1,721,005 research outputs found
Pengaruh Suhu dan Lama Penyeduhan Teh Hijau (Camellia sinensis) serta Proses Pencernaan secara In vitro terhadap Penghambatan Aktivitas Enzim Alfa Amilase dan Alfa Glukosidase secara In vitro
Tea is one of the major product in food industries. One type of its product is green tea. Diabetes is a chronic disease that occurs either when the pancreas does not produce enough insulin or when the body cannot effectively use the insulin. Green tea has an active compound which inhibits α-amylase and α-glucosidase enzyme performance. Natural alpha-amylase and alpha-glucosidase inhibitors from food-grade plants offer an attractive strategy either to prevent or manage type 2 diabetes via controling starch breakdown and intestinal glucose absorption. The research focuses on evaluating the correlationship between tea’s anti diabetic activity and brewing’s time and temperature. In this study, six different extracts based on combination of temperature (in 70 and 100oC) and brewing time (in 5, 15, and 30 minutes) were investigated for alpha-amylase and alphaglucosidase potential inhibitor. Furthermore, the influence of the in vitro digestion condition to the activity of the enzyme was also performed in this study. The enzyme inhibitory and total phenol were measured by spectrophotometric while tannin content was measured by gravimetric method. Results showed that green tea brewed by 100oC 5 minutes and 100oC 15 minutes can optimally inhibit alphaamylase at initial extract (as an estimation of salivary alpha-amylase), 70oC 5 minutes, 70oC 30 minutes, 100oC 5 minutes, and 100oC 15 minutes inhibit alpha-amylase at pH digestion-controlled (as an estimation of pancreatic amylase) higher than another green tea extracts. Green tea brewed by 70oC 30 minutes can optimally inhibit alpha-glucosidase enzyme, both at initial extract and pH digestion-controlled extract. After passed through the in vitro digestion, green tea extracts showed decreasing of inhibition values both of alpha-amylase and alpha-glucosidase
Stabilitas Mikroenkapsulat Ekstrak Daun Suji (Pleomele Angustifolia N.E. Brown) Terhadap Perlakuan Pemanasan dan pH
Daun suji merupakan salah satu tanaman lokal yang mudah dibudidayakan
dan memiliki total klorofil yang tinggi yaitu sekitar 1.4% berat basis kering.
Klorofil dan turunannya memiliki kemampuan aktivitas antioksidan secara in vitro,
in vivo dan ex vivo. Pada penelitian ini dilakukan uji stabilitas mikroenkapsulat
ekstrak daun suji terhadap perlakuan pemanasan (kering dan larutan) dan perlakuan
pH (larutan). Semakin lama pemanasan, kadar air, total klorofil dan intensitas
warna hijau mikroenkapsulat daun suji semakin menurun namun total fenolik dan
kapasitas antioksidan semakin meningkat. Sedangkan pada mikroenkapsulat
ekstrak daun suji yang dibuat larutan, pH larutan dan suhu pelarut yang
menghasilkan total klorofil, intensitas warna hijau, kapasitas antioksidan dan total
fenolik tertinggi adalah 6.30 dan 95oC. Jadi, stabilitas mikroenkapsulat ekstrak daun
suji dipengaruhi oleh perlakuan pemanasan dan pH
Penetapan Nilai Indeks Glikemik Estimasi (IGE) pada Mi Instan Komersial secara in Vitro.
