1,721,041 research outputs found

    Cultural homegarden management practices mediate arthropod communities in Indonesia

    No full text
    Tropical forest loss and transformation to agroecosystems have serious impacts on biodiversity, associated ecosystem services and the livelihood of local people. The high crop plant biodiversity and low intensity management in many homegardens could play an important role in the preservation of biodiversity in modified landscapes, as well as sustain food security of low income households. In this study, we focused on the role of the owner’s cultural background as migrants (from the island of Java) or non-migrants (local residents) for homegarden characteristics, such as size, management diversification, and crop species richness, and their effect on arthropod communities in Jambi province, Indonesia. Vane traps, pitfall traps and sweep netting were used to survey the arthropod communities, in particular bees and wasps, in 24 homegardens. Our results show that the native Jambi locals used a smaller number of management practices and had smaller homegardens than the Javanese transmigrants, whereas crop species richness did not differ. Management diversification and crop species richness were positively related to arthropod abundance as well as species richness of bees and wasps, presumably due to the enhanced homegarden heterogeneity. Our findings suggest that the cultural practices of migrant versus non-migrant land-use managers, which is usually neglected in agroecology, can be a major determinant of management practices shaping community structure and services of beneficial arthropods

    Isolasi dan Identifikasi Cendawan pada Saluran Pencernaan Lebah Hutan Apis dorsata asal Riau

    No full text
    Apis dorsata merupakan lebah hutan yang potensial dengan produk utama madu dan bee bread. Produktivitas lebah madu dipengaruhi oleh kesehatannya, sedangkan kesehatannya dipengaruhi oleh keanekaragaman mikrobiota dalam saluran pencernaan lebah. Mikrobiota tersebut di antaranya adalah cendawan. Saat ini, penelitian tentang mikrobiota terutama cendawan belum pernah dilakukan di Indonesia, sehingga penelitian ini bertujuan mengisolasi dan mengidentifikasi cendawan dalam saluran A. dorsata asal Riau. Isolasi cendawan saluran pencernaan lebah dilakukan secara aseptik. Sebanyak 2 lebah dari satu sarang, disterilisasi permukaan sebelum dibedah. Bagian saluran pencernaan dihomogenisasi dengan bantuan pestel dalam tube 1,5 mL yang berisi 1 mL 0.85% NaCl steril. Suspensi yang disebar pada Potato Sucrose Agar (PSA) yang mengandung antibiotik kloramfenikol (0.1%) dan tetrasiklin (0.1%) terdiri atas 3 macam, yaitu (i) tanpa pengayaan, (ii) pengayaan (12 jam) dalam media Potato Dextrose Broth (PDB), dan (iii) hasil pengenceran serial (10-1, 10-2, dan 10-3) dari pengayaan (12 jam) dalam PDB. Setiap cendawan yang tumbuh dimurnikan pada PSA untuk mendapatkan isolat murni. Cendawan yang diperoleh dari hasil penelitian ini, yaitu Aspergillus, Sporothrix dan Paecilomyces. Jumlah propagul kapang Aspergillus lebih sedikit dibandingkan Sporothrix dan Paecilomyces. Cendawan yang ditemukan pada lebah individu satu adalah Aspergillus sp.1 dan Sporothrix, sedangkan pada lebah individu dua adalah Aspergillus sp.2, Paecilomyces sp.1 dan Paecilomyces sp.2

    Characterization of Exon-Intron 1, 5, 6 Endo-β-1,4-glucanase Genes of Termites Coptotermes curvignathus.

