81 research outputs found

    JUAL BELI HASIL PERTANIAN JAGUNG DENGAN SISTEM “PINJAM BIBIT” DI DESA SEBA-SEBA KECAMATAN WALENRANG PERSPEKTIF EKONOMI ISLAM

    No full text
    ABSTRAK Rahmayani, 2017 “Jual Beli Hasil Pertanian Jagung Dengan Sistem "Pinjam Bibit" Di Desa Seba-Seba Kec. Walenrang Perspektif Ekonomi Islam”. Skripsi, Program Studi Perbankan Syariah, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Palopo. Pembimbing (1) Dr. Muhammad Tahmid Nur, M.Ag. (2) Ilham, S.Ag., M.A. Kata Kunci: Jual Beli, Hasil Pertanian dan Ekonomi Islam. Permasalahan pokok yang di bahas dalam skripsi ini adalah: (1) Jual beli hasil pertanian jagung dengan sistem "Pinjam Bibit" di Desa Seba-Seba. (2) Jual beli hasil pertanian jagung dengan sistem "Pinjam Bibit" di Desa Seba-Seba menurut ekonomi Islam. Data yang dikumpulkan dalam penelitian skripsi ini adalah melalui data riset kajian lapangan atau metode field research. Kemudian untuk memperoleh data yang lebih rinci penulis secara langsung melakukan wawancara dengan para petani (pihak penjual) dan distributor(pihak pembeli), serta para tokoh masyarakat yang ada di Desa Seba-Seba. Data yang diperoleh dari penelitian dianalisis menggunakan analisis kualitatif. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa sistem jual beli hasil pertanian jagung dengan sistem "pinjam bibit" di Desa Seba-Seba Kecamatan Walenrang di dalamnya terdapat unsur penzaliman seperti adanya persyaratan atau aturan yang diterapkan oleh pihak Distributor/Pembeli kepada pihak petani sehingga menyebabkan beberapa kerugian di pihak petani seperti penelantaran jagung saat musim panen tiba dan cuaca yang tidak menentu, dan ketidakpuasan petani dengan harga beli jagung. Karenanya ajaran Islam secara tegas melarang segala bentuk penzaliman sebagaimana prinsip hukum Islam adalah “tidak menzalimi dan tidak dizalimi”. Dengan demikian sistem jual beli tersebut tidak dibolehkan

    TRADISI DAN PENSAKRALAN: Upacara Seba di Kabuyutan Ciburuy Kecamatan Bayongbong Kabupaten Garut Tahun 1980-2005

    No full text
    Skripsi ini berjudul TRADISI DAN PENSAKRALAN: Upacara Seba di Kabuyutan Ciburuy Kecamatan Bayongbong Kabupaten Garut Tahun 1980-2005. Adapun masalah yang diangkat dalam skripsi ini adalah: Bagaimanakah keberadaan upacara seba di Kabuyutan Ciburuy Kecamatan Bayongbong Kabupaten Garut Tahun 1980-2005? Untuk memfokuskan penelitian, penulis membuat tiga buah pertanyaan seperti berikut: (1) Bagaimanakah latar belakang upacara seba di Kabuyutan Ciburuy Kabupaten Garut?; (2)Bagaimanakah proses perkembangan pelaksanaan upacara seba di Kabuyutan Ciburuy Kabupaten Garut?; (3)Bagaimanakah sikap masyarakat Kabuyutan Ciburuy Kabupaten Garut dalam mempertahankan keberadaan upacara seba? Dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode historis, yaitu meliputi pengumpulan sumber baik lisan maupun tulisan, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Untuk lebih memahami permasalahan yang dikaji, penelitian ini menggunakan beberapa konsep yang relevan melalui pendekatan ilmu sosial yang lain seperti ilmu Sosiologi dan ilmu Antropologi. Dalam melakukan penelitian, penulis menggunakan teknik penelitian seperti, studi kepustakaan dan wawancara. Hal ini dilakukan karena terdapat sumber tertulis yang dapat digunakan untuk mengkaji permasalahan di atas, sedangkan teknik wawancara yang penulis lakukan untuk membandingkan apakah terdapat kesesuaian antara data yang terdapat di lapangan dengan sumber tertulis serta karena terbatasnya sumber tertulis untuk mengkaji permasalahan di atas. Upacara seba di Kabuyutan Ciburuy Kecamatan Bayongbong Kabupaten Garut, berawal dari kepercayaan masyarakat Kabuyutan Ciburuy terhadap mitos dari para leluhur mereka. Upacara seba diartikan sebagai penyerahan diri dengan cara membersihkan rohani dan jasmani dan memohon ampunan serta petunjuk dari leluhur agar menemukan kehidupan yang damai dan diberkahi serta tidak keluar dari tetekon (aturan atau tradisi) yang sudah diwariskan sejak dahulu. Jika dilihat dari tata cara upacaranya, terdapat pula di dalamnya upaya untuk memperoleh kontak dengan para leluhur yakni dengan cara roh leluhur yang kemudian merasuki raga salah seorang peserta upacara dari keluarga kuncen. Di dalam upacara seba juga terdapat penghormatan terhadap benda-benda pusaka peninggalan Prabu Siliwangi dan Prabu Kiansantang. Selain itu, upacara seba juga mempunyai fungsi sosial, yaitu sebagai pengendali sosial dan sebagai wadah masyarakat untuk berinteraksi. Dalam perkembanganya upacara seba mengalami perubahan tempat pelaksanaan. Kelestarian suatu kebudayaan tradisional tentunya berada di tangan masyarakat pendukungnya dan menjadi tanggung jawab semua pihak. Termasuk pelestarian upacara seba merupakan tanggung jawab semua masyarakat dan pihak pemerintah setempat. Untuk itu diperlukan kesadaran yang lebih pada masyarakat pada khususnya untuk lebih memperhatikan upacara seba agar tetap bertahan. Serta dari pemerintah daerah setempat yang harus lebih giat lagi untuk membantu pelestarian yang telah dilakukan masyarakat dalam mempertahankan keberadaan upacara seba di Kabuyutan Ciburuy Kecamatan Bayongbong Kabupaten Garut

