1,720,980 research outputs found

    Analisis Faktor Media Massa Terhadap Keberhasilan Komunikasi Pembangunan Dalam Penataan dan Pembinaan PKL di Kota Surakarta

    Full text link
    Berbicara soal pedagang kaki lima (PKL) dan penertiban dalam tataran implementasinya bagaikan benang kusut yang tak ada ujungnya dan selalu saja ada perlawanan Peristiwa semacam ini terjadi dihampir seluruh daerah di Indonesia. Lain halnya penataan PKL di Surakarta, mereka dengan sukarela berpindah tempat berdagang ke lokasi yang telah disiapkan oleh Pemerintah dilakukan secara damai dan tidak dengan cara kekerasan, dengan menaiki angkutan yang telah disiapkan Pemerintah Kota dengan arak-arakan yang panjang dan meriah. Mereka dengan sukacita menuju lokasi yang baru. Maka wajar jika fenomena tersebut oleh sementara pihak dipahami sebagai suatu keberhasilan komunikasi pembangunan Pemkot Surakarta. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui sejauhmana peranan dan kontribusi media-massa atas keberhasilan komunikasi pembangunan tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan pendekatan mix-method dengan strategi eksploratoris sekuensial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peranan dan kontribusi media massa terhadap efektivitas komunikasi Pemkot Surakarta (2005-2012) tidak begitu dominan, tetapi lebih terkait dengan solusi yang ditawarkan Pemkot Surakarta

    Sosiologi Agama Dalam Konteks Indonesia

    Full text link
    Secara umum kajian dalam buku ini mencakup konsep-konsep dasar sosiologi umum, sosiologi agama dan sosiologi Islam serta pengaruh dan kontribusinya di Indonesia.buku ini diharapkan: 1) Pembaca mampu mengkaitkan konsep - konsep dasar sosiologi dalam kehidupan sehari-hari dan menganalisis fenomena sosial dan agama dengan menggunakan perspektif sosiologi Agama. 2) Supaya mahasiswa mampu melakukan diagnosis/identifikasi/ pemetaan persoalan terhadap kondisi masyarakat dengan menggunakan perspektif sosiologi Agam

    PHENOMENA OF HABIB MUHAMMAD RIZIEQ SHIHAB IN ISLAMIC LEADERSHIP POLITICS IN INDONESIA

    Full text link
    Leadership is an object of study that has long attracted the attention of many people. Leadership science distinguishes between formal and informal leadership. In the context of political Islam, the leadership in Indonesia should be from the head of an Islamic political party, wherein the principle of the party is Islam or at least that particular party is a Muslim-based. However, the political reality had shown different things. The comparison of the vote in the election in 1995 depicted that the islamic political parties had gathered 45.13% of vote and in the 1999 election the nummber was 18.6%. Thus, it can be concluded that the acquisition of seats and voter support for the Islamic party parties in the democratic elections in 1999 has greatly decreased namely due to the lost of support by 26.53%. The implication is that in the politics of leadership in Indonesia there are no leaders born from Islamic parties. They are of Muslim status, but their policies and actions are not a reflection of Islamic teachings. In the 2019 Presidential election there is an interesting phenomenon, there is a candidate from the ulama (namely Prof. KH Ma'ruf Amin), but he is not recommended by the Ulama communities and there is another candidate who is not an Ulama, but he is or they are recommended by the Ulamas (Prabowo-Sandi). That is the complexity of the position of Islam in the politics of leadership in Indonesia. This paper will construct the politics of Islamic leadership in Indonesia in a formal and informal perspective and will analyze the causal factors both in terms of the condition of Islamic political parties and based on Islamic ummah and the conditions of Islamic organizations. The results of the study concluded that Muhammadiyah and NU had contributed greatly to the Islamic movements based on the space and conditions in which they lived. Reconstruction of Muhamadiyah and NU has inspired many Islamic movements at that time. History repeats. And there are times when changes must be submitted to those who are more compatible. FPI fills the empty space. Another implication is that there is no strong formal Islamic political figure who can unify the ummah and the nation. The above phenomenon confirms the unclear position of formal Islamic leadership in the political system in Indonesia. The political issue of Islamic leadership is directly proportional to Indonesia's political system which is not pro-Islamic and also not pro-secular which in fact has actually benefited the nonIslamic leadership politics. Therefore, it is not an exaggeration if informal Islamic leaders emerge, such as, Habib Rizieq Shihab (HRS), in response to the collapse of formal islamis leadership politics in Indonesi

