42 research outputs found
ULIKAN SOSIOLOGI SASTRA DINA NOVEL-NOVEL SUNDA KARYA TATANG SUMARSONO
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh perlunya usaha penelitian karya-karya sastra Sunda,
terutama karya dari para sastrawan Sunda yang mumpuni, baik secara kualitas maupun
kuantitas. Selain untuk menggali nilai-nilai sastra, juga mengetahui riwayat hidup dan
kepengarangannya yang mempengaruhi karyanya, di antaranya adalah novel-novel
Sunda karya Tatang Sumarsono. Peneltian ini bertujuan menemukan dan
mendeskripsikan aspek-aspek, adalah untuk mendeskripsikan (1) aspek sosiologi
pengarang novel Demung Janggala, Kolébat Kuwung-kuwungan Kinasih Katumbirian,
Galuring Gending, Kakarén Révolusi, dan Mandédurma; (2) aspek sosiologi karya sastra
novel Demung Janggala, Kolébat Kuwung-kuwungan Kinasih Katumbirian, Galuring
Gending, Kakarén Révolusi, dan Mandédurma; dan (3) aspek sosiologi sastra novel
Demung Janggala, Kolébat Kuwung-kuwungan Kinasih Katumbirian, Galuring Gending,
Kakarén Révolusi, dan Mandédurma. Metode yang digunakan dalam penelitian ini
adalah metode deskriptif yang bertujuan untuk mencari dan mendeskripsikan data-data
dengan mengaitkan antara sosiologi sastra dengan teks sastra secara teliti. Teknik yang
digunakan adalah teknik studi pustaka dan teknik hermeneutika. Untuk analisis data
digunakan studi dokumentasi (documentary study) dan wawancara (interview). Hasil
penelitian ini menmukan bahwa dalam aspek sosiologi pengarang yang mempengaruhi
karyanya adalah status sosial, ideologi politik, profesi, dan hobi. Dalam aspek sosiologi
karya sastra yang mempengaruhi adalah kritik sosial kepada masyarakat yang tidak
menghargai nilai tradisi, melanggar aturan, merusak alam, mengabaikan nilai
keagamaan (religiusitas), dan pemimpin yang melanggar aturan. Dalam aspek sosiologi
sastra, apresiasi masyarakat sastra terhadap lima novel Sunda tersebut sangat baik serta
memberi pengaruh sosial kepada masyarakat. Melalui penelitian ini maka anggapan
bahwa sastra merupakan cerminan dari kehidupan sosial masarakat, terbukti benar
adanya.
Kata kunci: novel Sunda, Tatang Sumarsono, sosiologi sastra
A STUDY IN THE SOCIOLOGY OF LITERATURE
IN SUNDANESE NOVELS BY TATANG SUMARSONO
Ari Andriansyah, 2021
ULIKAN SOSIOLOGI SASTRA
DINA NOVEL-NOVEL SUNDA KARYA TATANG SUMARSONO
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
ARI ANDRIANSYAH
ABSTRACT
6
This study was motivated by the need to study Sundanese literary works, especially the
work of qualified Sundanese writers, both in quality and quantity. In addition to
exploring literary values, also know the life history and authorship that influenced his
work, among them were Sundanese novels by Tatang Sumarsono. The purpose of this
study were to describe (1) the sociological aspects of the author in Demung Janggala,
Kolébat Kuwung-kuwungan Kinasih Katumbirian, Galuring Gending, Kakarén Révolusi,
and Mandédurma novels; (2) the sociological aspects of the literary works in Demung
Janggala, Kolébat Kuwung-kuwungan Kinasih Katumbirian, Galuring Gending, Kakarén
Révolusi, and Mandédurma novels; and (3) the sociological aspects of literature in
Demung Janggala, Kolébat Kuwung-kuwungan Kinasih Katumbirian, Galuring Gending,
Kakarén Révolusi, and Mandédurma novels. The method used in this study was a
descriptive method which aimed to find and describe the data by associating between the
sociology of literature and literary texts carefully. While the techniques used were
literature review, hermeneutics, data analysis, documentary, and interview techniques.
The results of this study showed that in the sociological aspects of the author that
influenced his works were social status, political ideology, profession, and hobbies. In the
sociological aspects of literary works that influenced his works were social critiques for
people which often violated the rules, undermined nature, ignored religious values
(religiosity), and leaders who broke the rules. While in the sociological aspects of
literature, the appreciation of the literary community towards the five Sundanese novels
was very good and it gave social influences for people. Through this study, the
assumption that literature was a reflection of the social life, proved true.
