1,721,027 research outputs found

    Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis

    Get PDF
    The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed

    Variations on the Author

    Get PDF
    “Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship

    Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis

    Get PDF
    We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis

    Analisis Efektifitas Program Gerakan Situbondo Bebas Jentik (Gesit Batik) dalam Meningkatkan Angka Bebas Jentik (ABJ) di Kabupaten Situbondo Tahun 2014 (The Analysis of Effectiveness of The Situbondo Free-Larva Movement Program in Increasing the Free-Larva Index in Situbondo Regency 2014)

    No full text
    Dinas Kesehatan Kabupaten Situbondo memiliki suatu program penanggulangan DBD yaitu Gerakan Situbondo Bebas Jentik (Gesit Batik). Program ini dilaksanakan di tiga kelurahan antara lain Kelurahan Mimbaan, Kelurahan Dawuhan dan Kelurahan Patokan yang bertujuan untuk meningkatkan Angka Bebas Jentik (ABJ) di wilayah tersebut yang merupakan wilayah dengan kasus DBD tertinggi. Sejak dilaksanakannya program Gesit Batik pada tahun 2013, ABJ di tiga wilayah tersebut belum memenuhi target sebesar 95%. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui efektivitas dari program Gesit Batik melalui pendekatan sistem berdasarkan aspek input, proses dan output. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan objek penelitian adalah pelaksana program Gesit Batik yang terdiri dari Jumantik desa, guru Sekolah Dasar dan petugas Puskesmas serta petugas Dinas Kesehatan. Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa efektivitas program Gesit Batik di tiga kelurahan termasuk dalam kategori “cukup efektif” dengan nilai 56-75%, sedangkan pelaksanaan Gesit Batik di SD termasuk dalam kategori “kurang efektif” dengan nilai sebesar 28.57%

    Intensi Orang Tua dalam Pengambilan Keputusan untuk Menikahkan Anak Perempuan di Bawah Usia 20 Tahun di Kecamatan Pakem Kabupaten Bondowoso (Parents Intention in Decision Making to Wed Their Under 20 Years Old Daughter in Pakem, Bondowoso Regency)

    No full text
    Perkawinan dini adalah perkawinan yang dilakukan di bawah usia 20 tahun. Anak perempuan yang menikah dini berisiko lebih besar dalam hal kesehatan reproduksi dan kematian. Kabupaten Bondowoso merupakan kabupaten tertinggi dalam pernikahan dini yang mencapai 52,93% dari total perkawinan pada tahun 2012. Pada tahun 2013, jumlah pernikahan di bawah usia 20 tahun di Kecamatan Pakem Kabupaten Bondowoso sebesar 53,18% dan pada tahun 2014 mencapai 67,02%. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi faktor yang berhubungan dengan intensi orang tua dalam pengambilan keputusan untuk menikahkan anak perempuan di bawah usia 20 tahun di Kecamatan Pakem, Kabupaten Bondowoso. Penelitian ini merupakan penelitian analitik berdasarkan Theory of Planned Behavior dengan desain cross-sectional. Responden adalah orang tua yang memiliki anak perempuan berusia 10-19 tahun yang belum menikah. Korelasi Spearman digunakan untuk mengetahui hubungan antar variabel. Hasil menunjukkan bahwa pengetahuan secara signifikan berhubungan dengan sikap (p=0,000), norma subjektif (p=0,008), dan pengendalian perilaku (p=0,000). Pendapatan orang tua tidak berhubungan dengan sikap (p=0,106), norma subjektif (p=0,951), dan pengendalian perilaku (p=0,564). Pendidikan secara signifikan berhubungan dengan sikap (p=0,000), norma subjektif (0,007), dan pengendalian perilaku (0,035). Sikap (p=0,001), norma subjektif (p=0,001), dan pengendalian perilaku (p=0,000) secara signifikan berhubungan dengan intensi orang tu

    Gambaran Pemanfaatan Pengobatan Alternatif Pada Penderita Stroke di Kabupaten Jember (The Utilization of Alternative Medicine to Stroke Patients in Jember)

    No full text
    Stroke merupakan penyebab kematian nomor tiga di dunia dan penyebab kecacatan nomor satu bagi penyandangnya. Salah satu pengobatan untuk sroke yaitu pengobatan alternatif yang dilaporkan mengalami peningkatan baik di negara maju dan berkembang. Berdasarkan survei, penderita stroke yang memanfaatkan pengobatan alternatif disebabkan sebelumnya telah menggunakan pengobatan medis namun tidak mendapatkan hasil yang positif dilihat dari segi dampak yang diperoleh pasca strokenya. Segi biaya dari biaya pengobatan alternatif juga relatif murah. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pemanfaatan pengobatan alternatif berdasarkan faktor predisposing, enabling, dan need pada penderita stroke di Kabupaten Jember. Metode dalam penelitian ini adalah metode deskriptif pendekatan kuantitatif. Sampel dalam penelitian ini yaitu 21 penderita stroke yang memanfaatkan pengobatan di Holistic Clinic dan Terapi Rehabilitasi Khusus Stroke. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik accidental sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor pemudah (predisposing) pada penderita stroke meliputi kelompok umur 50-64 tahun, berjenis kelamin laki-laki, berpendidikan menengah (SMA), dan adanya manfaat kesehatan. Faktor pendukung (enabling) penderita stroke yaitu pendapatan diatas UMR, adanya dukungan keluarga, biaya pengobatan yang murah dan jarak yang dekat. Faktor kebutuhan (need) meliputi penderita stroke yang mengalami dampak fisik kelumpuhan dan kehilangan indera ras

