1,720,991 research outputs found

    Ketahanan dari Jamur Pelapuk dan Sifat Finishing Kayu Mindi (Melia azedarach Linn.) Termodifikasi Minyak Jarak Pagar.

    No full text
    Ketersediaan bahan baku kayu komersil untuk pertukangan dengan keawetan alami yang baik semakin berkurang dipasaran. Peningkatan keawetan dan mutu kayu cepat tumbuh dapat dilakukan melalui pengawetan, modifikasi fisis mekanis atau modifikasi kimia. Penelitian ini bertujuan untuk menguji ketahanan kayu mindi dari jamur pelapuk dan menguji sifat finishing setelah perlakuan dengan minyak jarak pagar. Pengujian ketahanan kayu dari jamur pelapuk berdasarkan SNI 7207:2014. Pengujian sifat finishing menggunakan uji keterbasahan berdasarkan pengukuran sudut kontak statis. Pengujian daya lekat bahan finishing menggunakan metode cross cut test sesuai standar ASTM D 3359-02. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan berat kayu mindi setelah perlakuan minyak jarak pagar seiring dengan peningkatan suhu pemanasan. Pemanasan dengan minyak jarak pagar terbukti meningkatkan keawetan kayu mindi dari jamur Schizophyllum commune dan Fomitopsis palustris yaitu dari kelas awet III menjadi kelas awet II. Pemanasan dengan minyak jarak pagar juga meningkatkan sudut kontak statis air dan cat Ultran Lasur pada kayu mindi. Hal ini menunjukkan bahwa daya lekat bahan finishing pada kayu mindi mengalami penurunan dari kelas 5B menjadi 3B-4B, namun disisi lain kayu mindi menjadi kurang menyerap air sehingga mendukung penggunaan kayu bahan eksterio

    Keawetan Alami Kayu Tumih (Combretocarpus rotundatus Miq Danser) dari Serangan Rayap Kayu Kering, Rayap Tanah dan Jamur Pelapuk Kayu

    No full text
    Combretocarpus rotundatus Miq Danser or tumih is known as one of the fast growing species in the peat forests. Tumih wood has a straight trunk that could potentially be a good wood working materials, but there are no studies that describe the natural durability of wood tumih. The objective of this study was to test the natural durability of wood tumih from dry wood termites Cryptotermes cynocephalus Light, subterranean termites Coptotermes curvignathus Holmgren, decay fungus Schizophyllum commune, as well as its field natural durability in the grave yard test. Observed variables in this study were the percentage of termite mortality and weight loss of samples due to termites and fungal attacks. The result showed that the durability of tumih wood was not the same for all wood destroying factors. The natural durability of tumih wood belong to class III of C. cynocephalus, class II of C. curvignathus and class IV of decay fungus S. commune

    Sifat Fisis dan Mekanis Bambu Termodifikasi Panas dan Rendaman Minyak Jarak Kepyar (Ricinus communis L.).

    No full text
    Penggunaan bambu sebagai bahan baku dalam pembuatan furnitur dan konstruksi telah banyak dilakukan masyarakat. Bambu banyak digunakan karena sifatnya yang kuat dan lentur. Akan tetapi keawetan dan stabilitas dimensi bambu pada umumnya tergolong rendah. Perlu dilakukan peningkatan mutu bambu agar masa pakai dan kegunaan bambu menjadi lebih baik. Penelitian ini bertujuan menguji pengaruh heat modification dengan perlakuan pendahuluan rendaman minyak biji jarak kepyar (Ricinus communis L.) terhadap sifat fisis dan mekanis bambu betung (Dendrocalamus asper), bambu hitam (Gigantochloa atroviolacea), dan bambu tali (Gigantochloa apus). Perlakuan yang diberikan adalah perendaman bambu dengan minyak jarak kepyar pada suhu 60 ºC selama 3 jam dan pemanasan bambu dengan oven pada suhu 120 ºC, 150 ºC, dan 180 ºC selama 3 jam. Pengujian sifat fisis bambu meliputi kerapatan, berat jenis, kadar air, absorpsi air, stabilitas dimensi, leachability, dan sifat warna. Sifat mekanis yang diuji adalah modulus of elasticity (MOE) dan modulus of rupture (MOR). Hasil penelitian menunjukkan bahwa modifikasi panas dengan perlakuan pendahuluan rendaman minyak jarak kepyar dapat meningkatkan sifat fisis dan mekanis bambu. Hal ini dibuktikan dengan penurunan kadar air kering udara, absorpsi air, dan peningkatan stabilitas dimensi tertinggi dengan nilai rata-rata 60% (ΔKA), 38.65% (Δabsorpsi air), dan 50.72% (ASE) pada bambu yang direndam minyak jarak kepyar dengan pemanasan suhu 180 ºC. Adapun peningkatan kerapatan, berat jenis, dan sifat mekanis tertinggi dengan nilai rata-rata 12.76% (Δkerapatan), 22.68% (ΔBJ), 18.37% (ΔMOE), dan 11.43% (ΔMOR) pada bambu yang direndam minyak jarak kepyar tanpa pemanasan

