84 research outputs found
PEMANFAATAN BAKTERI UNTUK MENURUNKAN KONSENTRASI CEMARAN MERKURI
Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menggali potensi bakteri yang resisten terhadap merkuri sebagai biosorbent merkuri. Melalui penelitian ini telah diisolasi 64 isolat bakteri yang resisten terhadap 3 macam senyawa merkuri pada konsentrasi 1µg/ml. bakteri tersebut diisolasi dari air dan sedimen Sungai Banjir Kanal Barat Semarang dengan metode enrichment. Selanjutnya dilakukan seleksi untuk memperoleh isolate yang paling resisten terhadap merkuri dengan cara meneumbuhkannya dalam medium yang mengandung merkuri pada konsentrasi yang semakin meningkat.Hasil seleksi menetapkan isolate no 11(Pseudomonas sp) sebagai isolate yang paling resisten karena mampu tumbuh dengan baik pada konsentrasi merkuri (sebagai HgCl) 20µg/ml. Isolat ini selanjutnya dipakai dalam penelitian yang mencangkup pengaruh senyawa merkuri(HgCl2) terhadap pertumbuhan sel bakteri, kemampuan sel bakteri mengaakumulasikan merkuri dari medium selama pertumbuhan, dan pada system resting cell, serta penentuan letak akumulasi merkuri pada sel bakteri. Pertumbuhan sel bakteri dipantau dengan spektrofometer pada panjang gelombang 600nm, sedangkan konsentrasi merkuri ditentukan dengan Atomic Absorption Spectrophotometer (AAS). Hasil yang diperoleh menunjukan bahwa pertumbuhan sel bakteri terhambat kecuali bila inoculum ditumbuhkan dalam medium yang mengandung merkuri. Bakteri yang ditumbuhkan dalam medium cair yang mengandung merkuri dari medium pertumbuhan sebesar 94% selama tiga jam masa inkubasi, dan ditemukan pula bahwa 85% merkuriyang hilang dari medium diakumulasikan di dlam sel. System resting cell tidak mampu menurunkan konsentrasi merkuri dalam larutan
IDENTIFIKASI BAKTERI PADA BINTIL AKAR AKTIF DAN TIDAK AKTIF SERTA RHIZOSFER KACANG TANAH
Kemiskinan unsur hara N dalam tanah dapat diatasi dengan memanfaatkan kelompok mikroba tanah yang dapat berguna sebagai penyedia unsur hara pada tanah yang nantinya tersedia untuk tanaman. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hasil isolasi bakteri, karakteristik fenotipik bakteri, serta perbedaan keanekaragaman bakteri dari bintil akar aktif dan tidak aktif serta rhizosfer tanaman kacang tanah (Arachis hypogaea L.). Penelitian ini di Laboratorium Mikrobiologi FMIPA UNY. Sampel bintil akar dan rhizosfer diambil di sawah, di Kabuaten Magelang, Jawa Tengah. Pengujian Karakteristik fenotipik meliputi karakterisasi morfologi koloni, morfologi sel, dan uji fisiologis (biokimia). Identifikasi bakteri dilakukan dengan metode profile matching, untuk mengetahui indeks similaritasnya dengan genera bakteri acuan. Diperoleh total 15 isolat yang merupakan bakteri gram positif dan negatif, berbetuk coccus maupun bacil, dengan konfigurasi round, margin smooth, elevasi raised, berwarna putih hingga putih kekuningan, dengan hasil uji fisiologis (biokimia) yang beragam. Setelah dilakukan proses identifikasi, diperoleh 2 genera bakteri yang ada pada bintil akar aktif yaitu Azomonas dan Staphylococcus, 3 genera bakteri yang ada pada bintil akar tidak aktif yaitu Mesorhizobium, Azomonas, dan Bacillus, serta 3 genera bakteri yang ada pada rhizosfer tanaman kacang tanah yaitu Rhizobium, Pseudomonas, dan Neisseria
DETEKSI CEMARAN Bacillus cereus, SERTA ANALISIS KUALITAS FISIK DAN KIMIA SUSU KEDELAI (STUDI HIGIENE DAN SANITASI PRODUKSI SUSU KEDELAI SKALA RUMAH TANGGADI SLEMAN, DIY)
