1,865 research outputs found
Telah Dicapai Kesepakatan antara Pelangi dan Unocal North Sumatra Geothermal
Pelangi bersama dengan Unocal North Sumatra Geothermal akan bekerjasama dalam sebuah proyek percontohan CDM di Sumatra UtaraJakarta, 7 Oktober 2002 - Pada hari Selasa lalu (1/10), Pelangi menandatangani kesepakatan atau MoU dengan Unocal North Sumatra Geothermal Ltd. (UNSG) untuk proyek pengembangan panasbumi Sarulla sebagai sebuah pilot project CDM (Clean Development Mechanism) yang dikelola oleh UNSG. Proyek panasbumi Sarulla dilaksanakan melalui Kontrak Operasi Bersama (KOB) antara UNSG dengan PERTAMINA dan Kontrak Jual Beli Energi dengan PERTAMINA dan PLN yang ditanda tangani pada tahun 1993. Proyek tersebut baru saja menjadi salah satu proyek yang dapat diteruskan setelah beberapa lama tertunda berkaitan dengan krisis ekonomi di Indonesia. Pembangunan proyek tersebut dikategorikan sebagai proyek CDM karena disamping membantu untuk memenuhi kebutuhan listrik di Sumatra Utara, proyek tersebut memanfaatkan energi terbarukan yang bersih lingkungan yang dapat menurunkan emisi gas rumah kaca (GRK), serta dapat menghemat penggunaan energi fosil. Bentuk kerja sama yang terdapat pada MoU antara Pelangi dan UNSG ini meliputi penyiapan dan penyusunan dokumen yang disyaratkan oleh sebuah proyek CDM. Dengan ditandatanganinya MOU ini, Pelangi berkewajiban untuk membantu pihak UNSG, terutama dalam hal penyiapan dokumen tersebut. Perlu diperhatikan bahwa dalam kerjasama ini Pelangi tidak menerima dana dari Unocal."Selain membantu menyiapkan dokumen, Pelangi nantinya akan memfasilitasi proses partisipasi publik dalam pilot project CDM ini, sebagaimana yang disyaratkan dalam sebuah proyek CDM," ujar Agus P. Sari selaku Direktur Eksekutif Pelangi. Partisipasi publik sangatlah diperlukan untuk menjamin agar proyek CDM berdampak positif terutama bagi masyarakat lokal, baik secara ekonomi, sosial maupun lingkungan, sehingga pembangunan berkelanjutan dapat terlaksana.Di Indonesia, selain proyek Sarulla, yang diajukan sebagai proyek percontohan CDM lainnya adalah proyek penurunan emisi gas rumah kaca yang dihasilkan dari kendaraan bus umum di daerah Yogyakarta. Adapun pemilik proyek ini adalah Dinas Perhubungan Daerah Istimewa Yogyakarta, Pusat Studi Transportasi dan Logistik Universitas Gajah Mada, dan Kopata (Koperasi Angkutan Penumpang Yogyakarta). Proyek percontohan CDM di Yogyakarta ini merupakan upaya untuk meningkatkan sistem transportasi publik Yogyakarta dengan menggunakan mesin yang lebih bersih dan effisien bagi 200 armada bus Kopata. MoU untuk proyek percontohan transportasi publik Yogyakarta telah lebih dahulu ditandatangani, yaitu pada bulan Mei 2002 yang lalu."Melalui proyek percontohan CDM ini, Pelangi berhak untuk mendapatkan informasi yang relevan dari proses penyusunan dokumen proyek CDM tersebut", ujar Agus P. Sari selaku direktur eksekutif Pelangi. "Semua informasi ini nantinya akan diberikan kepada publik, terutama kepada pemerintah dan swasta yang berminat untuk turut mengembangkan proyek CDM", tambah Agus P. Sari.Kedua proyek ini terpilih sebagai proyek percontohan dari 7 kandidat proyek lainnya berdasarkan seleksi yang dilakukan oleh tim SSN (South South North) dari 4 negara berkembang (Indonesia, Bangladesh, Brazil, Afrika Selatan). Proses seleksi ini menitikberatkan pada sejauh mana kontribusi proyek CDM terhadap pembangunan berkelanjutan di Indonesia dilihat dari aspek lingkungan, ekonomi, sosial, dan adanya transfer teknologi.Contact Person:Agus P Sari, [email protected], telp. di Pelangi, 62 (21) 573-5020, 571-9360, 571-9361Olivia, [email protected], telp. di Pelangi, 62 (21) 573-5020, 571-9360, 571-9361Armely Meiviana, [email protected], telp. di Pelangi, 62 (21) 573-5020, 571-9360, 571-9361Catatan untuk editor:Mekanisme pembangunan bersih atau lebih dikenal dengan CDM (Clean Development Mechanism) adalah salah satu mekanisme yang terdapat pada Protokol Kyoto, pasal 12. Mekanisme ini merupakan salah satu cara yang dapat digunakan oleh negara Annex I (negara maju) untuk menurunkan emisi gas rumah kacanya sesuai target yang telah ditentukan di dalam Protokol Kyoto. Melalui CDM, negara maju dapat mengembangkan sebuah proyek di negara berkembang, dimana proyek ini harus terbukti dapat menurunkan gas rumah kaca. Keuntungan lain dari CDM adalah membantu negara berkembang dalam hal efisiensi energi, pengurangan polusi dan pencegahan polusi dari sektor industri dan transportasi sehubungan guna menerapkan pembangunan berkelanjutan, serta memungkinkan adanya transfer teknologi dari negara maju. Dari proyek CDM ini akan dihasilkan sebuah sertifikat CER (certified emission reduction) yang dihitung berdasarkan emisi yang berhasil diturunkan melalui proyek CDM tersebut. Kredit ini kemudian akan digunakan untuk memenuhi target negara Annex I yang bersangkutan untuk memenuhi target mereka di dalam Protokol Kyoto.Pelangi dalam pengembangan proyek percontohan CDM ini bertindak sebagai SSN Office di Indonesia. SSN atau South-south North merupakan kerja sama antara negara-negara selatan atau negara berkembang (Southern countries) untuk mengembangkan pilot project di negara-negara tersebut. Proyek SSN bertujuan untuk meningkatkan kapasitas dalam melaksanakan mekanisme CDM di 4 negara berkembang (Afrika Selatan, Bangladesh, Brazil dan Indonesia). SSN ini bertujuan agar terjalin kerja sama yang lebih erat antar negara berkembang melalui tukar informasi, pengalaman, teknologi pelaksanaan CDM dalam rangka menghadapi perubahan iklim dan pemanasan global demi terciptanya pembangunan yang berkelanjutan.Proyek pembangkit listrik tenaga panas bumi Sarulla yang sedang dikembangkan oleh UNSG di mempunyai kontrak pengoperasian bersama (JOC-Joint Operating Contract) dengan Pertamina dan kontrak penjualan energi (ESC-Energy Sales Contract) dengan PLN dan Pertamina.- i
