7 research outputs found

    Analisis Status Keberlanjutan Pengelolaan Ekosistem Mangrove di Pesisir Kelurahan Wonorejo Kecamatan Rungkut Kota Surabaya Provinsi Jawa Timur.

    No full text
    Reksa Nanda Prayoga. 186040600011011. Analisis Status Keberlanjutan Pengelolaan Ekosistem Mangrove di Pesisir Kelurahan Wonorejo Kecamatan Rungkut Kota Surabaya Provinsi Jawa Timur. Di bawah bimbingan Dr. Asihing Kustanti, S.Hut., M.Si. sebagai pembimbing utama dan Prof. Dr. Ir. Djoko Koestiono, S.U. sebagai pembimbing pendamping. Ekosistem mangrove merupakan salah satu ekosistem paling produktif di daerah pesisir sub tropis dan tropis. Sekitar 3 juta ha hutan mangrove tumbuh di sepanjang 95.000 km pesisir Indonesia (Giri et al. 2011). Keberadaan hutan mangrove di suatu pantai memiliki pearn sangat penting diantaranya sebagai tempat asuhan (nursery ground) dan tempat mencari makan (feeding ground) bagi berbagai jenis hewan akuatik yang memiliki nilai ekonomi penting seperti ikan, udang kepiting dan kerang-kerangan (Nontji, 2017). Hutan mangrove juga dimanfaatkan oleh fauna untuk keperluan tempat berlindung (shelter and cover), tempat berkembang biak, dan tempat mencari makan. Ekosistem mangrove di pesisir Kelurahan Wonorejo memiliki fungsi sosial, ekologi, ekonomi dan kelembagaan yang harus dikelola dengan tepat agar menjamin keberlanjutannya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keberlanjutan pengelolaan ekosistem mangrove di Pesisir Kelurahan Wonorejo Kecamatan Rungkut Kota Surabaya Jawa Timur dengan mengintegrasikan semua kepentingan secara multidimensi (Sosial, Ekonomi, Ekologi dan Kelembagaan). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rapid Appraisal for Fisheries (RAPFISH) berdasarkan Multi Dimensional Scaling (MDS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa status keberlanjutan multidimensi pengelolaan ekosistem mangrove di Pesisir Kelurahan Wonorejo kurang berkelanjutan (47,50); Dimensi sosial sebesar 57,06 (cukup berkelanjutan); Dimensi ekonomi 58,03 (cukup berkelanjutan); Dimensi ekologi 27,59 (tidak berkelanjutan); Dimensi kelembagaan 49,32 (kurang berkelanjutan)

    Analisis Peramalan Penjualan Dan Bisnis Model Dengan Pendekatan Bussines Model Canvas Pada Produk Pertanian Beras Organik Di Komunitas Brenjonk Desa Penanggungan, Trawas, Mojokerto

