872 research outputs found

    Karakterisasi Sabun Transparan Pembersih Wajah Berbasis Kolagen Kulit Ikan Kakap Merah (Lutjanus sanguineus) dan Kitosan

    No full text
    Ikan kakap merah merupakan ikan demersal yang memiliki nilai ekonomis tinggi. Industri filet ikan kakap merah menghasilkan hasil samping berupa kulit. Kulit tersebut bisa dimanfaatkan sebagai bahan baku kolagen. Tujuan penelitian ini adalah untuk ekstraksi dan karakterisasi kolagen dari kulit ikan kakap merah, formulasi dan karakterisasi sabun transparan, dan menentukan karakteristik sabun transparan yang terpilih. Penelitian ini meliputi metode ekstraksi kolagen dengan air dan karakteristik sabun transparan dengan penambahan kolagen konsentrasi 3%, 2%, 1%, dan kitosan 1%, 2%, 3%. Hasil penelitian diperoleh rendemen kolagen yaitu 7,4% (bk) dengan pH 5,71. Komposisi asam amino yang paling dominan adalah glisina 16,95%. Penambahan konsentrasi kolagen dan kitosan memberikan pengaruh yang nyata terhadap parameter transparansi sabun transparan, dengan nilai pH antara 9,9-10,36, kadar air yang berkisar antara 22,93-26,39. Total mikroba kurang dari 1x102 CFU/g. Sabun transparan dengan penambahan kolagen 2% dan kitosan 2% (perlakuan 2) merupakan sabun transparan yang terpilih

    Bio flavor gel ikan cakalang (katsuwonus pelamis) sebagai bahan tambahan makanan sehat alternatif pengganti msg (monosodium glutamat)

    No full text
    Indonesia merupakan pusat biodeversitas ikan di dunia. Salah satu ikan yang potensial dan hamper diseluruh perairan Indonesia dalam jumlah yang banyak. Volume produksi perikanan tangkap ikan cakalang pada tahun 2010 sebesar 329.949 ton. Pengolahan ikan cakalang umumnya dibuat menjadi ikan kayu. Ikan kayu ialah ikan yang diolah menjadi ikan asap melalui beberapa tahap. Tahapan tersebut meliputi meliputi penyiangan dan pemotongan, perebusan, pengasapan pertama, penambalan, pengasapan tahapan kedua, Pengeringan dan penyerutan, dan fermentasi. Setelah itu ikan kayu yang telah diserut lalu di larutkan dalam air dan diberi penambahan gelatin agar terbentuk gel bio flavor. Ikan kayu yang difermetasi lebih lama dikenal sebagai produk tradisonal jepang yang dimanfaatkaan sebagai bumbu masak (penyedap), dengan cara menyerut ikan kayu dengan pisau tajam menjadi serpihan tipis, selanjutnya ditambahkan air panas sebagai stok untuk pembuatan soup dan beberapa masakan. Ikan kayu memiliki banyak kandungan protein dan memiliki kandungan gizi yang berlimpah, seperti asam amino esensial, vitamin A, B, B1, B2, kalsium, natrium, niacin, kalium, zat besi, dan hanya mengandung sedikit lemak. Penggunaan MSG secara berlebihan dapat menimbulkan efek samping, baik jangka pendek maupun jangka panjang. Efek yang biasanya timbul pada jangka pendek diantaranya yaitu mengalami panas di leher, lengan, dada dan muka, selain itu dapat menimbulkan rasa mual, sakit kepala, berdebar-debar bahkan sampai mengalami muntah. Gejala ini sering disebut MSG Complex Syndrome. Gejala ini terjadi secara segera atau sekitar 30 menit setelah konsumsi dan bertahan selama sekitar 3-5 jam. Pada efek samping jangka panjang dapat terjadi akumulasi glutamat di otak, sehingga dapat memperenggang antar sinap yang berujung melemahnya daya ingat. Selain itu dapat terjadi hypertensi, serangan jantung dan strok. Oleh karena itu perlu ada pengganti MSG dari produk perikanan yang dapat menunjang produksi MSG yang aman bagi kesehatan. Tujuan yang melatarbelakangi penelitian ini ialah mendapatkan formulasi yang tepat dalam pembuatan bio flavor gel, membuat alternatif pengganti Monosodium Glutamat (MSG) yang aman dalam penggunaannya, serta inovasi produk yang menarik. Manfaat penelitian ini untuk terbuatnya penyedap rasa yang aman bagi pengguanaan bahan tambahan masak pada rumah tangga, restoran dan pedagang kaki lima, terbuatnya produk penyedap yang praktis, pengembangan bagi pribadi, masyarakat. Metode yang dilakukan ialah metode pembuatan ikan kayu, pembentukan gel dengan penambahan gelatin, serta dilakukan uji proksimat, uji organolepti, uji asam amino viskositas, uji gel strength dan uji analisis data.Dikt

