1,740,762 research outputs found
The effects of maternal fasting during Ramadan on birth and adult outcomes
We use the Islamic holy month of Ramadan as a natural experiment for evaluating the short and long-term effects of fasting during pregnancy. Using Michigan natality data we show that in utero exposure to Ramadan among Arab births results in lower birthweight and reduced gestation length. Preconception exposure to Ramadan is also associated with fewer male births. Using Census data in Uganda we also find that Muslims who were born nine months after Ramadan are 22 percent (p =0.02) more likely to be disabled as adults. Effects are found for vision, hearing, and especially for mental (or learning) disabilities. This may reflect the persistent effect of disruptions to early fetal development. We find no evidence that negative selection in conceptions during Ramadan accounts for our results. Nevertheless, caution in interpreting these results is warranted until our findings are corroborated in other settings. ; Not for Citation.Prenatal care ; Ramadan ; Fasting (Islam)
Long-Term Health Effects on the Next Generation of Ramadan Fasting During Pregnancy
Each year, many pregnant women fast from dawn to sunset during the Islamic holy month of Ramadan. Medical theory suggests that this may have negative long-term health effects on their offspring. Building upon the work of Almond and Mazumder (2008), and using Indonesian crosssectional data, I show that people who were exposed to Ramadan fasting during their mother's pregnancy have a poorer general health and are sick more often than people who were not exposed. This effect is especially pronounced among older people, who, when exposed, also report health problems more often that are indicative of coronary heart problems and type 2 diabetes. The exposed are a bit smaller in body size and weigh less. Among Muslims born during, and in the months after, Ramadan, the share of males is lower, which is most likely to be caused by death before birth. I show that these effects are unlikely to be an artifact of common health shocks, correlated to the occurrence of Ramadan, or o f fasting mainly occurring among women who, irrespective of fasting or not, would have had unhealthier children anyway.health, Ramadan, pregnancy, nutrition, Indonesia
HIKMAH RAMADAN: Ramadan Berkah di Saat Wabah
KATA berkah aslinya dari bahasa Arab barakah
yang secara terminology berarti bertambah dan berkembang. Sedang dalam istilah syariat berarti bertambah keutamaan dan pahala. Pertambahan bisa dalam bentuk materi dan bisa dalam bentuk maknawiyah, yaitu ketika lebih berkembang dan bermanfaat dari yang lain. Dengan demikian, apapun baru bisa dikatakan berkah jika hal itu bertambah kebaikan. Jika sesuatu tidak ada nilai pertambahan kebaikan, maka hal itu berarti tidak barakah
, berkah bisa terjadi pada waktu, tempat, harta maupun perorangan.Ramadan sebagai bulan barakah
hampir semua orang mengetahuinya, bahkan merasakannya. Rasulullah SAW secara explisit
menyebutkan Ramadan sebagai bulan yang penuh perkah sebagaimana dalam hadits yang artinya : “Telah datang kepada kalian Ramadan, bulan yang diberkahi. Allah mewajibkan atas kalian berpuasa padanya. Pintu-pintu surga dibuka padanya. Pintu-pintu Jahim (neraka) ditutup. Setan-setan dibelenggu. Di dalamnya terdapat sebuah malam yang lebih baik dibandingkan 1.000 bulan. Siapa yang dihalangi dari kebaikannya, maka sungguh ia terhalangi.” (HR. Ahmad, shahih)
Ramadan kali ini sedikit berbeda dengan sebelumnya, karena umat islam sedang berada pada pandemi covid-19. Ramadan kali ini bisa menjadikan seseorang merasa tidak seindah Ramadan sebelumnya. Anggapan ini tidak sepenuhnya benar, bahkan bisa jadi justru sebaliknya, karena perasaan orang beribadah sangat tergantung pada suasana keimanan dan suasana hatinya. Bisa jadi justru Ramadan kali ini lebih berkah karena banyak tambahan kebaikan dari berbagai aspek antara lain:
Pertama dari aspek keimanan, Pandemi Covid-19 menyadarkan kita betapa lemahnya umat manusia di hadapan kemahabesaran Allah SWT. Virus Korona merupakan salah satu makhluk Allah yang sangat kecil berdiameter 400-500 mikrometer yang hanya bisa dilihat dengan menggunakan mikroskop berteknologi dan bercahaya tinggi, yakni mikroskop elekron. Namun demikian telah menggoncangkan dunia, semakin seseorang merasa lemah di hadapan Allah SWT akan menjadi energi kuatnya beribadah. Kesombonganlah yang biasanya menjadikan orang enggan tunduk kepadaNYA.
