3 research outputs found

    Hambatan Komunikasi Antarbudaya Mahasiswa Baru di Media Virtual

    No full text
    Pandemi Covid-19 memaksa pemerintah mengeluarkan sebuah kebijakan yang sifatnya membatasi interaksi masyarakat untuk menghambat adanya penularan. Kebijakan tersebut diterapkan pada segala bidang kehidupan manusia termasuk dibidang pendidikan. Melalui surat edaran yang dibuat oleh Kemendikbud dan Kemenag, perbelajaran dan perkuliahan tatap muka ditiadakan sementara dan diganti dengan cara virtual. Salah satu kampus yang menerapkan sistem daring atau kuliah virtual yakni UIN Walisongo Semarang. Bahkan pihak kampus juga melakukan pembatasan interaksi baik dikalangan dosen dan mahasiswa maupun mahasiswa dengan mahasiswa. Hal tersebut tentu menjadi problem tersendiri dikalangan mahasiswa baru yang notabennya belum mengenal dunia kampus sebab masih dalam proses peralihan dari siswa kemahasiswa, apalagi lingkup pertemanannya tentu hanya sebatas satu wilayah domisili yang memiliki etnis yang sama, berbeda sekali saat menjadi seorang mahasiswa yang lingkup wilayah dan etnisnya lebih beragam baik dari segi sifat, budaya dan lain sebagainya. Sehingga hal tersebut sangat berpotensi menimbulkan hambatan-hambatan dalam komunikasi antar budaya dikalangan mahasiswa baru sebab interaksi mereka dibatasi dan hanya melalui komunikasi virtual.  Fokus penelitian ini yakni pada mahasiswa baru etnis Aceh dan Jawa prodi ilmu falak kelas B1. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hambatan komunikasi antara budaya dikalangan mahasiswa baru etnis Aceh dan Jawa prodi ilmu falak dikelas B1 ketika berinteraksi melalui media virtual. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualititatif dengan pendekatan purposive sampling. Hasil penelitiannya adalah ditemukan empat hambatan yakni hambatan terkait bahasa, presepsi, stereotip dan keterasingan

    Makna simbolis ritual selametan tolak bala barongan pada masyarakat Desa Karaban Kecamatan Gabus Kabupaten Pati

    No full text
    Simbol yang digunakan untuk ritual selametan tolak bala barongan, sering disalah artikan sebagai simbol yang identik dengan ritual nenek moyang yang mempercayai pertolongan roh leluhur bahkan uborampenya dianggap memberikan makan kepada mereka agar bersedia membantu kesulitan masyarakat. Padahal simbol tersebut digunakan nenek moyang terdahulu untuk mengajarkan filosofi kehidupan kepada generasinya. Selain itu ritual ini telah mengalami sinkretisasi (Islam-Jawa). Maka, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui makna simbol dari rangkaian pelaksanaan dan pesan dakwah didalam filosofis uborampe ritual selametan tolak bala barongan pada masyarakat Desa Karaban Kecamatan Gabus Kabupaten Pati. Metode penelitian yakni kualitatif dengan pendekatan sosiologi berparadigma interaksi simbolik dari Blumer. Sumber data dari wawancara, observasi partisipatif dan dokumentasi. Hasil penelitiannya yakni makna simbol dari rangkaian pelaksanaan ritual ini mengandung filosofi berupa ajakan berkumpul dan berikhtiar bersama-sama untuk terlepas dari bala’ melalui sedekah, menahan hawa nafsu duniawi, menjalankan rukun Islam, meyakini rukun iman supaya masyarakat meraih kemenangan dari Allah SWT yakni terbebas dari bala’. Sementara filosofi uborampenya terdapat pesan dakwah akhlak dan aqidah yaitu 1. Jipang berisi pesan bersedekah, 2. Gedhang berjumlah tujuh berisi anjuran meyakini Allah SWT sebagai sebaik-baiknya pemberi petunjuk dan pembimbing, 3. Candu bersimbol perempatan jalan memuat pesan mujahadah an nafs yang dilambangkan simbol pancer (tengah) sebagai pusat ego manusia, 4. Kembang telon terdiri dari mawar memuat pesan ikhlas dan tulus sebagai kunci diterimanya amalan manusia, kembang kantil memuat pesan gigih berikhtiar, dan kembang kenanga berisi pesan untuk mempercayai qada’ dan qadar serta mengenang dan meneladani sejarah dari ritual ini, 5. Kinang terdapat pesan saling menghargai dan meniru budi pekerti para leluhur, Dan terakhir 6. Simbol pembakaran kemenyan mengandung pesan aqidah yakni pengakuan adanya Allah SWT sebagai pengatur di dunia ini, serta pesan akhlak yang berisi anjuran berta’awun lewat simbol satu buah lidi yang disebut “sodo lanang”