    PENATAAN DAN PEMBINAAN PEDAGANG KAKI LIMA DALAM PERSPEKTIF KOMUNIKASI PEMBANGUNAN DI SURAKARTA (Suatu Pendekatan Kuantitatif)

    Full text link
    Berbicara penertiban Pedagang Kaki Lima (PKL) bagaikan benang kusut dan bahkan selalu saja ada perlawanan. Peristiwa semacam ini terjadi dihampir seluruh daerah di Indonesia. Berbeda di Surakarta mereka dengan sukarela berpindah ke lokasi yang telah disiapkan oleh Pemerintah. Tujuan yang diharapkan penelitian ini untuk mengetahui respon PKL terhadap proses penataan dan pembinaan PKL yang dilakukan oleh Pemkot Surakarta, terutama pada masa Joko Widodo-Rudy (20052012), sehingga bisa dilakukan secara damai. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan menggunakan survei-eksplanasi. Untuk menganalisis faktor komunikasi interpersonal dan faktor gaya kepemimpinan demokratis Pemkot Surakarta terhadap efektivitas komunikasi dengan menggunakan analisis regresi ganda (multiple regression analysis). Sampelnya sebanyak sebanyak 243 responden dengan menggunakan systematic random sampling. Hasil penelitian menunjukkan Pertama, bahwa keberhasilan proses penataan dan pembinaan PKL di Surakarta dalam penilaian PKL tidak hanya dalam konteks proses, tetapi juga dalam arti hasilnya. Kedua, hasil penelitian menunjukkan faktor komunikasi interpersonal dan faktor gaya kepemimpinan demokratis secara bersama-sama berpengaruh secara nyata (signifikan) terhadap efektivitas komunikasi Pemkot Surakarta dalam proses penataan dan pembinaan PKL. Namun jika kedua faktor tersebut dilihat secara sendiri-sendiri bahwa penelitian menunjukkan bahwa faktor gaya kepemimpinan demokratis Pemkot Surakarta memberi kontribusi lebih besar daripada faktor komunikasi interpersonal terhadap efektivitas komunikasi Pemkot Surakarta. Ketiga, hasil penelitian menujukkan bahwa efektivitas komunikasi dengan produktivitas Pembangunan Pemkot Surakarta menunjukan hubungan positif

    MODEL ISLAMISASI EKONOMI STUDI KASUS SAREKAT DAGANG ISLAM

    Full text link
    Islamisasi pengetahuan merupakan isu yang tidak bisa dilewatkan begitusaja dan telah lama diperbincangkan, termasuk di Indonesia. Banyak kalangan yang mencoba mengusung gagasan ini dan banyak pula yang mengkritiknya, namun tidak banyak yang memahaminya secara konseptual dalam konteks pandangan hidup dan peradaban Islam. Islamisasi Indonesia dalam bidang ekonomi masih sangat sedikit. Berbeda dengan Islamisasi dalam bidang lain seperti pendidikan, pemurnian aqidah, da’wah parlemen, perbaikan fiqih ibdah dan lainnya. Islamisasi dalam bidang ekonomi baru sekedar riak-riak kecil yang belum begitu populer muncul ke permukaan. Itupun baru dalam tataran ekonomi makro seperti bermunculannya perbankan syari’ah, asuransi syari’ah dan sejenisnya, padahal MODEL ISLAMISASI EKONOMI STUDI KASUS SAREKAT DAGANG ISLA

    Komunikasi Pembangunan dan Media Massa: Suatu Telaah Historis, Paradigmatik dan Prospektif

