1,720,957 research outputs found

    Pengembangan Kota Lama Tangerang Sebagai Destinasi Wisata Pusaka

    No full text
    The old town of Tangerang has a heritage of historical buildings and several buildings that were designated as cultural conservation. Similarly, tradition and local culture influenced by natives and chinese ethnic still preserved till today. So the old town of Tangerang can be potential to develop as a heritage tourism destination. The rapid development of Tangerang city causes historic buildings go through changes form and function, environmental degradation and destruction. Furthermore, Tangerang City Government does not have heritage legislation. This condition causes the old town of Tangerang losing its historical values. The purpose of this study is to identify cultural and architectural heritage of the old town of Tangerang which potentially can be developed as a tourist attraction heritage, identify processes and policies related to sustainable urban tourism. The approach adopted in this research is paradigm on an inductive approach and methodology used in this research is descriptive qualitative method. The results showed the old town of Tangerang have tangible cultural heritage, intangible cultural heritage and natural heritage that has a potential to be developed as a tourist attraction heritage. Heritage tourism development in the old town of Tangerang will provide benefits for the economy, socio-cultural and environmental. However, the development of heritage tourism in the old town of Tangerang can provide a threat in economic, social, cultural and environmental. The basic concept of development in the old town of Tangerang as a heritage tourism destination will apply three parameters of sustainable tourism, including economic sustainability, socio-cultural sustainability and environmental sustainability. Whereas, the main concept is to develop and unite the urban elements into a formula of tourist town planning policy, so that it can stimulate the urban economy and attract tourists to come to the old city of Tangerang

    PERKEMBANGAN KOTA LAMA TANGERANG DAN POTENSINYA SEBAGAI DESTINASI WISATA PUSAKA

    Full text link
    ABSTRAKKawasan Kota Lama Tangerang termasuk dalam Kawasan Strategis dari sudut Kepentingan Sosial dan Budaya yaitu kawasan bersejarah seluas kurang lebih 30 (tiga puluh) hektar yang berada di Kelurahan Sukasari dan Kelurahan Sukarasa, Kecamatan Tangerang. Di dalam kawasan Kota Lama Tangerang terdapat kawasan inti yang terdiri dari tiga blok utama yaitu Blok Kota Lama, Blok Masjid Agung-Pendopo dan Blok Stasiun Kereta Api. Blok Kota Lama adalah kawasan dengan fungsi/aktivitas yang lebih di dominasi oleh kawasan heritage dengan bangunan cagar budayanya dan permukiman yang masih mempertahankan karakter jalannya dan beberapa rumah yang masih mempertahankan arsitektur Tiongkok. Di dalam Blok Kota Lama terdapat dua blok perkampungan etnis yaitu Blok Perkampungan Tionghoa (pecinan) dan Blok Perkampungan Muslim. Tradisi dan budaya lokal yang dipengaruhi oleh etnis Tionghoa dan etnis Pribumi masih dilestarikan sampai saat ini. Sehingga Kota Lama Tangerang berpotensi untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata pusaka. Namun sejalan dengan dinamika Kota Tangerang yang terus berkembang dengan pesat, peninggalan bangunan-bangunan bersejarah telah mengalami perubahan bentuk dan fungsi, penurunan kualitas lingkungan dan bahkan kehancuran. Selain itu Pemerintah Kota Tangerang belum mempunyai Perda Cagar Budaya. Kondisi tersebut menyebabkan kawasan Kota Lama Tangerang kehilangan nilai-nilai historisnya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi perkembangan Kota Lama Tangerang dan  potensinya sebagai destinasi wisata pusaka. Pendekatan yang diterapkan dalam penelitian ini berparadigma pada pendekatan induktif dan metodologi penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif deskriptif. Hasil penelitian menunjukan bahwa Blok Kota Lama memiliki pusaka budaya ragawi, pusaka budaya tak ragawi dan pusaka alam yang berpotensi untuk dikembangkan menjadi objek wisata pusaka. Blok Kota Lama memiliki beberapa benda cagar budaya yang ditetapkan oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Serang (BP3S) diantaranya yaitu Kelenteng Boen Tek Bio, Rumah Arsitektur Cina (Museum Benteng Heritage), Masjid Jami dan Makam Kalipasir. Perkembangan Blok Perkampungan Pecinan saat ini sangat memprihatinkan. Wajah bangunan khas pecinan sebagian besar sudah berubah menjadi bangunan moderen dan bangunan budidaya walet. Hanya tinggal sedikit saja bangunan yang masih berciri khas pecinan.Kata Kunci : Kota lama, pusaka, pariwisata kota pusaka             ABSTRACT       Old Town area of Tangerang included in the Strategic Area of Social and Cultural Interests corner is the historical district of approximately 30 (thirty) hectares located in the Sukasari Village and Sukarasa Village, District Tangerang. In the Old Town area of Tangerang are the core area consists of three main blocks, namely Old Town Block, Grand Mosque Block and Train Station Block. Block of the Old Town is the area with activities dominated by heritage with cultural heritage buildings and settlements that still retains the character of the course and some houses still retain Chinese architecture. In the Old Town Block, there are two ethnic settlement blocks namely Chinatown Block and Muslim Village Block. Tradition and local culture influenced by natives and Chinese ethnic still preserved until today. So the old town of Tangerang can be potential to be developed as a heritage tourism destination. The rapid development of Tangerang city causes historic buildings go through changes in form and function, environmental degradation and destruction. Furthermore, Tangerang City Government does not have heritage legislation. This condition causes the old town of Tangerang losing its historical values. The purpose of this study is to identify the development of the Old Town of Tangerang and its potential as a tourist destination heritage. The research was carried out through field survey and in-depth interview as main data collection and literature study as the secondary one. The results showed Block the Old Town has tangible cultural heritage, intangible cultural heritage and natural heritage which is a potential to be developed for heritage tourism attraction. Block of the Old Town has some of the objects of cultural heritage established by Archaeological Heritage Preservation Hall Serang among which the Boen Tek Bio temple, houses the Chinese Architecture (Museum Benteng Heritage), Jami Mosque and Tomb Kalipasir. Block development Village Chinatown today is very worrying. The face of a typical building of Chinatown largely been turned into a modern building and building swiftlet farming. Only a few buildings stayed still distinctively Chinatown.Keyword : Old town, heritage, urban heritage touris