Keywords: Sundanese novel, Tatang Sumarsono, sociology of literatur
Penyimpangan Prinsip Kerja Sama dalam Naskah Drama Bunga Rumah Makan Karya Utuy Tatang Sontani
AbstractIn drama scripts, of course there are dialog interactions, these dialogues often bring up various interpretations. In this study, the author will discuss violations and the principles of cooperation contained in the drama “Bunga Rumah Makanâ€. Inspected with a pragmatic approach and implications for Indonesian language and literature learning materials. The purpose of writing this article is to find out and obtain a description of the implications of the discourse in the play. The type of this research is qualitative. The method used is descriptive analysis method. As a result, the drama script of “Bunga Rumah Makan†by Utuy Tatang Sontani violated the principles of cooperation, namely the quantity maxim, quality maxim, relevance maxim, and implementation maxim. Deviations found in the drama “Bunga Rumah Makan†text which arise due to violations of the principle of cooperation consist of different kinds of implicature. The implicature is an implicature that is clear, hateful, seductive, and refusing. This proves that conversations that do not carry out the principle of cooperation will produce implicature in a conversation.Keywords: Drama, the principle of cooperation, maxi
NNARX model structure for the purposes of controller design and optimization of heat exchanger process control training system operation
SANG KURIANG UTUY T. SONTANI DAN MITOSNYA DALAM PERSPEKTIF SASTRA BANDINGAN
AbstrakSang Kuriang karya Utuy Tatang Sontani dipandang sebagai drama fenomenal dalam sejarah sastra drama Sunda. Drama yang ditransformasi dari legenda Sangkuriang itu dikritisi sebagai drama yang paling inovatif jika dibandingkan dengan Sangkuriang pengarang lain. Artikel ini bertujuan menggali dan menelusuri makna drama Sang Kuriang karya Utuy Tatang Sontani dalam perspektif sastra bandingan. Topik utama dalam artikel ini berkaitan dengan pemikiran Sang Kuriang dengan mengangkat beberapa masalah (1) bagaimana pemikiran Sang Kuriang dalam menghadapi ketidakadilan? (2) bagaimana makna drama Sang Kuriang jika dibandingkan dengan mitosnya? Metode penelitian menerapkan teknik penelitian perbandingan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Utuy dalam drama Sang Kuriang telah berhasil “menghidupkan” kembali tokoh lama, Sang Kuriang yang telah menjiwainya dengan pikiran dan paham baru. Sang Kuriang karya Utuy tampil dengan versi dan makna baru yang berbeda dengan mitosnya. Sang Kuriang, drama dalam bentuk libretto karya Utuy Tatang Sontani dalam khazanah sastra drama Sunda ditempatkan sebagai drama Sunda pascakemerdekaan. Abstract The Kuriang works Utuy Tatang Sontani regarded as phenomenal drama in the history of Sundanese literature. The Drama which transformed from the Sangkuriang legend, was criticized as the most innovative drama than other Sangkuriang author. This article aims to explore and discover the meaning of the Kuriang drama works Utuy Tatang Sontani in the perspective of comparative literatur. The main topic in this article related to the Kuriang's thought to raise the issue of (1) how the Kuriang thinking in the face of injustice? (2) how to play the Kuriang significance when compared to the myth? This research used the techniques of comparative research. The results showed that the Kuriang Utuy drama has managed to "revive" the old figure back, the Kuriang that has been animating with new thoughts and understanding. The Kuriang Utuy works performed with the new versions and different meanings to the myth. Utuy Tatang Sontani's works, The Kuriang drama in the form of the libretto was the literary treasures of drama Sundanese post-independence .</jats:p
