925 research outputs found
Keragaan In Vitro dan In Vivo Hibrida Somatik antara Solanum melongena cv. Dourga dengan Solanum torvum Sw.
Eggplant is the plant which susceptible to several diseases. One attempt to improve these caracters is combining the eggplant cultivar with its wild relatives through protoplast fusion. The research was conducted to study the variability in vitro and in vivo of somatic hybrids between Solanum melongena cv. Dourga with Solanum torvum Sw. This study used seven clones, Solanum melongena cv. Dourga, Solanum torvum Sw., and 5 clones of somatic hybrids (SMST1, SMST2, SMST3, SMST4, and SMST5) was arranged with completely randomized design single factor. The variables measured were plant height, number of leaves, leaf length, petiole length, number of roots, root length, number of stem segment, stem color, petiole color, the number of spines on the leaf surface, and leaf blade lobing. In in vitro conditions, the growth of Solanum torvum Sw. significantly different with the five somatic hybrid clones, with higher vigor. Clones SMST1, SMST2, and SMST4 showed better growth than clone SMST3 and SMST5. In in vivo condition, the clones tested had a similarity with Solanum torvum Sw
Induksi Tetraploid Pada Pamelo (Citrus Maxima (Burm.) Merr.) Melalui Perlakuan Kolkisin Dan Fusi Protoplas Serta Perbanyakannya Secara In Vitro
Pamelo (Citrus maxima (Burm.) Merr.) merupakan jenis jeruk unggul nasional yang penting untuk dikembangkan. Produksi pamelo secara nasional masih rendah dibandingkan dengan produksi jeruk siam karena daerah pengembangannya juga terbatas. Kuantitas dan kualitas pamelo Indonesia masih perlu ditingkatkan agar mampu bersaing di pasar global. Program pemuliaan pamelo secara bioteknologi diharapkan dapat melengkapi pemuliaan konvensional untuk memperoleh hasil yang lebih baik. Penelitian ini bertujuan mengembangkan teknologi induksi tanaman tetraploid dan fusi protoplas untuk meningkatkan kualitas tanaman dan mengembangkan teknologi perbanyakannya melalui organogenesis maupun embriogenesis. Penerapan teknik tersebut, perlu dikembangkan karena pamelo merupakan tanaman buah berkayu tahunan dan bersifat monoembrionik sehingga banyak mengalami kesulitan dan memerlukan waktu lama untuk pemuliaan dan perbanyakan. Induksi tanaman tetraploid dilakukan dengan merendam eksplan biji berkecambah, tunas pucuk dan buku kotiledon dalam larutan kolkisin kemudian deteksi tingkat ploidi dilakukan dengan flow sitometer. Fusi protoplas dengan 40% PEG dilakukan antara pamelo ‘Nambangan’ dan keprok ‘Garut’ melalui tahapan isolasi protoplas secara enzimatik, fusi dan regenerasi protoplas hasil fusi hingga terbentuk koloni sel. Perbanyakan pamelo melalui organogenesis dilakukan dengan eksplan tunas pucuk, buku dan buku kotiledon pada media MS0 padat dan cair dengan penambahan 0.5 mgL-1 BAP atau Kinetin. Perbanyakan in vitro dilakukan dari tahap multiplikasi tunas hingga aklimatisasi dan sambung mikro dengan batang bawah Japansche Citroen. Perbanyakan melalui embriogenesis dilakukan dengan eksplan bulir daging buah, biji muda, tunas pucuk dan potongan daun untuk induksi kalus pada media MS0 dengan penambahan 0.5 dan 1.0 mgL-1 2,4-D atau NAA, eksplan biji muda kupas digunakan untuk induksi embrio adventif pada media MS0 yang ditambahkan 3 mgL-1 BAP dan 1 mgL-1 2,4-D. Tahap induksi embrio somatik dilanjutkan hingga regenerasi tunas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tunas pamelo