1,720,982 research outputs found

    Pengendalian Kutu Beras (Sitophilus oryzae l.) Secara Organik: Organic Control of Rice Weevils (Sitophilus oryzae l.)

    Full text link
    Rice weevils can cause damage to rice in warehouses, so it is necessary to control them in an environmentally friendly manner. The aim of this research was to determine the effect of various types of organic pesticides used on rice weevils (Sitophilus oryzae L.). This study used a completely randomized design (CRD), consisting of 6 treatments applied during the imago stage. Each treatment consisted of 4 replications so that the experimental units obtained were 24 experiments. The results of the research show that the use of vegetable pesticides has the potential to kill rice weevils. Mortality observations obtained very significantly different results, where the open eco enzyme (TT) treatment with a percentage of 72.50% was a treatment that had an influence on rice weevil mortality. All treatments were able to kill rice weevils. from percentage 35 to 72.5. All botanical pesticides used can suppress the rice weevil population for up to 4 weeks after application and there is an increase thereafter and repeated applications are necessary to suppress the population.Kutu beras dapat menimbulkan kerusakan beras pada gudang, sehingga perlu dilakukan pengendalian yang memiliki sifat ramah lingkungan. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pengaruh dari berbagai jenis pestisida organik yang digunakan terhadap kutu beras (Sitophilus oryzae L.). Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL), terdiri dari 6 perlakuan yang diaplikasikan pada masa stadia imago. Tiap perlakuan terdiri dari 4 ulangan sehingga unit percobaan yang diperoleh menjadi 24 percobaan. Hasil penelitian menunjukan penggunaan pestisida nabati memiliki potensi mematikan kutu beras, pengamatan mortalitas didapat hasil berbeda sangat nyata dimana pada perlakuan eco enzyme terbuka (TT) dengan persentase 72,50% merupakan perlakuan yang memiliki pengaruh terhadap mortalitas kutu beras, semua perlakuan dapat mematikan kutu beras dari persentase 35 hingga 72,5. Semua pestisida nabati yang digunakan dapat menekan populasi kutu beras hingga 4 minggu setelah aplikasi dan terjadi peningkatan setelahnya serta perlu melakukan aplikasi berulang untuk menekan populasi

    Efektivitas Ekstrak Daun Bintaro (Cerbera odollam gaertn.) Untuk Pengendalian Hama Utama Pada Tanaman Cabai (Capsicum annum Linn.)

    Full text link
    The use of botanical pesticides from natural ingredients that can be utilized is the bintaro plant (Cerbera odollam Gaertn.). This research aims to determine the effectiveness of bintaro leaf extract with water and ethanol as a solvent in controlling the main pests on chili plants. This research was conducted using the Completely Randomized Design (CRD) method. The results of the research showed that the application of the botanical pesticide Bintaro leaves was able to reduce pest damage to chilies, the lowest intensity of leaf damage was seen in the PD treatment (5.99%), then the lowest percentage of fruit damage was observed in the KC treatment (11.37%) and the PC (14.94%). Apart from that, the application of the botanical pesticide Bintaro PA leaves produced the number of fruit (47,146 fruit/ha), the second largest after chemical control (49,923 fruit/ha).Penggunaan pestisida nabati dari bahan alami yang dapat dimanfaatkan adalah tanaman bintaro (Cerbera odollam Gaertn.). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas ekstrak daun bintaro dengan pelarut air dan etanol terhadap pengendalian hama utama pada tanaman cabai. Penelitian ini dilakukan menggunakan metode Rancangan Acak Lengkap (RAL). Hasil penelitian menunjukkan pemberian pestisida nabati daun bintaro mampu menekan kerusakan serangan hama pada cabai, intensitas kerusakan daun terendah terlihat pada perlakuan PD (5,99%), selanjutnya pada pengamatan persentase kerusakan buah terendah pada pemberian perlakuan KC (11,37%) dan perlakuan PC (14,94%). Selain itu pemberian pestisida nabati daun bintaro PA menghasilkan jumlah buah (47.146 buah/ha), terbanyak kedua setelah kontrol kimia (49.923 buah/ha)

    Efektifitas Perangkap Feromon Kombinasi Warna Kuning Pada Tanaman Cabai Merah Keriting (Capsicum annum L.)