Mi instan merupakan salah satu produk pangan sumber karbohidrat yang digemari di Indonesia. Proses pengolahan mi instan diduga dapat menurunkan daya cerna pati yang berkorelasi dengan rendahnya nilai indeks glikemik (IG). Kajian mengenai indeks glikemik dari mi instan komersial perlu dilakukan untuk mengetahui karakteristik karbohidrat yang terkandung didalamnya. Tujuan penelitian ini adalah memperoleh nilai indeks glikemik estimasi secara in vitro, memperoleh korelasi faktor-faktor yang dapat mempengaruhi nilai indeks glikemik estimasi, dan menghitung beban glikemik (BG) dari mi instan komersial. Penelitian ini menggunakan 6 jenis sampel mi instan rebus komersial merek lokal dan dipilih berdasarkan Top Brand 2018. Hasil penetapan nilai indeks glikemik estimasi (IGE) mi instan menunjukkan bahwa nilai IGE90 lebih mendekati nilai IG in vivo dengan kisaran nilai 41±0.50 hingga 48±2.41 berdasarkan pangan acuan glukosa dan diklasifikasikan sebagai IG rendah. Berdasarkan analisis korelasi Pearson, tidak terdapatnya korelasi yang signifikan antara IGE dan IGE90 dengan kadar protein, lemak, dan serat pangan total. Kadar pati cepat cerna mi instan yang didapatkan memiliki kisaran nilai 13.69-20.49 g/100 g sampel dan berkorelasi positif dengan IGE. Sementara itu hasil perhitungan BG dengan nilai IGE90 menunjukkan bahwa mi instan komersial yang diuji mempunyai BG kategori sedang hingga tinggi dengan kisaran nilai 18-22 sesuai dengan takaran saji masing-masing merek
Pengaruh Ph Larutan Penyeduh Dan Lama Penyeduhan Terhadap Kapasitas Antioksidan Ekstrak Teh Daun Sirsak (Annona Muricata Linn)
Daun sirsak memiliki kandungan fitokimia antioksidan yang tinggi. Di
Indonesia air rebusan daun sirsak telah digunakan sebagai obat tradisional. Pada
penelitian ini, daun sirsak diolah menjadi bentuk teh untuk meningkatkan
kestabilannya selama penyimpanan. Penelitian ini bertujuan unuk mengkaji
pengaruh pH larutan penyeduh (6, 4 dan 3) dan lama penyeduhan (5, 7.5, 10 dan
12.5 menit) terhadap kapasitas antioksidan, total fenolik dan total flavonoid dari
ekstrak teh daun sirsak. Hasilnya menunjukkan bahwa kapasitas antioksidan dan
total flavonoid pada larutan peyeduh pH 6 lebih besar daripada pH 3 dan 4
(p<0.05), sedangkan total fenolik tidak dipengaruhi pH larutan penyeduh
(p>0.05). Lama penyeduhan (5, 7.5, 10 dan 12.5 menit) tidak berpengaruh nyata
(p>0.05) terhadap kapasitas antioksidan, total fenolik dan total flavonoid yang
diduga karena penurunan suhu selama penyeduhan mengakibatkan proses
ekstraksi kurang efektif
Konsumsi Minyak Sawit Mentah (MSMn) Dapat Diterima dan Memperbaiki Profil Lipid serta Menurunkan Kadar C-Reactive Protein (C-RP) Plasma Ibu Usia Produktif Di Kecamatan Dramaga Kabupaten Bogor.
