1,721,039 research outputs found

    Keselamatan Kerja di Area Pelabuhan Perikanan Nusantara Palabuahanratu Sukabumi, Jawa Barat.

    No full text
    Pelabuhan Perikanan Nusantara Palabuhanratu dibagi menjadi dua wilayah yaitu wilayah kerja dan wilayah pengoperasian. Salah satu faktor yang menunjang keselamatan kerja adalah dengan adanya fasilitas dikedua wilayah tersebut. Pihak pelabuhan sudah berupaya meningkatkan keselamatan masyarakat dan nelayan. Tujuan penelitian ini mengidentifikasi area kerja beserta fasilitas pelabuhan yang menunjang keselamatan kerja dan mengidentifikasi pengelolaan keselamatan kerja di area PPN Palabuhanratu Sukabumi Jawa Barat. Data yang dikumpulkan yaitu data primer dan data sekunder.Data primer ini diperoleh dengan cara wawancara dan kuesioner, sedangkan data sekunder diperoleh dengan cara penelusuran dokumen (peraturan) mengenai keselamatan kerja dilaut pada instansi terkait. Pengambilan data dilakukan dengan metode purposive sampling terhadap beberapa pihak yang berkepentingan dengan keselamatan kerja nelayan seputar keselamatan kerja. Fasilitas yang ada di pelabuhan untuk menunjang keselamatan kerja sudah memenuhi sebesar 69% standar yang berlaku sesuai dengan peraturan pemerintah nomor KEP.16/MEN/2006 tentang pelabuhan perikanan, peraturan yang sudah ada untuk menyesuaikan SOP yang berlaku mengenai keselamatan kerja di PPN Palabuhanratu, Sukabumi, Jawa Barat. Pihak pengelola PPN Palabuhanratu telah mengacu peraturan pemerintah nomor 20/PERMEN-KP/2009 tentang organisasi dan tata kerja unit pelaksana teknis pelabuhan perikanan. Struktur organisasi PPN Palabuhanratu Sukabumi Jawa Barat memiliki nilai presentasi sebesar 70.1% dengan kategori sedang dalam upaya peningkatan fasilitas pelabuhan

    Intensitas Kebisingan Mesin Serbaguna pada Perahu Gillnet di Pangkalan Pendaratan Ikan, Pangandaran

    No full text
    Mesin perahu gillnet di Pangkalan Pendaratan Ikan Pangandaran masih ada yang menggunakan mesin serbaguna sebagai mesin penggerak, hal ini disebabkan oleh harganya yang terjangkau, mudah dalam perawatan dan mudah dalam perolehan “spare part” untuk perbaikan mesin. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi nilai kebisingan yang dihasilkan oleh mesin serbaguna saat dioperasikan dan menentukan kelayakan mesin serbaguna sebagai alat penggerak kapal pada perahu gillnet, ditinjau dari tingkat kebisingan yang dihasilkan. Metode yang digunakan yaitu studi kasus, pada 10 unit perahu gillnet yang masih menggunakan mesin serbaguna. Berdasarkan hasil penelitian, nilai kebisingan yang dihasilkan oleh perahu gillnet di Pangandaran berkisar dari 66-74 dB dengan rata-rata 64,4-73,2 dB. Nilai kebisingan yang dihasilkan oleh mesin serbaguna selama 4 jam kontinyu berada dibawah nilai ambang batas (NAB) kebisingan yaitu 88 dB sehingga mesin serbaguna layak digunakan sebagai alat penggerak kapal pada perahu gillnet