    Full text link
    The use of synthetic pesticides causes negative effects so research turns to natural control, one of which is the yellow trap. Yellow traps combined with the active ingredient methyl eugenol can reduce pesticide use by up to 75-95%. This study aims to evaluate the effectiveness of yellow combination pheromone traps on curly red chili plants (Capsicum annum L.). The method used was a Completely Randomized Design (CRD) with 24 traps and 3 treatments repeated 6 times. The results showed that trap installation was effective, with treatment T3 recording the highest insect intensity at 21.0% and T1 the lowest at 13.8%.Penggunaan pestisida sintetis menimbulkan efek negatif sehingga penelitian beralih ke pengendalian alami salah satunya dengan perangkap kuning. Perangkap kuning dipadukan dengan bahan aktif metil eugenol ( ) dapat mengurangi penggunaan pestisida hingga 75-95%. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi efektivitas perangkap feromon kombinasi warna kuning pada tanaman cabai merah keriting (Capsicum annum L.). Metode yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 24 perangkap dan 3 perlakuan yang diulang 6 kali. Hasil menunjukkan bahwa pemasangan perangkap efektif, dengan perlakuan T3 mencatat intensitas serangga tertinggi sebesar 21.0% dan T1 terendah sebesar 13.8%

    Pengaruh Pemberian Pestisida Nabati Biji Pinang Muda Terhadap Moluska Non Target

    Full text link
    Telah dilakukan penelitian pengaruh pemberian pestisida nabati biji pinang muda sebagai pestisida nabati terhadap mortalitas moluska non target.. Metode yang digunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dua faktor dengan 4 perlakuan tingkat konsentrasi E0 (kontrol), E1 (20%), E2 (30%) dan E3 (40%) dengan 3 ulangan. Larutan pestisida nabati biji pinang muda pada konsentrasi 40% mampu mematikan moluska non target dengan mortalitas sebesar 55% untuk siput cangkang, persentase mortalitas sebesar 56,67% untuk siput tutut dan persentase mortalitas 95% untuk keong mas

    Pengaruh Pemberian Pestisida Nabati Daun Bintaro (Cerbera odollam Gaertn.) terhadap Penyakit Antraknosa Tanaman Cabai (Capsicum annuum Linn.)