ANALISIS DAYA DUKUNG PARIWISATA DI WISATA ALAM CURUG PELANGI KABUPATEN BANDUNG BARAT
Curug Pelangi merupakan kawasan wisata alam yang berada dalam ruang lingkup hutan lindung yang dimanfaatkan sebagai kawasan wisata. Sebagai kawasan wisata dan hutan lindung, pengelola Curug Pelangi harus dapat menjaga keseimbangan kedua fungsi utama tersebut, dimana pengunjung dapat berwisata dengan nyaman dan kelestarian terhadap lingkungan di Curug Pelangi tetap terjaga. Upaya dalam menjaga hal tersebut, harus memperhatikan aktivitas kepadatan pengunjung yang ada. Daya dukung pariwisata berkaitan dengan kualitas tempat yang digunakan untuk melakukan aktivitas wisata yang akan mempengaruhi kualitas lingkungan serta pada kenyamanan dan kepuasan wisatawan dimana kualitas lingkungan tersebut akan berakibat pada kerusakan lingkungan terutama di wisata alam salah satunya Curug Pelangi. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui faktor pembatas daya dukung di Curug Pelangi dan daya tamping maksimum di Curug Pelangi. Sebagai acuan perhitungannya, penelitian ini menggunakan metode cifuentes terkait daya dukung fisik (PCC), daya dukung riil (RCC) dan daya dukung efektif (ECC). Dengan 30 responden sebagai sampel, didapatkan hasil bahwa nilai PCC sebesar 453 dapat menampung secara fisik kawasan, RCC sebesar 106 dengan faktor koreksinya dan ECC sebesar 30 dimana Curug Pelangi telah melampaui batas maksimum kunjungan berdasarkan jumlah kunjungan harian tahun 2018 sebanyak 215. Dari segi fisik kawasan Curug Pelangi masih mampu menampung jumlah pengunjung rata-rata, namun tidak dari segi ekologis dan kapasitas manajemennya.
Kata Kunci: Daya Dukung Pariwisata, Wisata Alam, Curug Pelangi
ABSTRACT
Curug Pelangi is a natural tourism area which is within the scope of a protected forest that is used as a tourist area. As a tourist area and protected forest, the manager of Curug Pelangi must be able to maintain the balance of the two main functions, where visitors can travel comfortably and preserve the environment in Curug Pelangi. Efforts in maintaining this need to pay attention to existing visitor density activities. The carrying capacity of tourism is related to the quality of the place used to carry out tourist activities that will affect the quality of the environment and to the comfort and satisfaction of tourists where the quality of the environment will result in environmental damage, especially in natural tourism, which is the Curug Pelangi. The purpose of this study was to determine the limiting factors of carrying capacity in Curug Pelangi and the maximum for carrying capacity of Curug Pelangi. As a reference calculation, this study uses the cifuentes method related to physical carrying capacity (PCC), real carrying capacity (RCC) and effective carrying capacity (ECC). With 30 respondents as samples, the results show that the PCC value of 453 can physically accommodate the area, the RCC are 106 with a correction factor and ECC are 30 with management capacity that turns out the Curug Pelangi has exceeded the maximum visit limit based on the number of daily visits in 2018 of 215. From the physical point of view Curug Pelangi is still able to accommodate the average number of visitors, but not in terms of its ecological and management capacity.
Keywords: Carrying Capacity, Natural Tourism, Curug Pelang
Analisis Bilangan Koneksi Pelangi Antiajaib pada Keluarga Graf Roda dan Kaitannya dengan Keterampilan Berpikir Kombinatorial
Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi dalam pendidikan
yang sangat pesat menuntut setiap individu untuk dapat selalu
mengembangkan pikiran serta wawasan dalam menyelesaikan berbagai
masalah kehidupan. Matematika merupakan suatu subjek yang selalu
menuntut individu untuk dapat menemukan pemecahan dan penyelesaian
terhadap suautu masalah dengan berbagai macam keterampilan berpikir,
salah satunya yaitu keterampilan berpikir kombinatorial. Pembelajaran
tentang berbagai konsep kombinatorika menuntut siswa mengalami suatu
cara khusus dalam berpikir. Proses berpikir tersebut sering disebut dengan
berpikir kombinatorial. Menurut beberapa ahli, berpikir kombinatorial
merupakan suatu pemikiran dalam menemukan suatu langkah sistematis
untuk memberikan keyakinan bahwa semua kemungkinan penyelesaian sudah
didiskusikan atau dipikirkan. Salah satu topik dalam kombinatorika yang
sangat kaya akan celah penelitian yaitu teori graf. Teori graf memiliki
banyak aplikasi dalam kehidupan nyata, khususnya pewarnaan graf dan
pelabelan graf.
