562 research outputs found
Modification of crop factor in answers model to predict soil erosion in humid tropical region (case study of nopu upper catchment Central Sulawesi).
ANSWER model is one of soil erosion models that have been widely used in Indonesia to predict soil erosion from a watershed and to evaluate the effectiveness of various soil and water conservation techniques to control soil erosion and to reduce surface runoff. The model was developed based on USLE model which combined with sediment transportation model
Analisis Tapak Air Sejumlah Bahan Makanan Masyarakat Menurut Desa-Kota Per Provinsi Di Indonesia
Tapak air didefinisikan sebagai total volume air tawar yang digunakan untuk
memproduksi barang dan jasa yang dikonsumsi oleh masyarakat suatu negara.
Tujuan dari penelitian ini adalah mengestimasi tapak air sejumlah bahan makanan
yang dikonsumsi masyarakat dengan fokus penelitian berupa pola konsumsi pada
34 provinsi di Indonesia menurut desa-kota. Tapak air konsumsi dihitung untuk
tahun 2010 dan proyeksi 2030 berdasarkan jumlah penduduk dan pola konsumsi
desa-kota. Pola konsumsi pada penelitian ini diasumsikan tetap yaitu
menggunakan data pola konsumsi 22 bahan makanan terpilih/pokok berdasarkan
publikasi BPS pada tahun 2013. Rata-rata tapak air konsumsi masyarakat per
kapita di Indonesia adalah sebesar 447 m³/kapita/tahun. Tapak air konsumsi per
kapita di perkotaan (448 m³/kapita/tahun) lebih tinggi dibandingkan dengan
pedesaan (446 m³/kapita/tahun). Jawa Barat merupakan provinsi dengan tapak air
tertinggi yaitu sebesar 19 milyar m³ pada tahun 2010 dan 35 milyar m³ pada tahun
2030. Tapak air konsumsi nasional penduduk Indonesia pada tahun 2010 sebesar
106 milyar m³ dengan jumlah penduduk 239 juta jiwa. Proyeksi tapak air
konsumsi nasional pada tahun 2030, dengan jumlah penduduk 296 juta jiwa
adalah sebesar 132 milyar m³ dengan persentase peningkatan sebesar 19.5%.
Peningkatan tapak air konsumsi nasional untuk penduduk perkotaan sebesar
36.8% (53 milyar m³ menjadi 84 milyar m³), sedangkan pada tapak air konsumsi
nasional penduduk pedesaan mengalami penurunan sebesar 9.2% (53 milyar m³
menjadi 48 milyar m³). Sejauh ini, besarnya tapak air konsumsi nasional masih
dapat tercukupi oleh ketersediaan air pada sungai yang daerah pengalirannya lebih
dari 1000 km² mencapai 318 milyar m³ pada tahun 2010
Analisis Indeks Aliran Dasar Sungai Ciliwung dengan Metode Tapis dari Lyne-Hollick dan Eckhardt.
Pemahaman mengenai kontribusi air tanah terhadap aliran sungai sangat
penting dipelajari dalam rangka perencanaan pengelolaan sumber daya air.
Kondisi suatu DAS dikatakan baik jika fluktuasi antara debit maksimum dan debit
minimum rendah serta ketinggian muka air tanah konstan dari tahun ke tahun.