    Karakteristik Hidrolisat Gelatin Ikan Tuna Sirip Kuning (Thunnus albacares) sebagai Antioksidan

    No full text
    Gelatin memiliki sifat fungsional sebagai antioksidan yang dapat ditingkatkan melalui proses hidrolisis menjadi peptida bioaktif. Penelitian ini dilakukan untuk mendapatkan nilai antioksidan hidrolisat dan peptida gelatin hasil fraksinasi. Gelatin yang diekstraksi dari kulit ikan tuna sirip kuning kemudian dihidrolisis menggunakan enzim alkalase, pancidase, dan tripsin, lalu hidrolisat terpilih difraksinasi dengan membran molecular weight cut off. Gelatin memiliki rendemen 11,7%; karakteristik pH 6,5; warna L = 16,54; a = 29,71; b = -8.82; viskositas 26,55 cP; dan SDS-PAGE menunjukkan adanya pita β, α1, dan α2. Penggunaan enzim alkalase saat hidrolisis lebih baik dalam menangkap radikal DPPH, sedangkan enzim pancidase lebih baik dalam menangkap radikal ABTS. Fraksi peptida <3 kDa hidrolisat alkalase memiliki aktivitas antioksidan tertinggi yaitu mencapai 95,09% yang diukur dengan metode ABTS

    Perubahan Mutu Ikan Beloso (Saurida tumbil) selama Penyimpanan Suhu Dingin

    No full text
    Kemunduran mutu ikan segar merupakan faktor yang alami terjadi akibat pengaruh enzim dan reaksi biokimiawi dalam tubuh, serta aktivitas bakteri. Penyimpanan suhu dingin merupakan salah satu cara untuk mempertahankan mutu ikan. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan perubahan mutu ikan beloso (Saurida tumbil) selama penyimpanan suhu dingin. Pengamatan dilakukan setiap 2 hari sekali selama 14 hari. Fase pre rigor ikan beloso terjadi pada awal penyimpanan, fase rigor mortis pada hari ke-6, fase post rigor pada hari ke-12, dan mengalami kebusukan pada hari ke-14. Nilai pH menurun hingga hari ke-6 dan meningkat hingga penyimpanan hari ke-14. Nilai protein larut air terus menurun seiring dengan lamanya penyimpanan. Nilai formaldehid terdeteksi pada pengamatan hari ke-0 dan cenderung meningkat selama penyimpanan. Protein selama penyimpanan mengalami penguraian menjadi bobot molekul yang lebih kecil. Kadar air ikan beloso selama penyimpanan mengalami kenaikan sedangkan kadar protein mengalami penurunan. Korelasi sangat erat terjadi antara parameter pH dengan formaldehid dan protein larut air. Korelasi erat terjadi antara parameter pH dan organoleptik. Korelasi negatif dengan hubungan yang sangat erat terjadi antara parameter organoleptik dengan formaldehid dan protein larut air. Korelasi antara parameter organoleptik dan protein larut air merupakan korelasi positif yang sangat erat

    Purifikasi Parsial dan karakterisasi Enzim Pepsin dari Lambung Ikan Tuna Sirip Kuning (Thunnus albacares).