Andaikan G(V, E) merupakan suatu graf simpel dan terkoneksi dengan
himpunan titik V dan himpunan sisi E. Sebuah fungsi bijektif f : V →
{1, 2, 3, . . . , |V (G)|} dikatakan sebuah pelabelan pelangi antiajaib jika ada
sebuah lintasan pelangi di antara setiap pasangan titik-titik dan untuk setiap
sisi e = uv ∈ E(G), bobot w(e) = f(u) + f(v). Sebuah graf G dikatakan
pelangi antiajaib jika G dilabeli pelangi antiajaib. Bilangan koneksi pelangi
antiajaib dari suatu graf G dinotasikan dengan rcA(G) yaitu jumlah warna
paling sedikit yang dibutuhkan untuk membuat graf G menjadi graf terkoneksi
pelangi, dengan pelabelan antiajaib.
Pada penelitian ini digunakan metode pendeteksian pola dan metode
deduktif aksiomatik dalam menentukan nilai bilangan koneksi pelangi antiajaib
pada keluarga graf roda. Penelitian ini menghasilkan lima teorema baru yaitu:
1. Teorema 1 untuk graf roda Wn dengan n = [3, 4], bilangan koneksi pelangi
antiajaib adalah rcA(Wn) = 5 dan untuk n ≥ 5 didapat rcA(Wn) = n.
2. Teorema 2 untuk graf gir Gn dengan n ≥ 3, bilangan koneksi pelangi
antiajaib adalah 3 = rc(Gn) ≤ rcA(Gn) ≤ n + 2 untuk n = 3 dan 4 =
rc(Gn) ≤ rcA(Gn) ≤ n + 2 untuk n ≥ 4.
3. Teorema 3 untuk graf helm Hn dengan n ≥ 3, bilangan koneksi pelangi
antiajaib adalah n = rc(Hn) ≤ rcA(Hn) ≤ n + d
n
2
e + 2 untuk 3 ≤ n ≤ 6 dan
n + 3 = rc(Hn) ≤ rcA(Hn) ≤ n + d
n
2
e + 2 untuk n ≥ 7.
4. Teorema 4 untuk graf persahabatan F rn dengan n ≥ 2 , bilangan koneksi
pelangi antiajaib adalah rcA(F rn) = 2n.
5. Teorema 5 untuk graf bunga Fln dengan n ≥ 3 , bilangan koneksi pelangi
antiajaib adalah rcA(Fln) = 2n.
Kaitan bilangan koneksi pelangi antiajaib pada keluarga graf
roda dengan keterampilan berpikir kombinatorial yaitu sub indikator
mengidentifikasi properti/karakteristik masalah terkandung ketika tahap
awal memahami konsep dan cara mencari bilangan koneksi pelangi antiajaib,
sub indikator menerapkan beberapa kasus terkandung dalam proses melabeli
setiap titik pada keluarga graf roda dengan order kecil. Sub indikator
mengidentifikasi pola terkandung ketika mengetahui pola pelabelan titik
dan pola bilangan koneksi pelangi antiajaib pada keluarga graf roda, sub
indikator memperluas pola terkandung dalam menerapkan pola pelabelan
yang didapat pada graf dengan order yang lebih tinggi. Sub indikator
menerapkan simbolisasi matematika tersirat ketika memberikan simbol atau
indeks unuk setiap titik yang terdapat pada keluarga graf roda, sub indikator
menghitung kardinalitas terkandung ketika menghitung kardinalitas pada
keluarga graf roda, sub indikator mengembangkan algoritma merupakan
indikator yang terkandung dalam setiap alur proses pencarian bilangan
koneksi pelangi antiajaib. Melakukan perhitungan argumen merupakan sub
indikator yang terdapat ketika menghitung kardinalitas graf hingga order
ke-n, menguji algoritma terkandung ketika menguji rumus dan fungsi titik
yang telah ditemukan. mengembangkan dan menguji bijeksi tersirat ketika
membuat fungsi titik dan mengujinya untuk order rendah hingga order ke-n,
dan menerapkan pembuktian deduktif, induktif dan kualitatif yaitu ketika
proses pembuktian teorema yang telah didapatkan. Sub indikator melakukan
interpretasi terkandung dalam kegiatan menjelaskan apa yang telah dipahami
dalam pencarian bilangan koneksi pelangi antiajaib pada keluarga graf roda.
Sehingga, secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa indikator dan sub
indikator keterampilan berpikir kombinatorial terkandung di dalam proses
pencarian bilangan koneksi pelangi antiajaib pada keluarga graf roda
CDM Sektor Kehutanan: Mungkinkah?