    Full text link
    Setiap bangsa mempunyai cara sendiri-sendiri dalam melaksanakan pembangunan. Selama akhir periode 1960-an definisi-definisi pembangunan terpusat di sekitar kriteria laju pertumbuhan ekonomi. Industrialisasi dianggap sebagai jalur utama menuju pembangunan. Sekitar satu dasarwarsa yang lalu terdapat optimisme yang berlebihan dan harapan yang besar mengenei peranan yang mungkin dimainkan oleh komunikasi massa dalam menunjang pembangunan di Amerika Latin, Afrika dan Asia. Media massa, khususnya radio, masuk jauh ke tengah-tengah massa pendengar di negara-negara berkembang dan tampaknya merupakan suatu potensi yang besar dalam membantu negara-negara tersebut untuk mencapai tujuan-tujuan pembangunan. Tujuan tulisan ini bermaksud untuk membahas Komunikasi Pembangunan dan Media Massa (tema kedua) dalam perspektif historis, paramadigmatik dan prospektif, dengan harapan: Pertama, mengetahui sejarah diskursus komunikasi pembangunan dan media massa. Kedua, memahami akar persoalan dan berbagai isu sentral terkait antara komunikasi pembangunan dan media massa. Ketiga, untuk mengetahui prospek komunikasi pembangunan dan media massa. Kini, media massa telah masuk lebih jauh dibandingkan dengan tahun 1965. Teknologi komunikasi yang baru, seperti, satelit-satelit siaran telah tampil dan berperan. Pejabat-pejabat pemerintah di kebanyakan negara-negara sedang berkembang sungguh-sungguh berusaha menggunakan komunikasi massa untuk keperluan pembangunan

    POLITIK ISLAM SEBAGAI ILMU DAN SEBAGAI GERAKAN; STUDI DESKRIPTIF DUNIA ISLAM

    Full text link
    Ajaran Islam sangat jelas membicarakan masalah politik sekalipun dalam perkembangan dan implementasinya tidak mudah untuk mendapatkan contoh yang ideal. Perdebatan dikalangan ulama dan ilmuwan cukup keras baik di media masa maupun dalam forum-forum ilmiah serta sering gagal untuk menarik kesimpulan yang jelas dan adil. Sebagai contoh ideal dalam tataran implementatif juga tidak mudah untuk menemukan kesepakatan di kalangan praktisi muslim, apakah model sistem politik di Saudi Arabia, politik Indonesia, Malaysia, Brunei, Iran atau sistem politik Turki.Disamping faktoreksternal, hegemoni pemikiran dan politik global, juga tidak lepas kondisi internal ummat Islam, terutama di kalangan ilmuan dan ulama serta para politisinya yang kurang serius mempelajari dan menjiwai kekayaan khazanah politik Islam. Artikel ini menjelaskan politik Islam dalam dua perspektif, yaitu: politik Islam sebagai ilmu (tataran akademik) dan politik Islam sebagai gerakan (tataran praktis/ implementatif). Diharapkan dengan artikel ini bisa memberi jawaban yang bersifat teoritis dan mampu menjelaskan fenomena politik di dunia Islam umumnya, dan khususnya fenomena politik Islam di Indonesia

    POLITIK ISLAM SEBAGAI ILMU DAN SEBAGAI GERAKAN; STUDI DESKRIPTIF DUNIA ISLAM

    Full text link
    Islamic toughtsclearly explain about political issues. Even though, in development and implementation, it is not easy to get an ideal example. The debate among scholars and scientists is quite hard either in the mass media or in scientific forums, and it often fails to draw conclusions that are bright and fair. As an ideal example at the implementation level, it is also not easy to find agreements among Muslim practitioners, whether it is a model of the political system in Saudi Arabia, the politics of Indonesia, Malaysia, Brunei, Iran or the Turkish political system. In addition to external factors, global hegemony of thought and politics, the internal conditions of the Muslim community are also inseparable, especially among scientists and scholars and their politicians who are not serious about studying and animating the wealth of Islamic political treasures. This article will explain Islamic politics with two perspectives, namely: Islamic politics as a science (academic level) and Islamic politics as a movement (practical / implementative level). It is hoped that this article can provide theoretical answers and be able to explain political phenomena in the Islamic world in general and especially the phenomenon of Islamic politics in Indonesia

