56 research outputs found
Perilaku Elektrokimia Baja Tahan Karat SS 316 Dalam Media Nano Fluida
PERILAKU ELEKTROKIMIA BAJA TAHAN KARAT SS 316 DALAM MEDIA NANO FLUIDA. Korosi merupakan permasalahan umum yang sering terjadi pada logam dan paduannya. Metode pengujian secara elektrokimia merupakan salah satu metode yang tepat untuk mempelajari korosi logam dan paduannya dalam lingkungan tertentu. Pada penelitian ini dilakukan evaluasi baja tahan karat SS 316 dalam media air demin dan nano fluida yang mengandung partikel nano ZrO2 dengan metode elektrokimia. Potensial korosi, polarisasi Tafel, dan Electrochemical Impedance Spectroscopy (EIS) digunakan untuk mempelajari perilaku elektrokimia baja tahan karat SS 316 dalam media air demin dan nano fluida dengan variasi waktu perendaman selama 10, 60 dan 120 menit. Hasil pengukuran terhadap potensial korosi baja tahan karat SS 316 dalam media air demin dan nanofluid menunjukkan peningkatan seiring dengan bertambahnya waktu perendaman. Hasil pengukuran konstanta Tafel anodik pada baja tahan karat SS 316 dalam media air demin dan nano fluida menunjukkan bahwa nilai konstanta Tafel naik dengan dengan bertambahnya waktu perendaman. Hasil analisis polarisasi Tafel ditunjukkan bahwa laju korosi baja tahan karat SS 316 dalam media air demin dan nanofluid tidak terlihat perbedaan yang berarti dan laju korosi cenderung turun seiring dengan bertambahnya waktu perendaman. Hasil analsis dengan EIS pada baja tahan karat SS 316 menunjukkan bahwa nilai impedance yang tinggi dalam media nano fluida sehingga memiliki laju korosi yang rendah bila dibandingkan dalam media air demin. Analisis dengan difraksi sinar X (X-RD) menunjukkan bahwa fasa utama pada baja tahan karat SS 316 hasil pengujian korosi dalam media air demin dan nano fluida adalah γ-austenit. Baja tahan karat SS 316 mempunyai ketahanan korosi yang tinggi dalam media air demin dan nano fluida dengan laju korosi di bawah 1 MPY.
Kata kunci: SS 316, korosi, ZrO2, nano fluida, metode EI
The cyclic oxidation behaviour of two-phase [beta]-NiAl + [alpha]-Cr alloys at 1100 [degrees] C
Effects of scan rate on the corrosion behavior SS 304 stainless steel in the nanofluid measured by Tafel polarization methods
PENGARUH PERLAKUAN PANAS TERHADAP SIFAT KEKERASAN PADUAN Zr - Sn - Fe - Nb
PENGARUH PERLAKUAN PANAS TERHADAP SIFAT KEKERASAN PADUAN Zr—Sn—Fe—Nb. Penelitian perlakuan panas paduan logam Zirkonitim Zr-Sn-Fe-Nb pada temperatur 700-900°C dengan waktu pernanasan 1 - 4 jam, Hasil peleburan menggunakan tungku pelelehan busur tunggal dengan atmosfer gas argon telah dilakukan. Hasil analisis dengan difraksi sinar X menunjukkan bahwa fasa yang terbentuk didorninasi oleb fasa-α. Hasil karakterisasi dengan mikroskop optic rnenunjukkan bahwa naiknya temperatur pemanasan akan rnengubah struktur mikro paduan logam dan basket wave menjadi basket wave dengan ukuran yang Iebih besar. sedangkan bertambah Iamanya waktu pemanasan akan menaikkan jumlah pembentukan struktur mikro basket wave yang besar. Hasil pengujian kekerasan menunjukkan bahwa kenaikan temperatur dan waktu perlakuan panas akan menurunkan kekerasan paduan Zr-Sn-Fe-Nb
Ketahanan Oksidasi Zirkaloy-4 yang Dipadu dengan Yttrium Pada Suhu Tinggi
KETAHANAN OKSIDASI ZIRCALOY-4 YANG DIPADU DENGAN YTTRIUM PADA TEMPERATUR TINGGI. Yttrium merupakan salah satu logam unsur tanah jarang yang digunakan untuk memperbaiki sifat logam. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh penambahan Yttrium terhadap ketahanan oksidasi paduan zirkonium-4 pada temperatur tinggi dengan menggunakan metode oksidasi isothermal pada temperatur 900 °C dan 1000 °C. Penelitian ini dilakukan dengan tiga (3) variasi konsentrasi yttrium yaitu 0 % berat, 0,5 % berat dan 1 % berat dan sebagai pemadu pada zircaloy-4 (Zr, Sn, Fe, dan Cr). Proses oksidasi isotermal dilakukan pada temperatur 900 °C dan 1000 °C dengan waktu pemanasan 9 jam terhadap sampel as cast di dalam tungku tabung. Sampel zircaloy-4 yang telah dioksidasi kemudian dilakukan pengujian meliputi metalografi, kekerasan, X-Ray Difraction (XRD) dan pengukuran ketebalan oksida. Hasil pengujian menunjukkan bahwa kandungan variasi yttrium tidak mempengaruhi nilai kekerasan yang berarti. Semakin besar kandungan yttrium yang ditambahkan mengakibatkan nilai kekerasan semakin menurun, namun penambahan unsur yttrium dapat mempengaruhi ketahanan oksidasi pada temperatur tinggi yang ditunjukkan oleh perubahan grafik ketebalan oksida serta morfologi permukaan oksidasi dari setiap sampel yang dianalisis.
