1,720,993 research outputs found

    Nitrogen Resorption and Nitrogen Use Efficiency in Cacao Agroforestry Systems Managed Differently in Central Sulawesi

    No full text
    Cacao agroforestry is a traditional form of agriculture practiced by the people of Central Sulawesi. These agroforestry systems vary from a simple system following selective cutting of forest trees, to a more sophisticated planting design. The cacao was planted under remaining forest covers (CF1), under planted trees (CF2), and between shade trees Gliricidia sepium (CP). The objectives of this study were to quantify nitrogen use efficiency (N NUE) and nitrogen resorption in cacao agroforestry systems. The N NUE at the ecosystem scale (N NUEES) for the cacao agroforestry systems were compared with the natural forest. The results showed that CP produced the highest litterfall and cacao foliar nitrogen. CP and CF1 produced litterfall and the nitrogen resorption that not were significantly different. In contrast, CF2 produced the lowest litterfall, hence required lower nitrogen supply. The nitrogen resorption of CF2 was less than that of CF1 and CP. However, N NUE in cacao plant (N NUEC) of CF2 was higher than that of the CP. The N NUEES of either CF1 or CF2 were similar to that of the natural forest, but higher than that of the CP. Using shade trees in cacao plantations increased foliar nitrogen concentration, nitrogen resorption, N NUEC and N NUEES; thus, might be one reason for a higher productivity of cacao in unshaded systems

    Dinamika Struktur Komunitas Fitoplankton dan Keterkaitannya dengan Nutrien di Danau Segara Anak Gunung Rinjani.

    No full text
    Danau Segara Anak merupakan danau vulkanik yang terletak di kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani. Danau ini terbentuk akibat letusan Gunung Rinjani. Danau Segara Anak mempunyai fungsi sebagai objek wisata bagi wisatawan domestik maupun mancanegara. Aktivitas vulkanik dan antropogenik di sekitar Danau Segara Anak berpotensi mempengaruhi kualitas perairan danau tersebut. Fitoplankton merupakan organisme perairan yang dapat merespons perubahan yang terjadi di suatu perairan melalui kelimpahan, komposisi jenis, dan produktivitas primer fitoplankton. Tujuan penelitian ini adalah untuk mempelajari struktur komunitas fitoplankton serta hubungannya dengan faktor fisika dan nutrien yang ada di Danau Segara Anak secara spasial dan temporal. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Oktober sampai bulan Desember 2017 di Taman Nasional Gunung Rinjani, Lombok Nusa Tenggara Barat. Pengambilan contoh dalam penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling method. Data penelitian yang diambil berupa data fitoplankton, faktor fisika, nutrien, klorofil-a, dan produktivitas primer. Analisis data yang digunakan antara lain Analysis of Variance (Anova), Kruskal Wallis, Cluster Analysis, dan Analisis komponen utama. Hasil Penelitian ini menunjukkan terdapat pengaruh beberapa faktor fisika dan nutrien di perairan Danau Segara Anak terhadap kelimpahan, komposisi jenis, dan produktivitas fitoplankton. Stasiun I dan II memiliki kelimpahan fitoplankton yang tertinggi diantara stasiun lainya.Kedua stasiun tersebut merupakan stasiun yang terdekat dengan aktivitas vulkanik dan kegiatan antropogenik. Analisis spasial dan temporal juga menunjukkan perbedaan terhadap kelimpahan fitoplankton di Danau Segara Anak. Kelimpahan fitoplankton di perairan danau Segara Anak didominasi oleh kelas Cyanophyceae

    Kemampuan Tanaman Hias dalam Menjerap Debu yang Dihasilkan oleh Kendaraan Bermotor (Studi Kasus: Bumi Serpong Damai)