    ANALISIS RISIKO SINDROM METABOLIK DENGAN PENDEKATAN STEPWISE STEP 1 WHO (STUDI PADA PASIEN RAWAT JALAN POLI PENYAKIT DALAM DI RSUD KABUPATEN JOMBANG)

    No full text
    Penyakit kardiovaskular dan diabetes mellitus tersebut menjadi pola epidemik baru yaitu yang ditandai dengan adanya peningkatan keadaan yang dikenal sebagai sindrom metabolik (Grundy, 2004). Sindrom metabolik merupakan kumpulan dari beberapa gangguan yaitu intoleransi glukosa, resistensi insulin, obesitas sentral, dislipidemia dan hipertensi. Gangguan tersebut berkaitan dengan peningkatan penggunaan rokok, aktivitas fisik yang kurang, pola makan yang tidak sehat dan konsumsi alkohol. Sindrom metabolik dapat meningkatkan risiko seseorang untuk terkena penyakit jantung dan diabetes mellitus. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor risiko kejadian sindrom metabolik dengan menggunakan rancangan penelitian cross sectional. Responden yang menjadi subjek penelitian adalah 155 pasien rawat jalan Poli Penyakit Dalam RSUD Kabupaten Jombang. Pengambilan sampel dilakukan berdasarkan systematic random sampling. Penegakkan diagnosis sindrom metabolik menggunakan kriteria NCEP-ATP III, apabila seseorang memenuhi minimal 3 dari 5 kriteria maka dapat dikatakan menderita sindrom metabolik. Kriteria tersebut meliputi kadar trigliserida tinggi, mempunyai obesitas sentral, kadar gula tinggi, HDL rendah serta tekanan darah tinggi. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah merokok, konsumsi alkohol, pola makan serta aktivitas fisik dan untuk variabel terikat adalah sindrom metabolik. Alat pengumpulan data yang digunakan adalah kuesioner STEPwise WHO dan pengukuran langsung terhadap responden. Pengukuran dilakukan untuk mengetahui lingkar pinggang responden. Hasil penelitian menemukan 69,7% responden menderita sindrom metabolik. Distribusi kejadian sindrom metabolik berdasarkan karakteristik responden yaitu lebih banyak yang berjenis kelamin perempuan, kelompok usia 60-65 tahun, ix memiliki tingkat pendidikan SMA, suku Jawa, sudah menikah, mempunyai pekerjaan sebagai Ibu Rumah Tangga dan mempunyai pendapatan diatas UMK. Berdasarkan faktor risiko, hanya sebesar 1,3% responden yang merokok aktif, tidak ada responden yang mengkonsumsi alkohol, sebagian besar mempunyai pola makan yang buruk dan mempunyai aktivitas fisik yang ringan. Pada penelitian ini untuk variabel merokok dan konsumsi alkohol tidak memenuhi syarat untuk dilakukan uji analisis sehingga tidak dapat dibuktikan adanya hubungan antara variabel tersebut dengan kejadian sindrom metabolik. Ditemukan adanya hubungan antara pola makan dan aktivitas fisik terhadap kejadian sindrom metabolik. Pola makan buruk mempunyai nilai OR sebesar 2,69 (CI 95% 1,33-5,44) yang artinya pola makan buruk meningkatkan risiko sebesar 2,69 kali lipat untuk terkena sindrom metabolik. Nilai OR aktivitas fisik ringan terhadap sindrom metabolik adalah 3,75, sehingga seseorang dengan aktivitas yang ringan dapat berisiko 3,75 kali lipat untuk menderita sindrom metabolik. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pola makan buruk dan aktivitas fisik ringan merupakan faktor risiko sindrom metabolik. Saran yang dapat diberikan adalah dibutuhkan tindakan untuk mengontrol penyakit tersebut seperti memodifikasi gaya hidup yaitu dengan melakukan olahraga yang cukup dan teratur dan mengatur pola makan sehat (membatasi asupan lemak dan makanan berkolesterol tinggi, membatasi asupan garam/makanan asin dengan tidak mengkonsumsinya lebih dari 1 sendok teh perhari, mengkonsumsi air yang cukup serta memperbanyak konsumsi sayur dan buah)

    FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TINDAKAN PENCEGAHAN MALARIA DI DESA BANGSRING KECAMATAN WONGSOREJO KABUPATEN BANYUWANGI TAHUN 2015

    No full text
    Kabupaten Banyuwangi merupakan salah satu dari empat kabupaten/kota yang menjadi kabupaten dengan jumlah kejadian malaria tertinggi. Kasus malaria di Kabupaten Banyuwangi mengalami peningkatan dari tahun 2010 sebanyak 31 kasus menjadi 127 kasus pada tahun 2013, meskipun sebagian besar adalah kasus malaria impor. Terdapat empat kecamatan yang endemis malaria yang salah satunya adalah Kecamatan Wongsorejo tepatnya di Desa Bangsring. Desa Bangsring merupakan desa yang berpeluang tinggi terjadinya kasus indigenous dan KLB malaria. Kejadian penyakit malaria dan KLB malaria sangat berkaitan erat dengan menurunnya perhatian dan kepedulian masyarakat terhadap upaya penanggulangan malaria secara terpadu melalui tindakan pencegahan oleh masyarakat. Tindakan pencegahan malaria dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu tingkat pendidikan, pendapatan, riwayat penyakit malaria, pengetahuan tentang malaria, dan sikap pencegahan malaria. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh karakteristik individu, pengetahuan tentang malaria, dan sikap pencegahan malaria terhadap tindakan pencegahan malaria. Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan desain cross-sectional. Penelitian dilaksanakan di Desa Bangsring mulai bulan Februari-Maret 2015. Sampel penelitian sebesar 91 kepala keluarga yang berasal dari 1.918 kepala keluarga di Desa Bangsring yang telah memenuhi kriteria inklusi yaitu masih berdomisili di Desa Bangsring, memiliki usia maksimal 65 tahun, dan dapat berkomunikasi dengan baik. Teknik pengambilan ix sampel menggunakan metode cluster random sampling dengan modifikasi. Analisis data terdiri dari analisis univariat, analisis bivariat menggunakan chi-square, dan analisis multivariat menggunakan regresi logistik dengan α=0,05. Hasil analisis dalam penelitian ini menunjukkan bahwa faktor yang secara signifikan mempengaruhi tindakan pencegahan malaria adalah tingkat pendidikan, pengetahuan tentang malaria, dan sikap pencegahan malaria. Faktor yang paling mempengaruhi seseorang dalam melakukan tindakan pencegahan malaria adalah pengetahuan tentang malaria. Seseorang yang mempunyai pengetahuan tentang malaria yang tinggi memiliki kecenderungan 22,75 kali lebih besar untuk melakukan tindakan pencegahan malaria yang baik daripada orang yang mempunyai pengetahuan tentang malaria yang rendah. Saran yang dapat diberikan adalah agar dilakukan pemberdayaan dan menggerakkan masyarakat agar terus aktif dalam upaya pencegahan malaria, pemberian informasi kepada masyarakat dan juga penyuluhan terkait malaria secara berkesinambungan, komunikasi dan advokasi kepada Pemerintah Desa Bangsring untuk selalu mendukung secara aktif, dan juga pemberian motivasi kepada masyarakat agar dapat meningkatkan tindakan pencegahan malaria

    TINGKAT KONTROL PASIEN ASMA DI POLI SPESIALIS PARU B RUMAH SAKIT PARU JEMBER

    No full text
    Asma merupakan penyakit yang tidak dapat disembuhkan dengan obat-obatan karena obat tersebut hanya berfungsi menghilangkan gejala. Prevalensi asma di Indonesia berdasarkan Riskesdas tahun 2007 dan 2013 menunjukkan peningkatan. Data laporan Dinas Kesehatan Kabupaten Jember tahun 2011–2014 juga menunjukkan adanya peningkatan. Jumlah kasus asma di bagian rawat jalan Rumah Sakit Paru Jember tahun 2013 sebanyak 374 kasus dan tahun 2014 sebanya 371 kasus. Selama bulan Januari-Juni 2015 jumlah kasus asma meningkat menjadi 790 kasus. Pemanfaatan pelayanan kesehatan dapat digunakan untuk menilai morbiditas dan kontrol asma. Salah satu poli di Rumah Sakit Paru Jember khusus menangani asma yaitu Poli Spesialis Paru B. Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi tingkat kontrol pasien asma di Poli Spesialis Paru B Rumah Sakit Paru Jember. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Penelitian ini dilakukan di Poli Spesialis Paru B Rumah Sakit Paru Jember pada bulan November sampai Desember 2015. Pengambilan sampel dilakukan secara judgemental sampai total responden 90 orang dengan menggunakan teknik accidental sampling. Teknik pengumpulan data dengan wawancara dan dokumentasi. Analisis data menggunakan statistik deskriptif
    corecore