Kedua dari aspek kwalitas puasa, ibadah puasa yang baik diikuti dengan puasa seluruh anggota badan. Hal ini tidaklah mudah, karena puasa harus tetap menjalankan berbagai kegiatan sosial yang mengharuskan berinteraksi dengan semua lapisan masyarakat. Untuk puasa kali ini kita menjalankan physical distancing
yang menuntut kita banyak di rumah sehingga lebih mudah menjaga puasa kita dari kemaksiatan.
Ketiga aspek peribadatan, physical distancing
memberi peluang lebih besar menjalankan berbagai ibadah, baik ibadah ritual seperti menghatamkan Alquran maupun ibadah sosial dengan banyak sedekah, karena physical distancing
juga menghemat anggaran Ramadan yang biasanya digunakan untuk urusan konsumsi maupun hal lain yang merupakan tradisi seperti menyiapkan kue hari raya, termasuk mudik yang sering memakan biaya besar.
Bahkan terhalangnya beribadah di masjid, baik salat berjemaah maupun salat tarawih, telah memberikan peluang besar untuk menjadikan suasana keluarga lebih religius, karena sejatinya cita-cita keluarga Rumahku Surgaku hanya akan terealisir ketika seluruh anggota keluarga taat beribadah. Sekaligus umat Islam membuktikan semangat beribadah di rumah saat pandemi sama dengan semangat ibadah di masjid ketika dalam keadaan normal.
Ada berkah di saat Korona dikatakan sebagai wabah. Kita tetap harus bersyukur, apalagi di saat Idul Fitri, hanya diri kita yang bisa menjawab apakah kita pandai bersyukur atau tidak.
“Ingatlah tatkala ‘Rabb’ kalian menetapkan: jika kalian bersyukur niscaya akan Ku tambah (nikmatku) pada kalian, dan jika kalian mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat pedih”. QS. Ibrahim : 7
MUTIARA KEBERKAHAN RAMADAN
Ramadan adalah bulan yang penuh berkah bagi siapapun yang mengharapkan keberkahan dari Allah swt. Sungguh bulan Ramadan adalah anugerah terindah bagi orang yang beriman yang mengharapkan menjadi pribadi takwa, Ramadan adalah harapan orang yang penuh dosa agar terampuni oleh Allah swt yang maha kuasa, Ramadan adalah perisai bagi orang beriman dari segala macam godaan jaman yang melalaikan, Ramadan adalah kesempatan terbaik untuk menunjukkan karya hidup yang terbaik di hadapan Allah swt.
Ramadan adalah bulan kemuliaan dimana Allah swt mengangkat derajat manusia menjadi pribadi yang dirindukan alam semesta, Ramadan adalah kemuliaan karena di dalamnya
diturunkan permulaan Al Qur’an, pedoman bagi orang-orang
yang beriman. Kemuliaan bulan Ramadan menjadi sarana
manusia menempa diri dan keimanan agar meningkat dan
memperoleh kebaikan dan kebaikan selanjutnya.
Ramadan memang bulan yang menjadi primadona bagi
orang beriman, karenanya tak heran manusia berlomba melakukan yang terbaik agar tak merugi di bulan Ramadan yang
ia lewati.
Orang rela berkorban demi kesuksesan di bulan Ramadan, rela mempertaruhkan pekerjaan untuk memperjuangkan keharmonisan bulan Ramadan. Begitulah Ramadan rahmat dari Allah swt bagi orang-orang yang beriman, Ramadan benar-benar menjadi berkah bagi umat Islam.
