik dan keseluruhan visual akan membantu memperjelas visual genre dari game ini. Studi ini bertujuan untuk menunjukkan bagaimana game dapat menjadi media pengenalan budaya yang menarik, dengan bertemakan mitologi Yunani. Melalui game pengenalan budaya dapat lebih mudah diterima dan dapat melibatkan pengalaman bermain audiens. Hasil penelitian ini, diharapkan dapat memberikan wawasan dan kesempatan dalam pengembangan game yang lebih edukatif dan menarik salah satunya pada bidang pengenalan budaya
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis
We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
- …