    No full text
    Dewasa ini yang sedang menjadi trend di kalangan masyarakat adalah produk pertanian organik terutama beras karena produk organik karena kaya akan nutrisi serta aman untuk dikonsumsi karena tidak mengandung zat – zat kimia. Dilihat dari fakta yang ada di lapangan bahwa produksi beras organik oleh pelaku usahatani lebih besar permintaannya daripada penawaran yang ada saat ini. hal ini terjadi karena banyaknya restoran-restoran cepat saji yang menggunakan beras organik sebagai pengganti beras konvensional. Bukan hanya itu saja, kesadaran masayarakat akan kesehatan semakin besar. Hal tersebut menyebabkan permintaan beras organik semakin meningkat, sedangkan untuk penawarannya masih belum mencukupi secara keseluruhan yang diminta oleh konsumen. Untuk saat ini saja permintaan atau kebutuhan pasar di Komunitas Organik Brenjonk mencapai 17.856 Kg sedangkan produksi hanya 11.036 Kg pada 2016. Stok beras organik Komunitas Organik Brenjonk sering kosong dan tidak sesuai dengan target penjualan, mengakibatkan target penjualan tidak dapat terpenuhi. Hal ini bukan berarti permintaan beras organik Komunitas Organik Brenjonk rendah, namun kapasitas produksi yang terbatas untuk memenuhi permintaan konsumen. selain itu, penetapan target penjualan tidak sesuai dengan perkembangan penjualan beras organik Komunitas Organik Brenjonk. Pada permasalahan tersebut, dibutuhkan perencanaan penjualan. Perencanaan penjualan dalam hal ini dapat dilakukan oleh Komunitas Organik Brenjonk. Peramalan penjualan dapat dilakukan untuk memprediksi volume penjualan yang lebih akurat sehingga mengetahui gambaran permintaan di tahun mendatang untuk membuat target penjualan yang lebih baik dan realistis, serta dibutuhkan strategi dengan membuat model bisnis beras organik Komunitas Organik Brenjonk. Tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut: 1) untuk menganalisi trend penjualan beras organik Komunitas Organik Brenjonk tahun 2014 – 2016, 2) untuk meramalkan volume penjualan beras organik Komunitas Organik Brenjonk tahun 2017 – 2018, 3) untuk membuat model bisnis beras organik Komunitas Organik Brenjonk sebagai strategi manajerial. Serta untuk strategi dalam menanggapi peramalan, dilakukan dengan membuat model bisnis kanvas dengan menganalisis kesembilan elemennya. Penelitian ini dilakukan di Komunitas Organik Brenjonk secara purposive dengan pertimbangan sebagai produsen beras orgnaik yang sedang berkembang. Metode analisis peramalan yang digunakan adalah sebagai berikut: 1) Analisis trend, 2) Analisis Musiman, 3) Metode Box Jenkins (ARIMA). Hasil penelitian adalah sebagai berikut: 1) hasil analisis trend volume penjualan beras organik Komunitas Organik Brenjonk menunjukkan bahwa volume penjualan mengalami peningkatan yaitu sebesar 882.2 Kg per periode atau 882.2 Kg dalam satu bulan. 2) Hasil analisis musiman menunjukkan volume penjualan beras organik Komunitas Organik Brenjonk dipengaruhi secara musiman. 3) peramalan volume penjualan beras organik Komunitas Organik Brenjonk yang paling signifikan menggunkan ARIMA (2,0,1). Berdasarkan hasil peramalan volume penjualan beras organik Komunitas Orgnaik Brenjonk, volume penjualan tertinggi pada bulan Juli secara berturut – turut yaitu sebesar 1063 Kg dan 1086 Kg. sedangkan volume penjualan beras organik Komunitas Organik Brenjonk terendah setiap tahunnya, terjadi pada bulan April yaitu sebesar 813 Kg pada tahun 2017 dan 818 Kg pada tahun 2018. 4) pada bisnis model kanvas keseluruhan elemen perlu perbaikan, customer segment dengan membuat program kerja dan kunjungan konsumen untuk menjalin hubungan baik, Value Preposition dengan mempertahankan kualitas dan membuat perencanaan harga yang lebih kompetitif serta riset produk, channels dengan membuat program kerja terkait kepuasan pelanggan dan meningkatkan pemasaran, customer relationship dengan mempertahankan komunikasi menggunakan konsep personal assistence, revenue stream diperuntukkan sebagai investasi dan perbaikan infrastrukutr produksi, distribusi dan aktivitas penjualan, key resources dengan memanajemen sarana produksi serta infrastruktur untuk menjaga kualitas serta mengelola sendiri sarana produksi beras organik Komunitas Organik Brenjonk, key activities dengan meningkatkan koordinasi internal, key partners perlu dilakukan penambahan jumlah partner (trader/distributor) dan perluasan pasar, dan pada elemen cost structure dengan mengelola sendiri sarana produksi atau meminimalisir biaya pengadaan sarana produksi

    STRATEGI 4P DAN PRAKTEK PEMASARAN DIGITAL DALAM PRODUK JAMUR CRISPY DI KABUPATEN KEDIRI

    No full text
    Efforts to increase the added value of fresh mushroom products by turning them into crispy mushrooms carried out by Kebon Jamur partners face obstacles related to meeting market standards and marketing. In this digital era, the community service team sees a great opportunity to help increase product sales and effective and efficient marketing, while also helping the surrounding community\u27s economy. Through a participatory approach from the planning stage with FGD, it was decided to conduct training on the 4P digital marketing strategy. The training consisted of material and practice sessions attended by 50 participants. The training results showed an increase in participants\u27 knowledge, skills, and attitudes, with an average score of 79%. This means that the training successfully improved the capacity of the 4P digital marketing strategy

