1,721,002 research outputs found
Simulasi Transportasi Cabai Keriting Segar pada Kemasan Kardus dan Keranjang Plastik
Cabai merah adalah salah satu komoditas pertanian yang dibutuhkan masyarakat Indonesia dan bernilai ekonomis tinggi. Cabai merah termasuk komoditas mudah rusak dan biasanya dibutuhkan dalam bentuk segar, maka cara pengemasan dan transportasi menjadi titik kritis pascapanen untuk menjaga kesegaran produk pada saat didistribusikan sampai ke tangan konsumen. Tujuan penelitian ini adalah melakukan investigasi kondisi getaran pada proses transportasi di lapangan dan melakukan simulasi transportasi di laboratorium serta menganalisis pengaruh transportasi dan pengemasan terhadap susut bobot, kekerasan, derajat warna dan kadar air cabai keriting segar. Penelitian dilaksanakan di lapangan (kebun cabai di Cibedug sampai Pasar Induk Kemang) dan di Laboratorium Teknik Pengolahan Pangan dan Hasil Pertanian (TPPHP) TMB IPB. Pengemasan curah dilakukan dengan dua jenis kemasan yaitu kemasan karton (kardus) dan keranjang plastik. Data getaran yang terjadi selama transportasi di lapang direkam menggunakan Android Smartphone (Vibrometer Pro 2.4.6). Selanjutnya data tersebut digunakan sebagai acuan untuk melakukan simulasi transportasi di laboratorium. Setelah dilakukan simulasi transportasi, sampel cabai disimpan pada suhu ruang selama 2 minggu untuk melihat perubahan kualitasnya. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa simulasi transportasi dapat merepresentasikan transportasi langsung di lapangan dengan kondisi getaran yang sama. Susut bobot terjadi di setiap perlakuan kemasan dan transportasi meskipun hasil analisis sidik ragam menunjukkan perlakuan kemasan dan transportasi tidak berbeda nyata terhadap susut bobot cabai. Kemasan kardus menunjukkan hasil yang lebih baik dalam menekan susut bobot dibandingkan keranjang plastik. Kekerasan pada cabai keriting segar mengalami penurunan setelah transportasi, akan tetapi analisis sidik ragam menunjukkan bahwa jenis kemasan dan transportasi tidak berbeda nyata terhadap kekerasan cabai. Penurunan kekerasan tampak jelas setelah dilakukan penyimpanan setelah transportasi pada suhu ruang. Derajat warna (nilai L,a,b) mengalami perubahan setelah transportasi, akan tetapi dari analisis sidik ragam hanya derajat warna b yang berbeda nyata terhadap perlakuan transportasi. Penurunan kadar air berkorelasi dengan susut bobot yang terjadi akibat transportasi dan lebih tampak lagi setelah dilakukan penyimpanan. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa perubahan susut bobot, kekerasan, warna dan kadar air tidak dipengaruhi oleh transportasi
Penggunaan Kitosan dan Kemasan Plastik Film untuk Memperpanjang Masa Simpan Salak Pondoh.