    STRATEGI PENGEMBANGAN WISATA KAMPUNG TEMATIK BERKELANJUTAN (STUDI KASUS: KAMPUNG BEKELIR KOTA TANGERANG)

    No full text
    Kampung Bekelir merupakan kampung wisata “warna-warni” berlokasi di Jalan Perintis Kemerdekaan, Babakan, Tangerang Kota. Kampung Bekelir bertransformasi menjadi kampung kreatif, dahulu bernama Kampung Babakan RW 01 yang sifatnya kumuh dan rata-rata masyarakat di dalamnya memiliki permasalahan sosial. Sejak ditetapkannya kampung Babakan ini menjadi kampung kreatif sebagai kampung wisata, kondisi lingkungan dan masyarakat Kampung Bekelir mengalami banyak perubahan secara ekonomi dan sosial. Namun seiring berjalannya waktu, kampung Bekelir mengalami kemunduran dalam wisatanya, Karena Pandemi Covid 19 pada kurun waktu 3 tahun. Permasalahan yang perlu dikaji dalam penelitian ini adalah “Bagaimana mengembangkan strategi konsep pariwisata yang berkelanjutan di Kawasan Kampung Berkelir Kota Tangerang?”. Untuk menjawab permasalahan tersebut dibutuhkan penelitian lebih dalam seperti mengidentifikasi aspek fisik (lokasi, kondisi eksisting, denah/zoning, fasilitas), aspek prinsip pariwisata kota berkelanjutan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menyusun strategi konsep pariwisata yang berkelanjutan pada Kampung Bekelir Kota Tangerang. Pendekatan yang diterapkan dalam penelitian ini berparadigma pada pendekatan induktif dan metodologi penelitian yang digunakan ialah metode kualitatif deskriptif yang mengharuskan peneliti untuk melakukan observasi langsung. Hasil penelitian menunjukkan Kawasan kampung bekelir sudah mulai menjaga lingkungan kampung agar tetap selalu bersih dan sehat serta mewujudkan kampung bekelir sebagai kampung wisata tematik yang berkelanjutan, dibutuhkan startegi pariwisata yang tepat dan menerapkan sepuluh prinsip pariwisata berkelanjutan. Penelitian ini diharapkan dapat berguna bagi masyarakat Kampung Bekelir Kota Tangerang serta sebagai masukan dan pertimbangan untuk pengambilan kebijakan di kota Tangerang maupun kota lainnya dalam perencanaan pengembangan wisata kota sejenis

