2 research outputs found

    ENGLISH

    No full text
    In this increasingly fierce competitive landscape, local Indonesian fashion brands face the challenge of building strong brand resonance, especially among Gen Z consumers. Brand resonance, as defined by Keller (2013), refers to a deep connection between consumers and brands, which is characterized by active and intense loyalty. One of the key factors in building brand resonance is through brand salience, which refers to the extent to which a brand appears in consumers' minds in various purchasing and consumption situations (Romaniuk & Sharp, 2020). Generation Z in Indonesia is a very important consumer segment for the fashion industry. According to research conducted by Nielsen (2020), Gen Z in Indonesia represents around 27% of the total population and has significant purchasing power. A study by Deloitte Indonesia (2021) revealed that 62% of Gen Z Indonesia prefers local brands over international brands, indicating a huge opportunity for local fashion brands to develop. This study aims to explore the relationship between brand salience and brand resonance, and their effects on consumer loyalty towards local fashion brands in Indonesia.Dalam lanskap persaingan yang semakin ketat ini, merek lokal fashion Indonesia menghadapi tantangan untuk membangun resonansi merek (brand resonance) yang kuat, terutama di antara konsumen Gen Z. Brand resonance, sebagaimana didefinisikan oleh Keller (2013), merujuk pada hubungan yang mendalam antara konsumen dan merek, yang dicirikan oleh loyalitas aktif dan intens. Salah satu faktor kunci dalam membangun brand resonance adalah melalui brand salience, yang mengacu pada sejauh mana merek muncul dalam pikiran konsumen dalam berbagai situasi pembelian dan konsumsi (Romaniuk & Sharp, 2020). Generasi Z di Indonesia merupakan segmen konsumen yang sangat penting bagi industri fashion. Menurut riset yang dilakukan oleh Nielsen (2020), Gen Z di Indonesia mewakili sekitar 27% dari total populasi dan memiliki daya beli yang signifikan. Studi oleh Deloitte Indonesia (2021) mengungkapkan bahwa 62% Gen Z Indonesia lebih memilih merek lokal dibandingkan merek internasional, menunjukkan peluang besar bagi merek fashion lokal untuk berkembang

    Pemanfaatan Minyak Bekas Goreng dan Limbah Kopi sebagai Lilin Aromaterapi untuk Meningkatkan Minat Belajar Kimia Siswa di SMAN 2 Pontianak

    No full text
    This service program aims to increase students' interest in chemistry lessons through contextual activities, namely making aromatherapy candles from used cooking oil and coffee. This activity responds to the challenge of students' low understanding of chemistry concepts and the lack of education on sustainable household waste management. The implementation was conducted in the form of interactive training to 12th grade science students at SMAN 2 Pontianak, combining demonstration with hands-on practice. Pre-Test results showed an average initial understanding of 89.63%, then significantly improved after the training, with 93% of participants reaching the excellent category. Satisfaction surveys showed positive responses to the quality of learning and guidance provided. This activity was able to bridge chemical theory with real applications, as well as introduce circular economy principles in a simple way. The impact of the activity includes increased understanding, appreciation of chemistry, and environmental awareness. This activity has the potential to be implemented in other schools as a practice-focused learning method.Program pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan ketertarikan siswa terhadap pelajaran kimia melalui kegiatan kontekstual, yaitu pembuatan lilin aromaterapi berbahan dasar minyak bekas goreng dan serbuk kopi. Kegiatan ini merespons tantangan rendahnya pemahaman program pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan ketertarikan siswa terhadap pelajaran kimia melalui kegiatan kontekstual, yaitu pembuatan lilin aromaterapi berbahan dasar minyak bekas goreng dan kopi. Kegiatan ini merespons tantangan rendahnya pemahaman siswa terhadap konsep kimia dan kurangnya edukasi mengenai pengelolaan limbah rumah tangga secara berkelanjutan. Pelaksanaan dilakukan dalam bentuk pelatihan interaktif kepada siswa kelas 12 IPA di SMAN 2 Pontianak, yang menggabungkan demonstrasi dengan praktik langsung. Hasil Pre-Test menunjukkan rata-rata pemahaman awal sebesar 89,63%, kemudian meningkat signifikan setelah pelatihan, dengan 93% peserta mencapai kategori sangat baik. Survei kepuasan menunjukkan tanggapan positif terhadap kualitas pembelajaran dan bimbingan yang diberikan. Kegiatan ini mampu menjembatani teori kimia dengan aplikasi nyata, serta memperkenalkan prinsip ekonomi sirkular secara sederhana. Dampak kegiatan mencakup peningkatan pemahaman, apresiasi terhadap kimia, dan kesadaran lingkungan. Kegiatan ini memiliki potensi untuk diterapkan di sekolah lain sebagai metode pembelajaran yang berfokus pada praktik
    corecore