7 research outputs found
Analisis Interaksi Senyawa Guvakolin dan Homoarekolin terhadap MAO-A secara in Silico
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji penghambatan aktivitas enzim MAO-A (PDB ID: 2Z5Y) oleh senyawa aktif Areca catechu L. Metode yang digunakan adalah pendekatan secara in silico menggunakan AutoDock Vina, PyMol, dan Discovery Studio (DSV). Sifat farmakokinetik dan drug-likeness diprediksi menggunakan situs online Swiss-ADME. Hasil simulasi docking didapat bahwa guvakolin memiliki nilai energi bebas ikatan terkecil yaitu -5,9 kcal/mol dibandingkan dengan homoarekolin (-5,4 kcal/mol) dan kontrol positif (-5,7 kcal/mol). Senyawa guvakolin memiliki 1 ikatan hidrogen terhadap situs aktif enzim. Prediksi sifat farmakokinetik senyawa biji pinang didapatkan hasil yang baik, namun tidak begitu baik pada parameter BBB. Senyawa memenuhi parameter aturan Lipinski, Veber, bioavailability score, namun senyawa guvakolin tidak dapat memenuhi aturan Ghose. Hasil radar biovaibilitas menunjukkan senyawa aktif biji pinang memenuhi sifat sebagai obat oral.This study was aimed to conduct the inhibitory activity of the MAO-A enzyme (PDB ID: 2Z5Y) by the active compounds of Areca catechu L. The method used is in silico approach using AutoDock Vina, PyMol, and Discovery Studio (DSV). The prediction of pharmacokinetic properties and drug-likeness used the Swiss-ADME online website. The docking results exhibited guvacoline has a binding free energy value of -5.9 kcal / mol compared to homoarecoline (-5.4 kcal / mol), and positive control (-5.7 kcal / mol). Guvacoline compounds have a hydrogen bond in the active site of the enzyme. Areca nut compounds obtained good results on pharmacokinetic properties, but not so good on the BBB parameter. The compounds obtained good results for the parameters of the Lipinski, Veber rule, bioavailability score, but the guvacoline compounds could not meet Ghose's rule. The results of the bioavailability radar showed that the compounds have properties as oral drug
Biodegradasi Senyawa Toksik Naftalena Pencemar Lingkungan Menggunakan Isolat Fungi Indigen Provinsi Riau
Napthalene is two ring aromatic of a group Polycylic Aromatic Hydrocarbons (PAHs) that is one priority pollutans established in nature which can cause carcinogenic. The aim of this study is determine the effectiveness of three isolates of indigenous fungi from Riau Province to degrade naphthalene. The growth and the ability of isolates to degrade naphthalene were examined into liquid MM (Minimal Medium) containing 0.2 mM naphthalene for 16 days incubation.The potential of fungi isolates during the degradation process was influenced by several parameters, including biomass, pH and the percentage of degradation which was measured at 0, 4, 8, 12 and 16 days of incubation. The results showed that the three isolates could use the naphthalene substrate as an energy source. The three isolates can degraded naphthalene each 51.28% oleh Aspergillus sp. LBKURCC151, 55.13% oleh Aspergillus sp. LBKURCC152 dan 48.72% oleh Penicillium sp. LBKURCC153. LBKURCC152. In conclusion, Aspergillus sp. LBKURCC152 is the best isolate for naphthalene degradation in this researc
Biodegradasi Hidrokarbon Crude Oil di Kawasan PT. Bumi Siak Pusako-Pertamina Hulu menggunakan Konsorsium Bakteri Indigen