tetraploid berhasil didapatkan dengan perendaman eksplan kecambah biji in vitro, tunas pucuk dan buku kotiledon dalam 0.1% kolkisin selama 1, 3 dan 5 jam. Perlakuan yang menghasilkan tunas tetraploid tertinggi yaitu sebesar 60% adalah eksplan tunas pucuk yang direndam dalam 0.1% kolkisin selama 1 jam. Fusi antara pamelo ‘Nambangan’ dan keprok ‘Garut’ telah menghasilkan koloni sel sehingga metode isolasi dengan 0.5% selulase dan 0.5% maserozim selama 16 jam, fusi dengan 40% PEG selama 8-10 menit dan tahap awal kultur pada media BH3 cair dapat diulang dan dilanjutkan untuk proses regenerasi selanjutnya. Perbanyakan tunas secara in vitro telah berhasil dilakukan dengan eksplan terbaik yaitu buku kotiledon pada media padat. Tahap pembentukan akar dilakukan secara in vitro dengan media terbaik adalah MS0 dengan pengurangan konsentrasi hara makro karena planlet dapat hidup selama proses aklimatisasi. Teknik sambung mikro juga berhasil dilakukan dan dikonfirmasi dengan terjadinya penggabungan berkas pembuluh dengan sayatan melintang batang. Embrio somatik pamelo berhasil diinduksi secara langsung dari eksplan biji muda kupas berdiameter 4-6 mm pada media MS yang mengandung 3 mgL-1 BAP dan 1 mgL-1 2,4-D. Embrio adventif dapat beregenerasi menghasilkan planlet. Perbanyakan planlet bermanfaat untuk menyediakan bahan untuk induksi tetraploid sekaligus menyiapkan metode untuk memperbanyak tanaman tetraploid sampai dihasilkannya bibit unggul di lapangan
Seleksi Tanaman Jeruk Toleran Salinitas Hasil Iradiasi Sinar Gamma dan Fusi Protoplas.
Konversi lahan untuk non pertanian, sistem budidaya yang belum tepat, dan serangan patogen adalah beberapa faktor yang mengakibatkan menurunnya produksi jeruk di Indonesia. Produksi jeruk harus bisa dilakukan pada lahan marginal seperti lahan dengan salinitas yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan klon jeruk yang toleran terhadap salinitas. Klon yang diseleksi berasal dari hasil iradiasi sinar gamma 150 Gy dan hasil fusi protoplas. Penelitian ini dilakukan dari Bulan April hingga Bulan September 2015 di laboratorium kultur jaringan, Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Penelitian dilakukan dengan dua tahap percobaan, percobaan pertama adalah multiplikasi tunas secara in vitro sebagai sumber eksplan dengan dua faktor yaitu faktor pertama adalah konsentrasi tidiazuron 0, 0.1, 0.2, 0.3 mg l-1 dan faktor kedua adalah lama pemaparan 2 dan 4 minggu. Percobaan ke dua adalah mendapatkan klon jeruk toleran salinitas dengan dua faktor, faktor pertama adalah konsentrasi NaCl 0, 0.5, 0.75, 1 g l-1 dan 3 klon jeruk yaitu FS6, M150, dan S12 sebagai faktor kedua. Kedua percobaan dilakukan dengan menggunakan rancangan acak lengkap. Hasil yang didapat menunjukkan bahwa media terbaik untuk perbanyakan tunas jeruk adalah media MS ditambahkan 0.2 mg l-1 TDZ dengan 4 minggu lama pemaparan, kemudian dipindahkan ke media MS yang ditambah dengan Vitamin MW. Klon yang toleran terhadap salinitas hingga pada konsentrasi NaCl 1 g l-l adalah klon jeruk FS6
Regenerasi Jeruk Siam melalui Embriogenesis Somatik