Crude palm oil (CPO) contains carotenoids, including beta carotene around 400-1000 ppm as provitamin A and vitamin E (tocopherol and tocotrienol) around 559-1000 ppm. Fatty acid composition of red palm oil consists of 50% saturated fatty acids and 50% unsaturated fatty acids. Unsaturated fatty acids in red palm oil can up regulate LDL cholesterol receptors there by increasing catabolism of LDL cholesterol. Tocotrienols in palm oil can inhibit 3-hydroxy-3- methylglutaryl coenzyme A (HMG-CoA) reductase in cholesterol biosynthetic pathway. Beta carotene and vitamin E in red palm oil are powerful antioxidant against free radicals. C-reactive protein (C-RP) is a marker of inflammation, the antioxidants in red palm oil can reduce the incidence of inflammation. The purpose of this study was to determine the acceptance of CPO as cooking oil and the effect of its consumption on lipid profile and C-reactive protein. Subjects total of 151 families, including 508 respondents were given 140 ml CPO in plastic bottle weekly for 2 months freely. The distribution was accompanied with socialization of oil benefit and utilization with five types of questionnaires. For plasma analysis, blood from 33 mothers of childbearing age were withdrawn before and after oil distribution and analyzed for C-reactive protein and lipid profile. The oil was accepted by the respondent and used as cooking oil. The results showed that consumption of red palm oil reduce absorbance levels of CRP from 0,111 to 0,103, total cholesterol from 168,3 mg/dL to 158,0 mg/dL, LDL cholesterol from 98,7 mg/dL to 81,1 mg/dL, ratio total cholesterol:HDL from 4,3 to 3,5 and increase HDL cholesterol from 41,5 mg/dL to 45,6 mg/dL was significantly (p <0.05), but not significantly lower triglyceride level
Kapasitas Antioksidan, Anti Lipase, dan Anti Kolesterol Esterase dari Bubuk Sari Buah Citrus maxima kultivar Nambangan
Pamelo (Citrus maxima) kultivar Nambangan dibudidayakan di daerah Magetan, Jawa Timur. Kandungan flavonoid utama pada pamelo adalah neohesperidin, hesperidin, flavon, dan narirutin. Dikarenakan kandungan polifenol, flavonoid, dan vitamin C, maka pamelo memiliki nutrisi dan kaya akan zat antioksidan yang bermanfaat untuk kesehatan. Penelitian terdahulu menunjukkan bahwa intervensi dengan sari buah pamelo menurunkan kadar LDL, trigliserida, dan kolesterol tikus hiperkolesterolemia. Meskipun memiliki kandungan fitokimia tinggi dan bermanfaat bagi kesehatan, konsumsi pamelo masih tergolong rendah karena rasanya yang pahit dan asam. Pamelo memiliki kandungan air yang tinggi dan buah musiman dengan masa simpan pendek pada suhu ruang. Produk berbentuk bubuk dapat menjadi solusi untuk mengatasi kekurangan tersebut, sehingga mikroenkapsulasi dengan pengeringan semprot dapat menjadi alternatif proses yang digunakan.
Bubuk buah lebih praktis dan lebih stabil untuk ditawarkan ke konsumen. Namun, proses yang digunakan untuk mendapatkan bubuk harus memperhatikan kandungan bioaktif pada buah dan menghasilkan karakteristik fisikokimia yang baik. Bubuk sari buah pamelo (C.maxima) kultivar Nambangan diperoleh dari pengeringan semprot dengan penambahan bahan penyalut (maltodekstrin/MD DE12 dan gum arab/GA) dari empat perlakuan (10:0, 9:1, 8:2, dan 7:3 MD/GA) sebesar 15% w/v bahan penyalut/sari buah. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan formulasi bahan penyalut maltodekstrin dan gum arab yang mampu menghasilkan bubuk sari buah C.maxima kultivar Nambangan dengan karakteristik fisikokimiawi yang baik, menguji kapasitas antioksidan, total fenolik, flavonoid, dan vitamin C bubuk dan menguji potensi hipolipidemik secara in vitro melalui pengukuran kapasitas inhibisi lipase pankreatik dan inhibisi kolesterol esterase pankreatik dari bubuk sari buah yang dihasilkan. .
Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin tinggi GA yang ditambahkan, rendemen menurun. Penampakan morfologi dari hasil uji SEM menunjukkan bahwa keempat perlakuan mampu mengenkapsulasi material aktif. Bubuk yang dihasilkan dari keempat perlakuan berukuran nanometer. Ekstrak metanol air dari bubuk 7:3 MD/GA memiliki kapasitas antioksidan, kandungan total fenolik, total flavonoid dan vitamin C tertinggi dibandingkan bubuk perlakuan lainnya. Nilai IC50 ekstrak bubuk sari buah jeruk pamelo berkisar antara IC50 211.42 – 308.40 μg/mL terhadap lipase pankreatik dan 934.19 – 1352.05 μg/mL terhadap kolesterol esterase dimana IC50 terendah dihasilkan oleh ekstrak sari buah jeruk pamelo dari bubuk 7:3 MD/GA. Ekstrak metanol air (80:20) dari bubuk sari buah jeruk pamelo memiliki kemampuan lebih tinggi dalam menghambat lipase pankreatik dibanding menghambat kolesterol esterase
Evaluasi Kadar Klorofil dan Protein Daun Suji (Dracaena angustifolia (Medik.) Roxb.) Selama Penyimpanan Pasca Panen.