    Representasi ikhtiar tokoh Topan dalam film "Tampan Tailor'

    No full text
    Fenomena kasus bunuh diri yang ada di Indonesia umumnya akibat putus asa yang berkepanjangan hingga timbul rasa depresi saat menghadapi segala problem kehidupan, masyarakat perlu diedukasi terkait tentang ikhtiar melalui berbagai media. Film Tampan Tailor merupakan sajian yang mendidik. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui bentuk ikhtiar tokoh Topan dalam film Tampan Tailor dan mengetahui representasi ikhtiar tokoh Topan dalam film Tampan Tailor. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif-kualitatif dengan pendekatan kuadran simulakra. Kuadran I: citra film merupakan cermin dari realitas, kuadran II: citra film menyembunyikan dan memberikan gambaran yang salah akan realitas, kuadran III: citra film menutupi atau menghapus dasar realitas, kuadran IV: citra film merupakan simulasi murni atau melahirkan tidak adanya hubungan pada berbagai realitas apapun. Hasil dari penelitian film Tampan Tailor menunjukkan beberapa citra ikhtiar yang direpresentasikan tokoh Topan melalui proses simulasi dalam kuadran simulacra dari Jean Baudrillard. Pertama, Bekerja keras yang masuk kedalam kuadran I, direpresentasikan melalui adegan-adegan yang bermuatan identitas berusaha dalam bekerja dikota Jakarta, yakni menjadi pekerja bangunan disebuah proyek pembuatan gedung yang memiliki resiko tinggi serta sangat menguras tenaga. Sedangkan bekerja menjadi seorang stuntment dalam sebuah produksi film aksi merupakan upaya Topan untuk berusaha memenuhi kebutuhan hidup keluarga melalui pekerjaan yang halal, namun representasi sebagai sebuah proses simulasi tersebut, bergeser kedalam kaudran II, dimana film Tampan Tailor memberikan gambaran yang salah akan proses seleksi menjadi seorang stuntment. Kedua, bekerja dengan tekun yang direpresentasikan melalui sebuah proses simulasi dari ikhtiar tokoh Topan masuk kedalam kuadran III, yakni ketekunan dan ketelitian Topan dalam menyelesaikan pekerjaanya membuat jas selama 18 jam merupakan sesuatu yang berlebihan dan tidak seperti realitas pada umumnya. Ketiga, tidak mudah putus asa yang dipresentasikan Topan masuk kedalam kuadran I, yakni melalui adegan orang tua khususnya seorang ayah yang berusaha berjuang mencari nafkah untuk membiayai pendidikan dan mencukupi kebutuhan hidup anaknya. Keempat, tanggung jawab terhadap diri sendiri yang dipresentasikan oleh Topan masuk kedalam kuadran I, dimana Topan berusaha bertanggung jawab untuk menyelesaikan masalah pribadinya dengan perusahaan konveksi milik paman Prita, namun citra tersebut bergeser kekuadran IV, yakni ketika Topan bertanggung jawab untuk membayar ganti rugi padahal bukan ia yang melakukan korupsi, dengan demikian citra seolah membuat realitas baru. Sedangkan tanggung jawab terhadap keluarga, citra masuk kedalam kuadran I, yakni direpresentasikan melalui adegan orang tua yang berusaha bertanggung jawab untuk mencari nafkah sekaligus berusaha memberikan pendidikan moral kepada anaknya. Citra ikhtiar tokoh Topan yang dibangun dalam film Tampan Tailor merupakan sebuah proses simulasi yang sebagian diantaranya diambil dari realitas kehidupan nyata. Film Tampan Tailor membangun citra ikhtiar dari tokoh Topan melalui sikap bekerja keras, tidak mudah putus asa dan bertanggung jawab yang kebanyakan masuk kedalam tahapan kuadran I, itu berarti citra film merupakan cermin dari sebuah realitas yang sesungguhnya
    corecore