    PRINSIP DAN ELEMEN PARIWISATA BERKELANJUTAN SEBAGAI DAYA TARIK DAN EKSISTENSI WISATA KULINER DI PASAR LAMA TANGERANG

    Full text link
    Kawasan Pasar Lama Tangerang merupakan area inti dari kawasan Kota Lama Tangerang yang terbagi dalam tiga blok utama yaitu Blok Masjid Agung-Pendopo, Blok Stasiun Kereta Api dan Blok Kota Lama atau yang lebih dikenal masyarakat dengan sebutan kawasan Pasar Lama Tangerang. Aktivitas kebudayaan lama seperti kegiatan perdagangan masih terlihat didalam Blok Kota Lama terutama di koridor Jalan Ki Samaun yang menjadi pusat wisata kuliner. Lokasi kawasan ini terletak di Timur tepi sungai Cisadane. Lokasi yang strategis, meningkatnya pendapatan masyarakat dan kelengkapan jenis-jenis kebutuhan pokok dan makanan yang ditawarkan bisa menjadi alasan yang menyebabkan padatnya intensitas pengunjung ke kawasan Pasar Lama Tangerang. Kondisi tersebut mendorong untuk dilakukannya penelitian ini mengenai apa yang menyebabkan kawasan Pasar Lama Tangerang menjadi daya tarik wisata kuliner di Tangerang dengan intensitas pengunjung yang padat dan tetap eksis hingga sekarang. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi apa saja yang menjadikan kawasan Pasar Lama Tangerang sebagai daya tarik wisata kuliner di kota Tangerang dan bagaimana kawasan Pasar Lama Tangerang dapat tetap eksis hingga sekarang. Pendekatan yang diterapkan dalam penelitian ini berparadigma pada pendekatan induktif. Metodologi penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif deskriptif yang mengharuskan peneliti untuk melakukan observasi langsung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan RTRW Kota Tangerang Tahun 2012-2032, Pasar Lama Tangerang merupakan Kawasan Perlindungan Setempat, secara umum arahan pemanfaatan ruangnya adalah penataan ruang, revitalisasi, peningkatan kualitas pelayanan dan pengembangan wisata. Kawasan Pasar Lama Tangerang sudah terbentuk lama sejak kedatangan orang Tionghoa datang dan membentuk permukiman pecinan di tepi Sungai Cisadane pada tahun 1513. Kawasan Pasar Lama Tangerang didukung dengan fasilitas transportasi yang cukup baik yang menghubungkan dengan beberapa lokasi di sekitar Kota Tangerang dan Jabodetabek. Beberapa hal yang menjadikan kawasan Pasar Lama Tangerang dipadati pengunjung dan tetap eksis hingga sekarang adalah terdapatnya prinsip-prinsip pariwisata berkelanjutan dan elemen-elemen kunci pariwisata kota berkelanjutan didalam kawasan tersebut

    Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis

    Full text link
    The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed

    Variations on the Author

    Full text link
    “Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship

    Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis

    Full text link
    We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis

    Dispelling the Myths Behind First-author Citation Counts

    Full text link
    We conducted a full-scale evaluative citation analysis study of scholars in the XML research field to explore just how different from each other author rankings resulting from different citation counting methods actually are, and to demonstrate the capability of emerging data and tools on the Web in supporting more realistic citation counting methods. Our results contest some common arguments for the continued use of first-author citation counts in the evaluation of scholars, such as high correlations between author rankings by first-author citation counts and other citation counting methods, and high costs of using more realistic citation counting methods that are not well-supported by the ISI databases. It is argued that increasingly available digital full text research papers make it possible for citation analysis studies to go beyond what the ISI databases have directly supported and to employ more sophisticated methods

    Author Index

    No full text
    Nao informado
    corecore