The effect of concentrations and volumes of methanol in reducing free fatty acid content of used cooking oil as biodiesel feedstock
Formulasi Sabun Cair Berbahan Aktif Minyak Kemangi Sebagai Antibakteri Dan Pengujian Terhadap Staphylococcus Aureus
Penyakit kulit saat ini masih menjadi salah satu masalah bagi masyarakat Indonesia. Salah satu penyakit kulit yang meresahkan yaitu penyakit bisul. Penyakit ini disebabkan karena infeksi dari bakteri gram positif Staphylococcus Aureus. Bakteri Staphylococcus aureus merupakan bakteri patogen yang paling banyak menyerang manusia yang hidup sebagai saprofit dalam membran pencernaan dan kulit manusia. Salah satu antibakteri yang saat ini telah banyak diteliti yaitu sifat antibakteri dari minyak atsiri daun kemangi. Minyak atsiri daun kemangi memiliki daya aktivitas antibakteri yang cukup tinggi. Penelitian ini menunjukkan bahwa kandungan minyak kemangi dalam sabun mandi cair dapat menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus Aureus. Penambahan minyak kemangi sebesar 0,25 mL kedalam sabun mandi cair 10 mL menunjukkan aktivitas yang baik yaitu dengan rata-rata diameter hambat 7,8 mm. Aktivitas tertinggi ditunjukkan oleh minyak kemangi 0,75 mL dalam sabun mandi cair 10 mL, yaitu dengan rata-rata diameter hambat 9,8 mm. Namun, formulasi sabun cair yang paling diminati oleh responden adalah sabun minyak kemangi 5%, yaitu 0,5 mL minyak kemangi ditambahkan kedalam 10 mL sabun cair dengan diameter hambat 8,3 mm
STRUKTUR JEUNG SEMIOTIKA DINA NOVEL TEMBANG KAMELANG KARYA TATANG SETIADI JEUNG IMPLIKASINA DINA PANGAJARAN MACA NOVEL DI SMA
Novel Tembang Kamelang miboga struktur jeung semiotika nu kudu dipaluruh jeung dipikawanoh ku nu maca sabab can kadéskripsikeun saacanna. Di sagédéngeun éta, minat nonoman kana basa Sunda téh kawilang saeutik sakumaha nu di tétélakeun ku Ade Mulyana (2013) ngan aya 40% nonoman Jawa Barat nu mikanyaho jeung maké basa Sunda, éta hal diindikasikeun balukar tina kurang éféktifna bahan pangajaran basa jeung sastra Sunda di sakola. Sacara umum, tujuan ieu panalungtikan nyaéta pikeun ngadéskripsikeun struktur carita jeung semiotika dina novel Tembang Kamelang karya Tatang Setiadi, nu satuluyna dilarapkeun pikeun alternatif bahan pangajaran maca novel di SMA. Métode nu digunakeun dina ieu panalungtikan nyaéta métode déskriptif analitik kalayan téhnik dokuméntasi jeung analisis data maké kartu data. Dumasar kana hasil panalungtikan, bisa dicindekkeun yén struktur dina ieu novel ngawengku: 1) téma dina ieu novel nyaéta lalakon budayawan Sunda nu ngamumulé budayana, 2) galur nu digunakeun ku pangarang nyaéta galur mérélé (maju), 3) latar dina ieu novel nyaéta latar tempat, latar waktu, latar suasana, jeung latar sosial, 4) dina ieu novel aya hiji tokoh utama, tilu tokoh tambahan sarta 17 tokoh figuran, 5) gaya basa nu mindeng dipaké nyaéta gaya basa rarahulan jeung paribasa piluangeun. Semiotika dina ieu novel ngawengku 13 ikon, 46 indéks, jeung 37 simbol. Ieu novel Tembang Kamelang miboga struktur nu lengkep tur unsur atikan nu alus pikeun numuwuhkeun karakter, motivasi, jeung ngaronjatkeun daya nalar siswa. Ku kituna ieu novel bisa dijadikeun alternatif bahan pangajaran maca novel di SMA.
