7 research outputs found

    Serum Vascular Endothelial Growth Factor Levels and Uterine Fibroid Volume: Hubungan Kadar Serum Vascular Endothelial Growth Factor dengan Volume Mioma Uteri

    No full text
    Background: Tumor size is related to variations associated with molecular markers. In recent years, it has been reported that investigation of tumor volume has become very popular. Measurement of uterine fibroids volume is very important for treatment response. Objective: The aims of this study is to find the correlation of VEGF levels and uterine fibroids volume. Methods: Observational analytic study was carried out on 80 patients with uterine fibroids indicated myomectomy. Each sample was examined for VEGF levels and volume of myoma tissue post myomectomy was measured by using Archimedes' law. Correlation test using the Spearman test. Results: A total of 80 samples of patients were examined for VEGF levels and uterine fibroids volume. The median VEGF is 360 pg/mL, the median uterine fibroids volume is 325 ml. The Spearman’s test shows p values ​​(<0.01) and r (0.999). Conclusion: There is a significant correlation between VEGF levels and uterine fibroids volume. The higher the VEGF level, the greater the volume of uterine fibroids. Keywords: VEGF, uterine fibroids volume, Archimedes law *Corresponding author: Rajuddin e-mail: [email protected] dan [email protected] &nbsp

    Hukum Pernikahan Bagi Penyandang Tunagrahita Menurut Ulama di Kota Amuntai

    No full text
    Penelitian ini dilatarbelakangi dari adanya kasus pernikahan tunagrahita di Kota Amuntai. Dari kasus tersebut menjadikan adanya perbedaan pendapat dari ulama di Kota Amuntai mengenai hukum pernikahan tunagrahita. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui hukum pernikahan dan dalil hukum pernikahan bagi orang tunagrahita menurut ulama di Kota Amuntai. Jenis penelitian ini adalah penelitian hukum empiris dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Data pada penelitian ini yaitu data primer yang didapatkan secara langsung melalui teknik wawancara dengan 4 orang informan. Data dianalisis menggunakan teknik deskriptif kualitatif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada dua pendapat ulama mengenai keabsahan pernikahan tunagrahita. Pertama, pernikahan tunagrahita sah menurut hukum Islam dan hukum yang ada di Indonesia, karena tunagrahita tidak dapat digolongkan sebagai orang yang gila. Kedua, pernikahan tunagrahita tidak sah terkhusus bagi tunagrahita yang tergolong berat, karena tidak terpenuhinya kemampuan untuk menikah khususnya dalam hal menjalankan kewajiban sebagai pasangan. Perbedaan pendapat ini terjadi karena ketidaktehuan mengenai tingkatan tunagrahita. Dasar hukum yang digunakan oleh ulama juga tergolong menjadi dua. Pertama, ulama yang menyatakan sah pernikahan tunagrahita mendasarkan pada Q.S. an-Nisa/4: 1, Q.S. an-Nur/24: 32, dan hadis Nabi Saw. 4779 Tentang kemampuan menikah. Kedua ulama yang menyatakan pernikahan tunagrahita tidak sah mendasarkan pendapatnya pada hadis Nabi Saw.4779 Tentang kemampuan menikah dan Q.S. ar-Rum/30: 2

    PERARANAN TOKOH ADAT DALAM PERKAWINAN PINANG DI DESA NAPA KECAMATAN MAWASANGKA KABUPATEN BUTON TENGAH

    No full text
    Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan peranan tokoh adat dalam perkawinan pinang di Desa Napa. Jenis penelitian ini adalah deskriptif dengan maksud menggambarkan atau menganalisis suatu hasil penelitian tetapi tidak digunakan untuk membuat kesimpulan yang lebih luas. Adapun pendekatan penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan maksud mendeskripsikan fenomena yang ada di dalam lokasi penelitian dengan menggunakan data kualitatif yaitu memperoleh data dalam bentuk uraian atau narasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa peranan tokoh adat dalam perkawinan pinang di Desa Napa adalah (a) sebagai mediator yaitu sebagai perantara dan juru bicara dari pihak keluarga laki-laki dan pihak keluarga perempuan dalam pelaksanaan perkawinan pinang. (b) sebagai fasilitator yaitu menyiapkan kelengkapan-kelengkapan adat yang dibutuhkan dalam perkawinan pinang. (c) sebagai organisator yaitu mengelompokan diri bersama-sama keluarga laki-laki dan keluarga perempuan agar perkawinan pinang dapat berjalan lancar dan sesuai ketentuan adat setempat. Kesimpulan dalam penelitian ini adalah peranan tokoh adat dalam perkawinan pinang di Desa Napa adalah sebagai mediator, fasilitator, dan organisator yaitu sebagai perantara kedua keluarga bela pihak dan menyiapkan kelengkapan adat serta mengelompokan diri bersama-sama keluarga calon mempelai agar perkawinan pinang dapat berjalan lancar. Kata kunci : Tokoh Adat, Perkawinan Pinan