Penelitian ini bertujuan untuk menduga kontribusi aliran dasar terhadap aliran
sungai di Sungai Ciliwung bagian hulu, tengah, dan hilir. Dalam pemisahan aliran
sungai, metode yang sering digunakan adalah metode Recursive Digital Filter
seperti Lyne-Hollick dan Eckhardt. Kontribusi aliran dasar dalam total aliran
sungai (indeks aliran dasar) dihitung menggunakan metode terbaik, yaitu Lyne-
Hollick. Nilai indeks aliran dasar selama periode 2005-2015 di hulu diperoleh
berkisar antara 0.71 hingga 0.94 dan di hilir antara 0.70 hingga 0.86, sedangkan
indeks aliran dasar di tengah periode 2011-2015 adalah 0.64 hingga 0.73. Indeks
aliran dasar rata-rata di hulu, tengah, dan hilir berturut-turut yaitu 0.84, 0.68, dan
0.78. Angka-angka tersebut menunjukkan bahwa aliran dasar memberikan
kontribusi yang besar pada aliran Sungai Ciliwung
Analisis Aliran Rendah Dengan Koefisien Resesi Untuk Pendugaan Surut Banjir Di Daerah Aliran Sungai Ciliwung
DAS Ciliwung termasuk kedalam prioritas nasional dikarenakan setiap
aliran sungai dari wilayah hulu, tengah, dan hilir dapat meentukan potensi
kejadian banjir. Banjir yang terjadi di wilayah DKI Jakarta ditentukan oleh aliran
sungai di DAS Ciliwung secara keseluruhan, mulai dari daerah hulu, tengah,
maupun hilir. Tinggi muka air yang berlebihan di setiap stasiun pengamatan yang
menyebabkan bencana banjir di Provinsi DKI Jakarta selalu terjadi setiap
tahunnya. Kejadian banjir di wilayah DKI Jakarta dapat terjadi setiap periode
ulang tertentu. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis frekuensi banjir
untuk berbagai periode ulang di setiap DAS Ciliwung untuk bagian hulu, tengah,
dan hilir serta menduga surut banjir dari setiap stasiun pengamatan dan periode
ulang dengan menentukan koefisien resesi. Ketiga stasiun pengamatan dalam
wilayah DAS Ciliwung, baik stasiun pengamatan Katulampa, Depok, dan
Manggarai menggunakan distribusi Log Pearson Tipe III dalam menentukan debit
banjir berdasarkan periode ulang 2, 5, 10, dan 20 tahunan. Waktu surut banjir
setiap periode ulang tidak menunjukkan hubungan linier. Waktu surut di wilayah
hulu selama periode ulang 2, 5, 10, dan 20 tahunan berturut – turut adalah 208
jam, 340 jam, 21 jam, dan 221 jam. Sedangkan surut banjir di wilayah tengah
selama periode ulang memiliki waktu yang berbeda antara 9 – 32 jam. Hasil
perhitungan menunjukkan bahwa tidak terlihat pola yang jelas antara surut banjir
dan periode ulang. Pendugaan surut banjir tidak dapat dilakukan untuk wilayah
Manggarai
Analisis Spasial dan Temporal Kebutuhan Air Irigasi DAS Pusur Kabupaten Klaten
Klaten is one of rice production centers in Central Java Province with irrigated rice paddies covering an area of 18689.44 ha, representing 0.03% of irrigated rice fields in central Java. The availability of water greatly affects the productivity of the rice plant. Pusur irrigation area is one of the irrigation area often have deficiency of irrigation water in the dry season. The purpose of this research is to identify the characteristics of the irrigated area, irrigation water needs, analyzing and compiling a map of irrigation water balance DAS Pusur. Based on analysis that has been done to the data from 2009-2011, the second planting season which happen in the dry season is a planting season that has most small irrigation fulfillment, while the first and the third planting season have a relatively equal value and higher compared to the second growing season. Based on analysis using discharge data from the Agency of Public Works Klaten. Plosowareng have the highest percentage of irrigation needs, that was 92.41%, while Jetak have the lowest percentage of irrigation needs, that was 57.93%. In fact, Jetak got irrigation water runoff from higher areas so that the percentage of fulfillment of irrigation is higher when compared with the results of analysis by using a discharge data from the Public Works Agency
Analisis Ketersediaan Air Kawasan Karst Malang Selatan.
Kabupaten Malang bagian selatan hampir seluruhnya didominasi oleh bentang alam karst dengan luas sebesar 56 338 hektar atau sekitar 16% dari luas total Kabupaten Malang. Karst memiliki fungsi strategis sebagai penyimpan cadangan air terbesar di bawah permukaan bagi wilayah di sekitarnya. Hal ini menyebabkan penelitian mengenai analisis ketersedian air perlu dilakukan untuk mengetahui jumlah air yang tersedia, jumlah air yang dibutuhkan, serta indeks penggunaan air untuk kawasan karst Malang Selatan. Jumlah ketersediaan air suatu kawasan karst dapat dihitung sebagai surplus air yang diperoleh dari neraca air lahan dengan Metode Thornthwaite-Mather. Rata-rata ketersediaan air kawasan karst Malang Selatan selama periode 10 tahun 2008-2017 terhitung sebesar 825.31 juta m3/tahun, sedangkan rata-rata kebutuhan air mencapai 163.72 juta m3/tahun yang terdiri untuk penggunaan domestik sebesar 10.91 juta m3/tahun serta untuk pertanian lahan padi dan palawija sebesar 152.81 juta m3/tahun. Hasil dari perbandingan rata-rata antara kebutuhan air dan ketersediaan air selama 10 tahun ini menunjukkan indeks penggunaan air wilayah sebesar 21% yang berarti kondisi air di kawasan karst Malang Selatan masih dalam kondisi aman
Pemodelan Sistem Konvektif Skala Meso Sebagai Penduga Curah Hujan Lebat Berpotensi Banjir di Kawasan Jabodetabek
Penelitian sistem konvektif skala-meso (SKM) atau biasa dikenal sebagai mesoscale convective system (MCS) di wilayah Benua Maritim Indonesia (BMI) masih sangat terbatas, namun telah menggali siklus hidup serta karakter umum SKM terjadi di darat dan laut serta evolusi SKM pada saat aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO) dan adanya pengaruh wind shear vertikal. Sejauh ini penelitian tentang SKM yang mengakibatkan curah hujan lebat di BMI belum dilakukan lebih jauh. Dalam penelitian ini digali potensi SKM dalam menghasilkan hujan lebat berpotensi banjir di kawasan Jabodetabek.
