1,285 research outputs found
Diversion Method by Investigators in Resolving Cases of Children in Conflict with the Law
The purpose of this study is to study and analyze the function of investigator diversion in resolving cases of children in conflict with the law. In this writing, the author uses a juridical normative method with a research specification in the form of descriptive analysis. One of the efforts to protect children in conflict with the law is through Law Number 11 of 2012 concerning the Juvenile Criminal Justice System. The existence of the Law on the Criminal Justice System in its implementation contains a requirement to uphold justice for children in conflict with the law, namely by implementing restorative justice as one of the methods of resolving child cases in Indonesia. The purpose of such juvenile justice is operationally played by law enforcement officers, in this context, law enforcement officers as regulated in Law No. 2 of 2002 concerning the Republic of Indonesia National Police are given the widest possible freedom and in all examination enhancements to exercise discretion. The implementation of diversion is motivated by the desire to avoid negative effects on the child's soul and development by their involvement with the criminal justice system. The implementation of diversion by law enforcement officers is based on the authority of law enforcement officers called discretion; is the authority of law enforcement officers who handle criminal cases
MODEL PENGEMBANGAN PENDIDIKAN KARAKTER BERBASIS PENGUATAN BUDAYA SEKOLAH RELIGIUS DI SMA ISLAM SULTAN AGUNG 3 SEMARANG
The problem of national identity and character lately is at risk. The number of negative events and behaviors, both individually and in groups in the community, illustrates the degadration of the nation's moral values. The character crisis is characterized by an increasing number in crime and violence in the society, including in the world of education. This fact encourages the emergence of various lawsuits on the effectiveness of character education in schools which so far have been seen by some communities as having failed in building students' affection with eternal values and being able to answer the challenges of the changing times.That the crisis of character, one of which is caused by a lack of understanding and practice of religious teachings. Religious characters that require students to understand and be able to practice the teachings of their religion become one of the most important character points in order to improve the good character of students. Religious becomes the foundation of the nation's character, so we need a way to build religious character for each student. Departing from this, in this article the author will discuss about the development model of religious school culture-based character education. The problem in this article will be focused first, on how to develop character education models based on the strengthening of religious school culture in Sultan Agung 3 Islamic High School Semarang; second, how the results of the implementation of the development of character education based on strengthening the culture of religious schools in Sultan Agung 3 Islamic High School Semarang. This article is the result of a qualitative descriptive study conducted by the author at Sultan Agung 3 Islamic Senior High School Semarang. From the research conducted by the author, the results of this research are: the model of character education development based on strengthening the religious school culture is needed in order to increase the effectiveness of character education in schools. Keywords: Character education, character crisis, religious school culture.Â
Pengaruh Penggunaan Whey dan Feses Sapi Madura sebagai Substrat Biogas terhadap Produksi Metan, Kecernaan Nitrogen dan Total Amonia Nitrogen
ONY LIPIYANTO. 23010110120018. 2014. Pengaruh Penggunaan Whey dan Feses Sapi Madura sebagai Substrat Biogas terhadap Produksi Metan, Kecernaan Nitrogen dan Total Amonia Nitrogen (The Effect of Whey and Madura Cattle Manure as Substrate in the Biogas Digester on the Methane Production, Nitrogen Digestibility and Total Ammonia Nitrogen). (Pembimbing: AGUNG PURNOMOADI dan SUTARYO).
Tingginya volume limbah feses dari peternakan dapat diolah menjadi biogas. Biogas membutuhkan kadar air 90% untuk menghasilkan gas optimal, alternatif pencair menggunakan whey. Whey mempunyai kandungan nitrogen sehingga dapat dimanfaatkan oleh bakteri untuk menghasilkan gas yang lebih optimal, tetapi apabila kadar nitrogen terlalu tinggi dapat menimbulkan racun.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dampak penggunaan whey dalam substrat biogas dengan bahan baku feses sapi Madura terhadap produksi metan, kecernaan nitrogen dan total amonia nitrogen (TAN). Penelitian dilaksanakan bulan Oktober - Desember 2013, di Laboratorium Produksi Ternak Potong dan Perah Fakultas Peternakan dan Pertanian Universitas Diponegoro, Semarang.
Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah feses sapi Madura yang diberi pakan untuk produksi yang baik yaitu sebanyak 2 hidup pokok sebagai bahan utama, whey susu yang diperoleh dari perusahaan keju Indrakila Kabupaten Boyolali dan air sebagai bahan pencair feses, ammonia reagent kit serta larutan NaOH 4% (w/w). Alat yang digunakan adalah 2 buah rangkaian digester dengan kapasitas 7000 ml, karet penutup, botol kaca, selang teflon, malam dan tedlar gas bag. Alat pengukur metan terdiri dari pompa air, gelas ukur kapasitas 1000 ml, rangkaian kayu untuk menopang gelas ukur, selang karet, pompa air dan bak penampung air. Perlakuan yang diterapkan yaitu T1 dengan bahan isian feses sapi madura dicairkan dengan air (FA) dan T2 dengan bahan isian feses sapi madura dicairkan dengan whey (FW). Variabel penelitian yang diamati meliputi produksi metan, nitrogen tercerna dan total amonia nitrogen. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan t-test.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan nyata (P0,05).
Kesimpulan dari penelitian ini adalah penggunaan whey dalam substrat biogas dengan bahan baku feses sapi Madura berpengaruh terhadap produksi metan dengan adanya peningkatan produksi metan yang dihasilkan tetapi tidak memberikan pengaruh terhadap TAN
Tingkah Laku Makan Sapi Madura Jantan yang Diberi Pakan dengan Level Berbeda (Eating Behaviour of Madura Catlle with Different Feeding Level).
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkah laku makan sapi Madura jantan yang diberi pakan dengan level (kuantitas) yang berbeda. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juli-Oktober 2013 di kandang Laboratorium Produksi Ternak Potong dan Perah Fakultas Peternakan dan Pertanian Universitas Diponegoro, Semarang.
Materi yang digunakan adalah 12 ekor sapi madura jantan umur 1,5-2 tahun dan bobot awal 128-165 kg, dengan rata-rata 143,41 kg ± 10,21 kg (CV=7,11%). Pakan yang diberikan rumput gajah sebanyak 30% dan konsentrat 70% yang terdiri dari bekatul, Wheat pollard gandum, bungkil kedelai dan gaplek dengan kandungan PK 13% dan TDN 58,86%. Rancangan percobaan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL), dengan 3 perlakuan dan 4 ulangan. Dengan perlakuan (T1 level 1,8% BK; T2 level 2,7% BK; T3 level 3,6% BK) dari bobot badan. Parameter yang diamati yaitu waktu makan, ruminasi, berdiri, berbaring dan jumlah kunyah. Parameter pendukung yang lain yaitu konsumsi BK pakan, pertambahan bobot badan harian (PBBH), frekuensi minum, urinasi, defekasi dan bobot feses. Data hasil penelitian diolah dengan uji F. Jika terdapat perbedaan yang signifikan, dilanjutkan dengan uji Duncan’s New Multiple Range Test.
Hasil penelitian menunjukkan konsumsi BK total berbeda sangat nyata (P0,05). Kesimpulan dari penelitian ini dapat diketahui adanya perbedaan nyata pada tingkah laku makan sapi Madura jantan yang diberi pakan dengan level berbeda. Perlakuan T2 menunujukkan hasil yang paling baik.
vi
KATA PENGANTAR
Sapi Madura merupakan plasma nutfah lokal Indonesia yang berpotensi untuk dikembangkan. Produktivitas ternak dipengaruhi oleh pakan. Pemberian pakan dapat diberikan dengan level yang berbeda tergantung kebutuhan dan fase pertumbuhan ternak. Jumlah pakan yang dikonsumsi dapat mempengaruhi tingkah laku makan sapi.