    Full text link
    The problems that often occur with chili commodities in Indonesia every year are caused by several factors, namely changing climatic conditions, limited quality chili seed varieties and the large number of attacks by plant pests, namely pests and diseases. The main disease that always attacks chili plants is anthracnose caused by the fungus Colletotrichum capsici. Controlling vegetable pesticides is one alternative that can be done, one of which is the botanical pesticide Bintaro leaves with 2 types of solvents. This research aims to determine the effect of the botanical pesticide bintaro leaves (Cerbera odollam Gaertn.) using water and ethanol solvents in controlling anthracnose disease on chili plants (Capsicum annum Linn.). This research used a one-factor Completely Randomized Design (CRD) method consisting of 8 treatments and 3 replications, namely K = Control (No pesticide), KC = chemical pesticide (active ingredient abamectin), PA = Concentration of 10 ml bintaro leaf solution, PB = Bintaro leaf solution concentration is 20 ml, PC = Bintaro leaf solution concentration is 30 ml, PD = Bintaro leaf extract concentration is 1 ml, PE = Bintaro leaf extract concentration is 2 ml and PF = Bintaro leaf extract concentration is 3 ml. Botanical pesticide treatment of bintaro leaves on chili plants can reduce the percentage of anthracnose attacks. The highest percentage was shown in chili plants that were not treated with the botanical pesticide Bintaro leaves (55.87%). Meanwhile, the lowest percentage was in chili plants that were applied with chemical pesticides (24.20%) and in the vegetable treatment of bintaro leaves with 30 ml solution (25.97%). Apart from that, the botanical pesticide treatment of Bintaro leaves produced the highest number of fruit, namely 49923 fruit/ha, and the wet weight of the fruit was the heaviest, namely 298.92 kg/ha.Permasalahan yang sering terjadi pada komoditas cabai di Indonesia setiap tahunnya disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu kondisi iklim yang berubah, terbatasnya varietas benih cabai berkualitas dan banyaknya serangan organisme pengganggu tanaman yaitu hama dan penyakit. Penyakit utama yang selalu menyerang tanaman cabai yaitu penyakit antraknosa yang disebabkan oleh cendawan Colletotrichum capsici. Pengendalian pestisida nabati adalah salah satu alternatif yang dapat dilakukan salah satunya yaitu pestisida nabati daun bintaro dengan 2 jenis pelarut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pestisida nabati daun bintaro (Cerbera odollam Gaertn.)  dengan menggunakan pelarut air dan etanol dalam mengendalikan penyakit antraknosa pada tanaman cabai (Capsicum annum Linn.). Penelitian ini menggunakan metode Rancangan Acak Lengkap (RAL) satu faktor yang terdiri dari 8 perlakuan dan 3 ulangan yaitu K   = Kontrol (Tanpa pestisida), KC = pestisida kimia (Bahan aktif abamektin), PA = Konsentrasi larutan daun bintaro 10 ml, PB = Konsentrasi larutan daun bintaro 20 ml, PC = Konsentrasi larutan daun bintaro 30 ml, PD = Konsentrasi ekstrak daun bintaro 1 ml, PE = Konsentrasi ekstrak daun bintaro 2 ml dan  PF = Konsentrasi ekstrak daun bintaro 3 ml. Perlakuan pestisida nabati daun bintaro pada tanaman cabai mampu menekan persentase serangan penyakit antraknosa. Persentase paling tinggi diperlihatkan pada tanaman cabai yang tidak diberi pestisida nabati daun bintaro (55,87%). Sedangkan persentase paling rendah yaitu pada tanaman cabai yang diaplikasikan pestisida kimia (24,20%) serta pada perlakuan nabati daun bintaro dengan larutan 30 ml (25,97%). Selain itu perlakuan pestisida nabati daun bintaro menghasilkan jumlah buah paling banyak yaitu 49923 buah/ha, serta berat basah buah yang paling berat yaitu 298,92 kg/ha

    Pemanfaatan Serbuk Kulit Durian Sebagai Pestisida Nabati Untuk Mengendalikan Fusarium oxysporum Penyebab Penyakit Moler Pada Bawang Merah (Allium ascalonicum L.)

    Full text link
    Fusarium oxysporum merupakan penyakit penting pada bawang merah. Gejala khas yang ditimbulkan berupa daun yang memelintir sehingga penyakit ini dikenal dengan sebutan penyakit moler. Pengendalian yang paling sering digunakan adalah dengan menggunakan  pestisida kimia. Memperhatikan dampak negatif dari pestisida kimia berupa kerusakan lingkungan dan terancamnya kesehatan makhluk hidup non target maka salah satu solusinya adalah dengan menggunakan pestisida nabati yang ramah lingkungan dan lebih aman seperti memanfaakan kulit buah durian. Kulit buah durian telah dikonfirmasi mengandung senyawa yang bersifat sebagai antifungi. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui potensi kulit durian dalam bentuk serbuk sebagai pestisida nabati untuk mengendalikan penyakit F. oxysporum pada tanaman bawang merah. Penelitian dilakukan dalam 2 tahap yaitu in vitro dan in vivo. Metode penelitian yang dilakukan pada in vivo adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 5 perlakuan (kontrol negatif (Inokulasi F. oxysporum), kontrol positif  (F. oxysporum+Fungisida (Benomil), Serbuk kulit durian 0,125 kg/ha + F. oxysporum, Serbuk kulit durian 0,25 kg/ha  + F. oxysporum, Serbuk kulit durian 0,375 kg/ha+ F. oxysporum) dan 4 kali ulangan. Hasil penelitian menunjukkan serbuk kulit durian berpotensi dijadikan sebagai pestisida karena mampu menghambat pertumbuuhan F. oxysporum baik secara in vitro ataupun in vivo

    Pengaruh Aplikasi Pupuk Organik Plus Pada Bawang Merah (Allium ascalonicum) terhadap Keanekaragaman Arthropoda di Lahan Gambut: The Effect of Applying Organic Plus Fertilizer on Shallots (Allium ascalonicum) on Arthropod Diversity in Peatlands

