478 research outputs found

    Evaluasi Tren Fenotipik Dan Genetik Sapi Bali Di Balai Pembibitan Ternak Unggul Dan Hijauan Pakan Ternak Denpasar.

    No full text
    Balai Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak (BPTU HPT) Denpasar telah lama menerapkan program VBC dengan pola inti-terbuka. Program pemuliaan ini melibatkan kelompok peternak untuk plasma dan BPTU HPT Denpasar sebagai inti. Melalui pola ini terdapat aliran ternak hasil pemuliaan di kelompok plasma ke inti dan sebaliknya sehingga populasi yang satu mempengarhui populasi yang lain. Penelitian ini bertujuan untuk mengestimasi tren gentik dan fentotipik sifat pertumbuhan bobot lahir, bobot sapih dan bobot satu tahun sapi Bali di BPTU HPT Denapasar di Pulukan Bali. Penelitian ini mempergunakan data hasil koleksi BPTU HPT Denpasar dari tahun 2008-2013 Data meliputi data non-genetik yaitu catatan jenis kelamin, paritas, dan tahun kelahiran serta data genetik yaitu catatan data bobot lahir (BL), sapih (BS), dan 12 bulan (BY) dengan jumlah ternak masing-masing 573, 541 dan 523 ekor. Data bobot badan sebelum analisis dilakukan koreksi untuk bobot sapih umur 205 hari (WW205) dan bobot setahun/365 hari (YW365). Data dianalisis mengunakan General Linier Model (GLM) untuk pengaruh non-genetic. Penngaruh genetik terdiri atas heritabilitas, ripitabilitas, korelasi genetik, korelasi fenotipik diestimasi mempergunakan General Linier Model and Restricted Maximum Likelihood. Pendugaan tren fenotipik dan genetik diperoleh menggunakan regresi linier rataan sifat yang diamati terhadap tahun kelahiran. Nilai heritabilitas bobot lahir, sapih, 6 bulan, dan 12 bulan yang diperoleh masing-masing adalah 0.02±0.08; 0.83±0.18 dan 0.62±0.30. Korelasi genetik dan fenotipik tertinggi diperoleh antara berat sapi dan berat satu tahun masing-masing adalah 0.719 and 0.650. Persamaan regresi yang diperoleh untuk EBV semua sifat yang diamati serta tren fenotipik BS dan BY tidak signifikan (P>0.01) dengan koefisien determinan (R2) rendah. Sebaliknya, persamaan regresi untuk tren fenotipik BL signifikan (P<0.01) dengan koefisien R2 tinggi sehingga bisa dikatakan untuk tren BL sapi Bali menurun. Dengan tidak ditunjukkannya peningkatan tren EBV untuk ketiga sifat yang diamati serta penampilan BL yang menurun tiap tahun cukup memberikan peringatan tentang program pemuliaan yang dilaksanakan

    Komposisi Jaringan Potongan Komersial Karkas Domba Ekor Tipis Jantan Umur Enam Bulan dengan Ransum Penggemukan Mengandung Indigofera sp. dan Limbah Tauge

    No full text
    The research aimed to study tissue composition in commercial cuts of the six month of male thin tailed lamb fattened on ration containing Indigofera sp. and sprouts waste. This experiment used eight thin tailed lamb raised for three months in individual cages. The data was analyzed by Analysis of Covariance (ANCOVA). Characteristics carcass corected with body weight before treatments were conducted, composition and distribution carcass corrected with chilled carcass weight. The result showed that the treatment did not significantly affect (P>0,05) carcass characteristics and composition. However, thin tailed sheep fed on ration with sprouts waste had significantly (P<0,05) heavier muscle in the rack and significantly lighter of fat in the leg (P<0,05) compared to those fed on ration contained Indigofera sp. Thin tailed sheep fed on ration with sprouts waste had significantly (P<0,05) higher percentage of bone in leg compared to those fed on ration contained Indigofera sp. Leg at thin tailed sheep fed on ration with Indigofera sp. had the best proportion commercial cut carcaas

    Penerapan good breeding practices sapi potong di PT lembu jantan perkasa Serang-Banten

    Full text link
    Cow-calf production is fundamental to the other cattle production system, i.e growing of stocker and cattle finishing. Good Breeding Practices (GBP) for beef cattle is important for breeding goal achievement that is producing breeding animal. The scope of GBP in beef cattle farming includes four aspects: facilities, cattle breeding, environmental protection and supervision. The study aimed to examine the Good Breeding Practices for beef cattle at PT Lembu Jantan Perkasa (LJP) in Serang -Banten. Descriptive analysis was used to review the breeding operation in PT LJP Serang-Banten. The breeding parameters observed were calving interval, service per conception, conception rate, and calving rate. The result showed that in general the company had applied well GBP in its operation. There were several aspects that should be considered to improve the GBP operation those site plant building and security, replacement stock, and animal health. Calving interval are 408 days in 2009 and 372 days in 2010. Service per conception are 1,6 in 2009 and 1,5 in 2010. Conception rate are 78% in 2009 and 88% in 2010 and calving rate are 23% in 2009 and 84% in 2010

