1,720,975 research outputs found
DETERMINING A SUFFICIENT DEPTH OF PILE FOUNDATION ON THE PERTAMINA GRAVING DOCK DESIGN SORONG PAPUA
Engineering geological aspect and bearing capacity of pile foundation are significant for safety of upper structure, especially for substantial constructions such as a docking ship. Moreover, it provides effectiveness and cost efficiency when applies in rural areas of Indonesia. This is due to lack of docking ship appropriately built at rural areas particularly in eastern areas of Indonesia. Karim island of Papua even though is a small island yet is very strategic as Pertamina place its transitory function on that island connecting its oil supply route to Sorong. Appropriate docking ship construction is required to aim the effective and efficient port management. Choosing the most suitable structure for a docking is also the key. Graving dock structure has been chosen by Pertamina as the most appropriate type of structure for the docking ship in Karim Island. The structure of graving dock planned to be built in Karim island Papua, is projected to be able to serve the maximum 7500 DWT ship capacity, with approximately dimension is 125 x 25 x 8 meters. Therefore, to support the plan, type and design of the best foundation is the key. There are two methods could be done in determining the type and bearing capacity foundation. Field and laboratory test applied ASTM, field observation result by applying Meyerhoff theory and laboratorial analysis derived from Tarzaghi theory. Those observation and analysis has confirmed that the soil layer at the graving dock design consists of three layers, those are; cover layer, silt-clay layer and clay rock unit. Therefore, the most suitable foundation to be constructed in that area is a pile massive foundation, with depth of pile foundation approximately -20 m below the land surface, and the ultimate point load pile massive for 30x30 cm – 75x75 cm dimension approximately 79.76 – 406.25 ton, and frictional resistance value approximately 24.59 – 61.48 ton.
Keyword : Pile Pondation, bearing capacity, Graving dock
Aspek geologi teknik dan besarnya nilai kapasitas suatu pondasi tiang pancang merupakan suatu hal yang sangat penting demi keamanan pembangunan struktur bagian atas, khususnya untuk bangunan yang besar dan tinggi. Pembuatan dok kapal menjadi tuntutan yang tak bisa dielakkan demi terlengkapinya manajemen pelabuhan yang efektif dan efisiensi pada daerah yang terpencil. Bangunan graving dock kapal yang direncanakan pada Pulau Karim Papua, diproyeksikan untuk dapat melayani kapal dengan kapasitas maksimal 7500 DWT, dengan dimensi berkisar 125 x 25 x 8 meter. Jenis dan perencanaan pondasi yang tepat sangat penting guna menunjang keamanan bangunan graving dock itu sendiri. Metoda yang digunakan untuk mengetahui jenis pondasi dan daya dukung pondasi didapat dari hasil uji lapangan dan laboratorium. Pengujian lapangan dan laboratorium berdasarkan ASTM, analisis data lapangan mempergunakan metoda Mayerhoff sedangkan analisis data laboratorium mempergunakan metoda Terzaghi. Lapisan tanah pada rencana graving dock terdiri dari tiga bagian yaitu; lapisan penutup, lempung lanauan dan satuan batuan lempung. Untuk itu jenis pondasi yang dipilih adalah pondasi tiang pancang massif. Kedalaman pemancangan pondasi berkisar -20m dari muka tanah. Hasil analisis menunjukkan kuat tekan tiang pancang massif untuk diameter 30x30 cm hingga 75x75 cm berkisar 79.76 – 406.25 ton, sedangkan untuk nilai tarik berkisar dari 24.59 hingga 61.48 ton.
Kata Kunci : Tiang pancang, nilai kapasitas, Graving doc
KONDISI HIDRODINAMIKA PERAIRAN SUNGAI LIAT BANGKA BERDASARKAN MODEL MIKE 21-HD-AD SEHUBUNGAN DENGAN MORFOLOGI AKIBAT PENAMBANGAN DI LAUT
Penambangan timah di perairan sekitar Sungai Liat- Bangka oleh kapal keruk dan hisap telah menyebabkan terjadinya perubahan kondisi dasar laut yang sangat besar dengan ditemukannya batimetri yang sangat tidak beraturan di sekitar wilayah foreshore, terutama pada bagian barat muarasungai.
