3 research outputs found

    Sediaan Sabun Mandi Padat Susu Kambing dengan Penambahan Bee Pollen Ditinjau dari Uji Organoleptik, Antioksidan, Alkali Bebas dan Asam Lemak Bebas

    No full text
    Susu kambing memiliki kandungan nutrisi yang kaya manfaat bagi tubuh namun juga salah satu produk peternakan yang mudah rusak. Susu kambing tidak hanya untuk produk olahan pangan namun juga dapat diolah menjadi produk kosmetik salah satunya yaitu sabun mandi padat. Bee pollen memiliki kandungan antioksidan alami yang dapat digunakan sebagai bahan tambahan pada sabun mandi yang berfungsi meregenerasi sel dan mencegah penuaan dini. Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 3 Desember–3 Februari 2019 diLaboratorium Penanganan Teknologi Hasil Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas Brawijaya. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui perlakuan terbaik dan mengetahui pengaruh penambahan bee pollen dengan konsentrasi berbeda pada sabun mandi padat susu kambing.Manfaat dari penelitian ini adalah memberikan informasi tentang bagaimana pengaruh penambahan bee pollen dengan konsentrasi berbeda yang dijadikan sebagai penambah antioksidan alami terhadap kualitas sabun mandi padat susu kambing. Materi yang digunakan adalah susu kambing yang diolah menjadi sabun mandi padat dengan penambahan bee pollen, NaOH, Minyak kelapa sawit, VCO dan pengharum. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode percobaan dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 5 perlakuan dan 3 ulangan, yaitu P0 tanpa penggunaan bee pollen, P1penggunaan 2% bee pollen, P2penggunaan6% bee pollen, P3 penggunaan 12% bee pollen, P4 penggunaan 18% bee pollen. Variabel yang diukur adalah uji mutu organoleptik, aktivitas antioksidan, alkali bebas dan asam lemak bebas. Data dianalisis dengan analisis ragam (ANOVA) dan dilanjutkan dengan Uji Jarak Berganda Duncan apabila terdapat perbedaan. Penentuan perlakuan terbaik menggunakan Indeks Efektivitas. Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa penambahan bee pollen berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap mutu organoleptik (aroma, warna dan banyak buih), aktivitas antioksidan, alkali bebas dan asam lemak bebas. Rata-rata hasil analisis dari P0, P1, P2, P3 dan P4 secara berurutan pada rataan skor organoleptik aroma sebesar 2,53-3,80 (sedikit harum khas bee pollen– harum khas bee pollen), rataan skor warna sebesar 1,41-4,38 (putih – coklat) dan rataan skor banyak buih sebesar 3,06-4,12 (sedang – buih sangat banyak). Rata-rata hasil analisis secara berurutan pada aktivitas antioksidan 67,02%, 71,43%, 72,27%, 73,95%, 75,21%, rata-rata hasil analisis secara berurutan pada alkali bebas sebesar 0,12%, 0,16%, 0,19%, 0,21%, 0,24% sedangkan rata-rata hasil analisis secara berurutan pada asam lemak bebas sebesar 0,26%, 0,35%, 0,46%, 0,48%, 0,53%. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penambahan bee pollen kedalam sabun mandi padat susu kambing memberikan pengaruh yang sangat nyata terhadap nilai organoleptik, antioksidan, alkali bebas dan asam lemak bebas. Perlakuan terbaik adalah dengan penambahan bee pollen 18% (P4) pada sabun mandi padat susu kambing. Saran pada penelitian perlu adanya penelitian lebih lanjut terhadap daya iritasi dan umur simpan pada sabun mandi padat susu kambing dengan penambahan bee pollen 18% karena hasil nilai uji alkali bebas melebihi nilai SNI 06-3532-2016