Riau Province is one of the largest producing areas of crude oil. Drilling and refining petroleum often produce waste crude oil in large quantities. One method that can be used to degrade waste is biodegradation using a consortium of microorganisms. This study examined the effectiveness of a consortium of indigenous bacteria in degrading hydrocarbon compounds. Growth tests and the ability of isolates to degrade hydrocarbons were carried out by inoculating isolates in liquid Bushnell Haas media containing crude oil of about 5% and incubating for 16 days. The potency of the indigen bacterial consortium during the degradation process is influenced by several parameters, including pH, OD (Optical Density), dan CO2 observed on days 0, 4, 8, 12 and 16 days of incubation. KB4 is the superior consortium in degrading hydrocarbon crude oil. Based on the analysis using GC-MS instruments, the bacteria consortium can degrade two hydrocarbon compounds in crude oil. Provinsi Riau termasuk kawasan penghasil crude oil yang cukup besar, namun proses pengeboran dan pemurnian minyak bumi sering kali menghasilkan limbah crude oil dalam jumlah yang cukup banyak. Salah satu metode yang dapat digunakan untuk mendegradasi limbah adalah biodegradasi menggunakan konsorsium mikroorganisme. Penelitian ini bertujuan untuk menguji efektifitas konsorsium bakteri indigen dalam mendegradasi senyawa hidrokarbon. Uji pertumbuhan dan kemampuan isolat dalam mendegradasi hidrokarbon dilakukan dengan cara inokulasi isolat dalam media Bushnell Haas cair yang mengandung crude oil sebanyak 5% yang diinkubasi selama 16 hari. Potensi konsorsium bakteri indigen selama proses degradasi dipengaruhi oleh beberapa parameter, diantaranya pH, OD (Optical Densiy), dan CO2 yang diamati pada hari 0, 4, 8, 12 dan 16 hari inkubasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa KB4 merupakan konsorsium paling unggul dalam mendegradasi hidrokarbon crude oil. Berdasarkan hasil analisis hidrokarbon crude oil menggunakan instrumen GC-MS, konsorsium konsorsium bakteri dapat mendegradasi dua senyawa hidrokarbon crude oil
MEMPELAJARI DAYA INHIBISI ION CU2+ DAN CA2+ SERTA POLA INHIBISINYA TERHADAP ENZIM AKONITASE YANG DIISOLASI DARI BUAH KALIKIH ALANG (RICINUS COMMUNIS)
Penelitian tentang inhibisi aktivitas enzim akonitase dengan menggunakan inhibitor ion Cu2+ dan Ca2+ telah dilakukan. Enzim akonitase diisolasi dari buah Ricinus communis dengan menggunakan aseton dingin. Untuk menentukan aktivitas dari akonitase digunakan metoda pengukuran substrat asam sitrat sisa berdasarkan metoda LStahre’s test. Kadar protein ditentukan dengan menggunakan metoda Lowry. Optimasi dari enzim akonitase didapatkan dari hasil pH optimum 7,3, temperatur optimum 40 oC, dan konsentrasi substrat 1 %. Dari kurva Lineaweaver Burk diperoleh harga Km = 0,104 M. Sedangkan untuk mengetahui daya pola inhibisi ion Cu2+ dan Ca2+ dilakukan dengan menvariasikan konsentrasi dari masing-masing ion tersebut. Daya inhibisi ion Cu2+ dengan konsentrasi 0,1 M adalah 93,347 % dan daya ion Ca2+ pada konsentrasi 0,1 M adalah 60,124 %. Hasil tersebut menunjukkan pola inhibisi yang sama yakni inhibisi non kompetitif dan masing-masing ion memiliki daya inhibisi yang berbeda
ANALISIS UJI INFUSA BUAH PETAI CINA, DAUN KEJI BELING DAN DAUN TEMPUYUNG SEBAGAI INHIBITOR ENZIM α-AMILASE DAN α-GLUKOSIDASE
Enzim α-amilase dan α-glukosidase dalam proses pencernaan akan menghidrolisis amilum menjadi glukosa dan apabila glukosa darah melebihi batas normal (>140 mg/dL), maka seseorang didiagnosa menderita diabetes melitus. Pengobatan diabetes melitus khususnya tipe 2 biasanya diatasi menggunakan obat akarbose yang akan menginhibisi aktivitas α-amilase dan α-glukosidase. Pada penelitian ini akan dianalisis kemampuan inhibisi infusa dari sampel segar dan kering buah petai cina (Leucaena leucocephala L de Wit), daun keji beling (Strobilanthes crispus BI) dan daun tempuyung (Sonchus arvensis L.) terhadap ke 2 enzim ini. % inhibisi infusa terhadap aktivitas enzim α-amilase ditentukan menggunakan metode asam 3,5-dinitrosalisilat (DNS) sedangkan untuk α-glukosidase menggunakan substrat p-nitrofenil-α-D-glukopiranosida (p-NPG). Absorbansi hasil reaksi diukur menggunakan microplate reader pada panjang gelombang 530 nm untuk α-amilase dan 410 nm untuk α-glukosidase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa % inhibisi infusa sampel kering lebih baik dibandingkan sampel segar dalam menghambat aktivitas enzim α-amilase dengan persentase sebagai berikut: infusa buah petai cina kering 92,54+1,11%, infusa daun keji beling kering 99,79+6,92% dan infusa daun tempuyung kering 87,63+3,95%, nilai ini tidak berbeda nyata dengan akarbose 93,89+ 0,02%. Sedangkan % inhibisi terhadap aktivitas enzim α-glukosidase dari semua sampel memiliki perbedaan yang nyata dengan akarbose (P<0,05) dengan nilai inhibisi 97,99+ 0,19%. Hasil ini menunjukkan bahwa ketiga tanaman tersebut berpotensi sebagai antidiabetes terutama dalam menginhibisi aktivitas enzim α-amilase