Pendekatan model numerik dengan menggunakan software Mike 21 HD-AD menjadi metode pilihan untuk mendapatkan gambaran kondisi hidrodinamika sekitar muara dan garis pantai sekitar Sungai Liat. Berdasarkan hasil simulasi didapatkan bahwa dengan perkiraan pelaksanaan kegiatan penambangan 24 jam sehari selama 15 hari model operasi maka kondisi sebaran buangan akan terbawa hingga jarak terjauh 15 km ke arah selatan, sementara sebaran bergerak ke arah utara sejauh 5 km dari lokasi sumber buangan. Waktu yang dibutuhkan untuk sebaran mencapai garis pantaiadalah 27 jam setelah penambangan dioperasikan. Sementara nilai kecepatan arus maksimum pada saat bulan penuh sebesar 1.5 m/det dengan arah arus dominan ke utara sementara pada saat bulan mati kecepatan maksimum sebesar 1.2 m/det dengan arah arus dominan ke tenggara.
Kata kunci : Kondisi Hidrodinamika Sungai Liat, Model Numerik, Buangan Tambang
The mining activities using dredging vessel and suction vessel that have done near river mouth of Sungai Liat and along coast line yielded a big deformation of sea floor bathymetry at foreshore especially west side a river mouth.
Mike 21 HD-AD software as numerical model was selected as method to describe hydrodynamic conditions around river mouth and along coastline near the Sungai Liat River. Based on simulations where the mining operation is predicted 24 hours a day within 15 days operation model therefore a range of outsource dispersion of 15 km to south while 5 km flows to the north from the mine dumps position. A dispersion of mine dumps would be achieve a coastline in 27 hours since the mining begun. In addition, maximum current in spring time shows 1.5 m/sec to the north direction whereas in neap time the current shows 1.2 m/sec to the southeast direction.
Keywords: Hydrodynamic Condition, Sungai Liat, Numerical Model, Mine dump
MODEL 2D PENGARUH GAYA HORIZONTAL ARUS PADA PEMECAH GELOMBANG DI TPI PANCER JAWA TIMUR
Perencanaan pemecah gelombang yang baik seharusnya dilakukan tidak hanya dengan mempertimbangkan aspek geologi dan geoteknik namun juga arus sebagai gaya horizontal yang bekerja pada pemecah gelombang. Berdasarkan desain pemecah gelombang pada penelitian terdahulu, maka dilakukan analisa pemodelan pemecah gelombang yang difokuskan pada parameter arus yang bekerja di struktur pemecah gelombang. Kecepatan arus ditransformasikan menjadi gaya horizontal untuk masing-masing skenario model, dimana model dibuat dalam bentuk dua dimensi elemen terbatas dengan analisis linear elastis untuk setiap skenario model. Model telah dibuat dengan menerapkan 8 meter tinggi pemecah gelombang dan 1kN/m2 gaya horizontal untuk disimulasikan. Berdasarkan hasil yang didapatkan maka dapat diketahui bahwa perpindahan terbesar yang terjadi adalah sebesar 46,25 x 10-3 m. Sehingga gaya arus dapat dikatakan tidak menyebabkan keruntuhan atau perubahan yang besar pada struktur pemecah gelombang.
Kata Kunci: Gaya Arus, Pemecah Gelombang TPI Pancer, Plaxis V.8.2
Achieving a good design of a breakwater should be completed not only considering a geology and geotechnical aspect but also calculating a current as horizontal force. Based on previous breakwater design thus, it has been completed analysis of breakwater model where a model was created with concentrate within current force on breakwater. Current velocity is transformed to horizontal force where two dimension finite element and linear elastic model were applied for each model scenarios.
Model has been created within 8 meters high of breakwater and 1 kN/m2 of current force to be simulated. Based on the result, it can be seen the biggest displacement that occurred 46,25*10-3 m. Therefore, the breakwater does not have a big deformation or failure that caused by current force.
Keywords: Current forces, Breakwater, TPI Pancer, Plaxis V.8.
DESAIN KAPASITAS TIANG PANCANG BULAT UNTUK LAPISAN SEDIMEN KOHESIF PADA RENCANA AS JETTY MARINE CENTER, CIREBON-JAWA BARAT
Pemboran geoteknik pada daerah perairan dengan lapis sedimen yang bersifat kohesif merupakan hal yang cukup menarik, tidak saja dari segi teknis pelaksanaan pemboran namun juga dalam tahapan selanjutnya yaitu analisis hasil pemboran dan aplikasi desain yang dibuat. Lapisan sedimen kohesif pada perairan yang umumnya berada dalam kondisi jenuh perlu mendapatkan pertimbangan khusus untuk menentukan dimensi dari aplikasi struktur bagian bawah pada rencana pengembangan infrastruktur yang sedang dibuat.