<p>The Regenerated of Siam Tangerin through Somatic<br />Embryogenesis. Ali Husni, Agus Purwito, Ika Mariska,<br />and Sudarsono. Somatic embryogenesis occurs in most<br />plants that are cultured on a suitable medium in vitro.<br />Somatic embryo may arise from single cells and the embryogenic<br />cells are widely applicable in plant propagation,<br />genetic manipulation and transgenic technologies. The<br />present study was carried out to develop an effective<br />somatic embryogenesis technique to regenerate Siam<br />tangerine plants. Materials used in this study were nucellar<br />tissues of young fruits (30-90 days post anthesis). Induction<br />of embryogenic calli was done by culturing the tissues on<br />three different basal media (MS, MW and MT). Embryo<br />maturation was done on the MW medium + ABA (0; 0.1; 0.3;<br />dan 0.5 mg/l), while germination to plantlet development<br />was done on WS medium + GA3 (0, 0.1, 0.3, and 0.5 mg/l).<br />The results showed that among the three media, MW was<br />the best medium for callus induction from nucellar tissues<br />with a success rates 98% for Simadu and 100% for<br />Pontianak. The best maturation of embryo somatic was<br />done on MW medium + ABA 0.5 mg/l with success rates<br />99%, while the best medium for germination and development<br />into planlets was MW medium + 0.5 mg/l GA3 with a<br />success rate 58%.</p></jats:p
Regenerasi, Keragaman dan Ketahanan Propagul Klonal Anggrek Phalaenopsis Hibrida terhadap Infeksi Dickeya dadantii
Anggrek Phalaenopsis merupakan tanaman hias yang banyak digemari
oleh masyarakat karena memiliki keragaman baik dalam warna, bentuk bunga
maupun karakteristik lainnya yang unik, oleh karena itu banyak orang yang ingin
mengusahakannya, sehingga penyediaan bibit menjadi faktor penting dalam
agribisnis anggrek. Kelemahan perbanyakan anggrek secara konvensional adalah
membutuhkan waktu yang lama. Salah satu usaha untuk meningkatkan produksi
bibit secara cepat, banyak dan seragam adalah melalui kultur jaringan. Salah satu
kelemahan propagasi klonal in vitro adalah kemungkinan adanya variasi
somaklonal. Disisi pemuliaan tanaman, variasi somaklonal berguna untuk
mendapatkan keragaman genetik baru yang belum ada sebelumnya. Secara umum
penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan protokol propagasi klonal anggrek
Phalaenopsis dan mengidentifikasi adanya variasi somaklonal pada planlet yang
dihasilkan. Penelitian ini terbagi menjadi 2 percobaan: (1) multiplikasi tunas
anggrek Phalaenopsis pada media perlakuan BAP dan analisis keragaman genetik
planlet klonal dengan marka SNAP pada Phalaenopsis „Salbellina-IPB‟ no 1102-
44 hasil multiplikasi dan (2) evaluasi respon ketahanan propagul klonal anggrek
terhadap bakteri dickeya dadantii.
Percobaan pertama bertujuan untuk mengevaluasi respon beberapa
genotipe anggrek Phalaenopsis terhadap konsentrasi BAP dalam multiplikasi
anggrek Phalaenopsis in vitro dan analisis keragaman planlet klonal anggrek
Phal. „Salbellina-IPB‟ no 1102-44 dengan marka SNAP. Terdapat satu populasi
anggrek hibrida multigenotipe yaitu, Phal. amabilis x KHM 421 dan dua genotipe
hibrida Phalaenopsis „Salbellina-IPB‟ yaitu Phalaenopsis „Salbellina-IPB‟ no
1102-38 dan Phalaenopsis „Salbellina-IPB‟ no 1102-44 yang diuji dalam
penelitian ini. Perlakuan zat pengatur tumbuh BAP yang digunakan yaitu 0 μM,
11.09 μM, 22.19 μM, 33.29 μM dan 44.39 μM. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa media terbaik untuk jumlah tunas dan jumlah daun terbanyak adalah pada
perlakuan 22.19 μM BAP pada ketiga anggrek hibrida Phalaenopsis. Media
terbaik untuk pertumbuhan akar adalah pada 0 μM BAP pada populasi Phal.
amabilis x KHM 421, sedangkan untuk pertambahan jumlah PLBs adalah pada
media dengan penambahan 11.09 μM BAP dan hanya pada populasi Phal.
amabilis x KHM 421.
