27 research outputs found
PEMANFAATAN MULSA ORGANIK KIRINYUH (CHROMOLAENA ODORATA (L.) KING DAN ROBINSON) SEBAGAI PENGENDALI GULMA PADA TANAMAN KEDELAI DENGAN WAKTU APLIKASI YANG BERBEDA
AMDA RESDIAR. Pemanfaatan mulsa organik kirinyuh (Chromolaena odorata (L.) King dan Robinson) sebagai pengendali gulma pada tanaman kedelai dengan waktu aplikasi yang berbeda dibimbing oleh Hasanuddin dan Siti Hafsah. Tanaman kedelai memiliki periode kritis terhadap persaingan gulma sehingga pada waktu-waktu tertentu mulsa organik kirinyuh harus diaplikasikan untuk mengendalikan gulma. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan pertumbuhan dan hasil kedelai yang dipengaruhi oleh dosis dan waktu aplikasi mulsa kirinyuh. Penelitian ini berlangsung dari April hingga Juni 2015, di Desa Rumpeet, Darussalam, Banda Aceh. Titik koordinat percobaan terletak pada 5032'51,27" LU, 95022'11,25" BT pada ketinggian 6 m dpl. Penelitian ini juga dilaksanakan di Laboratorium Ilmu Gulma dan Fisiologi Tumbuhan Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) pola bifaktorial dengan 9 kombinasi dan 3 ulangan, sehingga terdapat 27 satuan percobaan. Faktor yang diteliti adalah dosis mulsa kirinyuh 6, 12, dan 18 ton ha-1 sedangkan waktu aplikasi kirinyuh yaitu saat tanam, 7 HST dan 14 HST setelah tanam. Peubah yang diamati adalah persentase penutupan gulma, bobot kering gulma, indeks luas daun, laju tumbuh tanaman, laju asimilasi bersih, jumlah polong per tanaman, jumlah biji per tanaman, bobot biji per tanaman, bobot 100 butir, dan hasil biji kering. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dosis mulsa organik kirinyuh tidak berpengaruh terhadap persentase penutupan gulma, bobot kering gulma, jumlah polong per tanaman, jumlah biji per tanaman, bobot biji per tanaman, bobot 100 butir, dan hasil biji kering. Waktu aplikasi mulsa organik kirinyuh berpengaruh terhadap persentase penutupan gulma 63 HST, bobot kering gulma 49 HST, jumlah polong per tanaman, jumlah biji per tanaman, bobot biji per tanaman, dan hasil biji kering. Waktu aplikasi mulsa organik kirinyuh pada saat tanam dapat menurunkan persentase penutupan gulma 63 HST dan bobot kering gulma 49 HST, serta meningkatkan jumlah polong per tanaman, jumlah biji per tanaman, bobot biji per tanaman, dan hasil biji kering. Dosis mulsa organik kirinyuh sebanyak 12 dan 18 ton ha-1 yang diaplikasikan pada waktu yang berbeda dapat meningkatkan ILD , LTT, dan LAB. Tidak terdapat interaksi antara dosis dan waktu aplikasi mulsa organik kirinyuh terhadap seluruh peubah.Kata Kunci: Gulma, kedelai, kirinyuh, waktu aplikas
Pengaruh Jarak Tanam dan Metode Pengendalian Gulma Terhadap Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Jagung (Zea mays
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jarak tanam dan metode pengendalian gulma terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman jagung (Zea mays). Penelitian ini dilaksanakan di UPTD BBHTPP DISTANBUN ACEH Kabupaten Aceh Besar. Penelitian ini dimulai pada bulan Februari 2022 sampai dengan Mei 2022. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK). Dengan 2 faktor, 3 repetisi dengan 27 kombinasi. Perlakuan yang diteliti adalah faktor pertama jarak tanam yang meliputi jarak tanam 70X30 (J1), jarak tanam 70X40 (J2), jarak tanam 70X50 (J3). Faktor kedua adalah cara pengendalian gulma yaitu: penggunaan herbisida selektif Kayabas (M1), penggunaan herbisida non selektif Joxone (M2) dan tanpa kontrol (M0). Hasil penelitian menunjukkan bahwa jarak tanam tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan gulma maupun tanaman jagung, namun berpengaruh nyata terhadap komponen hasil terutama bobot tongkol yang meliputi panjang dan diameter. Jarak jarang 70 x 40 cm menghasilkan bobot tongkol 133,11g. Namun hasil total per ha tertinggi dicapai pada jarak tanam 70 x 30 cm dengan hasil Jagung pipilan kering sebesar 3318,84 kg/ha, sedangkan untuk jarak tanam 70 x 40 cm menghasilkan 2531,97 kg/ha. Penyemprotan herbisida dapat menekan pertumbuhan gulma dan merangsang pertumbuhan tanaman jagung, herbisida selektif Kayabas (M1) cukup efektif menekan gulma dan menghasilkan pertumbuhan tanaman jagung serta hasil biji pipilan kering yang tinggi yaitu 3321,33 kg/ha. Kata Kunci : Jarak tanam, pengendalian gulma, jagung (zea mays
Implementasi Trichoderma sp. terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Sawi (Brassica Juncea L.)