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayat-Nya, sehingga skripsi ini dapat terselesaikan dengan baik. Skripsi ini ditulis sebagai syarat untuk kelulusan pada Program Studi S1 Peternakan dan Pertanian, Universitas Diponegoro, Semarang. Skripsi ini ditulis berdasarkan serangkaian kegiatan penelitian yang dilaksanakan di Kandang dan Laboratorium Produksi Ternak Potong dan Perah Fakultas Peternakan dan Pertanian Universitas Diponegoro, Semarang pada bulan Juli-Oktober 2013.
Serangkaian kegiatan mulai dari penelitian sampai pada tahap penulisan skripsi ini dapat terselesaikan dengan baik karena adanya bantuan dari berbagai pihak, oleh karena itu penulis mengucapkan terimakasih banyak kepada Prof. Ir. Agung Purnomoadi, M.Sc., Ph.D. dan Ir. Sularno Dartosukarno sebagai dosen pembimbing yang telah memberika bimbingan, arahan, nasehat, dorongan semangat dan waktunya kepada penulis selama penelitian berlangsung dan sampai peyusunan skripsi ini. Ucapan terimakasih juga penulis sampaikan kepada Sri Mulyani S.Pt., M.P. dan Agung Subrata S.Pt., M.P. selaku dosen wali yang telah memberikan nasihatnya dan bimbingan akademik selama ini. Penulis mengucapkan terimakasi
Two Methods of Near Infrared Reflectance Spectroscopy for Determining the Digestibility and Energy Value of Feeds
Abstract Two groups of rations with known in vivo digestibility and energy values were used in this study. These rations were composed of Italian ryegrass only (lRO. n = 45), and combination
of Italian ryegrass and concentrates (lRC, n = 58). The IRC ration was obtained from two batches, namely IRC-l and IRC-2 consisting of 42 and 16 samples, respectively. Two methods of near infrared reflectance spectroscopy (NIRS ; direct and indirect method) were carried out for comparison with the in vivo value. Samples (30 each) of IRO and IRC-l group rations were randomly chosen to develop the NIRS calibration equations for estimating digestibility and energy value. These equations were used to determine the digestibility and energy value of the remaining 15 samples of IRO and 12 samples of IRC-I (direct method). Also, digestibility of those remaining samples were calculated based on the lignin indicator method using feeds and fecal components determined by NIRS (indirect method). Comparison of the value determined by direct and indirect methods with the in vivo of those remaining samples called validation test. Same comparison was conducted to IRC-2 ration samples for application test. The direct method of NIRS showed reliability only for ration at the same batch with that used in developing the calibration. However. the indirect method showed the potential and reproducibility for determination
of digestibility and energy values of ration either originated from the same or different batch with that used in developing calibration. Anim. Sci. Technol. (Jpn.) 68 (4) : 351-359, 1997 Key words: NIRS, Digestibility. Energy value, Dairy cattl
Prediction of Feed Digestibility Using Differences in NIRS Spectra between Feeds and Feces at a Determined Region of Wavelength
Abstract A total of seventy-two pairs of feed and fecal samples collected from the digestion trials of dairy catlle were used in the study to predict dry matter digestibility (OMO). organic matter digestibility (OMO) and total digestible nutrients (TON) using near infrared reflectance spectroscopy. Calibration and prediction were made from the difference of second derivative spectra between feeds and feces. From these spectra. 31. 