Kata Kunci : zircaloy-4, oksidasi isotermal, variasi yttrium
CORROSION BEHAVIOR OF Zr-10Mo ALLOYS IN NIOBIUM-DOPED LACTATE RINGER’S SOLUTION
This research discusses the corrosion behavior of Zr-10Mo alloys in Niobium-doped lactate ringer ’s solution. The addition of Niobium of 1%, 3% and 5% on Zr-10Mo alloys aims to study the effect of adding Niobium to the hardness, microstructure and corrosion resistance of Zr-Mo alloys. The alloys are made by melting the materials of Zr, Mo and Nb with a certain percentage of weight using single arc melting furnace in Argon atmosphere with high purity and Tungsten eletrodes. The alloys (as cast) are subjected to hardness testing using C-scale rockwell, microstructure using optical microscopy, compounds and phases in the alloys (as cast) using XRD and corrosion testing using polarization method in lactate ringers’ solution. The hardness value increases by the addition of Niobium, Zr-10Mo-1Nb alloy of 34 HRC, Zr-10Mo-3Nb alloy of 38 HRC and Zr-10Mo-5Nb alloy of 41.5 HRC. The basketweave-shaped microstructure with the addition of Niobium creates relatively smaller grain size. The value of corrosion rate decrases by the addition of Niobium at the immersion times of 0 minute, 60 minutes and 120 minutes, Zr-10Mo-1Nb alloy of 4.208 mpy, Zr-10Mo-3Nb alloy of 3.538 mpy and Zr-10Mo-5Nb alloy of 2.813 mpy, included in the excellent category (1-5 mpy)
Characteristics microstructure and microhardness of cast Ti-6Al-4V ELI for biomedical application submitted to solution treatment
OKSIDASI SIKLIK PADA TEMPERATUR 1200 oC PADUAN TERNER Ni-Al-Ti YANG DI DOPING DENGAN WOLFRAM
OKSIDASI SIKLIK PADA TEMPERATUR 1200 oC PADUAN TERNER Ni-Al-Ti YANG DI DOPING DENGAN WOLFRAM. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh penambahan unsur pemadu Wolfram (W) terhadap ketahanan oksidasi temperatur tinggi paduan terner Ni-Al-Ti dengan menggunakan metode oksidasi siklik pada temperatur 1200 oC. Penambahan unsur Wolfram, yaitu variasi 1,5% W. Sehingga Jumlah sampel yang digunakan pada penelitian ini berjumlah 2 sampel, yaitu paduan Ni-Al-Ti dan paduan Ni-Al-Ti-1,5W. Proses oksidasi siklik dilakukan sebanyak 25 siklik, dengan variasi siklik yaitu, 4 siklik, 9 siklik, 16 siklik dan 25 siklik (1 siklik ditentukan dengan 60 menit pemanasan sampel di dalam tungku dan 30 menit didiamkan di luar tungku). Pengujian yang dilakukan meliputi pengujian kekerasan Rockwell-C, pengujian metalografi, pengujian pengukuran tebal oksida, pengamatan morfologi permukaan, pengujian pengujian Scanning Electron Microscopy (SEM) dan pengujian X-Ray Difraction (XRD). Kandungan Wolfram yang bervariasi mempengaruhi nilai kekerasan dengan nilai kekerasan tertinggi didapatkan pada sampel Ni-Al-Ti-1,5W kekerasan yang didapatkan 48,5 HRC pada sampel as cast dan 50,5 HRC setelah solution treatment. Penambahan unsur Wolfram dapat mempengaruhi ketahanan terhadap temperatur tinggi dilihat dari kurva kehilangan berat terhadap siklik yang menunjukan sampel Ni-Al-Ti-1,5W dalam kehilangan berat lebih rendah dibandingan dengan sampel lainnya. Kata kunci : Ni base superalloy, oksidasi siklik, wolfram.
Synthesis Oxide Dispersion Strengthening Stainless Steel doped with Nano Zirconia by Mechanical Alloying
Identifikasi Kromosom Dalam Penentuan Jenis Kelamin Tanaman Salak (Salacca zalacca 9Gaetner) Voss) = Chromosomes Identification for Sex Determination on Salacca zalacca (Gaertner) Voss
Abstract
Sex determination on Salacca plant at early stage had been the crucial problem. There were 2 farmer\u27s consideration concerning to determine sex of these plant at early stage. First, based on the amount of the seed. Odd seed to be male and even seed to be female. Second, based on the seed germination. The seed which showed the "belf" to be female and "non belt" seed to be male. For this problem solving, The research was conducted due to those consideration with purposed to determine the chromosomes differences between female, male and hermaphrodite.
Root tips of the female,male and hermaphrodite plant was used in this study.. Chromosomes preparation was stained with fuchsin and the squash method was applied on it.
The result showed that there were no differences on the number of chromosomes among female, male and hermaphrodite plant, i.e. 2n = 28. On the other hand structure of the chromosomes was different between female, male and hermaphrodite formula. Female has n = llm + 2sm + lTmale n-12m + 2sm + lT and hermaphrodite n = 9m + 3sm + 2 T. Sex chromosomes could not be found on heteromorphic shapes on homolog chromosomes to determine sex. On the contrary, absolute length of the chromosomes showed differences between female, male and hermaphrodite. Seeds which showed "belt" and "non belt" during their germination could be used as criteria for sex determination on Salacca zalacca (Gaertner) Voss in the early stage.
Keywords:Salacca zalacca (Gaertner) Voss â Karyotipe - Chromosome
- …