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui implementasi Trichoderma sp. terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman sawi (Brassica juncea L.). Penelitian ini dilaksanakan di desa Babul Makmur, Kecamatan Simeulue Barat, Kabupaten Simeulue, provinsi Aceh. Bahan yang digunakan pada penelitian ini adalah benih sawi, pupuk kandang, dan Trichoderma sp. Alat yang digunakan antara lain cangkul, sekop, garu, kamera, penggaris, timbangan, alat tulis, ember, papan nama. Rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) non faktorial terdiri atas 4 perlakuan di ulang sebanyak 3 kali. Salah satu cara untuk meningkatkan hasil tanaman sawi adalah dengan memenuhi unsur hara bagi tanaman melalui pemupukan organik seperti jamur Trichoderma sp. Hasil penelitian membuktikan bahwa perlakuan dosis Trichoderma sp. berpengaruh terhadap tinggi tanaman umur 7 HST dan 21 HST, berpengaruh terhadap panjang daun umur 21 HST dan berpengaruh terhadap berat basah tanaman sawi. Namun perlakuan dosis Trichoderma sp. tidak berpengaruh terhadap tinggi tanaman umur 14 HST, tidak berpengaruh terhadap panjang daun umur 7 HST dan 14, dan tidak berpengaruh terhadap seluruh perlakuan jumlah daun pada umur 7 HST, 14 HST, 21 HST.Kata kunci: Trichoderma sp.,sawi, pertumbuha
PENGENDALIAN GULMA PADA TANAMAN KEDELAI DENGAN MENGGUNAKAN BEBERAPA WAKTU APLIKASI MULSA ORGANIK KIRINYUH (Chromolaena odorata L.)
Utilization of mulch could reduce competition between weeds and soybean crop for water, light, nutrient, maintaining temperature and humidity of soil to create better growth of soybean environment. Soybean crop had a critical period of weeds competition so that siam weed organic mulch should be applied to control weeds at certain time. The research aims to improve the yield of soybean crop that is influenced by application times of siam weed mulch. This study had defferent time of mulch aplications treatment such as at the time of planting, 7 days after planting (DAP), and 14 DAP. The results of this reserch showed that application times had not effected significantly at all parameter. The result also showed the earlier application time of siam weed organic mulch it was on planting time had decreased weed growth then increased yield of soybean. Keywords: Weed, soybeans, mulch, application time
Pengaruh pupuk hijau kerinyuh dan poc nasi basi terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman bayam
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peengaruh Pupuk hijau Kerinyuh dan POC Nasi Basi dalam meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman bayam. Penelitian ini akan dilaksanakan di Desa Babul Kecamatan Simeulue Barat . Waktu pelaksanaan penelitian ini dimulai pada bulan November 2021 sampai selesai. Alat dan bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah: cangkul, meteran, kamera, kalkulator, gembor, timbangan, alat tulis, gunting, biji bayam, POC daun kriuk dan nasi basi, air dan tanah. Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) faktorial. Faktor pertama adalah pupuk kerinyuh yang terdiri dari 3 taraf perlakuan K0 (kotrol), K1 ( pupuk kerinyuh 900 g/polybag), dan K2 (pupuk kerinyuh 1800 g/polybag). Faktor kedua adalah terdiri atas 3 taraf perlakuan poc nasi basi N0 (kontrol), N1 (75 ml/L) N2 (100 ml/L). Hasil penelitian menunjukkan bahwa Dari Hasil parameter yang diamati penelitian ini ternyata pupuk hijau kerinyuh dan poc nasi basi berpengaruh terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman bayam
RESPON PERTUMBUHAN DAN HASIL BEBERAPA VARIETAS KEDELAI (Glycine max (L.) Merrill) TERHADAP PEMBERIAN DOSIS BOKASI AMPAS TEBU
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respon pertumbuhan dan hasil beberapa varietaskedelai (Glycine max (L.) Merrill) terhadap pemberian dosis bokasi ampas tebu, yang dilaksanakan di lahan percobaan Universitas Teuku Umar, mulai dari Juli sampai September 2019. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak kelompok (RAK) pola Faktorial yang terdiri dari dua faktor. Varietas (V) terdiri dari 3 taraf yaitu : V1= Varietas dena 1, V2= Varietas devon 1, V3=Varietas grobongan. Faktot kedua adalah dosis bokasi ampas tebu (D) terdiri dari 4 taraf yaitu :D0=0 kg/ha, D1= 1 kg/ha, D2= 2 kg/ha, dan D3= 3 kg/ha. Hasil penelitian uji F pada analisis ragam menunjukkan varietas kedelai berpengaruh sangat nyata terhadap tinggi tanaman pada 14, 21, dan 28 HST, jumlah duan 28 dan 35 HST, berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman pada 35 HST, jumlah daun 14, 21 HST, serta berpengaruh tidak nyata terhadap parameter lainnya. Pemberian dosis pupuk bokasi ampas tebu berpengaruh sangat nyata terhadap tinggi tanaman pada 14, 21 dan 35 HST, jumlah daun pada 21 dan 28 HST, bobot kering per tanaman. Berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman 28 HST, bobot kering pertanaman, dan berpengaruh tidak nyata terhadap jumlah daun pada 14 dan 35 HST, jumlah polong berisi, berat biji kering, dan produksi per hektar, secara interaksi maka varietas dan dosis pupuk bokasi ampas tebu berpengaruh sangat nyata terhadap tinggi tanaman dan jumlah daun pada umur 14, 21, 28 dan 35 HST
Respon Pertumbuhan Bayam ( Amaranthus sp ) Terhadap Pemberian Trichoderma sp Di Desa Babul Makmur
This study aims to determine the Growth Response of Spinach (Amaranthus sp) to Trichoderma sp administration in Babul Makmur Village by applying Trichoderma sp fertilizer with Dakota and Sumatra 901 varieties and to determine the interaction of Spinach Plant Growth Response (Amaranthus sp) with Trichoderma sp fertilizer application. This research is a field trial carried out in Babul Makmur Village, Simeulue Barat District, Simeulue Regency. The study was conducted from November to December 2022, using the factorial pattern RAK (Randomized Block Design). The first factor is the dose of Trichoderma sp which consists of 3 levels, namely T1 = 30gr/plot, T2 = 40gr/plot, and T3 = 50gr/plot. The second factor of spinach plant varieties consisted of 2 types, namely V1 = Dakota variety and V2 = Sumatra 901 variety. The parameters observed were Plant Height (cm), Number of Leaves (strands), Root Length (cm), Wet Fallow (gr), Weight Dry (gr). From the results of the parameters observed, it can be concluded that the best results from applying Trichoderma sp. and types of varieties on plant height parameters were found in the T2V2 treatment, in the number of leaves parameter T2V1, in the root length parameter T3V1, in the wet weight parameter T3V1 and in the dry weight parameter T1V1 had better growth than other treatments
Uji Toleransi Beberapa Padi Lokal Kabupaten Simeulue terhadap Tingkat Cekaman Salinitas (NaCL) pada Fase Vegetatif
The use of saline land for rice cultivation needs to be supported by the presence of rice genotypes that are tolerant of saline land. To obtain a gene source that is tolerant of saline soils, it is necessary to select rice genotypes in the vegetative phase. This study aims to determine the tolerance of several local rice genotypes in Simeulue Regency to the level of salinity stress (NaCl) in the vegetative phase. The research design used was a 3 x 3 factorial randomized block design (RAK) with 3 replications. The first factor consisted of three levels, namely salinity level of 0 ppm/l (control), salinity level of 2500 ppm/l and 4000 ppm/l. The second factor consisted of three levels, namely the genotypes of Fakheulut aete, Sikurek and Mas rice. Parameters observed were plant height, number of tillers per clump, root length, number of roots, wet weight of roots and dry weight of rice roots. The results showed that the level of salinity stress had a very significant effect on plant height, number of roots, root wet weight and root dry weight of plants aged 45 HST. Significantly affected the number of tillers and root length at 45 HST. No significant effect on plant height and number of tillers aged 15 and 30 HST. The local rice genotype of Simeulue Regency had a very significant effect on the height of rice plants aged 15, 30 and 45 HST, the number of tillers aged 15 HST, had a significant effect on root length and number of roots aged 45 HST, and had no significant effect on the number of tillers aged 30, 45 HST, root wet weight and root dry weight at 45 HST. There was no significant interaction between salinity stress level and genotype on plant height, number of tillers, root length, number of roots, root wet weight and root dry weight.Keywords : Salinity land, Salinity stress level, Local rice genotype, Vegetative Phase
EFEKTIVITAS PENGGUNAAN BERBAGAI ZAT PENGATUR TUMBUH ALAMI DAN LAMA PERENDAMAN TERHADAP PERTUMBUHAN STEK MAWAR (Rosa damascene Mill)
