652 research outputs found

    The Decay of Wall Bounded MHD Turbulence at Low RM

    No full text
    We have developed a new spectral method to simulate flows with very fine boundary layers present. We apply it to calculate the evolution of freely decaying MHD turbulence between isolating walls. By comparison them with results obtained in fully periodic domain we quantify the influence of the channel walls on the character of freely decaying MHD turbulence

    Hall Effects on scale hierarchy in MHD turbulence

    No full text
    Direct numerical simulations of MHD turbulence with and without uniform magnetic field are carried out to study the Hall effects on scale-hierarchy in MHD turbulence. It is observed that vortex and current sheets are filamented either by the Kelvin- Helmholtz instability or magnetic reconnection in case of Hall MHD turbulence, while the filamentation is not observed without the Hall term. We show that the filamentation occurs not only for scales smaller than the ion skin depth, which is indicated by the Hall parameter, but also for scales larger than the ion skin depth, affecting turbulence statistics. It is also shown that the Hall effects can be modelled by a Smagorinsky-type model effectively for high wave number regions

    Properties of magnetic energy and magnetic helicity cascades in MHD turbulence

    No full text
    Magnetohydrodynamic (MHD) turbulence is an important part of astrophysical processes, which gives rise to global cosmic magnetic fields. Over the last few decades, the peculiarities of MHD turbulence have attracted the interest of researchers in astrophysics and fluid dynamics, significant attention has been paid to the role of magnetic helicity in fully developed MHD turbulence. Magnetic helicity, together with the energy and cross-helicity, is one of the three integrals of motion in ideal MHD. We show that oppositely directed fluxes of energy and magnetic helicity coexist in the inertial range in fully developed magnetohydrodynamic (MHD) turbulence with small-scale sources of magnetic helicity. Using a helical shell model of MHD turbulence, we study the high Reynolds number magnetohydrodynamic turbulence with well separated scales of energy input, magnetic helicity input and magnetic helicity sink. We obtain three inertial ranges with different scaling properties. In a short range of scales larger than the forcing scale of magnetic helicity, a bottleneck-like effect appears, which results in a local reduction of the spectral slope. The slope changes in a domain with a high level of relative magnetic helicity, which determines that part of the magnetic energy related to the helical modes at a given scale. In the infrared part of the spectra we observe simultaneous inverse cascade of energy and magnetic helicity. Our results indicate that a large-scale dynamo can be affected by the magnetic helicity generated at small scales. The kinetic helicity, in particular, is not involved in the process at all

    Magnetic condensate in 2D MHD

    No full text
    By means of numerical simulations, we investigate the phenomenon of self-organization of the magnetic field in a large-scale coherent structure, which occurs in two-dimensional Magneto-Hydro-Dynamic (2D MHD) in presence of a magnetic forcing. We show that the magnetic condensate is not able to induce a large-scale motor effect on the velocity field

    The 2D/3D dynamics of wall-bounded low-Rm magnetohydrodynamic (MHD) turbulence

    No full text
    With this experimental study, we give evidence that the dynamics of low-Rm MHD turbulence depends on the diffusion length l_z, which corresponds to the distance over which the Lorentz force is able to diffuse momentum before it is balanced by inertia

