3 research outputs found
Evaluation of Mechanical Properties and Bond Strength of Ultra High-Performance Concrete (UHPC) With The Addition of Fly Ash, Limestone, dan Polyamide Fiber as Repair Material
UHPC merupakan beton kinerja ultra-tinggi dengan kelas bahan semen yang memiliki kekuatan, kuat tarik, dan durabilitas yang tinggi dibandingkan dengan beton konvensional atau bahkan beton mutu tinggi. UHPC dapat diaplikasikan sebagai material perbaikan, retrofit, dan rehabilitasi struktur bangunan, karena memiliki kekuatan, ketahanan retak, dan daya tahan yang tinggi, serta kemudahan aplikasi yang baik (flowability), yang memungkinkan material ini mengisi celah kerusakan dan menciptakan ikatan yang kuat dengan beton eksisting.
Namun, penggunaan material seperti silica fume, quartz powder, quartz sand, dan steel fiber pada UHPC menjadi perhatian khusus. Penelitian ini melakukan upaya untuk mengeliminasi penggunaan material tersebut dalam pengembangan campuran UHPC sebagai material repar dengan menggunakan fly ash, limestone, dan polyamide fiber. Serta agregat yang digunakan hanya agregat lokal yang dapat dengan mudah ditemukan di Indonesia. Adanya modifikasi material pada UHPC, maka penelitian ini melakukan evaluasi karakteristik mekanis UHPC dengan pengujian flowability, kuat tekan, kuat tarik belah dan susut. Dikarenakan penggunaan UHPC ditujukan sebagai material repair maka dilakukan evaluasi kekuatan ikatan UHPC terhadap beton normal sebagai material eksisting. Pengujian yang dilakukan adalah slant shear, splitting tensile, dan perilaku lentur melalui flexural strength.
Hasil penelitian menunjukkan UHPC dengan variasi 30% fly ash, 7% limestone, sebagai supplementary cementitious materials (SCM), dan 1% HRWR merupakan komposisi terbaik berdasarkan nilai flowability sebesar 205 mm, kuat tekan mencapai 92,73 MPa dengan kuat tarik belah 5,51 MPa, serta susut pada 28 hari 0,039%. Berdasarkan evaluasi kekuatan ikatan slant shear dan splitting tensile seluruh variasi telah memenuhi persyaratan nilai minimum kekuatan ikatan. Dimana, nilai slant shear rata-rata ikatan untuk kombinasi OPC – UHPC berkisar antara 16,60 MPa hingga 18,39 MPa dan 24,61 MPa – 31,74 MPa untuk kombinasi UHPC – UHPC dengan nilai minimun 12,34 MPa (ASTM C882). Kekuatan ikatan berdasarkan splitting tensile termasuk dalam kategori “excellent bond strength” dengan nilai rata-rata 3,07 hingga 3,51 lebih dari 2,8 MPa yang merupakan syarat minimum (ASTM C496). Berdasarkan uji flexural strength, tegangan yang terjadi dari seluruh variasi UHPC tidak melewati batas kapasitas lentur balok tersebut. Dari seluruh hasil pengujian pada penelitian ini, UHPC dengan penggunaan fly ash, limestone, polyamide fiber, dan agregat lokal memenuhi persyaratan untuk digunakan sebagai material repair.
==========================================================================================================================
UHPC is an ultra-high-performance concrete composed of a class of cementitious materials with high strength, tensile strength, and durability compared to conventional and high-strength concrete. UHPC can be applied as a repair, retrofit, and rehabilitation material for building structures due to its high strength, crack resistance, durability, and good flowability, allowing it to fill damage gaps and create a strong bond with existing concrete.
However, the use of materials such as silica fumes, quartz powder, quartz sand, and steel fibers is of particular concern. This research attempts to eliminate the use of these materials in the development of UHPC mixtures. Instead, fly ash, limestone, and polyamide are used. In addition, only aggregates that can be easily found in Indonesia are used. With the modification of UHPC materials, this study evaluates the mechanical characteristics of UHPC through flowability, compressive strength, splitting tensile strength, and shrinkage tests. Since the use of UHPC is intended as a repair material, the bond strength of UHPC to normal concrete, which is an existing material, was also evaluated. The tests conducted include slant shear, splitting tensile, and flexural strength tests.