Daun suji (Dracaena angustifolia (Medik.) Roxb.) merupakan
tanaman sumber klorofil yang banyak digunakan dalam pengolahan pangan
sebagai pewarna. Namun belum ada informasi mengenai perubahan klorofil
daun selama disimpan baik pada suhu ruang maupun suhu refrigerator.
Tujuan penelitian ini adalah mengevaluasi pengaruh lama dan suhu
penyimpanan pasca panen terhadap kadar klorofil dan protein daun suji.
Pengamatan kondisi daun secara visual, analisis warna, kadar klorofil, kadar
klorofilid, kadar protein total, dan kadar protein terlarut dilakukan selama 7
hari penyimpanan pada suhu ruang dan suhu refrigerator. Hasil
menunjukkan bahwa daun suji yang disimpan pada suhu ruang lebih cepat
mengalami perubahan warna dibandingkan daun suji yang disimpan pada
suhu refrigerator. Kadar klorofil dan total protein mengalami penurunan
sedangkan kadar klorofilid dan protein terlarut mengalami peningkatan
selama penyimpanan baik pada suhu ruang maupun suhu refrigerator.
Perubahan kadar tersebut lebih cepat terjadi pada suhu ruang daripada suhu
refrigerator
Pengaruh Fortifikasi Vitamin A Dan Zat Besi Terenkapsulasi Pada Tepung Ubi Kayu Dan Aplikasinya Pada Pembuatan Flakes
Indonesia merupakan salah satu negara yang mengalami defisiensi zat gizi
mikro, terutama vitamin A dan zat besi. Salah satu cara mengatasi defisiensi zat
gizi mikro adalah dengan melakukan fortifikasi ke dalam bahan pangan. Ubi kayu
merupakan salah satu bahan pangan yang dapat dijadikan pangan pembawa
karena ketersediaannya yang melimpah dan memiliki kandungan karbohidrat yang
tinggi. Salah satu produk olahan yang dapat memakai tepung ubi kayu sebagai
bahan dasar yaitu flakes. Flakes merupakan salah satu produk sereal siap saji yang
banyak disukai oleh anak-anak maupun orang dewasa. Penelitian ini bertujuan
untuk mengetahui pengaruh fortifikasi vitamin A dan zat besi pada tepung ubi
kayu sebagai pangan pembawa serta aplikasinya pada pembuatan produk flakes.
Penelitian ini menggunakan tepung ubi kayu yang difortifikasi vitamin A
(retinil palmitat) terenkapsulasi 5.6 mg/kg secara tunggal dan juga
dikombinasikan dengan zat besi (FeSO4.7H20) terenkapsulasi sebanyak 31 mg/kg
serta tepung ubi kayu tanpa fortifikasi digunakan sebagai kontrol. Pada tepung ubi
kayu dilakukan uji kadar air, derajat putih, vitamin A, dan zat besi pada
penyimpanan hari ke-0 dan hari ke-7. Pengaplikasian tepung ubi kayu
terfortifikasi yaitu flakes dilakukan uji kadar proksimat, kadar vitamin A, kadar
zat besi, bioaksesabilitas, warna, tekstur serta uji hedonik.