    No full text
    An agricultural waste with cellulose-containing can be processed into ethanol. Conversion of cellulose into bioethanol requires cellulase enzyme. Cellulase enzyme from termite is able to degrade cellulose. Termite Coptotermes curvignathus is able to degrade cellulose due to cellulase enzymes encoded by genes endo-β-1,4-glucanase. Gene sequences of endo-β-1 ,4-glucanase termite C. curvignathus (CcEG) resulted from previous research has not completed yet, hence this research was aimed to complete the gene characterization. Method that used in this study were CTAB DNA extraction with modified method, DNA amplification, and gene sequencing. The size of exons 1, 5, and 6 CcEG were 46, 79, and 163 bp respectively and the size of intron 1, 5, and 6 were 483, 725, and 274 bp, respectively. The exon 5 CcEG gave further contribution to the previous research, with 26 bp of overlap bases. Exon 1, 5, and 6 CcEG showed similar size to C. formosanus (CfEG) each of which were 46, 178, and 163 bp, respectively. GC composition was 51.4% in exons, while the introns possessed 42,3% of GC. Intron 1, 5, and 6 CcEG were commenced with GT and ended with AG. Amino acid deduction analysis of exon 1, 5, and 6 CcEG resulted 95 putative amino acids with methionine as the first amino acids and the protein was classified in a group of Glycosyl Hydrolase Family 9 (GHF9). BLAST and genetic distance analysis of CcEG with C. formosanus (CfEG), Reticulitermes speratus (RsEG), and Nasutitermes takasagoensis (NtEG) showed high level of similarity with CfEG. The results of endo-β-1,4-glucanase gene characterization of C. curvignathus were expected as basic data for further in vitro cellulase enzyme studies.Limbah pertanian yang mengandung selulosa dapat diolah menjadi bioetanol. Konversi selulosa menjadi bioetanol memerlukan enzim selulase. Selulase yang dihasilkan rayap mampu mendegradasi selulosa. Rayap Coptotermes curvignathus mampu mendegradasi selulosa karena enzim selulase yang disandikan oleh gen endo-β-1,4-glukanase. Sekuen gen endo-β-1,4-glukanase rayap C. curvignathus (CcEG) dari penelitian sebelumnya belum lengkap dikarakterisasi, sehingga penelitian ini bertujuan melengkapi karakterisasi gen endo-β-1,4-glukanase pada rayap C. curvignathus. Metode yang digunakan adalah ekstraksi DNA menggunakan metode CTAB yang dimodifikasi, amplifikasi DNA, dan sekuen DNA. Hasil amplifikasi ekson 1, 5, 6 CcEG berukuran 46, 79, dan 163 pb, sedangkan intron 1, 5, dan 6 secara berurutan sebesar 483, 725, dan 274 pb. Sekuen DNA Ekson 5 CcEG hasil penelitian ini melengkapi penelitian sebelumnya dengan jumlah nukleotida yang berada pada posisi yang sama (overlap) sebanyak 26 pb. Ukuran panjang ekson 1, 5, dan 6 CcEG sama dengan C. formosanus (CfEG) masing-masing yaitu 46, 178, dan 163 pb. Komposisi GC ekson CcEG sebesar 50.3% pada ekson sedangkan pada intron sebesar 43.3%. Intron 1, 5, dan 6 CcEG diawali dengan basa GT dan diakhiri AG. Hasil analisis deduksi gen endo-β-1,4-glukanase ekson 1, 5, dan 6 CcEG menghasilkan 94 asam amino putative dengan metionin sebagai awal asam amino, dan termasuk kelompok Glycosyl Hydrolase Family 9 (GHF9). Analisis BLAST dan jarak genetik CcEG terhadap C. formosanus (CfEG), Reticulitermes speratus (RsEG), dan Nasutitermes takasagoensis (NtEG) menunjukkan tingkat kekerabatan yang tinggi dengan CfEG. Hasil karakterisasi gen endo-β-1,4-glukanase pada rayap C. curvignathus.diharapkan dapat menjadi informasi dasar penelitian in vitro karakterisasi enzim selulase rayap tersebut

    Variasi Venasi Sayap Lebah Madu Indonesia

    No full text
    Keanekaragaman lebah di Indonesia cukup tinggi termasuk spesies lebah madu. Identifikasi spesies lebah madu sangat penting untuk melindungi keberlangsungan hidup serangga polinator ini. Sayap merupakan bagian yang penting untuk dipelajari pada serangga. Morfometrika geometris merupakan metode analisis yang cukup kuat untuk mengidentifikasi spesies serangga. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis variasi venasi sayap antar spesies lebah madu A. mellifera, A. cerana, A. dorsata, A. andreniformis, dan A. koschevnikovi menggunakan metode morfometrika geometris. Metode yang dilakukan yaitu pengambilan gambar sayap lebah dan analisis data dengan membuat digitasi landmark pada venasi sayap lebah menggunakan perangkat lunak Thin Plate Spline (TPS). Deskripsi dan analisis variasi venasi sayap dilakukan menggunakan morfometrika geometris berdasarkan 19 titik anatomis venasi melalui perangkat lunak tpsdig2 dan tpsRelw. Hasil plot ordinasi Relative Warp (RW) menunjukkan bahwa terdapat variasi venasi sayap antara lima spesies lebah madu. Morfologi venasi sayap A. mellifera, A. cerana dan A. koschevnikovi memiliki tingkat variasi yang rendah dan sebaliknya variasi sangat tinggi pada venasi A. andreniformis serta A. dorsata. Grid deformasi dengan jelas menunjukkan pola variasi venasi yang berbeda antar setiap spesies lebah. Titik venasi sayap yang memiliki variasi tinggi adalah pada (1) titik pertemuan Rs dan prestigma, (2) titik pertemuan Rs+m dan 2ⁿᵈ arbiscissa of Rs, (3) titik pertemuan Rs dan 2r-m, dan (4) ujung titik Rs. Selanjutnya, metode morfometrika geometris venasi sayap juga mampu memisahkan setiap spesies lebah dalam cluster masing-masing pada pohon filogeni yang dibangun menggunakan metode Neighbour Joining, sehingga metode ini dapat digunakan membedakan spesies lebah di Indonesia