    UPACARA SEBA PADA MASYARAKAT BADUY

    No full text
    AbstrakDesa Kanekes adalah salah satu desa di Kecamatan Leuwidamar Kabupaten Lebak Propinsi Banten. Sebagian besar tanahnya merupakan dataran tinggi yang bergunung dengan lembah-lembah yang merupakan daerah aliran sungai dan hulu-hulu sungai yang mengalir ke sebelah utara. Bagian tengah dan selatan desa merupakan hutan lindung atau hutan tutupan yang oleh penduduknya, yaitu Orang Baduy, sangat dijaga kelestariannya. Seba merupakan sebuah tradisi yang setiap tahun dilaksanakan oleh masyarakat Baduy sebagai wujud nyata tanda kesetiaan dan ketaatan kepada penguasa. Seba itu sendiri merupakan peristiwa dalam untaian adat masyarakat Baduy yang dilakukan seusai upacara Kawalu dan Ngalaksa. Upacara Seba mereka laksanakan melalui persiapan yang matang serta berpedoman pada peraturan adat. Orang yang berperan  melakukan Seba adalah kepercayaan Puun atas nama warganya untuk memberikan laporan kepada Pemerintah sekaligus menjembatani komunikasi. Tulisan ini menggunakan metode deskriptif, yaitu mendeskripsikan secara rinci fenomena sosial tertentu. Sedangkan pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kualitatif. Yaitu pendekatan yang menggambarkan persoalan manusia dan kebudayaannya yang kompleks dan menyeluruh. AbstractSeba (giving tribute) ceremony is performed every year by the Baduy of Desa (village) Kanekes, district of Leuwidamar, regency of Lebak, the Province of Banten. It is a manifestation of signs of loyalty and obedience to the ruler. It is a part of a series of customary ceremony that is carried out by the Baduy after Kawalu and Ngalaksa ceremonies. Puun (the chief) gives authority to a member of his community to perform seba to deliver report to government and to bridge communication between them. This is a descriptive-qualitative research. It is hoped that the author could describe a more detailed information concerning certain social phenomenon such as seba.</jats:p

    The Dual-SEBA approach.

