1,721,191 research outputs found
Peningkatan Kualitas Material NCG (Neutralized Crude Gypsum) sebagai Bahan Baku Bata Ringan
Donna Rensa Comedia moralissima, ma d'allegrezza massime tra persone religiose ; Per honesto divertimento nel tempo delle ricreationi a loro concesse
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis
We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
STUDI FAKTOR LINGKUNGAN SARANA SANITASI DAN PHBS YANG MEMPENGARUHI KEJADIAN DIARE PADA ANAK BALITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS ALAK
ABSTRAK
STUDI FAKTOR LINGKUNGAN SARANA SANITASI DAN PHBS YANG MEMPENGARUHI KEJADIAN DIARE PADA ANAK BALITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS ALAK
Rensa Sonaliati Umbu Deta, Ragu Harming Kristina*)
[email protected]
*) prodi sanitasi poltekkes kemenkes kupang
Xi+83 halaman= Tabel, Gambar, Lampiran
Diare adalah salah satu penyebab utama kematian di dunia, membunuh sekitar 2,5 juta orang setiap tahunnya. Diare disebut juga sebagai buang air besar yang frekuensinya lebih dari 3 kali sehari dengan konsistensi tinja yang encer. Penyebab diare dapat ditinjau dari hots, agent, dan environtment. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui faktor sarana sanitasi lingkungan dan PHBS yang mempengaruhi kejadian diare pada anak balita di Wilayah Kerja Puskesmas Alak. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif. Dan rancangan penelitian ini adalah menggunakan pendekatan Cross Sectional. Variabel dalam penelitian ini adalah penyediaan air bersih, ketersediaan jamban sehat, ketersediaan SPAL, ketersediaan tempat sampah, perilaku hidup bersih. Adapun populasi dari penelitian ini adalah semua anak balita usia 1-4 tahun yang menderita diare pada bulan Januari-April yang berjumlah 186 anak. Sampel dari penelitian ini adalah 65 anak yang menderita diare pada bulan Januari-April. Teknik pengambilan data primer (data yangdiperiksalangsung dilapangan) dan data sekunder (data yang dikumpulkan oleh orang lain).Hasil pemeriksaan penyediaan sarana air bersihkategori cukup sebanyak 3 rumah (5%) , ketersediaan jamban kategori cukup sebanyak 8 rumah (12%), tempat sampah kategori kurang sebanyak 37 rumah (57%), SPAL kategori kurang sebanyak 64 rumah (92%), PHBS cuci tangan kategori kurang 60 responden (92%), PHBS merebus air kategori kurang sebanyak 10 responden (15%), dan PHBS menutup makanan kategori kurang sebanyak 9 responden (14%). Kesimpulan kasus diare yang disebabkan oleh wadah sampah yang tidak memenuhi syarat, tanpa fasilitas SPAL atau PHBS. Responden disarankan untuk selalu menjaga kualitas lingkungan..