    No full text
    There are many researches about plants based by their ability of sensitivity and tollerance for pollutant. This research measured kind of plants that planted in Bumi Serpong Damai, South Tangerang for adsorbing dust caused by vehicles. The location divided based on traffic level: high, medium and low. This research used 2 methods, measuring ever 4 hours and every 24 hours. The measurement every 4 hours at high traffic location stated that Heliconia adsorb dust highest, it is 53.73 mg/hour. At medium traffic location, Kaca Piring adsorb dust highest, it is 40.19 mg/hari. At low location Pandan Kuning adsorb dust highest, it is 26.82 mg/hour.The measurement every 24 hours at high traffic location stated that Heliconia adsorb dust highest, it is 59.53 mg/day.The measurement every 4 hours is better than measurement every 24 hours. This method affected by double tape saturation andadhesive decreasecaused the data become error. At medium traffic location, Kaca Piring adsorb dust highest, it is 47.95 mg/day. At low location Rowelia Tegak adsorb dust highest, it is 39.75 mg/dayHeliconia, Rowelia Tegak, Kaca Piring and Pandan Kuning are kind of plants that could adsorb dust well. Plant choosing based the leave surface could help adsrobing the dust more effective. Besides, combining the plants will be more effective for adsorbing dust

    Kerapatan Vegetasi, Model Arsitektur Akar, Serta Simulasi Hidrodinamika Rhizophora apiculata Bl di Teluk Bone, Sulawesi Selatan.

    No full text
    Mangrove adalah satu-satunya ekosistem yang tumbuh dan berkembang di daerah pesisir, yaitu daerah pertemuan darat dan laut, yang dibentuk oleh interaksi biota, bentangan alam, aliran air, dan atmosfer lingkungan. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk menganalisis vegetasi hutan mangrove untuk membuat simulasi dari sistem perakaran Rhizophora apiculata Bl terkait kemampuannya dalam proses hidrodinamika fluida air laut di Dusun Lompo, Kecamatan Awangpone, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan. Kriteria tumbuhan yang dijadikan model acuan berusia minimum sekitar lima tahun dan memiliki tinggi minimum sekitar 2 m. Variabel yang diukur adalah tinggi dan diameter batang utama, panjang dan diameter akar primer, akar sekunder, serta akar tersier. Parameter dari simulasi adalah kecepatan rata-rata permukaan laut, tekanan dinamis air laut, serta koefisien seret Teluk Bone dengan menggunakan CFD. Berdasarkan hasil penelitian, daerah yang memiliki kerapatan padat berada pada kilometer kedua, sebesar 3 035 individu (10 117 individu/ha), kerapatan sedang berada pada kilometer pertama, sebesar 1 955 individu (6 517 individu/ha), dan kerapatan jarang berada pada kilometer ketiga, sebesar 1 024 individu (3 413 individu/ha). Kecepatan rata-rata air laut yang paling rendah berada pada pola tanam alami kerapatan padat, sebesar 1.102 m/s, sedangkan yang tertinggi berada pada pola tanam sejajar kerapatan jarang, sebesar 1.248 m/s. Tekanan dinamis terendah berada pada pola tanam alami kerapatan padat, sebesar 636.714 Pa, sedangkan yang tertinggi berada pada pola tanam sejajar kerapatan jarang, sebesar 792.009 Pa. Koefisien seret yang tertinggi berada pada pola tanam alami kerapatan padat, sebesar 0.135 (RMSE: 6x10-4), sedangkan yang terendah berada pada pola tanam sejajar kerapatan jarang, sebesar 0.033 (RMSE: 2x10-4)

    Status dan Keragaman Mikoriza Arbuskula pada Tanaman Serai Wangi (Cymbopogon nardus L.) di Lapangan