    Identifikasi stingless bee (Hymenoptera: Apidae) asal Sulawesi berdasarkan karakteristik morfologi, sarang, dan DNA barcoding

    No full text
    Stingless bee memiliki tingkat keragaman yang tinggi dan wilayah distribusi yang luas di dunia. Indonesia sebagai bagian dari wilayah persebaran Indo-Malaya dan Australasia memiliki potensi tinggi sebagai habitat stingless bee karena iklim tropisnya. Keanekaragaman stingless bee di Indonesia telah tercatat di dalam Catalog Indo-Malayan dan Australasian stingless bee, namun masih terbatas di pulau-pulau yang termasuk ke dalam wilayah Sundaland. Eksplorasi stingless bee di Indonesia khususnya di wilayah Wallacea belum dilakukan secara menyeluruh. Sebagai salah satu pulau yang berada di wilayah Wallacea, Sulawesi memiliki banyak hewan endemik termasuk stingless bee. Terdapat tujuh spesies stingless bee yang telah dilaporkan di Sulawesi yaitu Wallacetrigona incisa (Engel dan Rasmussen), Lepidotrigona terminata (Smith), Tetragonula fuscobalteata (Cameron), T. laeviceps (Smith), T. biroi (Friese), T. pagdeni (Schwarz), dan T. sapiens (Cockerell), namun ciri dari ketujuh spesies tersebut belum terdokumentasi secara lengkap sehingga sering ditemukan kesulitan pada saat proses identifikasi spesies. Identifikasi stingless bee dapat dilakukan dengan melihat ciri morfologi, arsitektur sarang, dan melalui pendekatan molekuler DNA barcoding. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan mengeksplorasi keanekaragaman spesies stingless bee di Sulawesi melalui identifikasi morfologi, arsitektur sarang, dan DNA barcoding. Koleksi sampel stingless bee dilakukan di tujuh lokasi yang terleteak di empat kabupaten di Sulawesi Selatan (Maros, Soppeng, Wajo, dan Luwu Utara) dan satu kabupaten di Sulawesi Barat (Polewali). Identifikasi morfologi dilakukan dengan mengamati karakter utama dari stingless bee yaitu warna tubuh, mesonotum, scutellum, propodeum, warna sayap, jumlah hammuli, hind tibia, dan hind basitarsus. Selain itu dilakukan pula pengukuran dari tujuh bagian tubuh stingless bee untuk analisis morfometrik menggunakan metode Principal Component Analysis (PCA). Pengamatan arsitektur sarang dilakukan pada bagian lubang sarang dan susunan sel pengeraman. Tahap identifikasi melalui DNA barcoding meliputi Ekstraksi DNA, amplifikasi gen cytochrome c oxidase I (COI), dan sequencing DNA. Tahap analisis bioinformatik meliputi Basic Local Alignment Search Tool-Nucleotide (BLAST-N) di NCBI (www.ncbi.nml.nih.gov), translasi asam amino, analisis jarak genetik, konstruksi pohon filogenetik, dan analisis laju substitusi kodon. Berdasarkan karakteristik morfologi, sampel stingless bee yang dikoleksi dari 44 koloni terdiri dari tiga spesies stingless bee berukuran kecil (= 4 mm) yaitu W. incisa dan L. terminata. Karakteristik morfologi yang teramati berhasil disusun menjadi kunci identifikasi stingless bee khusus untuk wilayah Sulawesi. Hasil analisis morfometrik juga menunjukkan adanya pengelompokan berdasarkan ukuran tubuh. Nilai total PC1 dan PC2 pada analisis morfometrik yaitu 88.75% dengan Eigen value tertinggi pada PC1 0.958 pada karakter panjang tubuh dan PC2 0.546 pada karakter lebar mata. Hal tersebut menunjukkan bahwa karakter