15 research outputs found
Analisis Usahatani dan Faktor Produksi Pada Pertanaman Lengkuas Di Kabupaten Bogor dan Bekasi
Telah dilakukan penelitian untuk melihat karakteristik usahatani dan penggunaan factor produksi lengkuas di kabupaten Bogor dan Kabupaen Bekasi, Jawa Barat . Data di peroleh dengan melaksanakan survai pada bulan November 1992. Penarikan contoh dilakukan secara acak bertujuan . Untuk melihat untung /rugi pengusahaan tanaman ini di lakukan analisis usahatani . sedangkan untuk mengkaji hubungan antara factor produksi dengan produksi dilakukan analisis korelasi dan fungsi produksi dilakukan analisis korelasi dan fungsi produksi Cobb- Douglass. Hasil penelitian menunjukan bahwa petani langkuas rata-rata berumur45.40tahun dengan jumlah keluarga6.10 orang dan tingkat pendidikan sekolah dasar. Rata-rata lahan yang di miliki seluas 9.031.4 m2 dimana 9.41% ditanami langkuas.sumbangan pendapatan usaha tani lengkuas terhadap pendapatan keluarga sebesar 31% dari pendapatan total. Setiap 0.25 ha lahan yang di usahakan petani di peroleh produksi rimpang basah sebanyak 5161.76kg dengan nilai pendapatan bersih Rp.2 631 094,44 dan B/C ratio 4.51. Kompetisi pengelolaan yang di peroleh petani sebesar 77.82% dari pendapatan kotor. Faktor produksi yang dominan pengaruhnya terhadap produksi lengkuas adalah luas lahan garapan .Setiap penambahan luas garapan 1% produksi akan meningkat 0.9995%
ANALISIS TITIK IMPAS HARGA DAN SISTIM PEMASARAN PADA INDUSTRI MINYAK BUAH MERAH (Pandanus conoideus LAMK)
Permasalahan utama dalam industri minyak buah merah (Pandanus conoideus Lamk) adalah harga jual yang sangat tinggi, berkisar antara Rp 300.000,- sampai dengan Rp 1.000.000,- per liter, dan sistem pemasaran-nya yang kurang efisien. Padahal harga bahan bakunya cukup murah, sedangkan jumlah lem-baga tataniaga yang terlibat relatif sedikit. Un-tuk mengetahui besarnya biaya yang dibutuh-kan memproduksi satu liter minyak buah merah dan kendala dalam pemasarannya dilakukan penelitian, berjudul : ”Analisis titik impas dan sistem pemasaran pada industri minyak buah merah (Pandanus conoideus Lamk)”. Peneli-tian dilakukan di daerah sentra industri peng-olahan di Kecamatan Sentani Kabupaten Jaya-pura dan Kecamatan Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Propinsi Papua, sejak Januari 2006 sampai dengan Desember 2006. Tujuan pene-litian untuk mengetahui titik impas harga yang terjadi pada pengolahan setiap liter minyak buah merah, dan efisiensi sistem pemasaran-nya. Penelitian menggunakan metode survey. Penentuan responden industri dan petani diten-tukan secara sengaja (purposive sampling). Untuk mengetahui harga pokok proses satu liter minyak buah merah digunakan analisis titik impas, sedangkan untuk mengetahui efi-siensi sistem pemasarannya digunakan analisis margin pemasaran dan analisis deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa untuk memproses atau menghasilkan satu liter minyak buah merah, hanya dibutuhkan biaya sebesar Rp 107.810,-. Nilai tersebut jauh lebih murah bila dibandingkan dengan harga jual yang terjadi di pasaran umum. Selain itu sistem pemasarannya dinilai kurang efisien, bagian harga yang diterima petani pengolah minyak buah merah hanya sebesar 35,42 % dari harga jual pedagang antar pulau, dan bagian harga yang diterima pedagang tingkat kecamatan hanya 50% dari harga jual pedagang antar pulau. Salah satu upaya untuk meningkatkan bagian harga yang diterima petani adalah dengan cara memutus salah satu pedagang tingkat kecamatan atau menjual langsung ke pedagang tingkat kabupaten