    Komposisi Jaringan pada Potongan Komersial Karkas Domba Garut dan Ekor Tipis Umur Sebelas Bulan dengan Ransum Penggemukkan Mengandung Indigofera sp.

    No full text
    Garut and Thin Tailed sheep are categorized as small ruminant animal. They are potential as meat producers. The aim of this research was to examine differences in tissue composition of commercial cuts from garut and Thin Tailed sheep aged 11 months and fattened on ration containing Indigofera sp. The study used four garut and four Thin Tailed sheep with initial body weight of 14,9 ± 1,1 kg and 13,6 ± 0,6 kg respectively (CV=10,14%). The experiment was set up ini completely randomized design. The animals were intensively fattened for three months in individual cages. They were fed ad libitum with pelleted ration contained Indigofera sp.. The sheep were slaughtered, dressed, and the chilled carcasses were cutted into seven commercial cuts and each cuts were dissecsed into muscle, fat, and bone. The results showed that there were no significantly differences in carcass muscle and bone weight, but carcass fat weight. Garut sheep had significantly (P<0,05) lower fat weight in the carcass compare to Thin Tailed sheep. The differences occured primaly in shoulder, loin, breast, and leg cuts. However on percentage bases, there were significant (P<0,05) between breed differences in carcass compotition. The garut sheep carcass contained significantly more muscle and bone, but less fat than those of Thin Tailed sheep

    Pengaruh Waktu terhadap Tingkah Laku Sapi Bali di Kecamatan Palmatak Kabupaten Kepulauan Anambas Kepulauan Riau

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh waktu terhadap lama tingkah laku makan, minum, ruminasi dan istirahat sapi bali di padang penggembalaan yang berada di Desa Langir Kecamatan Palmatak Kabupaten Kepulauan Anambas Kepulauan Riau. Penelitian dilakukan langsung dengan survey lapang dan pengamatan iklim mikro dilakukan pada waktu yang dibagi kedalam (pagi, siang, dan sore). Pagi hari pada pukul 8.00-10.00 WIB, siang hari pada pukul 12.00–14.00 WIB, dan sore hari pada pukul 15.00–17.00 WIB, dengan interval selama 2 jam. Ternak yang diamati pada penelitian ini yaitu 4 ekor sapi bali terdiri dari betina dewasa (BD) umur diatas 3 tahun, 1 ekor sapi bali jantan dewasa (JD) umur 4 tahun, sapi pedet sebelum sapih (PSS) umur kurang dari 1 tahun dan sapi pedet lepas sapih (PLS) yang dipelihara pada sistem penggembalaan. Sapi bali padang penggembalaan Palmatak secara umum melakukan tingkah laku makan lebih sering pada waktu sore hari, tingkah laku istirahat dan ruminasi lebih sering dilakukan pada siang hari. Tingkah laku minum hanya dilakukan oleh sapi bali pedet sebelum sapih (PSS) dan sapi bali pedet lepas sapih (PLS) dilakukan pada waktu pagi dan sore hari. Tingkah laku minum pada jantan dewasa dan betina dewasa tidak dilakukan, hal tersebut dikarenakan pada waktu pengamatan ternak tidak melakukan aktivitas minum. Produktivitas ternak secara langsung dapat dipengaruhi oleh suhu, kelembaban udara, radiasi dan kecepatan angin, yang dapat mempengaruhi tingkah laku ternak yang berakibat pada produktivitasnya

    Karakteristik Karkas dan Non Karkas Domba Lokal Betina yang Berbeda Bangsa di TPH Maleber Bogor

    No full text
    A total of 119 local ewe which consist of 18, 76 and 25 garut sheep, thintailed sheep and fat-tailed sheep was used to evaluate the characteristics of carcass and non carcass at slaughterhouse in Maleber Bogor. The data were analyzed using Analysis of Covariance (ANCOVA), with slaughter weight as a covariable. The results showed that slaughter weight, carcass weight, empty body weight and carcass percentage among these breeds were no significantly different (P>0.05). There were no significantly differences among breeds in the weights of non carcass components, except kidney and shank. There were no significantly among breeds differences in percentage of non carcass components, except kidney percentage. In general, the garut sheep, thin-tailed and fat-tailed slaughtered at weight 20.46 kg, 15.73 kg and 15.98 kg had carcass percentages of 47.14%, 46.61% and 47.65%, and non carcass percentages of 33.56%, 32.73% and 33.32% respectivel

    Evaluasi Tatalaksana Peternakan Sapi Bali di Kecamatan Palmatak Kabupaten Kepulauan Anambas Kepulauan Riau.

