1,720,988 research outputs found

    Desain Program Prarancangan Optimum Kapal Penyeberangan Antar Pulau Untuk Kawasan Timur Indonesia

    Get PDF
    Eastern part of Indonesia is geographically consist of islands that were located relatively near to the demographic and population density is relatively low with a low economic level as well. This region is an area of future earning potential of primary commodities that have not been fully explored optimally and have the advantage of a strategic geographical position. In order to exploit this potential, inter island ferry is needed as a bridge "float" which serves to connect the disconnected land transportation network, thereby building local connectivity between islands and national integration. This study aims to optimize the design of inter island ferry in matching with characteristics marine area in eastern part of Indonesia. The result is expected to be able to realize the inter island transportation system that is efficient, effective and safe. Multi criteria optimization is solved by requiring iteration process with considerable repetition. Therefore we need a computer application program to facilitate program and accelerate the optimization process.\ud Developed a computer application program that can be used to perform optimization main dimension inter island ferry. With the application program, data system constraint such as oceanography, demand and infrastructure based on certain characteristics entered so that we will get the main dimension inter island ferry optimum. With the optimum main dimension, then the ferry can be more efficient, effective and safe in serving the inter island ferry transport in eastern part of Indonesia

    ST., MT., Ph.D

    No full text
    Salah satu penyebab terjadinya korban jiwa pada kecelakaan kapal adalah kesulitan untuk mengevakuasi penumpang saat terjadi kecelakaan. Kesulitan evakuasi tersebut dapat disebabkan oleh kepanikan, jumlah penumpang yang banyak serta dimensi serta rute dari jalur evakuasi yang tidak memungkinkan untuk mengevakuasi penumpang dalam waktu yang singkat. Organisasi Maritim Internasional (IMO) telah memberikan metode perhitungan waktu evakuasi untuk mengevaluasi kelayakan jalur evakuasi (safety plan) suatu kapal. Akan tetapi metode tersebut lebih menekankan pada proses evakuasi apabila terjadi kebakaran di kapal.\ud Paper ini membahas tentang proses evakuasi penumpang serta waktu maksimum apabila terjadi kebocoran pada satu atau beberapa kompartemen di kapal. Waktu evakuasi diestimasi dengan memakai standar perhitungan IMO sedangkan waktu kebocoran diestimasi dengan memakai prinsip Bernoulli. Jalur evakuasi dianggap layak apabila waktu evakuasi yang dibituhkan lebih kecil dari waktu kebocoran. Waktu kebcocoran dihitung mulai dari air masuk ke ruang kompartemen sampai kapal berada pada keadaan seimbang. Luas penampang bocor divariasikan untuk dijadikan dasar proses evakuasi bagi awak kapal.\ud Hasil perhitungan dan analisis menunjukkan bahwa kebocoran pada kompartemen tertentu dengan luas penampang bocor yang besar dapat mengakibatkan penumpang tidak dapat dievakuasi sebelum kapal kehilangan stabilitas atau tenggelaman. Oleh karena itu, penentuan jalur evakuasi hendaknya tidak hanya mempertimbangkan kasus kebakaran tetapi juga bentuk kecelakaan lain yang mungkin terjadi di kapal seperti masalah kebocoran yang dapat terjadi akibat tabrakan atau kapal kandas

    Karakteristik Lingkungan Perairan Indonesia : Dasar Penentuan Kriteria Stabilitas Kapal Dalam Negeri

    No full text
    Penentuan kriteria stabilitas berdasarkan karakteristik lingkungan perairan Indonesi

    WAKTU EVAKUASI MAKSIMUM PENUMPANG PADA KAPAL PENYEBERANGAN ANTAR PULAU

    No full text
    Korban jiwa pada kecelakaan kapal dapat terjadi akibat kesulitan untuk mengevakuasi penumpang akibat kepanikan, kelebihan penumpang serta dimensi serta rute dari jalur evakuasi yang tidak memungkinkan untuk mengevakuasi penumpang dalam waktu yang singkat.Paper ini mengevaluasi waktu evakuasi berdasarkan standar IMO apabila terjadi kebocoran satu atau beberapa kompartemen secara bersamaan. Waktu kebocoran diestimasi dengan memakai prinsip Bernoulli. Jalur evakuasi dianggap layak apabila waktu evakuasi yang dibutuhkan lebih kecil dari waktu kebocoran. Hasil perhitungan dan analisis menunjukkan bahwa kebocoran pada kompartemen tertentu dengan luas penampang bocor yang besar dapat mengakibatkan penumpang tidak dapat dievakuasi sebelum kapal kehilangan stabilitas atau tenggelaman. Oleh karena itu, penentuan jalur evakuasi hendaknya tidak hanya mempertimbangkan kasus kebakaran tetapi juga bentuk kecelakaan lain yang mungkin terjadi di kapal seperti masalah kebocora

