1,105 research outputs found
Nh. Dini, Pada sebuah kapal
Chambert-Loir Henri. Nh. Dini, Pada sebuah kapal. In: Archipel, volume 7, 1974. pp. 207-209
NH. DINI SEBAGAI PRIYAYI FEMINIS: TANGGAPAN EVALUATIF NH. DINI TERHADAP KEPRIYAYIAN JAWA DARI PERSPEKTIF WANITA
Nh. Dini has been regarded as the pioneer in feminism, as the themes of her works convey her opinions about women’sissue in a society. Although she is likely to take side in her novels and often stands against social conventions and norms, she has shownappreciation toward the Javanese traditional cultural values, cultural values of the priyayi in her memoirs. This research has attempted toshow the way Nh. Dini draws a line between two contrary aspects, the cultural values of the priyayi and the women’s perspectives dan hasproven that basically Nh. Dini respects and accepts the values of priyayi, instead of exposing it as patriarchal system. What has become anissue for Nh. Dini is that the system has discriminated the implementation of the values of priyayi against women. By showing her faith in thevalues of priyayi and at the same time demanding equality between men and women, Nh. Dini appears with a new image as a feministpriyayi or a feminist who has faith in the values of priyay
NH. DINI SEBAGAI PRIYAYI FEMINIS: TANGGAPAN EVALUATIF NH. DINI TERHADAP KEPRIYAYIAN JAWA DARI PERSPEKTIF WANITA
Nh. Dini has been regarded as the pioneer in feminism, as the themes of her works convey her opinions about women’s
issue in a society. Although she is likely to take side in her novels and often stands against social conventions and norms, she has shown
appreciation toward the Javanese traditional cultural values, cultural values of the priyayi in her memoirs. This research has attempted to
show the way Nh. Dini draws a line between two contrary aspects, the cultural values of the priyayi and the women’s perspectives dan has
proven that basically Nh. Dini respects and accepts the values of priyayi, instead of exposing it as patriarchal system. What has become an
issue for Nh. Dini is that the system has discriminated the implementation of the values of priyayi against women. By showing her faith in the
values of priyayi and at the same time demanding equality between men and women, Nh. Dini appears with a new image as a feminist
priyayi or a feminist who has faith in the values of priyay
Pada sebuah kapal
Setelah tunangannya (Saputro) tewas dalam kecelakaan pesawat terbang, akhirnya Sri menikah dengan Charles Vincent. Pasangan ini kemudian bermukim di Kobe, Jepang. Meskipun sudah memperoleh seorang anak dari diplomat Perancis itu, Sri sesungguhnya tidak merasa bahagia.Tidak dinyana, dalam perjalanan liburan dari Saigon menuju Marseille, Sri menemukan kembali kemesraan dan kelembutan yang telah sekian lama didambakannya itu pada Michael Dubanton, komandan kapal yang sudah beristri dan mempunyai dua orang anak. Sri yang tidak mencintai suaminya sejak semula itu pun menjalin kasih dengan Michael yang kecewa dengan isterinya (Nicole)!Nh. Dini mengungkapkan kisah Sri-Michel yang terjadi pada sebuah kapal dengan goresan amat halus dan memikat.351 hlm. 14 x 21 c
Pada sebuah kapal
Setelah tunangannya (Saputro) tewas dalam kecelakaan pesawat terbang, akhirnya Sri menikah dengan Charles Vincent. Pasangan ini kemudian bermukim di Kobe, Jepang. Meskipun sudah memperoleh seorang anak dari diplomat Perancis itu, Sri sesungguhnya tidak merasa bahagia.Tidak dinyana, dalam perjalanan liburan dari Saigon menuju Marseille, Sri menemukan kembali kemesraan dan kelembutan yang telah sekian lama didambakannya itu pada Michael Dubanton, komandan kapal yang sudah beristri dan mempunyai dua orang anak. Sri yang tidak mencintai suaminya sejak semula itu pun menjalin kasih dengan Michael yang kecewa dengan isterinya (Nicole)!Nh. Dini mengungkapkan kisah Sri-Michel yang terjadi pada sebuah kapal dengan goresan amat halus dan memikat.447 hlm;11.5 x 17 c
Pertemuan Dua Hati
Waskito adalah seorang "murid yang sukar" sehingga ia tidak disukai teman-temannya di sekolah. Waskito sering membolos, sering memukuli kawan-kawannya, dan sering membuat onar di kelas/sekolah. Akan tetapi, berkat keuletan Bu Suci, yakni guru Waskito, akhirnya si "anak sukar" itu berhasil dibimbing ke arah yang benar.Bagaimana latar belakang keluarga Waskito dan bagaimana liku-liku perjuangan Bu Suci mengembalikan Waskito ke jalan yang benar (sampai akhirnya ia naik kelas), itulah yang dikisahkan Nh. Dini dalam Pertemuan Dua Hati ini.Alangkah baiknya, sekiranya orang-orang tua, guru-guru, dan kalangan pendidik pada umumnya meluangkan waktu untuk membaca novel ini
CITRA PEREMPUAN DAN MASYARAKAT DALAM KARYA NH. DINI TAHUN 1972-1997
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan riwayat karir menulis Nh.