Snake fruit is a tropical fruit which easily damaged during transportation and storage. The main causes of damage were due to mechanical impact, respiration and fungal microbe infection. The purpose of this research was to analyze the effect of chitosan coating and plastic film on shelf-life of snake fruit var. pondoh during storage. Snake fruit var. pondoh was harvested at farmer orchards in Sleman with condition of 80 percent maturity level. After the harvesting stage, sample of fruit were cleaned and sorted. Snake fruit samples were transported to the packing house in Semarang. Snake fruit samples were then coated by solution with concentration of 0.5 % chitosan substance. Sample of fruits were packed with three different packaging materials. The packaging materials were polypropylene plastic, polyethylene plastic and white stretch film the weight of each packed was 500 grams. Sample of fruits were transported to laboratory at ambient temperature condition for 24 hours. After arriving at laboratory fruits were stored at 15oC and ambient temperature. The parameters of quality in this research were weight loss, water content, total soluble solids, firmness value and organoleptic. The results showed the polyethylene has maximum shelf-life up to 24 days at temperature 15oC. Plastic packaging at room temperature has shelf-life up to 9 days of storage. The fruits that stored at room temperature without treatment it was observed that fruits over-ripe at 6 days and the fruits that stored at 15oC without packaging was in good conditions up to 18 days
Perubahan Mutu Bawang Merah (Allium Ascalonicum L.) Varietas Bima Brebes, Tajuk Dan Bali Karet Yang Disimpan Pada Suhu Rendah
Bawang merah sebagai komoditas hortikultura yang memiliki permintaan yang cukup tinggi diketahui sebagai bahan segar yang cepat mengalami penurunan mutu secara fisik maupun kimia. Teknik penanganan pascapanen yang tepat dibutuhkan agar mutu bawang merah tetap terjaga hingga ke tangan konsumen. Teknik pendinginan merupakan teknik yang sesuai untuk diaplikasikan dalam penyimpanan bawang merah. Salah satu cara penyimpanan yang dapat mempertahankan mutu bawang merah adalah dengan penyimpanan suhu rendah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa suhu penyimpanan yang optimum terhadap perubahan mutu bawang merah serta mengetahui respon varietas bawang merah pada suhu rendah selama penyimpanan.
Penelitian ini menggunakan rancangan petak terbagi (split plot) yang terdiri dari: Suhu Penyimpanan (S) sebagai petak utama yang terdiri (suhu 0 °C, 5 oC ) dengan RH 65-70% dan suhu ruang (25-32°C) RH ruang (52-88%). Varietas sebagai anak petak yang terdiri dari bawang merah varietas: (V1) Bima Brebes, (V2) Tajuk, dan (V3) Bali Karet. Parameter yang diamati adalah kadar air, susut bobot, kekerasan, kerusakan dan kandungan sulfur/volatile reducing substance (VRS).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian perlakuan suhu dan varietas memberikan pengaruh terhadap kadar air, susut bobot, kekerasan, kerusakkan dan nilai sulfur/volatile reducing substance (VRS). Perlakuan atau kondisi penyimpanan dengan suhu 0 oC merupakan suhu terbaik yang dapat mempertahankan kualitas/mutu bawang merah hingga akhir penyimpanan dengan susut bobot 9.77%, 11.61% dan 10.16%, kekerasan 4.45 kgf, kerusakan 0% pada semua varietas dan nilai sulfur 0.43%. Varietas Bima Brebes menghasilkan nilai mutu terendah dengan kerusakan sebesar 35.81%. Susut bobot tertinggi pada suhu 5 oC sebesar 22.3% dan suhu ruang sebesar 37.22%
Kajian Penggunaan Bahan Pengemas Kardus dan Plastik Berventilasi pada Penyimpanan Cabai Merah (Capsicum annuum L.) Segar
