1,720,960 research outputs found

    Tinjauan Misiologi tentang Peran Sinode Gereja Kristen Jawa dalam Mengentaskan Kemiskinan dan Mendukung Realisasi Sustainable Development Goals

    Get PDF
    Kemiskinan merupakan permasalahan kompleks yang sangat memengaruhi taraf hidup masyarakat. Permasalahan ini bahkan menjadi salah satu perhatian utama global yang ditandai dengan penetapan isu kemiskinan sebagai tujuan 1 dalam agenda Sustainable Development Goals (SDGs), yaitu Tanpa Kemiskinan. Sebagai negara berkembang, Indonesia juga masih berjuang menuntaskan isu ini. Tidak hanya diupayakan oleh pemerintah, tetapi juga perlu didukung oleh kolaborasi dari setiap elemen masyarakat, termasuk Gereja. Oleh karena itu, penelitian ini berusaha mengkaji upaya Gereja, khususnya sinode Gereja Kristen Jawa (GKJ), melalui Yayasan Kristen Trukajaya dalam mengentaskan kemiskinan. Kajian dilakukan dengan menggunakan pendekatan misiologi tentang missio Dei dan teori terkait, seperti fungsi sosial Gereja menurut Jürgen Habermas. Tujuan dilaksanakannya penelitian ini adalah mendorong penghayatan terhadap missio Dei dalam setiap gerak pelayanan Gereja dan meningkatkan integrasi SDGs dalam berbagai program pemberdayaan masyarakat, khususnya melalui upaya mengentaskan kemiskinan. Adapun metode penelitian yang digunakan ialah kualitatif deskriptif untuk menguraikan data mengenai landasan teologis yang dihayati Trukajaya hingga kinerja yayasan, dan menilik keterkaitannya dengan agenda SDGs. Adapun pendekatan pengambilan data dilakukan dengan studi pustaka dan purposive sampling guna menelaah kinerja Trukajaya dalam mengatasi kemiskinan dengan kaitannya terhadap missio Dei dan SDGs, tidak hanya melalui dokumen terkait tetapi diperkuat dengan informasi dari narasumber yang kredibel. Berdasarkan hasil penelitian, penulis mendapati bahwa GKJ melalui Trukajaya telah berkontribusi secara nyata dalam menyikapi persoalan kemiskinan di Indonesia. Keterlibatan tersebut telah sinkron dengan tujuan 1 “Tanpa Kemiskinan” SDGs. Di samping itu, aksi konkret Trukajaya ini juga telah merepresentasikan penghayatan yang kuat terhadap missio Dei karena mampu membuat masyarakat turut merasakan kasih Allah dan kabar sukacita dari “terang” Injil Allah.Poverty is a complex issue that significantly affects society's standard of living. It has become a primary global concern, marked by the designation of poverty as Goal 1 in the Sustainable Development Goals (SDGs) agenda, namely No Poverty. As a developing country, Indonesia is also grappling with this issue. Efforts to address it are not solely the government's responsibility but also require collaboration from every sector of society, including the Church. Hence, this study seeks to examine the efforts of the Church, particularly the synod of the Gereja Kristen Jawa (GKJ), through the Trukajaya Christian Foundation, to alleviate poverty. The study is conducted using missiological approaches to Missio Dei and relevant theories, such as the social function of the Church, according to Jürgen Habermas. This research aims to promote an understanding of missio Dei in every Church ministry and to enhance the integration of SDGs into various community empowerment programs, mainly through efforts to alleviate poverty. The research methodology employed is descriptive qualitative to elucidate data regarding the theological foundations embraced by Trukajaya to the foundation's performance and to examine its relevance to the SDGs agenda. Data collection approaches include a literature review and purposive sampling to scrutinize Trukajaya's performance in addressing poverty in relation to Missio Dei and SDGs, not only through relevant documents but also through information from credible sources. Based on the research findings, the author found that the GKJ through Trukajaya has significantly contributed to addressing poverty in Indonesia. This involvement has aligned with Goal 1, "No Poverty” of the SDGs. Moreover, Trukajaya's concrete actions have also demonstrated a solid commitment to the Missio Dei by helping communities experience God's love and the good news of his gospel