Dini sebagai penulis perempuan yang memiliki produktifitas tinggi dalam
menghasilkan karya dan penggambaran perempuan serta kondisi sosial
masyarakat di dalam karyanya dari tahun 1972-1997. Batasan awal penelitian ini
adalah tahun 1972, saat novel Nh. Dini yang berjudul Pada Sebuah Kapal
diterbitkan dan sejak saat itu Nh. Dini mulai menunjukkan produktifitas dalam
menghasilkan karya sastra berupa cerita pendek, novel, dan seri kenangan.
Sedangkan, batasan akhir dari penelitian ini adalah tahun 1997 karena pada tahun
tersebut ditandai dengan terbitnya novel terakhir Nh. Dini yang berjudul Tanah
Air Baru, Tanah Air Kedua.
Penelitian ini menggunakan metode sejarah yang yang disajikan dalam
bentuk deskriptif naratif. Adapun sumber yang digunakan adalah sumber tertulis
dan sumber lisan, baik primer maupun sekunder. Sumber tertulis primer
digunakan antara lain berupa novel dan cerpen, serta artikel yang ditulis oleh Nh.
Dini. Sedangkan, sumber tertulis sekunder adalah buku yang relevan, koran, dan
majalah sesuai dengan pembahasan. Selain itu, penelitian ini juga melakukan
wawancara dengan narasumber, dalam hal ini Nh. Dini.
Hasil penelitian menunjukan bahwa kreativitas Nh. Dini dalam menulis
tidak terlepas dari pendidikan orangtua yang berkelindan dengan pengalaman
hidup Nh. Dini sendiri. Pendidikan orang tua, dalam hal ini kebiasaan membaca
dan kebebasan dalam mengungkapkan pemikiran maupun pendapat membuat Nh.
Dini tidak ragu untuk menulis segala sesuatu, khususnya seksualitas perempuan.
Disamping itu, melalui karyanya pun Nh. Dini juga mengungkapkan mengenai
persoalan ketidakadilan yang dirasakan perempuan dalam kehidupan. Hal tersebut berkaitan erat dengan pengalaman yang dialami oleh Nh. Dini sendiri dan
perempuan lain yang juga mengalami situasi serupa.
Selain itu, Nh. Dini memiliki sikap kritis terhadap apa yang dilihat dan
dirasakannya tentang persoalan yang ada di dalam masyarakat. Oleh sebab itu,
terdapat beberapa karya Nh. Dini yang mengangkat tema mengenai kritiknya
terhadap kondisi sosial masyarakat. Penelitian ini menganalisis beberapa karya
Nh. Dini dan hasilnya menunjukan Nh. Dini mengemukakan kritiknya terhadap
kondisi sosial masyarakat diantaranya kebijakan pemerintah yang sedang
dijalankan, lalu mengenai kemiskinan dan perubahan dalam masyarakat sebagai
dampak kebijakan pemerintah.