ABSTRAK Mawar merupakan salah satu jenis tanaman hias yang keberadaannya sering dimanfaatkan. Bukan hanya dimanfaatkan sebagai tanaman bunga, akan tetapi mawar juga sering digunakan sebagai tanaman hias ditanam dipot, dijadikan bunga tabur, parfum, kosmetik dan obat-obatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pertumbuhan stek mawar terhadap pemberian berbagai zat pengatur tumbuh alami dan lama perendaman serta nyata tidaknya kedua faktor tersebut. Rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan acak kelompok (RAK) pola faktorial yang terdiri dari 2 faktor dan 4 ulangan yaitu (1) pemberian Zpt (Z) dengan 4 taraf; Z0: kontrol, Z1: bawang merah (100%), Z2: air kelapa (100%), Z3: tauge (100%). (2) Lama perendaman (M) dengan 3 taraf; M0: 0 jam, M1: 5 jam, M2: 10 jam. Parameter pengamatan adalah jumlah tunas, panjang tunas dan diameter jumlah daun umur 20, 30 dan 40 HST, jumlah akar ,panjang akar dan diameter persentase tumbuh. Hasil penelitian menunjukan bahwa pemberian zat pengatur tumbuh alami berpengaruh nyata terhadap panjang akar dan persentase tumbuh umur 40 HST. Berpengaruh tidak nyata terhadap jumlah tunas 20, 30 dan 40 HST, panjang tunaas 20, 30 dan 40 HST, jumlah daun 20, 30 dan 40 HST dan jumlah akar. Lama perendaman tidak berpengaruh nyata terhadap jumlah tunas, panjang tunas, jumlah daun, jumlah akar, panjang akar dan persentase tumbuh. Terdapat interaksi antara zat pengatur tumbuh alami dan lama perendaman pada jumlah tunas 20, 30 dan 40 HST tanaman stek mawar (Rosa damascene Mill) yang diamati. Kata Kunci : Mawar, Zat Pengatur Tumbuh Alami, Lama Perendaman. ABSTRAC Rose is one type of ornamental plant whose existence is often used. Not only used as a flower plant, but roses are also often used as an ornamental plant planted in pots, used as sow flowers, perfume, cosmetics and medicines. This study aims to determine the effect of the growth of rose cuttings on the provision of various natural growth regulators and the duration of immersion and the significance of these two factors. The experimental design used in this study was a factorial randomized block design (RBD) consisting of 2 factors and 4 replications, namely (1) giving Zpt (Z) with 4 levels; Z0: control, Z1: shallots (100%), Z2: coconut water (100%), Z3: bean sprouts (100%). (2) duration of immersion (M) with 3 levels; M0: 0 hours, M1: 5 hours, M2: 10 hours. Observation parameters were the number of shoots, length of shoots and diameter of the number of leaves aged 20, 30 and 40 DAS, number of roots, root length and percentage of growth diameter. The results showed that the provision of natural growth regulators had a significant effect on root length and growth percentage at 40 DAS. It had no significant effect on the number of shoots 20, 30 and 40 DAS, the length of tunaas 20, 30 and 40 DAS, the number of leaves 20, 30 and 40 DAS and the number of roots. The duration of immersion did not significantly affect the number of shoots, length of shoots, number of leaves, number of roots, length of roots and percentage of growth. There was an interaction between natural growth regulators and the duration of soaking in the number of shoots 20, 30 and 40 DAS for the observed rose cuttings (Rosa damascene Mill). Keywords: Rose, Natural Growth Regulatory Substance, Soaking Time
Respon Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Sawi Pakcoy (Brassica rapa L.) Terhadap Pemberian POC Limbah Sayur dan Jamur Trichoderma sp.
Penelitian respon pertumbuhan dan hasil tanaman sawi (Brassica rapa L.) terhadap aplikasi pupuk organik cair dari limbah sayuran dan jamur Trichoderma sp. dilaksanakan di Desa Padang Kecamatan Manggeng Kabupaten Aceh Barat Daya mulai bulan Oktober sampai November 2022. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial yang terdiri dari 2 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan yang diberikan adalah pupuk organik cair untuk limbah sayuran = P0 (kontrol/tanpa perlakuan), P1 (30 ml POC.1-1 air), P2 (40 ml POC.1-1 air), dan P3 (50 ml POC.1-1 air). 1-1 udara). 1 -1 udara). Perlakuan Trichoderma sp = T0 (kontrol/tanpa perlakuan), dan T1 (Trichoderma sp. 50gr/petak), sehingga diperoleh 24 satuan percobaan. Hasil penelitian ini berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman, jumlah daun,dan panjang daun dengan mengolah limbah sayuran menjadi pupuk organik cair. Sedangkan aplikasi Trichoderma sp. berpengaruh nyata terhadap jumlah daun dan panjang daun. Terdapat interaksi antara keduanya yaitu pada tinggi tanaman dan panjang daun