    Sifat Fisis, Sifat Mekanis dan Sifat Pengeringan Kayu Ganitri (Elaeocarpus sp.) Setelah Perlakuan Steaming

    No full text
    Ganitri (Elaeocarpus sphaericus Schum) merupakan jenis kayu cepat tumbuh yang banyak ditanam dibeberapa kawasan hutan di Jawa. Tujuan dari penelitian ini untuk menguji pengaruh perlakuan pendahuluan pengukusan terhadap sifat fisis, sifat mekanis, dan sifat pengeringan kayu ganitri. Pengukusan menggunakan suhu 90-100 ºC dengan perbedaan waktu pengukusan yaitu 1, 3 dan 5 jam. Sifat pengeringan mencakup kecepatan pengeringan, cacat dan jadwal pengeringan. Hasil pengujian menunjukan kecepatan pengeringan kayu ganitri setelah pengukusan lebih baik dibandingkan kayu kontrol. Kecepatan pengeringan tertinggi didapatkan pada perlakuan pengukusan 5 jam (4,7 %/jam). Hasil pengujian menunjukan bahwa pengukusan menurunkan penyusutan dan pengembangan tangensial. Anti-Swelling Efficiency (ASE) kayu ganitri meningkat setelah pengukusan. Sifat mekanis (MOE, MOR, dan kekerasan) kayu ganitri tidak terpengaruh secara nyata oleh perlakuan pengukusan

    Sifat Fisis dan Pengeringan Kayu Rambutan, Nangka, dan Kecapi serta Penggunaan Larutan Urea dalam Pengendalian Cacat Pengeringannya.

    No full text
    The use of woods from community forest should be supported by proper technology to produce good products quality and in accordance with their intended uses. One of the factors that influences and being a requirement in wood products is the suitable moisture content to the environmental condition that stabilize the products dimension in the use. Therefore the objectives of this study was to determine the physical properties, drying properties, as well as developing the defects control technique in the drying of rambutan (Nephelium spp), kecapi (Sandoricum koetjapi) and nangka (Artocarpus heterophyllus) woods. The procedures performed in this study consisted of the physical properties testing of woods (BS: 373-1957), the test for basic drying properties based on Terazawa (1965), and drying defects control using saturated urea solution.The results showed that wood with higher density (rambutan) dried more slowly and more prone to defects compared to nangka and kecapi woods, wich had medium and low densities. Rambutan wood had a poor drying properties that was prone to surface cracking. While nangka and kecapi woods had a rather good drying properties. The soaking treatment in saturated urea solution, significantly reduced checking defect in the three tested wood species

    Basic properties, treatability, and finishing properties of tumih (combretocarpus rotundatus miq.) wood from central kalimantan

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sifat dasar, keterawetan, dan finishing kayu tumih asal Kalimantan Tengah serta menganalisis pengaruh pengeringan awal dengan oven dan microwave terhadap sifat keterawetan dan finishing-nya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kayu tumih berwarna cokelat kemerahan, bertekstur kasar, berserat lurus, permukaan kayu mengkilap, dan bercorak. Pori-pori kayu tersusun dalam pola tata baur, didominasi oleh pori soliter meski dijumpai juga pori yang bergabung radial 2-3 sel. Diameter pori antara 68.50-510.90 μm dan berisi tilosis. Serat kayu tergolong kelas mutu III dengan panjang serat tergolong sedang (1338.39 μm). Kayu tumih lebih disarankan sebagai bahan baku mebel karena memiliki penampilan yang dekoratif, disamping sebagai bahan konstruksi (kelas kuat II; berat jenis = 0.63). Hasil uji keterawetannya memperlihatkan bahwa kayu tumih sukar diawetkan karena retensinya hanya 1.67-2.93 kg m-3 dan penetrasinya 13.22-40.66% atau 2.99-8.50 mm. Sifat finishing-nya tergolong baik (Grade 4B; ASTM D3359-02). Hasil uji finishing ini tidak dipengaruhi secara nyata oleh perlakuan cara pengeringan awal dan pengawetan borax yang diberikan.Tumih wood is a lesser-known wood species that has been used as construction material limitedly in some areas of Borneo Island. This study aimed to analyze the basic properties, treatability, and finishing properties of tumih wood and to analyze the influence of initial drying using oven and microwave to wood’s treatability and finishing properties. The result showed that tumih wood has reddish-brown colour, rough-texture, straight-grain, lustrous, and decorative. Pore distribution is diffuse, dominated by solitary but sometimes in radial-multipled of 2-3 cells. Pore diameter ranged between 68.50-510.90 μm, and contained tylosis. Its fiber was classified as quality class III and had medium length (1338.39 μm). The specific gravity of tumih wood was 0.63 that belongs to strength class II. Tumih wood is suitable for furniture manufacturing. Based on this study, the treatability of this wood was difficult because the preservative retention and penetration were 1.67-2.93 kg m-3 and 13.22-40.66% or 2.99-8.50 mm, respectively. Its finishing property was good (Grade 4B) based on ASTM D3359- 02, which was not affected by pre-drying treatment and borax preservation