    Penguasaan kemahiran ICT guru-guru pelatih

    No full text
    Falsafah Pendidikan Kebangsaan (FPK) secara jelas telah menggariskan matlamat untuk membentuk dan melahirkan individu yang seimbang dari segi jasmani, emosi, rohani, intelek dan sahsiah. Melalui matlamat ini diharapkan pelajar-pelajar dapat berkembang dan membentuk personaliti yang seimbang dalam semua aspek. Di sini jelas peranan bidang Pendidikan, terutamanya sekolah, adalah sangat penting. Melalui guru, pihak sekolah dapat memainkan peranan membantu merealisasikan matlamat Pendidikan yang telah digariskan oleh FPK di atas. Justeru itu, guru-guru perlu memastikan mereka benar-benar kompeten untuk melaksanakan tanggungjawab yang berat ini. Banyak aspek perlu diperhatikan seperti pengajaran pembelajaran, sumber pengajaran pembelajaran, bahan bantu, ICT, kemudahan-kemudahan lain yang berkaitan dengan proses pengajaran pembelajaran. Salah satu aspek penting dalam sistem pendidikan dewasa ini adalah penggunaan ICT dalam pengajaran pembelajaran. Kerajaan telah membelanjakan jutaan ringgit bagi mengaplikasikan ICT dalam pendidikan. Dalam perancangan pendidikan Kementerian Pelajaran Malaysia (KPM) telah menggariskan tiga polisi utama berkaitan dengan ICT dalam pendidikan (Chan, 2002). Pertama, penggunaan ICT dalam pendidikan adalah meliputi semua pelajar. Kedua, penggunaan ICT sebagai alat dalam proses pengajaran pembelajaran. Dan ketiga, meningkatkan produktiviti dan efisiensi dalam sistem pengurusan pendidikan. Di sini jelas betapa pentingnya peranan yang dimainkan oleh pihak sekolah, terutamanya guru-guru, dalam menentukan kejayaan pengaplikasian ICT dalam pendidikan. Sebagai guru mereka perlu memastikan mereka berkemampuan mengaplikasikan ICT dalam proses pengajaran pembelajaran mereka. Namun begitu apa yang jelas terdapat dua perkara berkaitan yang mempengaruhi kejayaan penggunaan ICT dalam pendidikan iaitu aspek guru dan aspek perkakasan (kemudahan dan kebolehcapaian). Aspek guru meliputi perkara-perkara seperti pengetahuan dan kemahiran ICT, minat yang tinggi dalam ICT dan sikap yang positif terhadap ICT. Manakala aspek perkakasan meliputi perkara-perkara seperti kemudahan dan kebolehcapaian ICT di sekolah, kekerapan penggunaan dan pengaplikasian. Kedua-dua faktor ini merupakan faktor yang saling berkait. Dalam proses pengaplikasian pula terdapat dua kumpulan guru yang perlu diambil kira itu guru-guru yang sedia mengajar di sekolah dan juga bakal-bakal guru yang sedang mengikuti program-program pendidikan di institusi pengajian tinggi. Bagi guru-guru sedia ada di sekolah beberapa program atau kursus dalam perkhidmatan boleh diadakan untuk membantu mereka, terutamanya yang kurang berkemahiran, mempelajari dan meningkatkan kemahiran penggunaan ICT dalam pengajaran pembelajaran. Manakala bakal-bakal guru, proses peningkatan pengetahuan dan kemahiran ICT dalam pengajaran pembelajaran boleh diberikan semasa mereka mengikuti kursus perguruan di institusi masing-masing. Selain dapat meningkatkan kemahiran dalam bidang mata pelajaran mereka akan dapat menggunakan ICT sebagai alatan pengajaran mereka apabila mereka mengajar kelak. Banyak kajian telah dijalankan berkaitan dengan penggunaan ICT dalam pengajaran pembelajaran meliputi tahap pengetahuan dan kemahiran ICT di kalangan guru-guru, tahap sikap dan minat, tahap kemudahan dan kebolehcapaian ICT di sekolah, tahap penggunaan dan keberkesanan kendiri. Kesemuanya ini menjurus kepada menggambarkan tahap penguasaan ICT di kalangan guru-guru di sekolah

    Pengenalan

    No full text
    Teknologi Maklumat dan Komunikasi (ICT) telah menjadi fenomena biasa dalam kehidupan manusia dewasa ini. Setiap aspek dalam kehidupan tidak dapat lari daripada menggunakan kemajuan dalam bidang ini. Keadaan ini menggambarkan bahawa kemajuan ICT secara tidak langsung telah meningkatkan kualiti hidup manusia. Secara umum, ICT bermaksud peralatan telekomunikasi yang digunakan untuk memperoleh maklumat dengan lebih luas seperti melalui telefon, internet, komputer, teknologi satelit dan lain-lain alat komunikasi. Melalui peralatan ini kita boleh mencapai, memperoleh, menyimpan, memanipulasi, dan menyampaikan maklumat sesama kita. Oleh yang demkian ICT telah menjadi suatu keperluan kepada semua lapisan masyarakat dalam pelbagai bidang seperti perniagaan, perdagangan, perindustrian, hiburan, perubatan, pentadbiran kerajaan dan juga tidak terkecuali dalam bidang pendididkan. Oleh yang demikian, pendedahan tentang pengetahuan dan kemahiran ICT di kalangan warga pendidik amatlah perlu dalam melahirkan masyarakat yang bermaklumat dan berfikiran secara global. Justeru sebgai pendidik, perlulah melengkapkan diri pengetahuan dan kemahiran ICT dengan baik dalam era globalisasi ini. Tambahan pula, peranan guru masa kini mengalami trasformasi dari seorang pembawa dan penyampai kepada seorang pengurus, jurulatih dan fasilitator

    Penguasaan kemahiran ICT guru-guru pelatih di institusi pengajian tinggi awam (IPTA) di Malaysia

    No full text
    Pendidikan di Malaysia adalah suatu usaha berterusan ke arah lebih memperkembangkan potensi individu secara menyeluruh dan bersepadu untuk melahirkan insan yang seimbang dan harmonis dari segi intelek, rohani, emosi dan jasmani, berdasarkan kepercayaan dan kepatuhan kepada Tuhan. Usaha ini adalah bertujuan untuk melahirkan warganegara Malaysia yang berilmu pengetahuan, berketampilan, berakhlak mulia, bertanggungjawab dan berkeupayaan mencapai kesejahteraan diri serta memberi sumbangan terhadap keharmonian dan kemakmuran keluarga, masyarakat dan negara
    corecore