1,720,977 research outputs found

    PEMIKIRAN IBNU AL-QAYYIM TENTANG PENDIDIKAN KRISTOLOGI (Studi Terhadap Kitab Hidāyah al-Hayārā fī Ajwibah al-Yahūd wa al-Nashārā)

    No full text
    Perbedaan konsepsi di antara agama-agama yang ada adalah sebuah realitas, satu kenyataan yang tidak dapat dipungkiri oleh siapapun. Perbedaan –bahkan benturan konsepsi– itu terjadi pada hampir semua aspek dalam agama, baik bidang konsepsi tentang Tuhan maupun konsepsi sistem pengaturan kehidupan. Sejak munculnya manusia di muka bumi, mulailah perbedaan itu muncul. Manusia dikarunia akal dengan kadar kemampuan dan jenis serta jumlah informasi yang berbeda, sehingga berkemungkinan memahami sesuatu dengan berbeda pula. Itu hal yang alami dalam kehidupan manusia. Sumber-sumber informasi yang dialami setiap manusia juga berbeda. Belum lagi sikap apriori atau fanatisme –karena berbagai faktor– yang menyebabkan munculnya perbedaan pandangan dan sikap. Perbedaan pendapat dan konsepsi keagamaan tidaklah otomatis memunculkan konflik pada level praktis. Sepanjang sejarah, kehidupan damai dan harmonis lebih banyak dijalani umat beragama, dibandingkan periode-periode konflik. Setidaknya, demikianlah titik tolak dan landasan bagi sebuah telaah (perbandingan) atau bahkan dialog sekalipun

    PEMIKIRAN PENDIDIKAN MUHAMMAD QUTHB TENTANG METODE KETELADANAN (AL-TARBIYAH BI AL-QUDWAH)

    No full text
    Metode pendidikan dengan keteladanan (al-tarbiyah bi al-qudwah) dikategorikan sebagai salah satu metode yang urgen dan dibutuhkan serta sangat berpengaruh dalam proses pendidikan, baik dalam pendidikan Islam secara spesifik maupun dalam sistem pendidikan lainnya secara general. Muhammad Quthb termasuk salah seorang pemikir Islam (mufakkir Islâmî) yang menekankan urgensitas dan efektifitas metode keteladanan dalam pendidikan Islam. Karena itu, sepatutnya pemikirannya tersebut dapat diungkap lebih lanjut, khususnya dalam makalah ringkas ini. Makalah ini berusaha untuk mengelaborasi pemikiran Muhammad Quthb tentang metode keteladanan (uslûb al-qudwah) tersebut secara deskriptis dan analitis.   Keywords: keteladanan, metode, pendidikan, pemikira

    METODE SOSIODRAMA DALAM PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

    No full text
    Learning-teaching process or teaching-learning process need learning methodology. It used to achieve goal of learning-teaching or teaching-learning as planning and target. There are two model of method. The first, method is tehcnique or way. It's mean way to send the content of message to audiens. The second, in learning methodology, method are term of model, strategy, learning technique and learning tactics.   Keyword: metode sosiodrama, metodologi pembelajaran, hukum sosiodrama dalam Isla

    Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis

    Get PDF
    The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed

    PEMIKIRAN PENDIDIKAN ISLAM MĀJID ‘IRSĀN AL-KĪLĀNĪ

    No full text
    Dalam review, catatan dan “sambutan hangat”nya terhadap buku “Paradigma Baru Pendidikan Islam” terbitan Direktorat Pendidikan Tinggi Islam – Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Departemen Agama RI tahun 2008, Dr. Adian Husaini, M.A. dengan tegas menyatakan bahwa paradigma baru yang dimaksud adalah proyek pembaratan (westerni-zation) secara sistematis, dengan menempatkan ajaran Islam sebagai bagian dari produk sejarah, yang harus tunduk kepada situasi sosial dan budaya masya-rakat. Sehingga “Paradigma Baru Studi Islam” yang digagas tiada lain adalah “Paradigma Pemikiran Modern Ala Barat”.[1] Tentunya karena umat Islam telah terhegemoni dan didominasi pihak lain, baik hegemoni Kristen-Barat maupun dominasi Sekular-Liberal.[2] Akibatnya, meminjam istilah Hartono Ahmad Jaiz, pendidikan Islam telah diselewengkan, akhirnya malah memuluskan pemurtadan[3] dan melahirkan cendekiawan diabolik, yaitu intelektual yang bermental Iblis, seperti diistilahkan oleh Dr. Syamsuddin Arif, seorang peneliti dan cendekiawan INSISTS serta dosen di International Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC)-IIUM Malaysia. [4] [1] Lihat: Adian Husaini, Membendung Arus Liberalisme di Indonesia, Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 2009, hlm. 426-427; dan Husaini, “Kajian Islam Historis dan Aplikasinya dalam Studi Gender” dalam Jurnal ISLAMIA, vol. 5, no. 1, 2009, hlm. 13-15. [2] Bukti dan paparan luas tentang hal ini, lihat: Husaini, Hegemoni Kristen-Barat dalam Studi Islam di Perguruan Tinggi, Jakarta: Gema Insani Press, 2006, hlm. 101-126; dan Wajah Peradaban Barat: dari Hegemoni Kristen ke Dominasi Sekular-Liberal, Jakarta: Gema Insani Press, 2005, hlm. 288-333. [3] Lihat: Hartono Ahmad Jaiz, Ada Pemurtadan di IAIN, Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 2005, hlm. 21-31. [4] Lihat: Syamsuddin Arif, Orientalis & Diabolisme Pemikiran, Jakarta: Gema Insani Press, 2008, hlm. 143-147

    ESENSI GURU DALAM VISI-MISI PENDIDIKAN KARAKTER

    No full text
    Mohammad Natsir, tampaknya percaya betul dengan ungkapan Dr. G.J. Nieuwenhuis yang pernah menyatakan, “Suatu bangsa tidak akan maju, sebelum ada di antara bangsa itu segolongan guru yang suka berkorban untuk keperluan bangsanya.”. Menurut rumus ini, dua kata kunci kemajuan bangsa adalah “guru” dan “pengorbanan”. Maka, awal kebangkitan bangsa harus dimulai dengan mencetak “guru-guru yang suka berkorban”. Guru yang dimaksud Natsir bukan sekedar “guru pengajar dalam kelas formal”. Guru adalah para pemimpin, orang tua dan juga pendidik. Guru adalah teladan. Guru adalah “digugu” (didengar) dan “ditiru” (dicontoh). Guru bukan sekedar terampil mengajar bagaimana menjawab soal Ujian Nasional, tetapi diri dan hidupnya harus menjadi contoh bagi murid-muridnya

    KARAKTER (ADAB) GURU DAN MURID PERSPEKTIF IBN JAMÂ’AH AL-SYÂFI’Î

    No full text
    The main purpose of education, both general education and Islamic education, is to moled noble character (or akhlak or adab) of student. Due to this urgent position of that character, especially teacher’s and student’s character, so this study is aimed at discussing the concept of character education according to a great Islamic scholar. This studi research is focused on the background of the deterioration of education, both general education and Islamic education, mainly due to the rampant characterdecadence, both from teachers and from students. On the other hand, a character education program which has been programmed in Indonesia, although it is actually a good program, but is considered still keep a number of problematic concepts, criticism and claims of failure and suggestions for improvements. For the Muslims, these programs must be harmonized with even very specific distinctive character, namely the Islamic character based on the rules of Islam in general and Islamic characters (Islamiyyah etiquettes) specifically. Therefore, this research is formulated to describe teacher’s and student’s character (adab al-’âlim wa al-muta’allim)based on Ibn Jamâ’ah thought and find ways to apply it strategically-conceptual in character education programs in Indonesia through the improvement of teacher’s dan student’s character based on figures perspective. This research is a qualitative research to approach the study of literature (library research)which is descriptive-explanative to be analyzed by the method of content analysis in his masterpiecepedagogical-educative of the book ‘Tadzkirah al-Sâmi’ wa al-Mutakallim fî Âdâb al-’Âlim wa al-Muta’allim’ as its primary text through documentation method