KAJIAN EKONOMI BUDIDAYA ORGANIK DAN KONVENSIONAL PADA 3 NOMOR HARAPAN TEMULAWAK (Curcuma xanthorhiza Roxb)
Semua varietas tanaman mempunyai spesifik karakter terhadap adaptasi lingkungan tumbuh dan input yang diberikan dan akan ber-pengaruh terhadap produksi serta pendapatan usahatani. Tujuan penelitian ini mengkaji nilai ekonomi budidaya organik dan konvensional dari tiga nomor harapan temulawak. Informasi ini diharapkan akan menjadi acuan dalam pe-ngembangan budidaya temulawak. Percobaan menggunakan Rancangan Petak Terbagi dan diulang 4 kali. Petak utama terdiri dari dua pa-ket pemupukan; 1) budidaya organik dan 2) bu-didaya konvensional. Sedangkan anak petak terdiri dari 3 nomor harapan temulawak yaitu, Balittro 1, Balittro 2, dan Balittro 3. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan (KP) Suka-mulya, sejak Agustus 2005 sampai Oktober 2006. Ukuran petak percobaan 30 m2, dengan jarak tanam 75 cm x 50 cm dan setiap petak terdapat 80 tanaman. Paket budidaya organik terdiri dari; bokashi 10 t/ha, pupuk bio 90 kg/ ha, zeolit 300 kg/ha, dan pupuk fosfat alam 300 kg/ha, sedangkan paket budidaya konvensio-nal; pupuk kandang kotoran sapi 20 t/ha, urea 200 kg/ha, SP-36 200 kg/ha, KCl 200 kg/ha. Data yang dikumpulkan adalah input-output dari setiap paket percobaan, data dianalisis se-cara deskriptif dan kelayakan usahatani. Hasil penelitian menunjukkan : (1) Produksi rimpang segar dan simplisia temulawak pada budidaya konvensional lebih tinggi dibandingkan dengan produksi budidaya organik. (2) Produktivitas temulawak budidaya organik 15,20 – 17,83 ton/ha, produksi tertinggi pada nomor harapan Balittro 3 (17,83 ton/ha rimpang dan 3,57 ton/ ha simplisia). Produksi rimpang segar dan sim-plisia temulawak pada budidaya konvensional masing-masing berkisar 19,64 – 22,31 ton/ha dan 3,93 – 4,46 ton/ha, produksi tertinggi dica-pai nomor harapan Balittro 2. (3) pada harga jual Rp 1.500,-/kg rimpang, budidaya organik tidak layak diusahakan pada semua nomor ha-rapan temulawak Balittro 1, 2, dan 3. (4) Har-ga pokok temulawak budidaya organik adalah Rp 1.726,-/kg untuk rimpang, Rp 19.805,-/kg untuk simplisia, dan Rp 163.179,-/kg untuk ekstrak. Sedangkan pada budidaya konvensio-nal, harga pokok Rp 1.471,-/kg untuk rim-pang, Rp 18.531,-/kg simplisia, dan Rp 155.046,-/kg ekstrak, (5) dengan harga jual Rp 1.500,-/kg rimpang, budidaya konvensio-nal pada nomor harapan Balittro 2 dan 3, la-yak diusahakan, dengan pendapatan bersih per 1.000 m2 lahan masing-masing Rp 228.750,- dan 78.750,- dengan B/C rasio 1,073 dan 1,026, (6) bila diproduksi dalam bentuk sim-plisia dan ekstrak dengan harga jual Rp 20.000,-/kg dan Rp 174.000,-/kg budidaya or-ganik nomor harapan Balittro 1 dan 2, serta budidaya konvensional nomor harapan Balit-tro 1, 2, dan3 layak diusahakan. Pendapatan tertinggi dari budidaya konvensional nomor harapan Balittro 2 dengan pendapatan bersih per 1.000 m2 lahan sebesar Rp 819.965,- dan B/C rasio 1,101 untuk simplisia dan Rp 2.747.516,- dan B/C rasio 1,226 untuk rim-pang.
