1,720,970 research outputs found

    Peran Lembaga Adat Tolaki (LAT) Sulawesi Tenggara dalam Pelestarian Nilai-Nilai Budaya Suku Tolaki

    No full text
    This research examines the role of the Tolaki Sultra customary institution in preserving the cultural values of the Tolaki tribe. This research reveals the problem of the role of customary institutions in preserving cultural values. This research focuses on the discussion of Tolaki, (1) What is the role of the Southeast Sulawesi customary institution (LAT) in preserving the cultural values of the Tolaki tribe. This research uses a qualitative method that aims to find out and explain the role of Southeast Sulawesi customary institutions (LAT) in preserving the cultural values of the Tolaki tribe with an ethnographic approach. This research was obtained through literature study, documentation, observation and interviews after data verification and starting with functional structure theory. Based on the field, it is known that the central board of the Tolaki customary institution (LAT) of Southeast Sulawesi, this research results in the existence of a customary institution (LAT) of Southeast Sulawesi in preserving the cultural values of the Tolaki tribe functions by preserving and developing the customs of the Tolaki tribe in activities that have been carried out one of them, preserving the mosehe wonua tradition, Tolea Pabitara training, training to recognize Kalosara, training in traditional marriage traditions, the process of implementing the Tolaki tribal cultural parade, then followed by the process of resolving Tolaki tribal customs are Omoapi (infidelity), elopement and conflict, the existence of the Tolaki Customary Institution in Southeast Sulawesi can run well

    Beternak Sapi Secara Tradisional

    No full text
    The purpose of this study was to find out and describe the traditional cattle farming system and the cattle profit-sharing system in Amoito Siama Village. The research method used in this research is descriptive qualitative. The results of this study indicate that the traditional cattle raising system in Amoito Siama Village begins with the preparation process for raising cattle, followed by the treatment process starting from feeding the cattle, giving the cattle water, and preparing the stables for the cattle. Furthermore, the profit-sharing system between the cow owner and the cattle keeper starts with building a relationship between the cow owner and the cow keeper to then enter into a profit-sharing agreement in which they agree with each other. There are two methods for the profit-sharing system in Amoito Siama Village, namely by sharing livestock or by paying wages

    TRANSFORMASI PERAN PEREMPUAN DARI RUANG DOMESTIK KE RUANG PUBLIK (PADA PERWAKILAN PEREMPUAN DI KANTOR DPRD KABUPATEN MUNA PROVINSI SULAWESI TENGGARA)

    No full text
    Peran dan fungsi perwakilan perempuan dalam pengambilan keputusan di DPRD serta memutuskan untuk menjadi anggota legislatif Kabupaten Muna. Dalam penelitian ini mengguunakan teori Fenimisme Sosial yang saling bersangkutan dengan obyek yang  akan di teliti, selain itu penelitian ini juga menggunakan teknik pengamatan (Observasion) dan wawancara mendalam (Indepth interview) serta teknik penentuan informan Purposive Sampling.  Dari data yang diperoleh dianalisa secara deskriptif, analisa data yang dimaksudkan untuk menederhanakan data yang diperoleh ke dalam bentuk yang lebih muda dibaca dan diimplementasikan. Hasil penelitian ini mengacu pada keterwalian perempuan pada kuota 30 % dalam partai politik, dan terlibat dalam demokrasi pemilihan anggota DPRD, serta mempunyai relasi kekuasaan dan dukungan masyarakat. Jika ditinjau dari aspek kualitas kerja relatif menunjukan  adanya variasi antara perempuan anggota DPRD yang satu dan yang lainnya, demikian  dengan anggota legislatif laki-laki ditengah dominasi perempuan untuk menjadi anggota legislatif di Kabupaten Muna telah berani keluar dari rana domestik ke ruang publik dan melaksanakan  peran dan fungsi yang belum tentu mampu di lakaukan oleh perempuan lainnya

    Potensi Pengembangan Elektronik Warung Gotong Royong (e-Warong) KUBE PKH Sebagai Alternatif Penanggulangan Kemiskinan di Provinsi Sulawesi Tenggara

