1,720,959 research outputs found
Protein pengikat hormon seks: sex hormone binding globulin (SHBG) dan aksi steroid seks
Jumlah gen pada manusia sekitar 30 000 gen, salah satunya yaitu gen SHBG (sex hormone binding globulin). Telah terbukti bahwa protein merupakan produk gen. Gen yang diekspresikan berarti mengkode sintesis protein. Pada studi ini mempelajari tentang protein sex hormone binding globulin (SHBG) yang merupakan produk gen SHBG. Gen SHBG terletak pada kromosom 17 p 3.1 di setiap sel tubuh kita. Gen SHBG pada hepatosit mengkode protein SHBG, protein tersebut selanjutnya disekresikan ke sistem sirkulasi. Gen SHBG di dalam hepatosit memiliki kesamaan dengan gen androgen binding protein (ABP) di sel Sertoli dalam testis. Jumlah gen pada manusia sekitar 30 000 gen, salah satunya yaitu gen SHBG (sex hormone binding globulin). Telah terbukti bahwa protein merupakan produk gen. Gen yang diekspresikan berarti mengkode sintesis protein. Pada studi ini mempelajari tentang protein sex hormone binding globulin (SHBG) yang merupakan produk gen SHBG. Gen SHBG terletak pada kromosom 17 p 3.1 di setiap sel tubuh kita. Gen SHBG pada hepatosit mengkode protein SHBG, protein tersebut selanjutnya disekresikan ke sistem sirkulasi. Gen SHBG di dalam hepatosit memiliki kesamaan dengan gen androgen binding protein (ABP) di sel Sertoli dalam testis. Dalam sisntesis protein SHBG maupun ABP ada 2 tahap yaitu tahap sintesis prekursor protein dan tahap selanjutnya pematangan prekursor protein di badan Golgi dengan proses glikosilasi. Protein SHBG maupun ABP memiliki funsgi sama yaitu memperantarai aksi hormon steroid seks ke sel sasaran. Ikatan antara SHBG dengan steroid tersebut bersifat reversibel dan berafinitas tinggi untuk mengikat androgen (dehidrotestosteron/DHT, testosteron, 3α-androstenediol), sedangkan ikatan terhadap estrogen aktif maupun estradiol dengan afinitas yang lebih rendah. Aksi steroid seks ke sel sasaran telah terbukti dengan 2 cara yaitu cara pertama dengan berdifusi melewati membran sel sasaran dan cara kedua dengan sistem transduksi sinyal yang diperantarai oleh reseptor SHBG (R-SHBG) pada permukaan sel sasaran. Protein SHBG di dalam sistem sirkulasi memiliki fungsi untuk mengikat hormon steroid seks dan memperantarai aksi hormon tersebut ke sel sasaran di luar testis, sedangkan ABP berfungsi memperantarai aksi hormon steroid seks di dalam testis
Krim ekstrak daun Lantana camara Linn. 4% stabil setelah disimpan selama 1 tahun
LATAR BELAKANGTumbuhan mengandung metabolit sekunder yang dapat berpotensi sebagai antioksidan, diantaranya adalah alkaloid, flavonoid, senyawa fenol, steroid, dan terpenoid. Lantana camara Linn. (tembelekan) merupakan tanaman liar yang tumbuh tanpa perawatan khusus yang digunakan masyarakat secara empiris untuk mengobati beberapa macam penyakit. Penelitian ini bertujuan untuk melihat perbandingan kadar flavonoid krim ekstrak daun L. camara Linn. 3%, 4%, 5% setelah disimpan selama 1 tahun.
METODEPenelitian ini merupakan studi observasional dengan desain potong lintang yang menggunakan krim ekstrak daun L. camara Linn. 3%, 4% dan 5%. Pengukuran pH, daya sebar dan uji organoleptik dilakukan di Laboratorium Biologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Trisakti, sedangkan pengukuran kadar flavonoid dilakukan di Laboratorium Pengujian Penelitian Terpadu UGM. Pengukuran kadar flavonoid terhadap ketiga sampel tersebut menggunakan spektrofotometer. Data yang diperoleh diuji normalitas dan homogenitasnya. Apabila data normal dan homogen dilanjutkan dengan uji one way anova, apabila data tidak normal dan atau tidak homogen dilakukan uji Kruskall-Wallis dengan tingkat kemaknaan 0,05.