This research aims to describe the history of writing Nh. Dini career as
the author of the women who have high productivity in producing works and the
portrayal of women as well as the social conditions of the community in his work
from the years 1972-1997. The initial limitation of this research is the
year 1972, when the novel Nh. Dini entitled On A Ship published and since that
time Nh. Dini started to show the productivity in the produce of literature in the
form of short story, novel, and a series of memories. While the last limitation of
this research is 1997 because in that year marked with the rising of
the novel deals Nh.Dini entitled New Homeland, Ground Water both.
This research uses historical method presented in the form of descriptive
narrative. The source used is a source of written and oral sources, both primary
and secondary. The primary written sources are used among others in the form of
novels and short stories, as well as articles written by Nh. Dini. Meanwhile,
secondary written sources are relevant books, newspapers, and magazines in
accordance with the discussion. In addition, this research also conducted
interviews with sources, in this case Nh. Dini.
The results showed that creativity Nh. Dini in writing can not be separated
from the parent education intertwined with Nh. Dini own life experience.
Education of parents, in this case the reading habit and freedom in expressing
ideas and opinions make Nh. Dini doesn‟t hesitate to write all things, especially
female sexuality. In addition, through his works Nh. Dini was also expressed
regarding the issue of perceived injustice in the lives of women. It is closely
related to the experience that Nh. Dini themselves and other women who are also
experienced similar situations. Additionally, Nh. Dini has a critical attitude toward what he saw and felt
about the problems that exist in society. Therefore, there are some works Nh. Dini
that the theme of his criticism of social conditions. This study analyzes some of
the work and the results show Nh. Dini express his criticism of social conditions
such government policies are being implemented, and about poverty and social
changes as a result of government policy
Padang Ilalang di Belakang Rumah (Cerita Kenangan)
Buku ini merupakan seri Cerita Kenangan, yang merupakan autobiografi dari Nh. Dini. Kisah ini berlangsung saat penulis (Dini) masih dalam usia sekolah dasar. Pada saat itu, Belanda telah meninggalkan Indonesia, dan Jepang masuk.Pada awalnya, kedatangan Jepang ke Indonesia dianggap sebagai penyelamatan dari penjajahan. Akan tetapi, lambat laun terlihat bahwa penjajah Jepang bahkan jauh lebih buruk daripada Belanda. Dari buku ini, interaksi Dini kecil dengan kekacauan pada masa itu tidak terlihat terlalu mencolok. Dari kisah di buku ini pun, masih terlihat kebahagiaan masa kecil, kedamaian yang lugu dan polos. Meski demikian, ‘gangguan’ yang sedikit pun tetap meninggalkan bekas yang tak terlupakan oleh beliau hingga dewasa.Tak banyak yang bisa diceritakan tentang buku ini, selain memang jumlah halamannya sedikit, kisah ini juga ‘hanya’ merupakan kepingan dari kenangan masa kecil penulis. Tentang bagaimana peralihan pemerintahan memaksa keluarga mereka yang tergolong ningrat untuk hidup setara, yang dirasa paling berat oleh sang ibunda. Keseharian Dini dengan kakak-kakaknya, hubungannya dengan sepupunya dan kerabat lainnya. Dini yang senang saat hari sabtu tiba karena bisa begadang untuk menonton wayang. Bocah yang kecewa karena ‘dilupakan’ keberadaannya saat pesta pertunangan kakak sulungnya. Anak yang merasakan pahit dan manis kehidupan dalam usia yang belia.Kisah yang sederhana, penggalan kehidupan sehari-hari. Bisa dikatakan sesuai dengan judulnya, kisah ini berpusat pada padang ilalang di belakang rumah, masih di rumah tetapi merupakan jalan untuk ‘melihat’ dunia luar. Pengalaman khas anak kecil, tetapi diceritakan dengan bahasa Indonesia klasik yang indah. Apa adanya tapi sarat akan pelajaran hidup. Nilai 4/5 untuk kisah ‘biasa’ ini
