419 research outputs found
Vorstellung Deß Spiegels etlicher untugenden, in welchen sich ein zimlicher thail der Menschen, laider zue ihrem Ewigen unhail, täglich erlustieren / ... in 24. New erfundene Emblematische Figuren gestelt, und in Teutsche Reimen erklärt. Durch Mattheum Rembold ...
Author Correction: Incorporation of Ursolic Acid in Liquid Crystalline Systems Improves the Antifungal Activity Against Candida sp. (Journal of Pharmaceutical Innovation, (2020), 10.1007/s12247-020-09470-0)
The original version of this article unfortunately contained a mistake. The name of the 3rd author was incorrectly presented. The correct name of the 3rd author is “Matheus Aparecido dos Santos Ramos.”.School of Pharmaceutical Sciences São Paulo State University (UNESP)School of Pharmaceutical Sciences São Paulo State University (UNESP
The dynamic in four works by Matheus Bitondi for solo trumpet: a technical-pedagogic approach
Conselho Nacional de Pesquisa e Desenvolvimento Científico e Tecnológico - CNPqThis paper proposes a technical-pedagogic approach on the music dynamics played on the trumpet by using four pieces by the Brazilian composer Matheus Bitondi for solo trumpet in chamber music - duet setting. The research, study and practice of music expression tools can aid on the performance of a piece. The present compositions were selected through a bibliographical research finding excerpts where dynamic changes occur. Later, trumpet exercises from published trumpet methods were suggested in addition to other exercises
created and adapted by the author. The discussed dynamic variations were classified and the excerpts were recorded and made available through QR code enabling the reader to listen and see the recording’s sound wave patterns. In addition to the proposals and recordings this research presents a historical content on the music dynamics for trumpet in the Portuguese
language, a synthesis of the research done on the topic and provides the score for the four works by Bitondi.Este trabalho propõe uma abordagem técnico-pedagógica relacionada à dinâmica no trompete, utilizando-se de quatro obras do compositor brasileiro Matheus Bitondi (1979-), para trompete solista em música de câmara – formação duo. Nota-se que a pesquisa, estudo e prática dessa ferramenta da expressividade podem auxiliar na performance de uma obra musical. Por meio de uma pesquisa bibliográfica, foi realizada a seleção das obras, dos trechos os quais ocorrem as variações de intensidade e, posteriormente, foram sugeridos exercícios encontrados em publicações para trompete, adicionando-se outros que foram elaborados e adaptados pelo autor. As variações de dinâmicas discutidas foram classificadas e os trechos gravados e disponibilizados para escuta por meio de QR code, que possibilita ao leitor, ouvir e visualizar o espectro da gravação. Além das propostas e gravações, esta pesquisa apresenta um conteúdo histórico sobre a dinâmica no trompete em língua portuguesa, uma síntese das pesquisas sobre a dinâmica no trompete no Brasil e disponibiliza as partituras de quatro obras de Bitondi
Peer Reviewer = Co-Author (in the OJMP)
In order to value the peer-reviewing process, the Open Journal of Mathematics and Physics (OJMP) is publicly announcing in this article that peer reviewers are invited to co-author a paper, as a golden rule, as long as (s)he gives one single contribution to improve the manuscript. This is done in order to foster Open Science and Citizen Science
Correction to: Innovative Microemulsion Loaded with Unusual Dimeric Flavonoids from Fridericia platyphylla (Cham.) L.G. Lohmann Roots (AAPS PharmSciTech, (2023), 24, 8, (212), 10.1208/s12249-023-02655-z)
The original article has been corrected. The author names Matheus Rodrigues has been updated to Matheus Oliveira do Nascimento, and Beatriz Santiago has been updated Beatriz Santiago de Matos Monteiro Lira.Institut of Biosciences Coastal Campus of São Vicente Paulista State University-UNESP, São PauloPharmaceutical Sciences Program Federal University of PiauíDepartment of Clinical and Toxicological Analyses School of Pharmaceutical Sciences University of São PauloResearch Nucleus in Pharmaceutical Sciences Program State University of MaringáChemistry Postgraduate Program Federal University of MaranhãoInstitut of Biosciences Coastal Campus of São Vicente Paulista State University-UNESP, São Paul
PENGARUH SUHU DAN LAMA EKSTRAKSI SECARA PENGUKUSAN TERHADAP RENDEMEN DAN KADAR ALBUMIN IKAN GABUS (Ophiocephalus striatus)
Tujuan penelitian ini untuk menentukan suhu dan lama ekstraksi pengukusan yang tepat untuk mendapatkan rendemen dan kadar albumin yang optimal dari ikan gabus (Ophiocephalus striatus). Metode penelitian adalah menentukan suhu pada kisaran 40-90o C, dan ekstraksi secara pengukusan waterbath selama 25-35 menit, untuk mendapatkan rendemen dan kadar albumin ekstrak kasar ikan gabus yang optimal. Pengujian suhu dan lama ekstraksi secara pengukusan terhadap rendemen, kadar albumin dan rendemen albumin daging ikan gabus menggunakan analisa Rancangan Acak Kelompok Faktorial (RAKF). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ditemukan interaksi antara berbagai faktor perlakuan dengan semakin tinggi suhu kisaran 40-90o C, dan lama pengukusan kisaran 25-35 menit. Rendemen albumin tertinggi ekstrak ikan gabus sebesar 2,459 g/100g, oleh suhu pengukusan 60o C selama 25-35 menit.