    IMPLIKASI RELASI EKSPLORATIF (ALAQAH AL-TASKHIR) DALAM PENDIDIKAN ISLAM: TELAAH FILOSOFIS ATAS PEMIKIRAN MAJID IRSAN AL-KILANI

    Get PDF
    Abstract This article examines Makhjid 'Irsân Al-Kîlânî perspective on explorative relationships between human beings as servants of Allah S.W.T. with the universe or the universe that surrounds and is around them ('alâqah al-taskhîr,' alâqah baina al-insân wa al-kaun); in a frame of worship to Him ('alâqah al-'ibâdah,' alâqah baina al-insân wa Al-Khâliq). The original and pithy thought of Al-Kîlânî is primarily derived from his work entitled Al-Tarbiyah Al-Islâmiyyah Philosophy: Dirâsah Muqâranah baina Falsafah Al-Tarbiyah Al-Islâmiyyah wa Al-Falsafât Al-Tarbawiyyah Al-Mu'âshirah and Ahdâf Al-Tarbiyah Al-Islâmiyyah fî Tarbiyah Al-Fard wa Ikhrâj Al-Ummah wa Tanmiyah Al-Ukhuwwah Al-Insâniyyah supported by several other educational works. The explorative relation ('alâqah al-taskhîr) described by Al-Kîlânî is, among other things, related to the nature of al-taskhîr, the essential objective of al-taskhîr, al-taskhîr objectivity, and the implications of al-taskhîr relations. Keyword: al-taskhîr, 'alâqah al-taskhîr, philosophical, Islamic education.    Abstraksi Artikel ini mengkaji perspektif Mâjid ’Irsân Al-Kîlânî tentang relasi eksploratif antara manusia sebagai hamba Allah S.W.T. dengan alam semesta atau jagat raya yang melingkupi dan ada di sekitar mereka (’alâqah al-taskhîr, ’alâqah baina al-insân wa al-kaun); dalam bingkai peribadatan kepada-Nya (’alâqah al-’ibâdah, ’alâqah baina al-insân wa Al-Khâliq). Pemikiran orisinil dan bernas dari Al-Kîlânî tersebut utamanya berasal dari karyanya yang berjudul Falsafah Al-Tarbiyah Al-Islâmiyyah: Dirâsah Muqâranah baina Falsafah Al-Tarbiyah Al-Islâmiyyah wa Al-Falsafât Al-Tarbawiyyah Al-Mu’âshirah dan Ahdâf Al-Tarbiyah Al-Islâmiyyah fî Tarbiyah Al-Fard wa Ikhrâj Al-Ummah wa Tanmiyah Al-Ukhuwwah Al-Insâniyyah dengan didukung beberapa karya edukatifnya yang lain. Relasi eksploratif (’alâqah al-taskhîr) yang dideskripsikan Al-Kîlânî antara lain berkaitan dengan hakikat al-taskhîr, tujuan esensial al-taskhîr, objektifitas al-taskhîr, dan implikasi relasi al-taskhîr. Keyword: al-taskhîr, ’alâqah al-taskhîr, filosofis, pendidikan Islam

    MENUJU PENDIDIKAN ISLAM BERBASIS AL-ITTIBĀ’

    No full text
    Term al-ittibā’, pada asalnya hanya sekadar bermakna mengikuti, namun tidak dimaksudkan untuk mengikuti sembarang orang. Karena setelah berproses serta membentuk makna dan pengertian spesifik yang terstruktur, maka yang dimaksud al-ittibā’ adalah mengikuti Rasulullah , yaitu mengikuti syariat dan agamanya (ittibā’ al-syar’ al-Muhammadī wa al-dīn al-nabawī) dalam setiap perkataan dan amal perbuatannya, serta dalam berbagai keadaan yang dialaminya. Kewajiban ittibā’ kepada Rasulullah  diperintahkan, karena beliau memiliki beragam kemuliaan yang utama (syamā‘il), khususnya setelah para Nabi lainnya tiada, maka beliau adalah yang paling berhak dijadikan teladan (qudwah), paling layak diikuti (ittibā’), dipegang teguh syariatnya, diikuti jejak langkahnya dan diamalkan ajarannya yang telah diwahyukan Allah  kepadanya
    corecore