    Peran Wisata Edukasi, Niat Perilaku dan Lokasi dalam Mendorong Niat Kunjungan Ulang Wisata Edukasi Berbasis Industri Lokal

    No full text
    Local industry-based education is a form of tourism that integrates learning and recreational activities to provide meaningful experiences for visitors. The purpose of this study is to determine the roles of location, intention, and educational tourism in visitation intention, which is examined using the Theory of Planned Behavior (TPB). This study employed a quantitative, survey-based approach, distributing questionnaires to 30 third-semester students of the Faculty of Agriculture, Kadiri University, who participated in educational tourism activities at PT Rumah Atsiri Indonesia. The TPB framework was used to explain the formation of behavioral intentions that reflect attitudes, social support, and individual ability in planning return visits. The data was analyzed using multiple linear regression. The results of the analysis show that the educational tours at Rumah Atsiri Indonesia received excellent ratings, particularly in terms of the delivery of learning materials, the availability of facilities, educational value, and hands-on experience with plants and the essential oil processing process. The students\u27 behavioral intentions were categorized as very high, reflecting a positive attitude and a strong tendency to make repeat visits. The location aspect was rated as good in terms of comfort and ease of access, although transportation convenience was still a consideration for some respondents. The students\u27 intention to revisit was high, as demonstrated by their desire to return, participate in further educational activities, and recommend the destination to others. Overall, educational tours and location factors played a significant role in shaping the intention to revisit, with behavioral intention as a key component, as described in the Theory of Planned Behavior.  Edukasi berbasis industri lokal merupakan bentuk pariwisata yang mengintegrasikan aktivitas pembelajaran dan rekreasi sehingga mampu memberikan pengalaman bermakna bagi, pengunjung. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui peran lokasi, niat dan peran wisata edukasi terhadap niat kunjungan yang dikaji menggunakan pendekatan Theory of Planned Behavior (TPB). Penelitian ini menerapkan pendekatan kuantitatif dengan metode survei, yang dilakukan melalui penyebaran kuesioner kepada 30 mahasiswa semester 3 Fakultas Pertanian Universitas Kadiri yang berpartisipasi dalam kegiatan wisata edukasi di PT Rumah Atsiri Indonesia. Kerangka TPB digunakan untuk, menjelaskan pembentukan, niat perilaku yang mencerminkan sikap, dukungan sosial, dan kemampuan individu dalam merencanakan kunjungan kembali. Data dianalisis menggunakan metode regresi linier berganda. Hasil analisis menunjukkan bahwa pelaksanaan wisata edukasi di Rumah Atsiri Indonesia memperoleh penilaian sangat baik, khususnya pada aspek penyampaian materi pembelajaran, ketersediaan fasilitas,, nilai edukatif, serta pengalaman langsung mengenai tanaman dan proses pengolahan atsiri. Niat perilaku mahasiswa termasuk dalam ketegori sangat tinggi, yang mencerminkan sikap positif serta kecenderungan yang kuat untuk melakukan kunjungan ulang. Aspek lokasi dinilai baik dari sisi kenyamanan dan kejelasan akses, meskipun kemudahan transportasi masih menjadi pertimbangan bagi sebagian responden. Niat kunjungan ulang mahasiswa tergolong tinggi, ditunjukkan oleh keinginan, untuk kembali berkunjung, mengikuti kegiatan edukasi lanjutan, serta merekomendasikan destinasi kepada pihak lain. Secara keseluruhan, wisata edukasi dan faktor lokasi memiliki berperan yang signifikan dalam membentuk niat untuk melakukan nkunjungan ulang, dengan niat perilaku sebagai komponen kunci sebagaimana dijelaskan dalam kerangka Theory of Planned Behavior