Berdasarkan alternatif dimensi dan rencana peletakan tiang pancang, dengan rencana pembangunan trestle untuk kapal 7000 DWT maka tiang pancang dengan diameter 40 cm yang dipancangkan pada kedalaman -14 m dan maksimum -20 meter dari dasar laut sudah cukup efisien.
Kata Kunci : Cirebon, Kapasitas Tiang Pancang, Marine Center PPPGL
A geotechnical drilling, especially within the area where has a cohesive sediment is very fascinating, it is not only in term of the drilling technique but also analyze the drilling result and the application. In general, a cohesive sedimen in waters area is saturated therefore the determination of dimension of a basement structure being a special attention to determine a dimension of basement structure in term of planning an infrastructure development.
Based on dimension alternative and the depth of the piling, with trestle planning for 7000 DWT vessel, the pile with 40 cm of diameter could be efficient in depth between -14 m and -20 m from sea floor.
Keywords : Cirebon, Pile Capacity, Marine Center PPPG
THE SAFETY FACTOR ANALYSIS OF THE MARINE SLOPE STABILITY MODEL ON THE ACCESS CHANNEL OF MARINE CENTRE PLAN CIREBON, WEST JAVA.
This study is focused on access channel model that safety factors of some slopes stability would be investigated. Plaxis version 8 is applied to analyze a magnitude of safety factors and displacements based on three different slopes of access channel there are 30°, 45° and 60°. Furthermore, parameters are adopted from geotechnical drilling and laboratory tests. A finite element is applied as a simple model to analyze within a Mohr-coulomb equation. Based on soil data analyses on Marine Center Plan, indicates low safety factor and high deformation. As results, 10 to 40 meters deformation of the slopes and 0.80 to 2.34 of safety factor are obtained of the models. For that reason, a combination between slope channel and infrastructure must be considered.
Keywords: Safety factor, slope stability, access channel, Marine centre, Plaxis
Kajian ini dilakukan terhadap faktor keamanan dari beberapa jenis kemiringan dinding alur pelayaran yang selanjutnya dilakukan pemodelan dengan menggunakan alur pelayaran Besarnya keruntuhan dan faktor keamanan pada beberapa sudut kemiringan yang berbeda telah dianalisis dengan menggunakan perangkat lunak geoteknik Plaxis Versi 8. Tiga jenis kemiringan yang berbeda telah dibuat yaitu sudut kemiringan 30°, 45° dan 60°. Sebagai data masukan, parameter diambil berdasarkan hasil pemboran geoteknik yang telah dianalisis di laboratorium. Model sederhana elemen terbatas telah dibuat dan dianalisis berdasarkan persamaan Mohr-Coulumb. Berdasarkan analisis data tanah pada rencana Marine Centre menunjukan faktor keamanan yang rendah dan deformasi yang besar. Total deformasi yang dihasilkan berkisar 10-40 meter dengan nilai faktor keamanan 0,80~2,34. Oleh karena itu, dari hasil tersebut perlu dipertimbangkan untuk mengkombinasikan kemiringan alur dengan infrastruktur.
Kata kunci : faktor keamanan, kemiringan lereng, alur pelayaran, Marine centre, Plaxi
MODEL PENURUNAN SEDIMEN PERMUKAAN DASAR LAUT PADA DASAR RENCANA PEMECAH GELOMBANG DI TELUK PANCAMAYABANYUWANGI - JAWA TIMUR
Demi menghasilkan pemecah gelombang yang aman, maka perlu dilakukan analisis geologi dan geoteknik kelautan. Analisis ini akan memberikan informasi tentang kondisi fisik sedimen laut yang mengalami suatu perubahan pembebanan akibat adanya infrastruktur kelautan. Berdasarkan hasil analisis Plaxis versi 8, maka dapat diketahui bahwa besarnya nilai total deformasi yang disebabkan oleh beban struktur setinggi 8 meter dan gaya arus sebesar 1 kN/m2 adalah sebesar 72,77*10-3 m. Lapis sedimen sekitar badan dan kaki pemecah gelombang memiliki nilai deformasi ekstrem yang lebih merata sedangkan nilai ekstrem deformasi terjadi pada tengah struktur di kedalaman -5,50 meter.
Kata Kunci : pemecah gelombang, perangkat lunak Plaxis versi 8, deformasi ekstrem, Pancamaya Banyuwangi
Marine geology and geotechnical analyses are indeed important in order to get a safe breakwater design. To build a safe infrastructure, these analyses would produce a model to describe the displacement condition of marine sedimen. Applying 8 meters height of breakwater and 1 kN/m2 current, the Plaxis software v.8 gave a result 72,77*10-3 m of total deformation. In addition, an extreme deformation occurred in the middle of -5,50 meters breakwater, while equilibrium deformation occurred around areas between toe and breakwater body.