    《 唐山大地震 》电影指示语的分析 《Tángshān dà dìzhèn 》diànyǐng zhǐshì yǔ de fēnxī

    No full text
    The title of this study is Deixis Analysis in the Aftershock Film 《唐山大地震》by Feng Xiaogang (Pragmatic Study). This research aims: (1) Describe the types of deixis found in the Aftershock film 《唐山大地震》. (2) Analyzing the use of deixis found in the Aftershock film 《唐山大地震》. The theory used in this study is the pragmatic theory of Levinson. This research is a qualitative descriptive study. The subject of this research was Aftershock Film 《唐山大地震》.The data in this study is the text which becomes a conversation dialogue on the Aftershock film 《唐山大地震》.In this study, the process of collecting data uses the method refer to the note taking technique. The validity of the data used is by perseverance of observation and triangulation. The results of this study indicate that there are five types of Chinese deixis in the Aftershock film 《唐山大地震》, namely; person deixis, place deixis, time deixis, discourse deixis, and social deixis. In the analysis of the use of deixis found in the Aftershock film 《唐山大地震》. The author draws the conclusion that a word whose referent is not fixed in a speech can be known if it does not use / use gestural, namely designation accompanied by motion - gesture, and use symbolically, which is an appointment that is not accompanied by gestures.Judul dari penelitian ini adalah Analisis Deiksis Dalam Film Aftershock 《唐山大地震》Karya Feng Xiaogang (Kajian Pragmatik). Penelitian ini memiliki tujuan: (1) Mendeskripsikan jenis-jenis deiksis yang terdapat di dalam film Aftershock 《唐山大地震》. (2) Menganalisis penggunaan deiksis yang terdapat di dalam film Aftershock 《唐山大地震》. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori pragmatik dari Levinson. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Subjek penelitian ini adalah Film Aftershock 《唐山大地震》. Data dalam penelitian ini ialah teks yang menjadi dialog percakapan pada film Aftershock “唐山大地震”. Dalam penelitian ini, proses pengumpulan data menggunakan metode simak dengan teknik catat. Teknik keabsahan data yang digunakan yaitu dengan ketekunan pengamatan dan trianggulasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat lima jenis deiksis bahasa Mandarin pada film Aftershock 《唐山大地震》 yaitu; deiksis persona, deiksis tempat, deiksis waktu, deiksis wacana, dan deiksis sosial. Pada hasil analisis penggunaan deiksis yang terdapat dalam film Aftershock 《唐山大地震》ini, penulis menarik kesimpulan bahwa suatu kata yang referennya tidak tetap dalam suatu tuturan dapat diketahui maknanya apabila tidak memakai/memakai penggunaan secara berkial (gestural) yaitu penunjukan yang disertai dengan gerak - gerik badan, dan penggunaan secara berperlambang (symbolic) yaitu penunjukan yang tidak disertai dengan gerak - gerik badan.240 HalamanSkripsi Sarjan

    Sengoku Jidai No Bushi Ni Okeru Yoroi No Imi To Kinou (1407-1615)