Tujuan penelitian ini adalah (i) mendeskripsikan karakter SKM yang menghasilkan hujan lebat berpotensi banjir, (ii) menganalisis struktur kinematika dan dinamika SKM, dan (iii) mengembangkan pemodelan SKM sebagai penduga hujan lebat berpotensi banjir di kawasan Jabodetabek. Penelitian ini mempelajari parameter-parameter SKM sebagai penduga kejadian hujan lebat yang berpotensi banjir di wilayah Jabodetabek pada periode musim hujan Januari – Februari tahun 2013, 2014 dan 2015. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data citra satelit inframerah Multi-functional Transport Satellite (MTSAT) untuk mendeteksi adanya SKM. Data curah hujan per 3-jam dari 6 stasiun sekitar Jabodetabek digunakan untuk mengkonfirmasi curah hujan lebat dan untuk menghitung persamaan ambang batas curah hujan lebat berpotensi banjir. Selanjutnya data radiosonde (rason) profil vertikal yang diperoleh dari Stasiun Meteorologi Cengkareng digunakan untuk identifikasi kondisi atmosfer menjelang tumbuhnya SKM pada saat terjadi hujan lebat. Selain itu data reanalisis JRA55 digunakan juga untuk melihat kondisi lapisan atmosfer secara spasial.
Tahap pertama adalah identifikasi SKM menggunakan algoritma algoritma “Grab ‘em, Tag ‘em, Graph ‘em” (GTG) yang berbasis teori graf. Kriteria black-body temperature (TBB) yang digunakan dalam penelitian ini adalah TBB ≤ 210 210 K dengan ukuran minimum 2.000 km2. Kriteria tersebut digunakan karena awan konvektif yang menghasilkan hujan lebat di wilayah tropis biasanya merupakan awan yang tumbuh tinggi menjulang ke atas dan mempunyai ukuran yang tidak telalu besar. Selanjutnya ambang batas curah hujan per 3 jam tersebut digunakan sebagai indikator adanya SKM di kawasan Jabodetabek. Secara umum karakteristik MCS di sekitar Jabodetabek mempunyai perbedaan dengan lintang menengah (mid-latitude), yaitu MCS cenderung mempunyai ukuran lebih kecil. Hal ini ditandai dengan adanya awan yang menjulang tinggi ke atas hingga ketinggian 14 km.
Tahap kedua melakukan analisis statistik untuk mengidentifikasi karakter SKM di wilayah Jabodetabek. SKM dengan ukuran kecil dengan ukuran maksimum < 50.000 km2 merupakan karakteristik umum di Jabodetabek. Hujan lebat berpotensi banjir pada umumnya terjadi pada pagi hari antara pukul 23:00 – 10:00 WIB. Hasil yang diperoleh menjelaskan adanya pengaruh kondisi atmosfer terhadap pertumbuhan SKM yang diperkuat adanya aliran pasokan uap air yang
masuk dari Samudera Hindia dan Laut Jawa. Dalam penelitian ini diperkenalkan kategori baru SKM di Jabodetabek yaitu TBB ≤ 210 K dengan luas area ≥ 2.000 km2, jika eksentrisitas ≥ 0,7 disebut sebagai deep circular convective system (DCCS) dan jika eksentrisitas < 0,7 disebut sebagai deep elongated convective system (DECS). Terdapat 5 SKM yang digolongkan sebagai DCCS dan 8 SKM yang digolongkan sebagai DECS.