Bakteri Indigen Pendegradasi Hidrokarbon Minyak Bumi di Kabupaten Siak Provinsi Riau
The process of producing, refining and transporting petroleum can cause pollutants that are harmful to the environment and the living things that surround them. Indigenous microorganisms can be a solution to degrade hydrocarbons that are difficult to degrade. This study aims to isolate the indigenous bacteria from pollutant-contaminated soil and test its effectiveness in degrading hydrocarbons. The research began with soil sampling at the Joint Operating Agency of PT Siak Bumi Pusako-Pertamina Hulu Siak Regency, Riau Province with a purposive sampling method. The next step is the isolation of indigenous bacteria, testing the parameters of pH, Optical density (OD) and CO2 levels during the 16 incubation periods and determining the highest percentage of biodegradation. The results showed that Pseudomonas sp. with a code BTM2 (Bakteri Tanah Minyak 2) had the largest percentage (52.20%) after 16 days of incubation under optimum conditions to degrade the total hydrocarbon of petroleum. Pseudomonas sp. BTM2 is the most effective isolate to degrade hydrocarbons
Innovation of Areca catechu Compounds Combined with Fluoxetine as Antidepressant by In Silico Method
Depression is a mental illness that has become a common problem worldwide with more than 300 million cases. The study aimed to determine the effectiveness of natural compound modification with synthetic compounds as new antidepressant drug candidates. The method used in the research is In Silico approach using ChemSketch software, BIOVIA Discovery Studio Visualizer (DSV), and Autodock Vina. The bond-free energy result from a combination of arecoline, homoarecoline and guvacoline with fluoxetine on 2Z5Y protein were -7.1 kcal/mol; -7.1 kcal/mol and -7.6 kcal/mol, respectively. Meanwhile, in 2NW8 protein, the bond free energy observed were -6.3 kcal/mol; -6.3 kcal/mol, and -8.8 kcal/mol, respectively. Based on bond-free energy data, the additive interaction of arecoline-fluoxetine and fluoxetine-homoarecoline on MAO-A protein (2Z5Y) was barely different from fluoxetine itself. Meanwhile, the additive interaction of guvacoline-fluoxetine was better with serotonin precursor protein (2NW8) rather than MAO-A protein (2Z5Y).Depresi merupakan penyakit mental yang telah menjadi masalah umum di seluruh dunia dengan lebih dari 300 juta kasus. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas modifikasi senyawa alami dengan senyawa sintetik sebagai kandidat obat antidepresan baru. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah pendekatan secara In Silico dengan menggunakan software ChemSketch, BIOVIA Discovery Studio Visualizer (DSV), dan Autodock Vina. Energi bebas ikatan yang dihasilkan dari kombinasi arekolin, homoarekolin dan guvakolin dengan fluoksetin pada protein 2Z5Y adalah -7,1 kkal/mol; -7,1 kkal/mol dan -7,6 kkal/mol. Sedangkan pada protein 2NW8, energi bebas ikatan yang teramati adalah -6,3 kkal/mol; -6,3 kkal/mol, dan -8,8 kkal/mol. Berdasarkan data energi bebas ikatan, interaksi aditif arekolin-fluoksetin dan homoarekolin-fluoksetin pada protein MAO-A (2Z5Y) hampir tidak berbeda dengan fluoksetin itu sendiri. Sementara itu, interaksi aditif guvakolin-fluoksetin lebih baik dengan protein prekursor serotonin (2NW8) daripada protein MAO-A (2Z5Y)