panjang tubuh dan lebar mata merupakan karakter yang berperan penting dalam pemisahan spesies pada analisis PCA. Selain ciri morfologi, penelitian ini juga berhasil mengkarakterisasi tipe lubang sarang dan susunan sel pengeraman. Tipe lubang sarang stingless bee endemik W. incisa untuk pertama kalinya didokumentasikan dan dikarakterisasi pada penelitian ini, yaitu tipe celah longitudinal yang sempit dengan pelebaran gumpalan resin yang tebal dan keras. Tetragonula sapiens dan T. fuscobalteata memiliki tipe lubang sarang yang sama yaitu corong pendek dengan bentuk lubang elips, sedangkan T. aff. biroi memiliki tipe lubang sarang yang bervariasi yaitu corong pendek dengan ornamentasi tidak beraturan, corong memanjang dengan lubang yang lebar, dan warna resin berbeda-beda dan tipe corong silindris memanjang seperti pada L. terminata. Selanjutnya penelitian ini berhasil mendapatkan sekuen gen COI dengan ukuran 759 – 846 bp dari empat spesies stingless bee yaitu T. sapiens, T. fuscobalteata, T. aff. biroi dan L. terminata. Analisis konstruksi pohon filogenetik pada ke-empat sekuen stingless bee penelitian ini dilakukan bersama dengan tiga sekuen gen COI Tetragonula dari GenBank (T. iridipennis, T. carbonaria, dan T. hockingsi). Hasil rekosntruksi pohon filogenetik juga menunjukkan adanya pengelompokan stingless bee berdasarkan ukuran tubuh. Kelompok stingless bee berukuran kecil terbagi menjadi dua cluster yaitu Indo-Malayan (T. fuscobalteata, T. aff. biroi, dan T. iridipennis) dan Australian Tetragonula (T. sapiens, T. hockingsi, dan T. carbonaria). Cluster yang terbentuk didukung oleh data persebaran stingless bee yang sesuai dengan wilayah persebaran Indo-Malaya dan Australasia. Hal tersebut menunjukkan bahwa gen COI dapat digunakan untuk menganalisis hubungan evolusi dan kekerabatan antara stingless bee di wilayah Indo-Malaya dan Australasia. Karakter lubang masuk sarang yang teramati tidak menunjukkan adanya pola yang berkaitan dengan pengelompokan spesies berdasarkan sekuen gen COI. Tetragonula sapiens dan T. fuscobalteata memiliki persamaan karakter lubang sarang, namun pada pohon filogenetik kedua spesies tersebut terletak pada cluster yang berbeda. Tetragonula fuscobalteata dan T. aff. biroi dengan tipe lubang sarang yang berbeda terletak pada cluster yang sama. Tipe susunan sel pengeraman semi-cluster pada T. sapiens mengelompok dengan tipe susunan sel pengeraman spiral comb (T. carbonaria) dan semi-comb (T. hockingsi), sedangkan tipe susunan sel pengeraman semi-comb pada T. aff. biroi mengelompok dengan tipe cluster T. fuscobalteata. Kondisi lingkungan (adanya predator, hujan, dan angin) dan material (sumber resin) yang tersedia dapat menyebabkan spesies yang berbeda memiliki tipe lubang masuk sarang yang sama atau spesies yang sama dapat memiliki tipe lubang masuk sarang yang berbeda. Hasil eksplorasi dan data lokasi persebaran stingless bee pada penelitian ini diharapkan dapat membantu memperbaharui data keanekaragaman stingless bee di Indonesia khususnya di Sulawesi. Selain itu data morfologi, arsitektur sarang, dan sekuen gen COI pada masing-masing spesies diharapkan dapat membantu proses identifikasi spesies pada eksplorasi dan studi stingless bee selanjutnya