PENINGKATAN DAYA SAING PRODUKSI LADA INDONESIA MELALUI ADOPSI INOVASI
In the last five years the price of pepper world was increasing rapidly, in 2010 the export price of black pepper and white pepper Indonesia respectively were FOB US 5,662 be FOB US 12,362 per metric ton in the year 2014. Nevertheless, Indonesian pepper production has declined, namely 59,000 tonnes in 2010 to 52,000 tons in 2014. This reflects the constraints that limit the development of pepper production in Indonesia. Indonesian pepper internally has a competitive advantage in the factor of natural resources and the availability of human resources, but there are weakness in the quality of the labour, especially in the application and knowledge of cultivation technology and the use of superior seeds. To improve the competitiveness of Indonesian pepper, it is necessary to improve the quality and quantity of production by increasing productivity through improvement methods of cultivation that is environmentally friendly, use of certified seeds and high quality input grade, primary product processing that refers to the quality standards, accompanied by the introduction of institutional innovation and technical cultivation with the active role of farmer groups. Due to the successful adoption of the technology depends on knowledge of the perpetrators of farming technologies that will be developed.</jats:p
HARGA POKOK BENIH NILAM VARIETAS SIDIKALANG HASIL KULTUR JARINGAN
Kendala dalam penyediaan benih adalah ketersediaan yang tepat waktu, tepat jum-lah, seragam dan sehat. Teknik kultur ja-ringan dapat memecahkan kendala terse-but tetapi biayanya cukup tinggi sehingga harga benih menjadi mahal 3-4 kali harga benih konvensional. Untuk mengatasi hal tersebut pada tanaman nilam, dilakukan perbanyakan benih secara kultur jaringan dengan mensubstitusi bahan kimia yang harganya mahal dengan bahan-bahan al-ternatif yang mudah diperoleh seperti air kelapa dan sumber bahan organik lainnya. Penelitian dilaksanakan di laboratorium kultur jaringan, laboratorium Pengujian Balittro, Balai Besar Pasca Panen, dan ru-mah kaca Balittro sejak Mei 2009 sampai Oktober 2010. Penentuan harga pokok dan skala ekonomi dilakukan secara bertahap : (1) harga pokok zat pengatur tumbuh (zpt) alternatif, terdiri dari air kelapa, ekstrak to-mat, dan ekstrak tauge, (2) harga pokok tunas hasil induksi dari eksplan varietas Sidikalang dengan media Murashige dan Skoog (MS) ditambah zpt alternatif dan sumber vitamin substitusi dari air kelapa, tomat, tauge, dan wood vinegar masing-masing dengan konsentrasi 0 (kontrol), 5, 10, 15, 20, dan 25%, (3) harga pokok multiplikasi tunas nilam dengan media ter-baik pada tahap induksi, (4) harga pokok tunas hasil multiplikasi media MS + air ke-lapa konsentrasi 10% dibandingkan de-ngan media dasar alternatif pupuk maje-muk dengan formulasi NPK 20-20-20 yaitu: (a) pupuk majemuk 0,5 1 g/l + air kelapa 10%, (b) pupuk majemuk 1 g/l + air kela-pa 10%, (c) pupuk majemuk 1,5 g/l + air kelapa 10%, (d) pupuk majemuk 2 g/l + air kelapa 10%, (e) MS + BA 0,5 mg/l, (f) MS + air kelapa 10%, (5) harga pokok ni-lam hasil aklimatisasi di rumah kaca de-ngan perlakuan beberapa jenis media : (a) tanah latosol (kontrol), (b) tanah lato-sol + kompos serasah tanaman (1:1), (c) tanah latosol + arang/sekam padi (1:1), (d) tanah latosol + cocopeat (1:1), (e) ta-nah latosol + kompos serasah tanaman + arang/sekam padi (1:1:1), (f) tanah lato-sol + kompos serasah tanaman + coco-peat (1:1:1), (g) tanah latosol + kompos serasah tanaman + arang/sekam padi + cocopeat (1:1:1:1), (6) harga pokok dan skala usaha nilam di dalam polybag ukur-an 10 x 15 cm dengan media tanam ta-nah + pupuk kandang (2:1). Penentuan harga pokok benih nilam dan skala usaha-nya, dilakukan dengan menganalisis input dan out-put kegiatan produksi benih ni-lam hasil kultur jaringan. Hasil penelitian menunjukkan harga pokok benih nilam skala laboratorium adalah Rp339 per tu-nas dengan media perbanyakan MS di-tambah zpt alternatif air kelapa konsen-trasi 10%, atau Rp796/polybag dengan titik impas/break event point pada jumlah produksi 51.415 polybag benih per 3,5 bulan setelah aklimatisasi, setara dengan pendapatan sebesar Rp40.926.258.