    Maneuvering Performance of Indonesian Ro-Ro Ferries under Action

    No full text
    Maneuvering performance is one of the most important aspect in ship operation especially when the ship operating in rough weather. Ships with large windage area may have large drift angle. In order to maintain the ship direction or heading angle, a significant rudder angle is necessary. The ship speed may significantly decreases due to high wind speed. This paper discusses maneuvering performance of Indonesian ro-ro ferries under action of variation wind speed. The wind speed variation was determined using the ratio between the wind speed and the ship speed. The wind direction is also simulated from 0 degree (head wind) and 180 degrees (following wind). The results show that the drift angle significantly increases due to increases the wind speed. The maximum drift angle occurs when the angle of wind direction relative to the ship is 60 degrees. The same phenomena occur in case of the rudder angle. However the necessary rudder angle in order to maintain the ship direction is larger than the drift angle of the ship mainly in low wind spee

    ST., MT., Ph.D

    No full text
    Fungsi utama lambung timbul adalah untuk memberikan daya apung cadangan apabila terjadi kebocoran pada kapal. Selain untuk cadangan daya apung, lambung timbul juga berpengaruh terhadap stabilitas kapal. Oleh karena itu, penentuan lambung timbul minimum hendaknya mempertimbangkan kondisi stabilitas baik pada kondisi intact maupun damage. Paper ini membahas tentang pengaruh komponen penambahan daya apung cadangan kapal terhadap koreksi lambung timbul minimum khususnya bentuk lambung serta bangunan atas. Sarat kapal dan dimensi bangunan atas divariasikan dan selanjutnya dievaluasi kondisi stabilitas kapal. Berdasarkan hasil simulasi diperoleh koreksi lambung timbul untuk masing-masing komponen penambahan daya apung cadangan. Koreksi lambung timbul tersebut dapat dibandingkan dengan koreksi lambung timbul berdasarkan peraturan lambung timbul nasional maupun internasional. Untuk dapat memformulasikan koreksi lambung timbul sebagai fungsi dimensi bangunan atas dan dimensi kapal, simulasi dilakukan pada empat kapal dengan ukuran dan karakteristik geometri yang berbeda.\ud Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan yang telah dilakukan terhadap keempat kapal sampel, diperoleh kesimpulan bahwa perubahan dimensi bangunan ata mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap koreksi lambung timbul pada kapal ukuran kecil. Pada dimensi lebar dan tinggi bangunan atas tertentu, pengaruh bangunan atas terhadap koreksi lambung timbul minimum sangat kecil dan dapat diabaikan. Lebar dan tinggi minimum tersebut lebih kecil dibandingkan dengan tinggi dan lebar standar yang diberikan dalam peraturan lambung timbul minimum dalam negeri oleh karena itu perlu penelitian lebih lanjut tentang tinggi dan lebar bangunan atas standar yang harus dipertimbangkan dalam penentuan koreksi lambung timbul minimum. Koefisien koreksi lambung timbul yang diperoleh lebih kecil dari koefisien koreksi yang diberikan pada peraturan lambung timbul dalam negeri untuk kapal 339 GT dan 750 GT sedangkan untuk kapal 500 GT diperoleh koefisien koreksi yang lebih besar

    Maneuvering Performance of Indonesian Ro-Ro Ferries under Action of Wind

    No full text
    Maneuvering performance is one of the most important aspect in ship operation especially when the ship operating in rough weather. Ships with large windage area may have large drift angle. In order to maintain the ship direction or heading angle, a significant rudder angle is necessary. The ship speed may significantly decreases due to high wind speed. This paper discusses maneuvering performance of Indonesian ro-ro ferries under action of variation wind speed. The wind speed variation was determined using the ratio between the wind speed and the ship speed. The wind direction is also simulated from 0 degree (head wind) and 180 degrees (following wind). The results show that the drift angle significantly increases due to increases the wind speed. The maximum drift angle occurs when the angle of wind direction relative to the ship is 60 degrees. The same phenomena occur in case of the rudder angle. However the necessary rudder angle in order to maintain the ship direction is larger than the drift angle of the ship mainly in low wind spee

    Stability of Ships with Large Breadth-Draft Ratio in Following and Quartering Seas

    Get PDF
    The International Maritime Organization (IMO) decided to revise its intact stability criteria from prescriptive based criteria to be the performance based one. The new criteria should be capable to investigate stability failure in seaways such as dead ship condition, pure loss of stability, parametric rolling and broaching. In case of pure loss of stability in following and quartering seas, delegation of Japan and USA proposed vulnerability criteria level one based on the hull form characteristics of ships. These proposed criteria have been tested by using several different hull forms. However similar characteristics with the Indonesian ro-ro ferries have never been used to validate the criteria. The main characteristics of Indonesian ro-ro ferries are small draught with large breadth or large ratio of breadth and draught. Therefore it is important to investigate the pure loss of stability in following and quartering seas in order to investigate effect of some variables.\ud This paper discusses about effects of wave direction, significant wave height and ship speed on roll motion characteristics of ships with large ratio of breadth and draught in irregular following and quartering seas. Two degree of freedom model is used to investigate the roll motion characteristics. The irregular wave is developed by using the ITTC wave spectrum and the linear and nonlinear damping coefficients of roll are estimated by using the Ikeda semi empirical method. The results show that the significant wave height has significant effect on the roll motion in following and quartering seas. Eventhought the ship may safely operate in the significant wave height of 2.25 meters with maximum roll angle of 0.545 radian or 31 degrees. In higher significant wave height, capsizing dangerous may occur due to pure loss of stability. The maximum roll angle does not significantly change due to alteration of the heading angle from wave direction. It means that the heading angle does not significant effect on roll motion in following and quartering seas. When the intial forward speed increases, the maximum roll angle decreases. However in a certain initial forward speed, the maximum roll angle increases because occurrence of resonance. This phenomena show that dangerous condition due to pure loss of stability may be avoided by change the ship speed