Tahap ketiga menganalisis struktur kinematika dan dinamika SKM terkait dengan hujan lebat di Jabodetabek. Pergerakan SKM pada umumnya mengarah dari Barat ke Timur, menunjukkan adanya pengaruh monsoon (muson) pada perambatan SKM tersebut. Kecepatan gerak SKM yang kecil mampu memodulasi hujan lebat secara signifikan. Terdapat perbedaan kecepatan angin (terutama angin zonal) di atas dan di bawah ketinggian 2 km pada saat munculnya SKM. Kecepatan angin saat munculnya SKM di bawah 2 km lebih lemah sedangkan di atas 2 km lebih kuat dibandingkan dengan kecepatan angin rata-ratanya. Selain itu kandungan uap air di atmosfer (theta-e dan kelembaban relatif) pada saat munculnya SKM antara lapisan 2 – 6 km lebih tinggi dibandingkan dengan rata-ratanya.
Tahap keempat melakukan pengembangan model SKM sebagai penduga hujan lebat berpotensi banjir. Untuk itu dilakukan dua pendekatan model yaitu model statistik dan model numerik. Pemodelan statistik yang menggunakan penduga parameter dan indeks stabilitas atmosfer untuk merepresentasikan aktivitas SKM. Maksud dilakukannya pemodelan statistik tersebut adalah untuk menguji apakah parameter dan indeks stabilitas atmosfer tersebut mampu menghasilkan prediksi curah hujan yang akurat atau tidak. Hasil pemodelan statistik terbaik baik regresi lag berganda maupun regresi komponen utama mempunyai koefisien korelasi hampir 0,5 dan RMSE 15 mm, sedangkan model ARIMAX terbaik mempunyai koefisien korelasi 0,3 dan RMSE 16 mm. Hasil tersebut masih jauh dari harapan untuk memprediksi kejadian hujan lebat secara akurat. Namun kedua model statistik (regresi lag berganda dan regresi komponen utama) mampu menangkap pola puncak curah hujan, meskipun tidak seluruhnya.
Selain pemodelan statistik dalam penelitian ini juga dilakukan uji pemodelan numerik menggunakan weather research forecasting (WRF). Simulasi dilakukan dengan kombinasi 4 kondisi awal dan 5 skema parameter cumulus yang berbeda, sehingga diperoleh 20 kombinasi skenario yang berbeda. Maksud dilakukannya simulasi tersebut adalah untuk menguji apakah skenario model WRF tersebut mampu menangkap pola kemunculan SKM atau tidak. Secara umum hasil keluaran model menunjukkan adanya pola puncak curah hujan yang tertangkap oleh model WRF, meskipun ada beberapa skenario yang menunjukkan waktunya tidak tepat (maju atau mundur). Demikian juga dengan profil vertikal komponen atmosfer (angin, mixing ratio dan theta-e) secara umum mempunyai pola yang mendekati observasi, meskipun ada perbedaan yang relatif kecil. Struktur vertikal reflektivitas hasil luaran model WRF menangkap pola struktur sistem konvektif, meskipun tidak sama waktu tumbuhnya dibandingkan dengan observasi
Evaluasi Curah Hujan GSMaP dan TRMM TMPA dengan Curah Hujan Permukaan Wilayah Jakarta – Bogor
Global Satellite Mapping of Precipitation (GSMaP) and Tropical Rainfall Measuring Mission Multi-Satellite Precipitation Analysis (TRMM TMPA) are global measured precipitation projects using satellite combination (blended) technique of infrared sensor and microwave sensor. This research having purpose to evaluate GSMaP and TRMM data with Surface rainfall data in various topographies (beach, level-land, mountainous region, and The whole area) and temporal variation (daily, 10days, and monthly) in Jakarta-Bogor area. The evaluation is done using visual and statistical comparison method (correlation coefficient, MAE, RMSE, and Mann-Whitney Test). The evaluation result of daily and 10days of GSMaP in all area studies showing a pattern didn’t follow the Surface rainfall (r0.60 and the Mann-Whitney test shows TRMM doesn’t have significant difference with surface rainfall data. 10days TRMM rainfall in all region, except mountainous region, shows TRMM rainfall can follow surface rainfall