ISOLASI ALBUMIN DAN KARAKTERISTIK BERAT MOLEKUL HASIL EKSTRAKSI SECARA PENGUKUSAN IKAN GABUS (Ophiocephalus striatus)
Abstrak Tujuan penelitian ini untuk adalah isolasi albumin dan penentuan berat molekul dari ekstraksi secara pengukusan ikan gabus (Ophiocephalus striatus). Metode penelitian adalah ekstraksi secara pengukusan waterbath dengan suhu kisaran 40-90o C, dan lama 25-35 menit, untuk mendapatkan rendemen dan kadar albumin ekstrak kasar ikan gabus yang optimal. Tahap selanjutnya adalah isolasi albumin dan penentuan berat molekulnya dari hasil ekstraksi yang optimal. Analisa data penelitian ini adalah analisa deskriptif untuk melihat foto hasil elektroforesis. Sementara untuk hasil analisa pengukuran isolasi albumin secara filtrasi gel sephadex G-75 dilakukan dengan Rancangan Petak terbagi (RPB). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada interaksi antara berbagai faktor perlakuan. Kadar albumin isolat albumin tertinggi sebesar 1,77 mg/g, pengaruh suhu pengukusan 40o C selama 30 menit, pada pengambilan 5 ml fraksi ke-2. Elektroforesis SDS-PAGE dengan jumlah protein paling komplek adalah isolat albumin pengaruh suhu pengukusan 40o C selama 30 menit, terletak pada 5 ml fraksi ke-1, 5 ml fraksi ke-2 dan 5 ml fraksi ke-3. Pita protein terdiri dari 2 pita mayor dan 5 pita minor dengan berat molekul 14,6-133 kD.
Model Pemberdayaan Masyarakat Untuk Revegetasi Gunung Arjuna Dan Pelestarian Area Di Sekitar Sumber Mata Air
Konferensi Lingkungan Hidup dan Pembangunan di Rio de Janeiro, 1992 menetapkan kebijakan kesadaran yang kuat tentang prinsip hidup integral dengan alam, yaitu pentinganya revegetasi hutan oleh masyarakat secara berkelanjutan. Vegetasi hutan berfungsi sebagai sistem hidrologi, terutama efek spons mampu menyekap air hujan dan mengatur pengalirannya, sehingga mengurangi terjadinya banjir dan menjaga aliran air di musim kemarau. Namun demikian, dengan semakin berkurangnya lahan pertanian, bertambahnya jumlah penduduk yang tinggal di sekitar hutan, perubahan tata kelola hutan lindung menjadi hutan produksi dan destinasi wisata, perluasan wilayah investasi industri, serta meningkatnya kebutuhan hidup masyarakat, maka kondisi-kondisi tersebut mengakibatkan tidak terkendalinya pengambilan sumber daya hutan mencakup air, flora dan fauna oleh kegiatan manusia. Keberadaan masyarakat sekitar hutan merupakan komponen masyarakat yang secara langsung berinteraksi dengan hutan yang berada disekitarnya, yang memberikan fungsi secara efektif terhadap keberhasilan konservasi hutan untuk penyelamatan sumber mata air dan keanekaragaman hayati yang ada didalamnya. Tujuan dari penelitian ini antara lain: mengkaji faktor-faktor penentu pemberdayaan masyarakat terhadap revegetasi hutan Gunung Arjuna; mengkaji pengaruh kondisi geografi dan tanah terhadap revegetasi hutan Gunung Arjuna; mengkaji pengaruh revegetasi hutan Gunung Arjuna terhadap pelestarian sumber mata air dan merumuskan model pemberdayaan masyarakat sekitar hutan terhadap keberhasilan revegetasi dan pelestarian sumber mata air secara berkelanjutan.
Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif, dengan populasi penelitian meliputi masyarakat sekitar hutan dan sumber mata air, yaitu Desa Leduk, Jatiarjo dan Dayurejo, Kecamatan Prigen Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. Pengambilan data cluster random sampling di Desa Ledug, Jatiarjo dan Dayurejo dengan jumlah sampel 210 responden. Data yang diperoleh dari responden di analisis menggunakan SEM (Structural Equation Modelling), untuk mengetahui gambaran umum tanggapan responden tentang faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kelestarian konservasi sumber mata air dan keanekaragaman hayati secara berkelanjutan.
Sumberdaya manusia masyarakat sekitar hutan yaitu tingkat pendidikan dan pekerjaan berkontribusi terhadap berhasilnya revegetasi hutan; kondisi ekonomi keluarga seperti pendapatan perorangan dan keluarga, kepemilikan ladang dan sawah untuk usaha, dan usaha-usaha peternakan dan perikanan memberikan bantuan terhadap berhasilnya revegetasi hutan; karakteristik sosial masyarakat sekitar hutan seperti ikatan gotong royong dan kekeluargaan antara anggota masyarakat berkonttribusi terhadap revegetasi hutan; kelembagaan masyarakat yaitu lembaga masyarakat desa hutan merupakan wadah untuk masyarakat dalam berhasilnya revegetasi hutan; ketersediaan sarana dan prasarana masyarakat desa seperti akses jalan yang sudah beraspal, alat transportasi dan jaringan komunikasi,
xi
fasilitas pendidikan dan kesehatan berkontribusi dalam berhasilnya revegetasi hutan Gunung Arjuna. Sebagian besar responden menyatakan persetujuannya bahwa sumberdaya manusia, ekonomi, sosial, kelembagaan dan sarana dan prasarana masyarakat sekitar hutan berkontribusi terhadap revegetasi hutan Gunung Arjuna. Persepsi responden menjelaskan bahwa faktor kelembagaan lokal, sarana dan prasarana mempunyai peranan lebih tinggi dibandingkan faktor-faktor lainnya dalam pemberdayaan masyarakat untuk revegetasi hutan Gunung Arjuna. Peranan lembaga pengelola hutan seperti LMDH Desa Leduk, Jatiarjo dan Dayurejo semakin jelas secara fungsional, dan melakukan kerja sama dengan Perum Perhutani dalam pengelolaan hutan bersama masyarakat dengan prinsip kemitraan. Lembaga masyarakat desa hutan memiliki hak kelola di petak hutan pangkuan di wilayah desa Leduk, Jatiarjo dan Dayurejo, dimana lembaga tersebut berada, bekerjasama dengan Perum Perhutani dan mendapat bagi hasil dari kerjasama tersebut. Sarana dan prasarana juga mempunyai peranan lebih tinggi dibandingkan faktor-faktor lainnya dalam pemberdayaan masyarakat untuk revegetasi hutan Gunung Arjuna. Sarana dan prasarana sebagai fasilitas yang digunakan sebagai alat dan pendukung pemberdayaan masyarakat Desa Ledug, Jatiarjo dan Dayurejo antara lain akses jalan desa, alat transportasi desa, prasarana air bersih, prasarana fasilitas kesehatan dan fasilitas pendidikan.