28 and 13 samples were separated for calibration. prediction and test. respectively. Wavelengths of 1878.2172.2278 and 2362nm were selected from determined region at 1900-.2200-.2300-and 2400-nm for developing the calibration equations for DI\10. OMO and TDN. Correlation coefficient for DMD. OMD and TDN of the calibration were 0.95, 0.92 and 0.95, respectively. while the standard error were 2.9 for the first two nutrients and 2.8 for TDN. Whereas, r values (and standard error) for the prediction equations were 0.89 (3.5). 0.92 (3.32), and 0.91 (3.16), while for the test samples, were 0.97 (1.96). 0.97 (1.88) and 0.96 (1.94). respectively. This study showed the possibility and applicability of predicting digestibil· ity and TDN using the spectra difference of feeds and feces through the wavelengths from four determined regions above 1900-nm. Anim. Sci. Technol. (Jpn.) 69 (3) : 253-259. 1998 Key words: NIRS. Digestibility. Dairy cattl
Legal Protection Against Women Victims of Violence in The Household (Case Study in Balikpapan City Area)
This research aims to know and analyze the procedure of legal protection for women victims of domestic violence in Balikpapan City. In addition, this study also examines the legal efforts that can be done in protecting women victims of domestic violence in Balikpapan City. The type of research used is sociological juridical research. In this research, the author uses legal protection theory, legal benefit theory and legal protection theory in Islamic perspective as the theoretical framework. In this case, Law Number 23 Year 2004 is a legal regulation that provides legal protection for women who are victims of domestic violence. In addition, there are several facts that show a consistent increase in the number of cases of violence against women in East Kalimantan Province every year. Based on these events, the author believes that the implementation of legal protection for women who are victims of domestic violence (KDRT) with 3 (three) legal efforts, namely preventive legal efforts, curative legal efforts and repressive legal efforts
KAJIAN PENDUGAAN ME DARI DE PADA SAPI, KERBAU DAN DOMBA DI INDONESIA
ADSTRAK Sejumlah 100 data kesetimbangan energi yang diperoleh dari temak Indonesia, terdiri dari 36 data dari domba lokal, 24 data dari kerbau lumpur, 12 data dari sapi Peranakan Limousin (PL) dan 28 data dari sapi Peranakan Ongole (PO) digunaktin untuk mt:ngetahui proporsi nilai energy termetabolh (ME) dari energi tercema (DE) pada temak di Indonesia. Data tersebut diperoleh dari 14 penelitian ten tang kesetimbangan r.nergi dengan berbagai macam perlakuan pakan. Nilai ME dit~ntukan dengan mengukur energi yang dikonsumsi, energi yang keluar me1alui feses, urin dan gas methan dengan metode total koleksi. Total koleksi di dilaksanakan selama 7 hari untuk ciomba dan 5 hari untuk sapi dan kerbau, setelah temak terlebih dulu dibi:J.sakan dengan pakan perlakuan sedikitllya 2 minggu. Produksi methan diukur dengan metode Facemask yang dilengkapi dengan Methane analyser (Horiba, Jpn) selama 10 menit dengan interval 3 jam selama 2 hari sl;gera setelah berakhimya peri ode total koleksi. Produksi methan ini kemudian dikonversikan menjadi produksi tOlal harian. Hasil studi ini menunjukkan bahwa nilai ME Gomba lokal Indonesia, kerbau, sapi PO dan sapi PL masing masing adalah 78.0, 74,1 72,5, dan 74,3% dari nilai DE. Nilai ME tersebut lebih rendah dibandingkan 80% yang direkomendasikan oleh ARC (lnO), atau 82% yang direkomendasikan oleh Japanese feeding standard (AFFRCS, 1999). Hasil ini menunjukkan bahwa proses metabolisme dalam kondisi panas dan lembab :.eperti di Indoresia kurang efisien jika dibandingkan dengan pada kondisi sub-tropis. Kata kunci: DE, ME, kerbau, Sapi, Domba. ABSTRACT • I , :,.'-j". A ·'total J't'1'66 data of energy balance trials from Indonesian livestock, composed of 36 data from indigenous sheep, 24 data from swamp buffaloes, 12 data from grade OngoIe-Limousin Crossbred cattle, and 28 data from Grade Ongole cattle were used to study the :,PF9Portion of metabolisable energy (ME) from digestible energy (DE). Those data were obtained from 14 balance trials of various feeding treatments. Metabolisable energy was determined by measuring gross energy intake, energy loss in form of faeces, urine and methane by total collection methods. Total collections was conducted for a 7day