    No full text
    This study aims to describe the potential development of Electronic Program of Warung Gotong Royong (Warong) KUBE PKH in Southeast Sulawesi Province. This research was conducted by using qualitative descriptive method. Data collection techniques were done through observation and in-depth interview. The results showed that in the province of Southeast Sulawesi has been formed 25 units e-Warong KUBE PKH consisting of 13 units e-Warong KUBE PKH in Kendari City and 12 units e-Warong KUBE PKH in Bau-Bau. The potential of e-Warong development can be done through several ways, included: the utilization of skills of KUBE members integrated with KUBE Production; b) e-Warong\u27s integration into a Savings and Loans Cooperative; c) act as a bank agent; d) e-Warong provides cheap food for the general public both in cash and non-cash; e) e-Warong is actively involved in the implementation of an inclusive financial system to all KPM Social Assistance through savings movements that can be derived from social assistance funds; f) e-Warong also has the potential to become a supplier for the type of food-based businesses around the e-Warong management environment (restaurants, catering businesses, pastry vendors, etc.); g) e-Warong also has the opportunity to be developed as a bank agent to attract customers, as well as provide electricity / token payment services, PDAM water in urban areas, internet; h) e-Warong managers in Southeast Sulawesi may also avail the SMS or telephone booking system; i) e-Warong can also be developed as a 3 kg LPG gas distributor and other subsidy products that are needed by the poor, at a very affordable price; and j) The development effort must also be supported by the ability to prepare the financial condition report (balance sheet). keywords: potential, development, e-Warong KUBE PKH, povertyPenelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan potensi pengembangan Program Elektronik Warung Gotong Royong KUBE PKH di Provinsi Sulawesi Tenggara. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan  metode deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi dan wawancara mendalam (data Primer) dan pengumpulan data sekunder. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di Provinsi Sulawesi Tenggara telah dibentuk 25 unit e-Warong KUBE PKH yang terdiri dari 13 unit e-Warong KUBE PKH di  Kota Kendari dan 12 unit e-Warong KUBE PKH di Kota Bau-Bau. Potensi pengembangan e-Warong dapat dilakukan melalui beberapa cara, antara lain pemanfaatan keterampilan dari anggota KUBE yang diintegrasikan dengan KUBE Produksi; b) integrasi e-Warong menjadi Koperasi Simpan Pinjam; c) berperan sebagai agen bank; d) e-Warong menyediakan pangan murah bagi masyarakat umum baik secara tunai maupun non tunai; e) e-Warong terlibat secara aktif dalam penerapan sistem keuangan yang inklusif terhadap seluruh KPM Bantuan Sosial melalui gerakan menabung yang dapat diambil dari dana bantuan sosial; f) e-Warong juga berpotensi menjadi supplier (pemasok) bagi jenis usaha berbasis pangan yang ada di sekitar lingkungan pengelola e-Warong (rumah makan, usaha catering, penjual kue-kue, dan sebagainya); g) e-Warong juga berpeluang dikembangkan menjadi agen bank untuk menjaring nasabah, serta memberikan layanan pembayaran listik/token listrik, air PDAM di daerah perkotaan, internet; h) pengelola e-Warong di Sulawesi Tenggara juga juga dapat memanfaatkan sistem pemesanan via sms atau telepon; i) e-Warong dapat pula dikembangkan menjadi agen penyalur gas elpiji 3 kg dan produk subsidi lainnya yang sangat dibutuhkan oleh warga miskin, dengan harga yang sangat terjangkau; serta j) Upaya pengembangan juga harus didukung dengan kemampuan penyusunan laporan kondisi keuangan (neraca Keuangan).   Kata kunci: potensi, pengembangan, e-Warong KUBE PKH, kemiskina

    SONGGA’A : RITUAL PASCA PERKAWINAN PADA ORANG LIYA MAWI

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan prosesi ritual songga’a pada masyarakat Liya Mawi serta untuk mengungkap makna simbolik yang terdapat dalam ritual songga’a untuk mengetahui karakter pasangan pengantin baru. Penelitian ini dilakukan pada bulan mei 2020. Dalam menganalisis data-data yang ada penelitian ini menggunakan teori simbolik oleh Victor W. Turner, metode yang di gunakan dalam penelitian ini yaitu  metode etnografi dengan dengan teknik pengumpulan data dilakukan menggunakan teknik pengamatan (observation) dan wawancara (interview). Selanjutnya data yang didapatkan dianalisa dan disusuan berdasarkan acuan yang digunakan sehingga mudah diinterpertasikan.Hasil penelitian menunjukan bahwa ritual songga’a adalah tradisi yang wajib dilakukan oleh pasangan pengantin baru yang memiliki garis keturunan Liya Mawi. Ada keyakinan secara metafisika didalam masyarkat pendukung kebudayaan tersebut bahwa apabila ritual ini tidak dilakukakan maka akan pasangan pengantin baru tersebut akan mendapatkan bala  yang berupa; susah mendapatkan keturunan, kesehatan mererka akan terganggu, susah mendapatkan rezeki, serta akan ada penyakit-penyakit secara personalistik yang akan diderita. Dalam prosesinya ritual songga’a ada empat tahapan yaitu; Te Lahaa Umanu, Te Songga’a U’ufe, Temanga’a Umia Sumongga’a, dan Te Hesofuia. Adapun makna simbolik yang terdapat didalamnya akan diinterpertasikan berdasarkan media ayam yang digunakana saat proses ritual