    Budidaya Tanaman Hortikultura Sistem Hidroponik untuk Menarik Minat Generasi Muda dalam Bidang Pertanian

    No full text
    Agriculture is a key sector in fulfilling food needs and environmental sustainability; however, the interest of the younger generation in this field is declining. To reverse this trend, modern and promising agricultural education and understanding are needed, including hydroponic horticultural cultivation. This initiative aims to spark young people\u27s interest in agriculture through education and training in hydroponic horticultural cultivation. The program involved 20 participants from the youth organization Karang Taruna in Kediri Regency, specifically in Bulu Hamlet, Mukuh Village, and Kayen Kidul District. The methods used included lectures, discussions, training sessions, and evaluations conducted through pre- and post-tests. Training and education covered the fundamental concepts of hydroponics, cultivation techniques, nutrient management, and business opportunities associated with hydroponic farming. The program received positive responses, with participants showing enthusiasm and interest in hydroponic farming. Beyond the theoretical materials, participants were given opportunities for hands-on practice of hydroponic cultivation techniques. This program demonstrated that modern technological approaches, such as hydroponics, can enhance youth engagement and open up entrepreneurial opportunities in agriculture. It also highlighted the importance of collaboration and support from various stakeholders, including educational institutions, the government, industry, and the general public, in fostering sustainable agricultural interest among young people. Providing initial funding support is crucial for empowering young agricultural entrepreneurs. By focusing on improving knowledge, skills, motivation, and collaboration, this program can have a positive impact on participants and the local community while contributing to the sustainability of agriculture in the region.Agriculture is a key sector in fulfilling food needs and environmental sustainability; however, the interest of the younger generation in this field is declining. To reverse this trend, modern and promising agricultural education and understanding are needed, including hydroponic horticultural cultivation. This initiative aims to spark young people\u27s interest in agriculture through education and training in hydroponic horticultural cultivation. The program involved 20 participants from the youth organization Karang Taruna in Kediri Regency, specifically in Bulu Hamlet, Mukuh Village, and Kayen Kidul District. The methods used included lectures, discussions, training sessions, and evaluations conducted through pre- and post-tests. Training and education covered the fundamental concepts of hydroponics, cultivation techniques, nutrient management, and business opportunities associated with hydroponic farming. The program received positive responses, with participants showing enthusiasm and interest in hydroponic farming. Beyond the theoretical materials, participants were given opportunities for hands-on practice of hydroponic cultivation techniques. This program demonstrated that modern technological approaches, such as hydroponics, can enhance youth engagement and open up entrepreneurial opportunities in agriculture. It also highlighted the importance of collaboration and support from various stakeholders, including educational institutions, the government, industry, and the general public, in fostering sustainable agricultural interest among young people. Providing initial funding support is crucial for empowering young agricultural entrepreneurs. By focusing on improving knowledge, skills, motivation, and collaboration, this program can have a positive impact on participants and the local community while contributing to the sustainability of agriculture in the region

    Respon Petani Terhadap Program AUTP (Asuransi Usaha Tani Padi) di Desa Gondangmanis Kecamatan Bandarkedungmulyo Kabupaten Jombang