The results show that UHPC with a variation of 30% fly ash, 7% limestone as the supplementary cementitious material (SCM), and 1% HRWR is the best composition based on a flowability value of 205 mm, compressive strength reaching 92.73 MPa, splitting tensile strength of 5.51 MPa, and 28-day shrinkage of 0.039%. Based on the evaluation of the slant shear and splitting tensile bond strengths, all variations satisfied the minimum bond strength requirements. The average slant shear bond values for the OPC-UHPC combination ranged from 16.60 to 18.39 MPa and from 24.61 to 31.74 MPa for the UHPC-UHPC combination, with a minimum value of 12.34 MPa (ASTM C882). The bond strength based on splitting tensile tests fell into the "excellent bond strength" category with an average value of 3.07–3.51, exceeding the minimum requirement of 2.8 MPa (ASTM C496). Based on the flexural strength test, the stress from all UHPC variations did not exceed the beam’s flexural capacity. Based on all the test results obtained in this study, UHPC with fly ash, limestone, polyamide fiber, and local aggregates meets the requirements for use as a repair material
Analisis Percepatan Waktu dan Biaya pada Pembangunan Proyek Apartemen Kyo Society Surabaya dengan Metode Time Cost Trade Off
Pelaksanaan proyek konstruksi berkaitan erat dengan waktu dan biaya dikarenakan suatu proyek konstruksi dibatasi oleh waktu dan biaya yang telah disepakati pada kontrak. Apartemen Kyo Society merupakan hunian modern berkonsep Jepang pertama di Surabaya. Apartemen ini dipilih untuk studi kasus dikarenakan mengalami keterlambatan progress pekerjaan dari awal rencana selama 29 hari karena adanya perbaikan pekerjaan borepile oleh subkontraktor. Oleh karena itu, diperlukan adanya pengendalian proyek yang efisien untuk mendapatkan waktu dan biaya proyek yang optimal tanpa mengurangi mutu proyek sehingga seluruh pihak tidak mengalami kerugian. Penelitian ini bertujuan mengatasi keterlambatan tersebut dengan melakukan analisis percepatan menggunakan salah satu metode percepatan yaitu Time Cost Trade Off (TCTO). Metode ini merupakan metode analisis pekerjaan konstruksi dengan berubahnya durasi penyelesaian proyek sehingga biaya yang dikeluarkan juga berubah. Metode ini dilakukan untuk mempercepat penyelesaian pekerjaan konstruksi dengan biaya tambahan yang rendah. Alternatif yang digunakan dalam analisis ini yaitu penambahan tenaga kerja, shift kerja, dan alat kerja yang nantinya akan dibandingkan untuk mengetahui alternatif yang paling efisien yang dapat diterapkan pada pembangunan proyek ini. Setelah dilakukan analisis percepatan dengan durasi awal yaitu 98 hari, dengan penambahan tenaga kerja, dapat mempercepat 29 hari menjadi 69 hari dengan biaya total Rp 18.938.510.639.16 yaitu lebih murah Rp 234.874.722.22 dari biaya normal. Penambahan shift kerja dapat mempercepat selama 32 hari menjadi 66 hari dengan biaya total Rp 18.988.980.044.93 lebih murah Rp 184.405.316.46 dari biaya normal. Sedangkan percepatan dengan penambahan alat kerja tidak disarankan dikarenakan perkerjaan yang overlapping sehingga menambah durasi pekerjaan selama 14 hari menjadi 114 hari dengan biaya total setelah percepatan adalah adalah Rp 19.370.277.665.87 yaitu lebih mahal Rp 196.892.304.48 dari biaya normal. Dikarenakan penambahan tenaga kerja sudah dapat mengatasi keterlambatan selama 29 hari dan memiliki biaya total paling murah maka alternatif percepatan paling efisien yang dapat digunakan adalah penambahan tenaga kerja
Early Age Strength of Development Ultra High-Performance Concrete Using Class-F Fly Ash and Local Materials for Repair
Ultra High-Performance Concrete (UHPC) is an innovative material for such repairs because of its superior mechanical properties, strength, crack resistance, and durability. However, its high production cost, primarily due to using materials like silica fume and cement, is a significant drawback. This study explores the feasibility of incorporating fly ash and local materials into UHPCs to reduce costs while maintaining or improving their performance. As a supplementary cementitious material, fly ash enhances the compressive strength and workability of UHPC. The addition of limestone further supports early-age strength and workability. By evaluating the mechanical properties and workability of modified UHPCs, this research demonstrates the economic viability and environmental benefits of structural repairs. The results indicate that this modification can effectively enhance the early-age strength of UHPC, making it suitable for use as a repair material. The evaluation of the mechanical properties and workability of the modified UHPC suggests that these alternative materials can maintain or even improve the performance of UHPC. Thus, this approach offers a more economically viable and environmentally friendly solution for structural repairs