    No full text
    Pada tahun 1467 sampai tahun 1477, di Jepang terjadi perang Onin. Selama perang ini berlangsung mengakibatkan banyak korban jiwa dan kehancuran ibu kota. Pada masa ini para prajurit dikirim ke medan laga. Perang Onin yang terjadi pada tahun 1467 disusul dengan pemberontakan-pemberontakan di propinsi-propinsi, mengakibatkan menguatnya penguasa-penguasa daerah atau para tuan tanah, yang memiliki otoritas kekuasaan sipil dan politis, ini lah dimana masa sengoku dimulai. Keadaan yang demikian ini memunculkan elite daimyo, yang menguasai tanah-tanah di daerah dan masyarakat yang berdiam di daerah tersebut. Pertentangan dan kekacauan yang dipicu oleh perebutan pengaruh dan kekuasaan semakin besar ketika bangsa Portugis masuk ke wilayah Jepang melalui pulau Tanageshima pada tahun 1543. Kedatangan bangsa Portugis di Jepang semakin memperkeruh suasana sebab bangsa Portugis memperkenalkan senjata api yang dapat segera dimanfaatkan dalam pertempuran-pertempuran sipil. Pada masa ini para daimyo saling memperebutkan kekuasaan, dimana mengakibatkan kekacauan politik, yang mengakibatkan kaisar yang seharusnya memiliki kekuasaan tertinggi, tidak bisa mengendalikan para bangsawan militer yang berperang. Masa peralihan dimulai ketika tiga orang pemimpin perang yaitu Oda Nobunaga, Toyotomi Hideyoshi dan Tokugawa Ieyasu berhasil mengembalikan ketertiban, mempersatukan kembali bangsa Jepang. Oda Nobunaga mencoba mempersatukan Jepang dibawah kekuasaanya, bersama Hideyoshi dan Ieyasu. Menyatukan kekuatan dan strategi untuk mengalahkan daimyo yang lain. Kondisi zaman yang telah berubah, mengubah strategi dalam medan peperangan. Pasukan besar prajurit biasa yang bersenjatakan tombak panjang dan terlatih untuk bertempur dalam susunan yang rapat telah terbukti mampu mengalahkan prajurit bangsawan lain. Senjata api yang berkembang pun menjadi salah satu alat yang digunakan dalam peperangan. Hal ini mengakibatkan pakaian perang juga dikembangkan, untuk mengatasi senjata api. Pada penelitian ini, menggunakan acuan teori Malinowski mengenai fungsional suatu benda, dan Peirce mengenai makna pada suatu benda. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif. Metode ini memberikan gambaran secermat mungkin mengenai sesuatu, dalam hal ini mengenai yoroi yang digunakan para samurai. Awalnya pakaian perang hanya di buat dari bulu hewan, dan kulit tebal, pankaian tempur kemudian berkembang dengan bahan kulit yang dilekatkan dengan potongan kayu, selanjutnya berkembang dengan metode bahan kulit yang dikeraskan dengan vernis, hingga menggunakan potongan besi. Bagian-bagian utama pakaian tempur Jepang terdiri dari; kabuto atau pelindung kepala, do atau pelindung badan, sode atau pelindung bahu. Selain dari itu ada juga bagian-bagian untuk menambah kesempurnaan perlindungan seperti; pelindung wajah, leher, tangan, betis, dan kaki yang disebut dengan kogusoku. Masa sengoku dimana peperangan terus berlangsung menyebabkan para samurai tidak pergi tanpa baju zirah. Baju zirah yang awalnya melindungi diri dari anak panah tidak lagi efektif, karena pakaian perang tidak melindungi secara menyeluruh. Karena hal ini berkembanglah doumaru, haramaki, dan yoroi yang menghasilkan tousei gusoku atau baju zirah modern. Doumaru dan haramaki, sudah digunakan sejak masa Nara dan Azuchi-momoyama, namun tidak selengkap pada masa sengoku dalam pemakaiannya. Tousei dibentuk melihat keuntungan dari doumaru, haramaki, dan yoroi. Perbedaan yang paling kentara antara tousei gusoku dan yoroi adalah penjahitannya. Haramaki merupakan baju zirah yang digunakan prajurit pejalan kaki atau ashigaru, sedangkan para panglima ashigaru menggunakan doumaru. Tousei gusoku, awalnya hanya digunakan para bangsawan atau samurai degan pangkat tinggi dan memiliki keuangan yang baik, dikarenakan mahalnya biaya produksi. Menuju abad ke-16, muncul tren dimana para samurai kelas atas menghiasi baju zirah mereka, hal ini membuat mereka mencolok diantara banyak orang. Beberapa ketopong yang awalnya hanya dapat digunakan para panglima, menjadi hal biasa yang dapat digunakan samurai. Pada pertengahan abad ke-16 kembali muncul kawari kabuto, sebuah ketopong berhias yang hanya dimiliki para samurai berpangkat tinggi yang dapat membelinya. Tujuan dari kawari kabuto sendiri adalah menunjukkan pangkat, status sosial dan kekayaan samurai. Pelindung wajah, hoate berfungsi melindungi wajah melengkapi kabuto. Penutup wajah ini didesain untuk menakut-nakuti lawan. Kemudian dikembangkan hingga melindungi bagian leher samurai. Kabuto dihiasi menjadi sangat eksentrik, digunakan juga untuk menunjukkan cita rasa seni dan keyakinan religius mereka. Hal ini, menunjukkan bagaimana beberapa hal pada pakaian perang tidak sekedar memiliki fungsi penting dalam menaklukkan lawan namun juga bagaimana menunjukkan identitas diri.Skripsi Sarjan

    印尼棉兰华裔对敬天公祈祷习俗研究 (Yìnní Mián Lán Huáyì Duì Jìngtiān Gōng Qídǎo Xísú Yánjiū)

