2 research outputs found
ANALISIS AGRIBISNIS KOPI ROBUSTA DI KECAMATAN TUTUR KABUPATEN PASURUAN
Kecamatan Tutur merupakan penghasil utama komoditas kopi jenis robusta
dengan produksi tertinggi di Kabupaten Pasuruan. Tanaman kopi merupakan
komoditi perkebunan yang dapat diolah lebih lanjut guna meningkatkan nilai
tambah. Kopi di Kecamatan Tutur dipasarkan dalam bentuk buah yang telah
dibersihkan, buah yang telah di grading, kopi ose dan kopi bubuk. Penelitian ini
bertujuan untuk (1) mengetahui penyebab terjadinya produksi kopi yang
berfluktuatif (2) mengetahui pengolahan kopi dan mengenalisis nilai tambah kopi
(3) menganalisis pemasaran kopi robusta. Analisis yang digunakan analisis
deskriptif kualitatif dan analisis kuantitatif melalui analisis nilai tambah dan marjin
pemasaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa produksi yang berfluktuatif
terjadi karena faktor internal dan faktor eksternal. Pengolahan kopi yang
dilakukan oleh petani meliputi pembersihan, grading, kopi ose dan kopi bubuk.
Nilai tambah tertinggi terdapat pada kopi bubuk sebesar Rp. 18.725/Kg.
Pemasaran kopi robusta di Kecamatan Tutur terdiri dari 1 saluran pemasaran
kopi yang telah dibersihkan, 1 saluran pemasaran kopi yang telah dibersihkan
dan grading, 2 saluran pemasaran kopi ose, dan 2 saluran pemasaran kopi
bubuk. Setiap lembaga pemasaran menjalankan fungsi-fungsi pemasaran. Marjin
pemasaran terbesar terdapat pada kopi bubuk sebesar Rp. 40.058,35/Kg. Hal ini
disebabkan oleh biaya yang dikeluarkan untuk menjalankan fungsi pemasaran
dan besarnya keuntungan dari pedagang pengecer.
Kata Kunci : kopi robusta, produksi, pengolahan, nilai tambah, pemasara
PENGOLAHAN KOPI DAN ANALISIS NILAI TAMBAH KOPI ROBUSTA DI KECAMATAN TUTUR KABUPATEN PASURUAN
Tutur District is the main producer of robusta coffee commodity with the highest production in Pasuruan Regency. Coffee is a plantation commodity that can be further processed to increase value added. This study aims to determine the processing of coffee and analyze the value added of robusta coffee. This research was conducted in Tutur District, Pasuruan Regency. The analysis used is descriptive qualitative analysis and quantitative analysis through value added calculations using the Hayami methods. The results showed that coffee processing by coffee farmers in Tutur District began at levels a) cleaning b) cleaning and grading c) cleaning, grading into ose coffee d) cleaning, grading, and ose coffee into coffee powder. The average value added done by coffee farmers at the cleaning level is Rp. 311/Kg with a value added ratio of 5.1%, the average value added cleaning and grading Rp. 1.033/Kg with a value added ratio of 15.05%, the average value added of coffee ose Rp. 4,016/Kg with a value added ratio of 40.78% and an average value added of coffee powder of Rp. 18,725/Kg with a value added ratio of 52.50%. Thus, the greatest value added is found in the processing of coffee powder. This is because the more downstream a production, the higher the profits that can be. DOI : https://doi.org/10.33005/adv.v8i2.185
