1,720,959 research outputs found
RAKYAT MEMPERKUAT KENDALINYA TERHADAP NEGARA
AbstractThe people’s goal to established the a state is to get better life, justice, secure and welfare.But in the New Order, injustice was almost happened in all fields of lives, which was thenfall into an economic crisis leaving broad poverty, unemployment, backward education andcorruption. Those New Order’s diseases are still continue up till now, although reformationhas been continued for more than 10 years. In reality the state’s power is not always used toserve its people. Thus, people has to tightened its control toward state, since when onceloose its control, state’s power will be misused only for the interest of the ruler and at thesame time forget the people who actually is the owner of the state. The state is owned bypeople for the common good and that kind of state is named democratic state that its processof execution must be under people’s control. For that purpose it needed a kind of politicalinteraction between state-society which is peaceful, secure, fairness and having trust to eachother. That interaction needs appropriate condition, among other things are limited statepower, power division based on check and balance principle, general election, effectivepolitical participation, regional autonomy and reformation of the behavior of society andstate.Keywords: State power, People’s control, Democratic state,Behavior reform of state and societ
Melawan Ketidakadilan Untuk Menghapus Kemiskinan Struktural
Kemiskinan yang parah sedang terjadi di banyak negara, termasuk Indonesia. Kemiskinan ini terlihat dari tidak terpenuhinya kebutuhan dasar untuk kehidupan yang layak bagi ratusan juta orang. Dikhawatirkan, kemiskinan yang menyakitkan ini akan terus diderita oleh banyak orang dan diwariskan dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Ungkapan sinis tentang hal itu berbunyi: “penyebab kemiskinan adalah kemiskinan itu sendiriâ€. Artinya, ratusan juta orang miskin pada generasi ini akan mewariskannya kepada keturunannya.
Indonesia mengalami krisis multidimensional yang dimulai dengan krisis moneter pada pertengahan 1997. Krisis ini mengakibatkan kaum miskin di Indonesia jumlahnya meningkat pesat dengan kemiskinan yang semakin parah. Krisis menimbulkan banyak pengangguran, dan pengangguran itu sendiri menambah banyaknya jumlah orang miskin, kondisi seperti ini membuat kita perlu menaruh perhatian besar untuk menghapus kemiskinan, atau paling tidak untuk menguranginya. Proses pengurangan kemiskinan ini harus dimulai dengan mencari akar persoalan yang menjadi penyebab utama dari kemiskinan kita ini, dan selanjutnya menyusun strategi untuk mengatasinya. Kemiskinan memang akan selalu ada, tetapi jumlahnya tidak jangan sampai besar, dan penderita kemiskinan tidak boleh tetap pada kelompok-kelompok masyarakat tertentu. Kemiskinan harus berpindah dari orang-orang yang mau belajar dan bekerja keras melawan kemiskinan itu sendiri.
Masalah kemiskinan melibatkan seluruh aspek kehidupan manusia. Kemiskinan merupakan sesuatu yang nyata dalam kehidupan kita sehari-hari. Walaupun demikian, kaum miskin belum tentu menyadari kemiskinan yang mereka alami. Kesadaran akan kemiskinan baru terasa pada waktu mereka membandingkan kehidupan yang mereka jalani dengan kehidupan orang lain yang mempunyai tingkat kehidupan ekonomi lebih tinggi.
Kemiskinan dapat didefinisikan sebagai suatu standar kehidupan yang rendah, yaitu adanya suatu tingkat kekurangan materi pada sejumlah orang dibanding dengan standar kehidupan yang umum berlaku dalam masyarakat yang bersangkutan. Standar kehidupan yang rendah ini tampak pengaruhnya terhadap kesehatan, pendidikan, dan martabat atau harga diri
Mendirikan Negara Kebangsaan Indonesia
Abstrak
Pergerakan Nasional Indonesia bergerak cepat, semakin dalam dan meluas ke seluruh Nusantara. Kelahiran Budi Utomo 20 Mei 1908 dilanjutkan dengan Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928. BPUPKI dalam Masa Sidang Pertama dari tanggal 28 Mei-1 Juni 1945 membicarakan berbagai hal yang perlu dipersiapkan untuk kemerdekaan Indonesia, termasuk tentang dasar negara Indonesia. Pada 1 Juni 1945, Soekarno mendapat giliran berbicara. Sebelum menyampaikan gagasan tentang dasar negara, Soekarno terlebih dulu menjelaskan tentang kemerdekaan Indonesia, dan menyatakan Indonesia harus segera merdeka, karena kemerdekaan itu perlu dan dapat dilakukan segera dan tidak ada alasan untuk menundanya. Kemudian Soekarno menyatakan, dasar pertama yang baik dijadikan dasar untuk negara Indonesia adalah dasar kebangsaan, yang kedua adalah internasionalisme, karena kebangsaan Indonesia merdeka adalah bagian dari kekeluargaan bangsa-bangsa, yang saling berinteraksi di antara bangsa-bangsa di dunia. Selanjutnya dasar yang ketiga ialah permusyawaratan perwakilan, yang keempat adalah prinsip kesejahteraan, dan yang kelima adalah prinsip Ketuhanan.
Kata kunci: kebangsaan, dasar negara, demokrasi
Peradaban Gotongroyong
Bangunan dan peralatan Megalitikum menjadi bukti kemajuan manusia, yang memperlihatkan bahwa masyarakat berkebudayaan megalitikum adalah masyarakat berperadapan
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
- …