Hasil penelitian menunjukkan pada semua perlakuan fortifikasi
menghasilkan kadar air, vitamin A serta zat besi yang tidak berbeda pada
penyimpanan hari ke-0 dan hari ke-7. Penyimpanan tepung terfortifikasi vitamin
A dan zat besi terenkapsulasi selama 7 hari tidak merubah karakteristik kimia dari
tepung terfortifikasi. Penyimpanan tepung selama 7 hari mempengaruhi derajat
putih dari tepung yang difortifikasi dengan vitamin A tunggal maupun yang
ditambahkan dengan zat besi terenkapsulasi. Pada pengaplikasian tepung ubi kayu
terfortifikasi pada flakes menghasilkan kadar vitamin A dan warna yang tidak
berbeda nyata (p>0.05). Berikutnya, kadar zat besi dan vitamin A pada flakes
meningkat, sesuai dengan jumlah fortifikan yang ditambahkan. Flakes dengan
perlakuan kombinasi (vitamin A dan zat besi) mengurangi persentase
bioksesabilitas vitamin A akan tetapi meningkatkan nilai bioaksesabilitas zat besi
secara signifikan. Berdasarkan uji organoleptik, keseluruhan perlakuan masih
dapat diterima (agak disukai) oleh panelis
Perbaikan Profil Lipid Dan Kapasitas Antioksidan Responden Diabetes Melitus Tipe 2 Melalui Intervensi Tahu Kedelai Hitam Kaya Serat
Diabetes melitus (DM) merupakan kondisi kronis yang ditandai dengan
peningkatan kadar glukosa darah. Tingginya glukosa darah dapat disebabkan
karena tubuh tidak dapat memproduksi insulin dalam jumlah yang cukup atau
karena sel-sel tubuh tidak bisa merespon secara baik insulin yang dihasilkan oleh
sel β-pankreas. Non alcoholic fatty liver disease (NAFLD) berhubungan dengan
keadaan hiperglikemik, hiperlipidemia, obesitas dan resistensi insulin pada
responden DM. Kesehatan hati dapat dipantau dengan analisis dalam plasma,
salah satunya dinyatakan dengan konsentrasi enzim aspartate transaminase
(AST) dan alanine transaminase (ALT). Produk pangan yang baik diperlukan
untuk memperbaiki keadaan dislipidemia dan kapasitas antioksidan plasma
penderita diabetes melitus tipe 2. Tahu kedelai hitam merupakan produk olahan
sari kedelai hitam yang diekstrak proteinnya dengan koagulan berupa kalsium
sulfat. Tahu kedelai hitam kaya serat sangat baik untuk penderita diabetes karena
memiliki IG yang rendah, protein yang tinggi, mengandung antioksidan dan serat
pangan yang tinggi. Tujuan penelitian ini adalah melihat pengaruh intervensi tahu
kedelai hitam kaya serat terhadap profil lipid darah yang ditandai dengan
penurunan kadar kolesterol, trigliserida, LDL dan meningkatnya HDL darah.
Selain itu, meningkatnya kapasitas antioksidan yang ditandai dengan penurunan
MDA plasma, dan meningkatnya status kesehatan hati.
