1,720,968 research outputs found
STUDI ITERASI PEMBOBOTAN KLASTER GEOGRAFIS PADA KASUS PROGRAM BERAS UNTUK MASYARAKAT MISKIN
Dalam tulisan ini metode audit sosial (communal-consensus likert-type scale) dilakukan dalam sebuah iterasi terkait dengan pembobotan terhadap bias klaster geografis pada evaluasi program beras untuk masyarakat miskin. Pada setiap pemangku kepentingan di klaster geografis mempunyai identitas masing-masing termasuk asal usul suku. Identitas mempunyai kecenderungan untuk bersikap kukuh terhadap dirinya. Dalam sebuah forum yang mengandalkan kesamaan cara pandang masalah sebagai sebuah mekanisme yang dipandu fasilitator, semakin besar pengaruh identitas pada pemangku kepentingan, makin besar pula kemungkinan munculnya sejumlah diskonsensus, baik yang terang-terangan atau tersembunyi. Dalam studi beras untuk masyarakat miskin masalah ini dievaluasi dan dicari sebab-sebabnya. Lalu dicari nilai koreksi agar setiap pembobotan dalam audit sosial mendapat bobot yang akurat dan dicari sebabnya
STUDI ITERASI PEMBOBOTAN KLASTER GEOGRAFIS PADA KASUS PROGRAM BERAS UNTUK MASYARAKAT MISKIN
Dalam tulisan ini metode audit sosial (communal-consensus likert-type scale) dilakukan dalam sebuah iterasi terkait dengan pembobotan terhadap bias klaster geografis pada evaluasi program beras untuk masyarakat miskin. Pada setiap pemangku kepentingan di klaster geografis mempunyai identitas masing-masing termasuk asal usul suku. Identitas mempunyai kecenderungan untuk bersikap kukuh terhadap dirinya. Dalam sebuah forum yang mengandalkan kesamaan cara pandang masalah sebagai sebuah mekanisme yang dipandu fasilitator, semakin besar pengaruh identitas pada pemangku kepentingan, makin besar pula kemungkinan munculnya sejumlah diskonsensus, baik yang terang-terangan atau tersembunyi. Dalam studi beras untuk masyarakat miskin masalah ini dievaluasi dan dicari sebab-sebabnya. Lalu dicari nilai koreksi agar setiap pembobotan dalam audit sosial mendapat bobot yang akurat dan dicari sebabnya
EVALUASI PROGRAM BANTUAN OPERASIONAL SEKOLAH (BOS) DENGAN MENGGUNAKAN AUDIT SOSIAL
Tulisan ini mengajukan audit sosial sebagai metodologi dalam menilai tingkat kesesuaian program dengan penerima manfaat. Audit sosial menggunakan teknik pembobotan yang diberikan skala dengan menggunakan konsensus di antara pemangku kepentingan untuk suatu program. Audit sosial berbeda dengan survei yang sangat individual, lebih mendorong pada pembobotan dengan menggunakan konsensus. Mengevaluasi program BOS dengan menggunakan audit sosial untuk memenuhi unsur-unsur utama yang meliputi: perumusan tujuan jangka panjang, analisis lingkungan, penyusunan rencana, pelaksanaan, dan monitoring. Perumusan tujuan jangka panjang: pada tahap ini program merumuskan gambaran program yang akan diwujudkan di masa depan atau mencerminkan ke mana program akan dibawa. Analisis lingkungan: analisis ini dilakukan agar program memperoleh informasi yang memadai tentang kondisi lingkungan eksternal dan sumber daya internalnya. Dengan analisis ini selanjutnya program dapat memanfaatkan peluang dan tantangan yang berasal dari luar serta kekuatan dan kelemahan internal untuk pencapaian tujuan program. Penyusunan rencana: untuk menetapkan strategi, program perlu menyusun prioritas dari sejumlah isu-isu strategik yang akan dituju dan kemudian menetapkan hasil (result) sebagai patokan kinerja program melalui regulasi dan pengawasan masyarakat. Hasil-hasil tersebut selanjutnya digunakan sebagai dasar penyusunan strategi atau rencana aksi. Pelaksanaan: strategi yang telah ditetapkan kemudian dilaksanakan. Dalam tahap ini, program harus didukung oleh sumber daya dan komitmen yang tinggi agar kapasitas program memadai untuk mewujudkan sasaran yang telah ditetapkan. Monitoring: melalui monitoring ini, program dapat mengevaluasi kinerja dan membuat penyesuaian berdasarkan pengalaman dan perubahan kondisi lingkungan bersama-sama masyarakat dengan ada mekanisme akses pengawasan masyarakat