pattern (r>0.77). Monthly GSMaP data comparison to surface rainfall showing correlation more than 0.60 on beach and land area can be applied, by using correction equation, because GSMaP rainfall data always lower than surface data. The monthly TRMM rainfall data can be applied in all studies area because the pattern is suitable to surface rainfall data (maximum correlation is 0.98). Error identification shows that there is warm rain and high variation on land surface emission especially in mountainous area causing either GSMaP and TRMM cannot follow the surface rainfall data. GSMaP correction equation in beach region, shows the parameter that affect error are surface temperature and specific humidity in 850mb, while at region II, III, and The Whole there is no local parameter which has influence. TRMM correction equation in region III(mountainous area), shows local parameter which has an influence to accurate of this TRMM is surface pressure, wind 850mb, interaction of meridional wind and surface slope, air temperature 850mb, soil humidity in 10-200cm, and skin temperature
Perubahan Penutupan Lahan dan Potensi Respon Hydrologinya di DAS Palu, Sulawesi Tengah
Dalam kurun waktu 20 tahun terakhir, penutupan lahan di DAS Palu dengan luas wilayah 3050 km2 telah mengalami perubahan akibat tingginya tekanan akibat aktifitas penduduk yang tinggal disekitar DAS Palu tersebut. Perubahan ini pada umumnya berkurangnya luah hutan akibat meningkatnya luas lahan pertanian. Hal ini memberikan dampak terhadap neraca air di DAS Palu, seperti meningkatnya aliran permukaan dan debit air. Penelitian ini difokuskan untuk mempelajari perubahan respon hidrologi pada sungai akibat terjadinya perubahan penutupan lahan dengan menggunakan data-data penginderaaan jauh, SIG, dan Model Hidrologi. Berdasarkan hasil interpretasi data citra satelit, luas hutan telah berkurang sebesar 130.6 km2 atau sekitar 4.3% dari luas DAS pada periode 1990- 2001, dan 250,9 km2 atau sekitar 8.2% dari keseluruhan luas DAS pada periode 2001-2009. Berkurangnya luas hutan ini diakibatkan oleh bertambahnya luas lahan pertanian sebesar 4.6% dan 11.1% pada periode yang sama. Dari hasil simulasi menunjukan peningkatan jumlah total volume aliran tahunan di DAS Palu sebesar 152.390.000 m3 atau sekitar 4.5% pada tahun 2001 dan 292.448.000 m3 atau sekitar 8.2% pada tahun 2009. Kenaikan total volume aliran tahunan ini kemungkinan besar diakibatkan oleh terjadinya perubahan penutupan lahan dan berkurangnya luas hutan di DAS Palu
Kajian Dampak Dinamika Penggunaan Lahan Di DAS Wanggu terhadap Sedimentasi di Teluk Kendari Sulawesi Tenggara,
Dinamika penggunaan lahan di DAS Wanggu periode 1992-2010 telah menyebabkan degradasi lahan, terganggunya fungsi hidrologi DAS Wanggu dan terjadinya sedimentasi di teluk Kendari.
Penelitian ini dilaksanakan sejak September 2009 sampai dengan Agustus 2010 di DAS Wanggu, 8 DAS mikro dan Teluk Kendari Provinsi Sulawesi Tenggara. Penelitian bertujuan: 1) mengkaji dinamika penggunaan lahan dan keadaan biofisik lahan existing di DAS Wanggu, 2) mengkaji dampak dinamika penggunaan lahan di DAS Wanggu terhadap penurunaan luas lahan hutan, erosi, run off, koefisien run off, fluktuasi debit air, pendapatan petani pada kebun campuran, tegalan/sawah, dan sedimentasi di teluk Kendari, 3) mengembangkan model perencanaan penggunaan lahan dan agroteknologi alternatif yang mampu meningkatkan kualitas lahan seperti: kapasitas infiltrasi tanah dan intersepsi potensial, dan pendapatan petani, menurunkan run off, koefisien run off, laju erosi dan sedimentasi di teluk Kendari, dan 4) merumuskan model perencanaan penggunaan lahan dan agrotekonologi alternatif yang tepat dalam pengelolaan DAS Wanggu berkelanjutan dan kelestarian teluk Kendari.