    No full text
    Sebagian besar penduduk di Kecamatan Palmatak selain bekerja sebagai nelayan juga berprofesi sebagai petani-peternak. Potensi utamanya adalah lahan yang memiliki sumber pakan hijauan bagi ternak sehingga mendukung pengembangan sapi bali. Tujuan penelitian ini untuk mengevaluasi aspek tatalaksana (reproduksi, pakan ternak, tatalaksana pemeliharaan, serta kesehatan ternak) dari peternakan sapi rakyat di Kecamatan Paltamak. Penelitian ini menggunakan 45 peternak sebagai responden dan 238 ekor sapi bali untuk mengukur Body Condition Score (BCS). Data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder. Data yang dikumpulkan yaitu deskripsi daerah, karakteristik petani, komposisi sapi bali, pengetahuan reproduksi, pemberian pakan, tatalaksana pemeliharaan, dan kesehatan hewan. Hasil penelitian aspek teknis pemeliharaan sapi bali menunjukkan skor 311.38 atau hanya 41.75% dari total skor yang diharapkan (745). Faktor penentu aspek teknis pemeliharaan sapi bali yang perlu diperbaiki meliputi pengetahuan dan keterampilan peternak terhadap aspek reproduksi, pakan ternak, tatalaksana pemeliharaan, dan kesehatan hewan

    Karakteristik Morfometrik Sapi Aceh, Sapi PO Dan Sapi Bali Berdasarkan Analisis Komponen Utama (AKU).

    No full text
    Sapi Aceh merupakan satu dari empat sapi lokal (Aceh, Bali, Madura, Pesisir) dan Peranakan Ongole (PO) juga dianggap sebagai bangsa sapi lokal Indonesia. Ternak-ternak asli telah terbukti dapat beradaptasi dengan lingkungan lokal termasuk makanan, ketersediaan air, iklim dan penyakit. Dengan demikian, ternak-ternak inilah yang paling cocok untuk dipelihara dan dikembangkan di Indonesia, walaupun produksinya lebih rendah dari ternak impor.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik ukuran tubuh Sapi Aceh, Sapi Bali Dan Sapi Peranakan Ongole. Ternak yang digunakan dalam penelitian ini adalah sapi Aceh, sapi PO dan sapi Bali dengan masing-masing berjumlah 20 ekor dengan kisaran umur 18 bulan sampai 30 bulan ke atas. Bagian tubuh yang diukur sebanyak 18 parameter. Penilaian morfometrik dilakukan dengan mengukur langsung bagian tubuh ternak (manual). Data yang di peroleh dianalisis dengan menggunakan Analisis Anova dan Komponen Utama (AKU). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengukuran morfometrik ternak sapi Aceh, Sapi PO dan sapi Bali menunjukkan hasil yang berbeda nyata (P <0,05). Hasil analisis komponen utama (AKU) menunjukkan komponen utama penciri ukuran adalah pada sapi Bali lingkar dada, pada sapi PO tinggi pundak, dan pada sapi Aceh panjang badan. Sedangkan pada komponen utama penciri bentuk adalah pada sapi bali dan sapi PO pada dalam dada, pada sapi Aceh pada bagian thorachic. Hasil yang diperoleh dapat digunakan sebagai profil fenotip ke tiga bangsa dan penting bagi pembentukan strategi konservasi dan perkembangbiakan kedepannya untuk mencegah hilangnya keanekaragaman hayati di indonesia

    Pengaruh Acidifier dan Mannan Oligosakarida terhadap Performa Sapi Penggemukan di Feedlot, Pangakalan Bun, Kalimantan Tengah.