PENGARUH PEMUPUKAN N, P DAN K TERHADAP PRODUKTIVITAS DAN MUTU MINYAK Mentha arvensis
Mentha arvensis is an annual herbaceous plant that produces cornmint oil used for pharmaceutical and food industries. As a source of menthol and dimentolized oil, M. arvensis has a profitable opportunity to be cultivated in Indonesian agroclimate. The research was conducted to obtain the optimal dosages of N, P and K fertilizers, for increasing the yield and oil quality of M. arvensis, planted in Cicurug Research garden (latosol soil, 550 m asl.), by using randomized block design, with two factors, arranged factorially, with 3 replications. First factor was M. arvensis promising number (Mear 0010 and Mear 0012), and fsecond factor was NPK fertilizer, included: a). control, b). 69 kg N + 54 kg P2O5 + 94,5 kg K2O, c). 69 kg N + 72 kg P2O5 + 94,5 kg K2O, d). 69 kg N + 90 kg P2O5 + 94,5 kg K2O, e). 92 kg N + 90 kg P2O5 + 126 kg K2O, f). 92 kg N + 72 kg P2O5 + 126 kg K2O, and g). 138 kg N + 90 kg P2O5 + 126 kg K2O per ha. Variables observed were plant height, number of leaf and branch, biomass weight, oil content, free menthol content, and total menthol content. The results showed that application of 92 kg N + 72 kg P2O5 + 126 kg K2O/ha equivalent to 200 kg Urea+ 200 kg SP-36 + 200 kg KCl/ha to M. arvensis, resulted better herb biomass, oil content, total menthol content and oil yield at first harvest compared with other fertilizer treatments. At first harvest, oil and menthol yield were 41 and 25 kg / ha. The uptake of N, P, K nutrients were N > K > P, respectively.
KAJIAN KELAYAKAN USAHATANI POLA TANAM SAMBILOTO DENGAN JAGUNG
ABSTRAKSambiloto (Andrografis paniculata Nees) secara alami hidup suburdi antara tegakan hutan. Hal ini megindikasikan bahwa tanaman ini toleranterhadap naungan. Kajian pola tanam jagung dan sambiloto diharapkanmendorong efisiensi produksi dan meningkatkan daya saing. Percobaandilaksanakan di Kebun Percobaan Cimanggu Bogor pada tanah Latosol,ketinggian 240 m dpl, tipe iklim A. Penanaman pada bulan Nopember2003 dan panen mulai bulan Maret 2004 selama 5 kali panen denganselang setiap 2 bulan. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok(RAK) 6 kali ulangan dengan 4 perlakuan, yaitu : (1) monokultursambiloto, (2) sambiloto + jagung jarak tanam 150 cm x 20 cm, (3)sambiloto + jagung jarak tanam 120 cm x 20 cm, (4) sambiloto + jagungjarak tanam 90 cm x 20 cm. Bibit sambiloto disemaikan selama 2 bulandan ditanam dengan jarak tanam 30 cm x 40 cm, dipupuk dengan 10 tonpupuk kandang, 150 kg urea, 150 kg SP-36, dan 150 kg KCl per ha.Pupuk kandang, SP-36, dan KCl seluruhnya diberikan pada saat tanam.Urea diberikan masing-masing 1/3 bagian pada umur 0, 1, dan 2 BST(Bulan Sesudah Tanam). Untuk setiap ha tanaman jagung dipupuk dengan5 ton pupuk kandang, 300 kg SP-36, dan 200 kg KCl yang diberikan padasaat tanam, dan 300 kg urea diberikan masing-masing 1/2 bagian padaumur 0, dan 1 BST. Benih jagung (Hibrida lokal R-01) ditanam 2 butir perlubang tanam, ditanam 2 kali selama musim tanam yaitu pertama 2 minggusebelum penanaman sambiloto, dan penanaman kedua 75 hari setelahpenanam jagung yang pertama. Data input-output usahatani dianalis secaradeskriptif dilanjutkan dengan analisis B/C rasio dan sensitivitas. Hasilpenelitian menunjukkan mutu simplisia semua pola tanam memenuhistandard Materia Medika Indonesia. Produktivitas sambiloto per m 2 makinmenurun dengan kerapatan pola tanam; pada pola monokultur diperolehhasil 1,1 kg/m 2 sedangkan pada pola tanam dengan jagung jarak tanam 90cm x 20 cm menghasilkan 0,5 kg/m 2 terna basah. Produktivitas