    No full text
    The title of the study is "The Function and Meaning of the Celebration of worship King Thi Kong on Chinese New Year for the Ethnic Hokkien in Medan". The focus of the study was on the function and meaning of the celebration of worship King Thi Kong for the people of ethnic Hokkien. In this study, the author uses the functionalism theory from Malinowski to examine the functions and semiotic theories of Pierce to examine meaning. The research method used is a qualitative method based on field sources, interviews, observations, and researchers acting as observers involved. The results obtained scientifically in (1) the function is the realization of respect and gratitude for the Hokkien ethnic community to King Thi Kong, the delivery of prayer and hope that life in the new year will always go well, and be given abundant sustenance (2) the meaning is every tradition has the symbolic meaning of human devotion to God and has the meaning of life, the meaning of sustenance, the meaning of happiness, the meaning of prosperity, the meaning of family harmony and the meaning of longevity for those who play a role in this celebration.Skripsi ini berjudul “Fungsi dan Makna Perayaan Sembahyang Tebu pada Tahun Baru Imlek Bagi Masyarakat Etnis Hokkien Di Medan”. Fokus kajian adalah terhadap fungsi dan makna perayaan sembahyang tebu bagi masyarakat etnis Hokkien. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan teori fungsionalisme dari Malinowski untuk mengkaji fungsi dan teori semiotik dari Pierce untuk mengkaji makna. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dengan berdasarkan sumber di lapangan, wawancara, observasi, dan peneliti bertindak sebagai pengamat terlibat. Hasil yang diperoleh secara keilmuan pada (1) fungsinya adalah sebagai perwujudan rasa hormat dan terimakasih masyarakat etnis hokkien kepada King Tian Kong, penyampai doa dan harapan agar kehidupan ditahun yang baru senantiasa berjalan baik, dan diberi rezeki yang berlimpah (2) maknanya adalah setiap tradisi memiliki makna lambang ketakwaan manusia kepada Tuhan dan memiliki makna kehidupan, makna rezeki, makna kebahagiaan, makna kemakmuran, makna keharmonisan keluarga serta makna umur panjang bagi orang yang berperan dalam perayaan ini.Skripsi Sarjan

    Sidewall flow stability in the MHD channel flows

    No full text
    The velocity distribution between two sidewalls is; M-shaped for the MHD channel flows with rectangular cross section and thin conducting walls in a strong transverse magnetic field. Assume that the dimensionless numbers R(m) much less than 1, M, N much greater than 1, and sigm

    印尼棉兰华裔对敬天公祈祷习俗研究 (Yìnní Mián Lán Huáyì Duì Jìngtiān Gōng Qídǎo Xísú Yánjiū)

    No full text
    The title of the study is "The Function and Meaning of the Celebration of worship King Thi Kong on Chinese New Year for the Ethnic Hokkien in Medan". The focus of the study was on the function and meaning of the celebration of worship King Thi Kong for the people of ethnic Hokkien. In this study, the author uses the functionalism theory from Malinowski to examine the functions and semiotic theories of Pierce to examine meaning. The research method used is a qualitative method based on field sources, interviews, observations, and researchers acting as observers involved. The results obtained scientifically in (1) the function is the realization of respect and gratitude for the Hokkien ethnic community to King Thi Kong, the delivery of prayer and hope that life in the new year will always go well, and be given abundant sustenance (2) the meaning is every tradition has the symbolic meaning of human devotion to God and has the meaning of life, the meaning of sustenance, the meaning of happiness, the meaning of prosperity, the meaning of family harmony and the meaning of longevity for those who play a role in this celebration.Skripsi ini berjudul “Fungsi dan Makna Perayaan Sembahyang Tebu pada Tahun Baru Imlek Bagi Masyarakat Etnis Hokkien Di Medan”. Fokus kajian adalah terhadap fungsi dan makna perayaan sembahyang tebu bagi masyarakat etnis Hokkien. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan teori fungsionalisme dari Malinowski untuk mengkaji fungsi dan teori semiotik dari Pierce untuk mengkaji makna. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dengan berdasarkan sumber di lapangan, wawancara, observasi, dan peneliti bertindak sebagai pengamat terlibat. Hasil yang diperoleh secara keilmuan pada (1) fungsinya adalah sebagai perwujudan rasa hormat dan terimakasih masyarakat etnis hokkien kepada King Tian Kong, penyampai doa dan harapan agar kehidupan ditahun yang baru senantiasa berjalan baik, dan diberi rezeki yang berlimpah (2) maknanya adalah setiap tradisi memiliki makna lambang ketakwaan manusia kepada Tuhan dan memiliki makna kehidupan, makna rezeki, makna kebahagiaan, makna kemakmuran, makna keharmonisan keluarga serta makna umur panjang bagi orang yang berperan dalam perayaan ini.Skripsi Sarjan
    corecore