    No full text
    Status dan keragaman mikoriza pada tanaman serai wangi di lapangan belum dilaporkan. Penelitian ini bertujuan mempelajari status dan keragaman CMA pada tanaman serai wangi di lapangan pada lahan tidak ternaungi dan yang ternaungi. Pengambilan sampel akar untuk analisis kolonisasi dan tanah rizosfer untuk identifikasi CMA secara morfologi dilakukan di perkebunan tanaman serai wangi, Cianjur, Jawa Barat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanaman serai wangi ialah tanaman mikotropik yaitu bersimbiosis dengan CMA. Kolonisasi CMA pada lahan tidak ternaungi lebih tinggi dari lahan yang ternaungi. Kualitas kolonisasi CMA tanaman serai wangi berbeda antara dua sistem budidaya tersebut. Pada lahan tidak ternaungi, jumlah arbuskula lebih tinggi dari yang ternaungi yaitu masing-masing 7 dan 4 per cm akar. Jumlah titik penetrasi CMA pada kedua lahan tersebut tidak berbeda nyata yaitu 3,5 per cm akar. Jumlah vesikula dan hifa internal pada lahan tidak ternaungi lebih rendah dari lahan ternaungi. Pada lahan tidak ternaungi diperoleh jumlah vesikula sebanyak 1,5 dan hifa internal 8,5 per cm akar, sedangkan pada lahan ternaungi ialah 3,5 dan 11 per cm akar. Spesies CMA pada dua sistem budidaya tanaman serai wangi berbeda dan cukup beragam. Berdasarkan identifikasi morfologi terdapat 7 spesies CMA pada lahan tidak ternaungi dan 6 spesies pada lahan ternaungi. Ke 13 spesies CMA termasuk ke dalam dua genus yaitu Glomus dan Acaulospora

    Nitrogen Resorption and Nitrogen Use Efficiency in Cacao Agroforestry Systems Managed Differently in Central Sulawesi

    No full text
    Cacao agroforestry is a traditional form of agriculture practiced by the people of Central Sulawesi. These agroforestry systems vary from a simple system following selective cutting of forest trees, to a more sophisticated planting design. The cacao was planted under remaining forest covers (CF1), under planted trees (CF2), and between shade trees Gliricidia sepium (CP). The objectives of this study were to quantify nitrogen use efficiency (N NUE) and nitrogen resorption in cacao agroforestry systems. The N NUE at the ecosystem scale (N NUEES) for the cacao agroforestry systems were compared with the natural forest. The results showed that CP produced the highest litterfall and cacao foliar nitrogen. CP and CF1 produced litterfall and the nitrogen resorption that not were significantly different. In contrast, CF2 produced the lowest litterfall, hence required lower nitrogen supply. The nitrogen resorption of CF2 was less than that of CF1 and CP. However, N NUE in cacao plant (N NUEC) of CF2 was higher than that of the CP. The N NUEES of either CF1 or CF2 were similar to that of the natural forest, but higher than that of the CP. Using shade trees in cacao plantations increased foliar nitrogen concentration, nitrogen resorption, N NUEC and N NUEES; thus, might be one reason for a higher productivity of cacao in unshaded systems

    Keanekaragaman Tumbuhan Paku Terestrial di Taman Nasional Gunung Tambora, Nusa Tenggara Barat

