1,720,972 research outputs found

    “Laporan Kasus: Penanganan Fraktur Os. Radius-Ulna Pada Anjing Di Klinik Hewan Bali Central Vet Periode 19 Februari – 9 Maret 2024”.

    No full text
    Anjing mix breed datang ke Klinik Hewan Bali Central Vet karena mengalami patah tulang yang sebelumnya sudah dibawa ke Klinik Hewan Gatsu Veterinary Surgery Denpasar dan dilakukan x-ray. Anjing berjalan dengan pincang, kaki depan kanan sedikit diangkat dan ketika dipalpasi mengalami krepitasi. Pada hasil x-ray, anjing mengalami fraktur os. Radius-ulna transversal tertutup. Hasil pemeriksaan hematologi darah anjing tidak mengalami abnormalitas, sedangkan pemeriksaan kimia darah terdapat penurunan BUN dan peningkatan glukosa. Selanjutnya reposisi tulang dilakukan dengan bedah ortopedi dan pemasangan plate and screw. Terapi yang diberikan berupa antibiotik Cephalexin (15 mg/kgBB, PO 2 kali sehari selama 14 hari), anti inflamasi yaitu Rimadyl (4,4 mg/kgBB, PO 1 kali sehari selama 7 hari) dan suplemen kalsium (50 mg/kgBB, PO 1 kali sehari selama 3 bulan). Perawatan luka jahitan dilakukan pembersihan luka pagi dan sore dan pemberian salep Gentamicin. Pemasangan bandage dilakukan selama 1 bulan, yang diganti setiap 3 hari sekali pada 2 minggu pertama, dan pergantian selanjutnya dilakukan 1 minggu sekali pada minggu ke 3 dan 4. Pasien dirawat inap selama 3 hari dan dilakukan observasi, hewan telihat sudah dapat menapakkan kaki, terlihat aktif, nafsu makan dan minum baik, sehingga pada hari ke 3 hewan dapat dipulangkan dengan edukasi kepada owner mengenai pemberian obat, pembersihan luka dan agar anjing diletakkan di dalam kandang selama 1 bulan

    Laporan Kasus: Penanganan Fraktur Kominutif Tertutupos. Tarsometatarsal Dextra Pada Burung Ring-Neck Pheasant (Phasianus Colchicus) Di Pet+Vet Animal Clinic Indonesia Periode 19 Februari – 9 Maret 2024

    No full text
    Burung mengalami fraktur karena tulang burung tersusun atas kalsium hidroksiapatit 85% lebih banyak dan ukuran tulang burung yang kecil. Burung memiliki banyak variasi spesies sehingga penanganan fraktur pada burung cukup beragam. Pada studi kasus, seekor burung ring-neck pheasant datang ke klinik karena berjalan dengan pincang. Kaki kanan burung diangkat dan kaki mengalami pembengkakan. Selanjutnya, burung melakukan pemeriksaan radiografi X-ray ekstremitas. Pada hasil pencitraan, burung mengalami fraktur Os. tarsometatarsal kominutif tertutup dextra. Sebelum dilakukan proses pembedahan, burung melakukan pemeriksaan biokimia darah dengan tujuan mengetahui fungsi organ ginjal, hepar, dan mengetahui derajat dehidrasi pada pasien. Hasil dari pemeriksaan biokimia darah burung menunjukkan adanya hipourisemia , hipoalbuminemia , dan hiperglobulinemia . Selanjutnya, reposisi tulang dilakukan dengan proses bedah dan memasangkan eksternal skeletal fixator type II. Agen anestesi yang digunakan adalah anestesi isoflurane. Pasca operasi, burung diinjeksi NSAIDS meloxicam 2 mg/kg BB intramuskular q24h. Perawatan pascaoperasi meliputi pemberian antibiotik topical silver sulfadiazine 1% secukupnya q12h. Pemasangan fiksator dipasang selama 4 minggu. Selanjutnya, pemeriksaan radiografi X-ray ekstremitas dilakukan kembali setelah fiksator dilepas dan pada hasil pemeriksaan radiografi menunjukkan kallus periosteal tidak terlihat dan tulang berhasil disambungkan

    Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis

    Get PDF
    The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed

    Penanganan Cystolithiasis pada Anjing dengan Tindakan Bedah Cystotomy Di PDHB

    No full text
    Tingkat kejadian cystolithiasis pada anjing cukup tinggi dalam berbagai jenis urolith yang terbentuk. Penanganan cystolithiasis dengan melakukan cystotomy memiliki prinsip dasar yaitu membuka kandung kemih dan mengeluarkan urolith dari kandung kemih. Kasus urolithiasis terjadi pada anjing dengan ras maltipo berumur 8 tahun, jenis kelamin betina, berat badan 2,65 kg dengan keluhan mengalami urinasi yang sedikit demi sedikit dan tampak kesakitan serta terlihat bercampur darah. Hasil pemeriksaan fisik didapati kucing tampak pasif. Pemeriksaan penunjang yang dilakukan berupa pemeriksaan hematologic, kimia darah, radiografi x-ray, dan ultrasonografi. Hasil pemeriksaan USG menunjukkan adanya benda asing berbentuk oval dengan tepian halus yang dicurigai sebagai kalkuli yang berwarna hyperechoic pada bagian dasar vesika urinaria dan mengakibatkan timbulnya acoustic shadowing di bagian bawah kalkuli tersebut. Anjing didiagnosa mengalami cystolithiasis dengan prognosa fausta. Tindakan yang dilakukan adalah cystotomy untuk mengambil kalkuli pada vesika urinaria. Tahap pre-operasi dilakukan persiapan alat dan bahan serta ruangan, persiapan pasien, persiapan operator dan asisten operator. Premedikasi dilakukan dengan menggunakan atropine sulfate dan pemberian anestesi kombinasi ketamin dan diazepam. Anestesi maintenance menggunakan isoflurane 2%. Tahap operasi dilakukan pengangkatan bladder stone dari kandung kemih. Terapi pasca operasi yang digunakan adalah injeksi antibiotik amoxicillin dan antiinflamasi meloxicam. Terapi dilanjutkan dengan pemberian obat injeksi antibiotic cefotaxime, antiinflamasi meloxicam, dan cystaid. Anjing mengalami perubahan setelah dilakukan Tindakan operasi dan diberikan terapi selama 5 hari ditandai dengan urinasi lancar tanpa hematuria dan tidak adanya rasa nyeri pada saat urinas

    Penanganan Fraktur Radius-Ulna Pada Anjing Poodle Di Petology Veterinary Center, Jakarta Selatan, Periode 19 Februari- 08 Maret 2024

    No full text
    Fraktur adalah suatu kondisi terputusnya kontinuitas jaringan tulang yang diakibatkan oleh trauma langsung atau tidak langsung. Fraktur spiral merupakan fraktur yang memiliki arah garis patahan mengelilingi tulang, sudut patahan bervariasi dan mengikuti pola spiral yang sering kali diakibatkan dari gerakan torsi atau putaran yang kuat dari aktivitas fisik yang berulang. Seekor anjing ras poodle berjenis kelamin betina, berumur 2 tahun dengan berat badan 3,8 kg, mengalami kepincangan pada kaki depan bagian kanan akibat jatuh dari ketinggian. Metode diagnosis yang dilakukan adalah pemeriksaan fisik dan radiografi. Hasil dari pemeriksaan fisik menunjukan keadaan umum yang baik namun kondisi kaki depan kanan bengkak dan menunjukan refleks mengangkat ketika berdiri dan berjalan. Hasil pemeriksaan radiografi posisi cranio caudal view dan lateromedial view menunjukkan adanya patahan pada diafisis 1/3 distal os. radius-ulna dengan arah garis patahan spiral. Tindakan evaluasi penanganan yang dilakukan adalah fiksasi internal menggunakan plate dan screw. Pemeriksaan hematologi dilakukan sebagai evaluasi kondisi anjing memenuhi syarat untuk operasi. Analgesik dan premedikasi butorphanol diberikan dosis 0,01 mL/kg BB. Induksi anestesi dilakukan menggunakan medetomidine serta anestesi maintenance yang digunakan adalah inhalasi isoflurane 2%. Terapi post operatif meliputi analgesik pethidine dengan dosis 2 mg/kg BB, antiinflamasi carprofen dengan dosis 4 mg/kg BB, dan antibiotik amoxiclav dengan dosis 12,5 mg/kg BB. Evaluasi hasil operasi didasarkan pada pemeriksaan radiografi dan pemeriksaan fisik pasca operasi, menunjukkan posisi normal os radius-ulna, fragmen patahan dengan posisi intact, alat fiksasi internal berupa plate dan screw tidak mengalami pergeseran dan perilaku aktif anjing kasus menunjukan tanda- tanda penyembuhan yang baik

    Perbandingan Nilai Total Eritrosit, Kadar Hemoglobin, dan Indeks Eritrosit Darah Kura-kura Brazil (Trachemys scripta elegans) yang Dipengaruhi Oleh Lama Penyimpanan.