Keywords : breakwater, Plaxis software v.8, extreme deformation, Pancamaya Banyuwang
ANALYSIS OF EROSION AND SEDIMENTATION PATTERNS USING SOFTWARE OF MIKE 21 HDFM-MT IN THE KAPUAS MURUNG RIVER MOUTH CENTRAL KALIMANTAN PROVINCE
The public transportation system along the Kapuas River, Central Kalimantan are highly depend on water transportation. Natural condition gives high distribution to the smoothness of the vessel traffic along the Kapuas Murung River. The local government has planned to build specific port for stock pile at the Batanjung which would face with natural phenomena of sedimentation and erosion at a river mouth. Erosion and sedimentation could be predicted not only by field observing but it is also needed hypotheses using software analysis. Hydrodynamics and transport sediment models by Mike 21 HDFM-MT software will be applied to describe the position of sedimentations and erosions at a river mouth. Model is assumed by two different river conditions, wet and dry seasons. Based on two types of conditions the model would also describe the river flow and sediment transport at spring and neap periods. Tidal fluctuations and a river current as field observation data would be verified with the result of model simulations. Based on field observation and simulation results could be known the verification of tidal has an 89.74% correlation while the river current correlation has 43.6%. Moreover, based on the simulation the sediment patterns in flood period have a larger area than ebb period. Furthermore, the erosion patterns dominantly occur during wet and dry season within ebb period. Water depths and sediment patterns should be considered by the vessels that will use the navigation channel at a river mouth.
Keywords: Kapuas Murung River, software Mike 21 HDFM-MT, erosion and sedimentation pattern
Penduduk yang berada di sepanjang Sungai Kapuas sangat bergantung pada transportasi air. Kelancaran lalu lintas kapal di sepanjang Sungai Kapuas Murung sangat tergantung dengan kondisi alam yang terjadi. Rencana pemerintah daerah yang akan membangun pelabuhan khusus batubara di Batanjung akan berhadapan dengan fenomena alam yang umum terjadi di muara sungai yaitu sedimentasi dan erosi. Prediksi akan terjadinya sedimentasi dan erosi tidak hanya ditunjang pengamatan lapangan namun juga perlu dilakukan dengan melakukan hipotesa menggunakan bantuan analisis software. Penelitian ini akan menggambarkan posisi sedimentasi dan erosi di sekitar muara dengan pemodelan hidrodinamika dan transport sedimen yang menggunakan Software MIKE 21 HDFM-MT. Model dibuat dengan mengasumsikan kondisi sungai pada saat musim hujan dan musim kemarau. Berdasarkan dua kondisi tersebut model akan menggambarkan sebaran arus dan sebaran sedimen untuk periode bulan baru dan perbani. Data lapangan pasang surut dan kecepatan arus akan diverifikasi ke hasil simulasi model. Berdasarkan data hasil pengukuran lapangan dan data hasil simulasi model maka dapat diketahui bahwa verifikasi nilai pasang surut menunjukkan korelasi sebesar 89.74% sedangkan verifikasi nilai arus sebesar 43.6%. Selanjutnya dari hasil simulasi didapatkan bahwa pada saat pasang, gambaran posisi sedimentasi banyak terdapat pada bagian timur muara sungai dengan penyebaran cukup luas sedangkan pada kondisi surut area lebih sedikit. Selanjutnya gambaran daerah yang tererosi banyak terjadi pada saat air surut baik untuk musim hujan maupun kemarau. Kapal yang akan menggunakan muara sebagai alur pelayaran harus mempertimbangkan kondisi kedalaman air yang ada dan juga pola sedimentasi yang terjadi.
Kata kunci: Sungai Kapuas Murung, software Mike 21FM HD-MT, erosi dan pola sedimentas
MODEL SEDERHANA 2-DIMENSI ARAH PERGERAKAN SEDIMEN DI SUNGAI PORONG JAWA TIMUR
Model numerik MIKE 21 modul transport sedimen digunakan untuk mengetahui respon pergerakan lumpur Sidoarjo pada saat musim hujan dan musim kemarau dan pengaruh tanggul yang berada di muara Sungai Porong. Data yang digunakan adalah pasang surut muka air laut, kedalaman air, debit sungai, arus dan konsentrasi sedimen. Simulasi dilakukan dengan membuat dua skenario, yaitu pada saat kondisi musim hujan dan pada saat musim kemarau. Hasil simulasi model hidrodinamika di verifikasi dengan data lapangan untuk mendapatkan nilai korelasi. Verifikasi meliputi data muka air dan kecepatan arus baik arah –x maupun –y.