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai dan status higiene sanitasi, keberadaan bakteri Bacillus cereus, dan pengaruh higiene sanitasi dan lama penyimpanan terhadap kualitas fisik, kimia dan mikrobiologi susu kedelai di dua Industri Rumah Tangga. Jenis penelitian yang dilakukan adalah deskriptif kuantitatif dengan membandingkan higiene sanitasi pada industri susu kedelai di Depok, Sleman dan Caturharjo, Sleman dengan mengisi lembar checklist higiene sanitasi dan dilakukan wawancara. Uji laboratorium dilakukan untuk mengetahui kualitas susu kedelai meliputi syarat fisik, kimia dan mikrobiologis. Uji fisik berupa pengujian organoleptik oleh panelis yang meliputi rasa, bau, warna, dan penampakan. Uji kimia dilakukan adalah uji pH dan sakarin. Uji mikrobiologis dilakukan uji identifikasi bakteri Bacillus cereus dan Angka Lempeng Total (ALT). Hasil penelitian menunjukkan higiene sanitasi IRT A memenuhi standar syarat sedangkan IRT B tidak memenuhi syarat minimal higiene sanitasi. Nilai higiene sanitasi mempengaruhi Uji Lempeng Total. Sedangkan lama penyimpanan mempengaruhi kualitas organoleptik, Angka Lempeng total dan pH.Kata kunci : susu kedelai, higiene sanitasi, lama penyimpana
The Effectiviness of Student Teams Achievement Division and Scrambel Combined Model on Collaborative Skills and Conceptual Knowledge Mastery of Class X SMAN 1 Semparuk on Bacteria
This study aims to analyze whether or not there is a significant difference in collaboration skills and mastery of conceptual knowledge of students who follow the STADBEL combined model learning in the experimental class with students who follow the Make a Match model learning in the control class on the subject of bacteria class X SMAN 1 Semparuk. In this study used non-equivalent control group design. The research sample was students of class X MIPA SMA. Sampling used cluster random sampling technique. The instruments used consisted of conceptual knowledge mastery tests and non-test collaboration skills in the form of questionnaires and self-assessment questionnaires of student responses to learning and student responses to learning models. Learning with the STADBEL combined model can be effective on collaboration skills and mastery of conceptual knowledge of students. A Sig value of 0.027 < 0.05, it is concluded that there is a significant effect of the STADBEL combined model on collaboration skills and mastery of conceptual knowledge of students. These results indicate that the STADBEL combined model effectively improves collaboration skills and mastery of conceptual knowledge of students of SMAN 1 Semparuk class X IPA on the subject of bacteria.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keefektifan model gabungan STAD dan Scramble terhadap: 1) peningkatan kemampuan kolaborasi dan penguasaan pengetahuan konseptual, 2) peningkatan kemampuan kolaborasi, 3) peningkatan penguasaan pengetahuan konseptual, dan 4) hubungan antara kemampuan kolaborasi dan penguasaan pengetahuan konseptual siswa pada materi bakteri SMAN 1 Semparuk kelas X. Metode yang digunakan adalah quasi experiment dengan desain non-equivalent control group design. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa SMAN 1 Semparuk kelas X. Instrumen yang digunakan terdiri dari tes dan non tes berupa angket. Berdasarkan hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan dari model gabungan STAD dan Scramble terhadap kemampuan kolaborasi dan penguasaan pengetahuan konseptual siswa nilai Sig 0,027 < 0,05. Kemudian untuk hasil nilai univariat keterampilan kolaborasi dengan nilai Sig 0,04 < 0,05 dan penguasaan pengetahuan konseptual dengan nilai Sig 0,01 < 0,05. Hubungan antara kemampuan kolaborasi dengan penguasaan pengetahuan konseptual dengan nilai Sig 0,000 < 0,5 dengan nilai r sebesar 0,501 menunjukkan adanya hubungan yang cukup kuat antara kemampuan kolaborasi dengan penguasaan pengetahuan konseptual
Penyuluhan Pengendalian Hama Tanaman Kubis Dengan Pendekatan Penggunaan Biopestisida Bacillus thuringiensis Yang Ramah Lingkungan