Jakarta, 14 Agustus 2002- Untuk mengetahui sejauhmana kesiapan institusi lokal dalam merespon kemungkinan penerapan Clean Development Mechanism (Mekanisme Pembangunan Bersih) pada sektor kehutanan, Pelangi bekerjasama dengan Bapedalda Propinsi Jambi akan melakukan workshop dengan tema "Pelaksanaan Studi Implementasi Program CDM Sektor Kehutanan"Acara yang dilaksanakan tanggal 15 Agustus 2002 di Bapedalda Propinsi Jambi bertujuan, meningkatkan kesadaran stakeholders dalam isu CDM, meningkatkan interaksi antara stakeholders dalam isu CDM, peningkatan kesadaran stakeholders pada kemampuan yang ada dan kemampuan yang harus diupayakan dalam menghadapi CDM dan mengukur sejauh mana kemampuan institusi lokal dan kemungkinan Implementasi Program Clean Development Mechanism (Mekanisme Pembangunan Bersih) sektor kehutanan. Menurut Agus Pratama Sari (Pelangi) "Workshop Studi CDM ini merupakan rangkaian dari kegiatan penelitian pada sektor kehutanan, dimana kita ingin mengetahui kesiapan institusi lokal dalam merespon kemungkinan penerapan Clean Development Mechanism". Inti permasalahan yang ingin dijawab pada studi CDM sektor Kehutanan yaitu; kondisi apa yang sedang terjadi pada institusi lingkungan lokal?, bagaimana posisi institusi lingkungan lokal dalam menghadapi proram CDM? Serta apa saja yang menjadi fokus perhatian dalam Program CDM, yang terkait dengan lingkungan & masyarakat? Agus menambahkan "Dalam workshop ini, kami mengharapkan adanya respon positif dari para peserta karena dukungan dan kesiapan peserta merupakan modal utama suksesnya Studi CDM Sektor Kehutanan". Workshop ini akan dihadiri oleh berbagai elemen masyarakat, seperti LSM lokal, swasta, dinas kehutanan pemda Jambi, serta akademisi. Sedangkan sebagai pembicara yakni; Agus Pratama Sari & Wisnu Rusmantoro (Pelangi), serta Hendry Baiquni (Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup). Clean Development Mecahnism adalah suatu mekanisme pembangunan bersih yang diharapkan dapat menciptakan pembangunan berkelanjutan dengan mengurangi emisi karbon di atmosphere. Program CDM ini merupakan bagian dari Protokol Kyoto yaitu artikel 12, sebagai satu-satunya mekanisme yang dapat diikuti oleh negara berkembang. _______________________________________________________________ Pelangi adalah sebuah lembaga penelitian kebijakan yang bersifat nirlaba, non-pemerintah, dan independen. Saat ini Pelangi memfokuskan kegiatannya pada isu-isu energi, transportasi, perkotaan dan studi wilayah, pencemaran udara, dan perubahan iklim. Contact Person: Agus P Sari, [email protected], telp. di Pelangi, 62 (21) 573-5020, 571-9360, 571-9361 - i
The Misyar Marriage and Family Law Reform in Indonesia
This article aims to examine the thought of misyar marriage according to Yusuf Al-Qardhawi, and aims to prohibit the practice of misyar marriage in Indonesia. So this research examines the law of misyar marriage from Al-Qardawi's perspective and its contribution to the reform of family law in Indonesia. This article includes library research. This research is descriptive analytical. The primary data in the research are the Qur'an, Hadith, Yusuf Al-Qardhawi's works, Law Number 1 of 1974 concerning National Marriage Law, and the Compilation of Islamic Law. The secondary data are scientific works, research, journals that are relevant to the research topic. Using Gustav Redbruch's theory of legal objectives and maslahah mursalah, the data analysis in this study uses inductive thinking techniques then the author makes data analysis with qualitative analysis. The result of this article is that misyar marriage according to Al-Qardhawi is a marriage that is not in accordance with the purpose of the ordinance of marriage, namely to form a family that is sakinah mawaddah and rahmah, but there is a gap in Law Number 1 of 1974, concerning Marriage in Article 2 Paragraph (1) "Marriage is valid, if it is carried out according to the laws of each religion and belief". When referring to this article, it can be said that it is valid, so that in order to provide assertiveness to prohibit the practice of misyar marriage and marriage practices that are not in line with the principles of marriage, it is necessary to provide a clear definition of marriage. Keyword: Misyar; Yusuf Al-Qardhawi; Family Law in Indonesi
PENERAPAN KONSELING REALITA TERHADAP KEDISIPLINAN KADER UKM TAEKWONDO RADEN INTAN LAMPUNG
ABSTRAK
Penulis mengambil judul “Penerapan Konseling Realita
Terhadap Kedisiplinan Kader Unit Kegiatan Mahasiswa Taekwondo
Raden Intan Lampung” Dalam penelitian ini penulis berfokus pada
(1) Bagaimanakah proses pelaksanaan konseling realitas yang
diterapkan di Unit Kegiatan Mahasiswa Taekwondo Universitas Islam
Negeri Raden Intan Lampung? (2) bagaimanakah keadaan
kedisiplinan dari kader Unit kegiatan Mahasiswa Taekwondo
Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung yang dijadikan
sampel sebelum diberikan konseling Realitas? (3) Bagaimanakah hasil
dari penerapan konseling realitas terhadap kedisiplinan kader Unit
Kegiatan Mahasiswa Taekwondo Universitas Islam Negeri Raden
Intan Lampung? Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah
dokumentasi hasil observasi serta wawancara dari kader yang
dijadikan sampel.
Metodelogi penelitian yang digunakan penulis yaitu jenis
penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus instrumental
tunggal. Sampel yang telah dijadikan penelitian kader aktif Unit
Kegiatan Mahasiswa Taekwondo dengan populasi 2 dari 12 populasi.
Pengumpulan data secara natural setting dan pengumpulan data lebih
banyak pada observasi, wawancara serta dokumentasi. Teknik analisis
data yang digunakan adalah deskriptif-komparatif.
Proses pelaksanaannya meliputi identifikasi masalah,
diagnosis, prognosis, treatment dan evaluasi / follow up. Adapun
teknik yang digunakan pada proses treatment adalah menggunakan
teknik WDEP (Want, Doing/Direction, Evaluation dan Planning) serta
membuat komitmen dan meniadakan hukuman. Kondisi kedisiplinan
kedua sampel sebelum diberikan layanan konseling realita yakni
sering tidak hadir dalam kegiatan,datang terlambat saat kegiatan,
sering tidak mengikuti agenda latihan rutin dan tidak mematuhi AD
dan ART di Unit Kegiatan Mahasiswa Taekwondo Universitas Islam
Negeri Raden Intan Lampung. Hasil akhir dari penerapan konseling
realitas tehadap kedisiplinan kader UKM taekwondo Raden Intan
Lampung dikategorikan cukup berhasil dengan persentase sekitar 75
%. Hal ini bisa dilihat dari adanya perubahan terhadap peningkatan
disiplin diri kader UKM yang mau mengikuti setiap agenda kegiatan
serta latihan rutin.
iii
ABSTAK
The author toke the title "Application of Reality Counseling Against
Discipline of Raden Intan Lampung Taekwondo Student Activity Unit
Cadre" In this study the author focused on (1) How was the process of
implementing reality counseling applied in the Taekwondo Student
Activity Unit of Raden Intan State Islamic University Lampung? (2)
how was the state of discipline of the cadres of the Taekwondo
Student Activity Unit of Raden Intan Lampung State Islamic
University who was sampled before being given Reality counseling?