    No full text
    Nilai total eritrosit, kadar hemoglobin, dan indeks eritrosit adalah parameter hematologi yang digunakan sebagai penunjang diagnosis penyakit dan indikator kesehatan pada kura-kura. Jarak antara tempat pengambilan spesimen dan lama penyimpanan dapat mempengaruhi kualitas spesimen sehingga hasil dari pemeriksaan hematologi menjadi tidak valid. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh lama penyimpanan darah kura-kura Brazil terhadap perbedaan nilai total eritrosit, kadar hemoglobin, dan indeks eritrosit. Analisis statistik dilakukan dengan uji Repeated Measure ANOVA, Friedman, dan uji Tukey HSD. Jumlah spesimen darah yang digunakan sebanyak 21 darah yang diambil dari kura-kura Brazil dan disimpan dalam tabung antikoagulan litihium heparin pada lemari pendingin bersuhu 4oC selama 5 hari. Pemeriksaan hematologi dilakukan segera setelah koleksi spesimen untuk mendapatkan nilai kontrol dan dilakukan pemeriksaan setiap 24 jam selama 96 jam. Hasil perhitungan total eritrosit, kadar hemoglobin, dan indeks eritrosit menunjukkan penurunan secara bertahap dari jam ke-0 hingga jam ke-96. Hasil uji Repeated Measure ANOVA menunjukkan terdapat perbedaan antara nilai total eritrosit setiap jam. Hasil uji Friedman menunjukkan terdapat perbedaan rata-rata penurunan antara kadar hemoglobin dan peningkatan antara indeks eritrosit setiap jam. Hasil uji Tukey HSD menunjukkan nilai total eritrosit dan kadar hemoglobin pada jam ke-48, 72, dan 96 secara signifikan lebih rendah, serta nilai indeks eritrosit pada jam ke-48,72, dan 96 tidak signifikan lebih tinggi dibandingkan dengan nilai kontrol. Kesimpulan yang didapat dari penelitian ini, yaitu terdapat perbedaan pada nilai total eritrosit, kadar hemoglobin, dan nilai indeks eritrosit dipengaruhi oleh lama penyimpanan

    Restorasi Infundibular Caries Pada Kuda di Intan Sakti Stable, Semarang Periode 26 Desmber 2022 – 13 Januari 2023

    No full text
    Kesehatan dalam menejemen pemeliharaan ternak yang baik perlu diperhatikan agar kondisi kuda dapat dikendalikan dan performa yang dihasilkan optimal. Faktor yang sering berpengaruh terhadap kesehatan kuda salah satunya adalah kesehatan gigi. Infundibular caries merupakan jenis abnormalitas pada gigi yang sering ditemukan pada kuda dengan gejala yang sering terlihat adalah penurunan nafsu makan karena adanya karies pada bagian gigi. Karies pada gigi disebabkan karena penumpukan bakteri pada permukaan gigi. Bakteri yang sering ditemukan adalah Staphylococcus, Streptococcus dan Lactobacillus. Pasien bernama panji berusia 18 tahun dengan berat badan 410 kg. Temuan klinis terdapat karies pada gigi molar dengan kedalaman 1,5 cm menggunakan dental probe. Pemeriksaan lanjutan dilakukan dengan endoscopy dengan adanya penumpukan makanan pada bagian oklusal gigi molar 109 dan 209. Diagnosa dari kasus ini adalah infundibular caries. Penanganan yang dilakukan adalah restorasi gigi molar 109 dan 209. Pasien diberikan detomidine sebagai sedasi dengan dosis 20-40 μg/kg BB secara IV. Teknik restorasi dengan menghilangkan sisa makanan dan debridment, pemberian asam etsa, pemberian bonding agent dan pemberian resin komposit. Pencegahan dilakukan dengan perawatan gigi rutin sebagai preventif untuk mencegah terjadinya abnormalitas pada gigi