    Kajian Soteriosentrisme Paul Knitter terhadap Rumusan Pemahaman Iman GPIB tentang Keselamatan bagi Seluruh Ciptaan

    Get PDF
    Kehidupan manusia bersama ciptaan Allah lainnya memiliki hubungan yang saling membutuhkan, tetapi kerap kali manusia menjadi penyebab krisis yang mengancam keselamatan ciptaan lain dipengaruhi cara berpikir antroposentrisme. Penulis menggunakan teori soteriosentrisme Paul Knitter yang mengafirmasi keutamaan aspek cosmicum sekaligus menekankan pendekatan multi-normatif atau dialog korelasional dalam kerja sama lintas agama berpijak pada paham soteriosentris yakni upaya bertanggung jawab secara global terhadap kesejahteraan manusia dan lingkungan. Tanggung jawab untuk memperbaiki dan mencegah krisis memerlukan kesadaran dan tindakan nyata dari setiap manusia tidak terkecuali warga gereja termasuk Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB). Penelitian ini menggunakan pendekatan library research dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa GPIB telah bersungguh-sungguh menghayati karya keselamatan Allah dianugerahkan untuk menyelamatkan seluruh ciptaan dan meyakini pentingnya bekerja bersama seluruh pihak demi mewujudkan keutuhan seluruh ciptaan. Dengan demikian, GPIB telah mampu mengimplementasikan prinsip soteriosentrisme yang indikatornya tertuang pada Pemahaman Iman dan program kerja GPIB yang berorientasi serius kepada keselamatan seluruh ciptaan. Dasar rumusan Pemahaman Iman yang telah baik dapat diupayakan untuk terus selaras dengan praktik aksi berkesinambungan yang tidak berhenti pada pelaksanaan suatu kegiatan atau program kerja perawatan lingkungan semata. Melainkan juga, aksi yang secara serius diarahkan guna memastikan bahwa kesadaran akan pentingnya mengusahakan keselamatan seluruh ciptaan sunguh-sungguh terinternalisasi dengan kuat pada seluruh warga jemaat dan pelayan GPIB.Human life with God's other creations has a mutually beneficial relationship, but humans often cause crises that threaten the safety of other creations due to anthropocentric thinking. The author uses Paul Knitter's theory of soteriocentrism, which affirms the primacy of the cosmicum aspect while emphasizing a multi-normative approach or correlational dialogue in interfaith cooperation based on soteriocentrism, namely efforts to take global responsibility for the welfare of humans and the environment. The responsibility to improve and prevent the crisis requires awareness and real action from every human being, including church members, including the Protestant Church in Western Indonesia (GPIB). This research uses a library research approach and interviews. The results showed that GPIB has genuinely lived the work of God's salvation bestowed to save all creation and believes in the importance of working with all parties to realize the wholeness of all creation. Thus, GPIB has implemented the principle of soteriocentrism, whose indicators are contained in the Understanding of Faith and GPIB's work program, which is seriously oriented towards the salvation of creation. The basic formulation of the Understanding of Faith that has been good can strive to continue to be aligned with the practice of sustainable action that does not stop at the implementation of an activity or work program for environmental care alone. Instead, action is seriously directed at ensuring that awareness of the importance of seeking the salvation of all creation is strongly internalized in all members of the congregation and GPIB ministers

    Tinjauan Teologi Agama-agama terhadap Pemahaman Anggota Gerakan Pemuda GPIB Immanuel Samarinda tentang Realita Pluralitas Agama