Begitulah kiranya yang dirasakan oleh sebagian dosen di
Universitas Muhammadiyah Ponorogo, bulan Ramadan kali ini menjadi berkah dengan diberikanya kemudahan dan ketercapaian dalam cita-cita menorehkan angan dan gagasan dalam tulisan. Sangat dirasakan bahwa keberkahan Ramadan tidak bisa lepas dari tulisan-tulisan yang menginspirasi dalam buku ini. Kemudahan dan kelancaran hingga buku ini diterbitkan adalah bagian dari keberkahan bulan Ramadan yang Allah swt tampakkan pada kami dan semua
Effects of Ramadan intermittent fasting on hormones regulating appetite in healthy individuals: A systematic review and meta-analysis
Background and aims: This systematic review and meta-analysis aimed to examine the effect of Ramadan intermittent fasting on appetite-regulating hormones including leptin, ghrelin, insulin, gastrin, glucagon-like peptide-1, peptide YY, and cholecystokinin. Methods: We searched the MEDLINE, Embase, Cochrane Library, CINAHL, Google Scholar, and Web of Science databases to identify relevant research on appetite-regulating hormones during Ramadan intermittent fasting, published until the end of March 2024. Results: Data from 16 eligible studies comprising 664 participants (341, 51.4 % male) with a mean ± standard deviation age of 33.9 ± 10.8 years were included. The meta-analysis included 12 studies with complete leptin data, showing no significant effect of Ramadan intermittent fasting on leptin concentrations (standardised mean difference – SMD = −0.11 μg/mL, 95 % CI: −0.36 to 0.14). Analysis of three studies with complete ghrelin data demonstrated a significant increase in ghrelin concentrations following Ramadan intermittent fasting (SMD = 0.31 pg/mL, 95 % CI: 0.03 to 0.60). Six studies examining insulin concentrations pre- and post-fasting revealed no significant effect on insulin concentrations (SMD = −0.24 μU/mL, 95 % CI: −0.54 to 0.02). Similarly, analysis of three studies with complete gastrin data showed no significant effect of intermittent fasting on gastrin concentrations (SMD = 0.23 pg/mL, 95 % CI: −0.71 to 0.99). Conclusion: Ramadan intermittent fasting significantly increases ghrelin concentrations while showing no significant effects on leptin, insulin, and gastrin. While ghrelin findings were consistent across studies, the high heterogeneity in leptin studies suggests further research to better understand the effects of Ramadan intermittent fasting on appetite-regulating hormones
Health Capital and the Prenatal Environment: The Effect of Maternal Fasting During Pregnancy
We use the Islamic holy month of Ramadan as a natural experiment in fasting and fetal health. In Michigan births 1989-2006, we find prenatal exposure to Ramadan among Arab mothers results in lower birthweight and reduced gestation length. Exposure to Ramadan in the first month of gestation is also associated with a sizable reduction in the number of male births. In Census data for Uganda, Iraq, and the US we find strong associations between in utero exposure to Ramadan and the likelihood of being disabled as an adult. Effects are particularly large for mental (or learning) disabilities. We also find significant effects on proxies for wealth, earnings, the sex composition of the adult population, and more suggestive evidence of effects on schooling. We find no evidence that negative selection in conceptions during Ramadan accounts for our findings, suggesting that avoiding Ramadan exposure during pregnancy is costly or the long-term effects of fasting unknown.
Gencatan senjata politik sempena Ramadan
Ramadan semakin hampir, namun gelora polemik politik seakan tidak kunjung reda gelojaknya. Gelora politik perkara biasa, tetapi tikam cucuk ejek sindir berlebihan boleh membangkitkan ribut politik dan membocorkan sampan rohani dalam Ramadan.
Ramadan semakin hampir, namun gelora polemik politik seakan tidak kunjung reda gelojaknya. Gelora politik perkara biasa, tetapi tikam cucuk ejek sindir berlebihan boleh membangkitkan ribut politik dan membocorkan sampan rohani dalam Ramadan
Le jeûne du mois de Ramadan
Ramadan Tariq. Le jeûne du mois de Ramadan. In: Autres Temps. Cahiers d'éthique sociale et politique. N°62, 1999. pp. 19-20
Sacred calendars : Ramadan
Mr Shujahat Aslam, an imam, discusses the Muslim holy month of Ramadan with Dr Jon Hoover, an expert in Islamic Studies; it describes what happens during the time, and what it means to those who celebrate it
The Effect of Religiosity and Religious Festivals on Positional Concerns: An Experimental Investigation of Ramadan
This paper examines the effect of religion on positional concerns using survey experiments. We focus on two of the dimensions of religion – degree of religiosity and religious festivals. By conducting the experiments during both the most important day of Ramadan (the Night of Power) and a day outside Ramadan, we find that Ramadan overall has a small and negative impact on positional concerns. Detailed analyses based on the sorting of individuals' degree of religiosity reveal that the decrease in the degree of positional concerns during Ramadan is mainly explained by a decrease in positionality among individuals with a low degree of religiosity. We also discuss the broader welfare implications of our findings.religion, positional concerns, Ramadan, Islam
- …