    Penilaian Kecukupan Kebutuhan Kapal Berdasarkan Cape Town Agreement Tahun 2012

    No full text
    Keselamatan dan kesehatan kerja merupakan ilmu yang berperan dalam mengurangi tingkat risiko dari suatu pekerjaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi terkini untuk keberadaan peralatan penunjang keselamataan kerja pada kapal purse seine dengan panjang 24 m sampai 45 m di Pelabuhan Perikanan Samudera Nizam Zachman Jakarta (PPSNZJ) terhadap standar ketentuan peralatan dalam regulasi Cape Town Agreement tahun 2012 dan memberikan rekomendasi untuk pemenuhan standar sesuai ketentuan dalam Cape Town Agreement tahun 2012. Metode yang digunakan adalah metode kuantitatif dengan observasi langsung dan wawancara kepada pemilik dan nahkoda kapal purse seine. Data hasil observasi dan wawancara berupa kondisi peralatan penunjang keselamatan kerja pada kapal purse seine dengan panjang 24 m sampai 45 m. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketentuan yang dapat terpenuhi hanya ketentuan terkait radio komunikasi dengan tingkat pemenuhan 100%. Sedangkan ketentuan yang tidak terpenuhi yaitu terkait line throwing appliances, distress signal, radar transponder dan retro reflective materials. Tingkat implementasi peralatan penunjang keselamatan kerja dengan standar ketentuan dalam regulasi Cape Town Agreement tahun 2012 hanya sebesar 0,31%. Pemenuhan terhadap standar yang tertera dalam Cape Town Agreement tahun 2012 bab 7 bagian B mengenai peralatan penunjang keselamatan kerja di atas kapal perlu dilakukan untuk menurunkan potensi terjadinya kecelakaan di laut dan meningkatkan keselamatan jiwa dan harta benda

    Risiko dan Mitigasi Transportasi Benih Sidat (Glass Eel), (Studi Kasus di Palabuhanratu, Jawa Barat).

    No full text
    Penangkapan benih sidat (glass eel) untuk kegiatan budidaya dilakukan oleh nelayan menggunakan seser dan kemudian dijual ke pengumpul. Pengumpul mengumpulkan glass eel dari beberapa nelayan dan mendistribusikannya ke tempat pembudidayaan. Banyak glass eel yang mati pada saat ditransportasikan oleh nelayan dan pengumpul. Tujuan penelitian ini adalah untukmendeskripsikan proses transportasi glass eel, moda transportasinya, dan parameter kualitas air pada saat ditransportasikan dari nelayan sampai ke kolam pembesaran serta mengidentifikasi risiko dan menentukan mitigasi transportasi glass eel. Metode dalam penelitian ini adalah observasi dan wawancara kepada nelayan dan pengumpul mengenai aktifitasnya dan parameter kualitas air yang digunakan. Analisis yang digunakan berupa analisis deskriptif, analisis komparatif, dan analisis risiko dan mitigasi menggunakan metode HIRAC. Hasil penelitian menunjukan bahwa proses transportasi glass eel berawal dari nelayan ke pengumpul. Pengumpul mengumpulkan hasil tangkapan untuk selanjutnya ditransportasikan ke kolam pembesaran. Pentransportasian glass eel dilakukan mengunakan wadah kantong plastik dan atau cool box dengan suhu 17C- 29C , Salinitas 1ppt- 3ppt, dan kadar DO 6,3mg/L- 7mg/L. Proses transportasi glass eel memiliki risiko yang menyebabkan glass eel stress dan mati. Risiko tersebut dapat dimitigasi menggunakan pengendalian administratif, substitusi, dan rekayasa engineering

    Identifikasi Keselamatan Kerja pada Proses Pembuatan Perahu Fiberglass

    No full text
    Safety works in any workplace including in the workshop should be noted to reduce the risk of accidents as low as possible. The purpose of this research to clearly identify the types of hazards in fiberglass boat building activities, and make an analysis of the potential safety hazards in fiberglass boat manufacturing activity. Identification of safety was obtained through job safety analysis method. Grouping based on the level of potential hazards consequences were harmless (work pending), mild (scratched, itching), medium (punctured, skin irritation), severe (cut, hit by boat), and fatal (electric shock). Control efforts was undertaken procurement the personal protective equipment which fairly complete and in a good condition, but there is still no awareness of workers to use appropriate PPE work. Identification of the process of making fiberglass boat showed that construction of the framework was the most risky phase. Risk levels vary from mild to fatal that might eliminate a person's life. Safety analysis showed that the process of making fiberglass boat has a high level of risk in terms of safety

    Keselamatan Kerja Nelayan Bagan Perahu di Pelabuhan Perikanan Nusantara Karangantu, Serang, Banten.