The effect of packaging materials and temperature of storage on quality of fresh chili (Capsicum annuum L.) was observed in this study. Samples of chili were harvested from farmer’s orchad in chili production areas in Lembang, West Java. The study was caried out using the ventilated cardboard and plastic for chili’s packaging stored in 15oC and room temperature. Weight loss, moisture content, firmness, colour, and respiration rate of all samples were measured during storage period. The result showed that packaging material had significant effect on weight loss, moisture content, value of a (chromatic red-green color) and b (chromatic blue-yellow color). The packaging material had no significant effect on hardness and value of L (brightness). Temperature of storage had significant effect on weight loss, moisture content, firmness, value of L, a, and b. The packaging of fresh chili using ventilated cardboard and room temperature preserved the best quality of colour up to 10 days. It was concluded that ventilated plastic and temperature of 15oC resulted the best quality of fresh chili up to 20 days
Analisis energi pada proses pembuatan minyak nyamplung
Energi merupakan sumber kebutuhan vital bagi masyarakat. Kondisi empiris menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat masih tergantung pada sumber energi yang berasal dari fosil seperti minyak dan gas. Penggunaan bahan bakar fosil saat ini mulai dikaji ulang karena ketersediaannya mulai menipis dan butuh waktu yang relatif lama untuk terbentuk kembali. Sementara itu konsumsi bahan bakar minyak (BBM) pada sektor transportasi untuk jenis gasoline oktan 88 (premium atau bensin), gasoline oktan 92 (pertamax), dan biodiesel 5% (biosolar) juga meningkat tiap tahunnya. Salah satu alternatif sebagai pengganti bahan bakar fosil adalah biofuel yang berasal dari sumberdaya hayati yang bisa diperbarui berupa minyak nabati dan hewani. Salah satu sumber minyak nabati yang dapat digunakan sebagai bahan bakar adalah Nyamplung (Calophyllum inophyllum). Kelebihan Nyamplung sebagai bahan bahan baku biofuel adalah menghasilkan rendemen yang cukup tinggi, mencapai 72%, tersebar merata secara alami di Indonesia dan memiliki daya bertahan hidup yang tinggi, produktivitasnya tinggi hingga 20 ton/ ha sedangkan jarak pagar 5 ton/ha, berbuah sepanjang tahun, sebagai wind breaker yang melindungi tanaman pertanian agar tidak rebah terkena angin besar, dan tidak berkompetisi dengan kebutuhan pangan. Biji nyamplung mengandung minyak 40-72%; air 25-35%; dan abu 1.1-1.3%. Minyak kasar mengandung asam resin 9.7-15% yang menyebabkan minyak berwarna hijau, rasanya pahit, dan beracun. Berdasarkan jumlah tegakan pohon nyamplung yang ada di Indonesia, potensi minyak nyamplung yang dihasilkan sebesar 39,405.6 ton/ tahun atau 43,784,000 kl/tahu
Analisis Tingkat Kemurnian Minyak Nilam (Pogostemon cablin Benth) Secara Non Destruktif Menggunakan Portable Near Infrared Spectroscopy (NIRS).
Salah satu minyak atsiri yang dikenal di Indonesia adalah minyak nilam
(Pogostemon cablin Benth). Zat kimia yang paling banyak dalam minyak nilam
yaitu Pacthouli alkohol. Namun, tingkat kemurnian minyak nilam di pasar
terkadang masih perlu dilakukan pengujian. Diperlukan metode yang lebih akurat
dan kuantitatif, sehingga penentuan kualitas minyak nilam bisa lebih mudah, murah
dan sederhana. Salah satu metode yang dikembangkan adalah metode pengujian
non-destruktif menggunakan Near Infrared Spectroscopy (NIRS). Tujuan dari
penelitian ini adalah menentukan tingkat kemurnian minyak nilam secara nondestruktif
menggunakan NIRS. Bahan yang digunakan dalam penelitian adalah
minyak nilam serta minyak sawit sebagai pengotor. Jumlah sampel yang digunakan
sebanyak 51 sampel dengan masing-masing konsentrasi minyak nilam berbeda.
Alat yang digunakan untuk penelitian ini yaitu SciO NIRS untuk pengukuran
spektrum minyak, serta GC-MS untuk mengukur kandungan kimia minyak nilam.
Metode kalibrasi dan validasi menggunakan Partial Least Square (PLS). Hasil
menunjukkan bahwa data terbaik adalah data original dengan nilai R=0.996 , R2 =
0.992, SEC= 1.256, SEP = 1.315, CV=1.93% , RPD = 11, dan konsistensi 95.54%.