ABSTRAK Program pemasyarakatan penggunaan biospestisida dalam penganggulangan serangga hama kubis telah dilakukan di desa Kopeng, Kecamatan Getasan dengan metode penyuluhan dan demonstrasi plot. Penyuluhan mengenai pentingnya penggunaan biopestisida sebagai alternatif untuk mengurangi penggunaan pestisida kimawi dilakukan terhadap Kelompok Tani dan masyarakat di luar Kelompok Tani. Demostrasi plot dilakukan dengan menggunakan lahan milik petani yang ditanami kubis sebanyak 500 tanaman. Budidaya tanaman kubis dilakukan secara organic farming dan penggunaan biopestisida berupa isolat bakteri Bacillus thuringiensis endogen Indonesia. Hasil budidaya kubis demplot menunjukkan bahwa penggunaan biopestisida cukup berhasil karena kubis yang terserang hama hanya 52 tanaman di antara 500 tanaman yang ada. Hal ini menunjukkan bahwa biopestisida yang digunakan sangat potensial untuk melindungi tanama terhadap hama sehingga dapat digunakan sebagai alternatif pengurangan pemakaian pestisida kimiawi. Dengan demikian, demplot dapat mendukung upaya peningkatan pemahaman petani akan potensi biopestisida sebagai salah satu alternatif pengurangan penggunaan insektisida kimiawi. Demikian pula penyuluhan terhadap petani mendapat respon yang positif karena selama pelaksanaan penyuluhan banyak pertanyaan yang diajukan oleh peserta dalam diskusi masalah pentingnya penggunaan biopestisida. Hal ini menunjukkan bahwa ketertarikan para petani terhadap upaya penyuluhan cukup baik dan berhasil. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa program kegiatan penyuluhan disertai dengan demosntrasi plot telah berhasil meningkatkan pemahaman para petani sasaran bagi pentingnya upaya penggunaan biopestisida dalam budidaya pertanian yang ramah lingkungan dan aman bagi petani dan pengguna produk pertanian. Kata kunci: penyuluhan, pengendalian hama, biopestisida, tanaman kubis, Bacillus thuringensis
Aplikasi Metode Taksonomi Numerik-Fenetik Untuk Pengayaan Materi Keanekaragaman Hayati Di Sekolah Menengah Atas
Kegiatan praktikum Biologi di SMA pada umumnya mengikuti metode cookbook. Dengan metode ini maka buku petunjuk praktikum memuat informasi lengkap urutan prosedur praktikum yang harus dikerjakan oleh siswa. Metode ini selain mungkin menimbulkan kebosanan siswa juga kurang menantang, kurang menimbulkan inspirasi dan motivasi untuk mengembangkan ketrampilan investigasi. Sebagai contoh adalah kegiatan praktikum Keanekaragaman Hayati yang dikerjakan dengan melakukan pengamatan kualitatif terhadap obyek-obyek biologi di lingkungan sekitar. Kegiatan ini dapat lebih diperkaya sehingga lebih inspirational dan stimulating dengan aplikasi metode taksonomi numerik- fenetik. Praktek penggunaan metode numerik- fenetik mampu mendapatkan konsep keanekaragaman hayati secara kuantitatif. Artinya bahwa hubungan kedekatan/ kemiripan antar organisme yang diamati dapat diketahui persentase similaritas (kemiripan). Aplikasi metode numerik- fenetik ini dapat dilakukan pada semua organisme baik mikroorganisme (bakteri), tumbuhan maupun hewan. Sehingga kegiatan praktikum Biologi semacam ini menjadi lebih menantang, lebih bersifat inspirational dan stimulating dibandingkan kegiatan yang selama ini dilakukan oleh siswa terkait dengan materi Keanekargaman Hayati. Berdasarkan taksonomi numerik- fenetik sangat dimungkinkan bahwa 2 organisme yang berdasarkan pengamatan kualitatif nampak mirip (terutama dari kelompok Bakteri), sehingga dikelompokkan dalam satu kelompok, tetapi ternyata setelah ditelusuri lebih jauh dan teliti mempunyai nilai similaritas rendah (≤ 50 %) sehingga dengan demikian tidak dapat dikelompokkan menjadi satu kelompok, dan ini juga berarti menambah nilai keanekaragaman hayati. Namun demikian agar kegiatan ini dapat dilakukan para siswa di SMA sebagai materi pengayaan Keanekaragaman Hayati, maka guru-guru Biologi di SMA haruslah terlebih dahulu mendapatkan kursus singkat/ pelatihan tentang praktek