    No full text
    Bagan perahu menjadi salah satu pemasok ikan tertinggi di pelabuhan Karangantu. Kelancaran pengoperasian bagan perahu sangat penting bagi nelayan dan pasokan ikan di pelabuhan. Banyak hal yang menunjang dalam hal kelancaran pengoperasian bagan perahu, salah satunya adalah kesadaran akan keselamatan kerja pada saat pengoperasiannya. Kecelakaan kerja dapat terjadi saat pengoperasian bagan perahu. Hal tersebut disebabkan oleh berbagai faktor, salah satunya adalah kelalaian manusia. Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi jenis bahaya, menentukan tingkat risiko nelayan, dan memberikan gambaran teknis pengendalian untuk keselamatan kerja nelayan pada pengoperasian bagan perahu. Identifikasi keselamatan kerja menggunakan metode Hazard Identification and Risk Assesment (HIRA). Identifikasi terhadap potensi kecelakaan yang bisa terjadi pada nelayan dalam pengoperasian jaring angkat melalui penilaian risiko kualitatif yaitu, tidak signifikan, minor, sedang, major dan bencana. Analisis risiko pada potensi bahaya yang terjadi pada aktivitas nelayan bagan perahu melalu analisis penilaian risiko terdapat tiga nilai risk index yaitu, significant risk, moderate risk, dan low risk. Secara keseluruhan terdapat 29 aktivitas pada pengoperasian bagan perahu, dimana terdapat empat aktivitas yang memiliki nilai risk index significant risk dan perlu adanya tindakan pengendalian pada potensi bahaya pada aktivitas tersebut, 18 aktivitas yang memilik nilai index adalah low risk dan tujuh aktivitas yang memiliki nilai index adalah moderate risk

    Identifikasi Keselamatan Kerja Pada Area Docking Kapal Di PPN Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi Jawa Barat

    No full text
    Docking kapal adalah sebuah tempat di perairan yang berfungsi untuk melakukan proses pembangunan kapal, perbaikan kapal, dan pemeliharaan kapal. Aktivitas docking memiliki risiko kecelakaan yang mengancam pekerja dan kapal itu sendiri. Sehingga, setiap pekerja diwajibkan memelihara kesehatan dan keselamatan kerja secara maksimal melalui tindakan yang aman supaya dapat menekan terjadinya risiko kecelakaan. Tujuan penelitian ini adalah untuk (1) mengidentifikasi peralatan, jumlah, dan kompetensi pekerja pada aktivitas docking, (2) mengidentifikasi potensi bahaya (perilaku berbahaya dan lingkungan berbahaya) yang terjadi pada aktivitas docking, dan (3) mengidentifikasi kesesuaian cara kerja saat melakukan docking kapal yang ditelaah dari faktor keselamatan kerja. Analisis data yang digunakan terdiri dari analisis deskriptif, Hierarchical Task Analysis (HTA), dan Job Safety Analysis (JSA). Hasil penelitian menunjukan bahwa peralatan yang digunakan pada aktivitas docking dalam kondisi tidak layak pakai, dengan jumlah pekerja 17 orang dan hanya 1 orang pekerja yang memiliki kompetensi khusus pada aktivitas docking. Aktivitas docking memiliki potensi bahaya sebanyak 65 aktivitas dengan kategori tidak berbahaya sebanyak 24 aktivitas, ringan 14 aktivitas, menengah 12 aktivitas, berat 7 aktivitas, dan fatal 8 aktivitas, yang dapat disebabkan oleh perilaku berbahaya atau lingkungan berbahaya. Seluruh pekerja yang melakukan aktivitas docking belum memperhatikan cara kerja yang sesuai dengan keselamatan kerja. Hal tersebut terlihat dengan adanya kondisi lingkungan yang berbahaya dan perilaku yang berbahaya

    Kecukupan Akomodasi Kapal Purse Seine (Studi Kasus: KM Berkah Melimpah di Pelabuhan Perikanan Samudera Nizam Zachman Jakarta).