    No full text
    Taman Nasional Gunung Tambora (TNGT) merupakan taman nasional yang terletak di Pulau Sumbawa ini termasuk kedalam wilayah Wallacea yang memiliki endimisitas dan keunikan flora dan fauna yang sangat tinggi. Salah satu keunikan penyusun ekosistem di TNGT yaitu keanekaragaman tumbuhan paku terestrial. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi keanekaragaman jenis tumbuhan paku terestrial, mengetahui pola distribusi, dan menganalisis faktor lingkungan yang mempengaruhi keanekaragaman jenis tumbuhan paku terestrial di ekosistem hutan hujan tropis, hutan musim dan savana di kawasan Taman Nasional Gunung Tambora, Nusa Tenggara Barat. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari 2017 hingga April 2017 di tiga tipe ekosistem yaitu ekosistem hutan hujan tropis, hutan musim dan savana. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan metode kuadrat dengan membuat plot berukuran 5x5 m2 yang ditempatkan berdasarkan ketinggian tempat mulai dari 50-500 m dpl; 500-1000 m dpl; 1000-1400 m dpl; dan 1400-1800 m dpl. Parameter lingkungan yang diamati meliputi posisi dan ketinggian, intensitas cahaya, kecepatan angin dan suhu udara, kemasaman dan kelembapan tanah. Waktu pengambilan data lingkungan dilakukan tiga kali sehari pada waktu pagi, siang dan sore. Data kelimpahan tumbuhan paku terestrial dianalisis dengan menghitung Indeks Nilai Penting (INP), tingkat keanekaragaman jenis tumbuhan paku ditentukan dengan menggunakan indeks keanekaragaman (H′) Shannon- Wiener, sebaran dan pola distribusi tumbuhan paku terestrial dihitung dengan menggunakan indeks Morisita (Id), sedangkan data asosiasi keberadaan tumbuhan paku terestrial dengan lingkungan dianalisis dengan Redundancy Analysis (RDA) menggunakan software Canono versi 4.5. Spesimen tumbuhan paku terestrial dikoleksi dan diidentifikasi. Sebanyak 18 jenis tumbuhan paku terestrial yang termasuk ke dalam 11 suku. Sembilan jenis tumbuhan paku ditemukan di ekosistem hutan hujan tropis, 11 jenis pada eksosistem savana, tetapi tumbuhan paku tersetrial tidak ditemukan di ekosistem hutan musim. Keanekaragaman jenis tumbuhan paku terestrial ditemukan lebih tinggi pada ekosistem savana (H′= 2.19), daripada ekosistem hutan hujan tropis (H′=2.09). Microlepia speluncae memiliki indeks nilai penting tertinggi di ekosistem hutan hujan tropis (42.48%), sedangkan Nephrolepis hirsutula memiliki indeks nilai penting tertinggi (44.70%) di ekosistem savana. Kehadiran dan persebaran tumbuhan paku terestrial di ekosistem hutan hujan tropis dipengaruhi oleh kelembapan tanah (RH) dan pH tanah, sedangkan di ekosistem savana dipengaruhi oleh kecepatan angin dan intensitas cahaya. Ketidak hadiran tumbuhan paku terestrial di ekosistem hutan musim diduga karena faktor kelembapan tanah sangat rendah atau kering. Pola distribusi tumbuhan paku terestrial dikategorikan mengelompok pada kedua tipe ekosistem

    Daya sintas dan Laju pertumbuhan Rasamala (Altingia excelsa Noronha), Puspa (Schima wallichii (DC.) Korth.), dan Jamuju (Dacrycarpus imbricatus (Blume) de Laub.) pada Lahan Terdegradasi di Hulu DAS Cisadane

    No full text
    Changes in land use often threaten biodiversity. A slow primary succession can, however, be accelerated by conducting a restoration program. The aims of this study were to i) obtain data of survivorship and growth rate and ii) assess the influences of environmental factors on the growth of Rasamala (Altingia excelsa), Puspa (Schima wallichii), and Jamuju (Dacrycarpus imbricatus) on a degraded land in the upstream of Cisadane watershed. Observations were carried out two times: 6 and 12 months after planting. Survivorship percentages at different slopes were obtained by dividing the amount of living species during the period of the observation with the total amount of plants planted at the beginning of the observation. A PCA biplot analysis was used to assess the interaction between biotic and abiotic factors influencing the survivorship. Growth rate was done by measuring the height, diameter, and canopy spread of individual plants. Assessments of biotic and abiotic environment that influence the growth rates were also conducted. The results showed that the survivorship percentages of Rasamala, Puspa, and Jamuju were 87,18%, 82,05%, and 77,14%, respectively. On the 40° slopes, the survivorship of Rasamala was 93,75%, while those of Puspa and Jamuju were 84,61% and 66,67% respectively. On the 60% slopes, the survivorship was 82,25% for Rasamala, 81,81% and 64,70% for Puspa and Jamuju respectively. Higher growth rate was found in Jamuju, followed by Puspa and Rasamala. Environmental factors (both biotic and abiotic) significantly influenced the three species survivorship. Plant height, diameter and canopy area had significant correlations with plant growth rates.Bencana alam seperti tanah longsor dan banjir makin sering terjadi di Indonesia. Salah satu penyebabnya adalah peningkatan laju deforestasi dari 2,3% menjadi 4,5% per tahun selama periode tahun 1999-2000. Peningkatan laju deforestasi tersebut mengakibatkan luas lahan terdegradasi di Jawa Barat meningkat hingga mencapai 33,6%. Berdasarkan pertimbangan di atas perlu dilakukan restorasi ekologi dengan menggunakan spesies asli sebagai bagian dari upaya pemulihan ekosistem (habitat). Indikator keberhasilan restorasi bisa diukur melalui suatu penelitian tentang daya sintas tumbuhan yang ditanam. Rasamala (Altingia excelsa), Puspa (Schima wallichii) dan Jamuju (Dacrycarpus imbricatus) merupakan spesies-spesies asli yang mempunyai nilai konsevasi dan juga ekonomi. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan spesies dengan daya hidup dan laju pertumbuhan terbaik pada ketiga spesies yang diamati, serta menentukan karakteristik lingkungan yang mempengaruhi daya sintas dan laju pertumbuhan dari ke tiga spesies tersebut