taksonomi numerik- fenetik ini agar pada gilirannya nanti para guru dapat mengajarkannya kembali kepada para siswa mereka. Berdasarkan instrumen lembar evaluasi yang dibagikan kepada para peserta pelatihan maka dapat diketahui bahwa para peserta pelatihan belum pernah mendapatkan materi tentamg taksonomi numerik-fenetik sehingga mereka bersemangat mengikuti pelatihan ini. Menurut mereka pelatihan ini juga meningkatkan motivasi dan stimulasi (stimulating),serta menimbulkan inspirasi (inspirational) untuk menerapkan metode taksonomi numerik-fenetik ini pada organisme selain bakteri yang digunakan dalam pelatihan ini. Dengan demikian pelatihan ini dapat diterapkan di SMA untuk pengayaan materi praktikum Keanekargaman Hayati
EFEK PENGHAMBATAN EKSTRAK DAUN BUNI (Antidesma bunius (L.) Spreng) TERHADAP PERTUMBUHAN Candida albicans
Tanaman buni (Antidesma bunius (L.) Spreng) memiliki khasiat obat dan digunakan secara tradisional. Selain itu, bagian daun tumbuhan diketahui memiliki potensi sebagai antimikroba terutama bakteri. Tantangan lain sebagai agen antimikroba adalah adanya fungi. Salah satu fungi yang banyak menyebabkan penyakit pada manusia adalah Candida albicans. Pengobatan infeksi C. albicans biasanya menggunakan bahan kimia antifungi yang dapat menimbulkan efek samping sehingga dibutuhkan alternatif pengobatan lain yang lebih aman. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kemampuan ekstrak daun buni (Antidesma bunius (L.) Spreng) dalam menghambat pertumbuhan Candida albicans. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen dengan menggunakan dua pelarut ekstrak yaitu etanol 96% dan metanol. Konsentrasi ekstrak yang digunakan adalah 0,2:1; 0,4:1; 0,6:1; 0,8:1 gram/ml dengan kontrol negatif (DMSO 1%) dan kontrol positif (Ketokonazol dan Nystatin). Hasil penelitian menunjukkan bahwa daya hambat ekstrak etanol 96% dan metanol daun buni tidak terlalu berbeda. Penghambatan kedua ekstrak terbatas pada konsentrasi ekstrak 0,8:1 dan pada pengamatan jam ke-12 masa inkubasi penelitian. Efektivitas penghambatan ektrak daun buni tidak mencapai 50% dibandingkan dengan antibiotik Ketokonazol dan Nystatin 1000 ppm. Dari hasil ini diketahui bahwa ekstrak daun buni tersebut tidak efektif dalam menghambat pertumbuhan Candida albicans
OPTIMASI PRODUKSI BAKTERIOSIN OLEH STREPTOCOCCUS sp DAN AKTIVITAS ANTI BAKTERINYA
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui optimasi pH dan suhu pada medium MRS dapat
mempengaruhi produksi bakteriosin oleh Streptococcus sp., dan untuk mengetahui apakah efek
bakteriosin dari BAL yang ditumbuhkan pada media MRS dapat mempengaruhi pertumbuhan
Stapylococcus aerus.
Manfaat yang dapat diambil dari penelitian ini adalah dapat mengetahui produksi bakteriocin
dari streptococcus sp dan aktivitas anti bakterinya, untuk menambah pengetahuan tentang bakteri asam
laktat dari saluran pencernakan ikan dan menambah wawasan ilmu pengetahuan tentang bakteroicin .
BAL AST 6 menghasilkan bakteriosin sebagai metabolit ekstraseluler yang mampu
menghambat dan menekan pertumbuhan Staphylococcus aureus yaitu dengan memperpanjang fase lag
pertumbuhan bakteri.
Produksi bateriosin mencapai maksimum pada akhir fase logaritma (awal stationer) dan fase
pada selanjutnya akan terjadi penurunan produksi bakteriosin karena adanya produksi enzym-enzym
proteolitik yang semakin meningkat.
Bakteriosin yang diperoduksi selanjutnya diabsorbsi pada permukaan sel absorbsi sangat
dipengaruhi oleh pH. Pada pH mendekati pH 6 absorbsi mencapai 93-100%. Absorbsi terendah (≤ 5%)
terjadi pada pH 1,5 – 2.
Untuk lebih mengoptimalkan hasil penelitian ini maka perlu dilakukan penelitian lebih lanjut
mengenai jumlah sel dari produk akhir efek penghambatan bakteri Staphylococcus aereus.
Kata kunci : bakteriosin, Staphylococcus aereus, streptococcu
- …