Kondisi geografi kemiringan lahan penanaman seperti miring, berbukit-bukit, curam dan tanah berbatu-batu berkontribusi terhadap keberhasilan revegetasi hutan; kondisi kedalaman tanah seperti tingkat kesuburan, daya serap tanah terhadap air dan erosi berkontribusi terhadap keberhasilan revegetasi hutan. Kondisi kemiringan lahan area sekitar sumber mata air untuk revegetasi hutan Gunung Arjuna adalah kecuraman lereng 15o sampai dengan dibawah 30o, kondisi tersebut menyatakan area yang miring dan berbukit. Kondisi kedalaman tanah efektif area sekitar sumber mata air untuk revegetasi hutan Gunung Arjuna adalah kondisi permukaan tanah berkurang karena erosi pada waktu musim hujan. Pengamatan kedalaman tanah efektif di area sekitar sumber mata air masuk sedang, yaitu kedalaman tanah 50-90 cm. Sebagian besar responden menyatakan persetujuannya bahwa kondisi kemiringan lahan dan kedalaman tanah efektif berkontribusi terhadap keberhasilan revegetasi hutan Gunung Arjuna. Persepsi responden menjelaskan bahwa faktor faktor kemiringan lahan dan kedalaman tanah efektif sama-sama memberikan kontribusi terhadap keberhasilan revegetasi hutan Gunung Arjuna. Faktor kelerengan di lokasi revegetasi sumber mata air Lajer, Dawuan, Sumber Kuning dan Watu Pereng berpengaruh terhadap erosi yang terjadi, semakin besar presentase kemiringan pada suatu lereng akan memberikan daya erosivitas pada hujan yang semakin besar, dan kerusakan vegetasi hutan. Sementara kedalaman tanah efektif adalah kedalaman tanah yang masih dapat ditembus akar tanaman. Pengamatan kedalaman tanah efektif dilakukan dengan mengamati persebaran akar tanaman. Banyaknya perakaran, baik akar halus maupun akar kasar, serta dalamnya akar-akar tersebut dapat menembus tanah dan bila tidak dijumpai akar tanaman, maka kedalaman efektif ditentukan berdasarkan kedalaman solum tanah. Semakin dalam kedalaman tanah, maka bahan organik atau unsur hara memegang peranan penting untuk tanaman semakin berkurang dan tidak produktif tanah yang dihasilkan.
Revegetasi hutan Gunung Arjuna yang dimulai sejak tahun 2013 yang mencakup kegiatan pemilihan spesies tanaman, pembibitan, pemupukan, penanaman dan perawatan dapat bermanfaat terhadap pelestarian area di sekitar sumber mata air Lajer, Dawuan, Sumberkuning dan Watupereng. Penutupan vegetasi memegang peranan penting dalam pengaturan sistem hidrologi, yang dapat menyekap air hujan dan mengatur pengalirannya sehingga mengurangi kecenderungan banjir dan
xii
menjaga aliran air di musim kemarau. Fungsi tersebut akan hilang jika vegetasi di daerah aliran sungai yang lebih tinggi hilang atau rusak. Pemilihan spesies tanaman vegetasi seperti tanaman bambu, kaliandra, rotan, beringin, sono, kluwek, kluweh, rengas, kesambi, trengguli dan pohon asem dapat memberikan manfaat pelestarian area di sekitar sumber mata air Lajer, Dawuan, Sumberkuning dan Watupereng. Pembibitan tanaman seperti bibit tanaman bersertifikat dan tinggi bibit seragam minimal 2 meter memberikan manfaat tumbuhnya tanaman dan pelestarian area di sekitar sumber mata air Lajer; Dawuan, Sumberkuning dan Watupereng. Kegiatan pemupukan tanaman seperti jenis pupuk organik (pupuk kandang) dan pupuk anorganik (nitrogen, phospor & kalium), pemupukan tanaman dilakukan di awal tanam, dan secara terus menerus setiap selang 3 bulanan, sampai umur tanaman 3 tahun memberikan manfaat tumbuhnya tanaman dan pelestarian area di sekitar sumber mata air Lajer; Dawuan, Sumberkuning dan Watupereng. Kegiatan penanaman pohon seperti seperti menerapkan peraturan pemerintah desa pelanggar kerusakan hutan, ukuran jarak dan lebar tanaman revegetasi 3 meter x 3 meter (300 pohon/ha) dan menerapkan prosedur yaitu membuat lubang dan tanam bibit pohon dengan posisi tegak, sedalam 3 cm dari leher akar, dan tutup kembali tanah, memberikan manfaat tumbuhnya tanaman dan pelestarian area di sekitar sumber mata air Lajer; Dawuan, Sumberkuning dan Watupereng. Kegiatan perawatan