jagung perm 2 meningkat dengan makin rapatnya pola tanam yaitu mencapai 13,3tongkol pada jagung jarak tanam 150 cm x 20 cm, dan 22,2 tongkol padajarak tanam jagung 90 cm x 20 cm. Biaya produksi sambiloto sebagianbesar untuk bibit (Rp. 300/tanaman); biaya bibit tertinggi pada pola tanammonokultur yaitu 66,5% dari total biaya usahatani dan terendah pada polatanam dengan jagung jarak tanam 90 cm x 20 cm yaitu 36%. Untukmenekan biaya usahatani disarankan petani melakukan penyemaian benihsendiri. Pola tanam sambiloto dengan jagung jarak tanam 90 cm x 20 cm,paling layak secara finansial dengan pendapatan bersih mencapaiRp1.188.360 dan B/C rasio 1,45 per 1.000 m2 lahan dan memberikansumbangan lebih dari 20% terhadap pendapatan petani sebagai managerusahatani, mempunyai daya adaptasi yang cukup fleksibel terhadapperubahan biaya produksi dan harga produk, serta memberikan tambahanpendapatan bersih (keuntungan sebesar) Rp.51.675/1.000 m 2 lahandibandingkan pola monokultur.Kata kunci : Sambiloto, Andrografis paniculata Nees, jagung, polatanam,usahatani, produksi, Jawa BaratABSTRACTFeasibility study of king bitter and corn cropping patternKing bitter (Andrografis paniculata Nees) is naturally grown wildlyunder forest trees. This indicates that the plant is shade tolerant. Thecropping pattern of the plant with corn was expected to improve itsproduction efficiency and compatibility. The experiment was conducted inthe Cimanggu Experimental Garden Bogor, Latosol soil type, elevation240 m above sea level, climate type A of Schmidt and Fergusson. Plantingwas done November 2003. The experiment was designed in a randomizedblock with 6 replications. Treatments were (1) monoculture of king bittercropping pattern, (2) king bitter and corn (in a plant spacing 150 cm x 20cm) cropping pattern, (3) king bitter and corn (in a plant spacing 120 cm x20 cm) cropping pattern, (4) king bitter and corn (in a plant spacing 90 cmx 20 cm) cropping pattern. King bitter was planted at 30 cm x 40 cmspacing, fertilized with 10 tons manure + 150 kg SP-36 + 150 kg KCl and150 kg urea fertilizer was applied one of third dosage in 0, 1, and 2 monthsafter planting. Corn was grown twice during the experiment; first wasplanted 2 weeks prior to planting of the king bitter, and second was 75days after the first planting. Corn was fertilized with 5 tons manure + 300kg SP36 + 200 kg KCl per ha, and 300 kg urea fertilizer was applied halfdosage in 0, and 1 months after planting. First harvest of the king bitterwas done in March 2004, followed with 5 harvests every 2 months.Farming efficiency was analyzed using descriptive analysis, B/C ratio andsensitivity analysis. The results showed that quality of dry raw material ofking bitter matched with MMI standard. Productivity of king bitterdecreased by the increasing population of corn in cropping pattern, inmonoculture bitter king productivity was 1.1 kg/m 2 decreased to 0.5 kg/m 2in cropping pattern king bitter and corn (in a plant spacing 90 cm x 20 cm).In opposite, the productivity of corn increased by the increasingpopulation of corn in cropping pattern, that were 13.3 cobs/m 2 in croppingpattern king bitter and corn (in a plant spacing 150 cm x 20 cm) increasedto 22.2 cobs /m 2 in cropping pattern king bitter and corn (in a plant spacing90 cm x 20 cm). Most of king bitter production cost (Rp. 300/polybag),isfor seedlings. In monoculture of king bitter, seedling cost of king bitterwas 66,5% of production cost, and in cropping pattern king bitter and corn(in a plant spacing 90 cm x 20 cm) the seedling cost was 36% ofproduction cost. To reduce