    GAYA HIDUP PRIA METROSEKSUAL: pada 9 pria Metro seksual di Kota Kendari

    No full text
    Penelitianmini bertujuanmuntuk mengetahui bagaimana Gaya hidup pria metro seksual, mengapa memilih menjadi pria metro seksual dan bagaimana pandangan kaum perempuan terhadap pria metro seksual di Kota Kendari. Penelitian ini menggunakan teori Gaya hidup dari David Chaney. Dengan teknik purposive sampling, Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik penelitin lapangan (fieldwork) dengan menggunakan dua metode yaitu pengamatan terlibat (parciti pationob servation) dan wawancara mendalam (indepth interview). Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dan menggunakan metode penelitian etnografi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pria metro seksual di Kota Kendari memang melakukan perawatan seperti wanita, tetapi mereka termasuk pria hetero seksual. Para informan menjadi pria metro seksual karena pilihan dari masing-masing individu untuk tidak ketinggalan zaman, dan sebagai tuntutan pekerjaan, selain itu juga mereka nyaman menjadi metro seksual. Dalam penelitian ini juga terdapat pandangan parawanita yang berstatus teman, kerabat dan keluarga dari pria metro seksual. Pandangan wanita terhadap metro seksual cukup beranekaragam, ada yang menganggap bahwa pria metro seksual sesuatu hal yang kurang baik, dan ada juga yang menyukai pria metro seksual karena sesuai dengan kriterianya mencari pasangan dan hal menguntungkan buat para wanita yang memiliki pasangan yang rapi dalam berpakaian, wangi dan terawat sertamen jaga kebersihan. Parawanita menerima bahkan mendukung penuh seseorang menjadi pria metrosek sual dalam batas yang sewajarnya agar tidak mengurangi sisi maskulin seorang pria

    Perempuan Penjual Ikan Junjung Keliling di Kota Kendari

    No full text
    The objective of this study is to gain insight into the challenges that female traveling junjung fish vendors encounter while selling fish and strategize solutions for resolving these issues while also assisting with household chores. This study interprets the data through the lens of Carol Steack\u27s (1974) perspective on social organizations. The present study employs observation, in-depth interviews, and documentation as methods of data collection. The findings of this study indicate that women engaged in the trade of junjung fish in Gunung Jati Village fulfill their domestic responsibilities while performing their labor, which consists of selling fish. As a result, these women are capable of providing economic assistance to their families. Female vendors of junjung fish encounter challenges such as purchasers seeking to borrow funds and weariness from arduous mountain ascending. In order to address this issue, the women who sell junjung fish in Gunung Jati Village have devised a strategy: in the event that they experience fatigue while ascending the mountain, they will pause for an estimated duration of one to five minutes along the side of the road to refuel. Additionally, they have devised a method to appease customers who persistently seek financial assistance: persuade purchasers that if the junjung fish vendors consent to indebtedness on their fish, they will receive a refun

    ETOS KERJA ORANG JAWA DALAM MENGELOLA USAHA WARUNG MAKAN DI KOTA KENDARI

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan hal yang mendukung orang Jawa dalam mengelola usaha warung makan yang ada di Kota Kendari, antara lain: motivasi yang mendasari orang Jawa memilih usaha warung makan, aspek-aspek yang mempengaruhi etos kerja orang Jawa dalam mengelola warung makan, manifestasi etos kerja dalam pengelolaan usaha mereka, serta relasi nilai-nilai agama terhadap etos kerja dalam pengelolaan usaha warung makan dan strategi mempertahankan serta mengembangkan usaha warung makan yang di lakukan oleh orang Jawa dalam mengelola usaha warung makannya. Selanjutnya penelitian ini menggunakan teori etos kerja Max Weber (1958), dengan menggunakan metode Etnografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan etos kerja yang di gunakan orang Jawa ialah tepat waktu, jujur, orientasi pada prestasi, kreativitas kerja, berorientasi pada perubahan, rendah hati, sabar, tanggung jawab, kerja adalah seni dan keuletan. Ada duastrategi yang diterapkan orang Jawa dalam mengelola usaha warung makan yaitu 1) strategi mempertahankan usaha warung makan diantaranya dengan mempertahankan cita rasa menu makananan, pemilihan tempat usahadan desain interior warungmakan. 2) strategi mengembangkan warung makan yaitu menjaring pelanggan/konsumen, menu makanan dandesain interior warung makan