    Get PDF
    Penelitian ini membahas pemahaman anggota Gerakan Pemuda GPIB Jemaat Immanuel Samarinda terhadap realita pluralitas agama. Pemahaman yang dimiliki anggota GP dibedah menggunakan tinjauan teologi agama-agama dari beberapa tokoh. Metode penelitian yang digunakan yakni kualitatif dengan teknik wawancara dan observasi serta dilengkapi studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa anggota GP memiliki pemahaman bahwa realita pluralitas agama adalah kenyataan yang tak terelakkan sehingga sudah sepatutnya diterima, dan pemahaman ini dipengaruhi oleh faktor pengalaman langsung maupun tidak langsung. Faktor yang dimaksudkan berupa pengaruh pendidikan, pengaruh paparan informasi dari media, serta pengaruh dari interaksi sosial yang dilakukan. Penerimaan terhadap realita pluralitas agama yang dilakukan anggota GP dibuktikan melalui tindakan nyata seperti halnya terlibat dalam kegiatan lintas agama, salah satunya menjadi tenaga relawan dalam kegiatan vaksinasi di tengah Pandemi COVID-19 bersama komunitas penganut agama lain. Pemetaan yang dilakukan dengan menggunakan teori aturan dasar dialog Swidler menghasilkan catatan evaluasi bahwa pengalaman berdialog lintas agama perlu untuk lebih memperhatikan penerapan paham kesetaraan dan tidak mendominasi, penting juga menerapkan keterbukaan yang tulus untuk memahami mitra dialog yang berbeda agama sehingga pelaksanaan dialog lintas agama selanjutnya dapat optimal. Lebih jauh, hasil analisis berdasarkan pemikiran Banawiratma dan Zainal Abidin Baqir tentang momen-momen pelaksanaan dialog menyoroti temuan bahwa kesamaan nasib dan kepedulian terhadap suatu masalah global menjadi titik berangkat yang paling relevan dalam melakukan dialog lintas agama bagi generasi muda termasuk anggota GP. Hal ini selaras dengan telaah model mutualitas Knitter bahwa anggota GP GPIB Jemaat Immanuel Samarinda melalui keterlibatan sebagai relawan dalam kegiatan vaksinasi, menghayati bahwa berdialog serta berinteraksi lintas agama tidak melulu mengambil ruang diskursus teologis tetapi juga dapat terjadi secara nyata dengan beraksi bersama mengatasi masalah sosial yang ada. Sedangkan pada analisis model penerimaan tampak bahwa anggota GP dapat memahami bahwa perbedaan agama yang ada tidak menjadi batasan untuk memberikan rasa hormat dan saling memahami, sehingga tidak memaksakan penganut agama lain harus sama dalam pandangan keagamaan seperti yang mereka hayati.This study explores the understanding of members of the Youth Movement (Gerakan Pemuda, GP) of GPIB Jemaat Immanuel Samarinda regarding the reality of religious pluralism. The members' understanding is examined through the lens of theological perspectives on religions from several prominent figures. The research employs a qualitative method, utilizing interviews, observations, and literature studies. The findings reveal that GP members perceive religious pluralism as an unavoidable reality that should be embraced. This understanding is influenced by both direct and indirect experiences, including the impact of education, media exposure, and social interactions.The acceptance of religious pluralism among GP members is demonstrated through concrete actions, such as participating in interfaith activities, including volunteering in vaccination programs during the COVID-19 pandemic alongside members of other religious communities. Using Swidler's rules for dialogue theory, the study highlights the need for greater emphasis on applying principles of equality and non-domination in interfaith dialogues. Sincere openness to understanding partners of different faiths is also essential to optimizing future interfaith dialogue initiatives.Furthermore, an analysis based on the thoughts of Banawiratma and Zainal Abidin Baqir on the moments of dialogue execution reveals that shared concerns and solidarity in addressing global issues serve as the most relevant starting points for interfaith dialogue among the younger generation, including GP members. This aligns with Knitter's mutuality model, which illustrates that GP members of GPIB Jemaat Immanuel Samarinda experience interfaith dialogue not solely as theological discourse but as tangible collaboration in addressing social challenges.Finally, through the lens of the acceptance model, the study finds that GP members understand that religious differences do not limit mutual respect and understanding. They refrain from imposing their own religious views on others, fostering a spirit of respect for diversity

    Peran Partisipatif Unit Dialog Antar Iman GBKP di Kabupaten Karo dalam Perspektif Teori Model Mutualitas Paul Knitter