period for sheep and 5-day period for cattle and buffalo, following at least 2-week feed adaptation period. Methane production was measured by the facemask method equipped with methane analyser (Horiba, Japan) for 10 minutes at 3-hour intervals for 2 days immediately after the total collection ended. This methane production was then converted to daily total production. The results showed that metabolisable energy of Indonesia indigenous sheep, swamp buffalo, Grade Ongole cattle and Grade Ongole-Limousin Crossbred were 78.0, 74.1, 72.5 and 74.3% of DE. The value of ME was less than 80% that was recommended by Agricultural Research Council (1980), or 82% as recommended by Japanese Feeding Standart (AFFRCS, 1999). It was considered that m~tabolism pro(;ess in hot and humid areas such as Indonesia was less efficient as compared with that in the sub-tropics. Key words: DE, ME, buffalo, callIe, sheep
POTONGAN KOMERSIAL DAN IMBANGAN DAGING-TULANG KARKAS PADA DOMBA EKOR GEMUK DENGAN PEMBERIAN PAKAN SIANG DAN / ATAU MALAM
INDIRA KEMALA PRATIWI. 23010110120030. 2015. Potongan Komersial dan Imbangan Daging-Tulang Karkas pada Domba Ekor Gemuk dengan Pemberian Pakan Siang dan/atau Malam. (Pembimbing: EDY RIANTO dan AGUNG PURNOMOADI).
Suatu penelitian telah dilakukan dengan tujuan untuk mengkaji potongan komersial dan imbangan daging-tulang karkas pada Domba Ekor Gemuk yang diberi pakan siang dan/atau malam hari serta mengkaji pemotongan komersial karkas dan imbangan daging-tulang pada domba ekor gemuk. Penelitian ini dilaksanakan pada September 2013 – Januari 2014 di Kandang Laboratorium Produksi Ternak Potong Fakultas Peternakan dan Pertanian Universitas Diponegoro Semarang.
Materi penelitian yang digunakan dalam penelitian ini meliputi 12 ekor domba ekor gemuk jantan yang berumur 12-18 bulan dengan bobot badan rata – rata 20,65 ± 1,88 kg. Pakan yang diberikan berupa complete feed dengan PK sebesar 14% dan TDN 60%. Complete feed tersusun atas bekatul 45%, jerami gandum 28%, bungkil kedelai 13%, gaplek 11% dan molases 3%. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) terdiri dari 3 perlakuan (masing-masing 4 ekor), yaitu pemberian pakan pada siang hari (06.00 – 18.00/T1), pemberian pakan pada malam hari (18.00 – 06.00/T2), dan pemberian pakan secara ad libitum selama 24 jam (T3). Parameter yang diamati adalah konsumsi pakan, PBBH, bobot potong, bobot karkas, persentase karkas, bobot potongan komersial, persentase potongan komersial, dan imbangan daging-tulang.
Hasil penelitian menunjukan perlakuan yang diterapkan tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap PBBH (75,26 g), bobot potong (30.915 g), bobot karkas (13.375 g), dan persentase karkas (43,10%).Hasil bobot potongan komersial menunjukkan hasil yang tidak berbeda nyata (P>0,05) dengan rata-rata leg 3.475,3 g, shoulder 1.433,4 g, breast 890,6 g, loin 731,7 g, rack 633,5 g, shank 443,7 g, neck 310,3 g, dan flank 147,9 g. Hasil persentase potongan komersial menunjukkan hasil yang tidak berbeda nyata (P>0,05) dengan rata-rata leg 31.33 %, shoulder 21.98 %, breast 13.51 %, loin 9.66 %, rack 9.6 %, shank 6.8 %, neck 4.87 %, dan flank 2.26 %. Hasil bobot lemak dan daging tidak berbeda nyata (P>0,05) dengan rata-rata 1.447,2 g dan 3.838,0 g, namun bobot tulang menunjukkan hasil yang berbeda nyata (P0,05) dengan rata-rata 3,57.