    SISTEM KENDALI OTOMATIS UNTUK PENCEGAHAN TABRAKAN KAPAL

    Get PDF
    Salah satu bentuk kecelakaan kapal dalam pelayaran adalah tabrakan antara kapal atau tabrakan antara kapal dengan benda lain yang ada di perairan. Kejadian tabrakan dapat disebabkan oleh kelalaian awak kapal dalam mengendalikan kapal, sistem kemudi yang tidak berfungsi atau gaya dan momen kemudi tidak dapat membelokkan kapal dengan perubahan arah haluan yang diinginkan. Ketidakmampuan kemudi untuk membelokkan kapal dapat diisebabkan oleh gaya dan momen yang bekerja terhadap kapal yang jauh lebih besar dari gaya dan momen yang ditimbulkan oleh kemudi. Oleh karena itu, diperlukan suatu metode untuk melakukan identifikasi awal terhadap kapal atau objek lain yang ada diperairan sehingga tindakan dini dapat dilakukan untuk menghindari terjadinya tabrakan.Salah satu metode yang dikembangkan saat ini adalah penerapan sistem kendali otomatis pada sistem kemudi kapal. Dengan sistem kendali otomatis, aksi kemudi dapat dilakukan secara tetap untuk menghindari kemungkinan terjadinya tabrakan. Penelitian ini membahas tentang aplikasi sistem kendali otomatis kapal untuk pencegahan tabrakan kapal. Pada tahun pertama telah dilakukan identifikasi dan estimasi secara numerik dan empiris gaya dan momen yang bekerja pada badan kapal yang harus dilawan oleh kemudi. Berdasarkan gaya dan momen tersebut dapat diestimasi sudut kemudi yang diperlukan untuk mempertahankan arah gerak kapal (heading angle). Demikian pula, sudut kemudi yang diperlukan untuk mengubah arah haluan kapal sesuai dengan sudut yang diinginkan. Berdasarkan hasil pada tahn pertama tersebut, pengujian terhadap kemampuan olah gerak kapal khususnya gerak berbelok diamati baik secara numerik maupun pengujian model. Simulasi numerik dilakukan dengan menyelesaikan persamaan MMG model dengan mempertimbangkan pengaruh angin dan gelombang. Tahapan selanjutnya adalah perancangan sistem kendali otomatis dengan menggunakan kontrol PID dan fuzzy logic. Sistem kendali tersebut kemudian diaplikasikan pada simulasi numerik dan pengujian free running model untuk validasi. Hasil simulasi numerik untuk sisten kendali PID menunjukkan bahwa pada kondisi tanpa angin dan gelombang, kapal dapat mencapai setiap titik target yang telah ditentukan. Perubahan lintasa dan sudut kemudi serta sudut arah kapal akan mengalami perubahan ketika ada gaya dan momen pengganggu akibat angin. Besar perubahan tersebut tergantung pada arah datang dan kecepatan angin. Hal sama juga diperoleh pada pengujian free running model, dimana sudut haluan kapal serta lintasan kapal mengalami perubahan tergantung pada arah datang dan kecepatan angin. Gelombang mempunyai pengaruh yang lebih dominan terhadap performa sistem kendali otomatis dibandingkan dengan angin. Selain tinggi gelombang, panjang gelombang juga mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap terhadap kinerja sistem kendali otomatis. Pada ketinggian dan panjang gelombang tertentu, kapal tidak dapat mencapai titik target untuk selanjutnya menuju ke target berikutnya. Pada tinggi gelombang yang lebih besar dan kelandaian gelombang tertentu, sistem kendali tidak berfungsi, dimana sudut haluan kapal tidak mengalami perubahan meskipun sudut kemudi sudah mencapai sudut maksimum. Gaya dan momen yang ditimbulkan oleh gelombang lebih besar dari gaya dan momen kemudi. Oleh karena itu, disarankan untuk penelitian selanjutnya, informasi mengenai stabilitas gerak drift dan yaw kapal perlu untuk diidentifikasi sehingga dapat menjadi informasi tambahan untuk memperbaiki kinerja sistem kendali. Pengujian perlu dilakukan pada skala model yang lebih besar untuk dapat melihat kemungkinan aplikasi sistem kendali pada kapal yang sebenarnya
    corecore