    No full text
    Kenyamanan dalam bekerja dipengaruhi oleh lingkungan kerja atau kondisi kerja dan faktor yang berkaitan dengan kerja tersebut. Kondisi kerja berkaitan dengan faktor seperti cahaya, suhu, asap, keamanan, kecelakaan, bising, debu, bau dan hal semacam itu yang mempengaruhi kinerja suatu pekerjaan atau kesejahteraan umum pekerja. Kecukupan akomodasi dan fasilitas nelayan di atas kapal merupakan salah satu upaya dalam keselamatan dan kesehatan kerja. International Labour Organization (ILO) memberikan pedoman terkait akomodasi nelayan di atas kapal. Unit penangkapan purse seine merupakan unit penangkapan ikan paling banyak menggunakan tenaga kerja berkisar 30 sampai 40 orang. Salah satu kapal purse seine yang digunakan sebagai objek penelitian adalah KM Berkah Melimpah berukuran 167 GT. Tujuan dari penelitian ini adalah mengindentifikasi ketersediaan akomodasi KM Berkah Melimpah dan mengidentifikasi kesesuaian akomodasi berdasarkan pedoman Konvensi ILO Nomor 126 Tahun 1966 tentang Accommodation of Crews (Fishermen). Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah semi kuantitatif dengan pendekatan studi kasus. Pengamatan dan pengumpulan data yang diamati meliputi akomodasi apa saja yang ada di KM Berkah Melimpah serta kesesuaiannya terhadap pedoman ILO tentang Accommodation of Crews (Fishermen). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kecukupan akomodasi KM Berkah Melimpah pada aspek sistem pengatur suhu di ruang akomodasi terpenuhi sebesar 20%, aspek ventilasi terpenuhi sebesar 57.14%, aspek pencahayaan dalam ruang akomodasi terpenuhi sebesar 83.33%, aspek kamar tidur terpenuhi sebesar 35.42%, aspek sanitasi terpenuhi sebesar 0%, aspek ruang dapur terpenuhi sebesar 50%, dan aspek fasilitas kesehatan terpenuhi sebesar 0%. Secara keseluruhan kesesuaian akomodasi pada penelitian ini sebesar 35.13% dikategorikan buruk