    KOMUNIKASI PEMBANGUNAN DAN MEDIA MASSA Suatu Telaah Historis, Paradigmatik dan Prospektif

    No full text
    Setiap bangsa mempunyai cara sendiri-sendiri dalam melaksanakan pembangunan. Selama akhir periode 1960-an definisi-definisi pembangunan terpusat di sekitar kriteria laju pertumbuhan ekonomi. Industrialisasi dianggap sebagai jalur utama menuju pembangunan. Sekitar satu dasarwarsa yang lalu terdapat optimisme yang berlebihan dan harapan yang besar mengenei peranan yang mungkin dimainkan oleh komunikasi massa dalam menunjang pembangunan di Amerika Latin, Afrika dan Asia. Media massa, khususnya radio, masuk jauh ke tengah-tengah massa pendengar di negara-negara berkembang dan tampaknya merupakan suatu potensi yang besar dalam membantu negara-negara tersebut untuk mencapai tujuan-tujuan pembangunan. Tujuan tulisan ini bermaksud untuk membahas Komunikasi Pembangunan dan Media Massa (tema kedua) dalam perspektif historis, paramadigmatik dan prospektif, dengan harapan: Pertama, mengetahui sejarah diskursus komunikasi pembangunan dan  media massa. Kedua, memahami akar persoalan dan berbagai isu sentral terkait antara komunikasi pembangunan dan media massa. Ketiga, untuk mengetahui prospek komunikasi pembangunan dan media massa. Kini, media massa telah masuk lebih jauh dibandingkan dengan tahun 1965. Teknologi komunikasi yang baru, seperti, satelit-satelit siaran telah tampil dan berperan. Pejabat-pejabat pemerintah di kebanyakan negara-negara sedang berkembang sungguh-sungguh berusaha menggunakan komunikasi massa untuk keperluan pembangunan.Â

    MODEL ISLAMISASI EKONOMI STUDI KASUS SAREKAT DAGANG ISLAM

    Full text link
    Islamisasi pengetahuan merupakan isu yang tidak bisa dilewatkan begitusaja dan telah lama diperbincangkan, termasuk di Indonesia. Banyak kalangan yang mencoba mengusung gagasan ini dan banyak pula yang mengkritiknya, namun tidak banyak yang memahaminya secara konseptual dalam konteks pandangan hidup dan peradaban Islam. Islamisasi Indonesia dalam bidang ekonomi masih sangat sedikit. Berbeda dengan Islamisasi dalam bidang lain seperti pendidikan, pemurnian aqidah, da’wah parlemen, perbaikan fiqih ibdah dan lainnya. Islamisasi dalam bidang ekonomi baru sekedar riak-riak kecil yang belum begitu populer muncul ke permukaan. Itupun baru dalam tataran ekonomi makro seperti bermunculannya perbankan syari’ah, asuransi syari’ah dan sejenisnya, padahal tentunya tidak hanya sebatas itu. Dengan kata lain, ekonomi Islam yang dibangun oleh para pencetusnya belum dapat dikatakan sebagai sebuah disiplin ilmu yang mapan, karena dipandang tidak ditemukan adanya bangunan pemikiran ekonomiyang utuh seperti halnya dalam ilmu ekonomi modern. Sementara itu, sebagianyang lain menganggap bahwa perkembangan studi ekonomi Islam tidak lain hanyalah sebagai reaksi sesaat dalam merespon modernisme. Maka dalam kesempatan ini menarik dikaji model Islamisasi ekonomi dalam kasus Sarekat Dagang Islam (1905). Metode yang digunakan dalam studi ini dengan menggunakan metode eksploratif. Hasil studi diketahui bahwa kekuatan Sarekat Dagang Islam (SDI) tidak hanya dalam kekuatan doktrin dan konsep, tetapi yang sama penting adalah kemampuan membaca kebutuhan dan problem yang dihadapi oleh ummat dalam ekonomi waktu itu. Jadi, keberadaan Sarekat Dagang Islam tidak hanya mampu menggerakkan ulama dan ilmuan serta para elit Jawa, tetapi juga mampu menggerakkan ummat dalam gerakan ekonomi
    corecore