Kata kunci: sarana sanitasi lingkungan, PHBS, kejadian diare
Kepustakaan : 13 buah (2016-2023
Pelaksanaan prinsip Hak Asasi Manusia (Ham) pada pelaksanaan fungsi penegakan hukum Polri Jajaran Polda Metro Jaya / Rensa Sastika Aktadivia
Salah satu unsur penting bagi Polri dalam menjalankan fungsi penegakan hukum adalah tindakan tegas dan terukur oleh anggota, saat mengungkap kasus serta menangkap para pelaku yang dianggap membahayakan jiwa masyarakat. Namun dilemanya sikap tersebut seringkali serba salah dan tidak luput menuai kritik, dimana jika tindakan terlalu lunak maka polisi akan dikatakan melakukan pembiaran. Namun bila tindakan agak keras sedikit (menangkap dengan kekerasan atau tembak di tempat), polisi bisa dituding telah melakukan pelanggaran HAM Situasi serupa ketika Polisi dalam menjalankan fungsi penindakan (menghalau massa, menangkap, memukul hingga menembak pelaku tindak pidana). Pada kondisi seperti ini polisi juga dihadapkan pada HAM, yang justru bisa menjadi batasan bahkan ?penghalang? saat melaksanakan tugasnya. Contoh lain saat seorang polisi menangkap perampok, hanya boleh melukai dengan senjatanya saja (tidak boleh langsung membunuh). Tindakan membunuh terhadap pelaku hanya boleh dilakukan ketika anggota polisi sedang berada kondisi bahaya, dan jika tidak mematuhinya maka dianggap melanggar HAM. Padahal dalam kondisi tersebut pelaku jika hanya dilukai bisa saja kabur, dan bahkan melukai hingga membunuh polisi itu sendiri. Disisi lain Polisi dihadapi pelaku tindak pidana, yang membawa senjata api lebih banyak dan canggih. Akibatnya keselamatan diri anggota tersebut akan terancam, dan pencegahan kejahatan menjadi tidak berjalan optimal. Bahkan sampai akhir tahun 2018 saja, sudah banyak anggota polisi yang tewas dan luka-luka oleh para pelaku tindak pidana. Dari data yang dikutip penulis di Indonesia Police Watch (IPW), disebutkan: Sepanjang tahun 2018 jumlah polisi tewas di seluruh Indonesia mencapai 41 orang dan luka 42 orang. Angka ini mengalami peningkatan dibanding tahun 2017 lalu dimana 27 polisi tewas dan 72 luka-luka, atau pada tahun 2016 yang menyebutkan sebanyak 29 polisi tewas dan 14 lainnya terluka. Polisi tewas akibat ditembak pelaku kriminal menduduki ranking tertinggi penyebab kematian polisi di 2018, dengan jumlah 14 polisi tewas dan 12 luka. Ranking kedua kecelakaan lalu lintas, dimana ada 10 polisi tewas dan 5 (lima) lainnya luka. Ketiga 5 (lima) polisi tewas dan 12 lainnya terluka akibat dikeroyok massa. Keempat sebanyak 3 (tiga) polisi tewas dan 6 (enam) anggota lainnya luka-luka, karena dibacok oleh orang tidak dikenal. Sedangkan penyebab lainnya membuat 9 (Sembilan) polisi tewas dan 7 (tujuh) lainnya luka. Dari data di atas dapat dijelaskan bahwa dalam menjalankan tugasnya untuk melindungi masyarakat, polisi seringkali menjadi korban baik terluka maupun meninggal dunia. Polisi bertugas melindungi HAM warga sipil, namun publik kerap abai bahwa polisi baik selaku manusia pribadi maupun individu profesi, juga mempunyai HAM yang harus dijamin pemenuhannya. Diasumsikan faktor mendasar di balik pengabaian HAM polisi itu adalah, anggapan polisi sebagai makhluk yang melampaui manusia. Kondisi tersebut tidak hanya membuat polisi jatuh sebagai korban, namun juga memposisikan mereka sebagai satu-satunya pihak yang selalu disalahkaan ketika terjadi pergesekan antara polisi dan masyarakat. Anggapan seperti itu pula yang boleh jadi membuat masyarakat dan media lebih peduli pada data tentang jumlah dan jenis pelanggaran yang dilakukan personel Polri. Kehirauan setara tidak diberikan pada jumlah dan penyebab cedera maupun tewasnya anggota Polri. Padahal tidak tertutup kemungkinan kemalangan yang diderita personel Polri tersebut, juga disebabkan oleh tindakan-tindakan yang dapat dikategorikan sebagai pelanggaran terhadap HAM mereka
Dispelling the Myths Behind First-author Citation Counts
We conducted a full-scale evaluative citation analysis study of scholars in the XML research field to explore just how different from each other author rankings resulting from different citation counting methods actually are, and to demonstrate the capability of emerging data and tools on the Web in supporting more realistic citation counting methods. Our results contest some common arguments for the continued
use of first-author citation counts in the evaluation of scholars, such as high correlations between author rankings by first-author citation counts and other citation
counting methods, and high costs of using more realistic citation counting methods that are not well-supported by the ISI databases. It is argued that increasingly available digital full text research papers make it possible for citation analysis studies to go beyond what the ISI databases have directly supported and to employ more
sophisticated methods
- …