    Sifat anti-rayap zat ekstraktif kayu pelawan (Tristaniopsis merguensis) terhadap rayap tanah (Coptotermes curvignathus Holmgren).

    No full text
    Kayu pelawan (Tristaniopsis merguensis) merupakan salah satu tanaman yang termasuk genus Tristaniopsis yang diketahui memiliki kandungan senyawa bioaktivitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan zat ekstraktif dalam kayu pelawan dan menguji sifat bioaktivitasnya terhadap rayap tanah Coptotermes curvignathus. Ekstrak aseton yang diperoleh kemudian difraksinasi secara bertingkat dengan pelarut n-heksan, etil eter, etil asetat. Setiap hasil fraksinasi lalu diuji sifat anti-rayap dengan menggunakan kertas selulosa Whatman no. 42 dengan konsentrasi 2%, 4%, 6%, 8%, dan 10%. Analisis kimia dilakukan terhadap fraksi yang paling aktif. Identifikasi senyawa kimia aktif dilakukan dengan alat GC-MS. Hasil penelitian menunjukan bahwa kadar ekstrak aseton kayu pelawan adalah 1,79%. Dari proses fraksinasi menghasilkan fraksi nheksana 0,20 %, fraksi etil eter 0,45 %, etil asetat 0,25 %, dan residu 0,89 %. Fraksi n-heksan dengan konsentrasi 10% memiliki persentase mortalitas rayap tertinggi sebesar 84,93 % dan persentase kehilangan berat kertas selulosa terendah sebesar 25,08 %. Senyawa dominan yang terkandung dalam fraksi n-heksan meliputi asam stearat, Octadecadienoic acid, methyl ester (CAS), Asam Oleat, 1,2-Benzenedicarboxylic acid, bis(2-ethylhexyl) ester (CAS), methyl ester (CAS), Androst-5-en-17-one, Estran-3-one, 17-(acetyloxy), dan 1,5-Dimethyl-hexyl

    Pemanasan Bambu Andong (Gigantochloa pseudoarundinacea) dan Bambu Betung (Dendrocalamus asper) dalam Limbah Minyak Goreng serta Dampaknya terhadap Keawetan dan Sifat Mekanisnya

    No full text
    Bambu merupakan sumber daya alam yang baik untuk menggantikan kayu dalam produksi mebel. Bambu andong (Gigantochloa pseudoarundinacea) dan bambu betung (Dendrocalamus asper) adalah jenis bambu yang umumnya digunakan oleh masyarakat Indonesia sebagai bahan baku konstruksi dan mebel. Namun pada kenyataannya, bambu tersebut memiliki dayan tahan yang rendah terhadap serangan rayap. Maka pengawetan bambu sangat penting dalam produksi mebel untuk mengoptimalkan pemanfaatannya. Saat ini, proses pengawetan yang dibutuhkan adalah yang ramah lingkungan dengan biaya yang terjangkau oleh masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan sifat keawetan bambu andong dan bambu betung terhadap serangan rayap tanah tanpa menurunkan sifat mekanis setelah diberi perlakuan pemanasan dengan limbah minyak goreng. Penelitian ini juga bertujuan untuk mengetahui suhu dan waktu terbaik untuk meningkatkan sifat keawetan dan sifat mekanis bambu andong dan bambu betung. Bambu andong dan betung dipotong sesuai dengan ukuran contoh uji keawetan pada standar JIS K 1571-2004 yang dimodifikasi dan ukuran contoh uji mekanis yang mengacu pada ASTM D 143. Proses selanjutnya, contoh uji keawetan dan mekanis bambu dikeringudarakan lalu dioven dengan suhu 60 °C selama 6 hari. Sebelum pemanasan contoh uji, minyak yang akan digunakan disaring terlebih dahulu untuk membersihkan dari kotoran sisa penggorengan kemudian setelah itu dilakukan pemanasan contoh uji dengan minyak. Suhu yang digunakan dalam proses pemanasan bambu yaitu 100 °C, 150 °C, dan 200 °C. Sedangkan waktu pemanasan bambu adalah 30 dan 60 menit. Setelah perlakuan pemanasan dilakukan pengujian keawetan dan sifat mekanisnya (MOE dan MOR). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan pemanasan bambu dalam limbah minyak goreng telah meningkatkan keawetan bambu andong dan bambu betung dari rayap tanah. Perlakuan pemanasan ini juga cenderung meningkatkan MOE kedua jenis bambu tetapi nilai MORnya tampak tidak banyak mengalami perubahan. Perlakuan pemanasan yang direkomendasikan untuk kedua jenis bambu ini adalah pada suhu 150 °C selama waktu 30 menit karena terbukti meningkatkan nilai mortalitas rayap secara nyata dan menghasilkan nilai penurunan berat yang nyata lebih kecil dibandingkan dengan contoh uji kontrolnya