    Distribusi dan Keanekaragaman Tungau Ektoparasit pada Cicak di Indonesia

    No full text
    Data on the diversity and dispersal of parasitic mites on house geckos in Indonesia are very scarce. In this work, the distribution and diversity of mites living on three species of house geckos, namely Cosymbotus platyurus, Hemidactylus frenatus, and H. garnotii collected throughout Indonesia, has been elaborated. Geckos and mites were captured and immediately preserved in 70% ethanol. Whole mount of the mites was prepared by clearing in lactophenol followed by mounting on polyvinyl lactophenol solutions. The SEM preparation was conducted to examine the detail morphological characters of the mites. The results showed that among 448 individuals of geckos, 221 geckos were infected by Geckobia mites. Prevalences of C. platyurus, H. frenatus, and H. garnotii infested by mites were 14.8%, 50.69%, and 79.6%, respectively. Three different spesies of Geckobia (G1, G2, and G3) could be differentiated; and based on similarities of their morphological characters to ones described in published literatures, Geckobia G2 is Geckobia glebosum and Geckobia G3 is Geckobia bataviensis while G1 could not be identified to the species level. The highest mean intensity of Geckobia G1 infestation was found on H. garnotii (I=7.0), G. glebosum infestation on H. frenatus (I=3.5), and G. bataviensis infestation on H. garnotii (I=11.8). In general, C. platyurus was infested by the least number of mites. Geckobia G1 were found living on the skin folds on the claws, G. glebosum were found mainly on the body and thigh, and G. bataviensis were found on almost all parts of the host’s body. Geckobia mites are distributed randomly throughout Indonesian Archipelago, following the pattern of distribution of their hosts. So it is concluded that Geckobia G1, G. glebosum, and G. bataviensis are sympatric.Tungau dari Famili Pterygosomatidae hidup sebagai parasit pada cicak dan kadal Gekkonidae. Tungau ini dikenal sebagai parasit penghisap darah. Tungau Geckobia (Famili Pterygosomatidae) dilaporkan ditemukan pada cicak Famili Gekkonidae dan sebagai ektoparasit pada cicak Hemidactylus di Asia Tenggara. Interaksi antara tungau parasit dengan cicak perlu diperhatikan, karena kebanyakan spesies cicak hidup di antara manusia. Tungau Geckobia naultina pada reptil Haplodactylus duvaocelli (Gekkonidae) di Selandia Baru ditemukan sebagai vektor pembawa Rickettsia. Data base penyakit infeksi global menunjukkan bahwa satwa liar berperan sebagai reservoir patogen untuk manusia dan hewan peliharaan / ternak. Cicak Cosymbotus platyurus, Hemidactylus frenatus dan Hemidactylus garnotii merupakan cicak rumah yang sering dijumpai di sekitar manusia. Informasi mengenai tungau ektoparasit pada cicak di Indonesia sangat diperlukan untuk mengantisipasi adanya penyakit yang disebarkan akibat interaksi tersebut. Penelitian ini dilakukan berdasar pada data penyebaran cicak di Indonesia dan adanya interaksi antara cicak dengan tungau ektoparasit

    Identifikasi Tumbuhan Penghasil Polen dari Madu dan Sarang Lebah Tanpa Sengat di Belitung, Provinsi Bangka Belitung

    No full text
    Polen merupakan hasil perkembangan mikrosporosit yang menghasilkan mikrospora haploid berkembang menjadi mikrogametofit yang menghasilkan gamet jantan. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi tumbuhan penghasil polen dari madu dan sarang lebah tanpa sengat di Belitung, Provinsi Bangka Belitung. Metode yang dilakukan meliputi ekstraksi polen dari madu, asetolisis dan identifikasi polen. Hasil identifikasi polen dari madu dan sarang lebah tanpa sengat Heterotrigona itama dan Tetragonula laeviceps di Belitung ditemukan 30 spesies tumbuhan yang termasuk 24 famili. Polen dari tumbuhan Macaranga tanarius (23.72%) dan Murdannia nudiflora (23.64%) mendominasi pada madu lebah H. itama. Polen dari tumbuhan Elaeis guineensis (24.01%) paling banyak ditemukan pada sarang lebah H. itama. Polen dari tumbuhan Ageratum conyzoides (16.36%) dan Sphagneticola trilobata (19.73%) paling banyak dijumpai pada madu lebah T. laeviceps. Polen dari tumbuhan Mischocarpus sundaicus (19.20%) dan Mimosa pudica (21.70%) paling banyak ditemui pada sarang lebah T. laeviceps. Polen dari tumbuhan anggota famili Arecaceae paling banyak ditemukan pada madu dan sarang lebah H. itama dan T. laeviceps dengan jumlah tiga spesies tumbuhan. Polen dari tumbuhan dengan habitus pohon dominan ditemukan pada madu dan sarang lebah H. itama dan T. laeviceps dengan jumlah 19 spesies tumbuhan

    Instrumen Berbasis Optocoupler Inframerah dan Arduino Mega untuk Mendeteksi Perilaku Lebah Madu (Apis cerana) Keluar-Masuk Sarang.