    Desain dan Konstruksi Perahu Katamaran Fiberglass untuk Wisata Pancing

    No full text
    Nowadays, woods as raw materials of boat or ship are getting rare and expensive. Information about the procedure of making a boat with fiberglass material are still very little published in scientific journal. The research which was held on March - July 2012 provides an alternative solution for both the problems by the process of design and construction of a fiberglass catamaran boat based on reference BKI. Data processing done with method of numerical consisting of naval architecture formulas used to obtain the value of hydrostatic parameter a ship research. Analysis data has done by comparing value of ship ratio dimensions. Manufacturing of a fiberglass catamaran boat has begun with making boat's design, boat's model, boat's mould and the boat. The design of catamaran boat has primary dimension: Length (LOA), Breadth (B), Depth (D) and distance between hull are: 4 meters; 1,9 meters; 0,55 meters and 1 meter. The complements of this boat are chairs, engine, palka, fishing rods storage, accumulator room, tools room and reserve buoyancy room, fastener between hull, storage room and wide working area. The construction of catamaran boat completed with rib and board as supporting of transverse and lengthways boat strength. Reserve buoyancy has made in this boat to decrease sinking risk.Bahan baku kayu pembuat perahu/kapal semakin langka dan mahal. Informasi tentang cara pembuatan perahu berbahan dasar fiberglass pun masih sangat sedikit yang dipublikasikan dalam bentuk karya ilmiah. Penelitian yang dilaksanakan pada bulan Maret-Juli 2012 ini memberikan alternatif solusi untuk kedua permasalahan tersebut melalui proses desain dan konstruksi perahu katamaran fiberglass berdasarkan rujukan BKI. Pengolahan data dilakukan dengan metode numeric berupa formula-formula naval architecture untuk mendapatkan nilai parameter hidrostatis dari kapal yang diteliti. Analisis data dilakukan dengan membandingkan nilai rasio dimensi kapal. Pembuatan perahu katamaran fiberglass diawali dengan pembuatan desain perahu, pembuatan model perahu, pembuatan cetakan perahu dan pembuatan perahu. Desain perahu katamaran yang dibuat memiliki dimensi utama sebagai berikut: panjang (LOA), lebar (B), dalam (D) dan jarak antar lambung secara berurutan yaitu : 4 meter; 1,9 meter; 0,55 meter dan 1 meter. Adapun kelengkapan perahu katamaran ini antara lain: kursi, tempat umpan, mesin, palka, tempat alat pancing, tempat accu, lampu, tempat peralatan dan ruang reserve buoyancy. Konstruksi perahu katamaran ini dilengkapi dengan gading-gading dan galar sebagai penunjang kekuatan melintang dan memanjang dari perahu. Cadangan daya apung/reserve buoyancy didesain pada perahu ini untuk memperkecil resiko tenggelam

    Instalasi Permesinan pada Kapal PSP 01

    No full text
    Kapal PSP 01 merupakan kapal latih sekaligus kapal penangkap ikan yang dimiliki oleh Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan (PSP), Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK), IPB. Kapal ini menggunakan tenaga penggerak inboard engine berjenis diesel empat langkah yang berasal dari truk Mitsubishi Canter dengan tipe 4D30-C. penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan modifikasi instalasi permesinan di Kapal PSP 01 dan mendeskripsikan kesesuaian instalasi permesinannya mengacu pada pedoman FAO tahun 2009 tentang Safety Guide for Small Fishing Boats. Pendekatan dilakukan dengan menggunakan metode studi kasus dimana dilakukan pengamatan dan pengumpulan data yang meliputi modifikasi pada instalasi permesinan Kapal PSP 01 serta kesesuaiannya terhadap pedoman FAO tentang safety guide for small fishing boats. Hasil penelitian didapat bahwa mesin kapal PSP 01 dimodifikasi pada bagian sistem penyalaan, sistem bahan bakar, sistem pelumasan, sistem transmisi, dan sistem pendingin mesin. Berdasarkan pedoman FAO tahun 2009 tentang Safety Guide for Small Fishing boats, instalasi permesinan Kapal PSP 01 dalam hal sistem pompa lambung terpenuhi 58,33%, sistem bahan bakar terpenuhi 52,63%, sistem pembuangan gas pembakaran terpenuhi 33.33%, ventilasi kamar mesin terpenuhi 0%, rangkaian instalasi kelistrikan terpenuhi 85,71%, instalasi baterai terpenuhi 100%, pemeriksaan harian sebelum menyalakan mesin terpenuhi 75%, pemeriksaan harian setelah menyalakan mesin terpenuhi 100%, pemeriksaan tiap empat belas hari terpenuhi sebesar 20%, dan pemeriksaan tiap 100-150 jam setelah mesin beroperasi terpenuhi sebesar 0%. Kesesuaian instalasi permesinan Pada Kapal PSP 01 Berdasarkan pedoman FAO tahun 2009 tentang Safety Guide for Small Fishing Boats secara keseluruhan sebesar 47,65%
    corecore