    Get PDF
    eberagaman merupakan fakta yang sangat melekat pada jati diri bangsa. Bahkan keberagaman itu sendiri menjadi komposisi utama yang membentuk Indonesia dengan cita rasa terbaiknya. Dalam konteks yang demikian, menjadi wajar jika perdamaian dan kolaborasi menjadi semangat dan martabat hidup masyarakat Indonesia. Kendati demikian, kita justru menjumpai ada begitu banyak persoalan yang memperlihatkan kegagapan kita saat berjumpa dengan fakta keberagaman itu sendiri. Meski demikian, pelbagai upaya merawat, mengelola, mengkaryakan keberagaman juga nyata dikerjakan secara serius. Sebagai contoh di Kabupaten Karo, kita akan mendapati suasana masyarakat lintas agama yang hidup rukun dan damai. Kolaborasi antar agama menjadi hal yang intens dijumpai. Unit DAI GBKP sebagai gereja yang pelayanannya berangkat dari konteks Kabupaten Karo yang kaya dengan fakta pluralitas agamanya, turut berperan aktif dalam merawat perdamaian agama-agama di tengah kehidupan bergereja dan bermasyarakat di Kabupaten Karo. Peranan aktif unit DAI GBKP berangkat dari sebuah keterpanggilan untuk menjadi kawan sekerja Allah dalam menyatakan rahmat Allah bagi dunia. Mereka yang berada diluar gereja dipandang sebagai rekan dialog untuk mengerjakan kewajiban etis bersama. Dialog yang dikerjakan unit DAI GBKP sebagai peran partisipatifnya dalam membangun perdamaian agama-agama di Kabupaten Karo dianalisis dalam penelitian ini menggunakan teori teologi agama-agama Paul Knitter. Dalam penelitian ini nantinya metode penelitian yang dipakai ialah metode deskriptif, karena penulis ingin melihat bagaimana fungsionalisasi organisasi DAI GBKP dalam perannya memelihara perdamaian agama-agama di Kabupaten Karo. Manfaat penelitian ini dapat membangun kesadaran di tengah warga jemaat GBKP terkait bagaimana jemaat sebagai gereja dipanggil menyikapi realita pluralitas agama. Hasil penelitian ini menegaskan bahwa model mutualitas merupakan model pendekatan yang paling terefleksikan dalam sikap dan peran unit DAI GBKP. Agama-agama terhubung karena sama-sama berupaya mengatasi keprihatinan bersama demi terwujudnya kesejahteraan bersama