EVALUASI PROGRAM BANTUAN OPERASIONAL SEKOLAH (BOS) DENGAN MENGGUNAKAN AUDIT SOSIAL
Tulisan ini mengajukan audit sosial sebagai metodologi dalam menilai tingkat kesesuaian program dengan penerima manfaat. Audit sosial menggunakan teknik pembobotan yang diberikan skala dengan menggunakan konsensus di antara pemangku kepentingan untuk suatu program. Audit sosial berbeda dengan survei yang sangat individual, lebih mendorong pada pembobotan dengan menggunakan konsensus. Mengevaluasi program BOS dengan menggunakan audit sosial untuk memenuhi unsur-unsur utama yang meliputi: perumusan tujuan jangka panjang, analisis lingkungan, penyusunan rencana, pelaksanaan, dan monitoring. Perumusan tujuan jangka panjang: pada tahap ini program merumuskan gambaran program yang akan diwujudkan di masa depan atau mencerminkan ke mana program akan dibawa. Analisis lingkungan: analisis ini dilakukan agar program memperoleh informasi yang memadai tentang kondisi lingkungan eksternal dan sumber daya internalnya. Dengan analisis ini selanjutnya program dapat memanfaatkan peluang dan tantangan yang berasal dari luar serta kekuatan dan kelemahan internal untuk pencapaian tujuan program. Penyusunan rencana: untuk menetapkan strategi, program perlu menyusun prioritas dari sejumlah isu-isu strategik yang akan dituju dan kemudian menetapkan hasil (result) sebagai patokan kinerja program melalui regulasi dan pengawasan masyarakat. Hasil-hasil tersebut selanjutnya digunakan sebagai dasar penyusunan strategi atau rencana aksi. Pelaksanaan: strategi yang telah ditetapkan kemudian dilaksanakan. Dalam tahap ini, program harus didukung oleh sumber daya dan komitmen yang tinggi agar kapasitas program memadai untuk mewujudkan sasaran yang telah ditetapkan. Monitoring: melalui monitoring ini, program dapat mengevaluasi kinerja dan membuat penyesuaian berdasarkan pengalaman dan perubahan kondisi lingkungan bersama-sama masyarakat dengan ada mekanisme akses pengawasan masyarakat
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis
We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
Optimizing Woven Curtain Fabric Defect Classification using Image Processing with Artificial Neural Network Method at PT Buana Intan Gemilang
The textile industry is one of the industries that provide high export value by occupying the third position in Indonesia. The process of inspection on traditional textile enterprises by relying on human vision that takes an average scanning time of 19.87 seconds. Each roll of cloth should be inspected twice to avoid missed defects. This inspection process causes the buildup at the inspection station. This study proposes the automation of inspection systems using the Artificial Neural Network (ANN). The input for ANN comes from GLCM extraction. The automation system on the defect inspection resulted in a detection time of 0.56 seconds. The degree of accuracy gained in classifying the three types of defects is 88.7%. Implementing an automated inspection system results in faster processing time
Dispelling the Myths Behind First-author Citation Counts
We conducted a full-scale evaluative citation analysis study of scholars in the XML research field to explore just how different from each other author rankings resulting from different citation counting methods actually are, and to demonstrate the capability of emerging data and tools on the Web in supporting more realistic citation counting methods. Our results contest some common arguments for the continued
use of first-author citation counts in the evaluation of scholars, such as high correlations between author rankings by first-author citation counts and other citation
counting methods, and high costs of using more realistic citation counting methods that are not well-supported by the ISI databases. It is argued that increasingly available digital full text research papers make it possible for citation analysis studies to go beyond what the ISI databases have directly supported and to employ more
sophisticated methods
- …