(3) What are the results of the application of reality counseling on the
discipline of the Taekwondo Student Activity Unit cadres at the Raden
Intan State Islamic University, Lampung? The data used in this study
is the documentation of the observations and interviews of the cadres
who were sampled.
The research methodology used by the author is a qualitative research
type with a single instrumental case study approach. The sample that
has been used as research is the active cadre of the Taekwondo
Student Activity Unit with a population of 2 out of 12 populations.
Collecting data in a natural setting and collecting more data on
observation, interviews and documentation. The data analysis
technique used is descriptive-comparative.
The implementation process includes problem identification,
diagnosis, prognosis, treatment and evaluation / follow-up. The
technique used in the treatment process was used the WDEP technique
(Want, Doing/Direction, Evaluation and Planning) as well as made
commitments and eliminating penalties. The discipline conditions of
the two samples before being given reality counseling services were
often absent from activities, arrived late during activities, often did not
follow the routine training agenda and did not comply with AD and
ART at the Taekwondo Student Activity Unit, Raden Intan State
Islamic University, Lampung. The final result of the application of
reality counseling to the discipline of taekwondo cadres of UKM
taekwondo Raden Intan Lampung was categorized as quite successful
with a percentage of around 75%. This can be seen from the changes
in the self-discipline of UKM cadres who want to follow every
activity agenda and routine trainin
REPRESENTASI NILAI ISLAM DALAM FASHION MUSLIM KARYA DESAINER DIAN PELANGI
ABSTRAK
Busana muslimah memberikan simbol sebagai nilai-nilai agama
bagi pemakainya, karena busana muslimah bersumber pada ajaran agama
dan nilai-nilai mora yang tinggi. Maka busana muslimah dapat dikatakan
suatu simbol gerakan keagamaan pada seseorang. Selera terhadap estetika
dalam fashion muslim telah mengantarkan busana muslimah sebagai
busana yang berkelas dan menjadi kebutuhan setiap wanita muslim.
fashion diciptakan bukan untuk fungsi namun untuk estetika (keindahan),
dirancang bukan melindungi keindahan, namun untuk mengekspos
keindahan. Oleh karena itu Islam mengatur tata cara berpakaian, adab
kesopanan pakaian sebagai nilai-nilai Islam.
Teori yang digunakan dalam penelitian ini yaitu representament
analisis dengan menggunakan analisis semiotika Charles Sanders Pierce.
Dimana, penulis hanya berfokus dalam mendeskripsikan nilai-nilai Islam
dalam busana muslim karya desainer Dian Pelangi.
Penelitian ini dilakukan dengan mengambil data pada akun
instagram @dianpelangi, @dianpelangicom @pelangiasmara.id dan Buku
Brain Beauty Belief , jurnal-jurnal, majalah, dan sebagainya. Pesan�pesan yang disampaikan dapat dikaji ulang dan dipelajari, serta memiliki
daya persuasi yang lebih tinggi. Setiap gambar atau postingan memiliki
makna dari sebuah karya desainer, serta desainya sesuai dengan syariat
islam. Sehingga pembaca tidak hanya mendapat bacaan yang memberikan
informasi terkini melainkan belajar tentang Islam.
Objek dalam penelitian ini adalah karya busana muslim, sedangkan
subjeknya yaitu desainer Dian Pelangi, penulis melihat karya desainer
sebagian besar menekankan pada modernisasi fashion muslim. Teknik
pengumpulan data yaitu deskriptif kualitatif dengan metode analisis
Semiotika Charles Sanders Pierce.
Peneliti menarik kesimpulan berdasarkan analisis deskriptif kualitatif
dengan metode semiotika Charles sanders pierce terhadap teks dalam
karya busana muslim Dian Pelangi, maka a) representasi nilai-nilai islam
dalam karya busana dian pelangi, dapat kita lihat dari beberapa aspek
seperti, karakter, warna, motif, dan bentuk. Sedangkan untuk
mendeskripsikan busana muslim yang sesuai dengan identitas muslimah.
Menurut M. Quraish Shihab, ada tiga kriteria busana yang disinggung Al�Qur‘an: 1) memelihara pemakainya dari gangguan cuaca seperti panas
dan dingin. Serta segala sesuatu yang mengganggu jasmani.2)
menunjukkan identitas sehingga pemakainya dapat terpelihara dari
gangguan dan usilan.3)menutupi yang wajar(termasuk aurat) serta
menambah keindahan pemakainya.
Kata kunci: Representasi, Nilai Islam, Busana Muslim (Dian Pelangi)
iii
ABSTRAC
Muslim clothing provides symbols as religious values for the
wearer, because Muslim clothing is rooted in religious teachings and
high moral values. So Muslim clothing can be said to be a symbol of a
person's religious movement. The taste for aesthetics in Muslim
fashion has brought Muslim clothing as a classy dress and the needs
of every Muslim woman. Fashion was created not for function but for
aesthetics (beauty), designed not to protect beauty, but to expose
beauty. Therefore, Islam regulates dress code, etiquette, dress code as
Islamic values
The theory used in this research is representation analysis using
semiotic analysis of Charles Sanders Pierce. Where, the author only
focuses on describing Islamic values in Muslim clothing by designer
Dian Pelangi.
This research was conducted by taking data on Instagram
accounts @dianpelangi, @dianpelangicom , @pelangiasmara.id and
Brain Beauty Belief Books, journals, magazines, and so on. The
messages conveyed can be reviewed and studied, and have a higher
power of persuasion. Each image or post has the meaning of a
designer's work, and the design is in accordance with Islamic law. So
that readers not only get readings that provide the latest information
but learn about Islam.