Hasil analisis molekuler dengan marka SNAP berdasarkan 11 lokus Pto
pada planlet klonal Phal. „Salbellina-IPB‟ no 1102-44 menunjukkan adanya
keragaman sebesar 18.8%. Keragaman ditemukan pada planlet klonal dari
perlakuan 22.19 μM dan 44.39 μM BAP. Keragaman ini diduga berasal dari
variasi somaklonal terlihat dengan adanya penambahan BAP dengan beberapa
tingkatan. Keragaman dapat diidentifikasi karena perubahan alel pada beberapa
planlet di lokus-lokus tertentu.
Percobaan kedua bertujuan untuk mengevaluasi respon ketahanan
Phalaenopsis „Salbellina-IPB‟ no 1102-44 menggunakan metode leaf disk
v
terhadap bakteri Dickeya dadantii. Terdapat lima kriteria ketahanan yaitu tahan,
agak tahan, rentan, agak rentan dan sangat rentan berdasarkan pengamatan pada
24 jam setelah inokulasi. Terdapat tiga tanaman yang tahan, dimana dua aksesi
yang tahan berasal dari perlakuan media 22.19 μM (T2-15 dan T2-17), sementara
satu aksesi lainnya yang tahan berasal dari perlakuan media 44.39 μM (T4-23)
Induksi kalus haploid melalui kultur antera pada beberapa spesies jeruk citrus sp
Anther culture is one method to produce haploid callus and plants. By the doubling of their chromosome, double haploid plants can be generated and used to produce F1 hybrids. Haploid callus can also be used as tissues for somatic hybriditation to produce triploid Citrus and other non-conventional breeding program. The objective of this research were to study microspore development of four Citrus spesies (Tangerine Garut, Tangerine Batu 55, Siam and Pamelo), effect of cold pretreatment, media type, and plant growth regulator on of callus induction from citrus anther. The development of microspores can be seen by measuring the ratio of the size of the sepals and petals flower. Microspores that have high percentage of uninukleat given different levels cold pretreatment to improve the ability to form callus. After treated with cold pretreatment, callus was induced with various formulations of media, resulting haploid callus then carried out chromosome counting. The results shown that the microspore uninucleat was highest (78,2% to 91,4%) in medium-size flowers with a ratio of the sepal: petal (1:4 - 2:6) mm in flower Tangerine Garut, Tangerine Batu 55, Siam Citrus, and (6:14 - 6:17) mm in flower Pamelo. Microspores uninucleat in Garut citrus flowers ranged from 78.2 to 91.4%, at tangerine Batu 55 flowers ranged from 78.2 to 85.6%, the citrus flower Siam from 79.4 to 90.5%, and citrus flower Pamelo ranged from 78.2 to 85.4% of the take total microspores. Cold pretreatment of anther for 5 days was able to inducted callus citrus keprok Garut up to 2%. MT medium + 3 mg / l BAP + 500 mg / l extract malt on solid media were able to induce callus 14.5% in tangerine Batu 55, while the treatment of liquid media is only able to induce callus up to 4.5%, and solid + liquid media treatments able to induce callus 3.6%. The data is observed when the culture aged 6 weeks after planting. The best medium to induce callus Siam Citrus are MT medium + 3 mg / l 2,4-D + 500 mg / l extract malt, is able to induce callus up to 1,6%. MT medium with 3 mg/l BAP and with 1 mg/l NAA was able to induce callus Pamelo up to 2,6%. Chromosome counting is performed to determine ploidy level of callus produced. The result showed that all chromosome of the anther derived callus was 9 as half of diploid chromosome.Kultur antera merupakan salah satu metode kultur jaringan untuk menghasilkan kalus atau tanaman haploid. Penggandaan kromosom akan menghasilkan tanaman double haploid yang dapat digunakan sebagai tetua dalam pemuliaan konvensional untuk menghasilkan hibrida F1 atau untuk bahan dalam program pemuliaan tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan kalus haploid pada beberapa spesies jeruk. Penelitian ini diawali dengan studi perkembangan inti mikrospora pada keempat spesies jeruk (Keprok