    Penanganan Tumor Testis Pada Anjing Di Ini Veterinary Service Surabaya

    No full text
    Anjing mixbreed berumur 13 tahun dengan berat 13,6 Kg datang ke InI Veterinary Service dengan keluhan terdapat benjolan yang berlokasi di area inguinal sinister dengan diameter sekitar 7 cm, berkonsistensi padat, dan berbatas jelas. Pemeriksaan penunjang pertama pada 29 September 2023 berupa hematologi dan kimia darah menunjukkan hasil adanya penurunan pada RBC, HCT, HGB, MCH, MCHC dan RDW serta sedikit peningkatan pada BUN. Anjing didiagnosis mengalamai anemia sehingga belum dapat dilakukan tindakan dan diberikan terapi untuk menangani anemia. Pada tangal 16 Oktober anjing kembali melakukan pemeriksaan hematologi dan didapatkan hasil sudah tidak mengalami anemia sehingga dapat dilakukan tindakan operasi. Pemeriksaan penunjang berupa X-Ray menunjukkan adanya massa padat pada area inguinal sinister yang berlokasi di subkutan. Penanganan tumor testis dengan orchierectomy. Terapi pasca operasi berupa injeksi antibiotik vicilin dan biodin untuk memperkuat otot. Terapi oral yang diberikan yaitu Capsinat® Co-amoxiclav dengan dosis pemberian 125 mg per pemberian, Rimadyl® (Carprofen) dengan dosis pemberian 12,5 mg per pemberian, Heptasan® (Cyproheptadine HCl) dengan dosis pemberian 2 mg per pemberian, Rantin® (Ranitidine) dengan dosis pemberian 18,75 mg per pemberian, Maxbiotik dengan dosis pemberian 250 mg per pemberian, Nutranex® (Tranexamic Acid) dengan dosis pemberian 62,5 mg per pemberian, Vitamin B Kompleks dengan dosis pemberian 1 tablet per pemberian selama 8 hari dengan pemberian 2 kali sehari

    Komparasi Nilai Total Eritrosit dan Kadar Hemoglobin dan Indeks Eritrosit pada Darah Iguana Hijau (Iguana iguna) Yang Dipengaruhi Durasi Penyimpanan

    No full text
    Beberapa uji hematologi seperti, perhitungan total eritrosit, kadar hemoglobin dan indeks eritrosit dapat digunakan untuk menilai kondisi pasien. Faktor kesalahan seperti, pengananan sampel, pengangkutan, suhu penyimpanan, pemrosesan yang tertunda dan durasi penyimpanan dapat merubah kualitas hasil uji hematologi Penelitian ini bertujuan mengetahui perbedaan pada total eritrosit, kadar hemoglobin dan indeks eritrosit pada spesimen darah Iguana hijau (Iguana iguana) yang dipengaruhi durasi penyimpanan pada suhu lemari pendingin (4oC) selama 96 jam. Spesimen darah dikoleksi dari 19 ekor Iguana hijau dewasa yang disimpan di dalam tabung lithium heparin. Pemeriksaan hematologi dilakukan segera setelah koleksi sampel untuk mendapatkan nilai dasar dan dilakukan pemeriksaan 24 jam sekali selama 96 jam. Hasil perhitungan total eritrosit pada jam ke-0 (kontrol) sebesar 1,0±0,4 x 106 sel/μL; jam ke-24, 0,8±0,5 x 106 sel/μL; jam ke-48, 0,7±0,3 x106 sel/μL; jam ke-72, 0,6±0,4 x 106 sel/μL; jam ke-96, 0,4±0,3 x 106 sel/μL. Penurunan signifikan (p<0,05) terjadi pada perhitungan total eritrosit jam ke-72 dan jam ke-96. Hasil perhitungan kadar hemoglobin pada jam ke-0 (kontrol) ; 10,5±2,5 g/dL; jam ke-24, 10,4 ± 2,7 g/dL; jam ke-48, 9,9 ± 2,2; jam ke-72, 9,6±3,8 g/dL; jam ke-96 8,8±3,0 g/dL. Penurunan terjadi dari jam-0 hingga jam ke-96 namun tidak secara signifikan (p>0,05). Hasil perhitungan MCV pada jam ke-0 (kontrol) 565±334 fL; jam ke-24, 677±448 fL; jam ke-48, 785±867 fL, jam ke-72, 493±428 fL; jam ke-96, 1194±3420. Pada nilai MCV tidak terjadi penurunan. Hasil perhitungan nilai MCH pada jam ke-0 (kontrol), 130±61 pg; jam ke-24, 163±86 pg; jam ke-48, 197±166 pg, jam ke-72, 279±305 pg, jam ke-96, 1020±1442 pg. Terjadi kenaikan pada nilai MCH. Hasil perhitungan nilai MCHC pada jam ke-0 (kontrol) 25,4±7,0 g/dL; jam ke-24, 26,5±10,0 g/dL; jam ke-48, 25,6±9,3 g/dL; jam ke-72, 23,4±19,0 g/dL; jam ke-96, 19,8±17,5 g/dL. Pada nilai MCHC tidak terjadi penurunan secara signifikan pada jam ke-0 hingga jam ke-96. Kesimpulan penelitian ini adalah adanya perbedaan berupa penurunan nilai total eritrosit dan nilai Hb namun tidak terjadi penurunan pada nilai indeks eritrosit, yang dipengaruhi oleh durasi penyimpanan
    corecore