    KAWIN CAMPUR DI KECAMATAN MOROSI KABUPATEN KONAWE PADA TENAGA KERJA ASING (TKA) DI DESHA PUURUI)

    No full text
    Perkawinan campur antara TKA dan perempuan diDesa Puuri bertujuan memperoleh dan mengkaji alasan perkawinan campur antara TKA dan perempuan lokal di Desa Puurui dan bagaimana pandangan masyarkat terhadap perkawinan campur. pemilihan informan dalam penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling. Penelitian ini menggunakan teori fenomenologi interpretatif Geertz(1973). Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik penelitian lapangan (field work) dengan menggunakan dua metode yaitu pengamatan terlibat (participation observation) dan wawancara mendalam (indeepth interview). Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dan menggunakan metode penelitian etnografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: pertama, alasan TKA memilih kawin campur diantaranya ingin mendapatkan pengakuan sebagai Warga Negara Indonesia (WNI), pemenuhan kebutuhan biologis, dan visa wisata bukan visa kerja. Sedagkan alasan perempuan diDesa Puurui memilih kawin campur karena alasan ekonomi, prestise, dan kebebasan. Dari beberapa alasan perempuan, faktor ekonomi merupakan faktor yang paling menonjol dalam mendorong perempuan Desa Puuruikawin dengan Warga Negara AsingKedua, masyarakat memandang bahwa perkawinan campur antara TKA dengan perempuan diDesa Puurui merupakan hal biasa, dan juga hanya untuk memperbaiki status sosial baik perempuan itu sendiri maupun keluarganya

    KEBERTAHANAN BAHASA PADA MASYARAKAT CULAMBACU DI DESA LAMONAE KECAMATAN WIWIRANO KABUPATEN KONAWE UTARA

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan pengguanaan bahasa Culambacu di Desa Lamonae dan upaya apa saja yang dilakukan untuk mempertahankan bahasa Culambacu khususnya di Desa Lamonae. Penelitian ini menggunakan teori kebertahan bahasa oleh Fishman tentang penggunaan bahasa pada masyarakat suku Culambacu dengan menggunakan metode etnografi dan pendekatan kualitatif.Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1). Penggunaan bahasa Culambacu masih tetap digunakan pada masyarakat Lamonae baik dalam ranah keluarga, ranah pendidikan, ranah agama, ranah ketetanggan serta dalam ranah pemerintahan. (2). Adapun upaya yang dilakukan oleh masyarakat serta pemerintah daerah dalam mepertahankan bahasa Culambacu yaitu pembuatan kamus bahasa daerah Culambacu, penggunaan bahasa Culambacu diberbagai ranah dalam interaksi masyarakat, seminar suku dan bahasa, pameran budaya, mejadikan bahasa daerah Culambacu sebagai salah satu mata pelajaran (muatan lokal) pada kurikulum sekolah. Kebertahanan bahasa Culambacu di Desa lamonae masih bertahan, karena terlihat masyarakat Suku Culambacu  masih mempertahankan  bahasanya dengan cara tetap menggunakan bahasa Culambacu ketika berkomunikasi dengan sesama masyarakat Suku Culambacu. Pemertahanan bahasa Culambacu dikaji dari berbagai arena, yaitu arena keluarga, arena tetangga, arena kerja, arena pemerintahan, arena pendidikan dan arena  agama.  Keluarga masyarakat Suku Culambacu masih menggunakan bahasa Culambacu dalam berkomunikasi sehari-hari. Hal itu di lakukan agar anggota keluarga tetap mengenal budaya yang melekat pada dirinya. Pada arena ketetanggaan, masyarakat Suku Culambacu masih menggunakan bahasa Culambacu dalam berkomunikasi dengan sesama Suku, namun dengan masyarakat Suku lainnya masyarakat Suku Culambacu berkomunikasi dengan bahasa Indonesia. Adapun masyarakat yang sudah memahami bahasa Suku Culambacu mulai menggunakannya walaupun tidak sebaik masyarakat Suku Culambacu, begitupun pada arena kerja, arena agama
    corecore