The object in this study is the work of Muslim fashion, while the
subject is designer Dian Pelangi, the author sees that the designer's
work mostly emphasizes the modernization of Muslim fashion. The
data collection technique is descriptive qualitative with the method of
semiotic analysis of Charles Sanders Pierce.
The researcher draws conclusions based on a qualitative
descriptive analysis using Charles Sanders Pierce's semiotic method
of the text in the work of Dian Pelangi Muslim clothing, then a) the
representation of Islamic values in the work of Dian Pelangi, we can
see from several aspects such as character, color, motif, and shape.
Meanwhile, to describe Muslim clothing that is in accordance with
Muslim identity. According to M. Quraish Shihab, there are three
criteria for clothing mentioned in the Qur'an: 1) protecting the wearer
from weather disturbances such as heat and cold. As well as
everything that disturbs the body. 2) Shows identity so that the wearer
can be protected from distractions and pranks. 3) Covers what is
natural (including private parts) and adds to the beauty of the wearer.
Keywords: Representation, Islamic Values, Muslim Fashion
(Dian Pelang
MITIGASI NON STRUKTURAL BENCANA KEBAKARAN BERBASIS KAWASAN WISATA DAN PERMUKIMAN PADAT PENDUDUK (STUDI KASUS DI KAMPUNG PELANGI KOTA SEMARANG)
Kota Semarang mempunyai daya tarik wisata yang sangat banyak salah satunya yaitu Kampung Pelangi dengan pola terasering.Wisata ini terletak di permukiman padat penduduk, antara rumah satu dengan yang lain saling berhimpit karena kebutuhan perumahan yang semakin meningkat sedangkan lahan yang ada terbatas.Terdapat Kelurahan Tangguh Bencana (Katana) namun perannya belum optimal karena kendala keterbatasan dana. Simulasi kebakaran yang melibatkan warga belum pernah diadakan di Kampung Pelangi. Hal ini menyebabkan Kampung Pelangi rawan terhadap bencana kebakaran.Tujuan penelitian ini yaitu menganalisis mitigasi non struktural bencana kebakaran berbasis kawasan wisata dan permukiman padat penduduk di Kampung Pelangi RW III dan IV Kelurahan Randusari, Kecamatan Semarang Selatan, Kota Semarang. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Informan utama sebanyak lima orang dan informan triangulasi enam orang. Instrumen dalam penelitian ini dengan menggunakan pedoman wawancara mendalam dan lembar observasi. Hasil penelitian menunjukan semua informan memiliki pengetahuan dan sikap yang baik mengenai kebakaran, pelaksanaan sosialisasi dan pelatihan tentang kebakaran sudah dilaksanakan sebanyak dua kali dalam setahun dengan peserta perwakilan dari tokoh masyarakat dan pengurus Kelurahan Tangguh Bencana (Katana) sedangkan himbauan kepada warga disampaikan saat pertemuan RT, anggaran dana khusus bencana saat ini belum ada, Peraturan Daerah Nomor 13 Tahun 2010 baru diketahui oleh tokoh masyarakat, program Katana kurang optimal karena kendala keterbatasan dana, semua informan utama sudah mengingatkan keluarganya untuk mencegah kebakaran, RT / RW juga memberi himbauan langsung kepada warga, terdapat aturan dalam pengelolaan sampah di Kampung Pelangi, banyak daya tarik wisata yang perlu dikembangkan dengan menerapkan aspek Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3). Mitigasi non struktural bencana kebakaran dapat meningkatkan kesadaran warga setempat dan menjamin keselamatan bagi pengunjung wisata Kampung Pelangi
Kata Kunci: Kebakaran, Mitigasi Non Struktural, Permukiman Padat, Wisat
Pemerintah Indonesia Harus Mempunyai Posisi yang Kuat dan Tegas dalam Bernegosiasi di KTT Pembangunan Berkelanjutan
For Immediate Release 22 August, 2002; 09:00 Pemanfaatan Energi Terbarukan sebesar 5% secara Global Harus Menjadi Posisi Indonesia dalam KTT Pembangunan Berkelanjutan Jakarta, 22 Agustus 2002 - Pelangi bersama dengan WWF Indonesia dan Yayasan Kehati menyadari bahwa World Summit of Sustainable Development (WSSD) adalah kesempatan yang sangat baik bagi seluruh bangsa di dunia untuk mencapai kesepakatan bersama guna mendukung pembangunan yang berkelanjutan. Sehubungan dengan penyelenggaraan KTT tersebut, ketiga lembaga non-pemerintah tersebut mendesak Pemerintah Indonesia untuk: mendukung dan mempromosikan target global energi terbarukan hingga 5% dari energy-mix tahun 2010. menolak dengan tegas keinginan Amerika Serikat, Australia dan Canada untuk menghapus prinsip Common but Differentiated Responsibilities (tujuan bersama dengan tanggung jawab yang berbeda) dan Precautionary Principle (Prinsip kehati-hatian). mendukung penggunaan term "launch an action programme" dan "urged to develop and implement actions" yang terdapat pada paragraf 8 dan paragraf 19(s) di dalam Dokumen Plan of Implementation (hasil Prepcom IV di Bali, red). serta mendukung dihapuskannya subsidi energi secara global dan khususnya di Indonesia. Pemerintah Indonesia juga didesak untuk mendukung pengembangan sektor energi yang berkelanjutan yaitu dengan menetapkan target pemanfaatan energi terbarukan global sebesar 5% dan menjadikan energi terbarukan sebagai bagian yang tidak terpisahkan dalam pembangunan sektor energi nasional. Agus P. Sari, Direktur Eksekutif Pelangi menyatakan "Dengan menetapkan target dan kerangka waktu, maka hasil dari pertemuan di Johannesburg ini akan mengikat (action-oriented dan legally-binding). Oleh karena itu Pelangi, Kehati dan WWF Indonesia mengusulkan agar Pemerintah Indonesia mendukung penetapan target global 5% pemanfaatan energi terbarukan pada tahun 2010"Tidak ada alasan bagi Indonesia untuk takut mendukung penetapan target global pemanfaatan energi terbarukan, karena target 5% yang akan ditetapkan adalah target global. Ini berarti bahwa target 5% ini harus dicapai secara global dengan menerapkan prinsip 'common but differentiated responsibilities' yang berarti pula bahwa target pencapaian di tingkat nasional tidak akan lebih