    Full text link
    Shallots (Allium ascalonicum L.) from the Lilyceae family are annual horticultural plants. The aim of this research is to determine the effect of the application of organic fertilizer plus on the diversity of arthropods in shallot plants in peatlands. The method used in this research was a one-factor Completely Randomized Design (CRD) consisting of 4 treatments and 5 replications. Data from arthropod identification results are grouped based on order and family which are presented in tabular form. Then an analysis was carried out using diversity indices, species richness and species evenness. The results of the research show that the most dominant arthropods are the predator group. The results also show that the level of arthropod species diversity is moderate, the level of arthropod species richness is low, the level of evenness of arthropod species shows an unstable distribution. The most dominant group of arthropods is the predator group and the results of the LSD analysis test at the 5% level showed a real influence on the diversity of arthropods in shallot plants in peatlands where organic fertilizer plus 125 g/hole was applied with an average of 48.40 individuals.Bawang merah (Allium ascalonicum L.) dari famili Lilyceae merupakan tanaman hortikultura semusim. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui pengaruh dari aplikasi pupuk organik plus terhadap keanekaragaman arthropoda pada tanaman bawang merah di lahan gambut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) satu faktor yang terdiri dari 4 perlakuan dan 5 ulangan. Data hasil identifikasi arthropoda dikelompokan berdasarkan ordo dan famili yang disajikan dalam bentuk tabulasi. Kemudian dilakukan analisis menggunakan indeks keanekaragaman, kekayaan jenis, dan kemerataan spesies. Hasil penelitian menunjukkan bahwa arthropoda yang paling mendominansi yaitu kelompok predator. Hasil juga menunjukan tingkat keanekaragaman jenis arthropoda sedang, tingkat kekayaan jenis arthropoda rendah, tingkat kemerataan spesies arthropoda menunjukan penyebaran yang tidak stabil. Kelompok arthrropoda yang paling mendominasi adalah kelompok predator dan hasil uji analisis LSD pada taraf 5% terdapat pengaruh nyata terhadap keanekaragaman arthropoda pada tanaman bawang merah di lahan gambut yang diaplikasikan pupuk organik plus 125 g/lubang dengan rata-rata sebesar 48,40 ekor

    Efektivitas Tiga Sumber Mikro Organisme Lokal (MOL) Terhadap Intensitas Serangan Penyakit Moler pada Bawang Merah (Allium ascalonicum L.)

    Full text link
    This research aims to determine the effectiveness of three sources of Local Micro Organisms (MOL) on the intensity of moler disease attacks on shallot plants in peatlands. This study used a one-factor Completely Randomized Design (CRD) method consisting of 4 treatments and 5 replications, namely t0 = without administration of MOL (control), t1 = MOL of 10% leri water, t2 = MOL of leri water + 10% banana stem and t3 = MOL of water + 10% fish waste. The results of observations of the incubation period for moler disease for the first symptoms to appear were 14 days after inoculation (HSI). The percentage of moler disease is not influenced by the source of MOL. The highest percentage was shown in shallot plants that were not applied with MOL (71.43%). Meanwhile, the lowest percentage was found in shallot plants which were applied with MOL sources from water mixed with fish waste. This treatment also produced the highest number of tubers, namely 130,000 tubers/ha (356.11 kg/ha). Meanwhile, the largest tuber diameter was produced by plants that were applied with MOL leri water combined with banana stems.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas tiga sumber Mikro Organisme Lokal (MOL) terhadap intensitas serangan penyakit moler pada tanaman bawang merah di lahan gambut. Penelitian ini menggunakan metode Rancangan Acak Lengkap (RAL) satu faktor yang terdiri dari 4 perlakuan dan 5 ulangan yaitu t0 = tanpa pemberian MOL (kontrol), t1 = MOL air leri 10%, t2 = MOL air leri + batang pisang 10% dan t3 = MOL air leri + limbah ikan 10%. Hasil pengamatan masa inkubasi penyakit moler untuk muncul gejala pertama kali yaitu 14 hari setelah inokulasi (HSI). Persentase penyakit moler tidak dipengaruhi oleh sumber MOL. Persentase tertinggi diperlihatkan pada tanaman bawang merah yang tidak diaplikasi dengan MOL (71,43%). Sedangkan persentase paling rendah ditemukan pada tanaman bawang merah yang diaplikasi dengan sumber MOL dari air leri yang dicampur dengan limbah ikan. Perlakuan ini juga menghasilkan jumlah umbi yang paling banyak yaitu 130.000 umbi/ha (356,11 kg/ha). Sedangkan diameter umbi yang paling besar dihasilkan oleh tanaman yang diaplikasikan dengan MOL air leri yang dikombinasi dengan batang pisang