Penelitian dilakukan dalam 5 tahap, yaitu seleksi responden, pembuatan
produk tahu kedelai hitam kaya serat, intervensi responden, pengambilan darah,
dan analisis plasma darah. Penelitian dilakukan selama 30 hari pada 18 responden
DM tipe 2, yaitu sebanyak 9 responden untuk kelompok intervensi yang diberikan
tahu sebanyak 80 g dan 9 orang untuk kelompok kontrol. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa intervensi tahu kedelai hitam kaya serat memiliki pengaruh
terhadap perbaikan metabolisme lipid dibandingkan dengan kelompok kontrol
dengan terjadinya penurunan kadar kolesterol total (p=0.10) dan penurunan LDLcholesterol
(p=0.009). Intervensi tahu kedelai hitam kaya serat juga meningkatkan
kapasitas antioksidan dibandingkan dengan kelompok kontrol dengan terjadi
peningkatan kapasitas antioksidan (p=0.01), penurunan kadar enzim ALT
(p=0.65). Perbaikan profil lipid disebabkan oleh kemampuan serat pangan tahu
dalam menurunkan kolesterol total. Peningkatan kapasitas antioksidan plasma
disebabkan oleh komponen fenolik dalam menurunkan radikal bebas. Perbaikan
parameter uji pada responden yang diintervensi produk tahu dalam diet
menunjukkan bahwa tahu kedelai hitam kaya serat memiliki potensi dalam
memperbaiki sindrom metabolik penyakit DM tipe 2
Kemampuan Ekstrak Daun Suji (Pleomele angustifolia N.E. Brown) dalam Menghambat Inflamasi pada Tikus yang Diinduksi Karagenan
Inflamasi merupakan suatu mekanisme perlindungan tubuh terhadap sesuatu. Antiinflamasi yang umum digunakan adalah jenis antiinflamasi non steroid (AINS) dapat mengobati peradangan dengan mekanisme menghambat atau mencegah berkembangnya proses inflamasi menjadi inflamasi kronis dan juga agar proses inflamasi kronis tidak semakin parah. Penggunaan AINS memiliki efek samping yang dapat menyebabkan kerusakan pada proses pencernaan. Pemanfaatan tanaman yang berkhasiat sebagai antiinflamasi dilakukan sebagai alternatif pengobatan yang memiliki efek samping relatif lebih kecil. Komponen bioaktif yang memiliki kemampuan antiinflamasi antara lain flavonoid, klorofil dan karotenoid.
Daun suji (Pleomele angustifolia N.E. Brown) telah lama digunakan sebagai bahan pengobatan tradisional. Daun suji mengandung berbagai komponen bioaktif seperti saponin, flavonoid, triterpenoid dan steroid. Selain itu ekstrak daun suji juga memiliki kapasitas antioksidan dan kadar klorofil yang cukup tinggi. Turunan senyawa klorofil memiliki kemampuan sebagai antioksidan, aktivitas antimutagen, detoksifikasi xenobiotik, dan induksi apoptosis pada sel kanker. Pada penelitian dilakukan pengujian antiinflamasi secara in vivo terhadap pemanfaatan ekstrak daun suji. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui aktivitas antiinflamasi dari ekstrak daun suji (Pleomela angustifolia N.E. Brown) ditinjau dari penurunan volume edema pada telapak kaki tikus putih jantan yang diinduksi dengan karagenan.
Sampel yang digunakan ada 3 jenis yaitu sampel Bubuk Ekstrak Suji (BES), Ekstrak Aseton Suji (EAS) dan Ekstrak Aseton Bubuk Ekstrak Suji (EA-BES). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak daun suji pada ketiga sampel (BES, EAS dan EA-BES) mengandung flavonoid, saponin, steroid dan triterpenoid, namun senyawa tanin, hidrokuinon dan alkaloid tidak terdeteksi. Pengujian karakteristik kimiawi terhadap sampel dilakukan melalui analisis kandungan total klorofil, total fenol dan kapasitas antioksidan. Kandungan total klorofil, total fenol pada sampel BES (9.0809 mg klorofil/g sampel; 3.7354 mg GAE/g) lebih besar dibandingkan sampel EAS (4.6471 mg klorofil /g sampel; 0.9994 mg GAE/g sample) dan EA-BES (6.4912 mg klorofil/g sampel; 2.1703 mg GAE/g sampel). Kandungan antioksidan EAS (3.26mg AAE/g sampel) lebih tinggi dibandingkan sampel BES (3.04 mg AAE/g sampel) dan EA-BES (2.55 mg AAE/g sampel). Pengujian karakteristik biologis terhadap daya antiinflamasi menunjukkan sampel BES dosis 300 mg/kgBB dan 800mg/kgBB adalah 71.39% dan 80.57%. Sedangkan nilai daya antiinflamasi masing-masing sampel EAS dan EA-BES dosis 500mg/kgBB adalah 56.94% dan 75.76%. Diperkirakan senyawa fenolik pada daun suji memiliki daya antiinflamasi lebih besar dibandingkan senyawa klorofil
- …