Simpulan dari penelitian ini adalah perlakuan pemberian pakan siang dan/atau malam tidak mempengaruhi produktivitas ternak yang meliputi PBBH, bobot potong dan persentase karkas domba ekor gemuk.Pemberian pakan siang dan/atau malam juga tidak mempengaruhi kuantitas potongan komersial karkas dan imbangan daging-tulang, namun perlakuan siang dan/atau malam dapat memberikan bobot tulang yang baik pada domba ekor gemuk
PENGARUH PENAMBAHAN KONSENTRAT TERHADAP KELUARAN KREATININ PADA DOMBA DENGAN UMUR YANG BERBEDA
NUNING ARI PURNAMI, 23010114120018. 2018. Pengaruh
Penambahan Konsentrat terhadap Keluaran Kreatinin pada Domba dengan Umur
yang Berbeda (The Effect of Concentrate Supplementation on Creatinine
Excretion in Sheep at Different Ages). (Pembimbing: Edy Rianto dan Agung
Purnomoadi).
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan
konsentrat dalam ransum dan perbedaan umur terhadap keluaran kreatinin pada
domba. Penelitian dilaksanakan di Kandang Laboratorium Produksi Ternak
Potong dan Perah, Departemen Peternakan, Fakultas Peternakan dan Pertanian,
Universitas Diponegoro, dari bulan Januari sampai Mei 2017.
Materi yang digunakan adalah 16 domba lokal jantan, terdiri dari 8 ekor
domba dewasa umur 1 tahun, bobot badan 22,71 ± 0,77 kg dan 8 ekor domba
muda umur 4 bulan dengan bobot badan 15,20 ± 1,59 kg. Rancangan percobaan
yang digunakan adalah rancangan acak tersarang, dengan 2 perlakuan pakan, yaitu
rumput gajah 100% (T0) dan rumput gajah 50% + konsentrat 50% (T1).
Kandungan protein kasar (PK) rumput gajah adalah 8,77% dengan serat kasar
(SK) 34,43%, dan kandungan nutrien campuran rumput gajah + konsentrat yaitu,
PK 12,07% dan SK 26,02%. Jumlah pemberian pakan adalah 3,5% bobot badan.
Parameter yang diamati adalah konsumsi BK, konsumsi PK, dan keluaran
kreatinin. Data yang diperoleh dianalisis dengan Student t-test.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa domba dewasa memiliki
konsumsi BK, konsumsi PK dan keluaran kreatinin lebih tinggi (P˂0,01) daripada
domba muda. Penelitian ini juga menunjukkan penambahan konsentrat
berpengaruh nyata (P˂0,01) terhadap konsumsi BK, konsumsi PK dan keluaran
kreatinin. Penambahan konsentrat berpengaruh nyata (P˂0,01) terhadap konsumsi
pakan dalam %BB pada domba muda, tetapi tidak berbeda nyata pada domba
dewasa (P˃0,05). Konsumsi BK domba dewasa dan muda dengan pakan rumput
adalah 436,42 g/hari (2,45%BB) dan 196,09 g/hari (1,34%BB), serta konsumsi
BK dengan pakan konsentrat pada domba dewasa dan muda adalah 777,90 g/hari
(3,50%BB) dan 584,88 g/hari (3,49% BB). Konsumsi PK domba dewasa dan
muda dengan pakan rumput adalah 38,27 g/hari dan 17,20 g/hari, konsumsi PK
dengan pakan konsentrat pada domba dewasa dan muda adalah 93,89 g/hari dan
70,60 g/hari. Keluaran kreatinin domba dewasa dan muda dengan pakan rumput
adalah 189,42 mg/hari dan 181,90 mg/hari, keluaran kreatinin dengan pakan
konsentrat pada domba dewasa dan muda adalah 328,92 mg/hari dan
269,28 mg/hari. Kesimpulan penelitian ini adalah penambahan konsentrat
mempengaruhi konsumsi BK, PK dan keluaran kreatinin pada domba muda dan
dewasa. Konsumsi dan keluaran kreatinin pada domba dewasa lebih tinggi
daripada domba muda. Penambahan konsentrat mampu meningkatkan konsumsi
dan keluaran kreatinin pada domba dewasa maupun muda
- …
