39 research outputs found

    Analisis Debit Banjir Sungai Cijangkelok Di Desa Cibingbin Kecamatan Cibingbin Kabupaten Kuningan

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis data hidrologi dan menganalisis debit banjir rencana pada Sungai Cijangkelok di Desa Cibingbin Kecamatan Cibingbin Kabupaten Kuningan. Metode Penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif deskriftif. Penelitian kuantitatif sesuai dengan namanya banyak dituntut menggunakan angka, mulai dari pengumpulan data, penafsiran terhadap data tersebut, serta penampilan dan hasilnya. Demikian juga pemahaman akan kesimpulan penelitian disertai tabel, grafik, bagan, gambar atau tampilan lain. Analisis Hidrologi pada Sungai Cijangkelok dilakukan dengan analisis frekuensi mulai dari perhitungan curah hujan wilayah cara Poligon Thiessen sehingga diperoleh harga parameter statistik untuk perhitungan hujan rancangan yang dilakukan terhadap data curah hujan harian maksimum tahunan selama 15 tahun (tahun 2005 s.d. tahun 2019) dengan kala ulang 2 tahun, 5 tahun, 10 tahun, 25 tahun, 50 tahun, dan 100 tahun. Hasil perhitungan curah hujan rancangan kala ulang 5 tahun distribusi Gumbel sebesar 136,76 mm dan hasil distribusi Log Pearson Type III sebesar 127,83 mm. Dari hasil analisa frekuensi jenis distribusi yang memenuhi syarat yaitu distribusi Log Pearson Type III dengan nilai Cs = 0,753 selanjutnya dari hasil Uji keselarasan Smirnov-Kolmogorov dengan derajat signifikasi 5 % dan nilai ∆maks < ∆cr =  0,134 < 0,338., maka Metode Log Pearson Type III dapat digunakan untuk menghitung curah hujan periode ulang tertentu. Debit banjir rancangan kala ulang 5 tahun Metode Hidrograf Satuan Sintetik (HSS) Nakayasu sebesar 742,248 m3/det dengan intensitas curah hujan jam jaman metode Mononobe durasi 4 jam sebesar 17,587 mm/jam. Dengan kapasitas sungai yang didapat dari hasil perhitungan debit menggunakan metode mid section 239,30 m3/dt maka dapat disimpulkan bahwa Sungai Cijangkelok sudah tidak dapat menampung dan berpotensi banjir, dan perlu adanya normalisasi atau peninggian bangunan air dan atau tanggul pada Sungai Cijangkelok

    Identifikasi dan Penanganan Banjir pada Bangunan Sungai di Sungai Cisanggarung Wilayah Kecamatan Ciledug Kabupaten Cirebon

    No full text
    Banjir yang melanda di Kecamatan Ciledug Kabupaten Cirebon disebabkan oleh intensitas curah hujan yang tinggi, sehingga membuat Sungai Cisanggarung meluap dan menggenangi daerah sekitarnya. Akibat dari banjir tersebut berdampak pada tempat tinggal yang terendam air, serta berdampak pada kondisi sungai dan infrastruktur sungai yang mengalami kerusakan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kerusakan apa saja yang ada di sungai dan bangunan sungai Cisanggarung serta penanganan yang dilakukan untuk mengatasi kerusakan tersebut. Metode yang digunakan dalam penanganan kerusakan sungai dan bangunan sungai akibat banjir ini menggunakan metode struktur yaitu metode perkuatan tebing (revetment), pembangunan TPT dan bronjong pasangan batu. Analisis dan pembahasan pada tugas akhir ini dimaksudkan untuk mengidentifikasi kerusakan sungai dan bangunan sungai serta melakukan rencana penanganan kerusakan tersebut yang diakibatkan oleh banjir. Hasil analisis menunjukkan bahwa : (1) Di lokasi Desa Ciledug Wetan Blok Cihoe Kecamatan Ciledug terdapat kerusakan bangunan sungai yaitu tanggul banjir dan tebing sungai yang mengalami kelongsoran cukup berat sepanjang + 40 m. (2) Di lokasi Desa Ciledug Kulon Blok Surahbrama Kecamatan Ciledug terdapat kerusakan bangunan sungai yaitu tebing sungai yang mengalami kerusakan sedang sepanjang + 30 m. (3) Penanganan kerusakan Sungai Cisanggarung yaitu dengan pembangunan TPT, perkuatan tebing sungai dan pekerjaan bronjong pasangan batuBanjir yang melanda di Kecamatan Ciledug Kabupaten Cirebon disebabkan oleh intensitas curah hujan yang tinggi, sehingga membuat Sungai Cisanggarung meluap dan menggenangi daerah sekitarnya. Akibat dari banjir tersebut berdampak pada tempat tinggal yang terendam air, serta berdampak pada kondisi sungai dan infrastruktur sungai yang mengalami kerusakan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kerusakan apa saja yang ada di sungai dan bangunan sungai Cisanggarung serta penanganan yang dilakukan untuk mengatasi kerusakan tersebut. Metode yang digunakan dalam penanganan kerusakan sungai dan bangunan sungai akibat banjir ini menggunakan metode struktur yaitu metode perkuatan tebing (revetment), pembangunan TPT dan bronjong pasangan batu. Analisis dan pembahasan pada tugas akhir ini dimaksudkan untuk mengidentifikasi kerusakan sungai dan bangunan sungai serta melakukan rencana penanganan kerusakan tersebut yang diakibatkan oleh banjir. Hasil analisis menunjukkan bahwa : (1) Di lokasi Desa Ciledug Wetan Blok Cihoe Kecamatan Ciledug terdapat kerusakan bangunan sungai yaitu tanggul banjir dan tebing sungai yang mengalami kelongsoran cukup berat sepanjang + 40 m. (2) Di lokasi Desa Ciledug Kulon Blok Surahbrama Kecamatan Ciledug terdapat kerusakan bangunan sungai yaitu tebing sungai yang mengalami kerusakan sedang sepanjang + 30 m. (3) Penanganan kerusakan Sungai Cisanggarung yaitu dengan pembangunan TPT, perkuatan tebing sungai dan pekerjaan bronjong pasangan batu