Dari proses PLS didapatkan pula grafik yang menunjukan bobot koefisien regresi
paling optimal yaitu pada panjang gelombang 930 nm dan 967 nm. Dilakukan
kembali pengujian regresi masing-masing spektra dengan hasil nilai R pada panjang
gelombang 967 nm yaitu 0.994 nilai tersebut lebih besar dibanding nilai R pada
panjang gelombang 930 nm yaitu sebesar 0.985 . Namun nilai konsistensi untuk
panjang gelombang 930 nm lebih besar yaitu 91.9%
Modifikasi dan Unjuk Kerja Kompor Sumbu Tunggal Berbahan Bakar Minyak Bintaro
Bintaro (Cerbera odollam gaertn) has oil content 46-64% and it is potential as a biofuel feedstock. Bintaro oil, like other bio oil, has high viscosity. Due to it, the capillarity of oil on the wick is very low. This will affect to the combustion. The objectives of this study were to analyze the properties of Bintaro oil and to examine the use of Bintaro oil as fuel for a single wick stove. In this study, sample of Bintaro oil was processed from Bintaro fruits collected around Bogor. Sample of single wick stove which was familiar stove used by household in Bogor area, was modified mainly at part of flame holder at the height of 5, 6, 7, 8 and 11 cm. The caracteristic of combustion was investigated from the flames temperature and contour at different height of flame holder. The result showed that heat loss rate values for Bintaro oil were 76.6 W, 88.5 W, 100.7 W, 111.1 W and 142.8 W for the height flame holder of 5, 6, 7, 8 and 11 cm. The flame temperature based on the heat loses were 443.97, 476.75, 451.95, 450.5 and 454.77°C, respectively. For kerosene, the heat loss and flame temperature were 245.6 W and 730.77 °C for the height flame holder of 11 cm. The boiling test resulted that for kerosene with flame holder of 11 cm ,the water boiled at temperature of 100°C for 26 minutes. The average temperature was 637 °C and the power was 1.318 W. For Bintaro oil with the height of flame holder of 6 cm, resulted the flame temperature of 482°C, the heat loss of 1.092 W, and the water boiled of 45 minutes
Evaluasi Cita Rasa Seduhan Kopi Berbasis Near Infrared Spectroscopy (NIRS) sebagai Alternatif Cupping Test
Kopi sebagai salah satu komoditas unggulan di Indonesia telah banyak dikembangkan dengan berbagai tujuan dan cara penyajian yang meningkatkan nilai tambahnya. Penilaian kualitas kopi pada umumnya dilakukan melalui metode cupping dan pengujian kandungan kimia di laboratorium. Penggunaan Near Infrared Spectroscopy (NIRS) untuk memprediksi kandungan kimia kopi telah banyak dikembangkan sehingga NIRS dapat menjadi alternatif pada proses cupping karena nilai cupping kopi dipengaruhi oleh komposisi kimianya. Penelitian ini bertujuan mengembangkan model regresi untuk memprediksi atribut skor cupping menggunakan NIRS. Penelitian ini menggunakan 8 sampel kopi bubuk roasted dari berbagai daerah di Indonesia yang diuji menggunakan NIR spectrometer portabel SCiO dan instrumen NIRFlex, lalu dinilai cita rasanya melalui cupping test dengan mengikuti standar protokol dari Specialty Coffee Association of America (SCAA). Analisis data spektrum dilakukan dengan metode Principal Component Analysis (PCA) dan Partial Least Square (PLS). Hasil penelitian menunjukkan model regresi yang didapatkan dengan SCiO tergolong model prediksi kasar (RPD ≥ 1.50), sedangkan pada NIRFlex tergolong sebagai model yang sangat baik (RPD ≥ 3.00)
Karakterisasi Morfologi Umbi dan Fisikokimia Tepung Kentang Genotipe PKHT-4, PKHT-6, dan PKHT-10 untuk Industri Pangan Olahan
Kentang merupakan salah satu tanaman penghasil umbi yang digemari
masyarakat Indonesia. Kentang merupakan sumber karbohidrat. Olahan kentang
dapat berupa sayur, serta olahan pangan lainnya seperti keripik kentang, french
fries, dan sebagainya. Namun, beberapa varietas memiliki sifat yang kurang
kompatibel untuk dijadikan olahan pangan dan industri. Institut Pertanian Bogor
lewat Pusat Kajian Hortikultura Tropika sedang mengembangkan varietas kentang
baru yang diharapkan dapat memenuhi kebutuhan olahan industri dan pangan.