production cost, farmers suggested to producethe seedlings by themselves. The study suggested that the best croppingpattern was king bitter planted with corn at 90 cm x 20 cm planting space.This cropping pattern financially acceptable as it raised income as much asRp.1,188,360, B/C ratio 1,45 per 1.000 m2 and gave more then 20% ofmanagement income which was more adaptable to fluctuation productioncost and price of product, and gave Rp. 51,675/1.000 m 2 net benefitcompared to monoculture of king bitterKey words: Sambiloto, Andrografis paniculata Nees, corn, croppingpattern, farming, production, West Jav
Kajian Situasi Cengkeh di Indonesia
Kajian situasi cengkeh di Indonesia dianalisis dari segi produksi dan kebutuhan cengkeh. Data yang digunakan adalah data deret berkala tahun 1959-1983 (25 tahun). Produksi dan kebutuhan cengkeh selalu meningkat setiap tahunnya. Pada tahun 1984-1991 Indonesia masih memungkinkan untuk swasembada, jika usaha-usaha intensifikasi dan ekstensifikasi terus dilaksanakan
EFISIENSI PEMUPUKAN NPK PADA TEMULAWAK (Curcuma xanthorrhiza Roxb)
ABSTRAKPemberian pupuk N, P, dan K yang tepat jumlah, dan jenis padatanaman temulawak, diharapkan dapat meningkatkan efisiensi penggunaanpupuk dan biaya sehingga produksi dan pendapatan yang diperoleh akanoptimal. Untuk itu dilakukan pengujian beberapa dosis pupuk urea, SP-36dan KCl pada temulawak di Kebun Percobaan Sukamulaya pada tanahLatosol dengan ketinggian tempat 350 m dpl, tipe iklim C (klasifikasiSchmidt dan Ferguson). Penanaman dilakukan pada bulan Agustus 2006dan panen dilakukan bulan September 2007. Percobaan ini menggunakanrancangan acak kelompok (RAK) yang disusun secara faktorial dengan 3kali ulangan. Faktor pertama, kedua dan ketiga adalah pupuk urea (N),SP-36 (P) dan KCl (K) masing-masing dengan dosis 100 kg/ha, 200 kg/hadan 300kg/ha. Ukuran petak percobaan adalah 3,75 m x 4 m per perlakuan/ulangan. Percobaan menggunakan bibit temulawak nomor harapan Fdengan jarak tanam 75 cm x 50 cm. Sebagai pupuk dasar diberikan pupukkandang dengan dosis adalah 20 ton pupuk kandang. Pupuk SP-36, danKCl diberikan sesuai dengan perlakuan yang seluruhnya diberikan padasaat tanam. Sedangkan pupuk urea diberikan sesuai dengan perlakuanmasing-masing 1/3 bagian pada umur 1, 2, dan 3 BST (Bulan SesudahTanam). Tanaman dipanen pada umur 10 bulan setelah tanam (BST).Peubah yang diamati meliputi; data asupan (input) berupa penggunaansarana produksi usahatani, penggunaan tenaga kerja dan peralatan, sertadata keluaran (output) berupa hasil rimpang segar, simplisia kering, danrendemen ekstrak temulawak. Harga masukan dan keluaran yangdigunakan mengacu pada harga standard/pasar yang berlaku pada saatpenelitian dilakukan. Analisis efisiensi teknis dan ekonomis digunakanuntuk menentukan dosis pemupukan yang paling baik untuk dikembang-kan. Hasil penelitian menunjukkan, berdasarkan beberapa kriteria analisisefisiensi teknis dan ekonomis pengembangan temulawak nomor harapan Fdianjurkan menggunakan dosis pemupukan an-organik yang rendah yaitu200 kg/ha urea, dan SP-36 dan KCl masing-masing 100 kg/ha. Dengandosis pemupukan tersebut diperoleh : (1) produksi rimpang, kurkuminoiddan xanthorizol masing-masing 2.277 kg, 33,24 dan 73,26 kg per 1.000 m 2lahan, (2) tingkat pendapatan bersih Rp. 344.500/1.000 m 2 lahan, rasiobiaya operasional terhadap pendapatan kotor 23,13%, rasio pendapatandikurangi biaya operasional terhadap pendapatan kotor 76,87%, danefisiensi ekonomi tiap perlakuan pemupukan dibanding kontrol (urea,SP36 dan KCl masing-masing 100 kg/ha) 5,08.Kata kunci : Curcuma xanthorrhiza Roxb, kajian