    No full text
    Pepsin adalah proteinase yang utama pada sistem pencernaan dalam lambung hewan. Pepsin berperan dalam hidrolisis protein pada kondisi asam. Informasi dan penelitian mengenai pepsin dari ikan masih belum banyak dilakukan di Indonesia. Pepsin dalam industri banyak digunakan untuk olahan makanan, pakan dan tekstil. Tujuan penelitian ini adalah untuk memurnikan secara parsial dan mengkarakterisasi enzim pepsin dari lambung ikan tuna sirip kuning (Thunnus albacares). Penelitian ini dilakukan melalui tiga tahap, tahap pertama yaitu preparasi lambung ikan tuna sirip kuning dibersihkan kemudian diekstrak untuk mendapatkan ekstrak kasar enzim pepsin dan diukur aktivitas enzim dan konsentrasi proteinnya. Tahap kedua yaitu pemurnian enzim pepsin yang meliputi tahap presipitasi dengan amonium sulfat, dilanjutkan dengan dialisis serta kromatografi filtrasi gel setiap tahap pemurnian dilakukan pengukuran terhadap aktivitas unit enzim, konsentrasi protein dan penentuan bobot molekul. Tahap ketiga yaitu mengkarakterisasi hasil dialisis enzim pepsin yang meliputi penentuan pH optimum, suhu optimum, pengaruh ion logam dan inhibitor. Lambung ikan tuna sirip kuning (Thunnus albacares) memiliki kadar air 76.02%, kadar abu 0.59%, kadar lemak 0.54% dan kadar protein 18.95%. Enzim pepsin diisolasi dan dikarakterisasi dari lambung ikan tuna sirip kuning menggunakan bufer (10 mM tris-HCl pH 7.5 perbandingan 1:2. Rendemen ekstrak kasar yang diperoleh sebesar 64.5%, berwarna kecoklatan, aktivitas unit enzim sebesar 2.51±0.004 U/mg dan konsentrasi protein sebesar 0.506 mg/mL. Aktivitas enzim setelah presipitasi amonium sulfat menjadi 42.74±1.84 U/mg dan tahap dialisis menaikkan aktivitas spesifik enzim menjadi 51.37±0.22 U/mg. Pemurnian enzim dilanjutkan pada tahap kromatografi filtrasi gel menggunakan matriks Sephadex G-75 diperoleh aktivitas spesifik enzim yaitu 146.03±0.96 U/mg dengan kelipatan pemurnian sebesar 58.17 kali dan memiliki berat molekul sebesar 28.33 kDa. Enzim pepsin dari lambung ikan tuna sirip kuning memiliki nilai pH optimum yang stabil pada pH 2 hingga 3.5; suhu optimum stabil dari 20 hingga 60 oC dan aktivitas enzim pepsin dipengaruhi oleh ion logam Fe3+ dan Zn2+

    Perubahan Asam Amino dan Taurina Ikan Kembung Lelaki Akibat Proses Penggorengan

    No full text
    Ikan kembung lelaki (Rastrelliger kanagurta) merupakan salah satu sumber protein yang populer dikonsumsi masyarakat Indonesia. Pengolahan ikan ini umumnya dilakukan melalui proses penggorengan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perubahan asam amino dan taurina ikan kembung lelaki akibat proses penggorengan. Asam amino dan taurina diuji dengan metode HPLC yang terdiri dari empat tahap, yaitu tahap pembuatan hidrolisat protein, tahap pengeringan, tahap derivatisasi dan tahap injeksi sampel. Ikan kembung lelaki yang digoreng pada suhu 180°C selama 5 menit masih baik untuk dikonsumsi jika dilihat dari kandungan asam aminonya. Ikan kembung lelaki hanya mengalami penurunan kandungan asam amino sebesar 8,86%, namun proses penggorengan menyebabkan penurunan kandungan taurina ikan kembung yang cukup besar, yakni mencapai 69,87%

    Deteksi Bakteri Penghasil Histamin melalui Gen Histidine Decarboxylase (hdc) pada Ikan Tuna, Tongkol, dan Cakalang