Penelitian menggunakan kentang genotipe PKHT-4, PKHT-6, dan PKHT-10 dan
pembandingnya yaitu varietas Granola dan Medians. Penelitian dilakukan di Pusat
Kajian Hortikultura Tropika, Bogor, Southeast Asian Food an Agricultural
Science and Technology (SEAFAST), Institut Pertanian Bogor serta Laboratorium
MBRIO Padjajaran, Bogor mulai dari November 2018 sampai Januari 2019. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa genotipe hasil pemuliaan IPB memiliki karakter
yang lebih baik dari varietas Medians sebagai varietas olahan industri. Genotipe
PKHT-4 memiliki massa jenis, kadar air, kadar lemak, kadar protein, serta tingkat
produktivitas yang lebih unggul dari varietas Medians. Genotipe PKHT-6
memiliki massa jenis, kadar air, kadar lemak, kadar protein, kadar karbohidrat
serta tingkat produktivitas yang lebih baik dari varietas Medians. Genotipe
PKHT-10 memiliki keunggulan dengan varietas Medians pada massa jenis, kadar
abu, dan karbohidrat. Masing-masing genotipe tersebut memiliki potensi
kegunaan pada olahan industri dan pangan
Analisis Karakteristik dan Umur Simpan Beberapa Genotipe Ubi Kayu (Manihot esculenta Crantz.) Hasil Pemuliaan.
Ubi kayu (Manihot esculenta Crantz.) merupakan komoditas umbi-umbian penghasil karbohidrat, yang memiliki umur simpan singkat dan cepat mengalami perubahan penurunan mutu. Perubahan mutu umbi segar dipengaruhi oleh perubahan sifat fisik dan kimia. Salah satu upaya untuk mendapatkan ubi kayu yang memiliki umur simpan lebih panjang, yaitu meningkatkan keragaman genetik dengan pemuliaan tanaman secara mutasi menggunakan mutagen fisik (iradiasi sinar gama). Upaya tersebut untuk menghasilkan genotipe yang lebih baik daripada tanaman asalnya. Penelitian ini bertujuan menganalisis karakteristik beberapa genotipe ubi kayu hasil pemuliaan serta mengetahui persentase kerusakan ubi kayu selama penyimpanan suhu ruang untuk menduga umur simpan ubi kayu. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan satu faktor, yaitu genotipe ubi kayu. Genotipe ubi kayu terdiri atas tiga genotipe mutan potensial, yaitu MG1 (G21544), MG2 (G31511), dan MG3 (G21541) yang berasal dari populasi Gajah. Karakteristik morfologi ubi kayu segar yang diamati adalah bentuk umbi, warna kulit luar umbi, dan warna daging umbi. Karakteristik fisik dan kimia sebagai parameter mutu yang diamati selama penyimpanan meliputi laju respirasi, susut bobot, kadar air, kadar pati, kekerasan, dan kerusakan. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa genotipe ubi kayu memberikan pengaruh yang signifikan terhadap kerusakan selama penyimpanan suhu ruang. Namun, perbedaan genotipe mutan tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap laju respirasi, susut bobot, kadar air, kadar pati, dan kekerasan umbi. Perubahan mutu umbi ubi kayu segar selama penyimpanan digunakan untuk mengetahui umur simpan umbi. Umur simpan umbi ubi kayu MG1, MG2, dan MG3 secara berurutan adalah 2, 4, dan 8 hari setelah panen (HSP)
- …