Berdasarkan hasil verifikasi didapatkan nilai korelasi muka air sebesar 0.8641 sementara arus bernilai 0.1493 untuk sumbu –x dan 0.1917 untuk sumbu –y. Selanjutnya hasil simulasi model menunjukkan konsentrasi sedimen pada tanggal 27 November 2007 merupakan puncak tertinggi dengan nilai 3.2x10-3 kg/m3 untuk musim hujan sementara untuk musim kemarau konsentrasi sedimen bernilai 0.0x10-3 kg/m3.
Kata kunci : Model Numerik, Pergerakan Lumpur, Sungai Porong.
Numerical model of MIKE 21 sediment transport module was applied to recognize the response of mud flow respective in rainy and dry season and also to get information of dike effect at the river mouth. Data that used in this simulation was tide, water depth, river discharge, current and sediment concentration. The simulations were created for two scenarios, therefore dry season and wet season. The result of the simulation model verified with observation data to see the correlation value. The verification are covering water level data and current magnitude of –x and –y axis.
Based on the verification result, the correlation value of water level has a value 0.8641 meanwhile for the current the correlation value have magnitude 0.1493 of x-axis and 0.1917of y-axis. Moreover, the maximum value of sediment concentration could be seen at November 27th 2007 with 3.2x10-3 kg/m3 at the wet season and 0.0x10-3 kg/m3 for dry season.
Keywords: Numerical Model, Mud Movement, Porong Rive
KONDISI ARUS PASANG SURUT DAN EROSI-SEDIMENTASI DI SEKITAR GARIS PANTAI DEPAN PLTU TARAHAN LAMPUNG MENGGUNAKAN DELFT 3D VERSI 3.28
Model numerik dilakukan dengan menggunakan software Delft 3D versi 3.28, dimana seluruh input data pada simulasi didapatkan dari pengukuran lapangan pada April 2011. Flow model diaplikasikan untuk mensimulasikan arus dan sedimen transport. Garis pantai di depan PLTU dibagi menjadi tujuh bagian yang berlokasi dari bagian selatan hingga utara PLTU sebagai area pantau. Berdasarkan hasil simulasi, maka dapat diketahui bahwa erosi banyak terjadi pada bagian selatan dari pada bagian utara PLTU. Simulasi model 15 hari menunjukkan bahwa bagian ke 6 dimana posisi inlet dan outlet berada menghasilkan sedimentasi yang lebih besar dari bagian yang lain. Mengingat saluran inlet dan outlet berada pada bagian ke 6 maka perhatian besar perlu diberikan pada bagian tersebut mengingat simulasi ini hanya 15 hari. Seperti diketahui bahwa saluran inlet dan outlet digunakan sebagai pendingin, sementara lokasi saluran tersebut berada pada garis pantai di depan PLTU. Untuk itu, gaya arus akibat sirkulasi pasang-surut dan transport sedimen di sepanjang garis pantai tersebut menjadi perhatian penting untuk diselidiki mengingat pentingnya kelangsungan kondisi garis pantai terhadap fenomena erosi dan sedimentasi.
Kata kunci : Arus pasang surut, erosi-sedimentasi, garis pantai, PLTU Tarahan, Delft 3D Versi 2.8
A numerical model is conducted by using a Delft 3D version 3.28, that the entire input data used in simulation was resulted by field activities in April 2011. A flow model is applied to simulate current flow and transport sediment. A coastline in front of the plant is divided into seven sections which are located from the south to the north as the monitoring area. Based on the simulation result, it could be identified that the erosion much more occurred in the southern part than in the northern part. The 15 day model simulation indicates that in the section 6, where the inlet and outlet is located, the sedimentations are bigger than that in other sections. Since the inlet-outlet channels are positioned in section 6 therefore the high awareness must be considering as the time simulation is only apllied in 15 days. Inlet and outlet of the water channels are used as cooler, which are located in front of the plant. Therefore, the current flow due to the tidal circulation along the coastline should be paid attention to investigate in managing the sustainability of the coastline against erosion and sedimentation phenomena.
Keywords: Tidal currents, erosion-sedimentation, coastline, PLTU Tarahan, Delft 3D Version 2.
- …