    Pengaruh Aplikasi Larutan Daun Jeruk Nipis (Citrus aurantiifolia) Pada Walang Sangit Di Kapuas Murung Kalimantan Tengah

    Full text link
    Walang sangit (Leptocorisa oratorius Fabricius, (Hemiptera:Alydidae); syn. Leptocorisa acuta) are one of the rice pests that can cause problems because they can reduce the quantity and quality of production, so these grasshoppers need to be controlled. Controlling stink bugs using chemicals is currently more popular because they are quickly visible. However, long-term use of chemicals is not good. Therefore, an alternative method of controlling stink bugs is needed using a solution of lime leaves (Citrus aurantiifolia). This research aims to determine lime leaf solution in controlling stink bugs. The research design used was a Completely Randomized Design (CRD) 1 factor consisting of 6 treatments and 4 replications, namely with doses of PO (control), PA (20g/80 ml), PB (22.5g/77.5 ml), PC (25g/75 ml), PD (27.5g/72.5 ml) and PE (30g/70 ml). The results of the research show that lime solution can be used as a natural pesticide because it has an effect on suppressing the death of the stink bug. The best dose that can kill the stink bug is 30g/70 ml lime leaf solution.Walang sangit merupakan salah satu hama padi yang dapat menimbulkan masalah karena bisa menurunkan kuantitas dan kualitas produksi sehingga walang sangit ini perlu dikendalikan. Pengendalian walang sangit menggunakan bahan kimia saat ini lebih diminati karena cepat terlihat. Namun penggunaan bahan kimia dalam jangka waktu lama tidak bagus. Oleh karena itu diperlukan cara alternatif pengendalian walang sangit menggunakan larutan daun jeruk nipis (Citrus aurantiifolia). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui larutan daun jeruk nipis dalam mengendalikan walang sangit. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL)1 faktor yang terdiri dari 6 perlakuan dan 4 ulangan yaitu dengan dosis PO (kontrol), PA (20g/80 ml), PB (22,5g/77,5 ml), PC (25g/75 ml), PD (27,5g/72,5 ml) dan PE ( 30g/70 ml). Hasil penelitian menunjukkan bahwa larutan jeruk nipis dapat dijadikan sebagai pestisida alami karena berpengaruh dalam menekan kematian walang sangit. Dosis terbaik yang dapat mematikan walang sangit tersebut adalah larutan daun jeruk nipis 30g/70 ml

    Uji Efektifitas Konsentrasi Larutan Daun Ketepeng Cina (Cassia alata L.) Dalam Menghambat Perkembangan Penyakit Antraknosa (Colletotrichum sp.) Pada Tanaman Cabai Rawit

    Full text link
    Adapun tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui potensi larutan daun ketepeng cina dan konsentrasinya yang mampu dalam menghambat perkembangan penyakit antraknosa. Penelitian ini dilaksanakan mulai bulan Maret - Mei 2020. Penelitian menggunakan (RAL) 1 faktor dan 6 perlakuan serta diulang sebanyak 4 kali. Dengan menggunakan konsentrasi yaitu 5, 10, 15, 20, 25 ml.l-1 larutan daun ketepeng cina + Colletotrichum sp. berdasarkan hasil pengamatan masa inkubasi diketahui bahwa rata-rata serangan antraknosa muncul pada hari ketiga dan keempat setelah pengaplikasian. Pada kejadian penyakit konsentrasi  (5  ml.l-1)  menimbulkan  kejadian  penyakit  terendah  yaitu  84.00%  dan  pada  konsentrasi (15 ml.l-1) menimbulkan kejadian penyakit tertinggi sebesar 95.00%
    corecore