    No full text
    Agricultural insurance plays an important role in protecting farmers\u27 agricultural businesses. It provides guarantees against risks that may occur in farm businesses. This guarantee is given to farmers who experience losses from crop damage caused by natural factors such as drought, floods, and pest attacks. Insurance is provided through the Rice Farming Business Insurance Program (AUTP). The study aims to determine the response of farmers who cultivate rice plants to AUTP in Gondangmanis Village, Bandarkedungmulyo District, Jombang Regency. In this study, the sample of farmers used as research objects involved 118 sharecroppers who had received the AUTP program as respondents to the AUTP program. The number of respondents was 6 who participated in the AUTP program in the Manisrenggo farmer group, and 6 respondents participated in the AUTP program in the Gondangmanis farmer group. Two data sources are used in this study, namely primary data and secondary data. The research data were analyzed using validity tests and reliability tests. Farmer responses to the implementation of the AUTP program were valued at 69.92. This value has an average index formula of 87.40%, indicating that respondents Strongly Agree (ss) with the objectives, benefits, and implementation of the AUTP program in Gondangmanis Village, Bandarkedungmulyo District, Jombang Regency.   Asuransi Pertanian, berperan penting bagi petani dalam melindungi usaha pertanian mereka. Hal memberikan jaminan terhadap risiko yang mungkin terjadi dalam usaha pertanian. Jaminan ini diberikan kepada petani yang mengalami kerugian akibat kerusakan tanaman yang disebabkan oleh faktor alam seperti kekeringan, banjir, dan serangan hama asuransi diberikan melalui, Program Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP). Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui respon petani yang membudidayakan tanaman padi terhadap AUTP di Desa Gondangmanis Kecamatan Bandarkedungmulyo Kabupaten Jombang. Pada penelitian ini, sampel petani yang dipakai menjadi objek penelitian melibatkan 118 petani penggarap yang pernah menerima program AUTP sebagai responden terhadap program AUTP. Jumlah responden adalah 6 yang mengikuti program AUTP pada kelompok tani Manisrenggo dan 6 responden mengikuti program AUTP pada kelompok tani, Gondangmanis. Terdapat dua data yang dijadikan sumber pada penelitian ini yaitu data primer dan data sekunder. Data penelitian dianalisis menggunakan uji validitas dan uji reliabilitas. Respon petani terhadap pelaksanaan program AUTP bernilai 69,92. Nilai ini memiliki rata-rata rumus indeks sebesar 87,40 % menunjukkan arti bahwa responden Sangat Setuju (ss) terhadap tujuan, manfaat dan pelaksanaan program AUTP di Desa Gondangmanis Kecamatan Bandarkedungmulyo Kabupaten Jombang

    Mengubah Sampah menjadi Peluang: Pengelolaan Sampah Rumah Tangga Menjadi Barang Bernilai di Desa Woromarto, Kediri

    No full text
    Plastic waste represents a significant global environmental challenge due to its resistance to natural degradation and its widespread pollution impact. In Indonesia, the management of household plastic waste remains inadequate, largely due to limited public awareness and engagement. To address this issue, a community-based initiative was developed to build local capacity for managing plastic waste by creatively repurposing used water gallons into functional trash bins. This approach involved direct, hands-on training and ongoing mentoring of residents in Bangi, Woromarto Village, Purwoasri District, Kediri Regency. The effectiveness of the program was evaluated through participatory observation and systematic documentation of the products created by community members. The findings revealed a significant increase in community participation in recycling activities and the strategic placement of the repurposed trash bins throughout the village, thereby improving local waste management practices. Beyond providing a practical solution for reducing plastic waste accumulation, this initiative fostered positive behavioral changes by encouraging residents to adopt more responsible and sustainable practices centered on environmental stewardship and maximizing the value of discarded materials. Permasalahan sampah plastik merupakan isu global yang memberikan dampak serius terhadap pencemaran lingkungan karena sifat plastik yang sangat sulit terurai secara alami. Di Indonesia, pengelolaan sampah rumah tangga terutama plastik, masih belum optimal akibat rendahnya tingkat kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam mengelola limbah tersebut. Untuk mengatasi permasalahan ini, kegiatan yang dilaksanakan bertujuan untuk meningkatkan kapasitas masyarakat dalam pengelolaan sampah plastik melalui pemanfaatan galon bekas sebagai bahan utama pembuatan tempat sampah. Pendekatan yang digunakan adalah metode partisipatif melalui pelatihan dan pendampingan langsung kepada warga Dusun Bangi, Desa Woromarto, Kecamatan Purwoasri, Kabupaten Kediri. Evaluasi keberhasilan kegiatan dilakukan dengan observasi partisipatif dan dokumentasi hasil karya warga. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan keterlibatan masyarakat dalam proses daur ulang serta tersebarnya tempat sampah hasil olahan di berbagai titik desa. Kegiatan ini tidak hanya memberikan solusi praktis dalam pengurangan sampah plastik, tetapi memicu perubahan perilaku masyarakat menuju pengelolaan lingkungan yang lebih bertanggung jawab, berkelanjutan, dan bernilai guna
    corecore