Penelitian dilakukan dengan metode survei dan pengamatan lapang. Pengamatan terhadap karakteristik tanah, parameter hidrologi, erosi dan vegetasi dilakukan dengan membuat plot percobaan berdasarkan Rancangan Acak Kelompok dan data sosial ekonomi diperoleh melalui wawancara dan data sekunder. Hasil pengamatan dianalisis secara statistik dengan menggunakan uji BNT0.05 dan analisis agroteknologi didasarkan pada kondisi fisik lingkungan (secara teknis dapat diterapkan, secara ekologi dapat memperbaiki lingkungan melaui penurunan aliran permukaan, erosi dan sedimentasi, dan secara ekonomi dapat meningkatkan pendapatan dengan menggunakan perhitungan total biaya dan pendapatan, NPV 12% dan kebutuhan hidup layak (KHL).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dinamika penggunaan lahan tahun 1992 – 2010 di DAS Wanggu telah menyebabkan: 1) penurunan luas hutan 1,1% luas DAS per tahun (478,2 ha/th) dan semak belukar 0,8% luas DAS per tahun (366 ha/th) dan diikuti peningkatan luas kebun campuran 1,1% luas DAS per tahun (485,7 ha/th), tegalan/sawah 0,4% luas DAS per tahun (181,8 ha/th), dan pemukiman 0,4% luas DAS per tahun (179,8 ha/th), 2) akibatnya memberikan dampak signifikan terhadap penurunan karakteristik lahan: porositas tanah 19,1%, bahan orgaink tanah 1,5%, penutupan lahan 30,3%, intersepsi potensial 168,7%, dan peningkatan: berat volume tanah 0,3 g/cm3, dan meningkatkan indikator hidrologi: kapasitas infiltrasi 1,8 cm per jam dan permeabilitas tanah 2,1 cm per jam, run off 289,6 mm per tahun, koefisien run off 17,7% per tahun, erosi 17,4 ton/ha/th.
Dampak perubahan penggunaan lahan di DAS Wanggu periode 1992 – 2010 terhadap debit (Q) sungai Wanggu pada kondisi exsisting pada musim kemarau
viii
memberikan Qmin 3,0 m3/dt dan pada musim hujan Qmax 114,2 m/dt dengan ratio Qmax dan Qmin sebesar 38,1 dan dampaknya terhadap kualitas air sungai Wanggu adalah kelas 2 dan tergolong tercemar ringan berdasarkan kriteria standar baku mutu air (Kepmen LH No. 115/2003) dengan indikator kandungan TSD, BOD, COD, pH, NO3=, NO2, Fe, Zn, minyak dan lemak, kecuali Cl- masih tergolong baik dan memenuhi baku mutu air minum, sedangkan kualitas air di teluk Kendari tergolong tercemar berat oleh DO, COD dan SO4=.
Peningkatan erosi tertinggi di DAS Wanggu terjadi tahun 2010 (555.471,0 ton/th dengan rataan 12,2 ton/ha/th), tahun 2005 (548.895,0 ton/th dengan rataan 12,1 ton/ha/th), tahun 2000 (497.324,0 ton/th dengan rataan 11,0 ton/ha/th), tahun 1995 (410.545,0 ton/th dengan rataan 9,0 ton/ha/th) dan tahun 1992 (399.435,0 ton/th dengan rataan 8,8 ton/ha/th) tetapi dampaknya terhadap erosi tahun 1992-2010 tertinggi terjadi tahun 1995-2000 yaitu 86.778,6 ton dan rataan 17.355,7 ton/th dan dampaknya terendah tahun 2005-2010 yaitu 6.575,6 ton dan rataan 1.315,1 ton/th.
Konstribusi sedimentasi di teluk Kendari periode 1960 – 2010 berasal dari sedimentasi: erosi lahan sebesar 5.150.182,4 m3 (9,7%), sampah 1.089.165,0 m3 (2,0%) dan erosi (infrastruktur, tebing sungai, tanah longsor) sebesar 49.292.191,7 m3 (88,7%) dengan total sedimentasi sebesar 55.304.766,7 m3 (100%) dari jumlah penduduk di DAS Wanggu dan 8 DAS mikro adalah 19.726 jiwa tahun 1960 menjadi 269.559 jiwa tahun 2010.
Rumusan model perencanaan penggunaan lahan dan agrotekonologi alternatif yang tepat dalam pengelolaan DAS Wanggu berkelanjutan dan kelestarian teluk Kendari adalah hutan 33% luas DAS, kebun campuran (Agrosilvopastural) 44% luas DAS dan tegalan/sawah 9% luas DAS) dengan pendapatan bersih Rp 24.000.000 ≥ KHL (Rp 22.000.000 per KK/ha/th), erosi 9,7 ton/ha/th < Etol 12,1 ton/ha/th, dan sedimen < sedimen yang daoat ditoleransikan (sedine 54.300 ton/th < sedimen ETol 67.700 ton/th), model penggunaaan dan agroteknologi hasil simulasi ini memenuhi criteria: layak teknis, layak ekologis dan layak ekonomi skeneario-5
- …