Kecap galeuh: bahan pangajaran maca novel, novel, semiotika, struktur
Novel Tembang Kamelang mempunyai struktur dan semiotika yang perlu dikaji dan diketahui oleh pembaca karena belum terdeskripsikan sebelumnya. Di samping itu, kurangnya minat pemuda pada bahasa Sunda terbilang sedikit sebagaimana yang disebutkan oleh Ade Mulyana (2013), hanya 40% pemuda Jawa Barat yang mengetahui dan menggunakan bahasa Sunda, hal ini bisa diindikasikan karena kurang efektifnya bahan pembelajaran bahasa dan sastra Sunda di sekolah Secara umum, tujuan penelitian ini adalah untuk mendéskripsikan struktur cerita dan semiotika dalam novel Tembang Kamelang karya Tatang Setiadi, yang kemudian diterapkan sebagai alternatif bahan pembelajaran membaca novel di SMA. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode deskriptif analitik, dengan menggunakan tehnik dikumentasi dan analisis data menggunakan kartu data. Berdasarkan hasil penelitian, bisa disimpulkan bahwa struktur dalam novel ini meliputi: 1) tema dalam novel ini adalah perjalanan hidup budayawan Sunda yang melestarikan budayanya, 2) alur yang dipakai oleh pengarang yaitu alur mérélé (maju), 3) latar yang ada dalam novel ini yaitu latar tempat, latar waktu, latar suasana, dan latar sosial, 4) dalam novel ini ada satu tokoh utama, tiga tokoh tambahan, dan 17 tokoh figuran, 5) gaya bahasa yang sering muncul yaitu gaya bahasa rarahulan (hiperbola) dan paribasa piluangeun. Semiotika dalam novel ini meliputi 13 ikon, 46 indeks, dan 37 simbol. Novel Tembang Kamelang memiliki struktur yang lengkap dan unsur pendidikan yang baik untuk menumbuhkan karakter, motivasi, dan meningkatkan daya nalar siswa. Oleh karena itu, novel ini bisa dijadikan alternatif bahan ajar membaca novel di SMA.
Kata Kunci: bahan pembelajaran membaca novel, novel, semiotika, struktur
The novel Tembang Kamelang has a structure and semiotics that need to be studied and known by the reader because it has not been previously described. In addition, the lack of youth interest in Sundanese is relatively small as mentioned by Ade Mulyana (2013), only 40% of West Java youth know and use Sundanese, this can be indicated because of the ineffectiveness of Sundanese language and literature learning materials in schools. In general, the purpose of this study is to describe the story structure and semiotics in the novel Tembang Kamelang by Tatang Setiadi, which is then applied as an alternative material for learning to read novels in high school. The method used in this research is descriptive analytic method, using the technique of documentation and data analysis using data cards. Based on the results of the study, it can be concluded that the structure in this novel includes: 1) the theme in this novel is the life journey of Sundanese culturalists who preserve their culture, 2) the plot used by the author is the mérélé (forward) plot, 3) the setting in this novel. namely setting of place, setting of time, setting of atmosphere, and social setting, 4) in this novel there is one main character, three additional characters, and 17 extra characters, 5) language styles that often appear are rarahulan (hyperbole) and paribasa piluangeun language styles. . Semiotics in this novel includes 13 icons, 46 indexes, and 37 symbols. The novel Tembang Kamelang has a complete structure and good educational elements to foster character, motivation, and improve students' reasoning power. Therefore, this novel can be used as an alternative teaching material for reading novels in high school.
Keywords: novel, novel reading learning materials, structure, semiotic
Pengaruh Kombinasi Pupuk NPK Majemuk dan Fermentasi Air Cucian Beras Terhadap Pertumbuhan Tanaman Selada Keriting (Lactuca sativa L.) Varietas Grand Rapids
The experiment was carried out in an experimental garden located in Gg. Lebaksari, Wadas, Telukjambe Timur District, Karawang, West Java from March to June 2021. The research method used was an experimental method with a single factor Randomized Block Design (RBD) with 7 treatment combinations and repeated 4 times, the treatments consisted of: A( Without Treatment), B (300 kg/ha NPK), C (200 ml/litre rice washing water), D (250 kg/ha NPK + 100 ml/lt rice washing water), E (250 kg/ha NPK + 50 ml/lt rice washing water), F (200 kg/ha NPK + 100 ml/lt rice washing water), G (200 kg/ha NPK + 50 ml/lt rice washing water). The results of this study showed that the combination of compound NPK fertilizer and fermented rice washing water had a significant effect on plant heights at 14 and 28 days and on the number of leaves 7 and 28 days after planting. Treatment D was a combination of NPK 250 kg/ha + fermented rice washing water 100 ml/lt gave the best results for plant height 14 hst and treatment G was a combination of NPK 200 kg/ha + fermented rice washing water 50 ml/lt gave the best results for the amount of leaves 7 hst
The education system in Indonesia at a time of significant changes
Indonesia’s national education system developed from the struggle for independence and the renaissance of the nation. During its development, many influences, local or global, contributed to the changing nature of the curriculum, pedagogy, assessment, and teacher professionalism. The author argues that education reform should entail a dialog involving the government, educators, and society to attain the goal of constructing an independent society of democracy and social justice