    Variation in Spikelet-Related Traits of Rice Plants Regenerated from Mature Seed-Derived Callus Culture

    No full text
    Callus is An Excellent Source For in Vitro Plant Regeneration, But Plants Regenerated from Callus Sometimes Show Phenotypic And Genotypic Variation from The initial Plants. in This Study, The Variation in Spikelet-Related Traits of The Rice Plants Regenerated from Calluses And Their Performance in The Paddy Field Were Examined. The Phenotypic Variation in Spikelet-Related Traits of The Regenerated Plants Was Not Always in A Reduction in Their Mean Value. For instance, Panicle Length, Spikelet Number And Fertile Spikelet Number of indonesian Rice Genotypes Ciapus And Bp-140 in The Regenerated Plants Were Significantly Greater Than Those of The initial Plants (Developed from The Seeds). The Spikelet Fertility of The Regenerated Rice Plants Was Not Significantly Lower Than That of The initial Plants Except in Ciapus And Bp-140. The Occurrence of Somaclonal Variants Varied With The Genotype. Ciapus And Bp-140, Which induce Many Somaclonal Variants, Are Suggested To Be Valuable For Genetic, Breeding Or Functional Genomic Studies, While Fatmawati, Which is Stable, Could Be Used For Genetic Transformation Study

    Plant Regeneration Capacity of Calluses Derived from Mature Seed of Five Indonesian Rice Genotypes

    No full text
    Establishment of a suitable system for plant regeneration of rice calluses derived from mature seed is a prerequisite for genetic transformation using callus as the target tissue. Selecting the most suitable medium and assessing the genotype performance for in vitro response are essential requirement for this purpose. The experiment with five Indonesian rice genotypes showed that callus-proliferation capacity (CPC) and callus-growth capacity were significantly affected by genotype and CPC by medium. The shoot-regeneration capacity and plantlet-regeneration capacity were affected by the interaction effect between genotype and medium. However for green plant-regeneration capacity, it was affected independently by genotype and medium. Culture media D1 and NB5 were the most suitable media for callus subculture and plant regeneration, respectively. Genotypes Fatmawati and BP-140 consistently performed best in the callus subculture and plant regeneration

    Transient Expression of Green Fluorescent Protein in Rice Calluses : Optimization of Parameters for Helios Gene Gun Device

    No full text
    An optimized condition for particle bombardment is necessary for efficient genetic transformation. Parameters for Helios gene gun, the new system for nucleic acid delivery which is mainly consists of hand-held device sold by Bio-Rad Laboratories (California USA), were examined based on transient expression of synthetic green fluorescent protein (sgfp) in rice calluses of indica cv. Fatmawati and japonica cv. Nipponbare. In the experimental conditions that we examined, parameters found to be the most favorable conditions for transient expression of sgfp in rice callus cells were as follows: 200−250 psi helium pressure, 0.6 μm gold particle size, 0.25 mg gold particles per shot, and 1.5 μg plasmid-DNA per shot. Desiccation of callus cells for eight min was also found appropriate. The level of transient sgfp expression was not significantly influenced by the pre-culture for 4 to 12 d before bombardment or by callus age between 10 and 33 wk old in Fatmawati. These parameters for this particular device should improve the transient expression, thus enabling stable expression of introduced genes via Helios gene gun using callus as a target tissue

    Identification of Callus Induction Potential of 15 Indonesian Rice Genotypes

    No full text
    The callus induction potential of 15 indica rice genotypes from Indonesia was examined in comparison with that of the japonica rice Nipponbare. Callus was induced from embryos of mature seeds and root segments on MS and CI media. There was genotype × medium × explant interaction for inducing white/cream/yellow callus with an organized structure (callus type I and II) and for callus browning, but not for callus induction ability and diameter of callus. Genotypes significantly differed in inducing high quality of calluses depending on medium and explant used. Four indica types, Fatmawati, Ciapus, BP-23 and BP-360-3, had callus induction-related traits similar to those of Nipponbare. These genotypes would be useful for tissue-culture based research and for crop improvement, particularly for genetic transformation. Culturing seed explant on MS was more suitable for callus induction than either root explant on MS or both explants on CI medium

    Identifi cation of callus induction potential of 15 Indonesian rice genotypes.

    No full text
    Abstract : The callus induction potential of 15 indica rice genotypes from Indonesia was examined in comparison with that of the japonica rice Nipponbare. Callus was induced from embryos of mature seeds and root segments on MS and CI media. There was genotype × medium × explant interaction for inducing white/cream/yellow callus with an organized structure (callus type I and II) and for callus browning, but not for callus induction ability and diameter of callus. Genotypes signifi cantly differed in inducing high quality of calluses depending on medium and explant used. Four indica types, Fatmawati, Ciapus, BP-23 and BP-360-3, had callus induction-related traits similar to those of Nipponbare. These genotypes would be useful for tissue-culture based research and for crop improvement, particularly for genetic transformation. Culturing seed explant on MS was more suitable for callus induction than either root explant on MS or both explants on CI medium
    corecore