finansial, pupuk NPK,nomor harapan FABSTRACTEfficiency of NPK Fertilizer Application on Java Turmeric (Curcumaxanthorrhiza Roxb)Efficiency of inorganic fertilizers application is determined byeffective type and fertilizers dosage. Current experiment was designed tocompare the efficiency of application of three levels dosage of urea, SP-36, and KCl on java turmeric farming system. The experiment wasconducted at Sukamulya (Sukabumi) Experimental Garden on latosol soiltype, 350 m above sea level, with climate type A of Schmidt andFerguson’s climate classification from August 2007 to September 2008.Treatments were combination of 100 kg/ha, 200 kg/ha, and 300 kg/ha ofeach urea, SP36, and KCl fertilizer. The treatments were designed infactorial randomized block with three replications. Organic fertilizer(manure) was applied to all experiment plots at planting time with dosageof 20 tons/ha. SP36 and KCl fertilizer were applied at planting time, whileurea fertilizer was applied in three equal parts, separately, on plantingtime, one and two months after planting time. Java turmeric promisingline of F was used as plant materials and planted at 75 cm x 50 cm plantedspacing. Physical and economic efficiency analysis of the each treatmentunit was used to evaluate the efficiency of fertilizer application withtreatment-related costs were assumed as variable costs. Results showedthat based on physical and economic efficiency, fertilizer combination of200 kg urea/ha, 100 kg SP36/ha, and 100 kg KCl/ha was the most efficientdosage with yield of rhizome, curcuminoid and xanthorhizol at the dosagelevel per 1000 m 2 were 2.277 kg, 33,24 kg, and 73,26 kg respectively.Moreover, that were gained crop value Rp. 344.500/1.000 m 2 , operatingexpense ratio 23,13%, net farm income from operation ratio 76,87%, andeconomic efficiency each treatment compare to control 5,08 times.Key words: Curcuma xanthorrhiza Roxb, financial analysis, NPKfertilizer, promising line
PENGKAJIAN USAHATANI INTEGRASI SERAIWANGI-TERNAK SAPI
Sistem usahatani integrasi seraiwangi-ternak sapi dapat meningkatkan nilai tambah, menjamin kelestarian sumber daya alam, meningkatkan produktivitas dan pendapatan petani. Penelitian bertujuan untuk mengkaji sistem usahatani seraiwangi-ternak sapi yang dilakukan di Kebun Percobaan Manoko Lembang, Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, Indonesia pada April 2014. Parameter yang diamati meliputi; produksi seraiwangi, ampas hasil penyulingan minyak seraiwangi, minyak seraiwangi, kotoran sapi, harga sapi dan produksi susu sapi. Data dianalisa menggunakan analisis Net Present Value (NPV), Benefit Cost Ratio (B/C) rasio dan Internal Rate of Return (IRR). Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem usahatani seraiwangi-ternak sapi layak diusahakan dan memberi keuntungan ganda kepada petani. Untuk usahatani seraiwangi dengan total produksi sebanyak 270.000 kg ha-1 (=1.755 liter minyak seraiwangi), @ Rp 500,- kg-1 basah dengan DF 15% per tahun, memberikan NPV sebesar Rp 37.462.817,-, B/C rasio = 1,44 dan IRR = 35,96%. Penyulingan minyak seraiwangi berbahan bakar kayu dengan harga minyak Rp 170.000,- liter-1, memberikan NPV sebesar Rp 38.947.118,-, B/C Rasio 1,28 dan IRR 29,45%. Sedangkan dengan memakai biogas memberikan NPV, B/C Rasio dan IRR lebih tinggi, masing-masing Rp 64.575.654,-, 1,55 dan 36,27%. Limbah penyulingan daun seraiwangi yang dihasilkan sekitar 44.797 kg ha-1 tahun-1, ini dapat digunakan sebagai pakan 5-6 ekor sapi. Untuk budidaya ternak sapi, memberikan NPV Rp 61.302.125,-, B/C Rasio 1,42 dan IRR 42,60 % selama 6 tahun