Kuncup Berseri (Cerita Kenangan)
Buku kelima dari seri Cerita Kenangan ini menceritakan si Aku atau pengarang Nh. Dini yang tumbuh menjadi remaja. Dia menghidupi masa Sekolah Menengah Atas (SMA) Bagian A/Sastra sebagai anak seorang janda tanpa santunan. Di kala itu pula bakat seninya berkembang, disertai latihan-latihan dan pemupukan pengetahuan umum lewat bacaan berbobot maupun ringan yang ada di perpustakaan kotanya. Selain rajin membaca, menulis cerita pendek, dan naskah sandiwara radio, Dini juga giat berkecimpung di bidang teater (yang waktu itu disebut sandiwara) serta kesenian tradisional (gamelan, tembang, dan tari Jawa). Sementara itu, nilai-nilai kehidupan berubah.Suasana kampung dan mental penduduknya bergeser. Tata cara pergaulan semakin kurang memperhatikan perasaan dan kesopanan. Manusia lebih mementingkan kebutuhan dan kepuasan diri sendiri atau golongan daripada peduli terhadap orang lain.Semua pengalaman membaca dan pengamatannya atas kehidupan di sekitarnya dia tampung dan dia cerna. Ditambah asahan pendidikan fisik dan rohaniah keluarga, Dini mampu menuangkan hasil pemikirannya ke dalam karya tulisnya di masa itu. Kumpulan cerita pendeknya yang berjudul Dua Dunia terbit ketika dia duduk di kelas tiga SMA
Sebuah Lorong Di Kotaku
novel karya nh dini sering dikelompokkan kedalam novel" kengan, karena novel ini bercerta tentang kehidupan dini sebagai pengarangnya. dini kecil hingga remaja itu lebih tepatnya. maka aku atau saya dalam novel itu menokohkan nh dini sendri. berikut ini adalah sinopsis novel sebuah lorong dikotakuakhirnya ibu mendapatkan sebuah rumah yang menyenangkan. kami semuahidup tentram dalam bimbingan ibu yang penuh dg kelembutan dan ayah yang berwibawa serta bijaksana.aku kesepian dan kadang-kadan merasa bosan bermain sendrian, menunggusaudaraku pulang skulah.suatu hari kami pergi kerumah didesa, menumpang kereta api dan andong.karili sangat gembira setelah sampai dirumah kakek. demikian juga kake.tak henti-hentinya kami berbincang-bincang dengan kakek. ayah pun tak lupa menanyakan keadaan dan kesehatan kakek.hari kedua aku diajak paman sarosa melihat isikebun kakek, memetik kelapa, melihat kejernihan air sungai yang mengalir dikebun. terasa nyaman kehidupan didesa, terdengar derit tali timba, bunyi hewan, kicau burung dan udara segar.banyak yang kulakukan selama dirumah kakek. turut menjaga ladang, menghalau burung, ikut memandikan kerbau anak gembala bersama kakakku teguh nugroho. dua hari telah berlalu aku harus pulang meninggalkan desa kakek, berpisah dengan paman. aku mersa sangat sedih.dimadiun kami singgah dirumah pakde dan bude. dirumah ini kegiatan kami selalu diawasi. bude selalu hendak serba teratur. karena itu aku merasa tidak puas.karena keadaan perang itu mempersiapkan banyak makanan. makanan itu disimpan diatas loteng. setiap malam bnyak tetangga datang kerumah untuk mendengarkan siaran radio dan mendengar tentang berita perang.aku dijemput paman sarosa untuk berlibur selama bulan puasa ditempat kakek.aku tinggal dirumah kakek bersama maryam. aku senang beneman dengan maryamkarena kamu mempunyai banyak persamaan.aku mulai sekolah. semua kakakku sekolah di HIS. di HIS semua murid harus berbahasa belanda. tapi ayah selalu mewajibkan kami berbahsa jawa.suatu hari ketika aku asyik bermain dengan teman" maryam memaksa pulang karena kami akan mengungsi ke kampung batan. kami mengungsi disini bersama-sama pengungsi lain. karena ibu tidak mau mengungsi, ayah membuat lubang perlindungan dibwah phon mangga. untuk penutupnya digunakan ranting-ranting dan daun, dindingnya dilapisi beberapa helai kasur.semua sekolah dan kantor tutup. kendaraan umum tidak boleh lagi hilir mudik. kekuraigan bahan makan mulai terasa. indonesia tidak lagi didudukibelanda, melainkan jepang. belanda menyerah kalah kepada jepang dan seluruh daerah jajahan belanda jatuh ke tangan jepang
- …