    Coping stress perempuan penyintas pelecehan seksual

    Get PDF
    Pelecehan seksual merupakan segala bentuk tindakan baik fisik maupun non fisik, yang merujuk kepada seks dan seksualitas seseorang, tanpa persetujuan termasuk penggunaan kekuasaan dan bersifat merendahkan, dimana korban kehilangan dan/atau direduksi dayanya untuk terlibat dalam pemberian persetujuan atas tindakan seksual. Bagi perempuan penyintas pelecehan seksual, pelecehan seksual memberikan dampak yang sangat besar yang jika dibiarkan akan mengganggu seluruh aspek dan proses kehidupannya. Diperlukan berbagai strategi coping agar dapat mengatasinya, salah satunya adalah coping religious. Coping religious merupakan bentuk pemanfaatan aspek-aspek agama dalam mengurangi stress. Soteriologi merupakan aspek agama yang dimanfaatkan sebagai coping religious. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis bagaimana signifikansi penghayatan soteriologi terhadap coping stress perempuan penyintas pelecehan seksual yang akan dikaji dari sudut pandang psikologi agama. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif dengan desain fenomenologi. Teknik pengambilan data menggunakan teknik proposive sampling dengan subjek penelitian yakni perempuan dewasa penyintas pelecehan seksual beragama Kristen. Teknik pengambilan data dalam wawancara ini adalah wawancara mendalam. Hasil penelitian menunjukan perempuan dengan pengalaman pelecehan seksual mengalami berbagai dampak baik itu fisik, psikis, sosial budaya dan spiritualitas. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa, soteriologi memiliki signifikansi terhadap coping stress perempuan penyintas pelecehan seksual dalam mengatasi berbagai dampak pelecehan seksual yang dialami, yakni menolong memiliki gambaran positif terhadap diri, merasa diterima dan tidak sendirian, mengurangi berbagai perasaan negatif, berdamai dengan diri sendiri dan orang lain serta menemukan makna hidup baru.Sexual harassment is any form of physical or non-physical action, that refers to the sex and sexuality of a person, without consent including the use of power, and is degrading, where the victim is deprived and reduced in their power to engage in giving consent to sexual acts. For women survivors of sexual harassment, sexual harassment has a huge impact which if left unchecked will disrupt all aspects and processes of her life. There are various coping strategies to overcome it, including religious coping. Religious coping is a form of utilizing religious aspects to reduce stress. Soteriology is an aspect of religion that is used as religious coping. The purpose of this study is to analyze the significance of soteriology appreciation on coping stress of women survivors of sexual harassment which will be studied from the perspective of the psychology of religion. The research method used is qualitative research with a phenomenological design. The retrieval technique used a purposive sampling technique with the research subject being an adult female survivor of sexual harassment in the Christian religion. The data collection technique in this interview is in-depth interviews. The results showed that women with experience of sexual harassment experience various impacts, be it physical, psychological, social, cultural, and spiritual. The results also show that soteriology has significance to the coping stress of women survivors of sexual harassment in overcoming the various impacts of sexual harassment that they experienced, namely helping to have a positive picture of self, feeling accepted and not alone, reduce various negative feelings, make peace with themselves and others, and finding new meaning in life

    Kajian Teologis terhadap Pemahaman Jemaat GMIT Kota Baru tentang Nazar

    Get PDF
    Penelitian ini akan mendeskripsikan pemahaman tentang nazar menurut jemaat Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) Kota Baru dan pemahaman tentang nazar ditinjau dari sisi teologis. Persembahan nazar sendiri menjadi salah satu simbol dalam tradisi kekristenan yang sering didapati dalam peribadahan sebagai representasi atas hal-hal yang dipercayai. Secara teologis, nazar merupakan komitmen atau janji atas ketetapan sebuah ucapan yang dilakukan oleh seseorang terhadap Tuhan. Seseorang melakukan nazar karena memahami bahwa dirinya terbatas sehingga membutuhkan Tuhan. Nazar dapat dikatakan sakral karena berhubungan dengan Tuhan khususnya janji yang diucapkan seseorang untuk melakukan suatu hal, bukan hanya permohonan. Nazar adalah bagian dari ibadah yang mewujudkan pemberian persembahan, artinya terdapat refleksi syukur kepada Tuhan atas apa yang Tuhan lakukan terkait apa yang dimohonkan. Jadi nazar mengandung aspek permohonan sekaligus janji syukurnya. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dengan menggunakan metode penelitian kualitatif, sebagian besar warga jemaat ini cukup memiliki pemahaman yang khas tentang nazar. Realitanya nazar dipahami sebagai bentuk curahan hati kepada Tuhan atas pergumulan yang dihadapi jemaat, kemudian pergumulan tersebut disampaikan melalui tulisan pada amplop-amplop nazar. Hal ini dikarenakan, sebagian besar warga jemaat adalah jemaat yang berpindah dari jemaat asal sebelumnya dengan membawa beragam pemahaman salah satunya nazar. Di sisi lain, minimnya upaya dan pengajaran tentang nazar yang dilakukan oleh gereja mengakibatkan jemaat masih memiliki pemahaman yang khas tentang nazar

    Makna Saloi bagi Perempuan Jemaat GPM Iloana dikaji dari Perspektif Feminisme Antropologi