dari 5%, bahkan mungkin lebih rendah. Ismid Hadad, Direktur Eksekutif Kehati, menyatakan," Prinsip-prinsip dasar pembangunan berkelanjutan yang telah disepakati di KTT-Bumi tahun 1992 di Rio de Janeiro, seperti Common but Differentiated Responsibilities Principle dan Precautionary Principle, tidak boleh dikorbankan untuk kepentingan ekonomi finansial jangka pendek. Karenanya tidak boleh diganggu gugat apalagi dihapus". Agus Purnomo, Direktur Eksekutif WWF Indonesia menambahkan " Posisi AS, Kanada, Australia dan Jepang yang menolak semua bentuk target dan kerangka waktu yang diajukan untuk isu pemanfaatan energi terbarukan akan sangat melemahkan posisi G77 dan juga Indonesia". Pemerintah Indonesia juga diminta untuk waspada dan dapat menolak pengaruh lobby yang bertujuan untuk melemahkan persetujuan mengenai implementasi energi terbarukan yang berkelanjutan pada KTT di Johannesburg mendatang. "Indonesia tidak perlu takut pada tekanan dan lobby dari pihak asing yang tidak mendukung pemanfaatan dan pengembangan energi terbarukan. Seharusnya pemerintah lebih mementingkan kepentingan nasional yang berupa pengadaan energi yang tersebar walaupun berskala kecil, energi yang terjangkau oleh seluruh masyarakat serta energi yang tidak membahayakan lingkungan. Pengadaan energi yang demikian tidak mungkin terjadi tanpa adanya pemanfaatan dan pengembangan energi terbarukan," jelas Agus Purnomo Sementara itu mengenai penghapusan subsidi energi, Agus P. Sari mengungkapkan,"Kami mengusulkan agar Pemerintah Indonesia juga mendukung kesepakatan sementara ini, karena pemberian subsidi di sektor energi justru mendidik rakyat Indonesia untuk terus berperilaku boros energi. Lagipula, pengalihan dana subsidi sektor energi ke sektor pendidikan dan kesehatan melalui program yang transparan dan akuntabel akan lebih mendukung pelaksanaan pembangunan berkelanjutan di Indonesia."WSSD atau Konferensi Tingkat Tinggi mengenai Pembangunan Berkelanjutan merupakan Peringatan 10 Tahun KTT Rio akan diselenggarakan di Johannesburg, Afrika Selatan pada tanggal 26 Agustus - 4 September 2002. KTT ini merupakan kesempatan bagi Pemerintah Indonesia untuk melakukan negosiasi dengan posisi yang kuat dan berdasar, termasuk target serta mekanisme penerapannya. Untuk mendukung posisi Indonesia dalam negosiasi ini, perwakilan dari Pelangi, WWF Indonesia dan Kehati akan turut berperan aktif di dalam Delegasi Indonesia. ________________________________________________________________ Yayasan KEHATI adalah lembaga penyandang dana yang bersifat nirlaba dan mandiri, yang mendukung upaya-upaya pelestarian keanekaragaman hayati Indonesia dan pemanfaatannya secara berkelanjutan dan berkeadilan. World Wide Fund For Nature (WWF) adalah salah satu organisasi konservasi terbesar di dunia. Jaringan organisasi WWF beranggotakan sekitar 5 juta pendukung dengan lebih dari 50 kantor nasional dan kantor program serta 5 rekanan. Misi WWF adalah menghentikan dan menulihkan kerusakan bumi ini serta membangun masa depan dimana manusia hidup secara harmonis dengan alam. Pelangi adalah sebuah lembaga penelitian kebijakan yang bersifat nirlaba, non-pemerintah, dan independen. Saat ini Pelangi memfokuskan kegiatannya pada isu-isu energi, transportasi, perkotaan dan studi wilayah, pencemaran udara, dan perubahan iklim. ________________________________________________________________ Untuk informasi lebih lanjut, silakan hubungi : Kehati Suzanty Sitorus, [email protected] tel. 021 - 5528031/ 5228032 HP. 0811976216 WWF- Indonesia Eka Melisa, [email protected] tel . 021 - 5761070 Pelangi Armely Meiviana, [email protected] tel. 021 - 5735020/ 5719360/ 5719361 Catatan untuk Para Editor: Hasil Prepcom IV di Bali tanggal 31 Mei 2002 Pemerintah Indonesia semula menyatakan bahwa Indonesia akan menetapkan target pemanfaatan energi terbarukan sebesar 5% pada tahun 2010. Namun posisi ini sempat berubah setelah pelaksanaan Prepcom IV tersebut. Hal ini sedikit banyak diakibatkan oleh kuatnya lobby yang dilakukan oleh OPEC terhadap pemerintah Indonesia. Agus Purnomo, Direktur Eksekutif WWF Indonesia menyatakan "Posisi G77, yang diwakili oleh Iran, secara keseluruhan sangat tidak mewakili kepentingan negara-negara kepulauan dan negara miskin yang termasuk sebagai anggota G77. Suara yang dikeluarkan oleh G77 menunjukkan keberpihakannya pada OPEC yang tidak mendukung kebijakan pengembangan dan pemanfaatan energi bersih dan terbarukan". Hasil kesepakatan sementara lainnya dalam isu energi adalah pernyataan bahwa semua bentuk subsidi energi di dunia haruslah dihilangkan. Bagaimanapun, penghapusan subsidi ini harus diawali oleh negara-negara maju/industri yang lalu diikuti oleh negara-negara berkembang. Program Energi Hijau Pemerintah Indonesia sesungguhnya telah meluncurkan program yang dinamakan Program Energi Hijau yang bertujuan untuk memanfaatkan semaksimal mungkin potensi energi 'hijau' di Indonesia. Melalui Program Energi Hijau ini, Indonesia berharap akan dapat memanfaatkan 5% energi baru dan terbarukan pada tahun 2010 (yang terdiri dari energi surya, angin, hydro, panas bumi, biomassa, dan samudra). Dengan skema business as usual yang terdapat dalam program tersebut sesungguhnya Indonesia akan dapat memenuhi target 5% yang diusulkan di tingkat global. - i
EFEKTIVITAS PUPUK CAIR KASGOT TERHADAP PRODUKTIVITAS CABAI PELANGI ‘BOLIVIAN RAINBOW’
ABSTRAK
Cabai pelangi merupakan tanaman hias yang bisa
dibudidayakan dalam pot dan berfungsi sebagai tanaman hias
dalam ruangan dan luar ruangan. Cabai pelangi memiliki keunikan
dibandingan cabai pada umumnya yaitu dari segi buahnya yang
berwarna-warni yaitu ungu, putih, orange dan merah. Pemberian
pupuk cair kasgot merupakan solusi untuk mengurangi penggunaan
pupuk anorganik yang berlebihan karena adanya bahan organik
yang dapat memperbaiki sifat fisika, kimia dan biologi tanah.
