55 research outputs found
Pengembangan Perangkat Pembelajaran Model Problem Based Learning untuk Meningkatkan Hasil Belajar pada Subtema Lingkungan Tempat Tinggalku Kelas IV Sekolah Dasar
Tujuan pengembangan perangkat pembelajaran ini dengan menggunakan model Problem Based Learningadalah memeroleh suatu produk yang layak, praktis, dan efektif. Prosedur pengembangan model 4-D (Four-D Model) milik Thiagarajan, Semmel & Semmel (1974) mengadopsi dari Ibrahim (2008).Prosedur pengembangannya terdiri dari 3 tahap yaitu tahap Pendefinisian (Define), Perancangan (Design), Pengembangan (Develop). Pembelajaran yang dikembangkan meliputi Rencana Pelaksanaan Pembelajaran , Lembar Kerja Siswa, Bahan Ajar Siswa dan tes hasil belajar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perangkat valid, dengan validasi RPP sebesar 80,6%, LKS sebesar 78,4%, BAS sebesar 80% dan THB sebesar 79% sehingga kevalidan seluruh perangkat pembelajaran memperoleh persentase sebesar 79,5%, dengan kriteria baik. Pada Tes Hasil Belajar siswa kelas kontrol mencapai ketuntasan 76%, sedangkan kelas eksperimen mencapai 90%
The aphrodisiac effect and toxicity of combination Piper retrofractum L, Centella asiatica, and Curcuma domestica infusion
Abstrak Latar belakang: Cabe jawa (Piper retrofractum L) merupakan salah satu tanaman yang diketahui memiliki efek stimulan pada tubuh. Dari penelitian pendahuluan diketahui bahwa dalam bentuk infusa, LD50 nya rendah dan termasuk bahan yang tidak toksik. Infusa pada tikus putih dengan dosis 2,1 mg/10 gram berat badan mempunyai efek androgenik dan anabolik. Alkaloid utama dalam buah cabe jawa yang diduga merupakan senyawa aktif berkhasiat afrodisiaka adalah piperin. Pegagan (Centella asiatica) dan temulawak (Curcuma domestica) berfungsi sebagai bahan tambahan pendukung. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui toksisitas dan efek afrodisiaka infus ramuan buah cabe jawa, pegagan, dan temulawak pada tikus jantan. Metode: Parameter efek afrodisiaka dilihat dari frekuensi introduction, climbing, dan coitus tikus jantan dibandingkan kontrol serta kadar hormon testosteron sebelum dan sesudah perlakuan. Toksisitas subkronik ditentukan dari kadar SGOT, SGPT, ureum, dan kreatinin sebelum dan sesudah pemberian infusa ramuan selama 3 bulan.Hasil: Terdapat perbedaan yang signifi kan parameter frekuensi climbing dan coitus antara kelompok kontrol dan kelompok yang diberi infusa ramuan (P=0,032). Sementara pemberian infusa ramuan Piper retrofractum L., Centella asiatica, dan Curcuma domestica tidak menyebabkan perbedaan yang signifi kan kadar hormon testosteron tikus jantan sebelum dan sesudah perlakuan. Pemberian infusa ramuan dosis tinggi (5000 mg/200g BB) menyebabkan perubahan yang signifi kan kadar SGOT, SGPT dan ureum tikus kelompok perlakuan.Kesimpulan: Infusa ramuan cabe jawa, pegagan, dan temulawak memiliki efek afrodisiaka pada libido tikus jantan galur SD dan pemberian ramuan dosis 5000mg/200g BB tikus setiap hari selama 3 bulan berturut-turut menyebabkan peningkatan yang signifi kan kadar SGOT, SGPT, dan ureum tikus. (Health Science Indones 2012;1:19-22) Kata kunci: afrodisiaka, toksisitas, Piper retrofractum LAbstractIntroduction: Piper retrofractum L is a plant that acts as a stimulant on the body. A preliminary study showed that administration of infusion of 2.1 mg/10 g body weight had androgenic and anabolic effects in white mice. Piperine is the main alkaloid suspected to have an aphrodisiac effect. Centella asiatica and Curcuma domestica are the excipients. The objective of this research was to determine the toxicity and the aphrodisiac effect of a combination infusion of Piper retrofractum L, Centella asiatica and Curcuma domestica on Sprague-Dawley strain male rats.Methods: Parameters for aphrodisiac effect were the frequency of introduction, climbing, and coitus of male rats. The concentration of pre and post-treatment of male rat testosterone hormone was determined using rat testosterone ELISA kit. Sub-chronic toxicity was determined from SGOT, SGPT, urea, and kreatinin concentrations of pre and post treatment of rats orally administered the combination infusion everyday for 3 months.Results: There were signifi cant differences in coitus and climbing frequencies between the male rat group administered combination infusion of Piper retrofractum L., Centella asiatica, and Curcuma domestica and the group not given the infusion (P=0.032). There was no signifi cant difference between testosterone levels of the group administered the infusion and kontrol (P=0.248). Administering high dose (5000 mg/200 g BW) of infusion caused a signifi cant difference in levels of SGOT and SGPT between pre and post-treatment.Conclusion: The infusion of 1000 mg/200 g body weight had safe aphrodisiac effect on male Sprague-Dawley rats libido. (Health Science Indones 2012;1:19-22) </p