Garut, Keprok Batu 55, Siam, dan Pamelo). Perkembangan mikrospora dapat dilihat dengan mengukur perbandingan ukuran sepal dan petal masing - masing bunga untuk mendapatkan ukuran bunga yang mempunyai mikrospora inti tunggal yang banyak. Mikrospora yang mempunyai banyak inti tunggal diberi berbagai tingkat praperlakuan suhu dingin untuk meningkatkan kemampuan antera jeruk membentuk kalus. Setelah mendapatkan praperlakuan dingin terbaik kemudian dilakukan induksi kalus pada antera dengan berbagai formulasi media, dan untuk mengetahui kalus yang dihasilkan antera merupakan kalus haploid maka dilakukan analisis kromosom
Pertumbuhan Tanaman Cengkih (Syzygium aromaticum (L.) Merr Perr) Belum Menghasilkan pada Berbagai Dosis Pupuk Organik dan Intensitas Naungan
Penelitian ini bertujuan memperoleh dosis pupuk organik dan intensitas naungan yang optimum untuk pertumbuhan tanaman cengkih belum menghasilkan yang maksimum. Penelitian dilakukan di Kebun Percobaan IPB Cikabayan, Dramaga, Bogor, mulai bulan September 2013 sampai dengan Februari 2014. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Petak Terbagi (Split Plot) dengan dua faktor dan empat ulangan. Petak utama adalah perlakuan naungan dengan empat taraf intensitas yaitu 0% (I1), 25% (I2), 50% (I3) dan 75% (I4), sebagai anak petak adalah pupuk organik dengan lima taraf dosis yaitu 0 kg (P1), 2.5 kg (P2), 5 kg (P3), 7.5 kg (P4) dan 10 kg (P5) per tanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, dosis pupuk organik 10 kg per tanaman dapat meningkatkan diameter tajuk tanaman cengkih 30.0% dibandingkan dengan kontrol pada 4 minggu setelah perlakuan (MSP). Intensitas naungan secara tunggal tidak berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan tanaman cengkih. Pemberian pupuk organik 2.5 kg per tanaman dengan intensitas naungan 50% dapat meningkatkan tinggi tanaman cengkih sebanyak 20.9% dibandingkan dengan kontrol pada 16 MSP, dan pemberian pupuk organik 5 kg per tanaman dengan intensitas naungan 75% dapat meningkatkan diameter batang tanaman cengkih sebesar 26.9% dibandingkan dengan kontrol pada 12 MSP
Embryo rescue secara in vitro dan produksi bibit aren (Arenga pinnata (Wurmb) Merr.).
Sugar palm is a member of Arecaceae (palmaceae) originated from Indo- Malayan archipelago. Sugar palm may have important position as biofuel producing crop. Hence, research and development of sugar palm need to be done. Availability of planting material is one of significant constraints to develop sugar palm for cultivation and breeding program. The main constraints of planting material (sugar palm seedlings) in Indonesia are the seed dormancy and the use of physiologically mature seed as planting material. Embryo rescue technique can be applied as a breakthrough to obtain sugar palm seedlings in a relatively short time. The objectives of the experiment were to evaluate: 1) the effect of zygotic embryo age and basal medium composition on germination and development of rescued zygotic embryo of sugar palm, 2) the effect of pre-treatment and cytokinins and 3) the effect of PGR combination (auxin with or without cytokinin) in vitro embryo culture and seedlings production of sugar palm. In exp. 1, zygotic embryos isolated from immature and mature sugar palm fruit were cultured on Y3 or WPM medium without of plant growth regulators. In exp. 2. sub-unit 1, immature zygotic embryos with or without pre-treatment were cultured onto Y3 medium containing cytokinin in the form of coconut water (100, 150 and 200 ml/l) or BAP (5 ppm). In exp. 2. sub-unit 2, addition of NAA (1 or 5 ppm), kinetin (5 ppm), BAP (5 ppm), a combination of NAA (1 or 5 ppm)+kinetin (5 ppm), or NAA (1 or 5 ppm)+BAP (5 ppm) in Y3 medium for plantlet regeneration. The result showed that the viability and germination of immature zygotic embryo (92%) was better than the mature one (72%). On the other hand, the