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pandangan perempuan Jemaat GPM Iloana mengenai makna saloi dalam Perspektif Feminisme Antropologi. Penelitian ini dilaksanakan di Dusun Iloana, Negeri Seti, Kecamatan Seram Utara Timur Seti, Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku. Adapun hasil yang diperoleh adalah, pemahaman bahwa perempuan memiliki kekuatan, peranan menafkahi keluarga, dan kehormatan yang setara dengan laki-laki dalam ruang sosial di Seram terkhususnya di Jemaat GPM Iloana. Adapun pemaknaan tersebut terefleksikan melalui penggunaan saloi bagi para perempuan Jemaat GPM Iloana. Saloi adalah sebuah alat tradisional dari Maluku yang berfungsi untuk mengangkat beban. Saloi berbentuk seperti keranjang yang mengerucut kecil ke bawah. Selain berfungsi sebagai sebuah alat untuk bekerja, saloi juga merupakan bagian identitas mereka. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa, kehidupan masyarakat Maluku terkhususnya perempuan Jemaat GPM Iloana dipengaruhi oleh budaya atau tradisi karena memiliki nilai-nilai positif yang mencakup relasi sosial antara sesama. Hal ini semakin jelas bahwa dengan adanya saloi, yang membuktikan bahwa derajat kesetaraan perempuan pada hakekatnya sejak dulu kala, telah terbangun dalam ruang lingkup sosial masyarakat di Maluku

    Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis

    Get PDF
    The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed

    Kajian Teologi Kontekstual terhadap Pemaknaan Warga Jemaat GPIB Solo Utara Surakarta Mengenai Gunungan Wayang

    Get PDF
    Penelitian ini berfokus pada upaya menggali makna teologis yang dihayati oleh warga jemaat GPIB Solo Utara, Surakarta mengenai wujud kontekstualisasi yang nyata melalui gunungan wayang dan salib sebagai realita konteks, serta mengkaji model teologi kontekstual yang relevan sesuai pemaknaan yang dihidupi. Penelitian ini menjadi penting dikarenakan berbicara teologi tidak bisa tidak kontekstual, sebab Dia adalah Allah yang terus hidup dan menghidupi segala konteks untuk menyatakan perbuatan tangan-Nya yang ajaib, tidak terkecuali dalam konteks kehidupan masyarakat Jawa dengan gunungan yang erat menggambarkan identitas kebudayan mereka. Makna teologis yang dihidupi oleh jemaat mengenai gunungan wayang dalam hubungan dengan salib sebagai usaha berteologi kontekstual akan diselidiki dengan metode penelitian kualitatif. Pengumpulan data dilakukan melalui teknik wawancara dengan narasumber yang mewakili keberadaan konteks, serta olah data diupayakan dengan pendekatan deskriptif-analitis untuk menggali realita konteks dengan interpretasi yang tepat. Hasilnya mengungkapkan bahwa kontekstualisasi teologi yang dibangun oleh GPIB Jemaat Solo Utara, Surakarta mengindikasikan dua model kerja berteologi kontekstual, yakni model antropologis dan model transendental. Keduanya hendak menyatakan bahwa teologi yang kontekstual adalah teologi yang dinyatakan secara autentik oleh pribadi maupun komunitas berdasarkan pengalaman bersama dan di dalam Allah yang dialami dari konteks dimana seseorang hidup dan bertumbuh.This study focuses on efforts to explore the theological meaning experienced by the GPIB Jemaat Solo Utara, Surakarta, regarding the actual form of contextualization through gunungan wayang and the cross as the reality of the context. It examines the relevant contextual theology model according to the lived meaning. This study is important because speaking of theology cannot be without context because He is God who continues to live and enliven all contexts to reveal His miraculous works, including in the context of Javanese society with gunungan that closely depicts their cultural identity. The theological meaning experienced by the congregation regarding gunungan wayang with the cross as an effort to do contextual theology will be investigated using qualitative research methods. Data collection will be carried out through interview techniques with sources who represent the existence of the context, and data processing will be attempted with a descriptive-analytical approach to explore the reality of the context with the proper interpretation. The results reveal that the contextualization of theology built by the GPIB Jemaat Solo Utara, Surakarta, indicates two models of contextual theology work, namely the anthropological and transcendental models. Both of them want to state that contextual theology is a theology that is authentically stated by individuals or communities based on shared experiences and in God experienced from the context in which a person lives and grows
    corecore