Pupuk cair kasgot dapat menyuburkan tanah dan memperbaiki
struktur dan tekstur tanah serta menghemat air sehingga cocok
untuk pertumbuhan tanaman cabai. Tujuan dari penelitian ini
adalah mengetahuai efektivitas pupuk cair kasgot terhadap
produktivitas cabai pelangi „Bolivian Rainbow‟ dan mengetahuai
dosis pupuk cair kasgot yang paling efektif dalam meningkatkan
produktivitas cabai pelangi „Bolivian Rainbow‟.
Penelitian ini dilakukan di Kampung Bengkulu Jaya, Kec.
Gunung Labuhan, Kab. Way Kanan. Pendekatan yang digunakan
kuantititatif dengan eksperimen. Menggunakan rancang acak
lengkap (RAL) dengan berbagai konsentrasi yaitu P1(kontrol
Negatif), P2 (5ml), P3 (10 ml), P4 (15 ml), P5 (20 ml) dan P6
(kontrol Positif 5 ml). Populasi yang digunakan cabai pelangi dan
sampel yang digunakan 24 populasi cabai pelangi.
Hasil penelitian yang diperoleh menunjukan bahwa pada
parameter waktu muncul bunga tercepat ada pada perlakuan P3
yaitu 31,7 hari dan bobot buah terbaik ada pada perlakuan P3 yaitu
17 gram. Sedangkan pada parameter tinggi tanaman terbaik
menggunakan pupuk cair kasgot yaitu pada P4 30,5 cm, jumlah
helai daun yang paling baik pada perlakuan P3 dan P4 yaitu 25,2
helai dan jumlah cabang produktif yang terbaik yaitu P3 yaitu 12
cabang. Pemberian pupuk cair kasgot terhadap produktivitas cabai
pelangi ‘Bolivian Rainbow’ memberikan pengaruh penggunaan
pupuk cair kagot pada parameter waktu muncul bunga dan bobot
buah.Konsentrasi pupuk cari kasgot yang optimum untuk
produktivitas cabai pelangi ‘Bolivian Rainbow’ adalah perlakuan
P2 dan P3 yaitu 5 ml dan 10ml. Waktu muncul bunga terbaik
adalah nilai rata-rata 31,7 hari dan berat buah dengan nilai rata-rata
tertinggi 17 gram.
Kata kunci: Cabai Pelangi, Kasgot, Pupuk Cair
iv
ABSTRACT
Rainbow chili is an ornamental plant that can be cultivated in pots.and
serves as indoor and outdoor ornamental plants, Rainbow chili has a
unique compared to chili in general, namely in terms of. the fruit is
colored wami namely purple white orange and red. Giving kasgot
liquid fertilizer is a solution to reduce fertilizer use. excessive
inorganic due to the presence of organic matter that can be. improving
the physical chemical and biological properties of the soil, KAS got
liquid fertilizer can fertilize the soil and improve the structure and
texture of the soil and save water so that it is suitable for the growth of
chili plants. The purpose of. this study is to determine the
effectiveness of kasgot liquid fertilizer on the productivity of Bolivian
Rainbow chili and determine the dose of sait kasgot fertilizer that is
most effective in increasing the productivity of sabai pelangi. Bolivian
Rainbow
This research was conducted in Kampung Bengkulu Jaya District.
Mount Labuhan, Kab. Right Way, the approach used quantitatively
with experiments, using complete random design (RAL) with various
concentrations of negative Picontrol), P2 (5ml), P3 (10 ml), P4 (15
ml), P5 (20 ml) and P6 (positive control 5 ml). Population used
rainbow chili and sample used 24 Rainbow chili population
The results obtained showed that on the parameters of time the fastest
flowers appear on the P3 treatment is 31.7 days and the best fruit
weight is on the P3 treatment is 17 grams. While the best plant height
parameters using kasgot liquid fertilizer is at P4 30.5 cm, the best
number of leaves in the treatment of P3 and P4 is 25.2 strands and the
best number of productive branches is P3, which is 12 branches.
Provision of cash got liquid fertilizer to the productivity of Bolivian
Rambow rainbow chili!! give effect to the use of liquid fertilizer kagot
on the parameters of flower emergence time and fruit weight fertilizer
concentration find the optimum kasgot for the productivity of Bolivian
Rambow rainbow chili is P2 and P3 treatment is 5 ml and 10ml the
best flower emergence time is the average value of 31.7 days and fruit
with the highest
Keywords: Kasgot, Liquid Fertilizer,Rainbow Chil
- …