    Quality of Food Products Chicken Crepes

    No full text
    Chicken meat is a good source of protein, because it contains complete essential amino acids. Utilization of chicken meat in the manufacture of gluten-free crepes to increase economic value and as a source of protein that can be used as a functional snack for people with gluten intolerance. The purpose of this study was to determine the best quality of gluten-free chicken crepes in terms of organoleptic values and the best treatment using chicken meat and to determine the functional groups of the best treatment crepes. This study used a completely randomized design (CRD) method consisting of 4 treatments and 4 replications, namely treatment P0 the use of chicken meat by 20%, P1 the use of chicken meat by 25%, P2 the use of chicken meat by 30%, P3 the use of chicken meat by 35%. The results showed that the use of chicken meat with different proportions had a very significant effect (p0.05) on the organoleptic taste. Organoleptic characteristics with a crunchy texture to very crispy, dark yellow to bright yellow, slightly chicken-scented to chicken-scented, slightly savory to savory taste and can be accepted by consumers. The conclusion of the study was that he use of more chicken meat can improve the organoleptic quality (taste and aroma) of gluten-free chicken crepes, but decrease the organoleptic quality (texture, color and acceptance) of gluten-free chicken crepes. The best treatment of gluten-free chicken crepes was P1 with the use of chicken meat by 20%. FTIR absorption band indicates the presence of amide compounds present in chicken crepes, and has 15 kinds of amino acids consisting of 9 essential amino acids and 6 non-essential amino acids and has a saturated fatty acid (SFA) of 2.8%, monounsaturated fatty acids (MUFA) 2.27% and polyunsaturated fatty acids (PUFA) 0.79%.Keywords:  crepes, chicken meat, quality produc

    Kajian Pengembangan Produk Crepes Berbasis Daging Ayam

    No full text
    Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan persentase terbaik dari penggunaan daging ayam dalam menghasilkan crepes ayam ditinjau dari karakteristik fisik dan organoleptik, serta mengevaluasi hasil yang terbaik dari nilai gizi dan perubahan gugus fungsionalnya. Materi penelitian adalah crepes yang dibuat dengan penambahan daging ayam. Metode yang digunakan adalah percobaan dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 4 perlakuan dan 4 ulangan, P0 perlakuan daging ayam 20%, P1 perlakuan daging ayam 25%, P2 perlakuan daging ayam 30%, P3 perlakuan daging ayam 35%. Variabel yang diuji adalah pick up loss, higroskopis, kekerasan, warna L a*b* dan organoleptik (tekstur, warna, aroma, rasa dan penerimaan) dan hasil persentase terbaik dari penggunaan daging ayam dilanjutkan dengan mengevaluasi nilai gizi dan perubahan gugus fungsional. Data hasil penelitian dianalisis dengan analisis ragam (ANOVA) dan dilanjutkan dengan Uji Jarak Berganda Duncan apabila terdapat perbedaan. Penentuan perlakuan terbaik menggunakan Indeks Efektivitas. Berdasarkan hasil penelitian penggunaan persentase daging ayam yang berbeda memberikan pengaruh sangat nyata (P0,05) terhadap pick up loss, organoleptik (rasa dan aroma). Karakteristik fisik crepes ayam dengan perlakuan persentase daging ayam yang berbeda memiliki nilai fisik yaitu pick up loss pada P0, P1, P2, P3 masing-masing sebesar 54,87%, 56,04%, 55,84% dan 56,80 %, nilai higroskopis 3,36%, 6,10 %, 6,30% dan 6,50%, nilai kekerasan 0,209 kgf, 0,310 kgf, 0,325 kgf dan 0,341 kgf, nilai warna L* 42,56, 35,30, 37,52 dan 33,50, nilai warna a* -3,86, -4,77, -1,61 dan -2,11 yang memiliki warna cenderung kehijauan, nilai warna b* 14,38, 2,56, 15,77 dan 15,12 yang memiliki warna cenderung kekuningan. Karakteristik crepes secara organoleptik memiliki tekstur renyah sampai sangat renyah, berwarna kuning gelap sampai kuning cerah, sedikit aroma ayam sampai beraroma ayam, rasa gurih sampai sangat gurih dan penerimaan keseluruhan panelis disukai sampai sangat disukai. Kesimpulan pada penelitian ini adalah persentase penggunaan daging ayam maksimal sebesar 20% menghasikan kualitas crepes ayam terbaik. Hasil evaluasi dari nilai gizi crepes ayam memiliki nilai protein 19,68%, lemak 7,98%, abu 3,78%, air 6,32% dan karbohidrat 62,24%, pita serapan FTIR menunjukkan adanya senyawa amida yang ada pada crepes ayam, serta memiliki 15 macam asam amino yang terdiri dari 9 asam amino esensial dan 6 asam amino non esensial dan memiliki asam lemak jenuh (SFA) 2,8 %, asam lemak tidak jenuh tunggal (MUFA) 2,27% dan asam lemak tidak jenuh jamak (PUFA) 0,79%
    corecore