    No full text
    Evolving individual, contextual, organizational, interactional and sociocultural factors have complicated efforts to shape the professional identity formation (PIF) of medical students or how they feel, act and think as professionals. However, an almost exclusive reliance on online learning during the COVID-19 pandemic offers a unique opportunity to study the elemental structures that shape PIF and the environmental factors nurturing it. We propose two independent Systematic Evidence-Based Approach guided systematic scoping reviews (SSR in SEBA)s to map accounts of online learning environment and netiquette that structure online programs. The data accrued was analysed using the clinically evidenced Krishna-Pisupati Model of Professional Identity Formation (KPM) to study the evolving concepts of professional identity. The results of each SSR in SEBA were evaluated separately with the themes and categories identified in the Split Approach combined to create richer and deeper ‘themes/categories’ using the Jigsaw Perspective. The ‘themes/categories’ from each review were combined using the Funnelling Process to create domains that guide the discussion. The ‘themes/categories’ identified from the 141 included full-text articles in the SSR in SEBA of online programs were the content and effects of online programs. The themes/categories identified from the 26 included articles in the SSR in SEBA of netiquette were guidelines, contributing factors, and implications. The Funnelling Process identified online programs (encapsulating the content, approach, structures and the support mechanisms); their effects; and PIF development that framed the domains guiding the discussion. This SSR in SEBA identifies the fundamental elements behind developing PIF including a structured program within a nurturing environment confined with netiquette-guided boundaries akin to a Community of Practice and the elemental aspect of a socialisation process within online programs. These findings ought to be applicable beyond online training and guide the design, support and assessment of efforts to nurture PIF.</div

    SEBA: PUNCAK RITUAL MASYARAKAT BADUY DI KABUPATEN LEBAK PROVINSI BANTEN

    No full text
    AbstrakPenelitian tentang upacara seba yang merupakan puncak kegiatan ritual keagamaan yang dilakukan oleh masyarakat (Baduy) Kanekes di Kabupaten Lebak, bertujuan untuk mengetahui makna dan simbol yang ada dalam upacara tersebut. Metode penelitian yang digunakan bersifat deskripsi dengan pendekatan fungsional melalui teknik pengumpulan data berupa wawancara dan pengamatan. Hasil penelitian ini menggambarkan bahwa upacara seba merupakan puncak acara ritual yang dilakukan setahun sekali yang dimaksudkan untuk mengungkapkan rasa syukur kepada Tuhan dan pemerintah atas kesejahteraan masyarakat Baduy yang telah dihasilkan dalam kurun satu tahun. Di samping itu upacara ini menjadi bukti adanya pengakuan secara adat dan bertujuan untuk bersilaturahmi antara masyarakat Kanekes dengan pemerintah baik di kabupaten maupun di provinsi yaitu kepada pejabat bupati dan gubernur yang secara informal mereka menjadi pemimpin masyarakat Baduy. Pelaksanaan upacara dipilih waktu yang terbaik untuk hari dan tanggal pelaksanaannya, terutama setelah selesai panen. Upacara seba merupakan rangkaian dari religi atau sistem kepercayaan agama Sunda Wiwitan yang dianut oleh masyarakat Kanekes, maka upacara ini wajib dilakukan karena merupakan pusaka leluhur harus terus dijaga dan dilestarikan yang diwariskan secara berkesinambungan kepada anak cucunya secara tegas dan mengikat.AbstractThis research aims to find out meanings and symbols in seba, the culmination of (Baduy) Kanekes‟ religious ritual. By conducting descriptive research method the author applied functional approach. Data were collected through interviews and observation. The result shows that the seba ceremony is the culmination of series of religious ritual conducting every year. The ceremony is performed to express gratitude to God and the government for the prosperity they have gained during the year. On the other hand, seba is the evidence of customary recognition as well as a means of maintaining good relationship between Kanekes people and the government, either with bupati (the Regent)or the governor as their informal leaders. The Baduys determine good date and time which they think the best for performing the ceremony, especially after harvest time. Seba is a part of series in religious ritual of ancient Sundanese belief system (Sunda Wiwitan) which is embraced by the Baduys. The ceremony is an obligatory because it is the legacy of their ancestors which have to be preserved and to be passed on continuously to their descendants.</jats:p