    No full text
    Bakteri penghasil histamin dapat diidentifikasi dengan mendeteksi gen histidin dekarboksilase (hdc). Tujuan penelitian ini yaitu menentukan kadar histamin pada daging ikan tuna, tongkol, dan cakalang, mengidentifikasi jenis bakteri pembentuk histamin dan menganalisis bioinformatika melalui konstruksi pohon filogeni. Kadar histamin diuji menggunakan spektrofluorometer, sedangkan analisis DNA bakteri penghasil enzim hdc menggunakan PCR. Kadar histamin yang terdeteksi dari ikan tuna, tongkol, dan cakalang yaitu sebesar 2.96±0.22 ppm, 2.14±0.23 ppm, dan 1.02±0.97 ppm. Jenis bakteri pembentuk histamin yang berhasil diidentififikasi baik menggunakan primer spesifik hdc maupun primer universal 16S rRNA yaitu Morganella morganii, Enterobacter hormaechei, Klebsiella aerogenes dan Enterobacter bugandensis. Konstruksi pohon filogeni menunjukkan bahwa bakteri M. morganii dan E. hormaechei berkerabat dekat pada satu cabang, serta bakteri Klebsiella aerogenes, Enterobacter bugandensis, dan Escherichia fergusonii juga berkerabat dekat, namun ketiganya tidak berkerabat dengan bakteri Peptoniphilus stercorisuis dan Vagococcus carniphilus

    Karakteristik Bubur Rumput Laut Kappaphycus alvarezii dan Turbinaria conoides sebagai Bahan Baku Masker Wajah

    No full text
    Masker wajah diperlukan untuk membersihkan wajah secara mendalam dan mengangkat sel-sel kulit mati. Masker wajah dibuat dari bubur rumput laut sebagai alternatif penggunaan ekstrak. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan rasio terbaik bubur rumput laut Kappaphycus alvarezii dan Turbinaria conoides sebagai bahan baku masker wajah. Tahap satu meliputi pembuatan dan karakterisasi bubur rumput laut dengan parameter kadar air, viskositas, nilai pH, fitokimia, total fenol, dan aktivitas antioksidan. Tahap dua meliputi pembuatan dan analisis karakteristik masker wajah dari rasio bubur rumput laut terbaik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rasio bubur rumput laut Kappaphycus alvarezii dan Turbinaria conoides terbaik yaitu rasio 1:1 dengan nilai IC50 sebesar 136,78±1,03 ppm, pH 6,43±0,52, dan total fenol 757,50±2,50 mg GAE/g. Masker wajah dengan penambahan bubur rumput laut memiliki pH sebesar 7,28±0,07, daya sebar sebesar 5,5±0,14 cm, total fenol 390±3,50 mg GAE/g, IC50 311,49±1,69 ppm dan viskositas sebesar 36.252,5±30 cP

    Struktur Primer Parsial dan Bioinformatika Profenoloksidase Udang Vaname (Litopenaeus vannamei).

    No full text
    Blackspot sangat dipengaruhi oleh adanya radiasi sinar matahari terhadap kulit udang dan umumnya terjadi pada saat panen berlangsung, apabila tidak dilakukan pendinginan setelah panen. Adanya blackspot pada udang sangat dipengaruhi oleh tingginya konsentrasi substrat tirosinase pada kulit chitin udang, oksigen molekuler, dan enzim tirosinase. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan struktur primer parsial dan bioinformatika proPO udang vaname. Sampel udang vaname diperoleh dari Fresh Market, Jakarta. Penelitian dilakukan dengan tahapan isolasi RNA udang, amplifikasi dan analisis bioinformatika. Hasil isolasi RNA profenoloksidase memiliki nilai konsentrasi 191 mg/mL dengan kemurnian 2.056. Hasil amplifikasi memperoleh gen target dengan panjang 220 bp. Hasil identifikasi merupakan spesies vaname dengan nilai identifikasi 99 dan 100%. Urutan nukleotida yang diperoleh merupakan struktur primer parsial. Prediksi struktur sekunder berupa coil sebanyak 65, helix sebanyak 21 dan strand sebanyak 36. Prediksi model tiga dimensi diperoleh 3 jenis model struktur terbaik. Peptida ligan berupa susunan ASP TRP ASP PHE LEU PRO PRO NH2. Sisi sisi yang berikatan pada residu terletak pada E19 I23 Y27 R30 P32 K50 Y51 L52 V53 P54 L57 V62 L65 R69 F106
    corecore