    Potential Use of Aquatic Plant for Water Purifier of the Waste Water of Capsule Package Factory

    No full text
    The processed wastewater (in the outlet pool) of PT Capsugel Indonesia (capsule package factory) contained chlorine of 0.03-0.05 ppm, therefore they were out of water criteria of used for the aquatic lives such as fish, plankton and others. This study aimed to determine the potential use of three species of aquatic plants: kayu apu (Pistia stratiotes), kiambang (Salvinia natans) and kiapung (Azolla pinnata) for purifying wastewater of the factory. The observed parameters were chlorine, nitrate, ammonia, pH, COD and BOD before and after planting. In addition growth of the aquatic plant in the medium contained high chlorine (0.66 ppm) were also observed. The chlorine in wastewater medium with the aquatic plants was reduced. The decreased chlorine in the medium with kayu apu was lower than those with kiambang and kiapung, while chlorine slightly increased in the medium without plants. The concentration of nitrate and ammonia go up and down in the medium treated, while those of control continued to rise. The average pH medium with kayu apu and kiambang increased, however the average pH of medium planted kiambang declined. The value of COD and BOD are low in the medium of kayu apu after two days planting. Kayu apu and kiambang were not affected in medium with the chlorine of 0.66 ppm, otherwise the growth of kiapung decreased.Limbah cair PT Capsugel Indonesia setelah melalui proses pengolahan (di bak outlet) mengandung klorin 0.03-0.05 ppm, sehingga belum memenuhi kriteria yang dapat digunakan untuk kehidupan biota air seperti ikan, plankton dan lainnya. Pada kadar klorin lebih dari 0.003 ppm, kehidupan ikan dapat terganggu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi tiga spesies tumbuhan air: kayu apu (Pistia stratiotes), kiambang (Salvinia natans) dan kiapung (Azolla pinnata) sebagai water purifier limbah pabrik cangkang kapsul. Beberapa parameter yang diamati adalah klorin, nitrat, amonia, pH, Chemical Oxygen Demand (COD) dan Biological Oxygen Demand (BOD) sebelum dan sesudah penanaman. Selanjutnya juga diamati respons tumbuhan air tersebut dalam medium tumbuh (limbah cair) dengan kandungan klorin tinggi (0.66 ppm). Dua hari setelah penanaman tumbuhan air, konsentrasi klorin dalam medium limbah cair banyak berkurang. Penurunan kandungan klorin dalam medium dengan kayu apu lebih banyak dibanding tumbuhan kiambang dan kiapung, sebaliknya klorin pada medium tanpa tumbuhan air sedikit bertambah. Konsentrasi nitrat dan amonia turun dan naik selama perlakuan, sedangkan konsentrasi nitrat dan amonia pada kontrol terus naik. Perlakuan dengan tumbuhan air menghasilkan nilai pH rata-rata juga mengalami peningkatan, kecuali pada perlakuan dengan kiambang nilai rata-rata pertumbuhan mengalami penurunan. Nilai COD dan BOD yang rendah ditemukan pada perlakuan dengan tanaman kayu apu pada akhir pengamatan. Kayu apu dan kiambang pada medium dengan kandungan klorin 0.66 ppm tidak berpengaruh, sebaliknya pertumbuhan kiapung terganggu
    corecore