    SEBA: PUNCAK RITUAL MASYARAKAT BADUY DI KABUPATEN LEBAK PROVINSI BANTEN

    No full text
    AbstrakPenelitian tentang upacara seba yang merupakan puncak kegiatan ritual keagamaan yang dilakukan oleh masyarakat (Baduy) Kanekes di Kabupaten Lebak, bertujuan untuk mengetahui makna dan simbol yang ada dalam upacara tersebut. Metode penelitian yang digunakan bersifat deskripsi dengan pendekatan fungsional melalui teknik pengumpulan data berupa wawancara dan pengamatan. Hasil penelitian ini menggambarkan bahwa upacara seba merupakan puncak acara ritual yang dilakukan setahun sekali yang dimaksudkan untuk mengungkapkan rasa syukur kepada Tuhan dan pemerintah atas kesejahteraan masyarakat Baduy yang telah dihasilkan dalam kurun satu tahun. Di samping itu upacara ini menjadi bukti adanya pengakuan secara adat dan bertujuan untuk bersilaturahmi antara masyarakat Kanekes dengan pemerintah baik di kabupaten maupun di provinsi yaitu kepada pejabat bupati dan gubernur yang secara informal mereka menjadi pemimpin masyarakat Baduy. Pelaksanaan upacara dipilih waktu yang terbaik untuk hari dan tanggal pelaksanaannya, terutama setelah selesai panen. Upacara seba merupakan rangkaian dari religi atau sistem kepercayaan agama Sunda Wiwitan yang dianut oleh masyarakat Kanekes, maka upacara ini wajib dilakukan karena merupakan pusaka leluhur harus terus dijaga dan dilestarikan yang diwariskan secara berkesinambungan kepada anak cucunya secara tegas dan mengikat.AbstractThis research aims to find out meanings and symbols in seba, the culmination of (Baduy) Kanekes‟ religious ritual. By conducting descriptive research method the author applied functional approach. Data were collected through interviews and observation. The result shows that the seba ceremony is the culmination of series of religious ritual conducting every year. The ceremony is performed to express gratitude to God and the government for the prosperity they have gained during the year. On the other hand, seba is the evidence of customary recognition as well as a means of maintaining good relationship between Kanekes people and the government, either with bupati (the Regent)or the governor as their informal leaders. The Baduys determine good date and time which they think the best for performing the ceremony, especially after harvest time. Seba is a part of series in religious ritual of ancient Sundanese belief system (Sunda Wiwitan) which is embraced by the Baduys. The ceremony is an obligatory because it is the legacy of their ancestors which have to be preserved and to be passed on continuously to their descendants.</jats:p

    Membaca Indonesia dalam Orang-Orang Bawah Tanah: Kumpulan Naskah Drama

    No full text
    Sebagai institusi sosial, karya sastra menghadirkan kehidupan dan masalah-masalah realitas sosial dalam rnasyarakat yang memengaruhi kehidupannya. Itulah sebabnya mengapa karya sastra memiliki fungsi sosial sebagai reaksi, penerimaan, kritik, atau ilustrasi tentang keadaan tertentu sebagaimana llham Zoebazary menggambarkan Indonesia sejak Orde Baru hingga reformasi dalam kumpulan naskah dramanya. Kritik yang diketengahkan berhubungan dengan pelayanan pemerintah, perilaku aparat pemerintah, kehidupan rakyat kecil, dan persoalan- persoalan sosial lainnya&#x0D; &#x0D; Abstract:&#x0D; As a social institution, a literary work presents a life and consists of-mostly-social realities that influence life. That is why literary works have social functions as a reaction, conception, criticism, or illustration about certain situation. As llham Zoebazary describes Indonesia since new era government until reformation period in his collection of drama texts. Criticisms that are presented interrelated with governments service, behavior and attitude of government official, proletariat's life, and so on.&#x0D; &#x0D; Keywords: the collection of drama, underground people. and proletariat</jats:p

    Strategi Keamanan Wilayah Kepabeanan Laut Dalam Mengatasi Penyelundupan Hasil Tembakau di Indonesia Studi Kasus : Kepulauan Riau Tahun 2018-2021

    No full text
    Abstrak Wilayah Kepulauan Riau merupakan wilayah dengan letak yang sangat strategis. Sehingga hal ini menyebabkan maraknya terjadi penyelundupan di Kepulauan Riau, Penyelundupan rokok illegal yang terjadi di Kepulauan Riau mengharuskan pemerintah untuk terus waspada terhadap titik yang menjadi wilayah operasi kepabeanan, dan juga terhadap wilayah yang seringkali dilewati transportasi laut baik nasional maupun internasional. maka dari itu penulis meninjau studi kasus yang diangkat berdasarkan teori kebijakan publik serta konsep keamanan maritime, dengan teori dan studi kasus ini penulis berusaha untuk menonjolkan penulisan terhadap hal apa saja yang sudah dilakukan oleh pemerintah dalam hal memberantas penyelundupan tembakau yang terjadi sesuai dengan asas yang ada di dalam teori dan konsep yang penulis gunakan. Kata kunci: Penyelundupan Tembakau, Rokok illegal, Bea Cukai, Gempur Rokok Ilgela.Abstract The Riau Islands region is an area with a very strategic location. So that this has led to rampant smuggling in the Riau Archipelago. Illegal cigarette smuggling that occurs in the Riau Archipelago requires the government to continue to be alert to points that become customs operations areas, and also to areas that are often passed by sea transportation both nationally and internationally. therefore the author reviews case studies raised based on public policy theory and the concept of maritime security, with this theory and case studies the author tries to highlight what has been done by the government in terms of eradicating tobacco smuggling that occurs in accordance with existing principles in the theory and concepts that the author uses. Keywords: Tobacco Smuggling, Illegal Cigarettes, Customs, Fighting Ilgela Cigarettes