tanaman meliputi: membersihkan tanaman dari rumput, menyiangi tanaman, membuat sekat bakar ketika musim kemarau, melaporkan hasil perawatan kepada LMDH setiap 1 bulan sekali, memberikan manfaat tumbuhnya tanaman dan pelestarian area di sekitar sumber mata air Lajer; Dawuan, Sumberkuning dan Watupereng. Persepsi responden menjelaskan bahwa faktor-faktor jenis tanaman dan perawatan tanaman mempunyai peranan lebih tinggi dibandingkan faktor-faktor lainnya dalam revegetasi hutan untuk pelestarian sumber mata air di Gunung Arjuna. Hasil revegetasi hutan untuk pelestarian area sumber mata air di Gunung Arjuna, selama periode tahun 2014 sampai dengan 2017 dengan hasil sebagai berikut: (1) revegetasi hutan tahap pertama area sumber mata air Lajer tahun 2014, jumlah pohon 3000, dengan luasan 10 hektar, prosentase pohon hidup 94%, dan debit air sumber mata air adalah 10,35 liter/detik; (2) revegetasi hutan tahap kedua area sumber mata air Dawuhan tahun 2015, jumlah pohon 1500, dengan luasan 15 hektar, prosentase pohon hidup 92%, dan debit air sumber mata air adalah 25,47 liter/detik; (3) revegetasi hutan tahap ketiga area sumber mata air Sumber Kuning tahun 2016, jumlah pohon 5000, dengan luasan 25 hektar, prosentase pohon hidup 86%, dan debit air sumber mata air adalah 10,25 liter/detik; (4) revegetasi hutan tahap keempat sumber mata air Watu Pereng tahun 2017, jumlah pohon 8000, dengan luasan 46 hektar, prosentase pohon hidup 99%, dan debit air sumber mata air adalah 0,80 liter/detik. Sebagian besar responden menyatakan persetujuannya bahwa kegiatan revegetasi hutan seperti pemilihan spesies tanaman, pembibitan, pemupukan, penanaman dan perawatan berkontribusi terhadap keberhasilan pelestarian area di sekitar sumber mata air. Sebagian besar responden menyatakan persetujuannya bahwa profil tanaman vegetasi hutan seperti stratifikasi vegetasi, kekayaan burung, kekayaan taksonomi, kerapatan tanaman menggambarkan kondisi pelestarian hutan dan area disekitar sumber mata air. Sebagian besar responden menyatakan persetujuannya bahwa kondisi debit sumber mata air di musim penghujan tetap besar dan airnya jernih, kondisi debit sumber mata air di musim kemarau tetap besar dan airnya jernih, lahan tidak mengalami erosi di waktu musim penghujan dan manfaat air untuk masyarakat tetap ada, point-point tersebut menjelaskan bahwa kondisi pelestarian area di sekitar sumber mata air tetap terjaga.Formulasi atau bentuk model pemberdayaan masyarakat sekitar hutan yaitu masyarakat Desa Leduk, Jatiarjo dan Dayurejo yang berbasis revegetasi Gunung
xiii
Arjuna dan pelestarian area di sekitar sumber mata air Lajer, Dawuan, Sumberkuning dan Watupereng adalah kegiatan pengembangan lembaga masyarakat desa hutan (LMDH), sarana dan prasarana, dan merupakan kebaruan penelitian disertasi ini. Persepsi responden menjelaskan bahwa faktor kelembagaan lokal, sarana dan prasarana mempunyai peranan lebih tinggi dibandingkan faktor-faktor lainnya dalam pemberdayaan masyarakat berbasis revegetasi hutan Gunung Arjuna dan pelestarian area di sekitar sumber mata air. Bentuk pengembangan lembaga masyarakat desa hutan (LMDH) antara lain penguatan struktur organisasi LMDH Mulyorejo Lestari Kelurahan Leduk, LMDH Ngudi Lestari Desa Jatiarjo dan LMDH Indrokilo Manunggal Desa Dayurejo; LMDH bertanggung jawab dalam perencanaan penanaman mencakup pemilihan spesies dan pembibitan tanaman. LMDH bertanggung jawab dalam pelaksanaan revegetasi hutan mencakup kegiatan penanaman, pemupukan dan perawatan secara intensif selama 3 tahun. LMDH bersama Perhutani, stakeholder lainnya bertanggung jawab dalam monitoring pertumbuhan tanaman setiap 3 bulan sekali. LMDH bertanggung jawab dalam melakukan tindakan perbaikan terhadap tanaman yang rusak dan mati karena hama dan kondisi alamiah. LMDH merupakan wadah bagi masyarakat Kelurahan Leduk, Desa Jatiarjo dan Dayurejo untuk terlibat aktif dalam pelaksanaan program revegetasi hutan (perencanaan, pembiayaan, organisasi, pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi, serta pelaporan). Pengembangan LMDH dalam melakukan kerjasama dengan PT. Sorini Agro Asia Corporindo, Perhutani dan Lembaga Lingkungan Cempaka dan Kaliandra secara berkelanjutan dalam palaksanaan revegetasi hutan dan pelestarian area disekitar sumber mata air. Bentuk pengembangan sarana dan prasarana di Kelurahan Leduk, Desa Jatiarjo dan Dayurejo dalam pemberdayaan masyarakat berbasis revegetasi hutan Gunung Arjuna dan pelestarian area di sekitar sumber mata air antara lain: (1) pembangunan dan perbaikan akses jalan dengan menggunakan program dana Desa; (2) meningkatkan kualitas sarana transportasi desa yaitu angkutan desa mikrolet; (3) perbaikan fasilitas air bersih untuk masyarakat Kelurahan Leduk, Desa Jatiarjo dan Dayurejo; (4) perbaikan kualitas layanan kesehatan di Puskesmas pembantu Kelurahan Leduk, Desa Jatiarjo dan Dayurejo dan (5) perbaikan kualitas layanan pendidikan yaitu peningkatan fasilitas di sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SLTP) untuk masyarakat di Kelurahan Leduk, Desa Jatiarjo dan Dayurejo
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT NELAYAN DI KABUPATEN PASURUAN: KAJIAN PENGEMBANGAN MODEL PEMBERDAYAAN SUMBERDAYA MANUSIA DI WILAYAH PESISIR PANTAI
Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian pengabdian masyarakat civitas akademikaUniversitas Yudharta adalah (1) untuk mengetahui pola hidup nelayan (kondisi sosial,ekonomi dan budaya), dan upaya pendekatan ilmu pengetahuan dan teknologi apa sajayang dapat dilakukan untuk merubah kehidupan yang lebih baik; (2) untuk mengetahuimodal usaha yang dimiliki nelayan, dan upaya ilmu pengetahuan dan teknologi apa sajayang dapat dilakukan untuk merubah kehidupan yang lebih baik; (3) untuk merumuskankonsep kebijakan pemberdayaan masyarakat nelayan yang tepat, untuk merubahkehidupan nelayan yang lebih baik. Metode penelitian yang digunakan dalam kegiatanpengabdian masyarakat ini action research, dengan fokus (1) pola hidup nelayan (kondisisosial, ekonomi dan budaya); (2) modal usaha yang dimiliki nelayan dan (3) konsepkebijakan pemberdayaan masyarakat nelayan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1)pola hidup nelayan, yaitu interaksi sosial dan budaya masyarakat nelayan KabupatenPasuruan masih kuat, sementara tingkat pendapatan dan kesempatan berusaha masihrendah. Metode pelatihan dan pengembangan diversifikasi usaha produk perikanan dapatmeningkatkan pendapatan ekonomi nelayan; (2) modal usaha nelayan yaitu aset yangdimiliki nelayan dan peluang pengembangannya, manajemen modal usaha nelayan sertaakseptabilitas pengembangan modal usaha belum memberikan pengaruh terhadappeningkatan pendapatan ekonomi masyarakat nelayan. Metode pelatihan dan pengembangan manajemen kewirausahaan ekonomi mikro dapat meningkatkanpendapatan ekonomi nelayan; (3) konsep kebijakan pengembangan ekonomi produktifusaha pengolahan hasil perikanan yang berkelanjutan, dengan metode pelatihan danpendampingan keluarga nelayan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat nelayan
UJI BIOLOGIS EKSTRAK KASAR DAN ISOLAT ALBUMIN IKAN GABUS (Ophiocephalus striatus) TERHADAP BERAT BADAN DAN KADAR SERUM ALBUMIN TIKUS MENCIT
Tujuan penelitian ini untuk menentukan kualitas biologis ekstrak kasar dan isolat albumin ikan gabus yang optimal terhadap berat badan dan kadar serum albumin tikus mencit. Analisa data penelitian ini adalah uji kualitas biologis ekstrak kasar dan isolat albumin pada tikus mencit, perbedaan hasil tiap perlakuannya dianalisa dengan Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktor tunggal. Hasil terbaik uji kualitas biologis ekstrak albumin kasar dan isolat albumin pada tikus Mencit (Mus musculus L.) adalah berat badan tertinggi 28,48 g, pada mencit yang diberi perlakuan ekstrak albumin kasar. Kadar albumin serum tertinggi 2,22 g/dl pada mencit yang diberi perlakuan ekstrak albumin kasar.
- …