    No full text
    Penambahan imbuhan pakan seperti mannan oligosakarida (MOS) dan acidifier pada ransum untuk ruminansia diketahui dapat memperbaiki dan mempertahankan kondisi ekologi rumen. Imbuhan pakan yang diaplikasikan ke dalam ransum diharapkan dapat meningkatkan konsumsi bahan kering, bobot badan hidup, serta pertambahan bobot badan harian (PBBH). Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh penambahan imbuhan pakan berupa MOS dan acidifier terhadap performa dan efisiensi pakan sapi penggemukan berjenis Brahman Cross. Penelitian ini menggunakan 120 ekor sapi jantan kastrasi Brahman Cross dengan bobot awal rata-rata 288 ±17.4 kg ekor-1 yang didistribusikan ke dalam empat kelompok perlakuan pakan. Empat kelompok perlakuan tersebut adalah perlakuan kontrol (konsentrat tanpa imbuhan pakan), perlakuan acidifier (konsentrat dengan acidifier sebagai imbuhan pakan), perlakuan MOS (konsentrat dengan MOS sebagai imbuhan pakan), dan perlakuan acidifier + MOS (konsentrat dengan acidifier dan MOS sebagai imbuhan pakan). Pemberian pakan meliputi konsentrat berbasis limbah sawit dan pelepah sawit sebagai hijauan dengan perhitungan kebutuhan bahan kering harian sebesar 2.5% bobot hidup ternak. Data konsumsi bahan kering harian tiap perlakuan dikoleksi setiap hari selama 90 hari, sedangkan data bobot badan individu dikoleksi setiap 30 hari. Data kemudian diuji secara deskriptif untuk parameter konsumsi bahan kering dan uji repeated measurement analysis of covariance untuk parameter bobot badan dan PBBH. Hasil uji deskriptif menunjukkan perlakuan acidifier memiliki konsumsi bahan kering harian yang lebih tinggi pada setiap periode day on feed (DoF) dibanding perlakuan lainnya. Analisis statistik pada parameter bobot badan serta PBBH menunjukkan bahwa secara umum pada setiap periode DoF perlakuan acidifier memiliki nilai yang lebih tinggi dan berbeda nyata dibanding perlakuan lainnya (P<0.05)

    Perkembangan Kerangka Tubuh Serta Pendugaan Bobot Hidup Sapi Pesisir Dan Peranakan Ongole Betina Dengan Pencitraan Digital.

    No full text
    Menjaga dan melestarikan keragaman ternak lokal asli Indonesia sangat penting dilakukan untuk mempertahankan sifat khas yang dapat dimanfaatkan pada masa yang akan datang. Salah satu cara penentuan keragaman fenotipik sapi lokal Indonesia adalah dengan pengamatan terhadap pertumbuhan ukuran tubuh atau morfometrik. Pengukuran bobot tubuh ternak penting untuk dilakukan, karena bobot tubuh merupakan indikator penting dalam produktivitas ternak serta sangat erat kaitannya dengan produksi ternak. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi perkembangan kerangka tubuh pada sapi Pesisir dan sapi Peranakan Ongole berdasarkan morfometrik dengan metode pencitraan digital dan pendugaan bobot hidup sapi Pesisir dan sapi Peranakan Ongole berdasarkan luas permukaan tubuh dengan dua variabel penduga yaitu luas permukaan tubuh samping (LPTS) dan luas permukaan tubuh belakang (LPTB) dengan metode pencitraan digital. Penelitian ini menggunakan sapi Peranakan Ongole (PO) dan sapi Pesisir betina masing-masing berjumlah total 40 dan 50 ekor. Gambar yang digunakan untuk pengukuran morfometrik dan gambar luas permukaan tubuh sapi untuk pendugaan bobot hidup sapi diperoleh dengan melakukan pemotretan menggunakan kamera digital pada tubuh ternak dari bagian samping serta belakang kemudian dihitung menggunakan software corel draw dan autocad. Analisis karakteristik morfometrik tubuh sapi Pesisir dan Sapi Peranakan Ongole dilakukan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola Faktorial dengan dua faktor perlakuan yang berbeda yaitu bangsa dan tingkatan kelompok umur. Untuk melakukan analisis pendugaan bobot hidup sapi berdasarkan luas permukan tubuh dilakukan menggunakan regresi linear berganda. Hasil Penelitian ini menunjukkan Sapi Pesisir dengan kerangka tubuh kecil memiliki pertumbuhan lebih lambat dibandingkan sapi PO dengan kerangka tubuh besar. Luas permukaan tubuh samping (LPTS) dan luas permukaan tubuh belakang (LPTB) memiliki hubungan 70.57% terhadap bobot hidup sapi Peranakan Ongole dan 40.96% terhadap bobot hidup sapi Pesisir. Hasil persamaan regresi menunjukkan nilai standar eror 51.63 kg pada sapi Peranakan Ongole dan 25.54 kg pada sapi Pesisir. Oleh sebab itu, pendugaan bobot hidup berdasarkan luas permukaan tubuh samping (LPTS) dan luas permukaan tubuh belakang (LPTB) tidak dapat digunakan sebagai indikator bobot hidup karena tingkat akurasi rendah
    corecore