    No full text
    Apis cerana merupakan lebah madu asal Asia yang memiliki banyak manfaat seperti dalam penyerbukan tumbuhan dan penghasil madu. Pengamatan perilaku terbang lebah keluar-masuk sarang diperlukan karena ketika terjadi fenomena Colony Collapse Disorder (CCD) dapat langsung terdeteksi. Tujuan penelitian ini adalah membuat instrumen menggunakan sensor optocoupler inframerah yang dibangun dari infrared emitting diode sebagai transmitter dan modul sensor digital inframerah sebagai receiver. Instrumen ini dapat memantau aktivitas lebah keluarmasuk sarang dari jauh dengan koneksi internet menggunakan antarmuka website. Transmitter dan receiver inframerah tersebut diatur menggunakan papan mikrokontroler Arduino Mega. Data dikirim ke basis data antarmuka menggunakan server lokal pada Raspberry Pi 3B. Desain entrance sarang dibentuk dari enam terowongan yang berukuran 25 mm × 8 mm × 10 mm. Pengamatan perilaku terbang lebah keluar-masuk sarang dilakukan dari pukul 13.00 hingga 17.59. Heatballing behaviour timbul karena intensitas inframerah yang tinggi dari tegangan masukan 4.57 V, sehingga dikurangi menjadi 2.28 V. Aktivitas rata-rata tertinggi lebah masuk ke sarang per menit terjadi pada pukul 14.00 hingga 15.59. Aktivitas rata-rata lebah keluar dari sarang per menit memperlihatkan pola kenaikan pada pukul 15.00 hingga 17.59 setiap hari pada empat hari pengamatan

    Karakterisasi Ekson dan Intron Gen Defensin 1 pada Apis cerana dan A. dorsata.

    No full text
    Gen defensin lebah menyandikan peptida defensin yang berfungsi untuk mempertahankan tubuh dari bakteri Gram positif dan terdapat dua gen defensin, yaitu gen defensin 1 dan 2. Penelitian ini bertujuan mengkarakterisasi gen defensin 1 yang terdiri dari ekson 2, intron dan ekson 3 pada A. cerana dan A. dorsata asal Indonesia. DNA gen defensin 1 sampel A. cerana dan A. dorsata diamplifikasi menggunakan primer yang didisain berdasarkan GenBank A. mellifera. Sekuen DNA dan asam amino deduksi dianalisis secara bioinformatika. Panjang sekuen DNA gen defensin 1 sampel A. cerana dan A. dorsata yang didapat berturut-turut sebesar 479 dan 458 pb dan panjang asam amino deduktif kedua sampel berturut-turut sebesar 66 dan 65 dengan 6 asam amino sistein yang diduga menyebabkan terbentuknya ikatan α dan β pada peptide sehingga memungkinkan melisis membran sel bakteri melalui pembentukan pori. Variasi nukleotida di antara spesies A. cerana asal Indonesia dan Korea hanya terdapat pada intron 2 sedangkan antara A. dorsata Indonesia dan Malaysia terdapat pada intron 2 dan ekson 3. Topologi pohon filogeni lebah hasil kontruksi berdasarkan gen defensin 1 mendukung penelitian sebelumnya yaitu A. cerana dan A. dorsata berkerabat lebih dekat dengan A. mellifera dibandingkan dengan A. florea

    Identifikasi dan karakterisasi struktur sarang lebah Trigona (Hymenoptera: Apidae) di Bogor

    No full text
    Trigona is one genus in the social insect group. This stingless bees belong to the family of Apidae and has cavity nest. Trigona build the complex structure nest in different shapes cavities. The aims of this research were to identify the species of Trigona in Bogor and to characterize the nest structure, and the storage pots and brood combs shape, colour, size and their connections. Identification of Trigona were based on characters in hind tibia and body colour. Nest observations were carried out for the nest structure, and the storage pots and brood comb size, shape, the connections, arrangement, and colour. The identified bees were T. laeviceps. Trigona laeviceps has hind tibia length less than 2 mm, body predominantly black, forewing rather uniformly transparent, mandibula with two weak teeth, scutellum large with mesoscutellum projecting backward exceeding posterior slope of propodeum. The arrangement of nest structure from entrance to inner nest was entrance tube, batumen, involucrum, storage pot, brood comb, storage pot again. Structure and components of the nest were depend on the cavities shape. Storage pots, brood combs, and their connections have diverse shape and colour. Brood combs have relatively the same length compare to the storage pots
    corecore