    Sifat Fisis Kayu Jati (Tectona grandis L.f.) dan Jabon (Neolamarckia cadamba Roxb.) Hasil Modifikasi Panas.

    No full text
    Modifikasi panas (heat modification), atau juga disebut sebagai perlakuan panas (heat treatment), merupakan salah satu teknologi yang memiliki prospek yang baik untuk peningkatan mutu kayu serta ramah lingkungan dalam penerapannya. Dalam penelitian ini, modifikasi panas diaplikasikan pada dua jenis kayu tropis yang umum dimanfaatkan secara komersial, yaitu jati dan jabon. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh modifikasi panas dengan pengeringan awal terhadap sifat fisis kayu jati (Tectona grandis L.f.) dan jabon (Neolamarckia cadamba Roxb. atau Anthocephalus cadamba Miq.). Hasil yang diperoleh adalah kerapatan dan berat jenis kedua kayu menurun setelah diberi perlakuan panas. Sifat higroskopisitas kayu pada keduanya berkurang seiring peningkatan suhu dan durasi pemanasan. Stabilitas dimensi kedua kayu tersebut meningkat yang ditandai dengan meningkatnya nilai anti-swelling efficiency (ASE) seiring bertambahnya waktu pemanasan. Hasil uji warna pada kedua kayu juga menunjukkan perubahan yang signifikan, terutama ketika dipanaskan dengan suhu 180 °C selama 6 jam. Perlakuan pemanasan yang direkomendasikan pada kayu jati adalah menggunakan suhu 150 °C selama 6 jam dengan pengeringan awal oven. Untuk jabon, pemanasan yang direkomendasikan adalah 180 °C selama 6 jam dengan pengeringan awal oven

    Ketahanan Empat Jenis Kayu Cepat Tumbuh Termodifikasi Panas terhadap Serangan Jamur Pelapuk

    No full text
    Kayu cepat tumbuh dari hutan tanaman umumnya bermutu rendah, sehingga diperlukan teknologi modifikasi untuk meningkatkan ketahanannya terhadap serangan organisme perusak kayu. Tujuan penelitian ini adalah mengevaluasi ketahanan kayu sengon, jabon, mangium, dan jati cepat tumbuh termodifikasi panas dari serangan jamur pelapuk kayu. Suhu pemanasan yang digunakan yaitu 150 °C dan 180 °C dengan waktu pemanasan selama 0, 2, dan 6 jam. Pengujian ketahanan kayu terhadap serangan jamur pelapuk mengacu pada SNI 01-7207-2014 yang dimodifikasi. Pengujian kandungan kimia kayu dilakukan dengan menggunakan Gas Chromatography-Mass Spectrometry (GCMS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadinya peningkatan ketahanan kayu sengon dan jati yang dipanaskan pada suhu 150 °C serta kayu jabon dan jati yang dipanaskan pada suhu 180 °C terhadap serangan jamur pelapuk putih ditandai dengan nilai kehilangan berat yang lebih rendah dibandingkan kontrol. Perlakuan panas dengan suhu 180 °C mampu meningkatkan ketahanan kayu jabon, selain itu juga sengon, dan mangium terhadap serangan jamur pelapuk cokelat yang ditandai dengan rendahnya nilai kehilangan berat dibandingkan kontrol. Peningkatan ketahanan kayu termodifikasi panas diduga karena kandungan kimia bersifat antifungi seperti benzoic acid yang muncul pada kayu jabon, sinapaldehyde yang muncul pada kayu sengon, jabon, dan bertambah pada kayu mangium, vanillin yang muncul pada kayu jabon dan mangium, serta kandungan tectoquinone yang bertambah pada kayu mangium dan muncul pada kayu jati
    corecore