    Life Cycle Assessment (LCA) analysis for flexible thin-film solar cells at HyEt Solar

    No full text
    Thanks to the continuous development in its technology, solar photovoltaics is already on its way to substitute conventional energy resources as a sustainable source of energy. However, concerns regarding the environmental burden associated with the life cycle stages of the PV systems are increasing with the fast growth of the technology. This study focuses on the environmental impacts associated with the roll-to-roll (R2R) production of the flexible thin-film silicon-based PV technology developed by the Dutch company HyEt Solar. A life cycle assessment analysis (LCA) for the manufacturing of the flexible thin-film solar modules (PowerFoil) at HyEt Solar is carried out using the SimaPro software. This study covers three cases for the 2.1 kWp (PowerFoil) PV system suitable for rooftop installation. The first is the case of single-junction a-Si modules with an efficiency of 7%, the second is the case of tandem-junction (a-Si/nc-Si) modules with an efficiency of 10%, and the final one is the case of tandem-junction (a-Si/nc-Si) with improved efficiency of 12%. The goal is to first assess the environmental impacts for the manufacturing process using the CML-IA baseline method, with a focus on the global warming potential (GWP) impact category, then perform a sensitivity analysis to study the effects of changing specific parameters and assumptions. Additionally, this study uses the Cumulative Energy Demand v1.11 calculation method in SimaPro to quantify the total energy requirement for the manufacturing process of the PV system and based on that, the energy payback time (EPBT) is calculated. This LCA study follows the framework and guidelines provided by the International Organization for Standardization (ISO) and uses the Ecoinvent 3.5 database for choosing the inventory’s input processes. After taking the utilization losses, the balance of system and energy requirements for higher deposition rate for the bottom cell into account, it was found that the lowest total GWP impact of 1031 kg CO2-eq (20.4 g CO2-eq/kWh) was scored by the tandem-junction system with improved module efficiency (η= 12%). Results also showed that the Heat/Electricity input category was the highest contributor in the total global warming potential and the total primary energy demand for all three cases. Sensitivity analysis results found that the optimal deposition rate for the bottom cell was 2 [nm/s] and that both the GWP impact per unit electricity generated and the EPBT dropped for large-scale utilities, while the increase in irradiation in different locations did not necessarily lead to a decrease in energy payback time. iFlamingoPV projectElectrical Engineering | Sustainable Energy Technolog

    Soft Diplomacy Efforts Through The BIPA Program From Educational and Cultural Attaché (Atdikbud) in Manila To Improve Bilateral Relations Between The Philippines And Indonesia In 2021-2023

    No full text
    On November 24, 2023, bilateral relations between Indonesia and the Philippines will be 74 years old. Indonesia has shared ways to maintain bilateral relations with the Philippines. However, judging from the world political and economic upheaval after COVID-19 and the Russian invasion of Ukraine, Indonesia must anticipate various risks that will arise. Therefore, the author will look at Indonesia's efforts, through Atdikbud Manila, to improve bilateral relations between Indonesia and the Philippines through soft diplomacy in the education sector. The author will use qualitative research methods with a descriptive analysis research type. According to John W. Creswell, qualitative research explores and understands the meaning several individuals or groups ascribe to social or humanitarian problems. Qualitative research can describe the speech, writing, or behavior observed by a particular individual, group, society, or organization in a particular setting, and everything will be studied from a complete, comprehensive, and holistic point of view. This qualitative approach can guide the analysis of soft diplomacy efforts to improve bilateral relations between the Philippines and Indonesia through the BIPA Atdikbud Manila program. The efforts made by Indonesia through Atdikbud Manila in implementing the BIPA (Indonesian Language for Foreign Speakers) program are a good step in improving bilateral relations between the two countries. Even though bilateral relations have existed for 74 years, Indonesia must always maintain them through soft diplomacy. In the end, Indonesia's efforts to implement soft diplomacy through the BIPA program can be achieved in 2021–2023, as seen from the increase in applicants who want to take BIPA classes
    corecore