HASILKrim ekstrak daun L. camara Linn. 3%, 4% dan 5% memiliki pH yang sama yaitu 6. Daya sebar krim ekstrak daun L. camara Linn. 3% sebesar 2.44 senti meter (cm), sedangkan untuk krim ekstrak daun L. camara Linn. 4% sebesar 2.12 cm dan krim ekstrak daun L. camara Linn. 5% sebesar 2.29 cm. Hasil uji organoleptik terhadap krim ekstrak daun L. camara Linn. 3%, 4% dan 5% memperlihatkan bentuk sediaan setengah padat, warna hijau tua dan bau khas ekstrak. Setelah disimpan selama 1 tahun, perubahan kadar flavonoid pada krim ekstrak daun L. camara Linn. 3%, 4% dan 5% masing-masing sebesar +85.6%, -1.07% dan +54.7% (p=0.001).
KESIMPULANSetelah disimpan selama 1 tahun, krim ekstrak daun L. camara Linn. 3%, 4% dan 5% memiliki pH 6, masing-masing krim memiliki daya sebar dan organoleptik yang sama. Krim ekstrak daun L. camara Linn. 4% paling stabil dibanding krim ekstrak daun L. camara Linn. 3% dan 5%
Pemanfaatan tanaman Tagetes erecta Linn. dalam kesehatan
Untuk mengembangkan obat baru, dewasa ini para peneliti berusaha untuk meneliti kandungan bahan alam, diantaranya kandungan zat dalam T. erecta Linn. Ekstrak etanol daun T.erecta Linn. diperoleh 17 senyawa dengan kandungan terbesar adalah senyawa neophytadiene diikuti 9,12,15-oktadecadienoic acid-methyl ester, hexadecanoic acid-methyl ester, palmitic acid, 9,12-oktadecadienoic acid, linolenic acid-metil ester dan heptadecanoic acid. Tanaman T.erecta Linn. atau yang biasa dikenal dengan sebutan bunga tahi kotok memiliki kandungan kimia yang sangat bermanfaat untuk kesehatan. Bagian dari tanaman T.erecta Linn. yang telah diekstrak dengan berbagai macam pelarut juga telah terbukti memiliki sifat antioksidan, efek antibakteri dan mampu menyembuhkan luka. Ekstrak dari bagian tanaman T.erecta Linn. juga telah berhasil diformulasikan menjadi berbagai bentuk sedian farmasi seperti gel, krim, lotion antinyamuk dan juga pewarna rambut. Sedian farmasi dengan zat aktif ekstrak T.erecta Linn. tersebut terbukti memiliki efek yang baik dan tidak merugikan subyek uji.
 
Aktivitas antimikroba dan potensi penyembuhan luka ekstrak tembelekan (Lantana camara Linn.)
Salah satu tanaman yang digunakan secara turun-temurun dalam pengobatan adalah tembelekan (Lantana camara Linn.). L. camara Linn. mempunyai potensi yang besar untuk dikembangkan menjadi bahan baku obat karena jumlahnya yang sangat banyak dan mudah dibudidayakan.
Hasil ekstraksi L. camara Linn. diketahui mengandung alkaloid, terpenoid, flavonoid, steroid, polifenol, tanin. Ekstrak L. camara Linn. juga telah dibuat atau diformulasikan dalam berbagai jenis sediaan farmasi dalam bentuk semisolid seperti salep, krim maupun gel.
Ekstrak methanol daun L. camara Linn. memiliki aktivitas antibakteri terhadap Escherichia coli. Ekstrak daun L. camara Linn. menggunakan pelarut n-heksan, etil asetat, etanol juga memperlihatkan aktivitas antibakteri terhadap bakteri Gram positif (Staphylococcus pyogenesis dan Micrococcus luteus) dan bakteri Gram negatif (Vibrio cholera dan Shigella dysenteriae). Selain itu, sediaan farmasi ekstrak L. camara Linn. juga memperlihatkan aktivitas antimikroba terhadap Salmonella typhi, Vibrio alginolyctus dan S. aureus. Aktifitas antifungi dari ekstrak etanol daun L. camara Linn. juga telah diuji terhadap jamur Trichophyton concentricum L. Sediaan farmasi ekstrak L. camara Linn. juga telah diuji aktifitas penyembuhan luka pada kulit hewan uji.  
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis
We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
Dispelling the Myths Behind First-author Citation Counts
We conducted a full-scale evaluative citation analysis study of scholars in the XML research field to explore just how different from each other author rankings resulting from different citation counting methods actually are, and to demonstrate the capability of emerging data and tools on the Web in supporting more realistic citation counting methods. Our results contest some common arguments for the continued
use of first-author citation counts in the evaluation of scholars, such as high correlations between author rankings by first-author citation counts and other citation
counting methods, and high costs of using more realistic citation counting methods that are not well-supported by the ISI databases. It is argued that increasingly available digital full text research papers make it possible for citation analysis studies to go beyond what the ISI databases have directly supported and to employ more
sophisticated methods
- …