composition of the basal medium (Y3 or WPM) did not significantly affect embryo germination. Some of the culture zygotic embryo developed abnormal development of haustorium and cotyledonary petiole, at 32% and 26%, respectively. The percentage of planlets from zygotic embryo in this experiment range from 6%-25%. The results showed that cytokinin (coconut water or BAP) did not affect growth of the rescued zygotic embryo, whereas immature embryo with pretreatment led to the highest shoot and root formations, respectively. On the other hand, addition of PGR (auxin with or without cytokinin) showed positive effects on length of root from the zygotic embryos. A combination of NAA (5 ppm)+BAP (5 ppm) gave the highest number planlets. The plantlet of sugar palm were successfully regenerated from rescued embryos and transferred into soil
Intoduksi Gen CRISPR/Cas9 gRNAcsCS pada Tanaman Jeruk JC (Japanche Citroen) Menggunakan Agrobacterium tumefasciens
Jeruk JC (Japanche Citroen) merupakan salah satu varietas yang banyak
digunakan sebagai batang bawah jeruk yang memiliki daya adaptasi dan
kompatibilitas dengan batang atas yang tinggi akan tetapi tidak tahan terhadap
penyakit Huanglongbing. Penyakit Huanglongbing disebabkan oleh bakteri genus
Liberobacter yang menyerang jaringan floem tanaman dan menyebabkan kerugian
besar di petani. Penggunaan varietas tahan merupakan salah satu cara pengendalian
penyakit ini yang dapat dilakukan dengan metode transformasi. Penelitian ini
bertujuan menentukan teknik perkecambahan embrio nuselar dan efisiensi
transformasi untuk mengintroduksikan CRISPR/Cas9 dengan gen penuntun
gRNAcsCS pada embrio nuselar tanaman jeruk JC-Japanche Citroen. Percobaan
perkecambahan embrio nuselar menggunakan satu faktor yaitu komposisi media
(MS + GA3 0.0; 1.0; 3.0; dan 5.0 mg l-1 serta VMW + GA3 0.0; 1.0; 3.0; dan 5.0 mg
l-1). Percobaan transformasi menggunakan dua faktor yaitu waktu inokulasi A.
tumefasciens (5 dan 15 menit) dan komposisi media (GA3 0.0 mg l-1 dan GA3 3.0
mg l-1). Hasil penelitian menunjukkan media VMW + GA3 3.0 mg l-1 merupakan
media optimal untuk perkecambahan jeruk JC dan waktu inokulasi selama 5 menit
berbeda nyata lebih tinggi dibandingkan waktu inokulasi selama 15 menit terhadap
persentase eksplan hijau pada media yang ditambahkan cefotaksim (tanpa
penyeleksi higromisin). Introduksi gen CRISPR/Cas9 gRNAcsCS berhasil
dilakukan dan menghasilkan total 17 eksplan hijau dengan 10 eksplan hijau yang
berkecambah. Efisiensi transformasi dan regenerasi tertinggi diperoleh dengan
perendaman dalam bakteri selama 15 menit menggunakan embrio besar (3-5 mm)
yaitu 17.78% dan 6.67%. Planlet putatif transgenik tersebut diharapkan memiliki
ketahanan terhadap penyakit Huanglongbing
Propagasi mikro dan Sambung Mikro Jeruk Keprok Garut (Citrus reticulata) Hasil Mutagenesis In Vitro dengan Batang Bawah Japansche Citroen
This study aimed to get proper concentration of kinetin for multiplication of Mandarin var. Garut as derived from in vitro mutation, to determine period of immersion of Japansche citroen seed in GA3 10 mg/l solution and to get proper concentration of sucrose concentration in agar for grafted plant. This research is consist of three steps. For the first step, shoot as derived from in vitro mutation multiplicated with 2 books cutting and planted in standard medium with kinetin 1 mg/L, 3 mg/L, 5 mg/L added. For the second step, JC seed immersed in 10 mg/L of GA3 for 1, 2, and 3 hours and planted in standard medium. For the last step, explant from the first and second step was grafted and planted in standard medium with sucrose 30 g/L, 50 g/L, and 70 g/L. The optimal concentration of kinetin for scion growth is 1 mg/l and for multiplication is 5 mg/l. The best period for rootstock immersion in GA3 solution is 3 hours. The best percentage of success micrografting occured in 70 g/l sucrose medium
- …