AN ANALYSIS OF READING ACTIVITIES IN ENGLISH TEXTBOOK “BAHASA INGGRIS TINGKAT LANJUT” FOR SENIOR HIGH SCHOOL GRADE XI BASED ON COMMUNICATIVE LANGUAGE TEACHING
Use of artificial bee colonies algorithm as numerical approximation of differential equations solution
STUDI ETNOFARMAKOLOGI TUMBUHAN OBAT YANG DIGUNAKAN OLEH PENYEHAT TRADISIONAL UNTUK MENGATASI DIARE DI SULAWESI SELATAN
ABSTRACT
Medicinal plants for health effort and diseases treatment has been used by ethnic groups in South Sulawesi for years. One of them is for diarrhea treatment. South Sulawesi is one of the top five provinces with the highest incidence and period prevalence of diarrhea in Indonesia. The purpose of this study was to investigate the species of medicinal plants used by traditional healer in South Sulawesi for anti-diarrhea and their scientific evidence. The data was obtained from the exploration of local ethnomedicin knowledge and medicinal plant based on community in Indonesia in 2012-2015 and 2017. The data was analyzed to find out the fidelity level, used value (UV), choice value (CV), and factor of informant’s consensus (FIc). The result reported information about thirty medicinal plants used for diarrhea treatment, including the plants name, part used, and preparation method that obtained from 48 traditional healer of 19 ethnic groups in South Sulawesi. The fidelity level were 41,67% for Psidium guajava, 8,33% for Mangifera sp, 6,25% for Curcuma domestica and C. Zedoaria, 4,17% for Allium cepa, Anacardium officinale, Syzigium cumini, and C.xanthorrhiza. The highest UV and CV were 0,42 and 13,84 for Psidium guajava. The informant’s consensus of medicinal plant for diarrhea treatment was 0,38. The commonly used parts was the leaves and most of the used methods were administered orally. The conclusions of this study were ethnic groups in South Sulawesi has various formula of medicinal plants for diarrhea treatment, but P.guajava was the most commonly used. Those formulas information for diarrhea treatment would be an alternative to overcome diarrhea problems in South Sulawesi.
Key words: medicinal plant, traditional healer, diarrhea,
ABSTRAK
Pengetahuan lokal dalam pemanfaatan tumbuhan obat untuk mencegah dan mengatasi penyakit telah dimiliki secara turun temurun oleh etnis-etnis di Sulawesi Selatan. Salah satunya adalah untuk mengatasi diare. Sulawesi Selatan termasuk dalam lima provinsi dengan insiden maupun period prevalence diare tertinggi di Indonesia. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengungkap jenis-jenis tumbuhan obat yang digunakan hatttra di Sulawesi Selatan dalam ramuan anti diare dan bukti ilmiah penggunaan tanaman obat tersebut untuk mengatasi diare. Studi ini menggunakan data sekunder yang diperoleh dari Eksplorasi pengetahuan lokal etnomedisin dan tumbuhan obat berbasis komunitas di Indonesia pada tahun 2012,2015 dan 2017. Analisis data dilakukan untuk mengetahui Fidelity level, Used value, Choice value, Factor of informant’s consensus dan studi referensi ilmiahnya. Hasil studi menunjukkan informasi tentang tiga puluh tanaman obat untuk mengatasi diare yang diperoleh dari 48 penyehat tradisional yang berasal dari 19 etnis di Sulawesi Selatan. Informasi tersebut termasuk nama tanaman, bagian yang digunakan, dan metode persiapan. Fidelity level yang tertinggi adalah 41,67% untuk Psidium guajava, disusul 8,33% untuk Mangifera sp, 6,25% untuk Curcuma domestica dan C. Zedoaria, 4,17% untuk Allium cepa, Anacardium officinale, Syzigium cumini, dan C. xanthorrhiza. Nilai UV dan CV tertinggi adalah 0,42 dan 13,84 untuk P. guajava. Konsensus informan tentang tanaman obat untuk pengobatan diare adalah 0,38. Bagian yang umum digunakan adalah daun dan sebagian besar cara pemakaian dengan diminum. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa kelompok etnis di Sulawesi Selatan memiliki berbagai formula tanaman obat untuk mengatasi diare, tetapi P.guajava adalah yang paling banyak digunakan. Informasi formula untuk mengatasi diare diharapkan dapat menjadi alternatif untuk masalah diare di Sulawesi Selatan.
Kata kunci: tumbuhan obat, penyehat tradisional, diare
 
Design of vaccination and fumigation on Host-Vector Model by input-output linearization method
- …
